Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 November 2022

أقوال أهل العلم في حكم تقبيل المصحف | PENDAPAT ULAMA' AHLI ILMU TENTANG HUKUM MENCIUM MUSHAF AL QUR'AN



Didalam Hadits Mursal (Hadits yang disandarkan oleh para tabi'in -mereka adalah orang yang mendengarkan hadis dari shahabat- kepada Nabi ﷺ baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, ataupun sifat beliau) yang diriwayatkan oleh Imam Hakim An Nisapur Rusia sekarang didalam kitab Mustadraknya :


أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ، أَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ، ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، ثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ: كَانَ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ فَيَضَعُهُ عَلَى وَجْهِهِ وَيَبْكِي وَيَقُولُ: 


«كَلَامُ رَبِّي كِتَابُ رَبِّي» 


[التعليق - من تلخيص الذهبي]٥٠٦٢ - مرسل

[رواه الحاكم النيسابوري في مستدركه /  كتاب معرفة الصحابة رضي الله عنهم " أما الشيخان فإنهما لم يزيدا على المناقب، وقد بدأنا في أول ذكر الصحابي بمعرفة نسبه ووفاته، ثم بما يصح على شرطهما من مناقبه مما لم يخرجاه فلم أستغن عن ذكر محمد بن عمر الواقدي وأقرانه في المعرفة " / ذكر مناقب عكرمة بن أبي جهل واسم أبيه مشهور / رقم الحديث : ٥٠٦٢].


Telah mengabarkan kepadaku : Abu Bakr bin Ishaq. Telah menceritakan kepada kami : Isma'il bin Ishaq. Telah menceritakan kepada kami : Sulaiman bin Harb. Telah menceritakan kepada kami : Hammad bin Zaid. Dari Ayyub. Dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata : 'Ikrimah bin Abi Jahl memegang Mushaf Al Qur'an lalu  meletakkan pada wajahnya dan beliau menangis seraya berkata :


"Firman Tuhanku, Kitab Tuhanku".


- Catatan kaki/ta'liq dalam kitab At Talkhishi Min Adz Dzahabi No. 5063 - STATUS HADITS  MURSAL.

[HR. Hakim Dalam Kitab Mustadraknya / Kitabu Ma'rifati Ash Shahabati Radhiyallahu 'Anhum ... / Dzikru Manaqibi 'Ikrimah Bin Abi Jahl Dan Masyhur Nama Ayahnya / Hadits No. 5062].


Adapun para ulama' berbeda pendapat : 


📚• MENURUT  MADZHAB SYAFI'IY


قال الإمام النووي الشافعي في كتابه التبيان في آداب حملة القرآن  :


 قَالُوا: وَيَحْرُمُ تَوَسُّدُهُ ، بَلْ تَوَسُّدُ آحَادِ كُتُبِ الْعِلْمِ حَرَامٌ. 


وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَقُومَ لِلْمُصْحَفِ إِذَا قُدِمَ بِهِ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّ الْقِيَامَ مُسْتَحَبٌّ لِلْفُضَلَاءِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْأَخْيَارِ، فَالْمُصْحَفُ أَوْلَى، وَقَدْ قَرَّرْتُ دَلَائِلَ اسْتِحْبَابِ الْقِيَامِ فِي الْجُزْءِ الَّذِي جَمَعْتُهُ فِيهِ. 


وَرُوِّينَا فِي مُسْنَدِ الدَّارِمِيِّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ ، أَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِي جَهْلٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - كَانَ يَضَعُ الْمُصْحَفَ عَلَى وَجْهِهِ وَيَقُولُ: كِتَابُ رَبِّي اهـ. 

[انظر كتاب التبيان في اداب حملة القرآن : ص ١٩١ /  الباب التاسع في كتابة القرآن وإكرام المصحف / فصل :  تحرم المسافرة بالمصحف إلى أرض العدو إذا خيف وقوعه في أيديهم / للإمام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي (ت ٦٧٦هـ)

حققه وعلق عليه: محمد الحجار الناشر: دار ابن حزم 

الطبعة: الثالثة مزيدة ومنقحة، ١٤١٤ هـ - ١٩٩٤ مـ]. 


Dan Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy dalam kitabnya At Tibyan Fi Adabi Hamalati Al Qur'an menjelaskan : 


Mayoritas Ulama' bersepakat : HARAM juga untuk menjadikan mushaf sebagai sandaran (bantal) dan demikian juga haram menjadikan kitab-kitab ilmu sebagai sandaran (bantal).


Dan DISUNNAHKAN untuk berdiri bila menerima mushaf, sebab berdiri juga disunnahkan untuk menghormati ulama maka berdiri untuk menerima Al-Qur'an tentu lebih utama daripada berdiri menghormati ulama. Saya telah banyak menybutkan dalil-dalil tentang berdiri untuk masalah berdiri ini. Dan disampaikan kepada kita dalam Sunan Ad-Darimy RIWAYAT SAHIH dari Abu Mulaikah bahwasanya Ikrimah bin Abi Jahal pernah menaruh mushaf diatas kepalanya sambil berkata : Kitab Tuhanku, kitab Tuhanku.

[Lihat Kitab At Tibyan Fi Adabi Hamalati Al Qur'an : hal 191 / Al Babu At Tasi'u Fi Kitabati Al Qur'an Wa Ikrami Al Mushafi / Pasal : Tahrumu Al Musafaratu Bi Al Mushafi ... / Cet. Ketiga Dar Ibnu Hazm - Kairo, Th. 1414 H - 1994 M].


وقال الإمام سليمان بن محمد بن عمر البُجَيْرَمِيّ المصري الشافعي (ت ١٢٢١هـ) في كتابه حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب :


(وَيُنْدَبُ كَتْبُهُ وَإِيضَاحُهُ) أَيْ تَبْيِينُ حُرُوفِهِ، وَاسْتَدَلَّ السُّبْكِيُّ عَلَى جَوَازِ تَقْبِيلِ الْمُصْحَفِ بِالْقِيَاسِ عَلَى تَقْبِيلِ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ وَيَدِ الْعَالِمِ وَالصَّالِحِ وَالْوَالِدِ؛ إذْ مِنْ الْمَعْلُومِ أَنَّهُ أَفْضَلُ مِنْهُمْ قَالَ الدَّمِيرِيُّ: وَمُقْتَضَى مَذْهَبِنَا كَرَاهَةُ أَخْذِ الْفَأْلِ مِنْهُ.

[انظر كتاب حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب : ج ١ ص ٣٧٣ / فصل في الحيض والنفاس والاستحاضة / أحكام الحيض / للإمام سليمان بن محمد بن عمر البُجَيْرَمِيّ المصري الشافعي (ت ١٢٢١هـ)

الناشر: دار الفكر

الطبعة: بدون طبعة

تاريخ النشر: ١٤١٥هـ - ١٩٩٥مـ].


Imam Sulaiman Al Bujairamiy Al Mishriy Asy Syafi'iy dalam kitabnya Tuhfatu Al Habib 'Ala Syarhi Al Khathib menjelaskan :


(Disunahkan menulis dan memperjelas tulisan mushaf)


Imam As-subky menarik kesimpulanakan bolehnya mencium mushaf dengan mengqiyaskan pada mencium Hajar Aswad, tangan orang Alim, tangan Orang Shalih, tangan orang tua karena sudah maklum bahwa mushaf lebih utama ketimbang semuanya.

[Lihat Kitab Tuhfahtu  Al-Habiib 'Ala Syarhi Al Khathib = Hasyiyyah Al Bujairamiy : juz 1 hal 373 / Pasal : Fi Al Haidhi Wa An Nifasi Wa Al Istihadzoti / Ahkamu Al Haidhi / Karya Imam Sulaiman Al Bujairamiy Al Mishriy Asy Syafi'iy / Cet. Dar Al Fikr, Th. Terbit 1415 H - 1995 M].



وقال الإمام بدر الدين  الزركشي الشافعي في كتابه البرهان في علوم القرآن: 


مسألة: في أحكام تتعلق باحترام المصحف وتبجيله 


وَيُسْتَحَبُّ تَطْيِيبُ الْمُصْحَفِ وَجَعْلُهُ عَلَى كُرْسِيٍّ وَيَجُوزُ تَحْلِيَتُهُ بِالْفِضَّةِ إِكْرَامًا لَهُ عَلَى الصَّحِيحِ رَوَى الْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدِهِ إِلَى الْوَلِيدِ بْنِ مُسْلِمٍ قَالَ : سَأَلَتُ مَالِكًا عَنْ تَفْضِيضِ الْمَصَاحِفِ فَأَخْرَجَ إِلَيْنَا مُصْحَفًا فَقَالَ : حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي أَنَّهُمْ جَمَعُوا الْقُرْآنَ فِي عَهْدِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَنَّهُمْ فَضَّضُوا الْمَصَاحِفَ عَلَى هَذَا وَنَحْوِهِ وَأَمَّا بِالذَّهَبِ فَالْأَصَحُّ يُبَاحُ لِلْمَرْأَةِ دُونَ الرَّجُلِ وَخَصَّ بَعْضُهُمُ الْجَوَازَ بِنَفْسِ الْمُصْحَفِ دُونَ عَلَاقَتِهِ الْمُنْفَصِلَةِ عَنْهُ وَالْأَظْهَرُ التَّسْوِيَةُ 


وَيُحْرَمُ تَوَسُّدُ الْمُصْحَفِ وَغَيْرِهِ مِنْ كُتُبِ الْعِلْمِ لِأَنَّ فِيهِ إِذْلَالًا وَامْتِهَانًا وَكَذَلِكَ مَدُّ الرِّجْلَيْنِ إِلَى شَيْءٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ كُتُبِ الْعِلْمِ 


وَيُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ الْمُصْحَفِ لِأَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِي جَهْلٍ كَانَ يُقَبِّلُهُ وَبِالْقِيَاسِ عَلَى تَقْبِيلِ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ وَلِأَنَّهُ هَدِيَّةٌ لِعِبَادِهِ فَشُرِعَ تَقْبِيلُهُ كَمَا يُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ الْوَلَدِ الصَّغِيرِ 


وَعَنْ أَحْمَدَ ثَلَاثُ رِوَايَاتٍ الْجَوَازُ وَالِاسْتِحْبَابُ وَالتَّوَقُّفُ وَإِنْ كَانَ فِيهِ رِفْعَةٌ وَإِكْرَامٌ لِأَنَّهُ لَا يَدْخُلُهُ قِيَاسٌ وَلِهَذَا قَالَ عُمَرُ فِي الْحَجَرِ لَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ. اهـ.

[انظر كتاب البرهان في علوم القرآن : ج ١ ص ٤٧٨ /  النوع التاسع والعشرون: في آداب تلاوتها وكيفيتها / للإمام أبو عبد الله بدر الدين محمد بن عبد الله بن بهادر الزركشي (ت ٧٩٤هـ) المحقق: محمد أبو الفضل إبراهيم / الناشر: دار إحياء الكتب العربية -  عيسى البابى الحلبي وشركائه، الطبعة: الأولى، ١٣٧٦ هـ - ١٩٥٧ مـ].


Imam Badruddin Az Zarkasyi Asy Syafi'iy menjelaskan dalam kitabnya Al Burhan Fi 'Ulumi Al Qur'an :


Masalah : Dalam hukum-hukum memuliakan mushaf Al Qur'an dan mengagungkannya.


Dan diperbolehkan memberi minyak wangi/meminyaki Mushaf Al Qur'an dan menaruhnya diatas kursi, dan boleh menghias Mushaf dengan perhiasan perak karena bertujuan untuk memuliakannya atas dasar HADITS SHAHIH  sebagaimana Imam Al Baihaqiy telah meriwayatkan ya dengan sanadnya sampai pada Al Walid bin Muslim, beliau mengatakan : Aku bertanya kepada Imam Malik atas masalah menghiasi mushaf Al Qur'an dengan perak, maka kemudian beliau mengeluarkan Al Qur'an kepada kami, seraya berkata : Telah menceritakan kepadaku Ayahku dari kakekku sesungguhnya mereka mengumpulkan Al Qur'an dizaman kekhalifahan 'Utsman bin 'Affan radhiyyAllahu 'anhu, dan mereka menghiasi mushaf-mushaf mereka dengan perak berdasarkan hal ini dan semacamnya. Dan adapun menghiasi mushaf Al Qur'an dengan emas pendapat YANG PALING BENAR diperbolehkan BAGI KAUM WANITA BUKAN BAGI KAUM PRIA dan sebagian dari mereka mengkhususkan boleh menghias Mushaf dengan emas sebatas pada mushafnya bukan pada property tambahan yang menempel pada mushaf, dan pendapat yang lebih dikenal boleh dihias dengan kadar yang sama (antara mushaf dan property tambahan yang menempel pada mushaf).


Dan HARAM menjadikan mushaf Al Qur'an dan yang lainnya dari berbagai macam kitab-kitab ilmu sebagai bantal/sandaran karena didalamnya mengandung unsur penghinaan dan meremehkan begitu juga diharamkan meletakkan kaki beralaskan sesuatu yang berasal dari mushaf Al Qur'an ataupun kitab-kitab ilmu.


Dan diperbolehkan MENCIUM MUSHAF AL QUR'AN, karena sesungguhnya Sayyidina Ikrimah bin Abi Jahl radhiyyAllahu 'anhu selalu menciumnya, dan analoginya/qiasnya disamakan dengan diperbolehkannya mencium hajar aswad dan hal tersebut merupakan karunia Allah bagi hamba-hambaNya, maka diperbolehkanlah untuk menciumnya seperti diperbolehkannya mencium anak kecil.


Dan dari riwayat Imam Ahmad ada tiga riwayat : DIPERBOLEHKAN, DIANJURKAN, DAN MENGHENTIKANNYA dan apabila alasan didalamnya adalah untuk mengagungkan atau memuliakan mushaf Al Qur'an menurut Imam Ahmad tidak memenuhi syarat hukum qiyas dan dalam hal ini Sayyidina 'Umar radliyyAllahu 'anhu dalam masalah kesunnahan mencium hajar aswad, beliau pernah mengatakan : Jikalau aku melihat langsung Rasulullah ﷺ menciumnya pasti aku juga akan menciumnya (artinya menurut pendapat Imam Ahmad menghentikan perbuatan tersebut mengacu kepada perilaku Sayyidina 'Umar yang tidak berkenan mencium Hajar Aswad dikarenakan beliau tidak melihat langsung Rasulullah ﷺ melakukannya sedangkan hadits bolehnya mencium mushaf Al Qur'an hanya dilakukan oleh Sayyidina Ikrimah bin Abi Jahl, dan tidak diketahui riwayat yang meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pun pernah melakukannya).

[Lihat Kitab Al Burhan Fi 'Ulumi Al Qur'an : juz 1 hal 478 / An Na'u At Tasi' Wa Al 'Isyruun : Fi Adabi Tilawatiha Wa Kaifiyyatiha / Karya Imam Badruddin Az Zarkasyi Asy Syafi'iy / Cet. Pertama Dar Ihya' Al Kutub Al 'Arabiyyah - 'Isa Al Babi Al Halabiy Wa Syuraka'uhu, Th. 1376 H - 1957 M].



Al Imam Abdurrahman Jalaluddin As-Suyuthiy Asy Syafi'iy  mengemukakan  bahwa kesunahan mencium mushaf itu dikiaskan atau dianalogikan dengan kesunahan mencium Hajar Aswad.


يُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ الْمُصْحَفِ لِأَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِي جَهْلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يَفْعُلُهُ وَبِالْقِيَاسِ عَلَى تَقْبِيلِ الْحَجَرِ الاَسْوَدِ ذَكَرَهُ بَعْضُهُمْ وَلِأَنَّهُ هَدْيُهُ مِنَ اللهِ تَعَالَى فَشِرعَ تَقْبِيلُهُ كَمَا يُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ الْوَلَدِ الصَّغِيرِ

[انظر كتاب الاتقان في علوم القرآن : ج ٤ ص ١٨٩ /  النوع السادس والسبعون: في مرسوم الخط وآداب كتابته / للإمام عبد الرحمن بن أبي بكر، جلال الدين السيوطي (ت ٩١١هـ) المحقق: محمد أبو الفضل إبراهيم / الناشر: الهيئة المصرية العامة للكتاب

الطبعة: ١٣٩٤هـ - ١٩٧٤ مـ].


“Disunahkan mencium mushaf karena Ikrimah bin Abu Jahl melakukaknnya, dan (dalil lain) adalah dikiaskan dengan mencium Hajar Aswad sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama, dan karena mushaf Al-Qur`an merupakan anugerah dari Allah swt. Karenanya disyariatkan menciumnya seperti disunahkannya mencium anak kecil. 

[Lihat Kitab al-Itqan fi ‘Ulumil Qur`an : juz 4 hal 189 / An Nau'u As Sadis Wa As Sab'uun : Fi Marsumi Al Khathi Wa Adabi Kitabatihi / Karya Imam Abdurrahman Jalaluddin As Suyuthiy Asy Syafi'iy / Cet. Al Hai'ah Al Mishriyyah, Th. 1394 H - 1974 M].



Dalam Kitab Tuhfahtu Al Muhtaj 'Ala Syarhi Al Minhaj Wa Ma'ahu  Hawasyai  Asy-Syarwani Wa Al 'Ibadiy disebutkan :


قَالَ الْبُجَيْرِمِيّ وَاسْتَدَلَّ السُّبْكِيُّ عَلَى جَوَازِ تَقْبِيلِ الْمُصْحَفِ بِالْقِيَاسِ عَلَى تَقْبِيلِ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ، وَيَدِ الْعَالِمِ وَالصَّالِحِ وَالْوَالِدِ إذْ مِنْ الْمَعْلُومِ أَنَّهُ أَفْضَلُ مِنْهُمْ

[انظر كتاب تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي ؛ ج ١ ص ١٠٠ /  كتاب أحكام الطهارة / باب أسباب الحدث / للإمام أحمد بن محمد بن علي بن حجر الهيتمي الشافعي / الناشر: المكتبة التجارية الكبرى بمصر لصاحبها مصطفى محمد، الطبعة: بدون طبعة عام النشر: ١٣٥٧ هـ - ١٩٨٣ مـ].


“Imam Al-Bujairimi berkata : Imam As-Subki berdalil untuk dibolehkannya mencium mushaf Al-Qur’an dengan diqiyaskan (dianalogikan) kepada mencium Hajar Aswad, tangan seorang alim, tangan orang salih, dan tangan orang tua. Karena telah dimaklumi, bahwa ia (Al-Qur’an) lebih utama dari mereka.”

[Lihat Kitab Tuhfahtu Al Muhtaj 'Ala Syarhi Al Minhaj Wa Ma'ahu  Hawasyai  Asy-Syarwani Wa Al 'Ibadiy : juz 1 hal 100 / Kitabu Ahkami Ath Thaharati / Babu Asbabu Al Hadatsi / Karya Imam Ahmad Ibnu Hajar Al Haitamiy Asy Syafi'iy / Cet. Al Maktabah At Tijariyyah Al Kubra - Mesir, Th. 1357 H - 1983 M].



📚• MENURUT MADZHAB MALIKI


Imam Qadhi Muhammad bin Ahmad ‘Ulaisyi Al Malikiy rahimahullah dalam kitabnya Manhu Al Jalil Syarhu Mukhtashar Khalil menjelaskan : 


وَيُكْرَهُ تَقْبِيلُ الْمُصْحَفِ وَالْخُبْزِ وَالْمُعْتَمَدُ أَنَّ امْتِهَانَ الْخُبْزِ مَكْرُوهٌ وَلَوْ بِوَضْعِ الرِّجْلِ عَلَيْهِ أَوْ وَضْعِهِ عَلَيْهَا اهـ 

 [انظر كتاب منح الجليل شرح مختصر خليل : ج ٢ ص ٢٦٧ / باب في الحج والعمرة / للإمام القاضي محمد بن احمد عليش المالكي / الناشر: دار الفكر - بيروت, الطبعة: الأولى،: ١٤٠٤ هـ - ١٩٨٤ مـ].


Dan MAKRUH (tidak disukai) mencium Al-Qur'an dan roti, dan menurut pendapat yang dapat dipegang  sesungguhnya makruh meremehkan roti meskipun dengan menaruh kaki diatas roti atau sebaliknya menaruh roti diatas kaki.

[Lihat Kitab Manhu Al Jalil Syarhu Mukhtashar Khalil : juz  2 hal 267 / Babu Fi Al Hajji Wa Al 'Umrati / Karya Imam Al Qadhi Muhammad bin Ahmad 'Ulaisyi Al Malikiy / Cet. Pertama : Dar Al Fikr, Th. 1404 H - 1984 M].



Dalam kesempatan lain Qadli Imam 'Ulaisy Al Malikiy dalam kitabnya yang lain Fathu Al 'Aliy Al Maliki Fi Al Fatwa 'Ala Madzhabi Al Imam Malik beliau menjelaskan :


فَتَعْظِيمُ الْمُصْحَفِ قِرَاءَتُهُ وَالْعَمَلُ بِمَا فِيهِ لَا تَقْبِيلُهُ، وَلَا الْقِيَامُ إلَيْهِ كَمَا يَفْعَلُ بَعْضُهُمْ فِي هَذَا الزَّمَانِ

[انظر كتاب فتح العلي المالك في الفتوى على مذهب الإمام مالك : ج ١ ص ٢٠٨ / مسائل النذر / فيما يقع في زيارة الأولياء من إتيان خادم الضريح للزائر بتراب ينثره عليه / للإمام القاضي محمد بن احمد عليش المالكي / الناشر: دار المعرفة

الطبعة: بدون السنة].


“Maka bentuk memuliakan mushaf adalah dengan membacanya dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya bukan dengan menciumnya dan berdiri untuknya sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang di zaman ini”. 

[Lihat Kitab Fathu Al ‘Aliy Al Malik Fi Al Fatwa 'Ala Madzhabi Al Imam Malik : juz 1 hal 208 / Masa'ilu An Nadzri / Fima Yaqa'u Fi Ziyarati Al Auliya'i Min Ityani Khadimi Adh Dharikh ... / Cet. Dar Al Ma'rifah, Tnp. Tahun].


Imam Al Kharasyi Al Malikiy dalam kitabnya Syarhu Kharasyi menjelaskan : 


وَيُكْرَهُ تَقْبِيلُ الْمُصْحَفِ وَكَذَا الْخُبْزُ وَالْمُعْتَمَدُ أَنَّ امْتِهَانَهُ مَكْرُوهٌ

[انظر  كتاب شرح الخرشي على مختصر خليل - ومعه حاشية العدوي : ج ٢ ص ٣٢٦ / باب أحكام الحج والعمرة وأفعالهما / للإمام  عبد الله محمد الخرشي

المالكي / الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية - ببولاق مصر, الطبعة: الثانية، ١٣١٧ هـ].


Dan dimakruhkan mencium mushaf Al Qur'an begitu juga roti, dan menurut pendapat yang dapat dipegang sesungguhnya meremehkannya adalah makruh.

[Lihat Kitab Syarhu Al Kharasyi 'Ala Mukhtashar Khalil - Wa Ma'ahu Hasyiyyah Al 'Adawiy : juz 2 hal 326 / Babu Ahkamu Al Hajji Wa Al 'Umrati Wa Af'alahuma / Karya Imam Abdillah Muhammad Al Kharasyi Al Malikiy / Cet. Kedua : Al Mathba'ah Al Kubra Al Amiriyyah - Bulaq Mesir, Th. 1317 H].



📚• MENURUT MADZHAB HANAFI

   

جاء في كتاب حاشية ابن عابدين = رد المحتار في الفقه الحنفيّ: 


تَقْبِيلُ الْمُصْحَفِ قِيلَ بِدْعَةٌ لَكِنْ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - أَنَّهُ كَانَ يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ كُلَّ غَدَاةٍ وَيُقَبِّلُهُ وَيَقُولُ: عَهْدُ رَبِّي وَمَنْشُورُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ وَكَانَ عُثْمَانُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - يُقَبِّلُ الْمُصْحَفَ وَيَمْسَحُهُ عَلَى وَجْهِهِ،

[انظر كتاب حاشية ابن عابدين = رد المحتار في الفقه الحنفيّ : ج ٦ ص ٣٨٤ / كتاب الحظر والإباحة / باب الاستبراء وغيره / للإمام ابن عابدين، محمد أمين بن عمر بن عبد العزيز عابدين الدمشقي الحنفي (ت ١٢٥٢ هـ) / الناشر: شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي وأولاده بمصر (وصورتها دار الفكر - بيروت) الطبعة: الثانية، ١٣٨٦ هـ = ١٩٦٦ مـ].


“Mencium mushaf mulanya dikatakan ; Bid’ah. Akan tetapi kami meriwayatkan dari Umar bin Khattab radliyyAllahu 'anhu  adalah beliau pernah mengambil mushaf setiap pagi dan menciumnya seraya berkata : ‘ Ini janji Tuhanku dan maklumat Tuhanku ‘azza wa jalla. Begitu juga dengan Utsman radhiyyAllahu 'anhu, ia mencium mushaf dan mengusapkanya ke atas wajahnya.”

[Lihat Kitab Hasyiyyah Ibnu 'Abidin = Raddu Al Mukhtar : juz 6 hal 384 / Kitabu Al Hadlor Wa Al Ibahah / Babu Al Istibrai Wa Ghairihi / Karya Imam Ibnu 'Abidin Al Hanafiy / Cet. Syirkah Maktabah Wa Mathba'ah Musthafa Al Babi Al Halabi Wa Auladihi Di Mesir Dan Salinannya Cet. Kedua Di Dar Al Fikr - Beirut, Th. 1386 H - 1966 M].


وجاء في كتاب الموسوعة الفقهية الكويتية : 


ذَكَرَ الْحَنَفِيَّةُ: وَهُوَ الْمَشْهُورُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ - جَوَازُ تَقْبِيل الْمُصْحَفِ تَكْرِيمًا لَهُ، وَهُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ، وَرُوِيَ عَنْ أَحْمَدَ اسْتِحْبَابُهُ، لِمَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ: كَانَ يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ كُل غَدَاةٍ وَيُقَبِّلُهُ، وَيَقُول: عَهْدُ رَبِّي وَمَنْشُورُ رَبِّي عَزَّ وَجَل، وَكَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُقَبِّل الْمُصْحَفَ وَيَمْسَحُهُ عَلَى وَجْهِهِ.

[انظر كتاب الموسوعة الفقهية الكويتية : ج ١٣ ص ١٣٣ /  ثالثا: التقبيل المباح: تقبيل المصحف /   صادر عن: وزارة الأوقاف والشئون الإسلامية - الكويت

عدد الأجزاء: ٤٥, الطبعة: من ١٤٠٤ - ١٤٢٧ هـ].


Tersebut dalam kitab Al Mausuuah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah :


Kalangan Hanafiyyah (pendapat ini juga mashur dikalangan Hanabilah) bolehnya mencium mushaf sebagai bentuk penghormatan padanya, pendapat ini yang dijadikan madzhab dikalangan Hanabilah bahkan diriwayatkan dari Imam Ahmad akan kesunnahannya berdasarkan riwayat dari Umar radliyyAllahu 'anhu:

“Adalah Umar setiap pagi mengambil mushaf dan menciumnya seraya berkata : Perjanjian dan surat dari Tuhanku ‘Azza wa Jalla”


“Adalah Utsman radhiyyAllahu 'anhu  mencium mushaf dan mengusapkan pada bagian muka wajahnya”

[Lihat Kitab Al Mausuuah Al-Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah : juz 13 hal 133 / Tsalisan : At Taqbilu Al Mubahu : Taqbilu Al Mushafi / Dikeluarkan Oleh Kementerian Agama Dan Urusan Islam - Kuwait, Jumlah 45 Juz Dicetak Mulai Th. 1404 Sampai 1427 H].



📚• MENURUT MADZHAB HANBALI


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Al Hanbaliy dalam kitabnya Majmu' Al Fatawa mengatakan:


الْقِيَامُ لِلْمُصْحَفِ وَتَقْبِيلُهُ لَا نَعْلَمُ فِيهِ شَيْئًا مَأْثُورًا عَنْ السَّلَفِ وَقَدْ سُئِلَ الْإِمَامُ أَحْمَد عَنْ تَقْبِيلِ الْمُصْحَفِ. فَقَالَ: مَا سَمِعْت فِيهِ شَيْئًا. وَلَكِنْ رُوِيَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ أَبِي جَهْلٍ: أَنَّهُ كَانَ يَفْتَحُ الْمُصْحَفَ وَيَضَعُ وَجْهَهُ عَلَيْهِ وَيَقُولُ: " كَلَامُ رَبِّي. كَلَامُ رَبِّي "

[انظر كتاب مجموع الفتاوى :  ج ٢٣ ص ٦٥ / باب صلاة التطوع / سئل عن القيام للمصحف وتقبيله / للإمام تقي الدين أبو العباس أحمد بن عبد الحليم بن تيمية الحراني الحنبلي (ت ٧٢٨هـ)

المحقق: عبد الرحمن بن محمد بن قاسم / الناشر: مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف، المدينة النبوية، المملكة العربية السعودية، عام النشر: ١٤١٦هـ - ١٩٩٥مـ]. 


“Berdiri untuk menghormati mushaf atau mencium mushaf, tidak kami ketahui adanya riwayat shahih dari para salaf. Imam Ahmad pernah ditanya mengenai hal ini ia mengatakan: aku tidak pernah mendengar tentangnya sama sekali, namun diriwayatkan oleh Ikrimah bin Abi Jahal”.


Bahwasanya 'Ikrimah bin Abi Jahl membuka Mushaf Al Qur'an lalu  meletakkan pada wajahnya seraya berkata :


"Firman Tuhanku, Kitab Tuhanku".

[Lihat Kitab Majmu' Al Fatawa : juz 23 hal 65 / Babu Shalati At Tathawwu'i / Su'ila 'An Al Qiyami Lilmushafi Wa Taqbilihi / Karya Imam Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy / Cet. Majma' Al Mulk Fahd Lithaba'ati Al Mushafi Asy Syarifi Al Madinah An Nabawiyyah - Al Mamlakah Al'Arabiyyah As Su'udiyyah, Th. 1416 H - 1995 M].



وقال الامام البهوتي الحنبلي  في كتابه كشاف القناع عن متن الاقناع : 


(وَيُبَاحُ تَقْبِيلُهُ) قَالَ النَّوَوِيُّ فِي التِّبْيَانِ: رَوَيْنَا فِي مُسْنَدِ الدَّارِمِيِّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ أَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِي جَهْلٍ كَانَ يَضَعُ الْمُصْحَفَ عَلَى وَجْهِهِ، وَيَقُولُ كِتَابُ رَبِّي كِتَابُ رَبِّي.

[انظر كتاب كشاف القناع عن متن الإقناع : ج ١ ص ١٣٧ / باب نواقض الوضوء وهي مفسداته / فصل أحدث حدثا أكبر أو أصغر / للامام منصور بن يونس بن إدريس البهوتي الحنبلي، راجعه وعلّق عليه: هلال مصيلحي مصطفى هلال - أستاذ الفقه والتوحيد بالأزهر الشريف / الناشر: مكتبة النصر الحديثة بالرياض، لصاحبَيها: عبدالله ومحمد الصالح الراشد

الطبعة: بدون تاريخ طبع [لكن أرّخ ذلك د التركي في ١٣٨٨ هـ - ١٩٦٨ مـ].


Imam Manshur bin Yunus Al Buhutiy Al Hanbaliy menjelaskan didalam kitabnya  Kasyafu Al Qina' 'An Matni Al Iqna' :


(Dan boleh menciumnya) Imam An Nawawiy berkata : kami telah meriwayatkan dari Musnad Ad Darimiy DENGAN SANAD SHAHIH : Dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata : 'Ikrimah bin Abi Jahl memegang Mushaf Al Qur'an lalu  meletakkan pada wajahnya dan beliau menangis seraya berkata :


"Firman Tuhanku, Kitab Tuhanku". mengatakan didalam kitabnya At Tibyan 

[Lihat Kitab Kasyafu Al Qina' 'An Matni Al Iqna' : juz 1 hal 137 / Babu Nawaqidu Al Wudhu'i Wa Hiya Mufsidatuhu / Ahdatsa Hadatsan Akbara Au Ashghara / Karya Imam Manshur Bin Yunus Al Buhutiy Al Hanbaliy / Cet. Maktabah An Nashr Al Haditsah - Riyadh, Tnp. Tahun].


وقال الامام ابن مفلح الحنبلي في الآداب الشرعية والمنح المرعية : 


وَيَجُوزُ تَقْبِيلُ الْمُصْحَفِ، قَدَّمَهُ فِي الرِّعَايَةِ وَغَيْرِهَا. وَعَنْهُ يُسْتَحَبُّ لِأَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِي جَهْلٍ كَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ رَوَاهُ جَمَاعَةٌ مِنْهُمْ الدَّارِمِيُّ وَأَبُو بَكْرٍ عَبْدُ الْعَزِيزِ، وَعَنْهُ التَّوَقُّفُ فِيهِ وَفِي جَعْلِهِ عَلَى عَيْنَيْهِ 

[انظر كتاب  الآداب الشرعية والمنح المرعية : ج ٢ ص ٢٨٣ /  فصول خاصة بالقرآن والمصحف / للإمام محمد بن مفلح بن محمد بن مفرج، أبو عبد الله، شمس الدين المقدسي الرامينى ثم الصالحي الحنبلي (ت ٧٦٣هـ)

الناشر: عالم الكتب - بدون السنة].  


Dan diperbolehkan mencium Al-Qur'an, dengan mengedepankannya untuk tujuan perawatan/menjaga  dan hal-hal lainnya.


Dan juga dari beliau (Imam Ahmad), diperbolehkan mencium mushaf dikarenakan Sayyidina  Ikramah bin Abi Jahil radliyyAllahu 'anhu  telah melakukan hal tersebut. Seperti telah  diriwayatkan oleh  sebagai kelompok ulama',  diantaranya diriwayatkan oleh Imam Darmi dan Abu Bakr al-Aziz.


Dan dari beliau (Imam Ahmad) untuk menghentikan mencium mushaf dan menjadikannya didepan kedua matanya.

[Lihat Kitab Al Adabu Asy Syar'iyyah Wa Al Manhu Al Mar'iyyah : juz 2 hal 283 / Fushul Khashah Bi Al Qur'an Wa Al Mushafi / Karya Imam Muhammad Bin Muflih Al Maqdisiy Ash Shalihiy Al Hanbaliy / Cet. 'Alimu Al Kutub - Tnp. Tahun].


وجاء في كتاب مطالب أولي النهى في الفقه الحنبلي: 


(وَيُبَاحُ تَطْيِيبُهُ) - أَيْ: الْمُصْحَفِ - أَوْ بَعْضِهِ، وَاسْتَحَبَّهُ الْآمِدِيُّ " لِأَنَّ «النَّبِيَّ - ﷺ - طَيَّبَ الْكَعْبَةَ» وَهِيَ دُونَهُ، وَ «أَمَرَ بِتَطْيِيبِ الْمَسَاجِدِ» ، فَالْمُصْحَفُ أَوْلَى. (وَ) يُبَاحُ (تَقْبِيلُهُ). انتهى.

[انظر كتاب مطالب أولي النهى في شرح غاية المنتهى :  ج ١ ص ١٥٧ /  باب نواقض الوضوء / فصل ما يحرم بالحدث الأكبر والأصغر / للإمام مصطفى بن سعد بن عبده السيوطي شهرة، الرحيبانى مولدا ثم الدمشقي الحنبلي (ت ١٢٤٣هـ) / الناشر: المكتب الإسلامي الطبعة: الثانية، ١٤١٥هـ - ١٩٩٤مـ].


Dan tersebut dalam Kitab Mathalib Uli An Nuha Fi Syarhi Ghayatu Al Muntaha Imam Ar Rahaibaniy Al Hanbaliy menjelaskan :


Dan diperbolehkan memberi minyak wangi/mengharumkan   mushaf Al Qur'an atau mengharumkan  sebagiannya Imam Al Amidi memperbolehkannya, karena sesungguhnya Nabi ﷺ pernah meminyaki/mengharumkan ka'bah. Dan selain itu, dan beliau  "memerintahkan masjid-masjid untuk diharumkan," apalagi mengharumkan  mushaf Al-Qur'an lebih diutamakan. (dan) diperbolehkan (untuk menciumnya).

[Lihat Kitab Mathalib Uli An Nuha Fi Syarhi Ghayatu Al Muntaha : juz 1 hal 157 / Babu Nawaqidlu Al Wudlu' / Fashlun : Ma Yahrumu Bi Al Hadatsi Al Akbari Wa Al Ashghari / Karya Imam Musthafa Bin Sa'd Ar Rahaibaniy Al Hanbaliy / Cet. Kedua Al Maktab Al Islamiy, Th. 1415 H - 1994 M].




Selesai dinukil hari Sabtu Wage malam Ahad Kliwon


Dikradenan selatan 003 001 Kradenan Srumbung Magelang Jawa tengah


٢٥ ربيع الاخير ١٤٤٤ هـ

20 November 2022 M

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top