Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Desember 2017

*🍒🌴بٙيْنٙ الْمُؤٙيِّدِ وٙالْمُضٙاةِ فِيْ التّٙهْنِىٔٙةِ عٙلٙى الذِّمّٙةِ | PЯӨ DΛП ΚӨПTЯΛ SӨΛL ЦCΛPΛП ПΛTΛL 🌴🎄*

حكمة اليوم : ١٩ ديسمبر ٢٠١٧ مـ  | Edisi: Rabu Wage, 1 Ba'da Maulid 1439 H. *" HUKUM UCAPAN NATAL "*


*🌹🍒قال الله تعالى في كتابه الكريم :*

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
{سورة مريم : ٠١٩/ ٣٣}

Artinya : Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".
{QS. Maryam : 019/ 33}.

*🌹   Imam Ath Thabari rahimahullaahu ta'åla menjelaskan:*

وَقَوْله : { وَالسَّلَام عَلَيَّ يَوْم وُلِدْت وَيَوْم أَمُوت وَيَوْم أُبْعَث حَيًّا } يَقُول : وَالْأَمَنَة مِنْ اللَّه عَلَيَّ مِنْ الشَّيْطَان وَجُنْده يَوْم وُلِدْت أَنْ يَنَالُوا مِنِّي مَا يَنَالُونَ مِمَّنْ يُولَد عِنْد الْوِلَادَة , مِنْ الطَّعْن فِيهِ , وَيَوْم أَمُوت , مِنْ هَوْل الْمَطْلَع , وَيَوْم أُبْعَث حَيًّا يَوْم الْقِيَامَة أَنْ يَنَالنِي الْفَزَع الَّذِي يَنَال النَّاس بِمُعَايَنَتِهِمْ أَهْوَال ذَلِكَ الْيَوْم

“Maksud salam dalam ayat ini adalah keamanan dari Allah terhadap gangguan setan dan tentaranya pada hari beliau (Nabi Isa) dilahirkan yang hal ini tidak didapatkan orang lain selain beliau. Juga keselamatan dari celaan terhadapnya selama hidupnya. Juga keselamatan dari rasa sakit ketika menghadapi kematian. Juga keselamatan dari kepanikan dan kebingungan ketika dibangkitkan pada hari kiamat sementara orang-orang lain mengalami hal tersebut ketika melihat keadaan yang mengerikan pada hari itu”
{Lihat Kitab Tafsir Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an : juz 18 - hal 193. Karya Imam Ath Thabariy}.

*🎭 Al Imam Al Qurthubi Al Malikiy rahimahullahu ta'åla  menjelaskan:*


يَعْنِي فِي الدُّنْيَا . وَقِيلَ : مِنْ هَمْز الشَّيْطَان كَمَا تَقَدَّمَ فِي " آل عِمْرَان " .


يَعْنِي فِي الْقَبْر


يَعْنِي فِي الْآخِرَة . لِأَنَّ لَهُ أَحْوَاله ثَلَاثَة فِي الدُّنْيَا حَيًّا , وَفِي الْقَبْر مَيِّتًا , وَفِي الْآخِرَة مَبْعُوثًا ; فَسَلِمَ فِي أَحْوَاله كُلّهَا وَهُوَ قَوْل الْكَلْبِيّ .

“[Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku] maksudnya keselamatan dari Allah kepadaku -Isa-. [pada hari aku dilahirkan] yaitu ketika di dunia (dari gangguan setan, ini pendapat sebagian ulama, sebagaimana di surat Al Imran). [pada hari aku meninggal] maksudnya di alam kubur. [dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali] maksudnya di akhirat. karena beliau pasti akan melewati tiga fase ini, yaitu hidup di dunia, mati di alam kubur, lalu dibangkitkan lagi menuju akhirat. Dan Allah memberikan keselamatan kepada beliau di semua fase ini, demikian yang dikemukakan oleh Al Kalbi”.
{Lihat Kitab Tafsir Jami Li Ahkamil Qur’an : juz 11 - hal 105. Karya Imam Al Qurthubiy Al Malikiy}.

*💐 Dalam Tafsir Al Jalalain  disebutkan:*

"وَالسَّلَام" مِنْ اللَّه "عَلَيَّ يَوْم وُلِدْت وَيَوْم أَمُوت وَيَوْم أُبْعَث حَيًّا" يُقَال فِيهِ مَا تَقَدَّمَ فِي السَّيِّد يَحْيَى

“[Dan keselamatan] dari Allah [semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali]”.
{Lihat Kitab Tafsir Jalalain : juz 1 - hal 399}.

*🌺 Imam Al Baghawi rahimahullaahu ta'åla menjelaskan:*

( والسلام علي يوم ولدت ) أي : السلامة عند الولادة من طعن الشيطان . ( ويوم أموت ) أي : عند الموت من الشرك ، ( ويوم أبعث حيا ) من الأهوال .

“[Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan] maksudnya keselamatan dari gangguan setan ketika beliau lahir. [pada hari aku meninggal] maksudnya keselamatan dari syirik ketika beliau wafat. [dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali] yaitu keselamatan dari rasa panik”.
{Lihat Kitab Tafsir Ma’alimut Tanzil Fi Tafsiril Qur’an : juz 5 - hal 231. Karya Imam Al Baghawiy}.

*🌿 Asy Syaikh As Sa’di hafidzahullaahu ta'ala menjelaskan:*

قال: " وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا " أي: من فضل ربي وكرمه, حصلت لي السلامة يوم ولادتي, ويوم بعثي - من الشر, والشيطان والعقوبة.
وذلك يقتضي سلامته من الأهوال, ودار الفجار, وأنه من أهل دار السلام.
فهذه معجزة عظيمة, وبرهان باهر, على أنه رسول الله, وعبد الله حقا.

“Maksudnya, atas karunia dan kemuliaan Rabb-nya, beliau dilimpahkan keselamatan pada hari dilahirkan, pada hari diwafatkan, pada hari dibangkitkan dari kejelekan, dari gangguan setan dan dari dosa. Ini berkonsekuensi beliau juga selamat dari kepanikan menghadapi kematian, selamat dari sumber kemaksiatan, dan beliau termasuk dalam daarus salam. Ini adalah mu’jizat yang agung dan bukti yang jelas bahwa beliau adalah Rasul Allah, hamba Allah yang sejati”.
{Lihat Kitab Tafir Kariimirrahman : juz 1 - hal 492. Karya Asy Syaikh AS Sa'di}.

*🌹🍒وقال الله تعالى في كتابه الكريم :*

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ ۖفَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ ۚوَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖإِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُسْتَقِيمٍ
{سورة الحج : ٠٢٢/ ٦٧}.

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari`at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.
{QS. Al Hajj : 022/ 67}.

*💐🍒 قال الامام ابن كثير الشافعي رحمه الله تعالى في تفسيره :*

قال الامام ابن جرير رحمه الله تعالى في تفسيره :*

يُخْبِر تَعَالَى أَنَّهُ جَعَلَ لِكُلِّ قَوْم مَنْسَكًا قَالَ اِبْن جَرِير يَعْنِي لِكُلِّ أُمَّة نَبِيّ مَنْسَكًا قَالَ : وَأَصْل الْمَنْسَك فِي كَلَام الْعَرَب هُوَ الْمَوْضِع الَّذِي يَعْتَادهُ الْإِنْسَان وَيَتَرَدَّد إِلَيْهِ إِمَّا لِخَيْرٍ أَوْ شَرّ قَالَ وَلِهَذَا سُمِّيَتْ مَنَاسِك الْحَجّ بِذَلِكَ لِتَرْدَادِ النَّاس إِلَيْهَا وَعُكُوفهمْ عَلَيْهَا فَإِنْ كَانَ كَمَا قَالَ مِنْ أَنَّ الْمُرَاد لِكُلِّ أُمَّة نَبِيّ جَعَلْنَا مَنْسَكًا فَيَكُون الْمُرَاد بِقَوْلِهِ " فَلَا يُنَازِعُنَّك فِي الْأَمْر " أَيْ هَؤُلَاءِ الْمُشْرِكُونَ وَإِنْ كَانَ الْمُرَاد " لِكُلِّ أُمَّة جَعَلْنَا مَنْسَكًا " جَعْلًا قَدَرِيًّا كَمَا قَالَ " وَلِكُلٍّ وِجْهَة هُوَ مُوَلِّيهَا " وَلِهَذَا قَالَ هَهُنَا " هُمْ نَاسِكُوهُ " أَيْ فَاعِلُوهُ فَالضَّمِير هَهُنَا عَائِد عَلَى هَؤُلَاءِ الَّذِينَ لَهُمْ مَنَاسِك وَطَرَائِق أَيْ هَؤُلَاءِ إِنَّمَا يَفْعَلُونَ هَذَا نْ قَدَر اللَّه وَإِرَادَته فَلَا تَتَأَثَّر بِمُنَازَعَتِهِمْ لَك وَلَا يَصْرِفك ذَلِكَ عَمَّا أَنْتَ عَلَيْهِ مِنْ الْحَقّ وَلِهَذَا قَالَ " وَادْعُ إِلَى رَبّك إِنَّك لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيم " أَيْ طَرِيق وَاضِح مُسْتَقِيم مُوَصِّل إِلَى الْمَقْصُود
{انظر كتاب تفسير ابن كثير / تفسير سورة الحاج : ٠٢٢ أية ٦٧ / للامام ابن جرير}.

*🌺💥 Berkata Imam Ibnu Katsir Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'åla :*

Ibnu Jarir mengatakan bahwa asal kata mansak menurut istilah bahasa artinya tempat yang biasa didatangi oleh manusia yang ia selalu bolak-balik kepadanya, adakalanya untuk tujuan baik atau tujuan buruk. Karena itulah manasik haji dinamakan dengan memakai kata ini, mengingat banyak manusia yang berdatangan kepada­nya dan bermukim padanya.
Jika makna ayat ini seperti yang dikatakan oleh Ibnu Jarir *—yaitu bahwa bagi umat tiap-tiap nabi Kami ditetapkan syariat tertentu*— berarti makna yang dimaksud oleh firman-Nya:

{فَلا يُنَازِعُنَّكَ فِي الأمْرِ}

maka janganlah mereka sekali-kali membantah kamu dalam urusan (syariat) ini. (Al-Hajj: 67 )
ditujukan kepada orang-orang musyrik. Dan jika makna yang dimaksud ialah bagi tiap-tiap umat Kami tetapkan syariat tertentu dengan ketetapan secara takdir, berarti maknanya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا}

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. (Al-Baqarah: 148)
Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

{هُمْ نَاسِكُوهُ}

yang mereka lakukan. (Al-Hajj: 67)

Damir hum yang ada dalam ayat ini kembali kepada mereka yang mempunyai syariat-syariat dan tuntunan-tuntunan lain. Dengan kata lain, mereka melakukan hal itu hanyalah berdasarkan takdir Allah dan kehendak-Nya. Maka jangan kamu terpengaruh oleh sikap mereka yang menentang kamu, jangan pula hal itu memalingkan kamu dari kebenaran yang kamu sampaikan. Maka dari itu, dalam firman selanjutnya di­sebutkan:

{وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ}

dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. (Al-Hajj: 67)
Yakni jalan yang jelas lagi lurus menghantarkan kepada tujuan.
{Lihat Tafsir Ibnu Katsir / Tafsir Surat Al Hajj : 022/67}.



*Ì)• þÈñÐÄþÄT ¥ÄñG MÈñGHÄRÄMKÄñ ÚÇÄþÄñ §ÈLÄMÄT ñÄTÄL*

🌹🌿 Khalifah Umar bin Khathab radliyyAllaahu 'anhu melarang mendekati perayaan - perayaan yang dilakukan oleh musuh - musuh Allah. Hal ini dijelaskan dalam sebuah riwayat :

أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ الْفَارِسِيُّ ، أنا أَبُو إِسْحَاقَ الأَصْبَهَانِيُّ , نا أَبُو أَحْمَدَ بْنُ فَارِسٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْبُخَارِيُّ , قَالَ ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ : نا نَافِعُ بْنُ يَزِيدَ , سَمِعَ سُلَيْمَانَ بْنَ أَبِي زَيْنَبَ , وَعَمْرَو بْنَ الْحَارِثِ , سَمِعَ سَعِيدَ بْنَ أَبِي سَلَمَةَ , سَمِعَ أَبَاهُ , سَمِعَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , أَنَّهُ قَالَ :

*_" اجْتَنِبُوا أَعْدَاءَ اللَّهِ ؛ الْيَهُودَ , وَالنَّصَارَى ، فِي عِيدِهِمْ يَوْمَ جَمْعِهِمْ , فَإِنَّ السَّخَطَ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ , فَأَخْشَى أَنْ يُصِيبَكُمْ , وَلا تَعْلَمُوا بِطَانَتَهُمْ فَتَخَلَّقُوا بِخُلُقِهِمْ " ._*
{رواه البيهقي في شعب الإيمان / السَّادِسُ وَالسِّتُّونَ مِنْ شُعَبِ الإِيمَانِ وَهُوَ ...
فَصْلٌ : وَمِنْ هَذَا الْبَابِ مُجَانَبَةُ الظَّلَمَةِ / رقم الحديث : ٨٧٦٩}.

Telah mengabarkan kepada kami : Abu Bakr Al Farisiy. Telah menceritakan kepada kami : Abu Ishaq Al Ashbahaaniy. Telah menceritakan kepada kami : Abu Ahmad bin Faaris. Telah menceritakan kepada kami : Mùhammad bin Ismaa'il Al Bukhoriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami : Ibnu Abi Maryam. Telah menceritakan kepada kami : Naafi' bin Yaziid, ia telah mendengar Sulaiman bin Abi Zainab, dan 'Amru bin Al Haarits, ia telah mendengar Sa'iid bin Abi Salamah, ia telah mendengar bapaknya, ia telah mendengar 'Umar bin Al-Khaththaab radhiyyAllaahu 'anhu berpesan :

*_"Jauhilah musuh-musuh Allah ; yaitu kaum Yahudi dan Nashara dalam perayaan 'Ied mereka saat hari berkumpulnya mereka, karena sesungguhnya kemurkaan Allah turun atas kaum tersebut. Oleh karenanya aku khawatir kalian tertimpa murka Allah. Dan janganlah kalian mengenal kalangan orang kepercayaan mereka karena kalian akan terpengaruh tabiat mereka."_*
{HR. Baihaqiy Dalam Kitabnya Syu'abul Iman : juz - hal / As Saaditsu Wa As Sittuun Min Syu'abul Al Iiman Wahuwa ... / Fashlun : Wa Min Hadza Al Baabi Mujaanabatu Adz Dzulmati / No. 8769}.


🍒🎄Begitu juga putranya, yaitu Sahabat ’Abdullâh bin ’Umar RadliyyAllaahu 'anhuma. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat :
    
أَخْبَرَنَا أَبُو طَاهِرٍ الْفَقِيهُ ، أنبأ أَبُو بَكْرٍ الْقَطَّانُ ، قال حدثنا أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ ، قال حدثنا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ ، قَالَ : ذَكَرَ سُفْيَانُ عَنْ عَوْفٍ ، عَنِ الْوَلِيدِ أَوْ أَبِي الْوَلِيدِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرو ، قَالَ :

*_«مَنْ بَنَى بِبِلَادِ الْأَعَاجِمِ وَصَنَعَ نَيْرُوزَهُمْ وَمِهْرَجَانَهُمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ حَتَّى يَمُوتَ وَهُوَ كَذَلِكَ حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»_*.

 قَالَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ رَحِمَهُ اللَّهُ : قَالَ الشَّيْخُ أَبُو سُلَيْمَانَ رَحِمَهُ اللَّهُ : بَنَى هُوَ الصَّوَابُ
{رواه البيهقي في السنن الكبير / كِتَابُ الْجِزْيَةِ / جِمَاعُ أَبْوَابِ الشَّرَائِطِ الَّتِي يَأْخُذُهَا الْإِمَامُ عَلَى أَهْلِ الذِّمَّةِ , وَمَا / بَابُ كَرَاهِيَةِ الدُّخُولِ عَلَى أَهْلِ الذِّمَّةِ فِي كَنَائِسِهِمْ وَالتَّشَبُّهِ بِهِمْ يَوْمَ نَيْرُوزِهِمْ وَمِهْرَجَانِهِمْ / رقم الحديث : ١٧٣٠٦}.

Telah mengabarkan kepada kami Abu Thahir Al Faqih. Telah menceritakan kepada kami : Abu Bakar Al Qaththan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami : Ahmad bin Yusuf, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami : Muhammad bin Yusuf, ia berkata : Sufyan telah menyebutkan dari 'Auf. Dari Al Walid atau Abu Al Walid. Dari 'Abdillah bin 'Amr, beliau berkata : 

*_”Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kâfir, meramaikan peringatan hari raya nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”_*
{HR. Baihaqi  Dalam Kitabnya As Sunan Al Kabir / Kitab Al Jizyati / Jimaa'u Abwaabu Asy Syaraaithi Allati Ya'khudzuhaa Al Imaamu 'Alaa Ahli Adz Dzimati / Baabu Karahiyyati Ad Dukhuuli 'Alaa Ahli Adz Dzimmah ... / No. 17306}.


*🌺ą• мєńúгút їмąм ąßú ђąńїŦąђ*

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتٍ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ 💐 :

*_«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»_*.
{رواه ابو داود / ٣١ - كتاب اللباس / باب في لبس الشهرة /  رقم الحديث : ٤٠٣١. [حكم الالبانى] الوهابي : حسن صحيح حجاب المرأة (١٠٤) ، الإرواء (١٢٦٩)}.

🌺🍒 Pendapat al-'Allamah Mulla Ali al-Qariy al-Hindiy al-Hanafiy,  sebagaimana dikutip oleh al-'Alaamah Abu Thayyib Muhammad Syams al-Haq al-Adzim Abadi dalam kitabnya  Aunu al-Ma'bud, dalam menjelaskan hadits diatas tentang tasyabbuh:

*🌺🎄 قال العلامة ابو طيب محمد شمس الحق العظيم آبادي رحمه الله تعالى في كتابه " عون المعبود شرح سنن ابي داود ":*

وَقَالَ الْقَارِي : أَيْ مَنْ شَبَّهَ نَفْسه بِالْكُفَّارِ مَثَلا مِنْ اللِّبَاس وَغَيْره , أَوْ بِالْفُسَّاقِ أَوْ الْفُجَّار أَوْ بِأَهْلِ التَّصَوُّف وَالصُّلَحَاء الأَبْرَار ( فَهُوَ مِنْهُمْ ) : أَيْ فِي الإِثْم وَالْخَيْر .
{انظر كتاب عون المعبود شرح سنن ابي داود : ج ١١ - ص ٧٤ / ٣١ - كتاب اللباس / باب في لبس الشهرة / رقم الحديث : ٤٠٣١. وحكم الألباني الوهابي : حسن صحيح}.

*💐🎄 Berkata  al-'Alaamah Abu Thayyib Muhammad Syams al-Haq al-Adzim Abadi dalam kitabnya "  Aunu al-Ma'bud Syarhu Abi Dawud ":*

_Al-Qori berkata: "Maksudnya barangsiapa dirinya menyerupai orang kafir seperti pada pakaiannya atau lainnya atau (menyerupai) dengan orang fasik, pelaku dosa serta orang ahli tashawwuf dan orang saleh dan baik (maka dia termasuk di dalamnya) yakni dalam mendapatkan dosa atau kebaikan."_
{Lihat Kitab 'Aunu Al Ma'bud Syarhu Sunan Abi Dawud : juz 11 - hal 74 / 31 - Kitabu Al Libaasi / Baabu Fi Lubsi Asy Syahrah / No. 4031. Al Albaniy Tokoh Wahhabi Menghukuminya : *HASAN SHAHIH*}.

*🍒💥ومن كلام أهل العلم في ذلك ما ذكره صاحب الدر المختار     عَلَاء الدِّين الحَصْكَفي (مولده ووفاته سنة : ١٠٢٥ - ١٠٨٨ هـ = ١٦١٦ - ١٦٧٧ مـ ، وهو مفتي الحنفية في دمشق ،  مولده ووفاته فيها).  وابن عابدين الحنفي  في حاشيتها رحمهما الله تعالى :*

*🌺 قال الامام علاء الدين الحصكفي الحنفي :*

(وَإِنْ قَصَدَ تَعْظِيمَهُ) كَمَا يُعَظِّمُهُ الْمُشْرِكُونَ (يَكْفُرُ).

*💐 قال الامام ابن عابدين الحنفي :*

[(وَالْإِعْطَاءُ بِاسْمِ النَّيْرُوزِ وَالْمِهْرَجَانِ لَا يَجُوزُ) أَيْ الْهَدَايَا بِاسْمِ هَذَيْنِ الْيَوْمَيْنِ حَرَامٌ (وَإِنْ قَصَدَ تَعْظِيمَهُ) كَمَا يُعَظِّمُهُ الْمُشْرِكُونَ (يَكْفُرُ) قَالَ أَبُو حَفْصٍ الْكَبِيرُ: لَوْ أَنَّ رَجُلًا عَبَدَ اللَّهَ خَمْسِينَ سَنَةً ثُمَّ أَهْدَى لِمُشْرِكٍ يَوْمَ النَّيْرُوزِ بَيْضَةً يُرِيدُ تَعْظِيمَ الْيَوْمِ فَقَدْ كَفَرَ وَحَبِطَ عَمَلُهُ اهـ

وَلَوْ أَهْدَى لِمُسْلِمٍ وَلَمْ يُرِدْ تَعْظِيمَ الْيَوْمِ بَلْ جَرَى عَلَى عَادَةِ النَّاسِ لَا يَكْفُرُ وَيَنْبَغِي أَنْ يَفْعَلَهُ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ نَفْيًا لِلشُّبْهَةِ.]
{انظر كتاب الدر المختار : ج ٦ - ص ٧٥٤. للامام علاء الدين الحصكفي الحنفي وانظر حاشيتها للامام ابن عابدين الحنفي}

*🌺🎄Di antara perkataan para ulama dalam masalah ini adalah perkataan penulis kitab al Durr al Mukhtar yaitu ‘Ala-uddin al Hashkafi al Hanafiy. Dan lihat Hasyiyyahnya karya Imam Ibnu 'Abidiin Al Hanafiy :*

*💐 Imam Fakhruddin Az Zaila'iy Al Hanafiy rahimahullaahu ta'ala berkata dalam Kitabnya " Ad Durru Al Mukhtar ":*

(Dan apabila menyengaja mengagungkannya) seperti òrång - òrång musyrik meagungkannya (maka ia telah kafir).

*🌺 Imam Ibnu 'Abidin Al Hanafiy Rahimahullaahu ta'åla berkata dalam kitabnya " Al Raddu Al Muhtar 'Alaa Al Durru Al Mukhtar / Hasyiyyah Ibnu 'Abidin ":*

 “Memberi sesuatu dengan atas nama sesuatu yang diagungkan oleh orang-orang musyrik itu merupakan perbuatan kekafiran”.

Hafs Al-Kabir berkata: Apabila seorang muslim yang menyembah Allah selama 50 tahun lalu datang pada Hari Niruz (tahun baru kaum Parsi dan Kurdi pra Islam - red) dan memberi hadiah telur pada sebagian orang musyrik dengan tujuan untuk mengagungkan hari itu, maka dia kafir dan terhapus amalnya. Berkata penulis kitab Al-Jamik Al-Asghar: Apabila memberi hadiah kepada sesama muslim dan tidak bermaksud mengagungkan hari itu tetapi karena menjadi tradisi sebagian manusia maka tidak kafir akan tetapi sebaiknya tidak melakukan itu pada hari itu secara khusus dan melakukannya sebelum atau setelahnya supaya tidak menyerupai dengan kaum tersebut. Nabi bersabda: "Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka." Penulis kitab Al-Jami' Al-Asghar berkata: Seorang lelaki yang membeli sesuatu yang dibeli orang kafir pada hari Niruz dia tidak membelinya sebelum itu maka apabila ia melakukan itu ingin mengagungkan hari itu sebagaimana orang kafir maka ia kafir. Apabila berniat untuk makan minum dan bersenang-senang saja tidak kafir.
{Lihat Kitab Ad Durru Al Mukhtar : juz 6 - hal 754. Karya Al 'Alaamah 'Alaa`uddin Al Hashkafiy Al Hanafiy. Dan Lihat Hasyiyyahnya Karya Imam Ibnu 'Abidin Al Hanafiy}.


*🍒🌿 ذكر في الكتاب الفتاوى الهندية أو الفتاوى العالمكيرية كتاب في الفقه الحنفي على مذهب الإمام أبي حنيفة النعمان , تأليف :  جماعة من علماء الهند برئاسة الشيخ نظام الدين البرنهابوري. تم تأليفه بأمر السلطان أورنك زيب الملقب باسم عالم كير :*

وقال صَاحِبُ الْجَامِعِ الْأَصْغَرِ : إذَا أَهْدَى يوم النَّيْرُوزِ إلَى مُسْلِمٍ آخَرَ ولم يُرِدْ بِهِ تَعْظِيمَ ذلك الْيَوْمِ وَلَكِنْ جَرَى على ما اعْتَادَهُ بَعْضُ الناس لَا يَكْفُرُ ,

وَلَكِنْ يَنْبَغِي له أَنْ لَا يَفْعَلَ ذلك الْيَوْمَ خَاصَّةً وَيَفْعَلَهُ قَبْلَهُ أو بَعْدَهُ كَيْ لَا يَكُونَ تَشَبُّهًا بِأُولَئِكَ الْقَوْمِ.
{انظر كتاب الفتاوى الهندية أو الفتاوى العالمكيرية كتاب في الفقه الحنفي : ج ٦ - ص ٤٤٦، تأليف:  جماعة من علماء الهند برئاسة الشيخ نظام الدين البرنهابوري. تم تأليفه بأمر السلطان أورنك زيب الملقب باسم عالم كير}.

*🌿🍒 Telah disebutkan dalam kitab himpunan " Al Fatawa Al Hindiyyah " kitab fiqih madzhab Hanafi, yang ditulis oleh Jama'ah Ulama' India pimpinan Syaikh Nidzomudiin Al Burnahaaburiy :*

Penulis kitab Al-Jami' Al-Asghar berkata:

"Seorang muslim  yang menghadiahkan  sesuatu kepada muslim yang lain di hari Niruz, dan dia tidak berkehendak/bermaksud  mengagungkan hari itu, akan tetapi hanya sekedar menjalankan adat tradisi yang sudah biasa dilakukan diantara banyak orang,  *_maka dia terhitung tidak melakukan kekafiran_*,

Akan tetapi seyogyanya alangkah baiknya dia tidak memberlakukan hari itu secara khushush , dan seyogyanya  melakukannya  sebelum atau sesudahnya
, supaya tidak ada kesan tasyabbuh/menyerupai perilaku kaum tersebut."
{Lihat Kitab Al Fatawa Al Hindiyyah Fi Fiqhi Al Hanafiyah : juz 6 - 446. Disusun Oleh Jama'ah Ulama' India Pimpinan Syaikh Nidzomudiin Al Burnahaaburiy}.

*🌺🌿وذكر في البحر الرائق شرح كنز الدقائق للامام زين الدين بن إبراهيم بن محمد، المعروف بابن نجيم المصري (المتوفى: 970هـ)، رحمه الله تعالى :*

“أن من أهدى بيضةً في أعياد المشركين تعظيماً للعيد كفر بالله جلَّ وعلا ”
{انظر كتاب البحر الرائق شرح كنز الدقائق : ج ٨ - ص ٥٥. للامام زين الدين بن إبراهيم بن محمد، المعروف بابن نجيم المصري الحنفي}.

*🍒🌴 Berkata Imam Ibnu Nujaim Al Hanafiy Rahimahullaahu ta'ala " Al Bahru Al Raaiq Syarhu Kanzu Ad Daqaaiq ":*

"Siapa yang menghadiahkan sebutir telur kepada seseorang pada hari raya orang musyrik karena mengagungkan hari raya orang kafir maka dia telah kafir kepada Allah”.
{Lihat Kitab " Al Bahru Al Raaiq Syarhu Kanzu Ad Daqaaiq " : juz 8 - hal 55. Karya Ibnu Nujaim Al Hanafiy}.

*🌿💥 قأل الامام فخر الدين الزيلعي الحنفي رحمه الله تعالى في كتابه " تليين الحقاىٔق على شرح كنز الدقاىٔق ":*

(وَالْإِعْطَاءُ بِاسْمِ النَّيْرُوزِ وَالْمِهْرَجَانِ لَا يَجُوزُ) أَيْ الْهَدَايَا بِاسْمِ هَذَيْنِ الْيَوْمَيْنِ حَرَامٌ (وَإِنْ قَصَدَ تَعْظِيمَهُ) كَمَا يُعَظِّمُهُ الْمُشْرِكُونَ (يَكْفُرُ) قَالَ أَبُو حَفْصٍ الْكَبِيرُ: لَوْ أَنَّ رَجُلًا عَبَدَ اللَّهَ خَمْسِينَ سَنَةً ثُمَّ أَهْدَى لِمُشْرِكٍ يَوْمَ النَّيْرُوزِ بَيْضَةً يُرِيدُ تَعْظِيمَ الْيَوْمِ فَقَدْ كَفَرَ وَحَبِطَ عَمَلُهُ اهـ .
{انظر كتاب تبيين الحقائق شرح كنز الدقائق وحاشية الشِّلْبِيِّ : ج - ص لشيخ   عثمان بن علي بن محجن البارعي، فخر الدين الزيلعي الحنفي (المتوفى: 743 هـ) الحاشية: شهاب الدين أحمد بن محمد بن أحمد بن يونس بن إسماعيل بن يونس الشِّلْبِيُّ (المتوفى: 1021 هـ) الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية - بولاق، القاهرة}.

*🌿💥 Imam Fakhruddin Az-Zaila’iy Al Hanafiy  rahimahullahu ta'ala  mengatakan dalam Kitabnya " Tabyiinu Al Haqaa'iq ":*

“(Hadiah dengan nama Nairuz dan Mihrajan, hukumnya tidak boleh). Maksudnya, hadiah dalam rangka memeriahkan dua hari ini hukumnya haram bahkan kekafiran. Abu Hafs Al-Kabir mengatakan,

‘Jika ada orang  yang beribadah kepada Allah selama 50 tahun. Kemudian dia datang  pada hari Nairuz, dan memberikan hadiah telur kepada orang  musyrik, dalam rangka memeriahkan dan  mengagungkan hari raya itu maka dia telah murtad dan amalnya terhapus.”
{Lihat Kitab Tabyin Al-Haqaa'iq : juz  6 - hal 228. Karya Imam Az Zaila'iy Al Hanafiy}.

*🌹💥وذكر صاحب عون المعبود العلامة ابو طيّب محمد شمس الحق العظيم آبادي رحمه الله تعالى :*

” عن القاضي أبي المحاسن الحسن بن منصور الحنفي أن من اشترى فيه شيئاً لم يكن يشتريه في غيره أو أهدى فيه هدية فإن أراد بذلك تعظيم اليوم كما يعظمه الكفره فقد كفر وإن أراد بالشراء التنعم والتنزه وفي الإهداء التحاب جرياً على العادة لم يكن كفراً لكنه كان مكروه كراه التشبه بالكفرة فحينئذٍ يحترز عنه”
{انظر كتاب عون المعبود شرح سنن ابي داود : ج ٣ - ص ٣٤١. للعلامة ابو طيب محمد شمس الحق العظيم آبادي}.

*🍒🌿Penulis kitab ‘Aun al Ma’bud Syarhu Sunan Abi Dawud menyebutkan dari “al Qadhi Abul Mahasin al Hasan bin Manshur al Hanafiy :*

"Bahwa siapa saja yang pada saat hari raya orang kafir membeli sesuatu yang biasanya tidak dia beli di hari-hari yang lain atau memberikan hadiah pada hari tersebut maka jika maksudnya dengan hal tersebut adalah mengagungkan hari raya orang kafir sebagaimana pengagungan orang-orang kafir maka dia menjadi kafir karenanya.

Namun jika maksudnya dengan membeli barang tersebut pada waktu itu adalah ingin mengambil manfaat barang tersebut dan maksud hatinya dengan memberi hadiah adalah mewujudkan rasa cinta sebagaimana biasanya maka tidak kafir akan tetapi terlarang karena menyerupai orang kafir. Karenanya hal ini harus dijauhi”.
{Lihat Kitab 'Aunu Al Ma'bud Syarhu Sunan Abi Dawud : juz 3 - hal 341. Karya Al 'Alaamah Abu Thayyib Muhammad Syamsu Al Haq Al 'Adzim Abaadiy}.



*🌹ß• мєńúгút їмąм мąlїк.*

*🎭🍒 قال الامام ابن الحاج المالكي رحمه الله تعالى في كتابه " المدخل ":*

وَمِنْ مُخْتَصَرِ الْوَاضِحَةِ: سُئِلَ ابْنُ الْقَاسِمِ عَنْ الرُّكُوبِ فِي السُّفُنِ الَّتِي يَرْكَبُ فِيهَا النَّصَارَى لِأَعْيَادِهِمْ؟ فَكَرِهَ ذَلِكَ مَخَافَةَ نُزُولِ السُّخْطِعَلَيْهِمْ لِكُفْرِهِمْ الَّذِي اجْتَمَعُوا لَهُ.

قَالَ: وَكَرِهَ ابْنُ الْقَاسِم ِلِلْمُسْلِمِ أَنْ يُهْدِيَ إلَى النَّصْرَانِيِّ فِي عِيدِهِ مُكَافَأَةً لَهُ.وَرَآهُ مِنْ تَعْظِيمِ عِيدِهِ وَعَوْنًا لَهُ عَلَى مَصْلَحَةِ كُفْرِهِ.

أَلَا تَرَى أَنَّهُ لَا يَحِلُّ لِلْمُسْلِمِينَ أَنْ يَبِيعُوا لِلنَّصَارَى شَيْئًا مِنْ مَصْلَحَةِ عِيدِهِمْ لَا لَحْمًا وَلَا إدَامًا وَلَا ثَوْبًا وَلَا يُعَارُونَ دَابَّةً وَلَا يُعَانُونَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ دِينِهِمْ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ مِنْ التَّعْظِيمِ لِشِرْكِهِمْ وَعَوْنِهِمْ عَلَى كُفْرِهِمْ ,

وَيَنْبَغِي لِلسَّلَاطِينِ أَنْ يَنْهَوْا الْمُسْلِمِينَ عَنْ ذَلِكَ، وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَغَيْرِهِ لَمْ أَعْلَمْ أَحَدًا اخْتَلَفَ فِي ذَلِكَ انْتَهَى.
{انظر كتاب المدخل : ج ٢ - ص ٤٦-٤٨. للامام ابن الحاج المالكي}.

*✏ Imam Ibnul Haj Al-Maliki rahimahullahu​ ta'ala dalam kitabnya " Al-Madkhal " menyatakan:*

"Ibnu Qasim (sahabat Imam Malik) ditanya soal menaiki perahu yang dinaiki kaum Nasrani pada hari raya mereka?

Ibnu Qasim (sahabat Imam Malik) *_tidak menyukai (memakruhkan)_* hal itu karena takut turunnya kebencian pada mereka karena mereka berkumpul karena kekufuran mereka. Ibnu Qasim juga tidak menyukai seorang muslim memberi hadiah pada Nasrani pada hari rayanya sebagai hadiah. Ia melihat hal itu termasuk mengagungkan hari rayanya dan menolong kemaslahatan kufurnya.

Tidakkah engkau tahu bahwa tidak halal bagi muslim membelikan sesuatu untuk kaum Nasrani untuk kemaslahatan hari raya mereka baik berupa daging, baju; tidak meminjamkan kendaraan dan tidak menolong apapun dari agama mereka karena hal itu termasuk mengagungkan kesyirikan mereka dan menolong kekafiran mereka.

Dan hendaknya penguasa melarang umat Islam melakukan hal itu. *_Ini pendapat Malik dan lainnya._* Saya tidak tahu pendapat yang berbeda.
{Lihat Kitab Al Madkhal : juz 2 hal 46 - 48. Karya Imam​ Ibnu Al Hajj Al Malikiy}.

*🌺💥قال الفقيه الكبير عالمُ الأندلس عبد الملك بن حبيب القرطبيّ - رحمه الله - (ت:  238هـ) في مِثْلِ العطايا والِهبَات لأجل أعياد النَّصارى كالنّيروز والمهرجان:*

«لا يجوزُ لمَنْ فَعَلَهُ، ولا يَحِلُّ لِمَنْ قَبِلَهُ؛ لأنَّهُ مِنْ تَعْظِيمِ الشِّرْكِ».
{انظر كتاب البيان والتّحصيل : ج ٨ - ص  ٤٥٤. للامام ابن رشد المالكي}.

*💐🌹 Berkata Al Faqih Al Kabir 'Alimu Al Andalusiy 'Abdul Malik bin Habib Al Qurthubiy Rahimahullaahu ta'ala (w. 238 H), dalam contoh pemberian dan hibbah untuk tujuan Pêråyåân kaum Nasrani seperti Pêråyåân Nairuz (tahu baru) dan Mihrojaan (hari kelahiran Nabi Yahya):*

"Tidak boleh seseorang melakukannya, dan haram bagi orang yang menerimanya, karena hal itu (memberi atau menerima pemberian kaum Nasrani) termasuk mengagungkan kemusyrikan."
{Lihat Kitab Ål Bayaan Wa At Tahshiil : juz 8 - hal 454. Karya Imam Ibnu Rusyd Al Malikiy}.

*🍒🎄قال شيخ الاسلام ابن تيمية الحنبلي رحمه الله تعالى في فتاويه وكتابه " الاقثضاء ":*

وقال عبدالملك بن حبيب من فقهاء المالكية :

"وأكل ذبائح أعيادهم داخل في هذا الذي اجتمع على كراهيته ، بل هو عندي أشد “.
{انظر فتاوى ابن تيمية : ج ٢٥ - ٣٢٦ /  الفقه    / كتاب الصيام    / طوائف من المسلمين يفعلون أشياء من منكرات دين النصارى | والاقتضاء له : ج ٢ - ص ٥٢٤}.

*💐💥Syaikhu Al Islam Ibnu Taimiyyah membawakan perkataan Imam Abdul Malik bin Habib Al Malikiy dalam fatwa dan kitabnya " Al Iqtidloo' ":*

Dan Abdul Malik bin Habib Ahli Fiqih Madzhab Imam Malik berkata :

" Dan memakan sembelihan - sembelihan (yang   dihidangkan atau diberikan) dalam rangka hari raya (Pêråyåân - Pêråyåân) mereka masuk dalam kategori ini, yaitu yang telah disepakati akan kemakruhan ya, sebaliknya menurutku hal itu lebih berat."
{Lihat Kitab Fatawa Ibnu Taimiyyah : juz 25 - hal 326 / Al Fiqhu / Kitabu Ash Shiyaami / Thowaaifun Min Al Muslimiina Yaf'aluuna  Asyya'a Min Munkarooti Disini An Nashooro | Dan Lihat Kitab Beliau " Al Iqtidloo' : juz 2 - 524}.

*🍒💐ونقل شيخ الإسلام عن عبد الملك بن حبيب :*

" أن الإمام مالك رحمه الله كره وحرم الأكل من ذبائح أعياد المشركين من النصارى وغيرهم .

*💐💥Syaikhu Al Islam Ibnu Taimiyyah membawakan perkataan Abdul Malik bin Habib (Al Malikiy) :*

"Bahwa Imam Malik membenci dan mengharamkan memakan sembelihan dalam rangka hari raya orang musyrik baik Nasrani ataupun yang lainnya.
{Lihat Kitab Al Iqtidloo'u Ash Shirooti Al Mustaqimi. Karya Ibnu Taimiyah Al Hanbaliy}.

*🌺🎭وقال الامام محمد بن يوسف بن أبي القاسم بن يوسف العبدري الغرناطي، أبو عبد الله المواق المالكي (المتوفى: 897هـ) رحمه الله تعالى في كتابه "  التاج والإكليل لمختصر خليل ":*

" وكره ابن القاسم أن يهدي للنصراني في عيده مكافأة له ، ونحوه إعطاء اليهودي ورق النخيل لعيده " انتهى .
{انظر كتاب التاج والإكليل لمختصر خليل : ج ٤ - ص ٣١٩. للامام محمد بن يوسف بن أبي القاسم بن يوسف العبدري الغرناطي، أبو عبد الله المواق المالكي}.

*🌹🌴 Berkata Imam Abu 'Abdillah Al Mawaaq Al Malikiy dalam kitabnya " Al Taaju Wa Al Ikliilu Li Mukhtashor Kholiil ":*

Ibnu Qasim *_menyatakan makruh_* memberi hadiah kepada seorang Nashrani pada hari rayanya sebagai hadiah baginya, *_begitu pula makruh_* memberi hadiah kepada Yahudi berupa daun korma pada hari rayanya.'
{Lihat Kitab Al Taaju Wa Al Ikliilu Li Mukhtashor Kholiil : juz 4 - hal 319. Karya Imam Abu 'Abdillah Al Mawaaq Al Malikiy}.


*🍒💥ونقل شيخ الاسلام ابن تيمية الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه " الاقتضاء " مختصرا :*

* عن ابن القاسم النهي عن مشاركة المشركين في الركوب في السفن التي توصل إلى عيدهم أو أن يعانوا بأي أنواع المعونة وأنه قول مالك” إنتهى مختصراً
{انظر هذا الاقثصار في كتاب “الإقتضاء” . للامام ابن تيمية الحنبلي}.

*💥🎭 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy rahimahullahu ta'åla juga mengutip dari  perkataan Ibnul Qosim dalam kitabnya " Al Iqtidloo'  " yang ditulis secara ringkas :* Tentang larangan  seorang muslim bersama satu kapal dengan orang-orang musyrik yang akan mengantarkan mereka ke tempat perayaan hari raya mereka. Demikian pula seorang muslim dilarang memberikan bantuan apapun untuk kegiatan hari raya orang musyrik ... Kata Ibnul Qosim hal ini adalah pendapat Imam Malik.
{Kutipan dari kitab al Iqtidha karya Imam Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy dengan sedikit peringkasan}.


*🌹🌺 قال الامام السيد الشريف علوي بن عباس المالكي الحسني رحمه الله تعالى في كتابه " مجموع فتاوى ورساىٔل ":*

وأما ما كان خاصا بالكفار وزيا من أزيائهم التى جعلوها علامة لهم كلبس برنيطة وشد زنار وطرطور يهودي وغير ذلك فمن لبسه من االمسلمين رضا بهم وتهاونا باالدين وميلا للكافرين فهو كفر وردة والعياذ بالله ومن لبسه استخفافا بهم واستحسانا للزي دون دين الكفر فهو اثم قريب من المحرم

واما من لبسه ضرورة كأسير عند الكفار ومضطر للبس ذلك فلا بأس به وكمن لبسه وهو لا يعلم انه زي خاص بالكفار وعلامة عليهم أصلا لكن اذا علم ذلك وجب خلعه وتركه وأما ما كان من الألبسة التى لا تختص بالكفار وليس علامة عليهم اصلا بل هو من الألبسة العامة المشتركة بيننا وبينهم فلا شيء فى لبسه بل هو حلال جائز وقال العز ابن عبد السلام واماما فعلوا على وفق الإيجاب والندب والإباحة فى شرعنا فلايترك لأجل تعاطيهم إياه فإن الشرع لاينهى عنه على التشبه بما أذن الله.
{انظر كتاب مجموع فتاوى ورسائل ص : ١٨٣. للامام السيد الشريف علوي بن عباس المالكي الحسني}.

*🌹🌺Pendapat Sayid Alwi bin "Abbas  Al Malikiy Al Hasaniy dalam kitabnya " Majmu' Fatawa Wa Rasaa'il " :*

“Adapun apa-apa yang terkhusus bagi orang-orang kafir dan pakaian-pakaian mereka, yang mereka jadikan identitas bagi mereka, seperti memakai beret (topi khusus yahudi), mengikat sabuk nasrani, thur thur (sejenis topi) yahudi, dan lain sebagainya, maka barang siapa dari kaum muslimin memakainya karena ridla dengan mereka, karena merendahkan agama islam, dan karena condong kepada orang-orang kafir, maka ia telah kafir dan murtad. Wal iyadz billah…

Sedang barang siapa memakainya dengan menganggap enteng orang-orang kafir (maksudnya, ia masih menganggap Islam lebih tinggi daripada kafir), dan karena menganggap bagus pakaian tersebut tidak dengan agama kufur mereka maka perbuatan itu dosa yang dekat dengan haram *_(yakni perbuatan tersebut haram namun tidak sampai kufur)_*

Adapun orang yang memakainya karena terpaksa, seperti tawanan orang kafir dan terpaksa memakainya maka tidak apa-apa. Begitu juga orang yang memakainya sedang ia tak tahu sama sekali kalau itu pakaian khusus mereka dan merupakan identitas mereka. Tetapi ketika ia mengetahuinya maka ia wajib mencopot dan meninggalkannya.

Adapun pakaian yang tidak terkhusus bagi orang kafir dan sama sekali bukan merupakan identitas bagi mereka, tetapi merupakan pakaian umum yang dipakai bersama oleh kita dan mereka, maka tidak ada dosa dalam memakainya, bahkan ia halal dan jaiz. Ibnu Abdis-Salam berkata; Adapun jika perkara yang mereka (kafir) lakukan mencocoki dengan hukum wajib, sunnah, atau ibahah, maka tidak ditinggalkan karena alasan mereka melakukannya. Dikarenakan Syara’ tidak melarang Tasyabbuh dalam hal-hal yang diijinkan Allah.”
{Lihat Kitab Majmu' Fatawa Wa Rasaa'il : hal 183. Karya Imam Sayyid Syarif Alwi Al Malikiy Al Hasaniy}.


*🍒ς• мєńúгút їмąм śąŦї'ї¥.*

*🌺💥 قال الامام ابن حجر الهيثمي المكي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " الإعلام بقواطع الاسلام ":*

اَلرِّضَا بِالْكُفْرِ كُفْرٌ وَلَوْ ضِمْنًا
{انظر كتاب الإعلام بقواطع الإسلام ص : ١٣٣. للامام ابن حجر الهيثمي المكي الشافعي}.

*🌺💥Al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami, menyampaikan *_kaedah baku dalam madzhab Syafi’i_* sebagai berikut:

“Rela terhadap kekafiran adalah kafir, meskipun kerelaan tersebut bersifat implisit.”
{Lihat Kitab al-I’lam bi-Qawathi’ al-Islam : hlm 133. Karya Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Asy Syafi'iy}.

*🌿💐 قال الامام أبو عبد الله محمد بن أبي بكر ( ابن قيم الجوزية)، رحمه الله تعالى في كتابه " احكام اهل الذمه ":*

َقَالَ أَبُو الْقَاسِمِ هِبَةُ اللَّهِ بْنُ [الْحَسَنِ] بْنِ مَنْصُورٍ الطَّبَرِيُّ الْفَقِيهُ الشَّافِعِيُّ:

" وَلَا يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِينَ أَنْ يَحْضُرُوا أَعْيَادَهُمْ؛ لِأَنَّهُمْ عَلَى مُنْكَرٍ وَزُورٍ، وَإِذَا خَالَطَ أَهْلُ الْمَعْرُوفِ أَهْلَ الْمُنْكَرِ بِغَيْرِ الْإِنْكَارِ عَلَيْهِمْ كَانُوا كَالرَّاضِينَ بِهِ الْمُؤْثِرِينَ لَهُ، فَنَخْشَى مِنْ نُزُولِ سُخْطِ اللَّهِ عَلَى جَمَاعَتِهِمْ فَيَعُمُّ الْجَمِيعَ، نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ سُخْطِهِ."
{انظر كتاب أحكام أهل الذمة     : ج ١ - ص ١٥٦ / ذكر الشروط العمرية وأحكامها وموجباتها    / الفصل الثاني ما يتعلق بإظهار المنكر من أقوالهم وأفعالهم مما نهوا عنه     / فصل حكم حضور أعياد أهل الكتاب}.

*💐🍒 Berkata Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy rahimahullahu ta'åla dalam kitabnya " Ahkaamu Ahli Adz Dzimmati ":*

Telah berkata Abu al-Qasim Hibatullah bin al-Hasan bin Manshur al-Thabari, seorang faqih bermadzhab Syafi’iy :*

“Kaum Muslimin *_tidak boleh (haram)_* menghadiri Hari Raya non Muslim, karena mereka melakukan kemunkaran dan kebohongan. Apabila orang baik bercampur dengan orang yang melakukan kemunkaran, tanpa melakukan keingkaran kepada mereka, *_maka berarti mereka rela dan memilih (mendahulukan) kemunkaran tersebut,_* maka dikhawatirkan turunnya kemurkaan Allah atas jamaah mereka (non-Muslim), lalu menimpa seluruhnya, kita berlindung dari murka Allah.”
{Lihat Kitab Ahkaamu Ahli Adz Dzimmati : juz 1 - hal 156.  Karya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy}.


*💐🌴 قال الامام جلال الدين  السيوطي الشافعي رحمه الله تعالى  في كتابه " الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع ":*

ومن البدع والمنكرات مشابهة الكفار وموافقتهم في أعيادهم ومواسمهم الملعونة كما يفعله كثير من جهلة المسلمين من مشاركة النصارى وموافقتهم فيما يفعلونه …والتشبه بالكافرين حرام وإن لم يقصد ما قصد
{انظر كتاب الأمر بالاتباع والنهي عن الابتدائيه ص : ٤٢. للامام السيوطي الشافعي}.

*💐🌴 Imam Jalaluddin al-Syuyuthi Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'åla berkata  dalam Kitab "Haqiqat al-Sunnah wa al-Bid'ah : al-Amru bi al-Ittiba' Wa al-Nahyu an al-Ibtida':*

_Termasuk bid'ah dan kemungkaran adalah sikap menyerupai (tasyabbuh) dengan orang-orang kafir dan menyamai mereka dalam hari-hari raya dan perayaan-perayaan mereka yang dilaknat (oleh Allah). Sebagaimana dilakukan banyak kaum muslimin yang tidak berilmu, yang ikut-ikutan orang-orang Nasrani dan menyamai mereka dalam perkara yang mereka lakukan… Adapun menyerupai orang kafir hukumnya haram sekalipun tidak bermaksud menyerupai"._
{Lihat Kitab "Haqiqat al-Sunnah wa al-Bid'ah : al-Amru bi al-Ittiba wa al-Nahyu an al-Ibtida' : hal 42. Karya Imam Jalaluddin As Suyuthiy Asy Syafi'iy}.


*🍒💥 وقال الامام السيوطي الشافعي رحمه الله تعالى ايضا  في كتابه "  الأمر بالإتباع والنهي عن الإبتداع " :*

ومما يفعله كثير من الناس فى ايام الشتاء ويزعمون انه ميلاد عيسى عليه السلام فجميع ما يصنع ايضا فى هذه الليالي من المنكرات مثل ايقاد النيران واحداث طعام وشراء شمع وغير ذلك فان اتخاذ هذه المواليد موسما هو دين النصارى ليس لذلك اصل فى دين الاسلام ، ولم يكن لهذا الميلاد ذكر فى عهد السلف الماضين بل اصله مأخوذ عن النصارى . –(الى ان قال)- ومن ذلك اعياد اليهود او غيرهم من الكافرين اوالاعاجم والاعراب الضالين لاينبغي للمسلم ان يتشبه بهم فى شيء من ذلك ولا يوافقهم عليه .
{انظر كتاب الأمر بالاتباع والنهي عن الابتدائيه ص : ١٢٠ - ١٢٢. للامام السيوطي الشافعي}.

*💐🌴Pada kesempatan yang lain Imam Jalaluddin al-Syuyuthi Asy Syafi'iy dalam Kitab "Haqiqat al-Sunnah wa al-Bid'ah : al-Amru bi al-Ittiba wa al-Nahyu an al-Ibtida' beliau juga berkata:*

_"Termasuk hal yang dilakukan banyak orang di hari-hari dalam musim dingin, yang mana mereka mengira bahwa hari itu adalah hari kelahiran Isa as. Maka semua yang mereka lakukan di malam-malamnya daripada kemunkaran seperti menyalakan penerangan, menghidangkan makanan, membeli lilin dan semacamnya. Sesungguhnya melakukan hal-hal ini menjadi sebuah perayaan adalah ajaran Agama Nasrani dan tidak memiliki dasar dari agama Islam. Dan tidak ada bagi hari kelahiran ini penyebutan sejak jaman para salaf terdahulu bahkan dasarnya diambil dari agama Nasrani._ -(sampai pada perkataan beliau)-

_Dari Pêråyåân - Pêråyåân kaum Yahudi tersebut dan selain mereka dari orang​ - orang kafir atau orang - orang 'Ajam dan orang - orang Arab yang tersesat, tidak sepantasnya bagi orang Islam apabila menyerupai mereka dalam perkara yang telah disebutkan dan tidak sepantasnya menyetujui mereka akan perkara itu._
{Lihat Kitab "Haqiqat al-Sunnah wa al-Bid'ah : al-Amru bi al-Ittiba wa al-Nahyu an al-Ibtida' : hal 120 - 122. Karya Imam Jalaluddin As Suyuthiy Asy Syafi'iy}.


* *🍒🌿 قال الامام خطيب الشربيني الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " مغني المحتاج إلى معرفة الفاظ المنهاج " :*

ﻭَﻳُﻌَﺰَّﺭُ ﻣَﻦْ ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﻓِﻲ ﺃَﻋْﻴَﺎﺩِﻫِﻢْ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻤْﺴِﻚُ ﺍﻟْﺤَﻴَّﺔَ ﻭَﻳَﺪْﺧُﻞُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺬِﻣِّﻲٍّ ﻳَﺎ ﺣَﺎﺝُّ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻫَﻨَّﺄَﻩُ ﺑِﻌِﻴﺪِﻩِ....
{انظر كتاب مغني المحتاج إلى معرفة الفاظ المنهاج : ج ٥ - ص ٥٢٦. للامام خطيب الشربيني الشافعي}.

*🍒🌿Pendapat Imam Khatib al-Syarbini dalam kitabnya "Mughni al-Muhtaj ila Ma'rifati Alfazh  al-Minhaj " :*

_"Dihukum ta'zir terhadap orang-orang yang menyamai dengan kaum kafir dalam hari-hari raya mereka, dan orang-orang yang mengurung ular dan masuk ke dalam api, dan orang yang berkata kepada seorang kafir dzimmi 'Ya Hajj', dan orang yang mengucapkan selamat kepadanya (kafir dzimmi) di hari raya (orang kafir)..."._
{Lihat Kitab Mughni al-Muhtaj ila Ma'rifati Alfazh al-Minhaj :  Juz 5 - hal 526. Karya Imam Khothib Asy Syarbiniy Asy Syafi'iy}.


*💐🍒 قال الامام ابن حجر الهيثمي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " الفتاوى الكبرى الفقهية ":*

وَمِنْ أَقْبَحِ الْبِدَعِ مُوَافَقَةُ الْمُسْلِمِينَ النَّصَارَى في أَعْيَادِهِمْ بِالتَّشَبُّهِ بِأَكْلِهِمْ وَالْهَدِيَّةِ لهم وَقَبُولِ هَدِيَّتِهِمْ فيه وَأَكْثَرُ الناس اعْتِنَاءً بِذَلِكَ الْمِصْرِيُّونَ وقد قال  ﷺ 💐 :  «من تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ منهم» بَلْ قال ابن الْحَاجِّ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَبِيعَ نَصْرَانِيًّا شيئا من مَصْلَحَةِ عِيدِهِ لَا لَحْمًا وَلَا أُدْمًا وَلَا ثَوْبًا وَلَا يُعَارُونَ شيئا وَلَوْ دَابَّةً إذْ هو مُعَاوَنَةٌ لهم على كُفْرِهِمْ وَعَلَى وُلَاةِ الْأَمْرِ مَنْعُ الْمُسْلِمِينَ من ذلك
{انظر كتاب الفتاوى الكبرى الفقهية : ج ٤ - ص ٢٣٩. للامام ابن حجر الهيثمي الشافعي}.

*💐🍒 Imam Ibnu Hajar al-Haitami Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'åla dalam Kitabnya " al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah :*

_Di antara bid'ah yang paling buruk adalah tindakan kaum muslimin mengikuti kaum Nasrani di hari raya mereka, dengan menyerupai mereka dalam makanan mereka, memberi hadiah kepada mereka, dan menerima hadiah dari mereka di hari raya itu. Dan orang yang paling banyak memberi perhatian pada hal ini adalah orang-orang Mesir, padahal Nabi ﷺ 💐 telah bersabda: "Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari mereka". Bahkan Ibnul Hajar mengatakan: "Tidak halal bagi seorang muslim menjual kepada seorang Nasrani apapun yang termasuk kebutuhan hari rayanya, baik daging, atau lauk, ataupun baju. Dan mereka tidak boleh dipinjami apapun (untuk kebutuhan itu), walaupun hanya hewan tunggangan, karena itu adalah tindakan membantu mereka dalam kekufurannya, dan wajib bagi para penguasa untuk melarang kaum muslimin dari tindakan tersebut"._
{Lihat Kitab al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah : juz 4 - hal 239. Karya Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Asy Syafi'iy}.


*🍒💥 قال الامام ابن كثير الشافعي رحمه الله تعالى في تفسيره :*

أن الله تعالى نهى المؤمنين عن مشابهة الكافرين قولا وفعلا . فقال: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ}. سورة البقرة : ٠٠٢/ ٤
{انظر كتاب تفسير ابن كثير : ج ١ - ص ٣٧٣ / تفسير سورة البقرة : ٠٠٢ أية ١٠٤ / للامام ابن كثير الشافعي}.

*🍒💥 Berkata Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir  saat menjelaskan makna surah al-Baqarah : 002/ 4:*

_Sesungguhnya Allah melarang orang-orang mukmin untuk menyerupai orang-orang kafir baik dalam ucapan atau perbuatan, Maka Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa´ina", tetapi katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih."_
{Lihat Tafsir Ibnu Katsir : juz 1 - hal 373. Karya Imam Ibnu Katsir Asy Syafi'iy}.


*💐🌴 Secara detail Imam Jalaluddin al-Syuyuthi Asy Syafi'iy dalam Kitab "Haqiqat al-Sunnah wa al-Bid'ah : al-Amru bi al-Ittiba wa al-Nahyu an al-Ibtida' beliau juga berkata:*

ومن البدع والمنكرات مشابهة الكفار وموافقتهم في أعيادهم ومواسمهم الملعونة، كما يفعل كثير من جهلة المسلمين

Termasuk bidah dan kemungkaran adalah sikap menyerupai (tasyabbuh) dengan orang-orang kafir dan mencocoki mereka dalam hari-hari raya dan perayaan-perayaan mereka yang dilaknat (oleh Allah). Sebagaimana dilakukan banyak kaum muslimin yang tidak berilmu tentang ilmu agama.

Kemudian beliau menyebutkan banyak sekali contoh-contoh kemunkaran-kemunkaran kaum Muslimin yang dilakukan pada hari raya orang kafir. Beliau lalu berkata;

فمن ذلك خميس البيض، الذي تقدم ذكره، الذي يسمونه الخميس الكبير. وإنما هو الخميس الحقير، وهو عيد النصارى الأكبر، فجميع ما يحدثه المسلم فيه فهو من المنكرات.

Di antaranya adalah hari natal yang telah lewat penyebutannya, yang mereka sebut sebagai hari raya yang agung padahal ia hari raya yang hina, itulah hari raya kaum kristen nashrani terbesar. Maka seluruh yang diadakan kaum muslimin di dalam hari itu[3] adalah termasuk kemungkaran.

*🍒🌴Beliau juga berkata;*

ومن ذلك تعطيل الوظائف الرئيسية من الصنائع والتجارات، وغلق الحوانيت، واتخاذه يوم راحة وفرح على وجه يخالف ما قبله وما بعده من الأيام. كل ذلك منكر وبدعة، وهو شعار النصارى فيه. فالواجب على المؤمن بالله ورسوله أن لا يحدث في هذا اليوم شيئاً أصلاً، بل يجعله يوماً كسائر الأيام.

Demikian juga dengan meliburkan pekerjaan pokok seperti pabrik-pabrik atau usaha perdagangan, menutup toko, dan menjadikannya sebagai hari istirahat dan hiburan dengan sengaja membedakan dari hari-hari sebelumnya dan sesudahnya. Semua itu termasuk kemungkaran dan bid’ah. Itu merupakan syiar kaum Kristen nashrani pada hari itu. Wajib atas seorang mukmin yang beriman dengan Allah dan Rasul-Nya untuk tidak melakukan perbuatan tersebut pada hari ini sama sekali, tetapi hendaknya memperlakukannya sebagaimana hari-hari biasa.
{Lihat Kitab "Haqiqat al-Sunnah wa al-Bid'ah : al-Amru bi al-Ittiba wa al-Nahyu an al-Ibtida' . Karya Imam Suyuthiy Asy Syafi'iy}.

*🌺🌿وذكر الحافظ ابن حجر حديث أنس المتقدم في الإكتفاء بعيدي الفطر والأضحى بعد أن ذكر أنه روي بإسناد صحيح , قال :

 وَاسْتُنْبِطَ مِنْهُ كَرَاهَةُ الْفَرَحِ فِي أَعْيَادِ الْمُشْرِكِينَ وَالتَّشَبُّهِ بِهِمْ

وَبَالَغَ الشَّيْخُ أَبُو حَفْصٍ الْكَبِيرُ النَّسَفِيُّ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ فَقَالَ :

«مَنْ أَهْدَى فِيهِ بَيْضَةً إِلَى مُشْرِكٍ تَعْظِيمًا لِلْيَوْمِ فَقَدْ كَفَرَ بِاللَّهِ تَعَالَى»
{انظر كتاب فتح الباري شرح صحيح البخاري : ج ٢ - ص ٤٤٢ / أبواب العيدين /  باب الحراب والدرق يوم العيد / رقم الحديث : ٩٢١}. 


*🍒💐Al Hafiz Ibnu Hajar setelah menyebutkan hadits dari Anas di atas tentang mencukupkan diri dengan dua hari raya yaitu Idul Fitri dan Idul Adha dan setelah mengatakan bahwa sanad hadits tersebut berkualitas sahih beliau mengatakan :*

_“Bisa disimpulkan dari hadits tersebut larangan merasa gembira saat hari raya orang musyrik dan larangan menyerupai orang musyrik ketika itu. Bahkan Syeikh Abu Hafsh al Kabir al Nasafi seorang ulama mazhab Hanafi sampai berlebih-lebihan dalam masalah ini dengan mengatakan :  *‘Siapa yang menghadiahkan sebutir telur kepada orang musyrik pada hari itu karena mengagungkan hari tersebut maka dia telah kafir kepada Allah."*_
{Lihat Kitab Fathu Al Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy : juz 2 - hal 442 Abwaabu Al "Iedaini / Baabu Al Hiraab Wa Ad Darq Yauma Al 'Ied /  Karya Imam Ibnu Hajar Al 'Asqalaaniy Asy Syafi'iy}.



*💐đ• мєńúгút їмąм ąђмąđ ßїń ђąńßąl.*


*💐🌿وقال شيخ الاسلام ابن تيمية الحنبلي رحمه الله تعالى نقلا في "الإقناع" من كتب الحنابلة في كتابه " الاقثضاء الصراط المستقيم ":*

وَيَحْرُمُ شُهُودُ عِيدِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى وَبَيْعُهُ لَهُمْ فِيه وَمُهَادَاتُهُمْ لِعِيدِهِمْ.

بل ولا يجوز للمسلم أن يهدي للمسلم هدية لأجل هذا العيد ، كما سبق في كلام الحنفية ، وقال شيخ الإسلام رحمه الله :

ُ، وَمَنْ أَهْدَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ هَدِيَّةً فِي هَذِهِ الأَْعْيَادِ، مُخَالِفَةً لِلْعَادَةِ فِي سَائِرِ الأَْوْقَاتِ غَيْرِ هَذَا الْعِيدِ لَمْ تُقْبَل هَدِيَّتُهُ، خُصُوصًا إِنْ كَانَتِ الْهَدِيَّةُ مِمَّا يُسْتَعَانُ بِهَا عَلَى التَّشَبُّهِ بِهِمْ، مِثْل إِهْدَاءِ الشَّمْعِ وَنَحْوِهِ 
فِي الْمِيلَادِ، وَإِهْدَاءِ الْبَيْضِ وَاللَّبَنِ وَالْغَنَمِ فِي الْخَمِيسِ الصَّغِيرِ الَّذِي فِي آخَرِ صَوْمِهِمْ، 

وكذلك أيضا لا يهدى لأحد من المسلمين في هذه الأعياد هدية لأجل العيد ، لا سيما إذا كان مما يستعان بها على التشبه بهم كما ذكرناه " انتهى
{انظر كتاب "اقتضاء الصراط المستقيم" : ج ١ - ص ٢٢٧. للامام ابن تيمية الحنبلي}.

*🌺🍒 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Al Hanbaliy rahimahullahu ta'åla berkata menukil dalam  "Al-Iqna" salah satu dari kitab - kitab pegangan mazhab Hambali. Kedalam Kitabnya " Iqtidloo' Ash Shirooti Al Mustaqim " :*

*_"Diharamkan menyaksikan hari raya orang Yahudi dan Nashrani serta berjualan kepada mereka pada hari tesebut atau memberi hadiah karena hari raya mereka."_*

Bahkan tidak boleh bagi seorang muslim memberi hadiah bagi muslim lainnya karena hari raya tersebut, sebagaimana telah disebutkan dalam ucapan kalangan mazhab Hanafi. Syaikhul Islam rahimahullah berkata :

'Siapa yang memberi hadiah kepada kaum muslimin pada hari-hari raya tersebut berbeda dengan kebiasaan selain di waktu hari raya, maka hadiahnya tidak diterima, khususnya jika hadiahnya digunakan untuk menyerupai mereka (orang kafir), seperti hadiah berupa lilin dan semacamnya *_dalam hari Natal_*, atau hadiah berupa telor, laban/susu, kambing pada hari Kamis di akhir puasa mereka.

Begitu pula tidak boleh memberi hadiah kepada kaum muslimin karena hari rayanya, khususnya jika digunakan untuk menyerupai mereka sebagaimana telah kami sebutkan.'
{Lihat Kitab Iqtidha Ash-Shiraatal Mustaqim : juz  1 - hal 227. Karya Imam Ibnu Taimiyah Al Hanbaliy}.


*💐🌿 Adapun pendapat Imam Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy  rahimahullahu ta'åla dalam Kitabnya "Majmu' al-Fatawa" jilid
halaman 95:

أَنَّ الْمُشَابَهَةَ فِي الْأُمُورِ الظَّاهِرَةِ تُورِثُ تَنَاسُبًا وَتَشَابُهًا فِي الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَلِهَذَا نُهِينَا عَنْ مُشَابَهَةِ الْكُفَّارِ
{انظر كتاب مجموع الفتاوى : ج ١٠٢ - ص ٩٥. للامام ابن تيمية الحنبلي}.

*💐🌿 Adapun pendapat Imam Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy  rahimahullahu ta'åla dalam Kitabnya "Majmu' al-Fatawa" :*

_Keserupaan dalam perkara lahiriyah bisa berdampak pada kesamaan dan keserupaan dalam akhlak dan perbuatan. Oleh karena itu, kita dilarang tasyabbuh dengan orang kafir."_
{Lihat Kitab Majmu' Al Fatawa : juz XXII - hal 95. Karya Imam Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy}.


*🌺💐Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, rahimahullah berkata :*


 " وأما قبول الهدية منهم يوم عيدهم فقد قدمنا عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه أتي بهدية النيروز فقبلها .

وروى ابن أبي شيبة .. أن امرأة سألت عائشة قالت إن لنا أظآرا [جمع ظئر ، وهي المرضع] من المجوس ، وإنه يكون لهم العيد فيهدون لنا فقالت : أما ما ذبح لذلك اليوم فلا تأكلوا ، ولكن كلوا من أشجارهم .

و.. عن أبي برزة أنه كان له سكان مجوس فكانوا يهدون له في النيروز والمهرجان ، فكان يقول لأهله : ما كان من فاكهة فكلوه ، وما كان من غير ذلك فردوه .

فهذا كله يدل على أنه لا تأثير للعيد في المنع من قبول هديتهم ، بل حكمها في العيد وغيره سواء ؛ لأنه ليس في ذلك إعانة لهم على شعائر كفرهم ... ".

ثم نبه رحمه الله على أن ذبيحة الكتابي وإن كانت حلالا إلا أن ما ذبحه لأجل عيده : لا يجوز أكله . قال رحمه الله : " وإنما يجوز أن يؤكل من طعام أهل الكتاب في عيدهم ، بابتياعٍ أو هديةٍ أو غير ذلك مما لم يذبحوه للعيد . فأما ذبائح المجوس فالحكم فيها معلوم فإنها حرام عند العامة ، وأما ما ذبحه أهل الكتاب لأعيادهم وما يتقربون بذبحه إلى غير الله نظير ما يذبح المسلمون هداياهم وضحاياهم متقربين بها إلى الله تعالى ، وذلك مثل ما يذبحون للمسيح والزهرة ، فعن أحمد فيها روايتان أشهرهما في نصوصه أنه لا يباح أكله وإن لم يسم عليه غير الله تعالى ، ونقل النهي عن ذلك عن عائشة وعبد الله بن عمر ..." انتهى

'Adapun menerima hadiah dari mereka pada hari raya mereka, terdapat riwayat yang sampai kepada kami bahwa Ali bin Abi Thalib, mendapat hadiah pada hari Nairuz, lalu beliau menerimanya.'

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan, bahwa seorang wanita bertanya kepada Aisyah, dia berkata, 'Pada kami ada wanita-wanita yang menyusui dari kalangan Majusi. Pada hari raya mereka, mereka memberi hadiah kepada kami,' Dia (Aisyah) berkata, 'Adapun sembelihannya janganlah kalian makan, akan tetapi makanlah sayur mayur mereka.'

Dan dari Abi Barzah, bahwa di tengah masyarakatnya terdapat orang-orang Majusi, mereka suka memberi hadiah pada  hari Nairuz dan hari festival mereka. Maka beliau berkata kepada keluarganya, 'Jika berbentuk buah-buahan, maka makanlah, adapun selain itu, maka tolaklah.'

Ini semua menunjukkan bahwa hari raya tidak menyebabkan dilarangnya menerima hadiah dari mereka, akan tetapi hukumnya (menerima hadiah) sama, baik pada hari raya mereka atau tidak. Karena hal itu bukan termasuk membantu mereka atas syiar kekufuran mereka.

Kemudian beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiah), rahimahullah, mengingatkan bahwa sembelihan Ahli Kitab pada hari raya mereka, meskipun halal, namun jika disembelih karena hari raya, maka tidak boleh dimakan. Beliau berkata, 'Memakan makanan Ahli Kitab dibolehkan pada hari raya mereka, apakah dengan membelinya atau berasal dari pemberian atau semacamnya, asalkan bukan sembelihan yang disembelih karena hari raya mereka. Adapun sembelihan orang Majusi hukumnya telah diketahui yaitu haram secara mutlak. Adapun sembelihan Ahli Kitab untuk hari raya mereka dan untuk mereka persembahkan kepada selain Allah, adalah sebanding dengan sembelihan kaum muslimin dan kurbannya untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Misalnya mereka menyembelih untuk dipersembahkan kepada Al-Masih atau Az-Zahrah. Imam Ahmad dalam hal ini terdapat dua riwayat, yang paling terkenal dalam keterangannya adalah bahwa hal itu tidak dibolehkan memakannya meskipun tidak menyebut nama selain Allah Ta'ala. Diriwayatkan bahwa pelarangan tersebut juga bersumber dari riwayat Aisyah, Abdullah bin Umar…'
{Lihat Kitab Iqtidla Ash-Shiraati Al  Mustaqimi : juz 1 - hal 251. Karya Imam Ibnu Taimiyah Al Hanbaliy}.


*🍒🎄Perkataan Imam  Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala  (bermadzhab Hanbali) berikut ini :*

*🌺🎄قال الامام ابن القيم الجوزية الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه " أحكام أهل الذمة     ":*

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق ، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم ، فيقول: عيد مبارك عليك ، أو تهْنأ بهذا العيد ونحوه ، فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثماً عند الله ، وأشد مقتاً من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس ، وارتكاب الفرج الحرام ونحوه ، وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ، ولا يدري قبح ما فعل ، فمن هنّأ عبداً بمعصية أو بدعة ، أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه
{انظر كتاب أحكام أهل الذمة     للامام ابن القيم الجوزية الحنبلي : ج ١ - ص ٤٤١ / ذكر معاملة أهل الذمة عند اللقاء    / فصل في تهنئتهم}.

*🌹🎄 Berkata Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala dalam Kitabnya " Ahkaamu Ahli Adz Dzimmah ":*

“Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir *_(seperti mengucapkan selamat natal, pen)_* adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.

Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”
{Lihat Kitab Ahkam Ahli Dzimmah : juz 1 - hal 441. Karya Ibnul Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy / Dzikru Mu'amalatu Ahli Adz Dzimmah 'Inda Al Liqaa' / Fashlun Fi Tahni'atihim}.


*🌺🎄Kesimpulannya adalah :*

Dibolehkan bagi anda menerima hadiah dari tetangga anda yang Nashrani pada hari Id mereka, dengan syarat;

1-     Hadiah tersebut bukan berupa sembelihan yang disembelih karena hari raya mereka.

2-     Hadiah tersebut tidak untuk perkara yang menyerupai mereka pada hari raya mereka, seperti lilin, telor, pelepah dan semacamnya.

3-     Hendaknya hal tersebut diiringi dengan penjelasan tentang aqidah Al-Wala' wal Bara' (cinta dan taat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang beriman serta memutuskan hubungan kepada orang kafir) kepada anak-anak anda, agar tidak tertanam dalam hati mereka cinta terhadap hari raya mereka atau hatinya terpaut dengan orang yang memberi.

4-     Tujuan menerima hadiah adalah untuk melunakkan hatinya dan mengajaknya masuk Islam, bukan sekedar basa basi, apalagi mencintai dan berkasih sayang kepadanya.

Apabila hadiahnya berupa perkara yang tidak boleh diterima, maka selayaknya penolakannya diiringi dengan penjelasan dan sebab penolakan. Misalnya dengan mengatakan, 'Kami menolak pemberian anda karena ini merupakan sembelihan yang disembelih untuk hari raya, dan hal itu tidak halal bagi kami untuk memakannya.'


Dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah disebutkan;

ذهب الحنفيّة على الصّحيح عندهم، والمِالكيّة على المذهب، وجمهور الشّافعيّة إلى : أنّ التّشبّه بالكفّار في اللّباس – الّذي هو شعار لهم به يتميّزون عن المسلمين – يحكم بكفر فاعله ظاهرا، أي في أحكام الدّنيا، فمن وضع قلنسوة المجوس على رأسه يكفر، إلا إذا فعله لضرورة الإكراه أو لدفع الحرّ أو البرد. وكذا إذا لبس زنّار النّصارى إلّا إذا فعل ذلك خديعة في الحرب وطليعة للمسلمين أو نحو ذلك لحديث : « من تَشَبَّه بقوم فهو منهم » لأنّ اللّباس الخاصّ بالكفّار علامة الكفر، ولا يلبسه إلّا من التزم الكفر، والاستدلال بالعلامة والحكم بما دلّت عليه مقرّر في العقل والشّرع. فلو علم أنّه شدّ الزّنّار لا لاعتقاد حقيقة الكفر بل لدخول دار الحرب لتخليص الأسارى مثلا لم يحكم بكفره.

ويرى الحنفيّة في قول – وهو ما يؤخذ ممّا ذكره ابن الشّاطّ من المالكيّة – أنّ من يتشبّه بالكافر في الملبوس الخاصّ به لا يعتبر كافراً ، إلا أن يعتقد معتقدهم ، لأنّه موحّد بلسانه مصدّق بجنانه . وقد قال الإمام أبو حنيفة رحمه الله : لا يخرج أحد من الإيمان إلّا من الباب الّذي دخل فيه ، والدّخول بالإقرار والتّصديق ، وهما قائمان .

وذهب الحنابلة إلى حرمة التّشبّه بالكفّار في اللّباس الّذي هو شعار لهم . قال البهوتيّ : إن تزيّا مسلم بما صار شعارا لأهل ذمّة ، أو علّق صليبا بصدره حرم ، ولم يكفر بذلك كسائر المعاصي . ويرى النّوويّ من الشّافعيّة أنّ من لبس الزّنّار ونحوه لا يكفر إذا لم تكن نيّة .

Golongan Hanafiyyah berpendapat –menurut yang sahih bagi mereka-, begitu juga malikiyyah berdasar madzhab mereka, dan juga Jumhur Syafiiyyah bahwa barang siapa bertasyabbuh dengan orang kafir dalam hal pakaian yang merupakan syi’ar mereka -yang dengannya mereka membedakan diri dari kaum muslimin– dihukumi kafir secara dzahir; yakni dalam hukum-hukum dunia. Maka barang siapa memakai kopiah majusi di kepalanya dihukumi kafir, kecuali jika ia melakukannya karena dlarurat (berupa) keterpaksaan, atau untuk melindungi dari panas atau dingin. Begitu juga dengan memakai sabuk nasrani, kecuali jika ia melakukannya untuk kamuflase dalam perang, dan menjadi mata-mata bagi kaum Muslimin, dan sebagainya, berdasarkan hadist; “Barang siapa menyerupai kaum maka ia termasuk golongan mereka”. Karena pakaian yang khusus bagi kaum kafir adalah adalah alamat kufur, dan tidak mengenakannya kecuali orang yang menetapi kekufuran. Sedang istidlal dengan alamat dan berhukum dengan apa yang ditunjukkannya ditetapkan oleh akal dan syara’. Maka jikalau diketahui bahwa ia mengikat sabuk nasrani tidak karena meyakini hakikat kekufuran, tapi untuk masuk negara musuh guna membebaskan tawanan -umpamanya- maka tidak dihukumi kafir.

Sedang dalam suatu pendapat -yaitu yang diambil dari apa yang disebutkan oleh Ibnu as-Syath dari Malikiyyah-, Hanafiyyah berpendapat ; bahwasanya orang yang menyerupai orang kafir dalam pakaian yang khusus bagi mereka tidak dianggap kafir kecuali jika meyakini keyakinan mereka, dikarenakan mereka menyatakan tauhid dengan lisannya dan percaya dengan hatinya. Imam Abu Hanifah berkata; “Tidak seorang keluar dari iman kecuali melalui pintu dimana dia masuk”, sedang masuknya itu dengan Iqrar (pernyataan) dan Tashdiq (percaya), dan keduanya masih berdiri (ada).

Hanabilah perpendapat akan keharaman menyerupai tasyabbuh dengan orang kafir dalam pakaian yang merupakan syi’ar bagi mereka. Al-Buhuty berkata; “jika seseorang mengenakan pakaian yang menjadi syi’ar ahli dzimmah, atau menggantungkan salib di dadanya, maka dihukmi haram, tidak dihukumi kafir sebagai mana perbuatan maksiat lain.” An-Nawawi dari Sayafiiyyah berpendapat; bahwasanya barang siapa memakai sabuk nasrani dan sebagainya tidak dihukumi kafir selagi tidak ada niat kufur.”


 *ÌÌ)• þÈñÐÄþÄT ¥ÄñG MÈMþÈRßÖLÈHKÄñ ÚÇÄþÄñ §ÈLÄMÄT ñÄTÄL*


*1• 🌺 FATWA DR. SYAIKH  WAHBAH ZUHAILI SOAL NATAL*

Syaikh DR. Wahbah Zuhaili hafidzahullaahu ta'ala  mengatakan:

لا مانع من مجاملة النصارى في رأي بعض الفقهاء في مناسباتهم على ألا يكون من العبارات ما يدل على إقرارهم على معتقداتهم.

Tidak ada halangan dalam bersopan santun (mujamalah) dengan orang Nasrani menurut pendapat sebagian ahli fiqh berkenaan hari raya mereka asalkan tidak bermaksud sebagai pengakuan atas (kebenaran) ideologi mereka.


*2• 💐 FATWA DR. YUSUF QARDHAWI SOAL NATAL*

*DR. Syaikh Yusuf Al Qardhawi  membolehkan mengucapkan Selamat Natal pada hari raya umat Nasrani dan hari-hari raya nonmuslim lain.*

Berikut pendapat DR. Syaikh  Yuruf Al Qaradawi:

يرى جمهور من العلماء المعاصرين جواز تهنئة النصارى بأعيادهم ومن هؤلاء العلامة د.يوسف القرضاوي حيث يرى ان تغير الاوضاع العالمية هو الذي جعله يخالف شيخ الاسلام ابن تيمية في تصريحه بجواز تهنئة النصارى وغيرهم بأعيادهم واجيز ذلك اذا كانوا مسالمين للمسلمين وخصوصا من كان بينه وبين المسلم صلة خاصة، كالأقارب والجيران في السكن والزملاء في الدراسة والرفقاء في العمل ونحوها، وهو من البر الذي لم ينهنا الله عنه، بل يحبه كما يحب الإقساط إليهم (ان الله يحب المقسطين) ولاسيما اذا كانوا هم يهنئون المسلمين بأعيادهم والله تعالى يقول (وإذا حييتم بتحية فحيوا بأحسن منها أو ردوها)».

ويرى د.يوسف الشراح انه لا مانع من تهنئة غير المسلمين بأعيادهم ولكن لا نشاركهم مناسبتهم الدينية ولا في طريقة الاحتفالات، ويبقى الأمر ان نتعايش معهم بما لا يخالف شرع الله، فلا مانع اذن من ان يهنئهم المسلم بالكلمات المعتادة للتهنئة والتي لا تشتمل على اي اقرار لهم على دينهم أو رضا بذلك انما هي كلمات جاملة تعارفها الناس.

*Mayoritas ulama kontemporer membolehkan mengucapkan selamat Natal pada umat Nasrani termasuk di antaranya adalah Dr. Yusuf Qardhawi di mana dia mengatakan bahwa perbedaan situasi dan kondisi dunia telah membuat Qardhawi berbeda pendapat dengan Ibnu Taimiyah atas bolehnya mengucapkan selamat pada hari raya Nasrani.

*_Ucapan selamat dibolehkan apabila berdamai dengan umat Islam khsusnya bagi umat Kristen yang memiliki hubungan khusus dengan seorang muslim seperti hubungan kekerabatan, bertetangga, berteman di kampus atau sekolah, kolega kerja, dan lain-lain._* Mengucapkan selamat termasuk kebaikan yang tidak dilarang oleh Allah bahkan termasuk perbuatan yang disenangi Allah sebagaimana sukanya pada sikap adil (Allah memyukai orang-orang yang bersikap adil). Apalagi, apabila mereka juga memberi ucapan selamat pada hari raya umat Islam. Allah berfirman: Apabila kalian dihormati dengan suatu penghormatan, maka berilah penghormatan yang lebih baik.

Qardhawi juga menjelaskan bahwa tidak ada hal yang mencegah untuk mengucapkan selamat pada perayaan non-muslim akan tetapi jangan ikut memperingati ritual agama mereka juga jangan ikut merayakan. Kita boleh hidup bersama mereka (nonmuslim) dengan melakukan sesuatu yang tidak bertentangan dengan syariah Allah. Maka tidak ada larangan bagi muslim mengucapkan selamat pada nonmuslim dengan kalimat yang biasa yang tidak mengandung pengakuan atas agama mereka atau rela dengan hal itu. Ucapan selamat itu hanya kalimat keramahtamahan yang biasa dikenal.

Lebih detail lihat: Fatwa Qardawi dan Ali Jum’ah seputar Ucapan Selamat Natal.

*3• 🌺FATWA ALI JUMAH SOAL UCAPAN SELAMAT NATAL*

Ali Jum’ah adalah mufti Mesir saat ini (2012). Pada 2008 ia mengeluarkan fatwa terkait mengucapkan selamat pada perayaan non-Muslim.

*_Intinya: ucapan selamat itu boleh dan baik._*

مفتي مصر: تهنئة غير المسلمين بأعيادهم بر جائز

القاهرة- أكد الدكتور علي جمعة مفتي مصر أن تهنئة النصارى وغيرهم من أهل الكتاب بأعيادهم جائزة، معتبرا أنها “من البر” الذي لم ينه الله عنه، شريطة ألا يشارك مقدم التهنئة فيما تتضمنه الاحتفالات بتلك الأعياد من “أمور تتعارض مع العقيدة الإسلامية”.
وردا على سؤال في هذا الشأن لـ”إسلام أون لاين.نت” قال الدكتور جمعة: “إن تهنئة غير المسلمين بالمناسبات الاجتماعية والأعياد الدينية الخاصة بهم، كعيد ميلاد السيد المسيح، ورأس السنة الميلادية جائز… باعتبار أن ذلك داخل في مفهوم البر، وتأليف القلوب”.

واعتبر أن هذه التهنئة داخلة في قول الله تعالى: {لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ}

Mufti Mesir: Ucapan Selamat pada Hari Raya Non-Muslim itu Boleh dan Baik

*Kairo (Mesir) – Mufti Mesir Dr. Ali Jum’ah menegaskan bahwa mengucapkan selamat pada umat Kristiani dan ahli kitab lain itu boleh.*

Bahkan menganggap itu hal yang baik yang tidak dilarang oleh Allah dengan syarat tidak ikut bergabung dalam perayaannya terutama yang terkait dengan perkara yang bertentangan dengan akidah Islam.

Menjawab pertanyaan dari  Ali Jumah berkata:

"Mengucapkan selamat pada non-muslim berkenaan dengan perayaan sosial dan agama mereka seperti Natal Nabi Isa dan Tahun Baru masehi itu boleh.” Hal itu masuk dalam kategori baik dan melunakkan hati.

Ali Jumah menganggap mengucapkan selamat termasuk dalam firman Allah dalam QS Al-Mumtahanah 60:8 (yang artinya): “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Lebih detail lihat: Fatwa Qardawi dan Ali Jum’ah seputar Ucapan Selamat Natal.


*4• 🍒FATWA DR. SYARAF QUDHAT AHLI HADITS YORDANIA*

Syaraf Qudhat adalah ahli hadits Fakultas Syariah di Universitas Yordania. Dalam fatwanya pada 22 Desember 2011 yang berjudul “Ucapan Selamat pada Hari Raya Kristen”.

تهنئة المسيحيين بأعيادهم

“يكثر السؤال في هذه الأيام عن حكم تهنئة المسيحيين بأعيادهم، وللجواب عن ذلك أقول: إن الأصل في هذا الإباحة، ولم يرد ما ينهى عن ذلك، وكل ما سمعته أو قرأته لمن يحرمون هذه التهنئة أن في التهنئة إقرارًا لهم على دينهم الذي نعتقد أنه محرف، ولكن الصحيح أنه لا يوجد في التهنئة أي إقرار، لما يلي:

1- لأننا لا نَعُدُّ تهنئتهم لنا بأعيادنا إقرارًا منهم بأن الإسلام هو الصحيح، فالمسلم لا يقصد بالتهنئة إقرارًا على الدين، ولا هم يفهمون منا ذلك.

2- لأن الله تعالى أمرنا بمعاملتهم بالحسنى، فقال تعالى: (لا يَنْهَاكُمْ اللَّهُ عَنْ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8))(الممتحنة) والبر هو الخير عمومًا، فقد أمرنا الله تعالى بمعاملتهم بالخير كله، فتكون معاملتهم بالخير ليست جائزة فقط بل هي مستحبة، فكيف يحرم بعد ذلك تهنئتهم بنحو قولك: كل عام وأنتم بخير، فإننا لا شك نحب لهم الخير، وقد أمرنا الله بذلك.

3- لأن الله تعالى شرع لنا التحالف معهم كما فعل النبي صلى الله عليه وسلم لما قدم المدينة المنورة.

4- لأن الله تعالى شرع لنا زيارتهم في بيوتهم واستقبالهم في بيوتنا، والأكل من طعامهم، بل والزواج منهم، مع ما في الزواج من مودة ورحمة، ولا يقال: إن في ذلك كله نوعًا من الإقرار لهم بأن دينهم هو الحق، فكيف يجوز ذلك كله ولا تجوز تهنئتهم!!!”.

*🍒 Banyak pertanyaan akhir-akhir ini tentang hukum mengucapkan selamat (tahniah) pada hari raya umat Kristiani, sebagai jawaban dari hal tersebut inilah jawaban saya:

*Hukum asal dalam hal ini adalah boleh.*  Tidak ada dalil teks (Quran dan hadits Nabi) yang melarang hal itu. Seluruh pendapat yang saya dengar dan baca dari mereka yang melarang ucapan selamat Natal bahwa dalam ucapan selamat itu terkandung pengakuan pada agama mereka. Padahal yang benar adalah bahwa dalam ucapan selamat tidak terkandung pengakuan apapun dengan dasar sebagai berikut:

*(Pertama),* karena kita tidak pernah menganggap ucapan selamat Hari Raya mereka pada kita sebagai pengakuan mereka atas kebenaran Islam. Ucapan selamat Natal seorang Muslim tidak bermaksud sebagai pengakuan yang terkait agama. Juga bukan berarti mereka faham pada agama kita.

*(Kedua)*, karena Allah menyuruh kita untuk memperlakukan mereka dengan baik seperti tersebut dengan jelas dalam QS Al-Mumthanah 60:8. Makna al-birr adalah berbuat baik secara umum. Artinya, Allah memerintahkan kita untuk memperlakukan mereka dengan kebaikan. Maka, perlakukan baik kepada non-Muslim bukan hanya boleh bahkan dianjurkan. Bagaimana mungkin mengucapkan selamat saja dilarang? Sudah pasti kita berharap mereka dalam keadaan baik-baik saja. Dan Allāh menyuruh kita melakukan hal itu.

*(Ketiga)*, karena Allah mensyariatkan kita untuk tahaluf (berkoalisi) dengan mereka sebagaimana yang dilakukan Nabi saat beliau datang ke Madinah Al-Munawwaroh.

*(Keempat)*,  karena Allah memerintahkan kita untuk mengunjungi rumah mereka dan menyambut kedatangan mereka di rumah kita. Memakan makanan mereka dan menikahi perempuan mereka padahal dalam perkawinan terdapat mawaddah wa rahmah (rasa kasih dan sayang). Tidak ada yang mengatakan hal itu sebagai ikrar atau pengakuan bahwa agama mereka itu benar. Bagaimana semua hal itu dibolehkan sedangkan mengucapkan selamat saja dilarang?


*5• 💥FATWA MUI DAN BUYA HAMKA*

Ada pembaca yang memprotes di kotak komentar bahwa MUI sebenarnya mengharamkan ucapan selamat Natal sejak era Buya Hamka berdasarkan sumber dari Hidayatullah.com dengan mengutip ucapan salah satu tokoh MUI saat ini yaitu H. Aminuddin Ya`qub. Ucapan Aminuddin Ya’qub–kalau itu benar ucapan dia– bahwa MUI mengharamkan ucapan Natal sejak era Buya Hamka jadi ketua MUI adalah tidak akurat.

Saya adalah pembaca setia majalah Panji Masyarakat di mana Buya Hamka adalah pemrednya. Saya ingat persis tulisannya dalam kolom “Dari Hati ke Hati” yang mengatakan *bahwa dia mengharamkan umat Islam mengikuti upacara sakramen (ritual) Natal. Tapi, kalau sekedar mengucapkan selamat Natal atau mengikuti perayaan non-ritual tidak masalah (tidak haram).*

Saya kesulitan mencari berkas majalah Panji Masyarakat tersebut, tapi untungnya ada berkas seputar fatwa MUI dan HAMKA tersebut yang masih tersimpan di arsip Majalah TEMPO 16 Mei 1981 demikian:

*Pada dasarnya menghadiri perayaan antaragama adalah wajar, terkecuali yang bersifat peribadatan . . . ”*

Pada 30 Mei 1981 Majalah Tempo melaporkan:

Mengapa Hamka mengundurkan diri? Hamka sendiri pekan lalu mengungkapkan pada pers, pengunduran dirinya disebabkan oleh fatwa MUI 7 Maret 1981. Fatwa yang dibuat Komisi Fatwa MUI tersebut pokok isinya mengharapkan (sic!; maksudnya mungkin mengharamkan -red) umat Islam mengikuti upacara Natal, meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa.

Fatwa ini kemudian dikirim pada 27 Maret pada pengurus MU di daerah-daerah. (TEMPO, 16 Mei 1981). Bagaimanapun, harian Pelita 5 Mei lalu memuat fatwa tersebut, yang mengutipnya dari Buletin Majelis Ulama no. 3/April 1981. Buletin yang dicetak 300 eksemplar ternyata juga beredar pada mereka yang bukan pengurus MU. Yang menarik, sehari setelah tersiarnya fatwa itu, dimuat pula surat pencabutan kembali beredarnya fatwa tersebut. Surat keputusan bertanggal 30 April 1981 itu ditandatangani oleh Prof. Dr. Hamka dan H. Burhani Tjokrohandoko selaku Ketua Umum dan Sekretaris Umum MUI. Menurut SK yang sama, pada dasarnya menghadiri perayaan antar agama adalah wajar, terkecuali yang bersifat peribadatan, antara lain Misa, Kebaktian dan sejenisnya.

*Bagi seorang Islam tidak ada halangan untuk semata-mata hadir dalam rangka menghormati undangan pemeluk agama lain dalam upacara yang bersifat seremonial, bukan ritual.*

HAMKA juga menjelaskan, fatwa itu diolah dan ditetapkan oleh Komisi Fatwa MUI bersama ahli-ahli agama dari ormas-ormas Islam dan lembaga-lembaga Islam tingkat nasional — termasuk Muhammadiyah, NU, SI, Majelis Dakwah Islam Golkar.

Perbedaan dalam Internal MUI

Di samping itu, rupanya masih adanya perbedaan pendapat. Misalnya yang tercermin dalam pendapat KH Misbach, Ketua MUI Jawa Timur tentang perayaan Natal. *“Biarpun di situ kita tidak  ikut bernyanyi dan berdoa, tapi kehadiran kita itu berarti kita sudah ikut bernatal,”* katanya. Menurut pendapatnya, *“Seluruh acara dalam perayaan Natal merupakan upacara ritual.* (Majalah Tempo, 30 Mei 1981).

*🌿🍒Kesimpulan Fatwa MUI dan Hamka:*

Inti dari fatwa MUI era Hamka tahun 1981 adalah

*(a)• 🌿Haram mengikuti ritual Natal;*

*(b)• ☘ Tidak haram menghadiri perayaan Natal, bukan ritualnya;*

*(c)• 🍀MUI Jawa Timur (KH. Misbach) mengharamkan menghadiri acara Natal baik sekedar untuk mengikuti perayaannya saja atau apalagi sampai mengikuti ritualnya.*

Fatwa tersebut tidak membahas soal mengucapkan ucapan Selamat Natal.

*MUI Tidak Mengharamkan ucapan Selamat Natal, kata Din Syamsuddin*

Dikutip dari Hidayatullah.com Selasa, Jum’at, 23 Desember 2011



Selesai : Senin Wage, 25 Des 2017 M | 6 Ba'da Maulid 1439 H 

نقلها ورتبها (طالب العلم السلفية - يوجياكرتا و معهد نور الحرمين - مالانج). ربّنا تقبّل منّا واقبلنا ، بسرّ الفاتحة :

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BAHASA ALAM AKHIRAT (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DSB) (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAHARU (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TABKHIR EMBAKAR DUPA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KUFUR AKIBAT MENCELA NASAB KETURUNAN (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAHALLUL CUKUR GUNDUL ATAU POTONG RAMBUT SELESAI HAJI DAN UMROH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TIDAK PERLU TEST DNA SEBAGAI BUKTI DZURRIYYAH NABI -ﷺ- (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top