Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Juni 2023

النية في الدخول في العبادات: نَوَيْت أَصُومُ نَوَيْت أُصَلِّي | NIAT MASUK DALAM IBADAH : UCAPAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI

 .*╾╌╌─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫﷽💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ─╌╌╸*


(edisi fenomena dalam masyarakat  sebagian masyarakat yang melafadzkan niat shalat atau puasanya dengan model : nawiatu ashumu atau nawaitu ushalli dll)

💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ─╌╌╸*SYAFI'IYYAH

Boleh melafadzkan niat shalat dengan lafadz : نويت أن أصلي المغرب ثلاث ركعات

💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  Syaikh Muhammad Hasan Abdul Ghaffar dalam kitabnya Syarhu Matni Abi Syuja':

وإذا قام يصلي المغرب ثم قال: نويت أن أصلي المغرب ثلاث ركعات وكبر، فهذا مستحب في المذهب، ونسبوا ذلك للإمام الشافعي؛ لأنه لما سئل كيف يبدأ المرء الصلاة؟ قال: بالذكر. فأولوا الذكر بالتلفظ بالنية.
[انظر كتاب شرح متن أبي شجاع : ج ١٣ ص ١٢ / الركن الأول: النية / محل النية /  للشيخ : محمد حسن عبد الغفار].

Dan jika dia bangun untuk sholat Maghrib dan kemudian berkata: نويت أن أصلي المغرب ثلاث ركعات (Saya berniat sholat Maghrib dengan tiga rakaat) dan mengucapkan takbir, inilah yang mustahab (disukai)  dalam madzhab (Syafi'iyyah), dan mereka mengaitkannya dengan Imam Syafi'iy,v Karena ketika beliau  ditanya bagaimana seseorang mulai shalatnya? Dia berkata: Dengan dzikir. Maka kalian awwalilah dzikir  dengan melafadzkan niat.
[Lihat Kitab Syarhu Matan Abi Syuja' : Juz 13 Hal 12. Karya Syaikh Muhammad Hasan Abdul Ghaffar].

Bahkan apabila Dalam Hatinya Sudah Niat Dzuhur Misalnya Tapi Dia Terlanjur Mengucapkan 'Dengan Mulutnya "NAWAITU USHALLI AL 'ASHRA" Tidak Membahayakan Tidak Menjadi Persoalan

Walhasil yang dihitung niat dalam hatinya bukan yg dilafadzkan melafadzkan ya salah saja tidak berbahaya apalagi kalau melafaddzkannya sama dengan apa yg ada dalam hatinya lebih tidak apa².


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  Imam Abdurrahman Al Jaza'iriy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Fiqhu 'Ala Madzahibi Al Arba'ah :

يسن أن يتلفظ بلسانه بالنية، كأن يقول بلسانه أصلي فرض الظهر مثلا، لأن في ذلك تنبيها للقلب، فلو نوى بقلبه صلاة الظهر، ولكن سبق لسانه فقال: نويت أصلي العصر فإنه لا يضر، لأنك قد عرفت أن المعتبر في النية إنما هو القلب، النطق باللسان ليس بنية،
[انظر كتاب الفقه على المذاهب الأربعة : ج ١ ص ١٩٥ / شرح فرائض الصلاة مرتبة: الفرض الأول: النية / حكم التلفظ بالنية، ونية الأداء أو القضاء أو نحو ذلك /  للإمام عبد الرحمن بن محمد عوض الجزيري (ت ١٣٦٠هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية، بيروت - لبنان، الطبعة: الثانية، ١٤٢٤ هـ - ٢٠٠٣ مـ]

Disunnahkan apabila mengucapkan niat dengan lidahnya, seperti mengatakan dengan lidahnya : أصلي فرض الظهر “(Saya shalat wajib Zuhur,)” misalnya, karena itu dapat menjadi pengingat hati.

Namun apabila dia berniat dalam hatinya untuk sholat dzuhur, namun lidahnya keceplosan dan berkata: نويت أصلي العصر (Saya berniat sholat ashar), MAKA TIDAK MENGAPA, karena kamu telah mengetahui bahwa yang terpenting dalam niat adalah mengucapkannya dalam hati, sedangkan mengucapkannya dengan lidah bukanlah disebut niat.
[Lihat Kitab Al Fiqhu 'Ala Madzahibi Al Arba'ah : Juz 1 Hal 195. Karya Imam Abdurrahman Al Jaza'iriy].


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ─╌╌╸* MALIKIYYAH

Jika orang yang shalat melafadzkan niat shalat dengan lafadz : نَوَيْت صَلَاةَ فَرْضِ الظُّهْرِ BOLEH akan tetapi menyelisihi keutamaan. Dan jika antara hati dan pelafadztan niat berbeda niat yang didalam hati yang dianggap

💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  Imam Al 'Alamah Ad Dardir Al Malikiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Hasyiyyah Ad Dasuqiy 'Ala Syarhi Al Kabir :

( وَلَفْظُهُ ) أَيْ تَلَفُّظُ الْمُصَلِّي بِمَا يُفِيدُ النِّيَّةَ كَأَنْ يَقُولَ نَوَيْت صَلَاةَ فَرْضِ الظُّهْرِ مَثَلًا ( وَاسِعٌ ) أَيْ جَائِزٌ  بِمَعْنَى خِلَافِ الْأَوْلَى . وَالْأَوْلَى أَنْ لَا يَتَلَفَّظَ لِأَنَّ النِّيَّةَ مَحِلُّهَا الْقَلْبُ وَلَا مَدْخَلَ لِلِّسَانِ فِيهَا ( وَإِنْ ) تَلَفَّظَ وَ ( تَخَالَفَا ) أَيْ خَالَفَ لَفْظُهُ نِيَّتَهُ ( فَالْعَقْدُ ) أَيْ النِّيَّةُ بِالْقَلْبِ هُوَ الْمُعْتَبَرُ, إنْ وَقَعَ ذَلِكَ سَهْوًا وَأَمَّا عَمْدًا فَمُتَلَاعِبٌ تَبْطُلُ صَلَاتُهُ
[انظر كتاب حاشية الدسوقي على الشرح الكبير : ج ١ ص ٢٣٣ - ٢٣٤ /  باب في بيان أوقات الصلاة وما يتعلق بذلك من الأحكام / فصل فرائض الصلاة / للإمام محمد بن أحمد بن عرفة الدسوقي المالكي (ت ١٢٣٠هـ) / الناشر: دار الفكر - بدون السنة].

(Dan lafadzya) yaitu orang yang beribadah mengucapkan sesuatu yang menunjukkan niatnya, seperti mengatakan : نَوَيْت صَلَاةَ فَرْضِ الظُّهْرِ (saya berniat melaksanakan shalat wajib dzuhur), misalnya, (maka menjadi luas), artinya MUBAH (BOLEH), dengan arti bertentangan dengan keutamaan. Dan lebih baik tidak diucapkan karena niat didasarkan pada hati dan tidak ada tempat bagi lidah (mulut) di dalamnya.

(Dan jika) diucapkan dan (bertentangan) yaitu ucapannya bertentangan dengan niatnya (maka akad) yaitu NIAT DALAM HATI YANG DIPERHATIKAN dan bukan ucapannya jika semua itu dilakukan karena lupa, dan apabila dengan kesengajaan, kemudian dibuat  main-main, maka batal shalatnya.
[Lihat Kitab Hasyiyyah Ad Dasuqiy 'Ala Syarhi Al Kabir : Juz 1 Hal 233 - 234. Karya Imam Ibnu 'Irfah Ad Dasuqiy Al Malikiy].


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ─╌╌╸*HANABILLAH

Ulama' berbeda pendapat mengenai melafadzkan niat : نَوَيْت أَصُومُ نَوَيْت أُصَلِّي


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  Secara rinci Imam Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Majmu' Al Fatawa Al Kubra :

وَسُئِلَ:

عَنْ " النِّيَّةِ " فِي الدُّخُولِ فِي الْعِبَادَاتِ مِنْ الصَّلَاةِ وَغَيْرِهَا. هَلْ تَفْتَقِرُ إلَى نُطْقِ اللِّسَانِ مِثْلَ قَوْلِ الْقَائِلِ؛ نَوَيْت أَصُومُ نَوَيْت أُصَلِّي هَلْ هُوَ وَاجِبٌ أَمْ لَا؟ .

فَأَجَابَ:

الْحَمْدُ لِلَّهِ، نِيَّةُ الطَّهَارَةِ مِنْ وُضُوءٍ أَوْ غُسْلٍ أَوْ تَيَمُّمٍ وَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالْحَجِّ وَالزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَاتِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْعِبَادَاتِ لَا تَفْتَقِرُ إلَى نُطْقِ اللِّسَانِ بِاتِّفَاقِ أَئِمَّةِ الْإِسْلَامِ. بَلْ النِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ دُونَ اللِّسَانِ بِاتِّفَاقِهِمْ فَلَوْ لَفَظَ بِلِسَانِهِ غَلَطًا بِخِلَافِ مَا نَوَى فِي قَلْبِهِ كَانَ الِاعْتِبَارُ بِمَا نَوَى لَا بِمَا لَفَظَ وَلَمْ يَذْكُرْ أَحَدٌ فِي ذَلِكَ خِلَافًا إلَّا أَنَّ بَعْضَ مُتَأَخِّرِي أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ - رَحِمَهُ اللَّهُ - خَرَّجَ وَجْهًا فِي ذَلِكَ وَغَلَّطَهُ فِيهِ أَئِمَّةُ أَصْحَابِهِ. وَكَانَ سَبَبُ غَلَطِهِ أَنَّ الشَّافِعِيَّ قَالَ: إنَّ الصَّلَاةَ لَا بُدَّ مِنْ النُّطْقِفِي أَوَّلِهَا. وَأَرَادَ الشَّافِعِيُّ بِذَلِكَ: التَّكْبِيرَ الْوَاجِبَ فِي أَوَّلِهَا فَظَنَّ هَذَا الغالط أَنَّ الشَّافِعِيَّ أَرَادَ النُّطْقَ بِالنِّيَّةِ فَغَلَّطَهُ أَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ جَمِيعُهُمْ. وَلَكِنْ تَنَازَعَ الْعُلَمَاءُ: هَلْ يُسْتَحَبُّ التَّلَفُّظُ بِالنِّيَّةِ سِرًّا أَمْ لَا؟ هَذَا فِيهِ قَوْلَانِ مَعْرُوفَانِ لِلْفُقَهَاءِ.

فَقَالَ طَائِفَةٌ مِنْ أَصْحَابِ أَبِي حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَد: يُسْتَحَبُّ التَّلَفُّظُ بِهَا؛ كَوْنُهُ أَوْكَدَ.

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكٍ وَأَحْمَد وَغَيْرِهِمَا: لَا يُسْتَحَبُّ التَّلَفُّظُ بِهَا؛ لِأَنَّ ذَلِكَ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا عَنْ أَصْحَابِهِ وَلَا أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِهِ أَنْ يَتَلَفَّظَ بِالنِّيَّةِ وَلَا عَلَّمَ ذَلِكَ أَحَدًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَلَوْ كَانَ هَذَا مَشْهُورًا مَشْرُوعًا لَمْ يُهْمِلْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ مَعَ أَنَّ الْأُمَّةَ مُبْتَلَاةٌ بِهِ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ. وَهَذَا الْقَوْلُ أَصَحُّ الْأَقْوَالِ. بَلْ التَّلَفُّظُ بِالنِّيَّةِ نَقْصٌ فِي الْعَقْلِ وَالدِّينِ. أَمَّا فِي الدِّينِ فَلِأَنَّهُ بِدْعَةٌ.
[انظر كتاب مجموع الفتاوى الكبرى : ج ٢٢ ص ٢٣٠ - ٢٣١ /  باب شروط الصلاة / سئل عن النية في الدخول في العبادات / للامام شيخ الإسلام أحمد بن تيمية الحنبلي، جمع وترتيب: عبد الرحمن بن محمد بن قاسم رحمه الله وساعده: ابنه محمد وفقه الله / الناشر: مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف - المدينة المنورة - السعودية، عام النشر: ١٤٢٥ هـ - ٢٠٠٤ مـ].

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah Al Hanbaliy pernah ditanya tentang niat ketika memulai melakukan suatu ibadah seperti sholat dll, apakah kita perlu mengucapkannya secara lisan, seperti mengatakan, “Saya niat sholat, saya niat puasa”?

Beliau menjawab:

Niat bersuci dengan wudhu atau tayammum, sholat, puasa, membayar zakat, kafaarah (kafir) dan ibadah lainnya tidak perlu diucapkan, sesuai kesepakatan para imam. Islam. Melainkan tempat niatnya adalah hati, menurut kesepakatan di antara mereka. Jika seseorang mengucapkan sesuatu karena kesalahan yang bertentangan dengan apa yang ada di hatinya, maka yang diperhitungkan adalah apa yang dia maksudkan, bukan apa yang dia katakan. Tidak ada yang menyebutkan adanya perbedaan pendapat tentang masalah ini, kecuali bahwa beberapa pengikut Asy Syafi'iy  kemudian menyatakan persetujuannya, tetapi beberapa pemimpin madzhab ini mengatakan bahwa ini salah. Namun dalam perselisihan di antara para ulama tentang apakah niat seseorang itu mustahabb, ada dua sudut pandang. Sebagian sahabat Abu Hanifah, Asy Syafi'iy dan Ahmad mengatakan bahwa MUSTAHABB MENGUTARAKAN NIAT AGAR KUAT.

Sebagian sahabat Maalik, Ahmad dan lainnya mengatakan tidak mustahabb untuk diucapkan, karena itu termasuk bid'ah (inovasi). Tidak diriwayatkan bahwa Rasulullah (damai dan berkah Allah besertanya) atau Sahabatnya melakukannya atau bahwa dia memerintahkan seseorang di antara umatnya untuk mengucapkan niat. Hal itu tidak diketahui dari kaum muslimin. Jika hal itu telah disyariatkan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak akan mengabaikannya, karena hal itu berkaitan dengan ibadah yang dilakukan umat setiap hari dan malam. Ini adalah pandangan yang lebih benar. Memang, mengutarakan niat adalah cara berpikir yang irasional dan gagal dalam komitmen beragama. Dalam hal kekurangan dalam komitmen agama, itu karena bid'ah (inovasi).
[Lihat Kitab Majmu' Al Fatawa: Juz 22 Hal 230 - 231. Karya Imam Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy].


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  Imam Ibnu Al Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Ighatsatu Al Lahfaan (غاثة اللهفان) :

“النية هي القصد والعزم على الشيء، ومحلها القلب لا تعلق لها باللسان أصلاً، ولذلك لم ينقل عن النبي صلى الله عليه وسلم، ولا عن الصحابة في النية لفظ بحال ، وهذه العبارات التي أحدثت عند افتتاح الطهارة والصلاة، قد جعلها الشيطان معتركًا لأهل الوسواس يحبسهم عنها ويعذبهم فيها، ويوقعهم في طلب تصحيحها. فترى أحدهم يكررها، ويجهد نفسه في التلفظ، وليست من الصلاة في شيء.
[انظر كتاب إغاثة اللهفان من مصايد الشيطان : ج ١ ص ١٣٧ / الباب الثالث عشر: في مكايد الشيطان التي يكيد بها ابن آدم / للإمام محمد بن أبي بكر بن أيوب بن سعد شمس الدين ابن قيم الجوزية الشافعي (ت ٧٥١هـ) / الناشر: مكتبة المعارف، الرياض، المملكة العربية السعودية - بدون السنة]

Niat adalah menyengaja dan tekad untuk melakukan sesuatu, dan tempatnya di dalam hati, tidak melekat pada lidah pada awalnya, dan karena itu tidak diturunkan dari Nabi ﷺ, maupun dari para sahabat dalam niat untuk mengucapkannya dalam hal apapun. Dan menyiksa mereka di dalamnya, dan membuat mereka meminta perbaikannya. Jadi Anda melihat salah satu dari mereka mengulanginya, dan memaksakan diri dalam mengucapkannya, dan itu bukan bagian dari shalat dalam segala hal.
[Lihat Kitab Ighatsatu Al Lahafan Min Mashayidi Asy Syaithani : Juz 1 Hal 137. Karya Imam Ibnu Al Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy].


Selesai dinukil Sabtu pahing malam ahad pon

Dikradenan selatan oo3 oo1 Kradenan Srumbung Magelang Jateng 56483

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات

٢١ ذو القعدة ١٤٤٤ ه‍ـ
١٠ يـــونــــي ٢٠٢٣ مـ


PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top