Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label FIQIH QURBAN SUNNI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FIQIH QURBAN SUNNI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Agustus 2017

*🐫🐂 فِقْهُ الْإُضْحِيَّةِ |🇫 🇮 🇶 🇮🇭 ∆ 🇶 🇺 🇷 🇧 🇦 🇳🐏🐃*

حكمة اليوم : ٢٩ اغسطس ٢٠١٧ مـ  | Edisi Qurban : Selasa legi, 07 Dzul Hijjah 1438 H.
*🌏💥FIQIH QURBAN BERDASARKAN KITAB-KITAB FIQIH SUNNI💐🌎*

*🌏1. PERBEDAAN NIAT QURBAN SUNNAH DAN NIAT QURBAN  WAJIB:*

*(a)* Mengingatkan Mudlahhi/'Aazim (orang yang akan berqurban) untuk melakukan niat, yang merupakan inti ibadah.

*(b)* Agar dapat dibedakan antara *QURBAN SUNNAH DAN QURBAN WAJIB*, karena keduanya memiliki kedudukan dan konsekwensi hukum berbeda.


قال الشبخ السيد أبو بكر (المشهور بالبكري) بن محمد شطا الدمياطي (المتوفى: بعد 1302هـ), رحمه الله تعالى في كتابه " إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (هو حاشية على فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين " :

أي يشترط فيها النية عند الذبح أو قبله عند التعيين لما يضحي به. ومعلوم أنها بالقلب، وتسن باللسان، فيقول: نويت الأضحية المسنونة، أو أداء سنة التضحية. فإن اقتصر على نحو الأضحية صارت واجبة يحرم الأكل منها.
{انظر كتاب إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين : ٢/ ٣٧٦. للشيخ السيد ابو بكر محمد شطا الدمياطي الشافعي}

*🌏💐Berkata Syaikh  Sayyid Abu Bakr Muhammad Syatha Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy  rahimahullaahu ta'ala didalam kitabnya " I'anatuth Thaalibiin Syarhu Fathu Al Mu'in " :*

“Disyaratkan niat ketika menyembelih, atau sebelumnya yakni ketika menentukan hewan yang akan dijadikan qurban. Sudah maklum bahwa tempatnya niat adalah hati, dan disunnahkan juga dilafadzkan dalam lisan. Orang yang berqurban berniat, *“NAWAITUL UDHIYATAL MASNUNAH (Saya niat berqurban sunnah)”, atau “NAWAITU ADAA-A SUNNATIT TADHIYAH (Saya niat menunaikan kesunnahan qurban).”*

Jika ia tidak menyebutkan kata *“SUNNAH”*, misalkan hanya mengatakan : *“SAYA NIAT BERQURBAN”, MAKA QURBANNYA MENJADI WAJIB, SEHINGGA DIHARAMKAN ATASNYA UNTUK MEMAKAN BAGIAN DARI HEWAN QURBAN ITU (BAIK DAGING, KULIT, DAN LAINNYA).”*
{Lihat Kitab I'anatuth Thaalibiin 'Alaa Hilli Alfaadzi Fathi Al Mu'iin : 2/ 376. Karya Syaikh Sayyid Abi Bakr Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy}.

*(c)* Agar panitia memilah qurban yang wajib dan sunnah, sehingga qurban wajib atau nadzar tidak diberikan kembali kepada mudlahhi/'Aazim  (pequrbannya), orang-orang yang wajib ditanggung nafkahnya, dan juga panitia itu sendiri.

قال الامام الشيخ إبراهيم بن محمد بن أحمد الشافعي الباجوري (1784م- 1859م) كان شيخاً للأزهر. رحمه الله تعالى في كتابه " شرح الباجوري على ابي شجاع " :

ولا يأكل المضحى شيأ من الأضحية المنذورة (قوله ولا يأكل) اى لايجوزله الأكل فان أكل شيأ غرمه (قوله المضحى) وكذا من تلزمه نفقته.
{انظر كتاب شرح  ألباجورى على ابي شجاع : الجز. ٢ ص : ٣٠٠. للامام الشيخ ابراهيم الباجوري الشافعي}.

*🌏🌹Berkata Imam Syaikh Ibrahim Al Baajuri Asy Syafi'iy rahimahullaahu ta'ala didalam kitabnya " Syarhu Al Baajuri 'Alaa Abi Sujaa' " :*

“Pihak yang berqurban tidak boleh memakan sedikitpun dari qurban yang dinadzarkan. Yakni ia tidak boleh memakannya, lalu jika memakannya sedikit saja maka wajib mengganti. Seperti pihak pequrban (mudhahhi) adalah orang-orang yang wajib ditanggung nafkahnya.”
{Lihat Kitab Syarhu Al Baajuri 'Alaa Abi Sujaa' : 2/ 300. Karya Imam Syaikh Ibrahim Al Baajuriy Asy Syafi'iy}.


وقال الشيخ أبو بكر بن محمد بن عبد المؤمن بن حريز بن معلى الحسيني الحصني، تقي الدين الشافعي (المتوفى: 829هـ)، رحمه الله تعالى في كتابه " كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار " :

ولا يأكل المضحى شيأ من الأضحية المنذورة ويأكل من المتطوع بها.
{انظر كتاب كفاية الأخيار :  الجز ٢ ص : ٢٤١. للامام تقي الدين الشافعي}.

*🌏🥀Berkata Syaikh Taqiyyuddin Asy Syafi'iy  rahimahullaahu ta'ala didalam kitabnya " Kifayatu Al Akhyaar " :*

“Pihak yang berqurban tidak boleh memakan sedikitpun dari qurban yang dinadzarkan dan boleh memakannya jika merupakan qurban sunnah.”
{Lihat Kitab Kifayatu Al Akhyaar : 2/ 241. Karya Syaikh Taqiyyuddin Asy Syafi'iy}.

وقال الشيخ السيد ابو بكر محمد شطا الدمياطي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " اعانة الطالبين شرح فتح المعين " :

(ويحرم الاكل الخ ) الى ان قال فيجب عليه التصدق بجميعها حتى قرنها وظلفها اهـ
{انظر كتاب إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين : ٢/ ٣٣٣. للشيخ السيد ابو بكر محمد شطا الدمياطي الشافعي}

*🌏🌺Berkata Syaikh  Sayyid Abu Bakr Muhammad Syatha Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy  rahimahullaahu ta'ala didalam kitabnya " I'anatuth Thaalibiin 'Alaa Hilli Alfaadzi Fathu Al Mu'in " :*

“(Haram memakan dst.) sampai ungkapan: maka wajib atas pequrban mensedekahkan seluruh qurbannya hingga tanduk dan kakinya (tracaknya : jawa).”
{Lihat Kitab I'anatuth Thaalibiin 'Alaa Hilli Alfaadzi Fathi Al Mu'iin : 2/ 376. Karya Syaikh Sayyid Abi Bakr Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy}.

*_🌿Apabila PEMILAHAN ANTARA QURBAN SUNNAH DAN NADZAR/WAJIB MENEMUI KESULITAN, maka dianggap cukup dengan cara memisahkan daging seukuran qurban nadzar/wajib dari daging yang ada, kemudian mensedekahkan sisanya kepada selain yang bernadzar/berqurban wajib dan orang-orang yang wajib ditanggung nafkahnya🍀_*.

Solusi ini telah dijelaskan dalam kitab Fathu Al Mu'iin :

قال الشبخ زين الدين الماليباري الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " فتح المعين " :

افتى النووى كابن الصلاح فيمن غصب نحو نقد او بر وخلطه بماله ولم يتميز بان له افراز قدر المغصوب ويحل له التصرف فى الباقى.
{انظر كتاب فتح المعين او  هامش كتاب اعانة الطالبين : ج : ١ ص : ١٢٧. للامام زين الدين الماليباري الشافعي}

*🌎🌼Berkata Syaikh Zainuddin Al Malibariy Asy Syafi'iy rahimahullaahu ta'ala didalam kitabnya " Fathu Al Mu'iin " :*

“Imam Nawawi berfatwa sebagaimana Imam Ibnu Shalah tentang seseorang yang ghashab semisal uang (dinar/dirham) atau biji gandum dan mencampurkannya dengan harta miliknya dan tidak dapat membedakannya bahwa baginya boleh memisahkan seukuran barang dighashabnya dan halal baginya mentasarufkan sisanya.”
{Lihat Kitab Fathu Al Mu'in Atau Dalam Haamisy/Catatan Pinggir Kitab I'anatuth Thalibin : juz. 1 hal. 127. Karya Sayaikh Zainuddin Al Malibriy Asy Syafi'iy}.

*(d)* Penyerahan Berupa Uang Seharga Hewan Ternak
Penyerahan sejumlah uang oleh pequrban kepada panitia agar dibelikan ternak layak qurban sekaligus sampai pada penyembelian serta pembagian dagingnya, *MENURUT PANDANGAN ULAMA ADALAH BOLEH* sebagaimana dijelaskan :

قال الامام الشيخ ابو بكر محمد شطا الدمياطي الشافعي في كتابه " اعانة الطالبين شرح فتح المعين " :

في فتاوي العلامة الشيخ محمد بن سليمان الكردي محشي شرح ابن حجر على المختصر ما نصه سئل رحمه الله تعالى جرت عادة أهل بلد جاوى على توكيل من يشتري لهم النعم في مكة للعقيقة أو الأضحية ويذبحه في مكة والحال أن من يعق أو يضحي عنه في بلد جاوى فهل يصح ذلك أولا أفتونا الجواب نعم يصح ذلك ويجوز التوكيل في شراء الأضحية والعقيقة وفي ذبحها ولوبغير بلد المضحي والعاق.
{انظر كتاب إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين : ٢/ ٣٣٥. للشيخ السيد ابو بكر محمد شطا الدمياطي الشافعي}

*🌏☘Berkata Syaikh  Sayyid Abu Bakr Muhammad Syatha Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy  rahimahullaahu ta'ala didalam kitabnya " I'anatuth Thaalibiin 'Alaa Hilli Alfaadzi Fathu Al Mu'in " :*

“Dalam kitab Fatawa Syekh Sulaiman al-Kurdi Muhasyyi Syarah Ibni Hajar ‘ala al-Mukhtashar terdapat suatu pertanyaan : Ditanyakan kepada beliau “Telah berlaku kebiasaan penduduk Jawa mewakilkan kepada seseorang agar membelikan ternak untuk mereka di Makkah sebagai aqiqah atau qurban dan agar menyembelihnya di Makkah, sementara orang yang di aqiqahi atau qurbani berada di Jawa. Apakah hal demikian itu sah atau tidak ? Mohon diberikan fatwa jawabannya ! “. Ya, demikian itu sah. Diperbolehkan mewakilkan dalam pembelian hewan qurban dan aqiqah dan juga penyembelihnya sekalipun tidak dilaksankan di negara orang yang berqurban atau beraqiqah.”
{Lihat Kitab I'anatuth Thaalibiin 'Alaa Hilli Alfaadzi Fathi Al Mu'iin : 2/ 335. Karya Syaikh Sayyid Abi Bakr Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy}.

*🌏🐫 2. TENTANG PANITIA   MENIATKAN TERNAK YANG TELAH DIBELINYA DENGAN MENGATASNAMAKAN ORANG YANG TELAH MEMBERI KUASA KEPADANYA DAN HUKUM BERQURBAN HANYA DENGAN UANG.*

*_💥Ada hal penting yang perlu diperhatikan ketika penyerahan pequrban kepada panitia itu berupa uang, yaitu PANITIA WAJIB MENENTUKAN/MENIATKAN TERNAK YANG TELAH DIBELINYA DENGAN MENGATASNAMAKAN ORANG YANG TELAH MEMBERI KUASA KEPADANYA._*

Dikarenakan qurban sebagai ibadah yang  memerlukan niat baik oleh pihak mudlahhi (yang berqurban) sendiri atau telah diserahkannya kepada wakilnya, kecuali qurban nadzar maka tidak ada syarat niat.

Penjelasan hal diatas adalah :

قال الشيخ الامام ابراهيم الباجوري الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " شرح الباجوري حاشية على شرح ابن قاسم لأبي شجاع في فقه مذهب الإمام الشافعي " :

ولا يشترط فى المعينة ابتداء بالنذر النية بخلاف المتطوع بها والواجبة بالجعل او بالتعيين عما فى الذمة فيشترط له نية عند الذبح او عند التعيين لما يضحى به كالنية فى الزكاة وله تفويضها لمسلم مميز وان لم يوكله فى الذبح.
{انظر كتاب شرح الباجوري حاشية على شرح ابن قاسم لأبي شجاع في فقه مذهب الإمام الشافعي :  الجزء ٢ ص : ٢٩٦. للشيخ ابراهيم الباجوري الشافعي}.

*🦋 Berkata Syaikh Ibrahim Al Baajuriy Asy Syafi'iy rahimahullaah ta'ala dalam kitabnya " Syarhu Al Baajuriy Hasyiyyah 'Alaa Ibnu Qasim Li Abi Syujaa' " :*

Tidak disyaratkan niat dalam qurban yang telah ditentukan sejak permulaan dengan jalan nadzar. Beda halnya dengan qurban sunat dan qurban wajib dengan jalan ja’li (menjadikan) atau ta’yin (menentukan) dari apa yang dalam tanggungannya, maka disyaratkan niat ketika menyembelih atau menentukan hewan qurbannya sebagaimana niat dalam ibadah zakat. Boleh juga niat diserahkan kepada seorang muslim yang sudah tamyiz sekalipun ia tidak dijadikan wakil dalam menyembelih.
{Lihat Kitab Syarhu Al Baajuriy 'Alaa Ibni Qasim Li Abi Syujaa' : juz. 2 hal. 296. Karya Syaikh Ibrahim Al Baajuriy Asy Syafi'iy}.


*_🐑 Praktek Praktis/Instan Dalam Masyarakat Umum Berupa Penyerahan Sejumlah Uang Seharga Hewan Ternak._*

Kemauan orang dalam melakukan aktivitas sehari-harinya ingin serba praktis, simpel dan mudah tak terkecuali dalam urusan ibadah qurban. Sehingga orang yang hendak ibadah qurban cukup menyerahkan sejumlah uang kepada panitia agar dibelikan ternak layak qurban sekaligus sampai pada penyembelian serta pembagian dagingnya. Dalam hal menurut pandangan ulama adalah boleh sebagaimana dijelaskan dalam kitab I’anah al-Thalibin :

قال الامام الشيخ ابو بكر محمد شطا الدمياطي الشافعي في كتابه " اعانة الطالبين شرح فتح المعين " :

في فتاوي العلامة الشيخ محمد بن سليمان الكردي محشي شرح ابن حجر على المختصر ما نصه سئل رحمه الله تعالى جرت عادة أهل بلد جاوى على توكيل من يشتري لهم النعم في مكة للعقيقة أو الأضحية ويذبحه في مكة والحال أن من يعق أو يضحي عنه في بلد جاوى فهل يصح ذلك أولا أفتونا الجواب نعم يصح ذلك ويجوز التوكيل في شراء الأضحية والعقيقة وفي ذبحها ولوبغير بلد المضحي والعاق.
{انظر كتاب إعانة الطالبين شرح فتح المعين : الجزء : ٢  ص: ٣٣٥. للامام الشيخ ابو بكر محمد شطا الدمياطي الشافعي}.

*🌼 Berkata Syaikh Sayyid Abu Bakr Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy rahimahullaahu ta'ala dalam kitabnya " I'anatuth Thaalibiin Syarhu Fathu Al Mu'in " :*

Dalam kitab Fatawa Syekh Sulaiman al-Kurdi Muhasyyi Syarah Ibni Hajar ‘ala al-Mukhtashar terdapat suatu pertanyaan : Ditanyakan kepada beliau “Telah berlaku kebiasaan penduduk Jawa mewakilkan kepada seseorang agar membelikan ternak untuk mereka di Makkah sebagai aqiqah atau qurban dan agar menyembelihnya di Makkah, sementara orang yang di aqiqahi atau qurbani berada di Jawa. Apakah hal demikian itu sah atau tidak ? Mohon diberikan fatwa jawabannya ! “. Ya, demikian itu sah. Diperbolehkan mewakilkan dalam pembelian hewan qurban dan aqiqah dan juga penyembelihnya sekalipun tidak dilaksankan di negara orang yang berkorban atau beraqiqah.
{Lihat Kitab I'anatuth Thaalibiin Syarhu Fathu Al Mu'iin : juz. 2 hal. 335. Karya Syaikh Sayyid Abu Bakr Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy}.


*_🍀Dalam penjelasan yang lain  bila seseorang hanya berqurban dengan nilai uang, bukan dengan hewan, MAKA HUKUMNYA TIDAK BOLEH._*

*🐂 Dijelaskan dalam Kitab  Riyadhul Badi’ah :*

قال الشيخ محمد حسب الله رحمه الله تعالى في كتابه " الرياض البديعة في أصول الدين وبعض فروع الشريعة في فقه الشافعي " :

لا تصح التضحية إلا بالأنعام وهي الإبل والبقر الأهلية والغنم لأنها عبادة تتعلق بالحيوان فاختصت بالنعم كالزكاة فلا يجزئ بغيرها,
{وكذا في كتاب الموهبة : الجزء. ٤ ص. ٦٨٢. وفي كتاب الرياض البديعة : ص. ٨. للشيخ محمد حسب الله}.

*🐫 Berkata Syaikh Muhammad Hasbullaah rahimahullaahu ta'ala dalam kitabnya " Ar Riyaadlu Al Badii'ah " :*

“Qurban tidak sah kecuali dengan binatang ternak, yaitu unta, sapi, atau kerbau dan kambing. Hal ini karena qurban itu terkait dengan binatang, maka dikhususkan dengan ternak sama seperti zakat, sehingga tidak sah selain dengan binatang ternak.”
{Lihat Kitab Al Mauhibah : juz. 4 hal. 682. Dan Kitab Al Riyaadlu Al Badii'ah : hal. 8. Karya Syaikh Muhammad Hasbullaah}

*🌎🐏 3. TENTANG PERWAKILAN (WAKALAH) DAN PEMBERIAN IZIN PADA PANITIA*

*(a)* Perwakilan (wakalah)
Panitia Qurban adalah sekelompok orang-orang tertentu yang pada umumnya dipersiapkan oleh suatu organisasi (ta’mir masjid, mushalla, instansi dan lain-lain) guna menerima kepercayaan (amanat) dari pihak pequrban (mudlahhi) agar melaksanakan penyembelihan hewan qurban dan membagikan dagingnya.
Memperhatikan pengertian panitia tersebut maka dalam pandangan fiqih panitia adalah wakil dari pihak mudlahhi.

وفي الشرع تفويض شخص شيأ له فعله مما يقبل النيابة الى غيره ليفعله حال حياته.
{انظر هامش حاشية الباجورى : الجزء. ١ ص : ٣٨٦}.

“Wakalah menurut syara’ adalah penyerahan oleh seseorang tentang sesuatu yang boleh ia kerjakan sendiri dari urusan-urusan yang bisa digantikan (pihak lain), kepada pihak lain agar dikerjakannya diwaktu pihak pertama masih hidup.”
{Lihat Hamisy/Catatan Pinggir Syarhu Al Bajuuriy : juz. 1 hal. 386}.

(والوكيل امين ) لانه نائب عن الموكل في اليد والتصرف فكانت يده كيده.
{انظر حاشية الجمل : الجزء. ٣ ص : ٤١٦}

“Wakil adalah pengemban amanah, karena ia sebagai pengganti muwakkil (yang mewakilkan) dalam kekuasaan dan tasharruf, jadi kekuasannya seperti kekuasaan pihak muwakkil.”
{Lihat Hasyiyyah Al Jamal : juz. 3 hal. 416}.


Penyerahan hewan qurban kepada panitia (wakil) haruslah melalui pernyataan yang jelas dalam hal status qubannya (sunat / wajib) maupun urusan yang diserahkannya (menyembelih saja atau dan juga membagikan dagingnya) pada pihak ketiga. Oleh karenanya harus ada pernyataan mewakilkan (menyerahkan) oleh pihak pequrban (mudlahhi) dan penerimaan oleh pihak panitia, lalu serah-terima hewan qurbannya.

قال الشيخ ابراهيم الباجوري الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " شرح الباجوري لابي شجاع " :

أركانها اربعة موكل ووكيل وموكل فيه وصيغة ويكفى فيها اللفظ من احدهما وعدم الرد من الأخر كقول الموكل وكلتك بكذا او فوضته اليك ولو بمكاتبة او مراسلة .
{انظر كتاب شرح الباجورى : الجزء. ١ ص : ٢٩٦. للامام ابراهيم الباجوري الشافعي}.

*👑 Berkata Syaikh Ibrahim Al Baajuriy Asy Syafi'iy rahimahullaahu ta'ala dalam kitabnya " Syarhu Al Bajuuriy " :*

“Rukun wakalah ada empat : (1) Muwakkil (2) Wakil (3) Muwakkal fih dan (4) shighat. Pernyataan dari salah pihak dan tidak ada penolakan dari pihak yang lain sudah mencukupi dalam shighat ini. Misalnya muwakkil mengatakan, ‘Aku wakilkan padamu hal demikian-demikian, atau aku menyerahkan urusan ini padamu.’ (Hal itu sah), meski dengan cara penulisan atau surat."
{Lihat Kitab Syarhu Al Baajuriy : juz. 1 hal. 296. Karya Syaikh Ibrahim Al Baajuriy.Asy Syafi'iy}.

Qurban sebagai ibadah memerlukan niat baik oleh pihak pequrban sendiri atau diserahkannya kepada wakilnya, kecuali qurban nadzar maka tidak ada syarat niat.

قال الشيخ ابراهيم الباجوري الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " شرح الباجوري لابي شجاع " :

ولا يشترط فى المعينة ابتداء بالنذر النية بخلاف المتطوع بها والواجبة بالجعل او بالتعيين عما فى الذمة فيشترط له نية عند الذبح او عند التعيين لما يضحى به كالنية فى الزكاة وله تفويضها لمسلم مميز وان لم يوكله فى الذبح.
{انظر كتاب شرح الباجورى : الجزء. ١ ص : ٢٩٦. للامام ابراهيم الباجوري الشافعي}.

*🍀Berkata Syaikh Ibrahim Al Baajuriy Asy Syafi'iy rahimahullaahu ta'ala dalam kitabnya " Syarhu Al Bajuuriy " :*

“Tidak disyaratkan niat dalam qurban yang telah ditentukan sejak permulaan dengan jalan nadzar. Beda halnya dengan qurban sunat dan qurban wajib dengan jalan ja’li (menjadikan) atau ta’yin (menentukan) dari apa yang dalam tanggungannya, maka disyaratkan niat ketika menyembelih atau menentukan hewan qurbannya sebagaimana niat dalam ibadah zakat. Boleh juga niat diserahkan kepada seorang muslim yang sudah tamyiz sekalipun ia tidak dijadikan wakil dalam menyembelih.”
{Lihat Kitab Syarhu Al Baajuriy : juz. 1 hal. 296. Karya Syaikh Ibrahim Al Baajuriy.Asy Syafi'iy}.


*(b)* Tugas Panitia Qurban
Tugas pokok panitia adalah menyembelih dan membagikan dagingnya kepada pihak yang berhak sesuai dengan pernyataan pihak pequrban saat penyerahan hewan qurban dan pihak wakil/panitia sedikipun tidak diperkenankan melanggar amanah ini sebagaimana keterangan di atas.

قال الامام ابي اسحاق الشيرازي رحمه اااه تعالى في كتابه " المهذب " :

ولايملك الوكيل من التصرف الا ما يقتضيه اذن الموكل من جهة النطق او من جهة العرف .
{انظر كتاب المهذب : الجزء : ١، ص : ٣٥٠. للامام الشيرازي}.

*💐Berkata Imam Abi Ishaq Asy Syairaziy rahimahullaahu ta'ala dalam kitabnya " Al Muhadzab " :*

“Tidak berkuasa seorang wakil dari urusan tasharuf melainkan sebatas izin yang didapat dari muwakkil melalui jalan ucapan atau adat yang berlaku.”
{Lihat Kitab Al Muhadzab : juz. 1 hal. 350. Karya Imam Asy Syairaziy}.

*(c)* Panitia Mengambil / Memakan dari Bagian Qurban
Sesuai dengan amanat yang diterimanya dari pihak pequrban, yaitu menyembelih dan membagikan dagingnya, maka panitia tidak diperbolehkan mengambil atau memakan sedikitpun daripadanya. Kemudian agar panitia bisa mengambil sebagian daging qurban (sunnah), maka harus ada izin dari pihak mudlahhi agar ia diperbolehkan mengambilnya dalam batas ukuran tertentu.

قال الشيخ ابراهيم الباجوري الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " شرح الباجوري لابي شجاع " :

ولا يجوز له أخذ شيئ الأ ان عين له الموكل قدرا منها.
{انظر كتاب شرح الباجورى : الجزء. ١ ص : ٣٨٧. للامام ابراهيم الباجوري الشافعي}.

*🐃Berkata Syaikh Ibrahim Al Baajuriy Asy Syafi'iy rahimahullaahu ta'ala dalam kitabnya " Syarhu Al Bajuuriy " :*

“Tidak boleh bagi wakil (panitia) mengambil sedikitpun, kecuali pihak yang mewakilkan (muwakkil) sudah menentukan sekadar dari padanya untuk pihak wakil.”
{Lihat Kitab Syarhu Al Baajuriy : juz. 1 hal. 296. Karya Syaikh Ibrahim Al Baajuriy.Asy Syafi'iy}.

*🌍🌺 4. TENTANG BIAYA PERAWATAN DAN PENYEMBELIHAN.*

*(a)* Agar tidak terjadi praktik penjualan kulit qurban, baik oleh panitia, orang yang berqurban, atau atau penerima (mustahiq) kaya, misalnya dengan alasan biaya operasional, atau biaya perawatan dan penyembelihan qurban.

Di dalam kitab Bidayatul Mujtahid disebutkan, para ulama seluruhnya sepakat untuk mengharamkan menjual daging dan kulit hewan qurban. Dalilnya adalah :

و عن عبد الله بن عياش المصري ، عن عبد الرحمن الأعرج ، عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله  ﷺ :

"مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَتِهِ فَلاَ أُضْحِيَةَ لَهُ".
{رواه الحاكم في مستدركه / كتاب التفسير /  تفسير سورة الحج / رقم الحديث : ٣٤٦٨. وقال : هذا حديث صحيح مثل الأول و لم يخرجاه}.


Dan dari 'Abdillah bin 'Ayyas Al Mishriy. Dari 'Abdirrahman Al A'raj. Dari Abi Hurairah radliyyAllaahu, beliau berkata : Rasulullaah ﷺ pernah bersabda :

“Barangsiapa yang menjual kulit hewan qurbannya, maka dia tidak memperoleh qurban apapun.”
{HR. Hakim / Kitab Al Tafsiir / Tafsiir Surah Al Hajj / No. 3468. Beliau berkata : HADITS INI SHAHIH seperti yang pertama dan Bukhari Muslim keduanya tidak mengeluarkannya. Dan beliau juga  MENSHAHIHKAN HADITS INI dalam kitab al-Mauhibah jilid. 4 hal. 697}.

Dan hadits yang senada :

أخبرنا محمد بن عبد الله الحافظ ثنا أبو محمد عبد الله بن محمد بن اسحاق العدل ببغداد ثنا يحيى بن جعفر بن الزبرقان ثنا زيد بن الحباب ثنا عبد الله بن عياش بن عباس عن عبد الرحمن الأعرج عن أبي هريرة رضي الله عنه قال :  قال رسول الله ﷺ  :

*"من باع جلد أضحيته ، فلا أضحية له ."*
{رواه البيهقي في الكبرى / كتاب الضحايا / باب لا يبيع من أضحيته شيئا و لا يعطي أجر الجازر منها / رقم الحديث : ١٩٧٧١}.

Telah mengabarkan kepada kami : Muhamad bin 'Abdillah Al Hafidz. Telah menceritakan kepada kami : Abu Muhammad 'Abdillah bin Muhammad bin Ishaq Al 'Adl dibaghdad. Telah menceritakan kepada kami : Yahya bin Ja'far Az Zabarqaan. Telah menceritakan kepada kami : Zaid bin Al Hubaab. Telah menceritakan kepada kami : 'Abdullah bin 'Ayyas bin 'Abbas. Dari 'Abdurrahman Al A'raj. Dari Abi Hurairah radliyyAllahu 'anhu, beliau berkata : Rasulullah  ﷺ pernah bersabda :

“Barangsiapa yang menjual kulit hewan qurbannya,  maka dia tidak memperoleh qurban apapun.”
{HR. Baihaqiy Dalam Al Kubra / Kitabu Al Dlahaaya / Baabu La Yabi'u Min Udlhiyyatihi Syaian Wa La Yu'thi Ajra Al Jaaziri Minha / No. 19771}.


*🌏🐫Haramnya menjual kulit hewan qurban ini telah ditetapkan oleh Keputusan Muktamar ke-27 Nahdhatul-Ulama di Situbondo pada tanggal 8-21 Desember 1984. Bunyinya:*

*“MENJUAL KULIT HEWAN QURBAN TIDAK BOLEH KECUALI OLEH MUSTAHIQNYA (YANG BERHAK ATAS KULIT-KULIT ITU) YANG FAKIR/MISKIN. SEDANGKAN MUSTAHIQ YANG KAYA, MENURUT PENDAPAT YANG MU’TAMAD (BISA DIJADIKAN PEGANGAN) TIDAK BOLEH.”*
{Lihat Kitab Ahkamul Fuqaha :  hal. 401}.

*_🐂Sebagian ulama mazhab As-Syafi’i membolehkan menjual daging hewan qurban sebatas orang miskin yang telah menerimanya. Sedangkan pihak yang memiliki hewan, atau orang yang menerima lewat sedekah, DIHARAMKAN MENJUALNYA. MAKA UNTUK KEABSAHAN QURBAN DAN SEBAGAI SOLUSI, KULIT QURBAN DIBERIKAN KEPADA PENERIMA YANG FAKIR/MISKIN, TIDAK BOLEH PEQURBAN, ATAU PANITIA YANG MENJUAL KULIT SECARA SEPIHAK, ATAU SEBAGAI WAKIL DARI PEQURBAN, ATAU OLEH PENERIMA YANG KAYA._*

*(b)* Agar tidak terjadi praktek pengupahan tukang potong hewan (jagal) yang diambilkan dari bagian qurban, baik daging maupun kulitnya.

Diriwayatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib radhiyyAllahu ‘anhu :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ عَلِيٍّ قَالَ :

*أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا , قَالَ :*

*نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا.*

وَحَدَّثَنَاه أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالُوا : حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ الْجَزَرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ.

وَحَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ وَقَالَ إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ : أَخْبَرَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ قَالَ : أَخْبَرَنِي أَبِي كِلَاهُمَا عَنْ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ عَلِيٍّ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ وَلَيْسَ فِي حَدِيثِهِمَا أَجْرُ الْجَازِرِ.
{رواه مسلم / ١٥ - كتاب الحج / ٦١ - باب في الصدقة بلحوم الهدي وجلودها وجلالها / رقم الحديث : ١٣١٧}.

Telah menceritakan kepada kami : Yahya bin Yahya. Telah mengabarkan kepada kami : Abu Khaitsamah. Dari Abdul Karim. Dari Mujahid. Dari 'Abdurrahman bin Abu Laila.Dari 'Aliy, beliau berkata;

"Aku disuruh Rasulullah ﷺ mengurus penyembelihan hewan kurban, menyedekahkan daging dan kulitnya, serta mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan kesempurnaan kurban. *TETAPI AKU DILARANG OLEH BELIAU MENGAMBIL UPAH UNTUK TUKANG POTONG DARI HEWAN KURBAN ITU.*

*_MAKA UNTUK UPAHNYA KAMI AMBILKAN DARI UANG KAMI SENDIRI."_*

Dan Telah menceritakannya kepada kami : Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Amru An Naqid dan Zuhair bin Harb mereka berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyainah. Dari Abdul Karim Al Jazari dengan isnad ini, semisalnya.

Dan Telah menceritakan kepada kami : Ishaq bin Ibrahim. Telah mengabarkan kepada kami :  Sufyan. Dan berkata Ishaq bin Ibrahim :  Telah mengabarkan kepada kami :  Mu'adz bin Hisyam ia berkata : Telah mengabarkan kepadaku : Bapakku keduanya dari Ibnu Abu Najih. Dari Mujahid. Dari Ibnu Abu Laila. Dari 'Aliy. Dari Nabi ﷺ. Dan di dalam hadits keduanya tidak tercantum;

*"Ajrul Jazir (Ongkos Untuk Tukang Potong)."*
{HR. Muslim / 15 - Kitabu Al Hajj / 61 - Baabu Fii Al Shadaqah Biluhumi Al Hadyi Wa Juludiha Wa Jalaaliha / No. 1317}.


*🐫Hal ini merupakan pendapat mayoritas ulama.*

قال الامام النووي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " روضة الطالبين وعمدة المفتين " :

وَلَا أَنْ يُعْطِيَ الْجَزَّارَ شَيْئًا مِنْهُمَا أُجْرَةً لَهُ، بَلْ مُؤْنَةُ الذَّبْحِ عَلَى الْمُضَحِّي وَالْمَهْدِيِّ كَمُؤْنَةِ الْحَصَادِ. وَيَجُوزُ أَنْ يُعْطِيَهُ مِنْهُمَا شَيْئًا لِفَقْرِهِ، أَوْ يُطْعِمَهُ إِنْ كَانَ غَنِيًّا.
{انظر كتاب روضة الطالبين وعمدة المفتين : ٢/ ٢٢٢. للامام النووي الشافعي}.

*🌷Imam Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullaahu ta'ala dalam kitabnya " Raudlatu Ath Thaalibiin Wa 'Umdatu Al Muttaqiin " :*

“Ia (orang yang berqurban, penj) tidak boleh memberikan kepada tukang sembelih dari daging qurban dan hadyu (hewan yang disembelih di tanah suci, penj), sebagai ongkos penyembelihan. Namun, biaya penyembelihan dibebankan kepada orang yang berqurban, seperti ongkos panen. Boleh bagi orang yang berqurban untuk memberi tukang sembelih itu dari qurban dan hadyu, karena kefakiran tukang sembelih itu, atau memberi tukang sembelih itu makan, jika tukang sembelih itu orang yang kaya.”
{Lihat Kitab Raudlatu Ath Thaalibiin Wa 'Umdatu Al Muftiin : 2/ 222. Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy}.


*🍀Pengertian Jagal Tidak Sebatas Orang Yang  Menyembelih Ternaknya Saja Seperti Berlaku Pada Umumnya Akan Tetapi Mencakup Orang Orang Yang Menangani Pengulitan Dan Memotong Motong Daging Hewan Yang Disembelih*

Hal ini dijelaskan didalam kitab " Al I'lam Bi Fawaaid 'Umdah Al Ahkam " :

قال الامام ابن ملقن (هو الإمام عمر بن علي بن أحمد بن محمد بن عبد الله، سراج الدين أبو حفص الأنصاري الوادي آشي الأندلسي التكروروي المصري الشافعي، المتوفي في القاهرة المصري : ٨٠٤ هـ. رحمه الله تعالى في كتابه " الاعلام بفواىٔد عمدة الاحكام " :

الجزار معروف وهو الذي يتولي السلخ والقطع
{انظر كتاب الاعلام بفواىٔد عمدة الاحكام : ج. ٦ ص. ٢٨٦، طبعة دار عاصمة الرياض، سنة : ١٤٢١ هـ}.

*⚔Imam Ibnu Mulaqqin Asy Syafiiy rahimahullaahu ta'ala didalam kitabnya " Al I'laam Bi Fawaaidi 'Umdati Al Ahkaam "  mengatakan :*

“Yang dimaksud dengan jagal itu sudah kita ketahui bersama yaitu orang orang yang menangani pengulitan dan memotong motong daging hewan yang disembelih”.
{Lihat Kitab Al I’lam bi Fawaid Umdah al Ahkam : jilid 6 hal 286 terbitan Dar al ‘Ashimah Riyadh cet pertama 1421H}.

*_🔪Berdasarkan pengertian ‘jagal’ yang disampaikan oleh Ibnu Mulaqqin as Syafi'iy jelaslah bahwa panitia qurban yang ada di berbagai masjid itu tergolong ‘jagal’ dan jagal itu tidak boleh mendapatkan upah atas aktivitasnya sebagai jagal dari hewan qurban yang dia sembelih. Makan siang untuk panitia dari daging hewan qurban yang mereka sembelih itu tergolong upah ‘jagal’._*

*🗡Solusi dalam masalah ini adalah:*

*_(Pertama)_*, perbanyak daging yang dimasak sehingga makan siang itu tidak hanya khusus untuk panitia namun undanglah seluruh warga baik menjadi panitia atau pun bukan untuk ikut makan siang bareng. Makan siang bareng dalam hal ini berstatus sebagai pembagian daging hewan qurban dalam bentuk suap saji dan ini adalah suatu hal yang dibenarkan menurut pendapat yang paling kuat.

*_(Kedua)_*, shahibul qurban bisa dimintai tambahan biaya untuk beli daging yang nantinya akan dimasak untuk makan siang panitia.

*🌿Hukumnya bila penyembelihan hewan kurban tersebut diserahkan semuanya kepada panitia?*

*Bukankah peserta kurban itu sendiri lebih utama untuk menyembelihnya?*

Diriwayatkan dari Anas bin Malik :

 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ :

" ضَحَّى النَّبِيُّ ﷺ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا."
{رواه مسلم / كتاب الأضاحي    / باب استحباب الضحية وذبحها مباشرة بلا توكيل والتسمية والتكبير / رقم الحديث : ١٩٦٦}.

Telah menceritakan kami Qutaibah ibn Sa’id. Telah menceritakan kami :  Abu ‘Awanah. Dari Qatadah. Dari Anas, beliau berkata:

" Nabi ﷺ berkurban dengan dua ekor domba jantan yang dominasi warna putih dan bertanduk. Beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri, membaca basmalah dan bertakbir serta meletakkan kaki beliau di atas samping leher kedua domba tersebut.”.
{HR. Muslim / Kitabu Al Adlaahi / Baabu Istihbaabi Al Dlahhayati Wa Dzabhihaa Mubaasyaratan Bilaa Taukilin Wa Al Tasmiyyati Wa Al Takbiiri / No. 1966}.

Hadits yang senada :

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ :

"ضَحَّى النَّبِيُّ  ﷺ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا."
{رواه النساىٔي / ٤٣ - كتاب الضحايا / الكبش / رقم الحديث : ٤٣٨٧}.

Telah mengabarkan kepada kami : Qutaibah, ia berkata; Telah menceritakan kepada kami : Abu 'Awanah. Dari Qatadah. Dari Anas, beliau berkata;

Nabi  ﷺ berkurban dengan dua ekor kambing kibas yang bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, mengucapkan bismillah dan bertakbir serta meletakkan kakinya pada samping leher.
{HR. Nasaa'i / 43 - Kitabu Al Dlahaaya / Al Kabsyu / No. 4378}.

*_👑Berdasarkan hadis ini, para ulama menyimpulkan bahwa penyembelihan hewan kurban seyogianya dilakukan sendiri oleh orang yang berkurban. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ﷺ. Ini sekaligus merupakan sifat tawaddu’ dan kerendahan hati Rasulullah ﷺ.*

Penyembelihan ini perlu dilakukan sendiri karena kurban termasuk bagian dari ibadah. Sangat diutamakan dalam beribadah dilaksanakan oleh orang yang bersangkutan dan tidak mewakilkannya kepada orang lain.

قال الامام أحمد بن محمد بن أبى بكر بن عبد الملك القسطلاني القتيبي المصري، أبو العباس، شهاب الدين (المتوفى: 923هـ)، رحمه الله تعالى في كتابه " ارشاد الشاري شرح صحيح البخاري " :

ففيه مشروعية ذبح الأضحية بيده وإن كان يحسن ذلك لأن الذبح عبادة والعبادة أفضلها أن يباشرها بنفسه.
{انظر كتاب ارشاد الساري شرح صحيح البخاري / كتاب الأضاحي / باب من ذبح الأضاحي بيده / رقم الحديث : ٥٢٦٢. للامام القسطلاني}.

*👍🏿 Imam Al-Qasthalaniy dalam Kitabnya " Irsyadus Sari Syarhu Shahih Al Bukhariy " mengatakan:*

“Ini menjadi dalil disyariatkan penyembelihan kurban dengan tangan sendiri, dengan syarat dia pandai menyembelihnya. Sebab kurban merupakan ibadah dan ibadah lebih utama dilakukan oleh pihak yang bersangkutan.”
{Lihat Kitab Irsyaadu Al Saari Syarhu Shahih Al Bukhariy / Kitabu Al Adlaahi / Baabu Min Dzabhi Al Adlaahi Biyadihi / No. 5262. Karya Al Qasthalaaniy Al Mishriy}

Meskipun penyembelihan sendiri lebih diutamakan, hal ini bukan berarti jika diwakilkan kepada orang lain tidak diperbolehkan. Faktanya, memang tidak semua orang mampu menyembelih hewan kurban. Bagi yang tidak pandai menyembelih, mewakilkan kepada orang lain tentu lebih maslahat. Sebab jika ia memaksakan dirinya, padahal dia tidak pandai, ini akan berdampak buruk dan menyiksa hewan kurban.

*🦋 Imam Badruddin Al-‘Aini Al Hanafiy dalam Kitabnya " ‘Umdatul Qari Syarhu Shahih Al Bukhariy " mengatakan:*

وقد اتفقوا على جواز التوكيل فها فلا يشترط الذبح بيده لكن جاءت رواية عن المالكية بعدم الأجزاء عند القدرة وعند أكثرهم يكره، لكن يستحب أن يشهدها ويكره أن يستنيب حائضا أو صبيا أو كتابيا

“Ulama menyepakati kebolehan mewakilkan penyembelihan kurban dan tidak ada keharusan menyembelihnya sendiri. Akan tetapi, ada satu riwayat dari madzhab Malik yang menyatakan tidak sah bila ia mampu menyembelihnya, sementara menurut kebanyakan pendapat madzhab Malik hukumnya makruh. Disunahkan bagi orang yang mewakilkan penyembelihan hewan kepada orang lain untuk menyaksikan prosesnya dan dihukumi makruh bila diwakilkan kepada wanita haidh, anak kecil, dan ahli kitab.”

*💥Imam Zakariya al-Anshari Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Fathul Wahhab "  berpendapat:*

ويسن أن يذبح الأضحية رجل بنفسه إن أحسن الذبح وأن يشهدها من كل به لأن صلى الله عليه وسلم ضحى بنفسه رواه الشيخان، وقال لفاطمة قومي إلى أضحيتك فاشهديها فإنه بأول قطرة من دمها يغفر لك ما سلف من ذنوبك رواه الحاكم وصحح إسناده

“Disunahkan menyembelih hewan kurban sendiri bila ia pandai  menyembelihnya dan dianjurkan pula menyaksikan proses penyembelihannya bila diwakilkan, sebagaimana terdapat di riwayat Syaikhani (Bukhari-Muslim). Rasul berkata kepada Fatimah, ‘Pergilah untuk melihat penyembelihan hewan kurbanmu, karena pada tetes darah pertama akan diampuni dosamu yang telah berlalu’. Hadis ini diriwayatkan Hakim dan sanadnya shahih.”

Berdasarkan pemaparan di atas, penyembelihan hewan kurban lebih baik dilakukan sendiri, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. Ini dianjurkan selama orang yang berkurban pandai dan mampu menyembelihnya sendiri. Apabila tidak mampu, diperbolehkan mewakilkannya kepada orang lain atau panitia kurban yang diamanahkan. Meskipun demikian, tetap disunahkan untuk melihat prosesnya dan mengikutinya hingga selesai.

Panitia kurban dalam hal ini misalnya pengurus masjid juga dituntut bijak untuk memberikan kesempatan bagi mereka yang berkurban untuk menyembelih sendiri kurbannya. Sementara distribusinya menanggung jawab panitia.



جمعها طالب العلم " محمد عبد الحكيم الجاوي ". ربّنا تقبّل منّا واقبلنا بسرّ الفاتحة :

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BAGAIMANAPUN BENTUKNYA VAGINA RASANYA TUNGGAL (1) BAHASA ALAM AKHIRAT (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA KHUSUS (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DSB) (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAHARU (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) INOVASI BID'AH OLEH ULAMA' YANG DITUDUH MEMBID'AH BID'AHKAN (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KAJIAN TINGKEPAN NGAPATI MITONI KEHAMILAN (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TABKHIR EMBAKAR DUPA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA HAJAT TERCAPAI SEMBELIHLAH SYAHWAT DAN MENDEKATLAH KEPADA ALLAH (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KUFUR AKIBAT MENCELA NASAB KETURUNAN (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMBELI KITAB ULAMA' MENARIK RIZQI DAN KEKAYAAN (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SEMBELIHAN (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAHALLUL CUKUR GUNDUL ATAU POTONG RAMBUT SELESAI HAJI DAN UMROH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TIDAK PERLU TEST DNA SEBAGAI BUKTI DZURRIYYAH NABI -ﷺ- (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top