Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label SHALAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SHALAT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Januari 2014

ألنّية في الصلاة ومحلها | NIAT DALAM SHALAT DAN TEMPAT KEBERADAANNYA

01}. SYAH / SEMPURNANYA SHALAT DAN AMAL-AMAL YANG LAIN TERGANTUNG DARI NIATNYA.
[HR.Bukhari no.1 dan Muslim no. 1907]

عَنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي اللّه تعالى عنه قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ صلى اللّه عليه وسلّم يَقُولُ: " إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ".

رَوَاهُ إِمَامَا الْمُحَدِّثِينَ أَبُو عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بنُ إِسْمَاعِيل بن إِبْرَاهِيم بن الْمُغِيرَة بن بَرْدِزبَه الْبُخَارِيُّ الْجُعْفِيُّ [رقم:1]، وَأَبُو الْحُسَيْنِ مُسْلِمٌ بنُ الْحَجَّاج بن مُسْلِم الْقُشَيْرِيُّ النَّيْسَابُورِيُّ [رقم:1907] رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فِي "صَحِيحَيْهِمَا" اللذِينِ هُمَا أَصَحُّ الْكُتُبِ الْمُصَنَّفَةِ.

Arti Hadits |  ترجمة الحديث :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallama  bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung akan keniatannya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kita Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

Catatan :
1. Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.

2. Hadits ini ada sebabnya, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).

Pelajaran yang terdapat dalam Hadits / الفوائد من الحديث :
1. Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).

2. Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.

3. Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah.

4. Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.

5. Semua pebuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.

6. Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.

7. Hadits diatas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.


02}. POSISI NIAT SHALAT DAN PERBEDAAN PARA ULAMA

a. NIAT SHALAT DILAKUKAN PADA WAKTU TAKBIRATUL IHRAM, KARENA PERMULAAN DARI IBADAH SHALAT ADALAH TAKBIR | Menrt Imam Syafi'i. [Majmu' syarhul Muhadzab : 3/ 227]

قال الشافعي : وَالنِّيَّةُ لاَ تَقُومُ مَقَامَ التَّكْبِيرِ وَلاَ تَجْزِيهِ النِّيَّةُ إلاَّ أَنْ تَكُونَ مَعَ التَّكْبِيرِ لاَ تَتَقَدَّمُ التَّكْبِيرَ وَلاَ تَكُونُ بَعْدَهُ.
{انظر كتاب الأم للإمام الشافعي : 1 / باب النية في الصلاة}

“..niat tidak bisa menggantikan takbir, dan niat tiada memadai selain bersamaan dengan Takbir, niat tidak mendahului takbir dan tidak (pula) sesudah Takbir.”
{Lihat Kitab Al-Umm Juz. 1, pada Bab Niat pada Shalat (باب النية في الصلاة )}

وقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ فِى الْمُخْتَصَرِ : وَإِذَا أَحْرَمَ نَوَى صَلاَتَهُ فِي حَالِ التَّكْبِيْرِ لاَبَعْدَهُ وَلاَ قَبْلَهُ.
{انظر كتاب المجموع شرح المهذب للإمام النووي الشافعي : 1/ 277 }

Imam Asy-Syafi’I rahimahulloh berkata di dalam Kitab Al-Mukhtashar:”Dan ketika orang yang sholat itu takbiratul ihrom, maka niatnya harus bersamaan dengan takbir, tidak boleh sebelum atau sesudah takbir.
{Lihat Kitab Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab Karya Imam Nawawi Al Syafi'i : 1/ 277}


b. NIAT DAPAT DILAKUKAN SEBELUM SHALAT | Menurut Madzhab Abu Hanifah dn Imam Ahmad. Dan menurut Imam Abu Yusuf sahabat Imam Abu Hanifah niat dapat dilakukan ketika berangkat menuju shalat (ketika sampai msjd tinggal bertakbiratul ihram).
[Majmu':3/278. Mizanul kubra : 1/ 148]

وَقَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ وَأَحْمَدُ يَجُوْزُ أَنْ تَتَقَدَّمَ النِّيَّةُ عَلَى التَّكْبِيْرِ بِزَمَانٍ يَسِيْرٍ بِحَيْثُ لاَ يَعْرِضُ شَاغِلٌ عَنِ الصَّلاَةِ وَقَالَ يَجِبُ أَنْ تَتَقَدَّمَ النِّيَّةُ عَلَى التَّكْبِيْرِ وَيُكَبِّرَ عَقِبَهَا بِلاَ فَصْلٍ وَلاَ يَجِبُ فِى حَالِ التَّكْبِيْرِ. وَقَالَ أَبُوْ يُوْسُفَ وَغَيْرُهُ مِنْ أَصْحَابِ أَبِى حَنِيْفَةَ إِذَا خَرَجَ مِنْ مَنْزِلِهِ قَاصِدًا صَلاَةَ الظُّهْرِ مَعَ الاِمَامِ فَانْتَهَى إلَيْهِ وَهُوَ فِى الصَّلاَةِ فَدَخَلَ مَعَهُ فِيْهَا وَلَمْ يَحْضُرْهُ أنَّهَا تِلْكَ الصَّلاَةُ أَجْزَأَهُ.
(انظر كتاب المجموع شرح المهذب للإمام النووي : 2/ 277-278)

Imam Asy-Syafi’I rahimahulloh berkata di dalam Kitab Al-Mukhtashar:

Dan ketika orang yang sholat itu takbiratul ihrom, maka niatnya harus bersamaan dengan takbir, tidak boleh sebelum atau sesudah takbir. Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad membolehkan mendahulukan niat dari pada takbir dengan waktu yang sebentar sekiranya tidak ada hal yang memalingkan dari sholat.Dan Imam Ahmad berkata:”Niat wajib didahulukan dari pada takbir.” Kemudian takbir setelah niat tanpa ada pemisahtidak wajib bersamaan dengan takbir.


Imam Abu Yusuf dan sebagian sahabat Imam Abu Hanifah :

Ketika seseorang keluar dari rumahnya dengan tujuan sholat dhuhur bersama imam, kemudian dia sampai sedang imam dalam sholat, kemudian orang tersebut langsung masuk dalam sholat tanpa ada penghadiran niat sholat dalam hatinya, maka sudah mencukupinya.
(Lihat Kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab : II hal. 277-278).


Menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad dapat dilakukan sebelum sholat, dan menurut Imam Abu Yusuf dapat dilakukan ketika berangkat menuju sholat.
(Lihat Kitab Al-Majmu’ Syarhu Al Muhadzab :  III/ 278).

c. BOLEH SEBELUM TAKBIR.
{Madzhab Malik}

d. NIAT WAJIB SEBELUM TAKBIR.
{Madzhab Dzohiriy}


e. BOLEH SAMPAI SAMPAI PADA HAMDALAH, TA'AWUDZ, RUKU', DAN BANGUN DARI RUKU'
{Madzhab Hanafiy}

f. BOLEH MENDAHULUKAN NIAT DENGAN JEDA WAKTU YANG SEBENTAR.
{Madzhab Hanbaliy}

وقال ابن قدامة: قال أصحابنا: يجوز تقديم النية على التكبير بالزمن اليسير، وإن طال الفصل، أو فسخ نيته بذلك، لم يجزئه.
{انظر المعني للإمام ابن قدامة المقدسي الحنبلي : 1/ 279}

Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy mengatakan : Sahabat-sahabat kami mengatakan : Boleh mendahulukan niat daripada takbiratul ihram dengan jeda (senggang) waktu yang sebentar, dan apabila jeda waktunya lama atau rusak keniatannya, maka tidak cukup niatnya.
{Lihat Kitab Al Mughniy Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy : 1 / 279}
 

وضع اليدين بعد تكبيرة الإحرام أو تكبيرة الانتقال في الصلاة عند السنة | MELETAKKAN TANGAN SETELAH TAKBIRATUL IHRAM ATAU TAKBIRATUL INTIQOOL DALAM SHALAT MENURUT SUNNAH

1. MENARUH TANGAN:

a). Menaruh tangan kanan di atas tangan kiri sambil memegang.
(HR. Bukhari)

Dalam riwayat ini menyebutkan : MENARUH. Sebagaimana hadits dari Sahl bin Sa’ad radliyyallaahu 'anhu :

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ :كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُوْنَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ الْيَدَ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِى الصَّلاَةِ.
(رواه البخاري : 188/1)

Dari Sahl bin Sa’ad berkata:”Manusia diperintahkan bahwa seseorang meletakkan tangan kanannya atas lengan kirinya di dalam sholat.
(HR. Al-Bukhari : I/ 188, Daar Wa Mathobi' Ays-Syab, Maktabah 'Ilmi, Makkah)

b). Batas menaruh, yaitu dg meletakkan tangan kanan diatas pergelangan dn lengan tangan kiri.
(HR. Nasa'I)

Dalam riwayat ini menyebutkan : MEMEGANG. Sebagaimana hadits dari ‘Alqomah bin Wail dari ayahnya :

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ قَائِمًافِى الصَّلاَةِ قَبَضَ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِمَالِهِ.
(رواه النسائى : 126/2)

Dari ‘Alqomah bin Wail dari ayahnya berkata:”Saya melihat Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallama ketika berdiri di dalam sholat menggenggam tangan kiri dengan tangan kanan.”
(HR An-Nasaiy : II/ 126, Daar Fikr, Beirut, Th. 1398 H/ 1979 M)


2. BERBAGAI RIWAYAT TENTANG POSISI MENARUH TANGAN:

a). Pada dada.
(HR. Bazzar)

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ ( وفي رواية البزار بلفظ :عِنْدَ صَدْرِهِ).
( أخرجه أبن خزيمة. والبزار. وانظر  فى تحفة الاحواذى شرح سنن الترمذي  : 93/2، مكتبة المدتي)

Dari Wail bin Hajar berkata:”Saya sholat bersama Nabi shalallaahu 'alaihi wasallama,  kemudian beliau meletakkan tangan kanannya atas tangan kirinya di atas dadanya (Dalam riwayat Al Bazzar dengan lafadz : pada dadanya).”
(HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Bazzar. Lihat Syarah Tirmidzi di Tuhfatul Ahwadzi : 2/93, Maktabah Al-Madaniy, cet. Kedua, Th. 1343 H/ 1963 M)

وَقَالَ الْحَافِظُ فِي فَتْحِ الْبَارِي وَلَمْ يَذْكُرْ أَيْ سَهْلُ بْنُ سَعْدٍ مَحَلَّهُمَا مِنَ الْجَسَدِ وَقَدْ رَوَى بن خُزَيْمَةَ مِنْ حَدِيثِ وَائِلٍ أَنَّهُ وَضَعَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ وَالْبَزَّارُ عِنْدَ صَدْرِهِ.
{انظر فتح الباري شرح صحيح البخاري}

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy dalam Fathu Al Bariy Syarhu Shahih Al Bukhariy mengatakan : Dan Sahal bin Sa'id tidak menyebutkan tempat dimana kedua tangannya diletakkan. Dan sungguh Ibnu Huzaimah telah meriwayatkan dari hadits Wail bahwasannya Rasulullah meletakkan kedua tangannya diatas dada beliau (dan dalam riwayat Al Bazzar : Rasulullah meletakkan kedua tangan beliau didada beliau).
{Lihat Kitab Fathu Al Baari Syarhu Shahih Al Bukhariy Karya Ibnu Hajar Al Asqalaniy)     


b). Di atas dada.
(HR. Ibnu Huzaimah)

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Huzaimah dari Wail bin Hujrin radliyyallaahu 'anhu :

وَلإِ بْنِ خُزَيْمَةَ عَنْ وَائِلٍ أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم وَضَعَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ.
(رواه ابن خزيمة . شرح الموطأ : 321/1، للإمام الزرقاني، مكتبة التجارية دار الفكر} 

Dan dari Ibnu Khuzaimah dari Wail sesungguhnya Nabi shalallaahu 'alaihi wasallama meletakkan kedua tangannya di atas dadanya.
(HR Ibnu Khuzaimah, Lihat Syarhul Muwatho' LiI Imam Zarqoniy: 1/321, Al-Maktabah Al-Tijariyyah Al-Kubra, Daar Fikr Th. 1355 H/ 1939 M)

وَقِيْلَ الُمُرَادُ بِقَوْلِهِ (وَانْحَرْ) وَضْعُ الْيَدِ الْيُمْنَى عَلَى الْيَدِ الْيُسْرَى تَحْتَ النَّحْرِ يُرْوَيْ هَذَا عَنْ عَلِيِّ وَلاَ يَصِحُّ, وَعَنِ الشَّعْبِى مِثْلَهُ وَعَنْ أَبِى جَعْفَرَ الْبَاقِرِى.
( تفسير ابن كثير : 556/4)

Dikatakan bahwa maksud lafadz ‘wanhar’ adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri , dibawah tenggorokan.Hal ini diriwayatkan dari Ali radliyyallaahu 'anhu namun riwayat ini tidak benar. Asy-Sya’bi dan Abi Ja’far al-Baqiriy juga meriwayatkan pendapat ini.
( Lihat Tafsir Ibnu Katsir : IV/ 556)


c). Di atas pusar.
(HR. Abu Dawud)

Sebagaimana hadits dari Ibnu Jarir dari ayahnya :

عَنْ ابْنِ جَرِيْرٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: رَأَيْتُ عَلِيًّا رَضِيَ الله عَنْهُ يَمْسِكُ شِمَالَهُ بِيَمِيْنِهِ عَلَى الرُّسْخِ فَوْقَ السُّرَّةِ . قَالَ أَبُوْ دَاوُدَ :وَرُوِىَ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَوْقَ السُّرَّةِ.
(رواه أبو داود : 201/1)

Dari Ibnu Jarir dari ayahnya berkata: ”Saya melihat Sayyidina Ali radliyyallaahu 'anhu memegang pergelangan tangan kiri dengan tangan kanannya di atas pusar.” (Berkata Abu Dawud: ”Diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair di atas pusar.
(HR Abu Dawud I:201)
Hadits ini mauquf atas Sayyidina Ali dan diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair , seorang Tabi’in).


d). Di bawah pusar.
(HR. Abu Dawud)

عَنْ أَبِى جُحَيْفَةَ أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: السُّنَّةُ وَضْعُ الْكَفِّ عَلَى الْكَفِّ فِى الصَّلاَةِ تَحْتَ السُّرَّةِ.
(رواه أبو داود : 201/1)

Dari Abi Juhaifah bahwa Ali ra berkata:”Sunnat hukumnya meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan yang lain di dalam sholat di bawah pusar.”
(HR Abu Dawud. : I / 201
Dalam Kitab Al Majmu' Syarhul Muhadzab LiI Imam Nawawiy: 3/313, Idaroh Ath-Thiba'ah Al-Muniriyyah. Hadits ini Statusnya Dlo'if).

وَأَمَّا مَا احْتَجُّوْابِهِ مِنْ حَدِيْثِ عَلِيِّ فَرَوَاهُ الدَّارُقُطْنِى وَالْبَيْهَقِى وَغَيْرَهُمَا وَاتَّفَقُوْا عَلَى تَضْعِيْفِهِ لأَنَّهُ مِنْ رِوَايَةِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ الْوَاسِطِى وَهُوَ ضَعِيْفٌ بِاتِّفَاقِ أَئِمَّةِ الْجَرَحِ وَالتَّعْدِيْلِ.(المجموع شرح المهذب  : 313/3)

Dan adapun ulama yang mengambil hujjah dari hadits Ali radliyyallahu 'anhu ini sebagaimana
diriwayatkan dari Ad-Daruquthni dan Baihaqiy dan yang lainnya,mereka bersepakat mendhaifkannnya, karena hadits itu diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Ishaq al-Wustha, dia adalah dhaif menurut kesepakatan para ulama yang meneliti sisi kecelaan dan keadilan sanad.
(Al-Majmu’ III:313).


e). Melepaskan tangan lurus kebawah.
(HR. Abu Dawud)

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍ بْنِ عَطَاءٍ قَالَ:سَمِعْتُ أَبَا حُمَيْدِ السَّاعِدِىِّ فِى عَشْرَةٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم مِنْهُمْ أَبُوْ قَتَادَةَ قَالَ أَبُوْ حُمَيْدِ : أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِصَلاَةِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم , قَالُوْا :فَلِمَ ؟ فَوَ اللهِ مَا كُنْتَ بِأَكْثَرِنَا لَهُ تَبَعًا وَلاَ أَقْدَمَنَا لَهُ صُحْبَةً قَالَ بَلَى , قَالُوْا فَأَعْرِضْ ,قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِى بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ يُكَبِّرُ حَتَّى يُقِرَّ كُلَّّ عَظْمٍ فِى مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلاً.
(رواه أبو داود : 194/1)

Dari Muhammad bin Amr bin Atha’ berkata:Aku dengar Humaid as-Sa’idiy bersama dengan sepuluh sahabat Rasulullah, di antara mereka adalah Abu Qotadah. Abu Humaid berkata:”Aku paling mengetahui dari pada kalian tentang sholatnya Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallama.”Mereka berkata:”Mengapa demikian?Demi Allah,kamu bukanlah orang yang paling sering ikut Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallama dan bukan yang pertama bersama beliau shalallaahu 'alaihi wasallama.” Abu Humaid menjawab:”Ya.” Mereka berkata:”Maka jelaskanlah!” Berkata Abu Humaid:”Adalah Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallama ketika berdiri hendak sholat, beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kedua tangannya sejajar dengan pundaknya, kemudian beliau shalallaahu 'alaihi wasallama bertakbir sehingga beliau menempatkan setiap tulang pada tempatnya secara seimbang.
( HR Abu Dawud : I / 94. Lihat Syarhul Muwatho': 1/321)

وَرَوَى ابْنُ قَاسِمٍ عَنْ مَالِكٍ اِلإِ رْسَالَ وَصَارَ إِلَيْهِ أَكْثَرُ أَصْحَابِهِ وَرَوَى أَيْضًا عَنْهُ إِبَاحَتَهُ فِى النَّافِلَةِ لِطُوْلِ الْقِيَامِ وَكَرِهَهُ فِى الْفَرِيْضَةِ. 
(انظر كتاب شرح الموطأ : 321/1)

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Qasim dari Malik tentang melepaskan tangan (Irsaal) sehingga Irssal ini menjadi pilihan banyak sahabatnya. Ibnu Qosim juga meriwayatkan darinya tentang diperbolehkannya Irsaal di dalam sholat sunnat karena lamanya berdiri dan Beliau (Imam Malik) tidak menyukainya ( Irsaal ) dalam melaksanakan sholat fardlu.”
(Lihat Syarah Al-Muwatha’ I:321).

مشروعيّة وضع اليد اليمنى على اليسرى على الصدر حال القيام في الصلاة وبه قال الجمهور وعند مالك مشروعيّة الإرسال وهو مشهور مذهبه عن ابن القاسم.
{أنظر إبانة الأحكام شرح بلوغ المرام للإمام الشريف السيد علوي المالكي الحسني و الشيخ حسن سليمان النوري : 1 / 298. دار الفكر }

Disyari'atkannya (disunnahkannya) menaruh tangan kanan diatas tangan kiri ditaruh didada ketika berdiri dalam shalat, dan pendapat ini ulama' jumhur (kebanyakan ulama) telah mengatakannya. Dan menurut Imam Malik disyari'atkannya (disunnahkannya) irsal (melepas tangan atau tidak bersedekap), dan ini merupakan pendapat yang masyhur (terkenal) Madzhab Malikiy dari Imam Ibnu Al Qasim Al Malikiy.
{Lihat Kitab Ibanatu Al Ahkam Syarhu Bulughu Al Maram Karya Imam Syarif Alwi bin Abbas Al Malikiy Al Hasaniy dan Syaikh Hasan Sulaiman Al Nuriy : 1/ 298. Cet. Pertama. Daar Al Fikr} 


3. HAL YANG DILARANG:

Dilarang berkacak pinggang (metenteng, malang kerik, metenteng :   jawa).
(HR. Tirmidzi no. 349. Dan Nasa'i: 2/127)

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا.
{رواه الترمذي رقم الحديث : 349. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ}

Telah menceritakan kepadaku Abu Kuraibin. Telah menceritakan kepadaku Abu Usamah, dari Hisyaam bin Hassana, dari Muhammad bin Siiriina,  dari Abu Hurairah radliyyallaahu 'anhu bahwa sesungguhnya Nabi shalallaahu 'alaihi wasallama melarang seseorang sholat dengan meletakkan tangannya pada pinggang (bertolak pinggang).
{HR. Tirmidzi no. 349, beliau mengatakan : Hadits Abi Hurairah Hadits Hasan Shahih}

وَقَدْ كَرِهَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ الِاخْتِصَارَ فِي الصَّلَاةِ وَكَرِهَ بَعْضُهُمْ أَنْ يَمْشِيَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا وَالِاخْتِصَارُ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ عَلَى خَاصِرَتِهِ فِي الصَّلَاةِ أَوْ يَضَعَ يَدَيْهِ جَمِيعًا عَلَى خَاصِرَتَيْهِ وَيُرْوَى أَنَّ إِبْلِيسَ إِذَا مَشَى مَشَى مُخْتَصِرًا

Imam Tirmidzi mengatakan : Sungguh sebagian ahli ilmu telah melarang bertolak pinggang didalam shalat. Dan sebagian yang lain melarang apabila seseorang berjalan dengan berkacak pinggang. Dan yang dimasud dengan (الِاخْتِصَارُ | bertolak pinggang) yaitu apabila seseorang meletakkan salah satu tangannya disebelah pinggangnya dalam shalat, atau meletakkan semua  tangannya dikedua belah pinggangnya. Dan diriwayatkan : Sesungguhnya ketika Iblis berjalan-jalan dia bertolak pinggang.  
{Lihat Kitab Sunan Tirmidzi mengomentari hadits no. 349}

وروي أيضا عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا.
(رواه النسائى : 127/1)

Diriwayatkan lagi dari Abu Hurairah radliyyallaahu 'anhu bahwa Nabi shalallaahu 'alaihi wasallama melarang seseorang sholat dengan meletakkan tangannya pada pinggang (bertolak pinggang).”
(HR. An-Nasaiy I:127)


Bersedekap boleh menurut Jumhuru Ulama', tidak bersedekap juga boleh menurut sebagian besar Pengikut Madzhab Malikiy...

HARUS MENGERTI BACAAN-BACAAN DALAM SHALAT


Sholat mrpkn sarana komunikasi seorg hamba kpd Allah. Mampukah berkomunikasi dg baik kpd Allah tnp mengerti makna bacaan yg diucapkan? Bukankah mengerti dn memahami bacaan sholat sangat mempengaruhi kekhusyu'an sholat se2org. Sebuah syair mengatakan:
فَكَمْ مِنْ مُصَلَّ مَالَهُ مِنْ صَلاَتِهِ

Fakam min mushallin maa lahu min sholaatihi | Bnyk sekali org yg sholat namun tak ada baginya dr sholatnya.

سِوَى رُؤْيَةِ الْمِحْرَابِ وَالْخَفْضِ والرَفْعِ

Siwa ru'yatil mihraabi wal khofdlzi war rof'i | Kecuali hny meliht mihrab, turun dn bangkit.

تَرَاهُ عَلَى سُطْحِ الحَصِيْرَةِ قَائِمًا

Taraahu 'alaa suthhil hashiirati qaaiman | Engkau melht dia berada diatas tikar dlm keadaan berdiri (sholat).

وَهِمَّتُهُ فِى السُّوْقِ فِى الاَخْذِ وَالدَّفْع

Wahimmatuhu fis suuqi fil akhdzi wad daf'i | Namun hatinya tertuju pd perniagaan dipasar.


Dlm Surat An-Nisaa' ayat: 43 Allah berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ﴾
[سورة النساء : 4/ 43]

Wahai org2 yg beriman, janganlah kalian mendekat (mengerjakan) sholat sedang kalian dlm keadaan mabuk, sehingga kalian mengetahui (menyadari) apa2 yg kalian katakan ... Al-Ayah.
[QS. An-Nisaa 4/43]

Ayat diatas menunjukkan larangan mengerjakan shalat dlm keadaan mabuk. Udzur mabuk ini dikarenakan ketidaktahuan (ketidaksadaran) akan apa2 yg diucapkan.

[Lihat Kitab Rawai'ul Bayan li Syaikh Muhammad Aliy Ash-Shobuniy: 1/482]

أَخْبَرَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ النَّوْمَ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَنَمْ حَتَّى يَذْهَبَ نَوْمُهُ فَإِنَّهُ عَسَى يُرِيدُ أَنْ يَسْتَغْفِرَ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ.
{رواه مالك في الموطأ رقم : 182، 258. واحمد في مسنده : 23732، 25091، 25127، 25642.والبخاري : 207. ومسلم : 1315. وأبو داود : 1117. والترمذي : 323. والنسائي في الكبرى : 151، وفي الصغرى : 162. وابن ماجه : 1360. وابن حبان : 26498، 2649. والبيعقي في الكبرى : 4345. والطبرني في الأوسط : 8359. والبغوي في شرح السنن : 929. وابن الخزيمة في صحيحه : 871. وعبد الرزاق في المصنّف : 4090. والدارمي واللفظ له رقم الحديث : 1348}

Telah mengabarkan kepadaku Al Hajjaj bin Minhalin, telah mengabarkan kepadaku Hammad bin Salamata, dari Hisyam bin 'Urwah, , dari bapaknya, dari Sayyidatna Aisyah, Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam beliau telah bersabda :

Apabila mengantuk salah seorang diantara kalian padahal dia (sedang atau akan) sholat, maka hendaklah dia tidur smp hilang kantuknya, krn sesungghnya salah satu diantra kalian apabila mengerjakan sholat sedang dia dalam keadaan mengantuk, dia tidak tahu barangkali dia (kelihatannya) memohon ampun kepada Allah, padahal (krn kantuknya, ketidaksadarannya, yang sebenarnya dengan ucapan-ucapan dalam sholatnya) dia malah sedang memaki dirinya sendiri.
[HR. Malik. Ahmad. Bukhari. Muslim. Abu Dawud. Tirmidzi. Nasa'i. Ibnu majah. Ibnu Hibban. Baihaqiy. Ibnu Huzaimah. Baghowiy. Thobaroniy. Thohawiy. Abdur rozaq. Dan teks hadits milik Darimi No.1348]

Hadits ini menunjukkan larangan mengerjakan shalat dlm keadaan mengantuk. Udzur disini, juga dikarenakan tdk mengerti (tdk menyadari) apa2 yg dia ucapkn dlm sholatnya. Dg kata lain, org yg sholat hrs mengerti arti dn maksud bacaan2 dlm sholatnya. Tdk mengerti dn tdk memahami arti bacaan2 dlm sholatnya mungkn sama artinya dg org yg mengerjakan sholat dlm keadaan mabuk atau mengantuk.

MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHOF SHALAT | تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ

{1}.MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHOF SHALAT TERMASUK DARI KESEMPURNAAN SHALAT.
[HR.Ibnu Majah]
__________________________

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ » .
{وقاله مسلمٌ في صحيحه في كتاب الصلاة، باب 28، واللفظ له. وابن ماجه رقم : 933.   وانظر كتاب تحفة : 1243 - 433/124 }

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ ، عَنْ شُعْبَةَ (ح) وحَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ ، حَدَّثَنَا أَبِي ، وَبِشْرُ بْنُ عُمَرَ ، قَالاَ : حَدَّثَنَا شُعْبَةَ ، عَنْ قَتَادَةَ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : سَوُّوا صُفُوفَكُمْ ، فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ.
{رواه مسلم رقم الحديث : 433. وابن ماجة رقم الحديث : 993}

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Mutsann dan Ibnu Basyarin keduanya berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far, telah menceritakan kepadaku Al Syu'bah, Aku mendengar dari Qatadah, beliau menceritakan dari Anas bin Malik radliyyallaahu 'anhu yang mengatakan : Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wasallama telah bersabda :  

Luruskanlah shaf karena lurusnya shaf merupakan bagian dari kesempurnaannya shalat.”
(HR. Bukhari no. 723. Teks Hadits Muslim no. 433. Dan Ibnu Majah no. 933).

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ « سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ » .
{رواه البخاري رقم الحديث : 723، واللفظ له، ومسلم بمهتاه رقم الحديث : 433}

Telah menceritakan kepadaku Abu Al Walid beliau berkata : Telah menceritakan kepadaku Al Syu'bah dari Qatadah dari shahabat Anas bin Malik -radhiallahu Ta’ala ‘anhu dari Nabi shalallaahu 'alaihi wasallama beliau telah bersabda :

Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya. meluruskan shaf termasuk menegakkan sholat.”
{HR. Al-Bukhary no. 723. Dan Teks Hadits Imam Muslim dalam Shohihnya no. 433}


Dari Abu Hurairah -radhiallahu Ta’ala ‘anhu :

أَخْبَرَنَا ابْنُ قُتَيْبَةَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي السَّرِيِّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " أَقِيمُوا الصَّفَّ فِي الصَّلاةِ ، فَإِنَّ إِقَامَةَ الصَّفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلاةِ " .
{رواه البخاري رقم الحديث : 722. ومسلم رقم : 435. وأحمد في مسنده رقم : 261،  10083.  ومسلم : رقم : 275، 663. وإسحاق بن راهوية في مسنده : 337. ومسلم في صحيحه  رقم : 275، 663. وأبو داود السجستاني : 582. وأبو حاتم بن حبان في صحيحه واللفظ له رقم : 360،  2216، 2218. وسليمان بن أحمد الطبراني في المعجم الأوسط  رقم : 2303،  4596. والطبراني في مسند الشاميين : 430. وأبو نعيم الأصبهاني في المسند المستخرج على صحيح مسلم رقم : 357،  430،  839. وفي دلائل النبوة لأبي نعيم : 211. وعبد الرزاق الصنعاني في مصنف عبد الرزاق
  : 2340. والبيهقي في السنن الصغير رقم : 246. وفي الكبرى رقم :  4760، 4788}.

Telah menceritakan kepadaku Ibnu Qutaibah, dia berkata : Telah menceritakan kepadaku Ibnu Abi Al Sarriy, dia berkata : Telah menceritakan kepadaku Abdur Razzaq, dia berkata : Telah menceritakan kepadaku Ma'mar, dari Hammam bin Munabbih, dari Abi Huroirota radliyyallaahu 'anhu, beliau berkata : Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallama telah bersabda :

Dan tegakkanlah shaf di dalam shalat, karena sesungguhnya menegakkan shaf termasuk diantara baiknya sholat”.
{HR. Ahmad. Al-Bukhary no. 722. Muslim no. 435. Teks Hadits Ibnu Hibban no. 360, 2216, 2218. Baihaqiy.  Thabaraniy. Abdur Razzaq. Ishaq bin Rahuyah. Dan Abu Nu'aim}


KOSA KATA HADITS :
01. Sabda beliau [luruskanlah shaf-shaf kalian] yakni, lurus dan seimbanglah dalam bershaf sehingga kalian seakan-akan merupakan garis yang lurus, jangan salah seorang di antara kalian agak ke depan atau agak ke belakang dari yang lainnya, serta merapat dan tutuplah celah-celah kosong yang berada di tengah shaf.

02. Sabda beliau [termasuk kesempurnaan sholat yakni penyempurna sholat]. Sesuatu dikatakan sempurna jika telah sempurna seluruh bagian-bagiannya, sehingga satu bulan dikatakan sempurna jika harinya sudah genap 30 hari lamanya.

03. Sabda beliau [sesungguhnya menegakkan shaf], yakni meluruskan dan menyeimbangkannya ketika hendak mendirikan shalat berjama’ah.

04. Sabda beliau [termasuk diantara baiknya sholat]. Ibnu Baththol menjelaskan bahwa “baiknya sesuatu” adalah kadar tambahan setelah sempurnanya sesuatu tersebut.
[Lihat: Kitab Fathul Bari Syarhu Shahihu Al Bukhariy :  (2/209). Kitab ‘Aunul Ma’bud Syarhu Sunan Abi Dawud : (2/259). Dan Faidhul Qodir : (2/537) dan (4/115-116)]


PENGERTIANNYA :
Bila shof tdk lurus atau rapat maka shalat belum sempurna.


{2}. DAMPAK NEGATIF DARI KETELEDORAN MENGATUR SHOF SHALAT :
__________________________

a). Adanya perselisihan faham.
[HR. Abu Dawud]

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رضي الله عنه ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ الله يَتَخَلَّلُ الصَّفَّ مِنْ نَاحِيَةٍ ، إِلَى نَاحِيَةٍ ، يَمْسَحُ صُدُورَنَا وَمَنَاكِبَنَا ، وَيَقُولُ: « لَا تَخْتَلِفُوا؛ فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ، وَكَانَ يَقُوْلُ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الصُّفُوْفِ الْأَوَلِ  .
{أخرجه : أبو داود رقم: 664 بإسناد حسن، والنسائي . وصححه الشيخ مقبل الوادعي : ، في كتابه " الجامع الصحيح مما ليس في الصحيحين : (2/90،95)}.

Dari Al Baraa' bin 'Aziib radliyyallaahu 'anhu, beliau berkata :

“Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallama  memasuki sela-sela shaf sambil memegang dada dan bahu kami, lalu beliau bersabda: “Janganlah kalian berbeda dalam shaf (tidak lurus), sehingga hati kalian turut berbeda”. Beliau juga bersabda : “Sesungguhnya Allah menganugerahkan rahmatNya untuk orang-orang yang berdiri dishaf pertama, begitu juga para malaikat memohonkan rahmat untuk mereka.
(HR. Abu Dawud, Sanadnya Hasan. No. 1097 dari Kitab Riyadush Shalihiin. Nasa'I. Dan dishahihkan oleh Syaikh Muqbil Al Wadi'i dalam Kitabnya Al Shahih Laisa Fii Shahihaini : 2/ 90-95)

Pentingnya meluruskan dan merapatkan shaf serta bahaya memutuskannya :

01. Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu 'anhu :

عنْ أَبِن مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلاةِ وَيَقُولُ : اسْتَوُوا , وَلا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ.
{رواه مسلم رقم الحديث : 423}.

“Luruslah kalian dan jangan kalian berselisih. Lantaran itu, hati-hati kalian akan berselisih (baik dalam barisan shafnya dan berselisih dalam hatinya atau bermusuhan)”.

Ancaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang yang berselisih  dalam mengatur shaf, yaitu barisannya tidak lurus satunya maju sedikit dan satunya lagi agak ke belakang, dan dampak yang lain, hati mereka bisa  berakibat saling bermusuhan, secara bathin ataupun secara fisik. Inilah yang dimaksud berselisih dalam hadits ini, seperti banyak realita atau kejadian saat ini, sesama islam saling bermusuhan dan saling serang.

02. Dari Sahabat Al Nu'man bin Basyiir radliyyallaahu 'anhu :

وعن النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ رضي الله عنهما قال : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَوِّي صُفُوفَنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاحَ ، حَتَّى رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ ، فَرَأَى رَجُلا بَادِيًا صَدْرُهُ مِنْ الصَّفِّ ، فَقَالَ : ( عِبَادَ اللَّهِ ، لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ ) .
{رواه البخاري رقم الحديث :   717. ومسلم رقم : 436 }.

“Kalian akan benar-benar meluruskan shaf, atau Allah benar-benar akan membuat hati-hati kalian berselisih”.

Seseorang tidak akan mampu meluruskan shafnya jika ia tidak merapatkan barisannya. Karenanya Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan hal itu dalam sebuah hadits dari:

03.Dari Sahabat  Anas bin Malik -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- bercerita,

وَ عَنْ  أَنَّسٍ رضي اللّه عنه قَالَ:  اُقِيْمَتِ الصَّلَاةُ فَأَقْبَلَ عَلَيْنَ رَسُوْلُ اللهِ l: بِوَاجْهِحِ فَقَالَ: أَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ وَتَرَاصُوْا، فَإِنَّ أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِى.
(رواه البخرى)

“Sholat telah didirikan (telah dikumandangkan iqomah), lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- menghadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda :

”Tegakkanlah shaf-shaf kalian dan rapatkan karena sesungguhnya aku bisa melihat kalian dari  balik punggungku”.
{HR. Bukhariy}

Meluruskan shaf dan merapatkannya sangat diperhatikan oleh Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dan para sahabat beliau, sehingga tak heran jika beliau mengingatkan dan memerintahkannya dalam hadits-haditsnya. Bahkan meluruskan shaf merupakan salah satu jalan menyempurnakan dan menegakkan sholat, sedangkan menyempurnakan dan menegakkan sholat merupakan kewajiban. Seorang tak boleh mengurangi kesempurnaanya dengan merenggangkan shaf.

Hal ini dijelaskn oleh Imam Nawawi dlm Kitab Al-Hawi: 1/52 karangan Imam Suyuthi, Dar Al-Baz, Makkah, cet. 2, th. 1395 H/1975 M.

Hukum Merapatkan dan Meluruskan Shaf Dalam Shalat

Al-Imam Ibnu Hazm Al-Andalusiy Al Dzohiriy rahimahullah berkata :
________

تسوية الصف إذا كان من إقامة الصلاة فهو فرض ؛ لأن إقامة الصلاة فرض ؛ وما كان من الفرض فهو فرض.
{انظر كتاب المحلّى للإمام ابن حزم الاندلسي الظاهري مذهبا : 4/ 55} 

“Meluruskan shaf, jika itu merupakan bagian dari tegaknya shalat maka ia wajib, karena tegaknya shalat adalah wajib. Dan sesuatu yang merupakan bagian dari kewajiban maka ia (hukumnya) juga wajib.”
[Lihat Kitab Al-Muhallaa : 4/55, Karya Ibnu Hazm Al Andalusiy Al Dzohiriy]

Al-Imam An-Nawawiy Al Syafi'i rahimahullah berkata :
________

قال النووي في "شرح مسلم" :  قَوْله: ( يُسَوِّي صُفُوفنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاح ) الْقِدَاح بِكَسْرِ الْقَاف هِيَ خَشَب السِّهَام حِين تُنْحَت وَتُبْرَى، وَاحِدهَا ( قِدْح ) بِكَسْرِ الْقَاف، مَعْنَاهُ يُبَالِغ فِي تَسْوِيَتهَا حَتَّى تَصِير كَأَنَّمَا يَقُوم بِهَا السِّهَام لِشِدَّةِ اِسْتِوَائِهَا وَاعْتِدَالهَا.
{انظر شرح صحيح مسلم للإمام النواوي، رقم الحديث : 499}

Sabdanya, “Meluruskan shaf kami hingga seolah-olah bagaikan meluruskan Al-Qidaah,” Al-Qidaah dengan huruf Qaf di-kasrah adalah panah dari kayu yang diserut dan ditajamkan. Maknanya adalah beliau betul-betul menaruh perhatian pada kelurusannya hingga seolah-olah beliau sedang meluruskan sebuah panah kayu dengan sungguh-sungguh.”
[Lihat Kitab Syarhu  Shahiih Muslim Imam Nawawi no. 499]

Al-Haafizh Ibnu Muflih Al-Hanbaliy rahimahullah berkata :
_______

حكم تسوية صفوف المأمومين حتى تكون صفوفهم كصفوف الملائكة عند ربها، يتراصون في الصف ، بحيث تتحاذى المناكب ،والأكعب، والأعناق ، والاعتبار بمؤخرة القدم دون الأصابع
{انظر كتاب النكة والفوائد : 1/ 115}

Hukum ma’mum meluruskan shaf-shaf hingga seperti shaf-shaf para malaikat di sisi Tuhannya, (bahwa wajib) ma’mum meluruskan dalam shaf dimana disejajarkannya pundak-pundak, tumit-tumit, leher-leher dan memperhatikan ujung belakang telapak kaki tanpa (melihat) jari.”
[Lihat Kitab An-Nukat wal Fawaa'id. : 1/115]

Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalaaniy Al Syafi'i rahimahullah berkata :
_________

ويَحتَمِلُ أَن يَكُونَ البُخارِيّ أَخَذَ الوُجُوب مِن صِيغَةِ الأَمرِ فِي قوله: (سَوُّوا صُفُوفكُم ) ومِن عُمُومِ قوله: (صَلُّوا كَما رَأَيتُمُونِي أُصَلِّي ) ومِن وُرُودِ الوعِيدِ عَلَى تَركِهِ، فَرَجَحَ عِندَهُ بِهَذِهِ القَرائِنِ أَنَّ إِنكارَ أَنَس إِنَّما وقَعَ عَلَى تَرك الواجِب وإِن كانَ الإِنكارُ قَد يَقَعُ عَلَى تَركِ السُّنَنِ، ومَعَ القَولِ بِأَنَّ التَّسوِيَةَ واجِبَة فَصَلاة مَن خالَفَ ولَم يُسَوِّ صَحِيحَة لاختِلافِ الجِهَتَينِ، ويُؤَيِّدُ ذَلِكَ أَنَّ أَنَسًا مَعَ إِنكارِهِ عَلَيهِم لَم يَأمُرهُم بِإِعادَةِ الصَّلاةِ
{انظر كتاب فتح الباري شرح صحيح البخاري رقم الحديث : 1181}

Dapat dimengerti bahwasanya Al-Bukhaariy memahami bahwa hukumnya adalah wajib dilihat dari sighat perintah pada sabdanya, “Luruskan shaf-shaf kalian!” Dari keumuman sabdanya, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat,” Dan dari penyebutan adanya peringatan bagi yang meninggalkannya. Maka yang rajih menurut pandangannya dari qarinah-qarinah ini bahwasanya pengingkaran Anas bin Maalik sebenarnya adalah pengingkaran kepada ditinggalkannya kewajiban walaupun pengingkaran tersebut bisa saja terjadi terhadap ditinggalkannya sunnah. Disamping perintah wajibnya meluruskan shaf, maka shalatnya orang yang menyelisihi hal tersebut dan tidak bersungguh-sungguh meluruskan shafnya adalah tetap sah, dengan perbedaan dari keduanya. Hal ini didukung oleh pengingkaran Anas yang walaupun beliau mengingkarinya namun beliau tidak memerintahkan mereka mengulangi shalatnya.”
[Lihat Kitab Fathul Baari Syarhu Shahih Al Bukhariy Karya Imam Ibnu Hajar Al Asqalaniy Al Syfi'i no. 1181]

b). Setan memasuki sela-sela shof untuk mengganggu.
[HR. Abu Dawud]

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبَانُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ

Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibraahiim, telah menceritakan kepada kami Abaan, dari Qataadah, dari Anas bin Maalik -radhiyallahu ‘anhu-, dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Rapatkan shaf-shaf kalian, dekatkanlah jarak antara keduanya dan sejajarkanlah antara leher-leher. Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, sesungguhnya aku melihat setan masuk ke dalam celah celah shaf itu, tak ubahnya bagai anak kambing kecil.”
[Sunan Abu Daawud no. 667; Sunan An-Nasaa'iy no. 815; Musnad Ahmad no. 13324] – sanadnya shahih].


{3}. CARA MENGATUR SHAF :
__________________________

a). Menempelkan pundak dg pundak teman disebelahnya.

b). Menempelkan lutut dg lutut teman disebelahnya.

c. Menempelkn mata kaki dn sisi telapak kaki, dengan mata kaki dn sisi telapak kaki teman disebelahnya.
[Lihat Shahih Bukhari dan Sunan Abu Dawud]

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ الْجُدَلِيِّ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ
أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثَلَاثًا وَاللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ قَالَ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يَلْزَقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Zakariyyaa bin Abi Zaa’idah, dari Abul Qaasim Al-Judaliy, dia berkata, aku telah mendengar An-Nu’maan bin Basyiir -radhiyallahu ‘anhu- berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa menghadap kepada jama’ah (sebelum memulai shalat), lalu bersabda, “Rapihkan shaf-shaf kalian! -beliau mengucapkannya tiga kali- Demi Allah, hendaklah kalian benar-benar merapihkan shaf-shaf kalian, atau sungguh Allah akan membuat hati kalian saling berselisih.” An-Nu’maan berkata, “Maka aku melihat seseorang melekatkan (merapatkan) pundaknya dengan pundak temannya (orang di sampingnya), demikian pula antara lutut dan mata kakinya dengan lutut dan mata kaki temannya.”
[Sunan Abu Daawud no. 662; Musnad Ahmad no. 17962] – sanadnya hasan].

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يُسَوِّي صُفُوفَنَا إذَا قُمْنَا إلَى الصَّلَاةِ، فَإِذَا اسْتَوَيْنَا كَبَّرَ» .
{رَوَاهُ أَبُو دَاوُد}.

Dari Al Nu'man bin Basyiirin beliau mengatakan : Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallama mengatur shof kami, ketika kami mendirikan shalat, maka ketika shof kami sudah lurus beliau bertakbir (memulai shalat).
{HR. Abu Dawud}


{4}. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB IMAM (ATAU ORANG YANG DITUNJUK IMAM) UNTUK  MELURUSKAN SHAF SHALAT DENGAN HATI-HATI DAN BENAR
[HR. Ahmad Muslim Nasa'i dan Ibnu Majah]
__________________________


Dan sungguh di beberapa tempat, kami menjumpai beberapa saudara-saudara kami Imam shalatnya sama sekali tidak mengatur shaf ma'mumnya akan tetapi ngacir langsung takbiratul ihram, dan para ma'mumnya kalau mau dirapetin malah menjauh ketika dirapatkan kakinya. Inilah keprihatinan kita akan kurangnya sosialisasi tentang pelaksaan pelurusan shaf shalat dan terutama penanaman jiwa kepemimpinan Imam Shalat yang bijaksana, yang mengerti akan ilmunya shalat dan karakteristik ma'mumnya.

 Telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengenai betapa pentingnya hal ini.

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبَانُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ.
{رواه احمد رقم الحديث : 13324. وأبو داود رقم : 667. والنسائي رقم : 815} 

Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibraahiim, telah menceritakan kepada kami Abaan, dari Qataadah, dari Anas bin Maalik -radhiyallahu ‘anhu-, dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Rapatkan shaf-shaf kalian, dekatkanlah jarak antara keduanya dan sejajarkanlah antara leher-leher. Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, sesungguhnya aku melihat setan masuk ke dalam celah celah shaf itu, tak ubahnya bagai anak kambing kecil.”
[Sunan Abu Daawud no. 667; Sunan An-Nasaa'iy no. 815; Musnad Ahmad no. 13324] – sanadnya shahih].

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ النُّفَيْلِيُّ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ قَالَ سَأَلْتُ سُلَيْمَانَ الْأَعْمَشَ عَنْ حَدِيثِ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ فِي الصُّفُوفِ الْمُقَدَّمَةِ فَحَدَّثَنَا عَنْ الْمُسَيَّبِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ تَمِيمِ بْنِ طَرَفَةَ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَلَّ وَعَزَّ قُلْنَا وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ قَالَ يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْمُقَدَّمَةَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ.
{رواه احمد رقم الحديث : 20518.  وأبو داود رقم : 661. والنسائي رقم :  816. وابن ماجة رقم : 992}

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Muhammad An-Nufailiy, telah menceritakan kepada kami Zuhair, dia berkata, aku pernah bertanya kepada Sulaiman Al-A’masy tentang hadits Jaabir bin Samurah mengenai shaf terdepan, maka dia menceritakan kepada kami dari Al-Musayyab bin Raafi’, dari Tamiim bin Tharafah, dari Jaabir bin Samurah -radhiyallahu ‘anhu-, dia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidakkah kalian ingin berbaris sebagaimana para malaikat berbaris di hadapan Rabb mereka Azza wa Jalla?” Kami bertanya, “Bagaimana para malaikat berbaris di hadapan Rabb mereka?” Beliau bersabda, “Mereka menyempurnakan shaf shaf yang terdepan, dan mereka saling merapatkan shaf.”
[Sunan Abu Daawud no. 661; Sunan An-Nasaa'iy no. 816; Sunan Ibnu Maajah no. 992; Musnad Ahmad no. 20518] – sanadnya shahih].

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلَاةِ وَيَقُولُ اسْتَوُوا وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ.
{رواه احمد في مسنده رقم الحديث : 16653. ومسلم رقم :  434. وألنسائي رقم :  807. وابن ماجة رقم : 9676}.  
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Idriis dan Abu Mu’aawiyah serta Wakii’, dari Al-A’masy, dari ‘Umaarah bin ‘Umair at-Taimiy, dari Abu Ma’mar, dari Abu Mas’uud -radhiyallahu ‘anhu-, dia berkata, dahulu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengusap pundak-pundak kami ketika (akan memulai) shalat, seraya bersabda, “Luruskanlah, dan jangan berselisih sehingga hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang tepat di belakangku orang yang dewasa yang memiliki kecerdasan dan orang yang sudah berakal di antara kalian, kemudian orang yang sesudah mereka kemudian orang yang sesudah mereka.”
[Shahiih Muslim no. 434; Sunan An-Nasaa'iy no. 807; Sunan Ibnu Maajah no. 9676; Musnad Ahmad no. 16653]

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ أَسَدٍ قَالَ أَخْبَرَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ عُبَيْدٍ الطَّائِيُّ عَنْ بُشَيْرِ بْنِ يَسَارٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّهُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَقِيلَ لَهُ مَا أَنْكَرْتَ مِنَّا مُنْذُ يَوْمِ عَهِدْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَنْكَرْتُ شَيْئًا إِلَّا أَنَّكُمْ لَا تُقِيمُونَ الصُّفُوفَ.
{رواه احمد رقم الحديث : 11699. والبخاري رقم : 724}.

Telah menceritakan kepada kami Mu’aadz bin Asad, dia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Al-Fadhl bin Muusaa, dia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Sa’iid bin ‘Ubaid Ath-Thaa’iy, dari Busyair bin Yasaar Al-Anshaariy, dari Anas bin Maalik -radhiyallahu ‘anhu- bahwa dia datang ke Madinah, lalu dikatakan kepadanya, “Apakah ada sesuatu yang kau ingkari dari perbuatan kami sejak kau hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Anas bin Maalik menjawab, “Tidak ada sesuatu yang aku ingkari dari kalian kecuali kalian tidak meluruskan shaf dalam shalat!”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 724; Musnad Ahmad no. 11699].

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ “.
{رواه ألبخاري رقم الحديث : 723. ومسلم رقم : 436}.

Telah menceritakan kepada kami Abul Waliid, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qataadah, dari Anas, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Luruskan shaf-shaf kalian karena kelurusan shaf-shaf merupakan bagian dari tegaknya shalat.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 723; Shahiih Muslim no. 436, dalam lafazh Muslim, "...merupakan bagian dari sempurnanya shalat."]


{5}. IMAM SHALAT MENANGGUNG DOSA JAMA'AHNYA JIKA DIA LALAI ATAU TIDAK MEMENUHI SYARAT MENJADI IMAM
__________________________

 أَخبرنا عَبد الحَقِّ بن عَبدِ الخالِقِ، قال: أَخبرنا عَبد الرَّحمَن بن حَمَدَ بنِ يُوسُفَ، قال: أَخبرنا أبو بَكرُ ابن بِشرانَ، قال: حَدَّثنا الدارقُطني، قال: حَدَّثنا أَبُو حامِدٍ مُحَمد بن هارُونَ الحَضرَمِيُّ، قال: حَدَّثنا عَلِيُّ بن مُسلِمٍ، قال: حَدَّثنا ابن أَبِي فديكٍ، قال: حَدَّثنا عَبد الله بن مُحَمد بنِ يَحيَى بنِ عُروَةَ، عَن هِشامِ بنِ عُروَةَ، عَن أَبِي صالِحٍ السَّمانِ، عَن أَبِي هُرَيرَةَ، أَنّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قال: «سَيَلِيكُم بَعدِي وُلاةٌ فَيَلِيكُمُ البَرُّ بِبِرِّهِ والفاجِرُ بِفُجُورِهِ، فاسمَعُوا لَهُم وأَطِيعُوا فِيما وافَقَ الحَقَّ، وصَلُّوا وراءَهُم فَإِن أَحسَنُوا فَلَكُم ولَهُم، وإِن أَساؤُوا فَلَكُم وعَلَيهِم».
{رواه الدارقطني}

Telah menceritakan kepadaku Abdul Haq bin Abdul Khaliq dia berkata : Telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman bin Hamad bin Yusuf dia berkata : Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Bisyraaana dia berkata : Telah menceritakan kepadaku Al Daaruquthniy dia mengatakan : Telah menceritakan kepadaku Hamid Muhammad bin Harun Al Hadramiy dia berkata : Telah menceritakan kepadaku Aliy bin Muslim dia berkata : Telah menceritakan kepadaku Ibnu Abi Fadikin dia berkata : Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad bin Yahya bin 'Urwah, dari Hisyam bin 'Urwah, dari Abi Shalihin Al Samaaniy, dari Abi Hurairata radliyyallaahu 'anhu : Sesungguhnya Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallama telah bersabda :    
Selepas kematianku, kamu akan dipimpin oleh banyak pimpinan, maka ketika kalian dipimpinan oleh pemimpin  yang baik,  maka kalian akan terpimpin dengan baik, dan ketika pimpinan itu memimpin kalian dengan kedzaliman, maka kalian akan terpimpin dengan kedzaliman, kalian dengarkanlah dan taatilah mereka (para pemimpin) selama dalam perkara yang menempati  kebenaran, dan berma'mumlah kalian kepada mereka (para peimpin), maka jika mereka berbuat baik (bagus dalam menjadi imam shalat), maka kebaikan (pahalanya)  itu untuk mereka (pemimpin) dan untuk diri kalian (yang menjadi ma'mumnya), jika mereka berbuat keburukkan  (dalam menjadi imam shalat), maka keburukkan (dosanya) itu mengenai  diri kalian sendiri (pemimpin yang menjadi imam), dan tidak akan menimpa diri mereka  (ma'mum atau jama'ah).”
{HR. Al Daaruquthniy}

وَقَدْ أَخْبَرَنَاهُ أَبُو عَمْرٍو الأَدِيبُ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ الإِسْمَاعِيلِيُّ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي أَبُو يَعْلَى ، قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُوسَى ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " يُصَلُّونَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ ، وَإِنْ أَخْطَأُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ " ،
{رواه البيهقي في السنن الكبرى رقم الحديث : 1431}

Sunnguh telah menceritakan kepadanya Abu Amrin Al Adiibu, dia berkata : Telah menceritakan kepadaku Abu Bakrin Al Isma'iliyyu, dia berkjata : Telah menceritakan kepadaku Abu Ya'la, dia berkata : Telah menceritakan kepadaku Abu Khotsaimata, dia berkata : Telah menceritakan kepadaku Al Hasan bin Musa, dia berkata : Telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman bin Abdillaah bin Diinar, dari Zaid bin Aslam, dari 'Athhoin bin Yasaarin, dari Abi Hurairata radliyyallaahu 'anhu : Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wasallama telah bersabda :

Kalian akan dima'mumi (dijadikan imam shalat), maka ketika kalian benar dalam mengerjakannya, (pahalanya) bagi kalian sendiri dan para jama'ah, dan jikalau kalian buruk (menjadi imam shalatnya), maka (dosanya) hanya kalian tanggung sendiri, tidak menimpa jama'ahnya.      {HR. Baihaqiy}

وعَنِ الْفَضْلِ بْنِ سَهْلٍ ، عَنْ حَسَنِ بْنِ مُوسَى ، وَرُوِّينَا عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " مَنْ أَمَّ النَّاسَ فَأَصَابَ الْوَقْتَ وَأَتَمَّ الصَّلاةَ فَلَهُ وَلَهُمْ ، وَمَنْ نَقَصَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعَلَيْهِ وَلا عَلَيْهِمْ " .
{رواه البخاري في صحيحه وللفظ له  رقم : 657 . وأحمد بن حنبل في مسنده رقم : 8463 و 10714. وأبو يعلى الموصلي في معجمه رقم : 242،  وفي مسنده رقم :  5796. والحسين بن مسعود البغوي في شرح السنة رقم :  833. وأبو حاتم بن حبان في صحيح ابن حبان رقم :  2267. وسليمان بن أحمد الطبراني في المعجم الأوسط  رقم :  9058. وتمام بن محمد الرازي في فوائد تمام الرازي رقم :
 969.  وأبو نعيم الأصبهاني في حلية الأولياء :  2/ 14 رقم :  1438 و 3770. و في أخبار أصبهان رقم : 430. وابن حزم في كتابه المحلى بالآثار رقم :   458 و في المحلّى  3:132 رقم : 753. والبيهقي في السنن الكبرى واللفظ الثاني له رقم الحديث : 1431 و 3737 و 4908}

Dari Al Fadli bin Sahlin, dari Hasan bin Musa, dan telah meriwayatkan kepada kami 'Uqbah bin 'Amir : Sesungguhnya Nabi shalallaahu 'alaihi wasallama telah bersabda :

Barang siapa mengimami orang banyak, tepat waktunya, dan menyempurnakan shalatnya, maka (pahalanya) baginya dan ma'mumnya, dan barang siapa kurang dari hal itu sedikit saja, maka (dosanya) ditanggung dia sendiri dan tidak menimpa jama'ahnya.
{HR. Ahmad. Bukhariy. Abu Hatim Ibnu Hibban. Baihaqiy. Abu Ya'la Al Mushiliy. Abu Nu'aim. Thabaraniy. Dan Ibnu Hazm}


{6}. DOA MASUK SHAF SHALAT DAN TATACARANYA
[HR. Bukhari Nasa'i  Ibnu Sunniy]
__________________________

Do'a masuk shof sebelum takbiratul ihram, caranya adalah setelah shof diluruskan dan dirapatkan, imam kemudian memimpin ma'mumnya berdo'a "do'a setelah masuk shof" dg serentak. Sedangkan do'a masuk shof yg ma'tsur ato lngsng dr Rasulullah adalah:

أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ نَصْرٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمْزَةَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ ، عَنْ سُهَيْلٍ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمِ بْنِ عَائِذٍ ، عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ ، عَنْ سَعْدٍ ، أَنَّ رَجُلا جَاءَ إِلَى الصَّلاةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي لَنَا ، فَقَالَ حِينَ انْتَهَى إِلَى الصَّفِّ : اللَّهُمَّ آتِنِي أَفْضَلَ مَا تُؤْتِي عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاتَهُ ، قَالَ : " مَنِ الْمُتَكَلِّمُ آنِفًا ؟ " قَالَ الرَّجُلُ : أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : " إِذًا يُعْقَرُ جَوَادُكَ وَتُسْتَشْهَدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ " .
{رواه البخاري في الأدب المفرد. والنسائي في السنن الكبرى واللفظ له رقم الحديث : 9525, وفي عمل اليوم والليلة رقم : 93.  وابن السني في عمل اليوم والليلة رقم : 106. وابن حزيمة في صحيحه رقم : 453. والحاكم في المستدرك : 1/ 207، وقال : هذا حديث صحيح على شرط مسلم وأقرّه الذهبي}

ALLAHUMMA AATINIY AFDLALA MAA TU'TIY 'IBAADAKASH SHAALIHIINA
Telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Nashrin, dia berkata :
Telah mengabarkan kepadaku Ibrahim bin Hamzah, dia berkata :
Telah mengabarkan kepadaku Abdul Aziz, dari Suhail, dari Muhammad bin Muslimin bin 'Aidzin, dari 'Aamir bin Sa'din, dari Sa'din : Sesungguhnya seorang datang akan ikut shalat berjama'ah, pada waktu itu Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wasallama sedang shalat bersamaku. Ketika sampai dishof shalat, orang tadi berdoa :  

Ya Allah berilah aku seutama-utama apa yg Engkau berikan kepada hamba-hamba-MU yg shalih-shalih.

Ketika shalat selesai Rasulullaah bertanya : Siapa yang membaca doa barusan? Orang itu menjawab : Aku Ya Rasulallaah... Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wasallama bersabda : Ketika itu ditinggikan kedermawananmu, dan kamu disyahidkan dalam perang sabilillah.  
[HR. Bukhari dalam Kitab Tarikhnya Al Adabu Al Mufrada. Imam Nasa'i Dalam Amalu Al Yaum Wa Al Lailah no. 93. Imam Ibnu Sunniy dlm Kitab 'Amalul yaum wal lailah no. 106. Ibnu Huzaimah no. 453. Hakim, beliau mengatakan Hadits Shahih atas Syarat Muslim dan disepakati oleh Imam Dzahabiy. Keterangan ini dpt jg dilihat di kitab Al-Adzkaar Li Imam Nawawiy]

كيفيّة رفع اليدين مع التكبير ؛ سواء في تكبيرة الإحرام أو تكبيرات الانتقال عند السنّة | BERBAGAI CARA ATAU KAIFIYYAH MENGANGKAT TANGAN BAIK DALAM TAKBIRATUL IHRAM ATAU TAKBIRATUL INTIQOOL MENURUT SUNNAH

1. BERBAGAI RIWAYAT POSISI MENGANGKAT TANGAN:

a). MENGANGKAT KEDUA TANGAN SEJAJAR DENGAN PUNDAK.
[HR. Bukhari]

Sebagaimana hadits dari Abdullah bin Umar radliyyallaahu 'anhuma :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يُكَبِّرُ لِلرُّكُوعِ وَيَفْعَلُ ذَلِكَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ وَيَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَلاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ.
(رواه البخاري في صحيحه  : 187:1، رقم الحديث : 736)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqootil. Dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abdullah. Dia berkata : Telah menceritakan kepada kami. Dia berkata : Yunus, dari Al Zuhriy. Telah menceritakan kepadaku Salim bin Abdillah, dari Abdillah bin 'Umar radliyyallaahu 'anhuma beliau berkata :   
Aku melihat Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wa sallama ketika berdiri dalam sholat mengangkat kedua tangannya hingga keduanya sejajar dengan pundaknya dan adalah beliau mengerjakan demikian itu ketika bertakbir untuk ruku’ dan beliau mengerjakan hal itu ketika mengangkat kepalanya dari ruku’ seraya berucap :”Sami’allohu liman hamidah” dan beliau tidak melakukannya hal tersebut pada saat sujud.
(HR. Bukhari : I/ 187 no hadits. 736)


b). MENGANGKAT KEDUA TANGAN SEJAJAR DENGAN KEDUA TELINGA.
[HR. Muslim dn Nasa'i]

Sebagaimana hadits dari Al-Huwairits radliyyallaahu 'anhu :

عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ, وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ فَقَالَ : سَمِعَ الله لِمَنْ حَمِدَهُ , فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ.
(رواه مسلم في صحيحه  : 7/2)

Dari Malik bin Al-Huwairits radliyyallaahu 'anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wa sallama ketika bertakbir mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya. Dan ketika ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan dua telinganya dan ketika mengangkat kepala dari ruku’, beliau berucap:”Sami’allohu liman hamidah.” Beliau mengerjakan seperti hal tersebut.
(HR Muslim II: 7)

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجَْرٍ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكَادَ إِبْهَامَاهُ تُحَاذِى شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ.
(رواه النسائى : 123/2)

Dari Wail bin Hujr bahwa sesungguhnya ia melihat Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wasallama ketika memulai sholat mengangkat kedua tangannya hingga hampir-hampir ibu jari mendekati kedua telinganya.
( HR AN-Nasaiy II : 123).


c). MENGANGKAT KEDUA TANGAN LEBIH TINGGI DARI TELINGA.
[HR. Baihaqiy]

Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radliyyallaahu 'anhu :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَدًّا يَعْنِى فِى الصَّلاَةِ.
(رواه البيهقى : 27/2 )

Dari Abu Hurorioh radliyyallaahu 'anhu  berkata:” Aku melihat Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wa sallama  mengangkat kedua tangannya dengan memanjangkan (kedua tangannya) di dalam sholat.
(HR Al-Baihaqy II:27).


d). MENGANGKAT KEDUA TANGAN SETINGGI DADA. [HR. Abu Dawud]

Sebagaimana hadits dari Wail bin Hujrin :

عَنْ وَائِلَ بْنِ حُجْرٍ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم حِيْنَ افْتَتَحَ الصَّلاَةَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَيَالَ أُذُنَيْهِ قَالَ ثُمَّ أَتَيْتُهُمْ فَرَأَيْتُهُمْ يَرْفَعُوْنَ أَيْدِيَهِمْ إِلَى صُدُوْرِهِمْ فِى إِفْتِتَاحِ الصَّلاَةِ وَعَلَيْهِمْ بَرَانِسُ.
(رواه أبو داود : 193/1 )

Dari Wail bin Hujr berkata:”Aku melihat Nabi Shalallaahu 'alaihi wa sallama ketika memulai sholat mengangkat kedua tangannya ke arah telinganya. Kemudian Wail bin Hujr berkata:”Saya mendatangi mereka dan saya melihat mereka mengangkat tangan sampai pada dada-dada mereka di dalam memulai sholat dan mereka memakai baronis (mantel bertudung kepala).
(HR Abu Dawud I :193).


2. CARA MENGANGKAT TANGAN:

Membuka jari dengan tidak perlu merenggangkan dan tidak terlalu merapatkan serta menghadapkan telapak tangan ke arah kiblat. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radliyyallaahu 'anhu :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم كَانَ اِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ نَشَرَ أَصَابِعَهُ نَشْرًا.
(رواه البيهقى : 27/2 )

Dari Abu Hiuroiroh radliyyallaahu 'anhu bahwa adalah Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallama ketika memulai sholat merenggangkan jari-jarinya.
(HR Al-Baihaqy II : 27).


3. MENGANGKAT DUA TANGAN DILAKUKAN PADA 4 WAKTU:

a). Ketika Takbiratul Ihram.
[HR. Bukhari]

Sebagaimana hadits dari Naafi’ dari Ibnu Umar radliyyallaahu 'anhuma :

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَهُ يَدَيْهِ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ الله لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَفَعَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم.
(رواه البخاري : 188/1)

Diriwayatkan dari Nafi’ bahwa sesungguhnya Ibnu Umar ketika masuk sholat bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Dan ketika ruku’ mengangkat kedua tangannya. Dan ketika mengucap “Sami’allohu liman hamidah” mengangkat kedua tangannya dan ketika berdiri dari roka’at kedua mengangkat kedua tangannya. Ibnu Umar radliyyallaahu 'anhuma  meriwayatkan perbuatan ini dari Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallama.
(HR. Bukhari : I/ 188. Hadits Marfu')


b). Ketika Ruku'.
[HR. Bukhari]

Sebagaimana hadits dari Nafi’ dari Ibnu Umar radliyyallaahu 'annhuma :

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ الله لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَفَعَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم.
(رواه البخاري : 188/1)

Diriwayatkan dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar radliyyallaahu 'anhuma
 ketika masuk sholat bertakbir dan mengangkat kedua tangannya dan ketika ruku’ mengangkat kedua tangannya dan ketika mengucap “Sami’allohu liman hamidah” mengangkat kedua tangannya dan ketika berdiri dari roka’at kedua mengangkat kedua tangannya. Dan Ibnu Umar radliyyallaahu 'anhuma  meriwayatkan perbuatan ini dari Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallama.
(HR Bukhari : I/ 188. Hadits Marfu')

c). Ketika I'tidal atau ketika bangun dr Ruku'. [HR. Bukhari]

Sebagaimana hadits dari Naafi’ dari Ibnu Umar radliyyallaahu 'anhuma :

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ الله لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَفَعَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم.
(رواه البخاري : 188/1)

Diriwayatkan dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar radliyyallaahu 'anhuma
 ketika masuk sholat bertakbir dan mengangkat kedua tangannya dan ketika ruku’ mengangkat kedua tangannya dan ketika mengucap “Sami’allohu liman hamidah” mengangkat kedua tangannya dan ketika berdiri dari roka’at kedua mengangkat kedua tangannya. Dan Ibnu Umar radliyyallaahu 'anhuma  meriwayatkan perbuatan ini dari Rasulullah shalalllaahu 'alaihi wa sallama .
(HR Bukhari : I/ 188. Hadits Marfu')

d). Ketika berdiri dari Tasyahud awal.
[HR. Baihaqiy]

Sebagaimana hadits riwayat Imam Al-Baihaqy dari Aliy bin Abi Thalib, Abu Musa Al Asy'ariy, Jabir bin Abdillah Al Anshariy, Abu Hurairah,  dan dari Anas bin Malik radliyyallaahu 'anhum :

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ ، وَأَبُو سَعِيدِ بْنُ أَبِي عَمْرٍو ، قَالا : ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ ، ثنا بَحْرُ بْنُ نَصْرٍ ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ ، أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي الزِّنَادِ ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْفَضْلِ الْهَاشِمِيِّ ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَعْرَجِ ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاةِ الْمَكْتُوبَةِ ، كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ، وَيَصْنَعُ مِثْلَ ذَلِكَ إِذَا قَرَأَ قِرَاءَتَهُ ، وَأَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ ، وَيَصْنَعُهُ إِذَا فَرَغَ مِنَ الرُّكُوعِ ، وَلا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ صَلاتِهِ وَهُوَ قَاعِدٌ ،

وَإِذَا قَامَ مِنَ السَّجْدَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ كَذَلِكَ وَكَبَّرَ " ،

وَقَدْ رُوِّينَا هَذَا الْحَدِيثَ ، عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ ، وَجَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيِّ ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ ، وَأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
(رواه البيهقى في السنن الكبرى  : 137/2، رقم الحديث : 2303. حديث مرفوع)

Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah Al Hafidz, dan Abi Sa'iidin bin Abi 'Amrin, mereka berdua mengatakan : Telah menceritakan kepada kami Abu Al Abbas Muhammad bin Ya'qub, Telah menceritakan kepadaku Bahru bin Nashrin, Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Wahbin,  Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abi Al Zinad, dari Musa bin 'Uqbah, dari Abdillah bin Al Fadl Al Hasimiy, dari Abdir Rahman Al A'rajiy, dari 'Ubaidillah bin Abi Rafi', dari Aliy bin Abi Thalib radliyyallahu 'anhu, dari Rasulillahi shalallaahu 'alaihi wasallama : Ketika Rasulullah akan mendirikan Shalat Maktubah, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya, beliau juga melakukannya seperti itu setelah menyelesaikan bacaannya,      dan melakukannya seperti Itu ketika akan melakukan ruku', dan beliau melakukannya ketika akan bangun dari ruku', dan beliau tidak mengangkat kedua tangannya sama sekali ketika beliau shalat dalam keadaan duduk. 

Dan ketika berdiri dari dua sujud, juga bertakbir dan mengangkat kedua tangannya .

Dan sungguh kami telah meriwayatkan hadits ini dari Abu Musa Al Asy'ariy, Jabir bin Abdillah Al Anshariy, Abi Hurairah, dan Anas bin Malik, dari Rasulillah shalallaahu 'alaihi wasallama.
(HR. Al-Baihaqy Fi Al Sunan Al Kubra : II/ 137, no hadits. 2303)


4. RIWAYAT TENTANG WAKTU TAKBIR DAN MENGANGKAT TANGAN:

a). Mengangkat bersamaan dengan Takbir.
[HR. Bukhari]

Sebagaimana hadits dari Abdullah bin Umar radliyyallaahu 'anhuma  :

عَنْ عَبْدِ الله بْنِ عُمَرَ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم افْتَتَحَ التَّكْبِيْرَ فِى الصَّلاَةِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِيْنَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَاحَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوْعِ فَعَلَ مِثْلَهُ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ الله لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَهُ وَقَالَ :رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ حِيْنَ يَسْجُدُ وَلاَ حِيْنَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُوْدِ .
(رواه البخاري : 188/1)

Dari Abdullah bin Umar radliyyallaahu 'anhuma  berkata:”Saya melihat Nabi shalallaahu 'alaihi wa sallama membuka sholat dengan takbir , mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir sehingga menjadikan kedua tangannya sejajar dengan dua pundaknya , dan ketika bertakbir dari ruku’ mengerjakan yang semisalnya dan ketika mengucapkan “Sami’allohu Liman Hamidah” melakukan yang seperti itu, dan berucap:’Robbana lakalhamdu “ dan tidak melakukan yang demikian itu ketika akan sujud dan tidak pula ketika mengangkat kepalanya dari sujud.
(HR Bukhari : I/ 188)

b). Mengangkat sebelum Takbir.
[HR. Muslim]

Sebagaimana hadits dari Ibnu Umar radliyyallaahu 'anhuma :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا قَامَ لِلصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُوْنَا حَذْوَمَنْكِبَيْهِ ثُمَّ كَبََّرَ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ وَإِذَا رَفَعَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ وَلاَ يَفْعَلُ حِيْنَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُوْدِ.
(رواه مسلم : 6/2)

Dari Ibnu Umar radliyyallaahu 'anhuma  berkata: Adalah Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallama ketika berdiri untuk melakukan sholat mengangkat kedua tangannya sehingga sejajar dengan kedua pundaknya , kemudian bertakbir . Maka ketika hendak ruku’ melakukan seperti itu, dan ketika bangun dari ruku’ melakukan seperti itu juga , dan tidak melakukan itu ketika mengangkat kepalanya dari sujud.
(HR. Muslim. : II/ 6)

c). Bertakbir sebelum mengangkat tangan.
[HR. Baihaqiy]

Sebagaimana hadits dari Ibnu Qilabah radliyyallaahu 'anhu :

عَنْ ابْنِ قِلاَبَةَ أَنَّهُ رَأَى مَالِكَ بْنَ الْحُوَيْرِثِ إِذَا صَلَّى كَبَّرَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَحَدَثَ أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم كَانَ يَفْعَلُ هَذَا.
(رواه البيهقى : 27/2)

Dari Ibnu Qilabah bahwa sesungguhnya dia melihat Malik bin Al-Huwairits ketika sholat bertakbir kemudian mengangkat kedua tangannya, dan ketika hendak ruku’ mengangkat kedua tangannya, dan ketika mengangkat kepalanya dari ruku’ mengangkat kedua tangannya dan Ibnu Qilabah menceritakan bahwa Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallama juga melakukan seperti itu.
( HR Al-Baihaqy II :27)

Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad mengatakan : Mengangkat kedua tangan hingga sejajar kedua pundak.

Imam Abu Hanifah mengatakan : Mengankat tangan hingga sejajar dengan kedua telinga.
{Lihat Kitab Ibanatu Al Ahkam Syarhu Bulugh Al Maram Karya As Sayyid Alwi Al Malikiy Al Hasaniy dan Syaikh Hasan Sulaiman Al Nuuriy : 1/ 297, cet. Pertama, th. 1416 H / 1996 M, Daar Al Fikr}

وقال مالك والشافعي واحمد : رفع اليدين حتّى تكون إلى المنكبين، وقال أبو حنيفة : رفع اليدين حتّى تكون حذو الأدنين.
{انظر كتاب إبانة الأحكام شرح بلوغ المرام للامام السيد علوي المالكي والشيخ حسن سليمان النوري : 1/ 297، الطبعة الأولى، السنة : 1416 هــ / 1996 مــ، دار الفكر}

CATATAN:
Takbir pd awal shalat dinamakan Takbiratul Ihram, sedangkan pd gerakan peralihan gerakan shalat dinamakan Takbiratul Intiqol.

فضائل وحكمة الصلاة المكتوبة عند السّنّة | KEUTAMAAN DAN HIKMAH SHALAT MENURUT QUR'AN DAN SUNNAH

01. Dapat menghapus atau menyebabkan terampuninya dosa.
[HR. Ahmad. Bukhari. Muslim. Tirmidzi. Nasa'i. Ibnu Hibban. Baihaqiy. Darimiy]

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ . ح ، وَقَالَ قُتَيْبَةُ : حَدَّثَنَا بَكْرٌ يَعْنِي ابْنَ مُضَرَ كِلَاهُمَا ، عَنِ ابْنِ الْهَادِ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ وَفِي حَدِيثِ بَكْرٍ : أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : " أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ ؟ قَالُوا : لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ ، قَالَ : فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا " .
{رواه أحمد في مسنده رقم : 8725، 9301، 9479. والبخاري رقم الحديث : ومسلم رقم : 1077 واللفظ له. والترمذي رقم : 2813 والنسائي في سنن الصغرى رقم : 458 وفي الكبرى رقم : 317. وابن حبان في صحيحه رقم : 1761. واليهقي في السنن الصغير رقم : 232، وفي الكبرى رقم : 1543، 4580. والدارمي سنن الدارمي رقم : 1161}

Telah menceritakan kepadaku Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan kepadaku Laits (ح | حوالة الحديث) Dari jalur lain  Qutaibah mengatakan : telah menceritakan kepadaku Bakrun yaitu Ibnu Mudlor yang keduanya dari Ibnu Al Hadi, dari Muhammad bin Ibrohim, dari Abi Salamah bin Abdur Rahman, dari Abi Hurairata radliyyallahu 'anhu, Sesungguhnya Rasulullaahu shalallaahu 'alaihi wasallama (dalam riwayat Bakrun) bahwa Abi Hurairata mendengar Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallama berkata :

Bagaimana pendapatmu jika ada sungai di depan pintu (rumah) kalian, kemudian salah seorang diantara kalian mandi setiap hari lima kali? masih adakah sedikit kotoran yang tersisa ?" Jawab sahabat:” Tidak ada sedikitpun kotoran yang menempel.” Maka Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam bersabda:”Demikianlah sholat lima waktu yang kamu kerjakan, Allah menghapus dengannya dosa-dosa (kamu).”
{HR. Ahmad no. 8725, 9301, 9479. Bukhariy no. 499. Lafadz hadits Muslim no. 1077. Tirmidzi no. 2813. Nasa'i Fi Sughra no. 458, dan Fi Al Kubra no. 317. Ibnu Hibban no. 1716. Baihaqiy Fi Al Sunan Al Sughir no. 232, dan Fi Al Kubra no. 1543, 4580. Dan Darimiy Fi Sunanihi no. 1161}
 
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ كُلُّهُمْ عَنْ إِسْمَعِيلَ قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ مَوْلَى الْحُرَقَةِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ.
{رواه مسلم}

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah bin Sa'id serta Ali bin Hujr semuanya dari Ismail, Ibnu Ayyub berkata, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ja'far telah mengabarkanku al-Ala' bin Abdurrahman bin Ya'qub mantan budak al-Huraqah, dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Shalat lima waktu dan shalat Jum'at ke Jum'at berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar."
{HR. Muslim}

وفي رواية : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُوْلُ: اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ. وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ. وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ. مُكَفِّرَاتُ مَا بَيْنَهُنَّ. إَذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam telah bersabda :

Sholat lima waktu, dari Jum’at ke jum’at dan dari Ramadhan ke Ramadhan ialah menghapuskan dosa diantara masing-masing apabila dijauhinya dosa-dosa besar.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ. وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ. كِفَارَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ

Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, beliau telah bersabda :

Sholat lima waktu, dari Jum’at ke jum’at ialah menghapuskan dosa diantara masing-masing.

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلَّاهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ )).
(صحيح مسلم)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu ath-Thahir dan Yunus bin Abdul A'la keduanya berkata, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Wahb dari Amru bin al-Harits bahwa Hukaim bin Abdullah al-Qurasyi telah menceritakan kepadanya, bahwa Nafi' bin Jubair dan Abdullah bin Abu salamah keduanya telah menceritakan kepadanya, bahwa Muadz bin Abdurrahman telah menceritakan kepada mereka berdua dari Humran mantan budak Utsman bin Affan, dari Utsman bin Affan dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa berwudlu untuk shalat, lalu menyempurnakan wudlunya, kemudian berjalan menuju shalatnya yang fardlu, lalu dia melaksanakannya bersama manusia, atau bersama jama'ah, atau di masjid, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya."

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى التُّجِيبِيُّ قَالَا أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ عَطَاءَ بْنَ يَزِيدَ اللَّيْثِيَّ أَخْبَرَهُ أَنَّ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَكَانَ عُلَمَاؤُنَا يَقُولُونَ هَذَا الْوُضُوءُ أَسْبَغُ مَا يَتَوَضَّأُ بِهِ أَحَدٌ لِلصَّلَاةِ

Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir Ahmad bin Amru bin Abdullah bin Amru bin Sarh dan Harmalah bin Yahya At Tujibi keduanya berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb dari Yunus dari Ibnu Syihab bahwa 'Atha' bin Yazid Al Laitsi telah menceritakan kepadanya, bahwa Humran budak Utsman, telah menceritakan kepadanya, bahwa Utsman bin Affan meminta air untuk berwudlu, kemudian dia membasuh dua tangan sebanyak tiga kali, kemudian berkumur-kumur serta memasuk dan mengeluarkan air dari hidung. Kemudian ia membasuh muka sebanyak tiga kali dan membasuh tangan kanannya hingga ke siku sebanyak tiga kali. Selepas itu, ia membasuh tangan kirinya sama seperti beliau membasuh tangan kanan, kemudian mengusap kepalanya dan membasuh kaki kanan hingga ke mata kaki sebanyak tiga kali. Selepas itu, ia membasuh kaki kiri, sama seperti membasuh kaki kanannya. Kemudian Utsman berkata, 'Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudlu seperti cara aku berwudlu.' Kemudian dia berkata lagi, 'Aku juga telah mendengar beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

Barangsiapa mengambil wudlu seperti cara aku berwudlu kemudian dia menunaikan shalat dua rakaat dan tidak berkata-kata antara wudlu dan shalat, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu'. Ibnu Syihab berkata, Ulama-ulama kami berkata, 'Wudlu ini adalah wudlu yang paling sempurnya yang dilakukan oleh seseorang untuk melakukan shalat.

و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِإِنَاءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ فَغَسَلَهُمَا ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْإِنَاءِ فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu syihab dari 'Atha' bin Yazid al-Laitsi dari Humran budak Utsman, bahwa dia melihat Utsman meminta air wudlu, lalu dia menuangkannya pada kedua telapak tangannya tiga kali lalu mencuci kedua tangannya. Kemudian ia memasukkan tangan kanannya ke wadah air, lalu berkumur, memasukkan air ke dalam hidung dan membuangnya, kemudian membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh dua tangan kanannya sampai siku tiga kali, kemudian mengusap kepalanya, kemudian membasuh kedua kakinya sampai mata kaki tiga kali. Kemudian dia berkata, 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

"Barangsiapa berwudlu seperti wudluku ini, kemudian melakukan shalat dua raka'at, di mana dia tidak berbicara di dalamnya pada dirinya (tentang perkara dunia), niscaya dia diampuni dosa-dosanya yang terdahulu'."

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَحَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي الْوَلِيدِ قَالَ عَبْدٌ حَدَّثَنِي أَبُو الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ عُثْمَانَ فَدَعَا بِطَهُورٍ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ.
{رواه مسلم}

Telah menceritakan kepada kami Abd bin Humaid dan Hajjaj bin asy-Syair keduanya meriwayatkan dari Abu al-Walid, Abd berkata, telah menceritakan kepadaku Abu al-Walid telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sa'id bin Amru bin Sa'id bin al-Ash telah menceritakan kepadaku bapakku dari bapaknya dia berkata, "Kami berada di sisi Utsman, lalu dia meminta air wudlu seraya berkata, 'Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Tidaklah seorang muslim didatangi shalat fardlu, lalu dia membaguskan wudlunya dan khusyu'nya dan shalatnya, melainkan itu menjadi penebus dosa-dosanya terdahulu, selama dia tidak melakukan dosa besar. Dan itu (berlaku) pada seluruh zaman'."
{HR. Muslim}


02. Allah ta'ala meninggikan derajat.
[HR. Bukhariy no. 131 dan Muslim no. 649]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ )).
{رواه البخاري رقم الحديث : 131. ومسلم رقم الحديث : 649}

Dari Abu Hurairah beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat.

Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.”
(HR. Al-Bukhari no. 131 dan Muslim no. 649)


03. Merupakan sebaik-sebaik  aturan yg disyari'atkan.
[HR. Thabarani]

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " الصَّلاةُ خَيْرُ مَوْضُوعٍ ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَسْتَكْثِرَ فَلْيَسْتَكْثِرَ ".
{رواه الطبرني في المعجم الاوسط}

Dari Abi Hurairata radliyyallaahu 'anhu, beliau berkata : Rasulullaahu shalallaahu 'alaihi wasallama telah bersabda :
Sholat adalah sebaik-baik perkara, maka barangsiapa mampu untuk memperbanyak, hendaklah dia memperbanyak.”
(HR. Thabarani dalam Kitabnya Al Mu'jam Al Ausath)


04. Merupakan sebaik-baik  amal perbuatan. [HR. Ahmad dn Ibnu Hibban]

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ وَعِصَامُ بْنُ خَالِدٍ قَالَا حَدَّثَنَا حَرِيزُ بْنُ عُثْمَانَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَيْسَرَةَ عَنْ ثَوْبَانَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اسْتَقِيمُوا تُفْلِحُوا وَخَيْرُ أَعْمَالِكُمْ الصَّلَاةُ وَلَنْ يُحَافِظَ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ

حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْبَانَ حَدَّثَنِي حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ أَنَّ أَبَا كَبْشَةَ السَّلُولِيَّ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ ثَوْبَانَ يَقُولُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْمَلُوا وَخَيِّرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمْ الصَّلَاةُ وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَيَعْلَى قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمْ الصَّلَاةُ وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ.
{وكل الرواية كلّها رواها احمد}

Dari Tsauban radliyyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam bersabda :

إِسْتَقِيْمُوْا وَلَنْ تُحْصُوْا (وَفِىْ رِوَايَةٍ) : إِسْتَقِيْمُوْا تُفْلِحُوْا وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمْ الصَّلاَةُ وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوْءِ إلاَّ مُؤْمِنُ.
{رواه الامام أحمد وابن حبّان فى صحيحه}

Bersikap luruslah kamu(istiqomah) dan kalian tak akan bisa menghitung kebaikan istiqomah itu”. Dalam riwayat lain:”Bersikap luruslah (istiqomah) kamu, maka kamu akan beruntung, dan beramallah kamu, karena sesungguhnya sebaik-baik amal kamu adalah sholat, dan tidak menjaga (sempurnanya) wudlu kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata'ala.”
(HR Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dalam Kitab Shahihnya)


05. Dapat menyembuhkan jiwa dan raga.
[HR. Ahmad]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ :  هَجَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَجَّرْتُ فَصَلَّيْتُ ثُمَّ جَلَسْتُ فَالْتَفَتَ إِلَيَّ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اشِكَمَتْ دَرْدْ (يَعْنِي تَشْتَكِي بَطْنَكَ بِالْفَارِسِيَّةِ )قُلْتُ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ :  قُمْ فَصَلِّ فَإِنَّ فِي الصَّلَاةِ شِفَاءً.
(رواه احمد وابن ماجة سنن ابن ماجه: 3585 واللفظ له)

Telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Musafir telah menceritakan kepada kami As Sari bin Miskin telah menceritakan kepada kami Dzawwad bin 'Ulbah dari Laits dari Mujahid dari Abu Hurairah dia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar ketika matahari sedang terik, lalu aku datang dan sholat. Setelah itu aku duduk dan menoleh ke arah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau pun bersabda : "Apakah kamu sakit perut." Jawabku, "Benar wahai Rasulullah." Beliau bersabda:

Sholatlah, karena dalam sholat itu ada obat kesembuhan untuk jiwa dan raga (إنَّ فِى الصَّلاَةِ شِفَاءً).

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Hasan Al Qatthan telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Nashr telah menceritakan kepada kami Abu Salamah telah menceritakan kepada kami Dzawwad bin 'Ulbah kemudian dia menyebutkan hadis semisalnya. Dan dalam hadisnya ia menyebutkan, "Isykamat dard (اشِكَمَتْ دَرْدْ) maksudnya adalah 'Apakah perutmu terasa sakit? ', yaitu dalam bahasa Parsi." Abu Abdullah berkata, "Seorang laki-laki menceritakan hadis kepada keluarganya, lalu mereka bersiap atasnya."
(Hadis Dlaif Riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah no. 3585, Bab Kitab Al Thib)


06. Membuat perjanjian disisi Allah dengan jaminan masuk surga.
[HR. Malik, Abu Dawud, Nasa'i]

حَدَّثَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ سُلَيْمَانَ ، نا الْحَارِثُ بْنُ مِسْكِينٍ ، قَالَ : نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْقَاسِمِ ، قَالَ : حَدَّثَنِي مَالِكٌ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدِابْنِ قَيْسٍ الأَنْصَارِيِّ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ ، عَنِ ابْنِ مُحَيْرِيزٍ ، أَنَّ رَجُلا مِنْ بَنِي كِنَانَةَ يُدْعَى الْمُخْدَجِيَّ ، سَمِعَ رَجُلا بِالشَّامِ يُدْعَى أَبَا مُحَمَّدٍ ، يَقُولُ : إِنَّ الْوِتْرَ لَوَاجِبٌ عَلَى النَّاسِ ، فَقَالَ الْمُخْدَجِيُّ : فَرُحْتُ إِلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ ، فَاعْتَرَضْتُ لَهُ وَهُوَ رَائِحٌ الْمَسْجِدَ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ ، فَقَالَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ : كَذَبَ أَبُو مُحَمَّدٍ , سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : " خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ , فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ ، فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ , إِنْ شَاءَ.
{رواه احمد رقم : 22085، 22096، 22112، 22140. ومالك رقم : 191، 269. وابو داود رقم : 360، 1213. والنسائي في الصغرى رقم : 457، وفي الكبرى رقم : 317. وابن ماجة رقم : 1391. وابن حبان رقم : 1767، 2465. والبيهقي في الكبرى رقم : 4093، وفي الاعتقاد رقم : 159. والطبراني في الاوسط رقم : 4798، 9551. والدارمي رقم : 1161. وابو حانم في العلل رقم : 347. وابو نعيم في الحلية رقم : 6760. والطحاوي في احكام القران : 220، وفي مشكل الاثار رقم : 2690. والشاشي في مسنده رقم : 1163، 1204. والمروزي} 

Dari Ubadah bin Shamith radliyyallahu 'anhu,  bohong Abu Muhammad :

سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله صلّى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهَ عَلَى الْعِبَادِ, فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ وَلَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا إِسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كاَنَ لَهُ عِنْدَ الله عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ الله عَهْدٌ إنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ

Aku mendengar Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam bersabda:” Allah mewajibkan sholat lima waktu bagi seorang hamba. Maka barangsiapa mendatangi (menegakkan) sholat dan tidak menyia-nyiakan hak-haknya sedikitpun atas dasar meremehkan , maka baginya di sisi Allah ada ikatan perjanjian bahwa Dia akan memasukkannya ke dalam surga. Dan barangsiapa yang tidak memberikan hak-hak (sholat), maka tidak ada baginya di sisi Allah perjanjian, jika berkehendak maka Allah akan menyiksanya dan jika Dia berkehendak maka Dia akan memasukkannya ke dalam surga”
(HR.  Malik no. 191, 269. Ahmad no. 22085, 22096, 22112, 22140. Abu Dawud no. 360, 1213. Nasa'i Al Kubra no. 317, Al Sughra no. 457. Ibnu Majah no. 1391. Ibnu Hibban no. 1767, 2465. Baihaqiy al Kubra no. 4093. Darimiy no. 1161. Thabarani Al Ausath no. 4798,9551. Thahawiy Ahkamul Qur'an no. 220. Abu Hatim Al Ilal no. 347. Abu Nu'aim Al Hulyah no. 6760. Dan Al Marwaziy}


07. Mendatangkan pengampunan, rahmat, serta keridlaan dr Allah ta'ala.
[HR. Tirmidzi]

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ الْوَلِيدِ الْمَدَنِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْوَقْتُ الْأَوَّلُ مِنْ الصَّلَاةِ رِضْوَانُ اللَّهِ وَالْوَقْتُ الْآخِرُ عَفْوُ اللَّهِ.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَقَدْ رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَلِيٍّ وَابْنِ عُمَرَ وَعَائِشَةَ وَابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أُمِّ فَرْوَةَ لَا يُرْوَى إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ الْعُمَرِيِّ وَلَيْسَ هُوَ بِالْقَوِيِّ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَاضْطَرَبُوا عَنْهُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَهُوَ صَدُوقٌ وَقَدْ تَكَلَّمَ فِيهِ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ.
{رواه الترمذي رقم الحديث. : 157, وقال : هذا حديث غريب}

Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Mani', telah menceritakan kepadaku Ya'qub bin Al Walid Al Madaniy, dari Abdillah bin Umar, dari Nafi', dari Ibnu Umar beliau berkata : Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallama telah bersabda : 
Waktu shalat yang pertama adalah ridlo Allah, dan waktu shalat yang terakhir adalah ampunan Allah.

Abu Isa berkata; Hadits ini derajatnya gharib, & sahabat Ibnu Abbas juga telah meriwayatkan dari Nabi seperti itu. Abu Isa berkata; Dalam bab ini ada juga hadits riwayat Ali, Ibnu Umar, 'Aisyah & Ibnu Mas'ud. Abu Isa berkata; Hadits Ummu Farwah tak diriwayatkan kecuali dari hadits Abdullah bin Umar Al Umari, sedangkan dia (Abdullah bin Umar Al Umari) menurut para ahli hadits termasuk orang yg tak kuat, & para perawi yg meriwayatkan hadits darinya mengalami Idlthirab (satu dgn yg lain banyak pertentangan), sedangkan ia adl shaduq (jujur). Imam Yahya bin Sa'id telah memberikan komentar berkenaan dgn hafalannya.
[HR. Tirmidzi No.157].


08. Allah ta'ala membanggakan org yg shalat dihadapan para malaikat.
[HR. Bukhari dn Muslim]

عن أَبي هريرة رضي الله عنه قال: قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم: «يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ، وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيجْتَمِعُونَ في صَلاَةِ الصُّبْحِ وَصَلاَةِ العَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمُ اللهُ- وَهُوَ أعْلَمُ بِهِمْ- كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادي؟ فَيقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَأتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ».
{متفقٌ عَلَيْهِ}

Dari Abu Huroirah radliyyallaahu 'anhu beliau berkata :  Bahwa Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam telah bersabda :

يَتَعَاقَبُوْنَ فِيْكُمْ-

وَفِى رِوَايَةِ أَحْمَدَ : إنَّ الْمَلاَئِكَةَ يَتَعَاقَبُوْنَ فِيْكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُوْنَ فِى صَلاَةِ الصُّبْحِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِيْنَ بَاتُوْا فِيْكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ فَيَقُوْلُ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِيْ ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: تَرَكْنَاهُمْ وهُمْ يُصَلُّوْنَ وَ أَتَيْنَاهُمْ وهُمْ يُصَلُّوْنَ
(رواه البخاري ومسلم}

(Para Malaikat ) selalu bergiliran (untuk menjaga) kalian”.

Dalam riwayat Imam Ahmad : “ Sesungguhnya para Malaikat itu selalu bergiliran untuk menjaga kalian, ada malaikat yang bertugas pada malam hari dan ada malaikat yang bertugas di siang hari, mereka berkumpul dalam sholat shubuh dan sholat Ashar, kemudian (malaikat yang bertugas malam hari ) naik , maka Allah Subhanahu wata'ala  bertanya kepada mereka :”Bagaimana (keadaan) hamba-Ku ketika kalian tinggalkan?” mereka menjawab:”Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sholat dan kami mendatangi mereka juga dalam keadaan sholat”
(HR Bukhari Muslim)


09. Tali penghubung antara hamba dengan Allah.
[HR. Thabarani]

وعن أبي أمامة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إنَّ الْعَبْدَ إذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ فُتِحَتْ لَهُ الْجِنَانُ وَكُشِفَتْ لَهُ الْحُجُبُ بَيْنَهُ وبَيْنَ رَبِّهِ واسْتَقْبَلَـتْهُ الْحُوْرُ الْعِيْنُ مَالَمْ يَمْتَخِطْ أَوْ يَتَنَخَّعْ.
{رواه الطبرانى}

Dari Abu Umamah radliyyallaahu 'anhu, dari Nabi Shollallohu alaihi wasallam beliau telah bersabda :

إنَّ الْعَبْدَ إذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ فُتِحَتْ لَهُ الْجِنَانُ وَكُشِفَتْ لَهُ الْحُجُبُ بَيْنَهُ وبَيْنَ رَبِّهِ واسْتَقْبَلَـتْهُ الْحُوْرُ الْعِيْنُ مَالَمْ يَمْتَخِطْ أَوْ يَتَنَخَّعْ

“Sesungguhnya seorang hamba ketika mendirikan sholat maka dibukakan baginya pintu-pintu surga dan dihilangkan segala hijab (penutup/penghalang) antara dia dengan Tuhannya, dan para bidadari menghadapnya (memperhatikannya), selama dia tidak mengeluarkan ingusnya atau berdahak-dahak.”
(HR. Thabarani Fi Al Ausath)


10. Amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta'ala.
[HR. Muslim]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلَّى الله عليه وسلَّم - قَالَ:  «أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ».
{رواه مسلم في صحيحه رقم الحديث : 482}

Dari Abu Huroiroh radliyyallaahu 'anhu,  bahwa sesungguhnya Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam telah bersabda :

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَ بِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَ

Paling dekat-dekatnya seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah doa ( ketika sujud).”
(HR. Muslim no. 482)


11. Tempat berbisik kepada Allah.
[HR. Bukhari]

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى رُئِيَ فِي وَجْهِهِ فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَلَا يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ فَبَصَقَ فِيهِ ثُمَّ رَدَّ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَقَالَ أَوْ يَفْعَلُ هَكَذَا.
{رواه البخاري رقم الحديث : 390}

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ja'far dari Humaid dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat ada dahak di dinding kiblat, beliau lalu merasa jengkel hingga nampak tersirat pada wajahnya. Kemudian beliau menggosoknya dengan tangannya seraya bersabda:

Jika seseorang dari kalian berdiri shalat sesungguhnya dia sedang berhadapan dengan Rabbnya, atau sesungguhnya Rabbnya berada antara dia dan kiblat, maka janganlah dia meludah ke arah kiblat, tetapi lakukanlah ke arah kirinya atau di bawah kaki (kirinya). Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memegang tepi kainnya dan meludah di dalamnya, setelah itu beliau membalik posisi kainnya lalu berkata, atau beliau melakukan seperti ini.
{HR. Bukhariy no. 390}


12. Sarana untuk menghadapkan diri kepada Allah ta'ala.
[HR. Bukhari]

Dari Abu Huroirah radliyyallaahu 'anhu dliyyallaahu 'anhu, dari Nabi Shollallohu alaihi wasallam:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ إلَى الصَّلاَةِ فَلاَ يَبْصُقْ أَمَامَهُ فَإِنَّمَا يُنَاجِى اللهَ مَادَامَ فِي مُصَلاَّهُ وَلاَ عَنْ يَمِيْنِهِ فَإِنَّ عَنْ يَمِيْنِهِ مَلَكاً وَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ فَيَدْفِنُهَا.
{رواه البخاري}

Ketika salah seorang kalian berdiri dalam sholat, maka janganlah meludah di depannya, (ingatlah) bahwa sesungguhnya dia sedang berbisik-bisik (munajat) kepada Allah Subhanahu wa ta'ala  selama dia ditempat sholat dan janganlah meludah ke arah kanannya, karena sesungguhnya di sebelah kanannya ada malaikat, dan meludahlah ke arah kirinya atau ke arah bawah telapak kakinya, kemudian pendamlah ludah itu.”
(HR Bukhari )

Sebagaimana juga hadits dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam bersabda:

إذَا كاَنَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّى فَلاَ يَبْصُقْ قِبَلَ وَجْهِهِ فَإِنَّ الله َ قِبَلَ وَجْهِهِ إِذَا صَلَّى.
{رواه البخاري}

Ketika salah seorang di antara kamu mengerjakan sholat, maka janganlah meludah di hadapannya (arah depannya) karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta'ala  berada di depannya ketika ia sholat.”
(HR Bukhari )

وحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى بُصَاقًا فِي جِدَارِ الْقِبْلَةِ فَحَكَّهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَبْصُقْ قِبَلَ وَجْهِهِ فَإِنَّ اللَّهَ قِبَلَ وَجْهِهِ إِذَا صَلَّى حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ وَأَبُو أُسَامَةَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي جَمِيعًا عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ وَمُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ عَنْ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ ح و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنِي ابْنَ عُلَيَّةَ عَنْ أَيُّوبَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ أَخْبَرَنَا الضَّحَّاكُ يَعْنِي ابْنَ عُثْمَانَ ح و حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ كُلُّهُمْ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ رَأَى نُخَامَةً فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ إِلَّا الضَّحَّاكَ فَإِنَّ فِي حَدِيثِهِ نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ بِمَعْنَى حَدِيثِ مَالِكٍ.
{رواه مسلم رقم : 852}

Apabila kamu sedang shalat, maka janganlah meludah ke arah depan, karena Allah berada di hadapanmu ketika kamu sedang shalat. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair & Abu Usamah --Lewat jalur periwayatan lain-- & telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Bapakku semuanya meriwayatkan dari Ubaidullah --Lewat jalur periwayatan lain-- & telah menceritakan kepada kami Qutaibah & Muhammad bin Rumh dari al-Laits bin Sa'ad --Lewat jalur periwayatan lain-- & telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Ismail, yaitu Ibnu Ulayyah dari Ayyub --Lewat jalur periwayatan lain-- & telah menceritakan kepada kami Ibnu Rafi' telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Fudaik telah mengabarkan kepada kami adh-Dhahhak, yaitu Ibnu Utsman --Lewat jalur periwayatan lain-- & telah menceritakan kepadaku Harun bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad dia berkata, berkata Ibnu Juraij, telah mengabarkan kepadaku Musa bin Uqbah semua mereka meriwayatkan dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi , Bahwa beliau melihat dahak di arah kiblat masjid... kecuali adh-Dhahhak. Karena dalam haditsnya terdapat, Dahak di arah kiblat. Semakna dgn hadits Malik.
[HR. Muslim No.852].

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ جَمِيعًا عَنْ سُفْيَانَ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ فَحَكَّهَا بِحَصَاةٍ ثُمَّ نَهَى أَنْ يَبْزُقَ الرَّجُلُ عَنْ يَمِينِهِ أَوْ أَمَامَهُ وَلَكِنْ يَبْزُقُ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ الْيُسْرَى ح حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ قَالَ ح و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبِي كِلَاهُمَا عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ وَأَبَا سَعِيدٍ أَخْبَرَاهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً بِمِثْلِ حَدِيثِ ابْنِ عُيَيْنَةَ.
{رواه مسلم رقم : 853}

melihat dahak di arah kiblat masjid. Lalu dia mengeriknya dgn kerikil. Kemudian beliau melarang orang meludah ke kanan atau ke depannya, tetapi membolehkan meludah ke kiri atau ke bawah kaki kiri. --Lewat jalur periwayatan lain-- Telah menceritakan kepadaku Abu ath-Thahir & Harmalah keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari Yunus dia berkata, --Lewat jalur periwayatan lain-- & telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Bapakku keduanya meriwayatkan dari Ibnu Syihab dari Humaid bin Abdurrahman bahwa Abu Hurairah radhiyallahu'anhu & Abu Sa'id keduanya telah mengabarkan kepadanya, Bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam melihat dahak, semisal hadits Ibnu Uyainah.
[HR. Muslim No.853].

و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فِيمَا قُرِئَ عَلَيْهِ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى بُصَاقًا فِي جِدَارِ الْقِبْلَةِ أَوْ مُخَاطًا أَوْ نُخَامَةً فَحَكَّهُ.
{رواه مسلم رقم : 854}

melihat ludah atau ingus atau dahak pada dinding masjid arah kiblat, lalu beliau mengeriknya.
[HR. Muslim No.854].

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ جَمِيعًا عَنْ ابْنِ عُلَيَّةَ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مِهْرَانَ عَنْ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ فَأَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ مَا بَالُ أَحَدِكُمْ يَقُومُ مُسْتَقْبِلَ رَبِّهِ فَيَتَنَخَّعُ أَمَامَهُ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يُسْتَقْبَلَ فَيُتَنَخَّعَ فِي وَجْهِهِ فَإِذَا تَنَخَّعَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَنَخَّعْ عَنْ يَسَارِهِ تَحْتَ قَدَمِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَقُلْ هَكَذَا وَوَصَفَ الْقَاسِمُ فَتَفَلَ فِي ثَوْبِهِ ثُمَّ مَسَحَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ و حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ قَالَ ح و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ قَالَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ كُلُّهُمْ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مِهْرَانَ عَنْ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ حَدِيثِ ابْنِ عُلَيَّةَ وَزَادَ فِي حَدِيثِ هُشَيْمٍ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرُدُّ ثَوْبَهُ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ.
{رواه مسلم رقم : 855}

Bagaimana pendapat kamu semua, ada orang sedang shalat menghadapi Rabbnya, lalu dia meludah ke hadapanNya?
Senangkah kamu jika kamu sedang dihadapi seseorang, lalu orang itu meludahi mukamu?
Karena itu jika salah seorang dari kalian meludah ketika shalat, maka hendaklah dia meludah ke kiri atau ke bawah kakimu. Jika itu tak mungkin, maka hendaklah dia mengatakan demikian, lalu al-Qasim memberikan gambaran contohnya, lalu dia meludah ke sapu tanganmu, kemudian mengusap sebagiannya pada sebagian yg lain. Dan telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami Abdul Warits dia berkata, --Lewat jalur periwayatan lain-- & telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Husyaim dia berkata, --Lewat jalur periwayatan lain-- & telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah semuanya meriwayatkan dari al-Qasim bin Mihran dari Abu Rafi' dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam semisal hadits Ibnu Ulayyah, & dalam hadits Husyaim dia menambahkan, Abu Hurairah berkata, 'Seakan-akan aku melihat Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam mengusapkan sebagian bajunya kepada sebagian lainnya'.
[HR. Muslim No.855].

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلَا يَبْزُقَنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَا عَنْ يَمِينِهِ وَلَكِنْ عَنْ شِمَالِهِ تَحْتَ قَدَمِهِ.
{رواه مسلم رقم : 856}

Apabila salah seorang dari kalian di dalam shalat maka dia sedang bermunajat kepada Rabbnya, janganlah dia meludah di hadapannya, & jangan pula di samping kanannya, akan tetapi hendaklah di sebelah kirinya di bawah kakinya'.
[HR. Muslim No.856].


Kamis legi 02 Januariy 2013 M | 30 Shafar 1435 H

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BAHASA ALAM AKHIRAT (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DSB) (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAHARU (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TABKHIR EMBAKAR DUPA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KUFUR AKIBAT MENCELA NASAB KETURUNAN (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAHALLUL CUKUR GUNDUL ATAU POTONG RAMBUT SELESAI HAJI DAN UMROH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TIDAK PERLU TEST DNA SEBAGAI BUKTI DZURRIYYAH NABI -ﷺ- (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top