Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juli 2020

*🌴💾• BOLEHKAH MEMBATALKAN PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN DAN BERTAMU YANG DIJAMU KETIKA DIPREDIKSIKAN JIKA TETAP BERPUASA AKAN MENYAKITI HATI YANG MENJAMU?*



(kajian fikih lintas madzhab SUNNI - اهل السنة والجماعة النهضية mendekati new normal tahun pandemi  corona th. 2020 M)

*LEBIH UTAMA* bagi orang yang sedang berpuasa sunnah  *MEMBATALKAN PUASA SUNNAHNYA* ketika diundang menghadiri walimah,  jamuan makan, atau sedang bertamu dan dijamu, apabila sampai orang yang mengundang atau dikunjungi  *MERASA TIDAK SUKA* jika orang yang diundang atau bertamu tetap berpuasa. Namun apabila tidak ada perasaan seperti itu, maka tidak mengapa tidak membatalkan puasa saat itu , kemudian terus menyempurnakan puasa sunnahnya. Berikut beberapa riwayat hadits dan ungkapan para ulama' madzhab mengenai hal tersebut :

*_🌴📚• Hadits Riwayat Imam Muslim Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :_*

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ ، عَنْ هِشَامٍ ، عَنِ ابْنِ سِيرِينَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💞–:

*_«إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ ، فَلْيُجِبْ ، فَإِنْ كَانَ صَائِمًا ، فَلْيُصَلِّ ، وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا ، فَلْيَطْعَمْ»_*
{رواه مسلم / كِتَابُ النِّكَاحِ / بَابُ الْأَمْرِ بِإِجَابَةِ الدَّاعِي إِلَى دَعْوَةٍ / حديث رقم : ٢٦٧٦}.

Telah menceritakan kepada kami : Hafsh bin Ghiyats. Dari Hisyam. Dari Ibnu Sirin. Dari Abi Hurairah , beliau berkata : Rasulullah –ﷺ💞– pernah bersabda :

“Jika salah seorang di antara kalian diundang makan, maka penuhilah undangan tersebut. Jika dalam keadaan berpuasa, maka do’akanlah orang yang mengundangmu. Jika dalam keadaan tidak berpuasa, santaplah makanannya.”
{HR. Muslim / Kitabu An Nikahi / Babu Al Amri Biijabati Ad Daa'i Ìlaa Da'watin / No. 2676}.


*💾✍• قال الإمام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي في كتابه " المنهاج شرح صحيح مسلم ":*

لَكِنْ إِنْ كَانَ صَوْمُهُ فرضا لم يجز له الأكل لِأَنَّ الْفَرْضَ لَا يَجُوزُ الْخُرُوجُ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ نَفْلًا جَازَ الْفِطْرُ وَتَرْكَهُ فَإِنْ كَانَ يَشُقُّ عَلَى صَاحِبِ الطَّعَامِ صَوْمُهُ فَالْأَفْضَلُ الْفِطْرُ وإلا فإتمام الصوم والله أعلم
{انظر المنهاج شرح صحيح مسلم : ج ٩ ص ٢٣٦ / (كتاب النكاح هو في اللغة الضم ويطلق على العقد وعلى (باب الأمر بإجابة الداعي إلى دعوة) / رقم الحديث : ٢٦٧٦ / للإمام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي  (المتوفى: ٦٧٦ هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ هـ}.

*💾✍• Imam Karya Imam Abu Zakariyya Yahya  Muhyiddin Bin Syaraf An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Bin Al Hajjaj " menjelaskan :*

Akan tetapi apabila puasanya bersifat *SUNNAH* maka ia *BOLEH MEMBATALKAN ATAU  MENINGGALKANNYA* namun apabila puasa (sunnahnya) membuat orang yang mengundang makan merasa menyayangkan (tidak suka)  dengan puasanya, maka *LEBIH UTAMA*  yang diundang *MEMBATALKAN PUASANYA*. Jika tidak ada perasaan seperti itu, maka tidak mengapa tidak membatalkan puasa saat itu, kemudian menyempurnakan puasanya. Wallahu a'lam.
{Lihat Kitab Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin Al Hajjaj : juz 9 hal 236 / Kitabu An Nikahi ... Wa 'Ala Babu Al Amri Biijabati Ad Daa'i Ìlaa Da'watin / Karya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin Yahya Bin Syaraf An Nawawiy Asy  Syafi'iy / Dar Ìhya` At Turats Al 'Arabiy - Beirut , Cet. Kedua , Th. 1392 H}.


*_🌴✍• Hadits Senada Riwayat Imam Ahmad Dan Tirmidziy Dari Ummu Hani’ radhiyyAllahu ‘anha :_*

*👌• Teks Hadits Riwayat Imam Ahmad :*

حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ جَعْدَةَ عَنْ أُمِّ هَانِئٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –ﷺ💞– دَخَلَ عَلَيْهَا فَدَعَا بِشَرَابٍ فَشَرِبَ ثُمَّ نَاوَلَهَا فَشَرِبَتْ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا إِنِّي كُنْتُ صَائِمَةً ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💙– :

*_«الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيرُ نَفْسِهِ إِنْ شَاءَ صَامَ وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ »_*

قَالَ قُلْتُ لَهُ سَمِعْتَهُ أَنْتَ مِنْ أُمِّ هَانِئٍ قَالَ : لَا حَدَّثَنِيهِ أَبُو صَالِحٍ وَأَهْلُنَا عَنْ أُمِّ هَانِئٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ كُنْتُ أَسْمَعُ سِمَاكًا يَقُولُ حَدَّثَنَا ابْنَ أُمِّ هَانِئٍ فَأَتَيْتُ أَنَا خَيْرَهُمَا وَأَفْضَلَهُمَا فَسَأَلْتُهُ وَكَانَ يُقَالُ لَهُ جَعْدَةُ
{رواه احمد في مسنده / مسند النساء / حديث أم هانئ بنت أبي طالب رضي الله عنها واسمها فاختة / رقم الحديث : ٢٦٨٩٣}.

Telah menceritakan kepada kami : Abu Daud At Thayalisi, berkata : Telah menceritakan kepada kami : Syu'bah. Dari Ja'dah. Dari Ummu Hani', bahwa Rasulullah–ﷺ💞– menemuinya lalu beliau minta air minum, lalu beliau meminumnya kemudian memberikan sisanya kepadanya hingga ia pun meminumnya.

Ummu Hani` lalu berkata : "Wahai Rasulullah, sebenarnya aku sedang berpuasa."

Rasulullah –ﷺ💜– kemudian  bersabda:

*_"Seorang yang berpuasa sunnah adalah pemimpin bagi dirinya, jika ia mau maka ia berpuasa jika ia mau maka ia boleh berbuka."_*

Abdullah berkata, "Aku bertanya kepadanya, "Apakah kamu mendengarnya dari Ummu Hani'? dia menjawab, "Tidak. Abu Shalih  mengabarkannya kepadaku -(dan keluarganya)- dari Ummu Hani`."

Telah menceritakan kepada kami :  Sulaiman , ia berkata : Telah menceritakan kepada kami :  Syu'bah , ia berkata; aku mendengar Simak berkata; Telah menceritakan kepada kami :  Ummu Hani' , beliau berkata :  "Lalu aku menemui orang yang lebih baik dari keduanya, lalu bertanya kepadanya. Orang tersebut dipanggil dengan nama Ja'dah."
{HR. Ahmad Dalam Musnadnya / Musnad An Nisaa'i / Hadits Ummi Hani` Binti 'Aliy Bin Abi Thalib RadliyyAllahu 'Anha Wa Ìsmuha Fakhitah / No.  26893}.


*👌• Teks Hadits Riwayat​ Imam Tirmidziy :*

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ كُنْتُ أَسْمَعُ سِمَاكَ بْنَ حَرْبٍ يَقُولُ أَحَدُ ابْنَيْ أُمِّ هَانِئٍ حَدَّثَنِي فَلَقِيتُ أَنَا أَفْضَلَهُمَا وَكَانَ اسْمُهُ جَعْدَةَ وَكَانَتْ أُمُّ هَانِئٍ جَدَّتَهُ فَحَدَّثَنِي عَنْ جَدَّتِهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –ﷺ💞– دَخَلَ عَلَيْهَا فَدَعَى بِشَرَابٍ فَشَرِبَ ثُمَّ نَاوَلَهَا فَشَرِبَتْ فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا إِنِّي كُنْتُ صَائِمَةً فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ❤– :

*_« الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِينُ نَفْسِهِ إِنْ شَاءَ صَامَ وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ »_*

قَالَ شُعْبَةُ فَقُلْتُ لَهُ أَأَنْتَ سَمِعْتَ هَذَا مِنْ أُمِّ هَانِئٍ ؟ قَالَ : لَا أَخْبَرَنِي أَبُو صَالِحٍ وَأَهْلُنَا عَنْ أُمِّ هَانِئٍ وَرَوَى حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ فَقَالَ عَنْ هَارُونَ بْنِ بِنْتِ أُمِّ هَانِئٍ عَنْ أُمِّ هَانِئٍ وَرِوَايَةُ شُعْبَةَ أَحْسَنُ هَكَذَا حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ عَنْ أَبِي دَاوُدَ فَقَالَ : " أَمِينُ نَفْسِهِ " و حَدَّثَنَا غَيْرُ مَحْمُودٍ عَنْ أَبِي دَاوُدَ فَقَالَ : " أَمِيرُ نَفْسِهِ أَوْ أَمِينُ نَفْسِهِ" عَلَى الشَّكِّ وَهَكَذَا رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ شُعْبَةَ أَمِينُ أَوْ أَمِيرُ نَفْسِهِ عَلَى الشَّكِّ قَالَ وَحَدِيثُ أُمِّ هَانِئٍ فِي إِسْنَادِهِ مَقَالٌ

وَالْعَمَلُ عَلَيْهِ عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ –ﷺ💞–  وَغَيْرِهِمْ أَنَّ الصَّائِمَ الْمُتَطَوِّعَ إِذَا أَفْطَرَ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ إِلَّا أَنْ يُحِبَّ أَنْ يَقْضِيَهُ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ وَالشَّافِعِيِّ
{رواه الترمذي / ٦ -  أبواب الصوم / باب ما جاء في إفطار الصائم المتطوع / رقم الحديث : ٧٣٢}.

Telah menceritakan kepada kami :  Mahmud bin Ghailan. Telah menceritakan kepada kami : Abu Daud. Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dia berkata, saya pernah mendengar Simak bin Harb berkata, salah seorang cucu Ummu Hani' yang bernama Ja'dah telah menceritakan kepadaku dan Ummu Hani' adalah neneknya, maka neneknya telah menceritakan kepadaku, bahwasanya Rasulullah –ﷺ💞– datang ke rumahnya dan meminta air lalu meminumnya, kemudian beliau menyodorkan kepadanya lalu dia meminumnya, dia (Ummu Hani' radliyyAllahu 'anha) berkata :  wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sedang berpuasa, maka Rasulullah –ﷺ💚– bersabda:

*_" Orang yang berpuasa sunnah lebih berhak atas dirinya, jika ingin maka boleh membatalkan atau menyempurnakan puasanya."_*

Syu'bah berkata, saya bertanya kepadanya, apakah kamu mendengarnya langsung dari Ummu Hani'? Dia menjwab, tidak, akan tetapi Abu Shalih dan keluargaku meriwayatkannya dari Ummu Hani'. Hammad bin Salamah meriwayatkan hadits ini dari Simak bin Harb, dia berkata, dari Harun binti Ummu Hani' dari Ummu Hani', sedangkan riwayatnya Syu'bah lebih baik. Demikian Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami dari Abu Daud, maka dia berkata "lebih berhak atas dirinya." Dan telah menceritakan kepada kami selain Mahmud dari Abu Daud dengan lafadz, lebih menguasai atas dirinya (amir) atau lebih berhak atas dirinya (Amin) -karena ada keraguan- demikian juga hadits ini diriwayatkan melalui banyak jalur dari Syu'bah dengan lafadz "lebih menguasai atas dirinya (amir) atau lebih berhak atas dirinya (Amin) dengan adanya keraguan. Dia berkata, pada sanad hadits Ummu Hani' terdapat cela,

Namun hadits ini diamalkan oleh para ulama baik dari kalangan para shahabat maupun setelah mereka, *BAHWA ORANG YANG MEMBATALKAN PUASA SUNNAH  TANPA UDZUR, MAKA DIA TIDAK WAJIB MENGQADHA' PUASANYA KECUALI JIKA DIA INGIN MELAKUKANNYA,* perkataan ini juga termasuk pendapatnya Imam Sufyan Ats Tsauri, Ahmad, Ishaq dan Syafi'i.
{HR. Turmudzi / 6 -  Abwabu Ash Shaumi / Babu Ma Ja'a Fi Ìfthari Ash Shaimi Al Muttathawi'i /
No. 732. Dan *DISHAHIHKAN* Oleh Al-Albani Tokoh Wahhabiy}.


*_🌴✍• Hadits Senada Riwayat Imam Bukhariy Dari Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyyAllahu ‘anhu :_*

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ ، عَنْ مَالِكٍ ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، أَنَّهُ سَمِعَ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، يَوْمَ عَاشُورَاءَ عَامَ حَجَّ عَلَى المِنْبَرِ يَقُولُ : يَا أَهْلَ المَدِينَةِ أَيْنَ عُلَمَاؤُكُمْ ؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ –ﷺ💞–، يَقُولُ :

*_« هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبِ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ، وَأَنَا صَائِمٌ ، فَمَنْ شَاءَ ، فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ ، فَلْيُفْطِرْ »_*
{رواه البخاري / كتاب الصوم / باب صيام يوم عاشوراء / رقم الحديث : ١٩٢٠}.

Telah menceritakan kepada kami : 'Abdullah bin Maslamah. Dari Malik. Dari Ibnu Syihab. Dari Humaid bin 'Abdurrahman  bahwa dia mendengar Mu'awiyah bin Abu Sufyan radliyyAllahu 'anhuma pada hari 'Asyura' ketika tahun penyelenggaraan haji dari atas mimbar berkata: Wahai penduduk Madinah, mana para 'ulama kalian? Aku pernah mendengar Rasulullah ِ –ﷺ💞– bersabda:

*_"Ini adalah hari 'Asyura' dan Allah belum mewajibkan puasa atas kalian dan sekarang aku sedang berpuasa, maka siapa yang mau silakan berpuasa dan siapa yang tidak mau silakan berbuka (tidak berpuasa) "._*
{HR. Bukhariy / Kitabu Ash Shaumi / Babu Shiyami Yaumi 'Asyura'a / No. 1920}.


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْعُمَيْسِ عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ آخَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ سَلْمَانَ وَأَبِي الدَّرْدَاءِ فَزَارَ سَلْمَانُ أَبَا الدَّرْدَاءِ فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاءِ مُتَبَذِّلَةً فَقَالَ لَهَا مَا شَأْنُكِ قَالَتْ أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ فِي الدُّنْيَا فَجَاءَ أَبُو الدَّرْدَاءِ فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا فَقَالَ كُلْ قَالَ فَإِنِّي صَائِمٌ قَالَ مَا أَنَا بِآكِلٍ حَتَّى تَأْكُلَ قَالَ فَأَكَلَ فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ قَالَ نَمْ فَنَامَ ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ فَقَالَ نَمْ فَلَمَّا كَانَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ قُمْ الْآنَ فَصَلَّيَا فَقَالَ لَهُ سَلْمَانُ إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَأَتَى النَّبِيَّ –ﷺ💞–  فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ –ﷺ💙– :

*_« صَدَقَ سَلْمَانُ»_*
{رواه البخاري / كتاب الأدب / باب صنع الطعام والتكلف للضيف / حديث رقم : ٥٨١٠}.

Telah menceritakan kepada kami :  Muhammad bin Basysyar. Telah menceritakan kepada kami :  Ja'far bin 'Aun. Telah menceritakan kepada kami : Abu Al 'Umais. Dari 'Aun bin Abu Juhaifah. Dari bapaknya, beliau  berkata; Nabi –ﷺ💞–   mempersaudarakan Salman dan Abu Darda'. Suatu hari Salman mengunjungi Abu Darda', lalu ia melihat Ummu Darda' dengan baju yang kumuh, lalu ia berkata, kepadanya;

"Ada apa denganmu?"

Dia menjawab: "Saudaramu Abu Darda', dia tidak memperhatikan kebutuhan dunia".

Kemudian Abu Darda' datang, lalu ia membuat makanan untuk Salman. Salman berkata kepada Abu Darda': "Makanlah!".

Abu Darda' menjawab: "Aku sedang berpuasa".

Salman berkata: "Aku tidak akan makan hingga engkau makan".

Dia berkata: "Lalu Abu Darda' ikut makan". Pada malam hari Abu Darda' bangun, lalu Salman berkata:

"Teruskanlah tidur".

Maka iapun tidur lalu bangun lagi, lalu Salman berkata:

"Teruskanlah tidur".

Maka iapun tidur lagi. Pada akhir malam Salman berkata:

"Sekarang bangunlah". Kemudian mereka berdua shalat malam".

Lalu Salman berkata kepada Abu Darda':

"Sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atasmu, dan jiwamu mempunyai hak atasmu, dan isterimu mempunyai hak atasmu, maka berilah setiap hak kepada orang yang berhak".

Kemudian Abu Darda' menemui Nabi –ﷺ💞– lalu ia menceritakan hal itu. Maka Beliau bersabda:

*_"Salman benar"._*
{HR. Bukhariy / Kitabu Al Adabi / Babu Shan'i At Tha'ami Wa At Takallufi Lidldloifi / No. 5810}.


حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ فُورَكٍ , أنبأ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ ، قال حدثنا يُونُسُ بْنُ حَبِيبٍ ، قال حدثنا أَبُو دَاوُدَ ، قال حدثنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ ، عَنْ هَارُونَ بْنِ أُمِّ هَانِئٍ ، عَنْ أُمِّ هَانِئِ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ قَالَتْ : دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💞–  فَدَعَوْتُ لَهُ بِشَرَابٍ فَشَرِبَ أَوْ قَالَ : دَعَا بِشَرَابٍ فَشَرِبَ ثُمَّ نَاوَلَنِي فَشَرِبْتُ وَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ : إِنِّي كُنْتُ صَائِمَةً وَلَكِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَرُدَّ سُؤْرَكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💚– :

*_« إِنْ كَانَ قَضَاءً مِنْ رَمَضَانَ فَصُومِي يَوْمًا مَكَانَهُ , وَإِنْ كَانَ تَطَوُّعًا فَإِنْ شِئْتِ فَاقْضِي وَإِنْ شِئْتِ فَلَا تَقْضِي»_*
{رواه البيهقي واللفظ له في السنن الكبرى / كِتَابُ الصِّيَامِ / بَابُ التَّخْيِيرِ فِي الْقَضَاءِ إِنْ كَانَ صَوْمُهُ تَطَوُّعًا / رقم الحديث : ٧٨٦٠. والطبراني}.

Telah menceritakan kepada kami : Abu Bakar Muhammad bin Al Hasan bin Furak. Telah mengabarkan Abdullah bin Ja'far, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami : Yunus bib Habib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami : Abu Dawud, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami : Hammad bin Salamah. Dari Simak bin Harb. Dari Harun bin Ummi Hani'. Dari Ummi Hani' binti Abi Thalib , beliau berkata : Rasulullah –ﷺ💞– datang kepadaku , kemudian aku menawarkan minum kepada beliau lalu beliaupun  meminumnya  atau perawi berkata :  Rasulullah meminta segelas  minuman kemudian beliaupun  meminumnya dan mengulurkan sisanya kepadaku lalu akupun meminumnya, dan aku berkata : Ya Rasulallah, sesungguhnya aku ini sedang berpuasa, namun aku tidak suka apabila aku menolak minuman sisa minumanmu  kemudian Rasulullah –ﷺ💞– bersabda :

*_" Apabila puasamu merupakan qodlo' puasa ramadhan, maka kamu berpuasalah pada hari lain yang menjadi pengganti tempatnya, dan apabila puasamu puasa Sunnah, maka terserah kepadamu, jika akan kamu qodlo', dan terserah kepadamu jika tidak kamu qodlo'."_*
{Teks Hadits Riwayat Baihaqiy Dalam As Sunan Al Kubro / Kitabu Ash Shiyami / Babu At Takhyiiri Fi Al Qodlo'i In Kana Shaumuhu Tathawwu'an / No. 7860. Dan Diriwayatkan Oleh Thabaraniy}.


*_🌴📚• Hadits Riwayat Thabaraniy Dari Ibnu ‘Umar radhiyyAllahu ‘anhuma Tentang Idkhalussurur (Memberi Rasa Bahagia Pada Orang Lain) :_*

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ الشَّافِعِيُّ الْحِمْصِيُّ، ثنا الْقَاسِمُ بْنُ هَاشِمٍ السِّمْسَارُ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ قَيْسٍ الضَّبِّيُّ، ثنا سُكَيْنُ بْنُ أَبِي سِرَاجٍ، ثنا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ –ﷺ💞–, فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ , أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ وَأَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ –ﷺ💙–:

*_«أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا، وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ - يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا - وَمَنَ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ كَظَمَ غَيْظَهُ، وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ مَلَأَ اللهُ قَلْبَهُ رَجَاءً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيهِ فِي حَاجَةٍ حَتَّى يَتَهَيَّأَ لَهُ أَثْبَتَ اللهُ قَدَمَهُ يَوْمَ تَزُولُ الْأَقْدَامِ»_*
{رواه الطبراني في معجم الكبير / باب العين / عمرو بن دينار، عن ابن عمر / رقم الحديث : ١٣٦٤٦}.

Telah menceritakan kepada kami :  Muhammad bin ‘Abdirrahmaan Asy-Syaafi’iy Al-Himshiy. Telah menceritakan kepada kami : Al-Qaasim bin Haasyim As-Simsaar. Telah menceritakan kepada kami :  ‘Abdurrahmaan bin Qais Adl-Dlabbiy. Telah menceritakan kepada kami :  Sukain bin Abi Siraaj. Telah mengkhabarkan kepada kami :  ‘Amru bin Diinaar. Dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya ada seorang laki-laki yang mendatangi Rasulullah –ﷺ💞–, beliau  berkata :

“Wahai Rasulullah, manusia apa yang paling dicintai oleh Allah?. Dan amal apa yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla?”.

Rasulullah–ﷺ❤– menjawab :

*_“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” Dan barangsiapa yang meninggalkan amarahnya, niscaya Allah akan tutup aurat (kesalahan)-nya. Barangsiapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu melakukannya, niscaya Allah ‘azza wa jalla akan memenuhi hatinya dengan rasa aman pada hari kiamat. Barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk menunaikan satu keperluan hingga keperluan itu dapat ditunaikan baginya, niscaya Allah ‘azza wa jalla akan mengokohkan kakinya di atas shiraath pada hari dimana banyak kaki yang tergelincir padanya”._*
{HR. Thabarani di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir / Babu Al 'Aini / 'Amru bin Dinar , Dari Ibnu 'Umar / No. 13646. Tokoh Wahhabiy Al Albani mengatakan bahwa *HADITS  INI HASAN* sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Jaami’ no. 176}.


*1⃣• 🌴✍DISUNNAHKAN MEMBATALKAN PUASA SUNNAH KETIKA DIUNDANG MAKAN ATAU BERTAMU YANG DIJAMU MENURUT KALANGAN SYAFI'IYYAH (PENGIKUT IMAM SYAFI'IY) رحمهم الله تعالى*

Menurut Madzhab Syafi’iy  yang menjadi rujukan kebanyakan orang Indonesia, bahwa *DIPERBOLEHKAN* menikmati hidangan untuk menghormati pemilik makanan *DAN TERMASUK   DI ANTARA UDZUR YANG MASYRU’ BAGI ORANG YANG BERPUASA SUNNAH.* Pendapat ini berdasarkan keterangan kitab - kitab fikih madzhab Syafi'iy diantaranya adalah :

*🌴✍• Imam Abu Zakarya An-Nawawiy Asy Syafi'iy (w. 676 H), rahimahullAhu​ ta'ala dalam kitabnya " Al-Majmu’ Syarhu Al  Muhadzdzab " berkata :*

قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ رَحِمَهُمْ اللَّهُ تَعَالَى إذَا دَخَلَ فِي صَوْمِ تَطَوُّعٍ أَوْ صَلَاةِ تَطَوُّعٍ اُسْتُحِبَّ لَهُ إتْمَامُهُمَا لِقَوْلِهِ تَعَالَى " وَلا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ " (سورة محمد : ٣٣)  وَلِلْخُرُوجِ مِنْ خِلَافِ الْعُلَمَاءِ فَإِنْ خَرَجَ مِنْهُمَا بِعُذْرٍ أَوْ بِغَيْرِ عُذْرٍ لَمْ يُحَرَّمْ عَلَيْهِ ذَلِكَ وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ لَكِنْ يُكْرَهُ الْخُرُوجُ منهما بلا عذر لقوله تعالي " ولا تبطلو اعمالكم " هَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ وَفِيهِ وَجْهٌ حَكَاهُ الرَّافِعِيُّ أَنَّهُ لَا يُكْرَهُ الْخُرُوجُ بِلَا عُذْرٍ وَلَكِنَّهُ خِلَافُ الْأَوْلَى

(وَأَمَّا) الْخُرُوجُ مِنْهُ بِعُذْرٍ فَلَا كَرَاهَةَ فِيهِ بِلَا خِلَافٍ وَيُسْتَحَبُّ قَضَاؤُهُ سَوَاءٌ خَرَجَ بِعُذْرٍ أَمْ بِغَيْرِهِ لِمَا سَنَذْكُرُهُ مِنْ الْأَحَادِيثِ
{انظر كتاب المجموع شرح​ المهذب : ج ٦ ص ٣٩٣ / كتاب الصيام / مسائل تتعلق بكتاب الصيام / للإمام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي (المتوفى: ٦٧٦ هـ) / الناشر: دار الفكر - بدون السنة}.

Imam Syafi’i dan para pengikutnya mengatakan bahwa jika seseorang melaksanakan puasa tathawwu’ atau shalattathawwu’ maka disunnahkan baginya untuk menuntaskannya berdasarkan firman Allah :  “Dan janganlah kalian membatalkan amal kalian” (QS. Muhammad: 33) dan berdasarkan pertimbangan ‘al-khuruj minal khilaf’ (keluar dari perdebatan pendapat). Jika seseorang membatalkan puasa sunnah atau shalat sunnahnya dengan atau tanpa udzur maka hal ini *TIDAK DIHARAPKAN  DAN TIDAK DIWAJIBKAN MENGGANTINYA DI LAIN HARI,* hanya saja jika pembatalan tersebut dilakukan tanpa udzur maka *HUKUMNYA MAKRUH*  berdasarkan firman Allah : “dan janganlah kalian membatalkan amal kalian”. Ini adalah pendapat yang dipilih penulis kitab. Adapun sebuah pendapat yang diriwayatkan oleh Imam Ar-Rafi’i mengatakan bahwa pembatalan itu tidak berhukum makruh tetapi khilaful aula atau bertentangan dengan yang paling.

Adapun jika pembatalan itu karena udzur, maka ulama sepakat bahwa yang demikian ini *TIDAK MAKRUH.* Qadla` atau mengganti di lain hari atas puasa sunnah yang dibatalkan berhukum sunnah baik karena udzur maupun tidak berdasarkan hadits yang akan kami sebutkan.
{Lihat Kitab Al Majmu' Syarhu Al Muhadzdzab : juz 6 hal 393 / Kitabu Ash Shiyami / Masa'il : Tata'alaqu Bikitabi Ash Shiyami / Karya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin Yahya bin Syaraf An Nawawiy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri - Tnp. Tahun}.


*💾✍• Disebutkan Dalam Kitab  Fathu Al Mu’in Karya Syaikh Zainuddin Al Malibariy Asy Syafi'iy rahimahullAhu ta'ala :*

فروع يندب الأكل في صوم نفل ولو مؤكدا لإرضاء ذي الطعام بأن شق عليه إمساكه ولو آخر النهارللأمر بالفطر ويثاب على ما مضى وقضى ندبا يوما مكانه فإن لم يشق عليه إمساكه لم يندب الإفطار بل الإمساك أولى قال الغزالي: يندب أن ينوي بفطره إدخال السرور عليه.ويجوز للضيف أن يأكل مما قدم له بلا لفظ من المضيف
{انظر كتاب فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين :  ص ٤٩٣ / كتاب النكاح / فصل في الصداق / للإمام زين الدين أحمد بن عبد العزيز بن زين الدين بن علي بن أحمد المعبري المليباري الهندي (المتوفى: ٩٨٧ هـ) / الناشر: دار بن حزم الطبعة: الأولى - بدون السنة}.

*DISUNNAHKAN*  untuk menikmati hidangan dalam puasa sunah meskipun dianjurkan demi keridhoan pemilik makanan. Jika dikhawatirkan tidak menikmati hidangan tersebut (menahan puasanya) dapat menyinggung perasaan pemilik tersebut, meskipun di akhir siang hari karena ada perintah untuk membatalkan puasa dan dia akan mendapatkan pahala puasa yang sudah lewat dan dianjurkan mengqodho pada hari lain sebagai gantinya. Jika tidak menyebabkan tersinggung pemilik makanan maka disunnahkan tidak membatalkannya (lebih utama tetap berpuasa).

Imam Ghazali telah berkata: disunnahkan berniat untuk untuk menyenangkan perasaan pemilik hidangan pada saat membatalkan puasa. Bagi tamu diperbolehkan menikmati makanan yang telah dihidangkan meskipun belum dipersilahkan dengan ucapan dari tuan rumah.
{Lihat Kitab Fathu Al Mu'in Bisyarhi Qurrati Al 'Aini Bimuhimmaati Ad Dini : hal 493 / Kitabu An Nikahi / Fashlun : Fi Ash Shidaq / Karya Syaikh Zainuddin Al Malibariy Asy Syafi'iy / Dar Ibnu Hazm , Cet. Pertama , Tnp. Tahun}.


*💾✍• وقال الشيخ السيد البكري بن محمد شطا الدمياطي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " إعانة الطالبين شرح فتح المعين ":*

(قوله: يندب الأكل الخ) عبارة المنهاج: ولا تسقط إجابة بصوم، فإن شق على الداعي صوم نفل فالفطر أفضل ... الى ان قال ...

 وأطلق الإمام الشافعي والعراقيون الحكم فيندب الأكل عندهم مطلقا.
{انظر كتاب إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (هو حاشية على فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين) :  ج ٣ ص ٤١٥ / باب النكاح / أبو بكر (المشهور بالبكري) عثمان بن محمد شطا الدمياطي الشافعي (المتوفى: ١٣١٠ هـ) / الناشر: دار الفكر للطباعة والنشر والتوريع الطبعة: الأولى، ١٤١٨ هـ = ١٩٩٧ مـ}.

*🌴👌• Syaikh Sayyid Al Bakriy bin Muhammad Saytho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Ì`anatu At Thalibin​ Syarhu Fathu Al Mu'in berkata :*

((Ungkapan : *DISUNNAHKAN MAKAN* ... dst)) merupakan ibarat kitab Al Minhaj, tidak gugur memenuhi undangan makan sebab berpuasa, apabila puasa Sunnah  membuat tersinggung si pengundang , maka *MEMBATALKAN PUASA SUNNAHNYA LEBIH UTAMA* ... (sampai  pensyarah mengatakan) ...

Imam Syafi'iy dan Ahli 'ìraq memutlakkan hukumnya, *DISUNNAHKAN MAKAN BAGI MEREKA SECARA MUTLAK*
{Lihat Kitab Ì`anatu At Thalibin Syarhu Fathu Al Mu'in : juz 3 hal 415 - 416 / Babu An Nikahi / Karya Syaikh Sayyid Al Bakriy bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri , Cet. Pertama , Th. 1418 H = 1997 M}.


*🌴💾• وقال الشيخ الخطيب الشربيني الشافعي رحمه الله تعالى في "مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج":*

وَلَكِنْ يُكْرَهُ الْخُرُوجُ مِنْهُ بِلَا عُذْرٍ لِظَاهِرِ قَوْله تَعَالَى: {وَلا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ} [محمد: ٣٣] وَلِلْخُرُوجِ مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَ إتْمَامَهُ،
{انظر كتاب مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج : ج ٢ ص ١٨٦ / كتاب الصيام / باب في صوم التطوّع / للشيخ شمس الدين، محمد بن أحمد الخطيب الشربيني الشافعي (المتوفى: ٩٧٧ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية الطبعة: الأولى، ١٤١٥ هـ = ١٩٩٤ مـ}.

*💾✍ • Syaikh Al Khatib Asy Syarbiniy Asy Syafi'iy dalam kitabnya " Mughniy Al Muhtaj ìla Ma'rifati Ma'aniy Al Minhaj " berkata :*

Akan tetapi *DIMAKRUHKAN KELUAR DARI PUASA SUNNAH* berdasarkan dzahir firman Allah : " ... dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (QS. Muhammad : 044/ 33).

Dan karena keluar dari perbedaan pendapat (khilaf) orang yang mewajibkan menuntaskan puasa sunnahnya.
{Lihat Kitab Mughniy Al Muhtaj Ìla Ma'rifati Ma'aniy Alfadzi Al Minhaj : juz 2 hal 186 / Kitabu Ash Shiyami / Babu Fi Shaumi At Taththawu'i / Karya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin Yahya Bin Syaraf An Nawawiy Asy Syafi'iy / Dar Al Kutub Al Ìlmiyyah , Cet. Pertama , Th. 1415 H = 1994 M}.


Artinya, hukum ini hanya berlaku bagi puasa sunnah, seperti puasa senin kamis, puasa 6 hari di bulan syawal, puasa tarwiyah arafah, dll. Adapun dalam puasa wajib, tidak ada pengecualian, bagi orang yang puasa, makan dan minum hidangan jamuan untuk menghormati tamu. Ketika makan atau minum maka apabila sengaja, bukan karena lupa, maka puasanya batal.


*💾🌴• Imam Ibnu Rusyd Al Malikiy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Bidayatu Al Mujtahid " menjelaskan pendapat Para Imam Madzhahibul Arba'ah :*

وَأَمَّا حُكْمُ الْإِفْطَارِ فِي التَّطَوُّعِ: فَإِنَّهُمْ أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ عَلَى مَنْ دَخَلَ فِي صِيَامِ تَطَوُّعٍ فَقَطَعَهُ لِعُذْرٍ قَضَاءٌ.

وَاخْتَلَفُوا إِذَا قَطَعَهُ لِغَيْرِ عُذْرٍ عَامِدًا، فَأَوْجَبَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ عَلَيْهِ الْقَضَاءَ، وَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَجَمَاعَةٌ: لَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ.
{انظر كتاب بداية المجتهد ونهاية المقتصد : ج ٢ ص ٧٤ / كتاب الصيام الثاني / الأيام المنهي عن الصيام فيها / للإمام أبو الوليد محمد بن أحمد بن محمد بن أحمد بن رشد القرطبي الشهير بابن رشد الحفيد المالكي (المتوفى: ٥٩٥ هـ) / الناشر: دار الحديث - القاهرة الطبعة: بدون طبعة تاريخ النشر: ١٤٢٥ هـ = ٢٠٠٤ مـ}.

“Adapun hukum membatalkan puasa sunah, ulama bersepakat bahwa tidak ada kewajiban qadha bagi mereka yang membatalkan puasa sunahnya karena udzur tertentu. Tetapi ulama berbeda pendapat perihal mereka yang membatalkan puasa sunah dengan sengaja (tanpa udzur tertentu). Imam Malik dan Abu Hanifah mewajibkan qadha puasa sunah tersebut.

Tetapi Imam As-Syafi’i dan sekelompok ulama lainya mengatakan bahwa ia tidak wajib mengqadha puasa sunah yang dibatalkannya,”.
{Lihat Kitab  Bidayatu Al Mujtahid Wa Nihayatu Al Muqtashid : juz 2 hal 74 / Kitabu Ash Shiyami Ats Tsaniy / Al Ayyamu Al Manhiyyu 'Anni Ash Shiyami Fiha / Karya Imam Rusyd Al Hafidz Al Malikiy / Dar Al Hadits - Kairo , Th. 1425 H = 2004 M}.


*💾🌴• MAKRUH*  pembatalan puasa sunah tanpa udzur. Hal ini disebutkan dalam Kitab Kifayatul Akhyar berikut ini:

وَمن شرع فِي صَوْم تطوع لم يلْزمه إِتْمَامه وَيسْتَحب لَهُ الاتمام فَلَو خرج مِنْهُ فَلَا قَضَاء لَكِن يسْتَحبّ وَهل يكره أَن يخرج مِنْهُ نظر إِن خرج لعذر لم يكره وَإِلَّا كره
{انظر كتاب كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار : ص ٢٠٨ / كتاب الصيام / باب صوم التطوّع / للشيخ السيد أبو بكر بن محمد بن عبد المؤمن بن حريز بن معلى الحسيني الحصني، تقي الدين الشافعي (المتوفى: ٨٢٩ هـ) /  الناشر: دار الخير - دمشق الطبعة: الأولى، ١٩٩٤ مـ}.

“Orang yang sedang berpuasa sunah tidak wajib merapungkannya (hingga maghrib). Tetapi ia dianjurkan untuk merampungkannya. Jika ia membatalkan puasa sunah di tengah jalan, tidak ada kewajiban qadha padanya, tetapi dianjurkan mengqadhanya. Apakah membatalkan puasa sunah itu makruh? Masalah ini patut dipertimbangkan. Jika ia membatalkannya karena udzur, maka tidak makruh. Tetapi jika tidak karena udzur tertentu, maka pembatalan puasa sunah makruh,”.
{Lihat Kitab Kifayatu Al Akhyar Fi Halli Ghoyatu Al Ìkhtishari : hal 208 / Kitabu Ash Shiyami / Babu Shaumi At Taththawu'i / Karya Imam Sayyid Taqiyuddin Al Hishniy Al Husainiy Asy Syafi'iy / Dar Al Khair - Damaskus , Cet. Pertama , Th. 1994 M}.


*💾✍• Salah satu udzur syar`i adalah menghormati tuan rumah yang menjamu orang puasa yang sedang berkunjung kepadanya sebagai keterangan di dalam Kitab Kifayatul Akhyar berikut ini:

وَمن الْعذر أَن يعز على من يضيفه امْتِنَاعه من الْأكل وَيكرهُ صَوْم يَوْم الْجُمُعَة وَحده تَطَوّعا وَكَذَا إِفْرَاد يَوْم السبت وَكَذَا إِفْرَاد يَوْم الْأَحَد وَالله أعلم
{انظر كتاب كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار : ص ٢٠٨ / كتاب الصيام / باب صوم التطوّع / للشيخ السيد أبو بكر بن محمد بن عبد المؤمن بن حريز بن معلى الحسيني الحصني، تقي الدين الشافعي (المتوفى: ٨٢٩ هـ) /  الناشر: دار الخير - دمشق الطبعة: الأولى، ١٩٩٤ مـ}.

“Salah satu udzur syar’i adalah penghormatan kepada orang yang menjamunya yang mencegahnya untuk makan. Makruh juga puasa sunah hari Jum‘at semata. Sama makruhnya dengan puasa sunah hari Sabtu semata atau hari Ahad saja. Wallahu a‘lam,”
{Lihat Kitab Kifayatu Al Akhyar Fi Halli Ghoyatu Al Ìkhtishari : hal 208 / Kitabu Ash Shiyami / Babu Shaumi At Taththawu'i / Karya Imam Sayyid Taqiyuddin Al Hishniy Al Husainiy Asy Syafi'iy / Dar Al Khair - Damaskus , Cet. Pertama , Th. 1994 M}.


*🌴✍• Syaikh DR. Wahbah Az-Zuhaili, Dalam Kitabnya " Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu " mengatakan :*

هل يلزم التطوع بالشروع فيه؟ للفقهاء نظريتان في هذا الموضوع، الأولى للحنفية والمالكية، والثانية للشافعية والحنابلة:

قال الفريق الأول: من دخل في صوم التطوع أو في صلاة التطوع، لزمه إتمامه، فإن أفسده قضاه وجوباً، كما أنه إذا سافر عمداً فأفطر لسفره، فعليه القضاء، لأن المؤدى قربة وعمل صار لله تعالى، فتجب صيانته بالمضي فيه عن الإبطال، ولا سبيل إلى صيانة ما أداه إلا بلزوم الباقي، وإذا وجب المضي وجب القضاء، ولأن الوفاء بالعقد مع الله واجب، وحله حرام في كل عبادة يتوقف أولها على آخرها، لقوله تعالى: (ولا تبطلوا أعمالكم) -محمد:٣٣/ ٤٧- وقال مالك: لا ينبغي أن يفطر من صام متطوعاً، إلا من ضرورة، وبلغني أن ابن عمر قال: من صام متطوعاً، ثم أفطر من غير ضرورة، فذلك الذي يلعب بدينه، وقياساً على النذر، فإن النفل ينقلب واجباً بالنذر، ويجب أداؤه، لكن ذكر الحنفية أنه إذا شرع متطوعاً في خمسة أيام: يومي العيدين وأيام التشريق، فلا يلزمه قضاؤها في ظاهر الرواية.

وقال الفريق الثاني: من دخل في تطوع غير حج وعمرة كأن شرع في صوم أو صلاة أو اعتكاف أو طواف أو وضوء أو قراءة سورة الكهف ليلة الجمعة أو يومها، أو التسبيحات عقب الصلاة، فلا يلزمه إتمامه، وله قطعه، ولا قضاء عليه، ولا مؤاخذة في قطعه لكن يستحب له إتمامه، لأنه تكميل العبادة، وهو مطلوب، ويكره الخروج منه بلا عذر، لظاهر قوله تعالى: (ولا تبطلوا أعمالكم) -محمد:٣٣/ ٤٧- وللخروج من خلاف من أوجب إتمامه، ولما فيه من تفويت الأجر........ ودليلهم على عدم لزوم النفل بالشروع فيه في الصوم: قوله صلّى الله عليه وسلم: «الصائم المتطوع أمير نفسه، إن شاء صام، وإن شاء أفطر» وتقاس الصلاة وبقية النوافل غير الحج والعمرة على الصوم، ولأن أصل مشروعية النفل غير لازم، والقضاء يتبع المقضي عنه، فإذا لم يكن واجباً، لم يكن القضاء واجباً، بل يستحب، وروي جواز قطع صوم التطوع عن ابن عمر وابن عباس وابن مسعود.
{انظر كتاب الفقه الاسلامي وآدلته : ج ٣ ص ١٦٤٧ - ١٦٤٨ / القسم الأول: العبادات / الباب الثالث: الصيام والاعتكاف / الفصل الأول: الصيام / المبحث الثاني ـ فرضية الصيام وأنواعه / أنواع الصيام / النوع الرابع ـ صوم التطوع أو الصوم المندوب / هل يلزم التطوع بالشروع فيه؟ / للشيخ د. وَهْبَة بن مصطفى الزُّحَيْلِيّ، أستاذ ورئيس قسم الفقه الإسلاميّ وأصوله بجامعة دمشق - كلّيَّة الشَّريعة / الناشر: دار الفكر - سوريَّة - دمشق الطبعة: الرَّابعة - بدون السنة}.

Apakah orang yang mengerjakan kesunnahan (tathawwu’) harus mengerjakannya sampai tuntas? Terdapat dua pendapat di kalangan fuqaha;

1) Hanafiyyah dan Malikiyyah, .

2) Syafi’iyyah dan Hanabilah.

Kelompok Pertama berkata: barang siapa yang mengerjakan puasa atau shalat tathawwu’ maka baginya harus menyempurnakan (menyelesaikannya sampai tuntas). Jika ia merusaknya/membatalkannya, maka wajib baginya menggantinya di lain hari seperti ketika seseorang yang sedang berpuasa sunnah kemudian melakukan perjalanan dan kemudian membatalkan puasa sunnahnya, maka wajib baginya menggantinya di lain hari karena orang yang melakukan qurbah (mendekatkan diri pada Allah) itu pada dasarnya telah menjadi milik Allah, maka wajib baginya menjaganya dari hal-hal yang membatalkannya. Tidak ada hal yang bisa dilakukan dalam menjaganya kecuali dengan menuntaskannya sampai tuntas. Jika wajib menuntaskan, maka jika dibatalkan wajib qadla`. Karena, janji kepada Allah itu harus dipenuhi. Memutusnya adalah berhukum haram berdasarkan firman Allah dalam surat Muhammad (47) ayat 33: “Dan janganlah kalian membatalkan amal-amal kalian”.

Imam Malik berkata: Orang yang menjalankan puasa tathawwu’ tidak seyogyanya membatalkannya kecuali karena keadaan darurat, dan telah sampai kepadaku bahwa Ibnu ‘Umar berkata: Barang suapa berpuasa tathawwu’ kemudian membatalkannya tanpa ada darurat, maka yang demikian ini adalah mempermainkan agama. Juga berdasarkan qiyas kepada nadzar. Karena nadzar sesuatu yang sunnah menjadi wajib.

Tetapi Hanafiyah mengatakan bahwa sesungguhnya jika puasa membatalkan sunnah pada 5 hari berikut: dua hari raya dan tiga hari tasyriq, maka tidak wajib qadla`, menurut zhahirnya riwayat.

Kelompok Kedua berkata: barang siapa yang mengerjakantathawwu’, selain haji dan umrah, seperti puasa, shalat, i’tikaf, thawaf, wudlu, membaca surat al-Kahfi pada malam atau hari Jum’at, membaca tasbih ba’da shalat, maka baginya tidak wajib menuntaskannya. Baginya boleh memutusnya di tengah jalan dan tidak berdosa jika memutusnya, tetapi disunnahkan menuntaskannya karena hal itu adalah menyempurnakan ibadah dan menyempurnakan/menuntaskan ibadah adalah sebuah anjuran. Membatalkannya tanpa ada sebab (‘udzur’i) berhukum makruh berdasarkan makna tersurat firman Allah dalam surat Muhammad (47) ayat 33: “Dan janganlah kalian membatalkan amal-amal kalian” dan berdasarkan pertimbangan al-khuruj minal khilaf atau keluar dari perbedaan pendapat dengan kalangan yang mengharuskan menuntaskan tathawwu’ serta agar tidak kehilangan pahala.

Dalil mereka yang mengatakan tidak adanya keharusan menuntaskan kesunnahan dalam hal puasa adalah sabda Nabi shallAllahu 'alaihi wasallama : Orang yang melaksanakan puasa sunnah adalah pemberi perintah kepada dirinya sendiri, jika ia berkenan ia berpuasa dan jika ia berkenan ia tidak berpuasa. Shalat dan seluruh hal sunnah selain haji dan umrah diqiyaskan dengan puasa. Juga berdasarkan prinsip ibadah sunnah itu adalah tidak wajib dan hukum qadla` itu mengikuti asalnya. Jika ia ibadah wajib, maka qadla juga berhukum wajib. Jika ia ibadah sunnah, maka qadla juga berhukum sunnah, tetapi disunnahkan. Diperbolehkannya memutus puasa sunnah adalah merujuk kepada riwayat Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud.

صوم التطوع: ولا يجوز الفطر بلا عذر للمتطوع بالصوم عند الحنفية القائلين بلزوم النفل في الشروع بالعبادة في الرواية الصحيحة، والضيافة عذر في الأظهر للضيف والمضيف قبل الزوال لا بعده، إلا أن يكون في عدم الفطر بعد الزوال عقوق لأحد الأبوين، لا غيرهما، لتأكد الصوم.

Puasa Tathawwu` (sunnah): tidak diperbolehkan membatalkan puasa sunnah tanpa ada ‘udzur (alasan/sebab), menurut Hanafiyyah, yang menurut riwayat yang shahih berpendapat bahwa orang yang menjalankan ibadah sunnah harus dituntaskan. Bertamu adalah termasuk udzur bagi tamu dan penerima tamu sebelum Zhuhur bukan setelahnya, kecuali jika seseorang tidak membatalkan puasa sunnahnya bisa menyebabkan durhaka kepada salah satu orang tua, bukan kepada yang lainnya, karena begitu pentingnya puasa.
{Lihat Kitab Al Fiqh Al Ìslamiy Wa Ådillatuhu : juz 3 hal 1647 - 1648 / Al Qasmu Al Awwalu : Al Ìbadaatu / Al Babu Ats Tsaalis : Ash Shiyamu Wa Al Ì`tikafu / Al Fashlu Al Awwalu : Ash Shiyamu / Al Mab'atsu Ats Tsaniy : Fadliyyatu Ash Shiyami Wa Anwaa'ihi / Anwaa'u Ash Shiyami / An Nau'u Ar Rabi'u - Shaumu At Taththawu'i Au Shaumu Al Mandubi / Hal Yalzamu At Taththawu'u Bisysyuru'i Fihi ? / Karya Syaikh DR. Wahbah Bin Musthofa Az Zuhailiy , Ustadz Dan Ketua Fak. Fiqih Islam Dan Ushul Fiqih Universitas Damaskus Suriah - Kuliah Syari'ah / Dar Al Fikri - Suriah Damasykus , Tnp. Tahun}.


*2⃣•🌴✍  WAJIB TETAP BERPUASA DAN MENGQODLO' JIKA MEMBATALKAN PUASA KETIKA DIUNDANG DAN DIJAMU MENURUT  HANAFIYYAH (PENGIKUT IMAM ABU HANIFAH) رحمهم الله تعالى*

Kalangan Hanafiyyah mengatakan bahwasanya wajib menjaga dan menuntaskan puasa fardlu maupun sunnah hingga selesai bilamana tidak ada udzur syar'i , jikalau merusak atau  membatalkannya tanpa ada udzur syar'i wajib mengqodlo'nya. Mereka berdalil dengan firman Allah :

 (ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ)

"... Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam,... (QS. Al-Baqarah : 002 -ayat 187)


*💾🌴• Imam Abu Bakar Ar Raziy Al Jashshash Al Hånåfiy rahimahullAhu ta'ala dalam kitab tafsirnya " Ahkamu Al Qur'an " memaparkan :*

قَوْلَهُ: {ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ} اقْتَضَى ذَلِكَ لُزُومَ إتْمَامِ الصَّوْمِ الَّذِي صَحَّ لَهُ الدُّخُولُ فِيهِ تَطَوُّعًا كَانَ ذَلِكَ الصَّوْمُ أَوْ فَرْضًا، وَأَوَامِرُ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى الْوُجُوبِ فَغَيْرُ جَائِزٍ لِأَحَدٍ دَخَلَ فِي صَوْمِ التَّطَوُّعِ أَوْ الْفَرْضِ الْخُرُوجُ مِنْهُ بِغَيْرِ عُذْرٍ; وَإِذَا لَزِمَ الْمُضِيُّ فِيهِ وَإِتْمَامُهُ بِظَاهِرِ الْآيَةِ فَقَدْ صَحَّ عَلَيْهِ وُجُوبُهُ،

وَمَتَى أَفْسَدَهُ لَزِمَهُ قَضَاؤُهُ كَسَائِرِ الْوَاجِبَاتِ.
{انظر كتاب احكام القرآن : ج ١ ص ٢٨٤ / ومن سورة البقرة / مطلب الدهن المتنجس يجوز الانتفاع به بغير الأكل ويجوز بيعه بشرط بيان عيبه
/ للإمام أحمد بن علي أبو بكر الرازي الجصاص الحنفي (المتوفى: ٣٧٠ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية بيروت - لبنان الطبعة: الأولى، ١٤١٥ هـ = ١٩٩٤ مـ}

Firman Allah : { ... Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam ... } (QS. Al Baqarah : 002/ 187). Semua itu memberikan konskwensi hukum wajibnya menuntaskan puasa (hingga malam) yang jelas baginya telah memulai (puasa)  didalamnya baik puasa tersebut  bersifat sebagai puasa Sunnah ataupun puasa wajib, dan perintah - perintah Allah ta'ala atas perkara yang wajib maka tidak diperbolehkan bagi seseorang  yang sudah memulai dalam puasa Sunnah atau Wajib, keluar darinya, tanpa adanya udzur, dan ketika perkara yang lewat sifatnya wajib didalamnya dan harus  menuntaskannya berdasarkan tekstualnya ayat maka menjadi jelas baginya akan  kewajibannya ,

Dan sewaktu - waktu ia merusakkannya (membatalkannya tanpa adanya udzur) maka *WAJIB QODLO'* baginya seperti (merusakkan)  sekian banyak perkara - perkara yang diwajibkan.
{Lihat Kitab Tafsir Ahkamu Al Qur'an : juz 1 hal 284 / Wa Min Surati Al Baqarati / Mathlabu Ad Duhni Al Mutanajjisi Yajuzu Al Ìntifa' Bihi Bighairi Al Akli Wa Yajuzu Bai'uhu Bisyarthi Bayani 'Aibihi / Karya Imam Abu Bakar Ar Raziy Al Jashshash Al Hånåfiy / Dar Al Kutub Al Ìlmiyyah - Beirut Libanon , Cet. Pertama , Th. 1415 H = 1994 M}.


*🌴✍• وقال العلامة ملا علي القاري الحنفي في كتابه " مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح " :*

وَالْعَجَبُ مِنَ ابْنِ الْهُمَامِ حَيْثُ قَالَ: وَمَنَعَ الْمُحَقِّقُونَ كَوْنَ الضِّيَافَةِ عُذْرًا كَالْكَرْخِيِّ، وَأَبُو بَكْرٍ الرَّازِيُّ، وَاسْتَدَلَّا بِمَا رُوِيَ عَنْهُ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ -:

" «إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ فَلْيُجِبْ، فَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَأْكُلْ، وَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ» ". أَيْ: فَلْيَدْعُ لَهُمْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِحَالِ هَذَا الْحَدِيثِ.

وَقَوْلُ بَعْضِهِمْ: ثَبَتَ مَوْقُوفًا عَلَى ابْتِدَاءٍ ثَبَتَ، ثُمَّ لَا يَقْوَى قُوَّةَ حَدِيثِ سَلْمَانَ، يَعْنِي حَدِيثَ الْبُخَارِيِّ:

«آخَى النَّبِيُّ –ﷺ💞– بَيْنَ سَلْمَانَ وَأَبَى الدَّرْدَاءِ، فَزَارَ سَلْمَانُ أَبَا الدَّرْدَاءِ، فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاءِ مُتَبَذِّلَةً فَقَالَ لَهَا: مَا شَأْنُكَ؟ قَالَتْ: أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ فِي الدُّنْيَا، فَجَاءَ أَبُو الدَّرْدَاءِ فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا، فَقَالَ: كُلْ، فَإِنِّي صَائِمٌ. قَالَ: مَا آكُلُ حَتَّى تَأْكُلَ، فَأَكَلَ، فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ، فَقَالَ لَهُ سَلْمَانُ: نَمْ، فَنَامَ، ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ فَقَالَ: نَمْ، فَلَمَّا كَانَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ: قُمِ الْآنَ. قَالَ: فَصَلَّيْنَا، فَقَالَ لَهُ سَلْمَانُ: إِنْ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ، فَأَتَى النَّبِيَّ –ﷺ💞– فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: *_(صَدَقَ سَلْمَانُ)_*» .

وَهَذَا مِمَّا اسْتَدَلَّ بِهِ الْقَائِلُونَ بِأَنَّ الضِّيَافَةَ عُذْرٌ، وَكَذَا مَا أَسْنَدَ الدَّارَقُطْنِيُّ إِلَى جَابِرٍ قَالَ: «صَنَعَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ –ﷺ💞– طَعَامًا، فَدَعَا النَّبِيَّ –ﷺ💙–  وَأَصْحَابَهُ، فَلَمَّا أَتَى بِالطَّعَامِ تَنَحَّى رَجُلٌ مِنْهُمْ، فَقَالَ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ -: (مَا لَكَ؟) قَالَ: إِنِّي صَائِمٌ. فَقَالَ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ -: (تَكَلَّفَ أَخُوكَ وَصَنَعَ طَعَامًا ثُمَّ تَقُولُ إِنِّي صَائِمٌ، كُلْ وَصُمْ يَوْمًا مَكَانَهُ) » اهـ.
{انظر كتاب مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح : ج ٤ ص ١٤٣٢ / كتاب الصوم / باب في توابع لصوم التطوع / للعلامة علي بن (سلطان) محمد، أبو الحسن نور الدين الملا الهروي القاري (المتوفى: ١٠١٤ هـ) / الناشر: دار الفكر، بيروت - لبنان الطبعة: الأولى، ١٤٢٢ هـ = ٢٠٠٢ مـ}.

*💾✍• Al 'Alamah Mula 'Aliy Al Qariy Al Hanafiy rahimahullAhu ta'ala dalam Kitabnya " Mirqatu Al Mafatiihi Syarhu Misykati Al Mashsbihi " berkata :*

Dan ketakjuban/keanehan muncul dari Imam Ibnul Humam sewaktu beliau mengatakan : Para muhaqqiquun (para peneliti dari kalangan ahli Fikih dan Ushul) menolak bahwasannya *BERTAMU ADALAH TERMASUK BUKAN UDZUR* seperti pendapat Imam Al Kurkhiy, Abu Bakar Ar Raziy, dan keduanya bersandar kepada hadits yang telah diriwayatkan dari Nabi- 'alaihishshalatu wassalaamu-

*_“Apabila salah seorang di antara kamu mengundang saudaranya, hendaknya ia memenuhi undangan tersebut (baik itu walimah pengantin atau semisalnya). Ketika tidak berpuasa maka santaplah dan ketika berpuasa maka doakanlah mereka (bagi yang menyediakan jamuan)."_* Allah yang Maha Lebih Tahu perihal hadits ini.

Ungkapan dari  sebagian mereka  tetap dan terhenti pada permulaan yang tetap, kemudian tidak bisa memperkuat  kuatanya hadits Sahabat Salman , yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhariy :

Nabi –ﷺ💞–  mempersaudarakan Salman dan Abu Darda'. Suatu hari Salman mengunjungi Abu Darda', lalu ia melihat Ummu Darda' dengan baju yang kumuh, lalu ia berkata, kepadanya; "Ada apa denganmu?" Dia menjawab: "Saudaramu Abu Darda', dia tidak memperhatikan kebutuhan dunia". Kemudian Abu Darda' datang, lalu ia membuat makanan untuk Salman. Salman berkata kepada Abu Darda': "Makanlah!". Abu Darda' menjawab: "Aku sedang berpuasa". Salman berkata: "Aku tidak akan makan hingga engkau makan". Dia berkata: "Lalu Abu Darda' ikut makan". Pada malam hari Abu Darda' bangun, lalu Salman berkata: "Teruskanlah tidur". Maka iapun tidur lalu bangun lagi, lalu Salman berkata: "Teruskanlah tidur". Maka iapun tidur lagi. Pada akhir malam Salman berkata: "Sekarang bangunlah". Kemudian mereka berdua shalat malam". Lalu Salman berkata kepada Abu Darda': "Sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atasmu, dan jiwamu mempunyai hak atasmu, dan isterimu mempunyai hak atasmu, maka berilah setiap hak kepada orang yang berhak". Kemudian Abu Darda' menemui Nabi–ﷺ💞– lalu ia menceritakan hal itu. Maka Beliau bersabda:

*_"Salman benar"._*
(HR. Bukhariy / Kitabu Ash Shaumi / Babu Man Aqsama 'Ala Akhihi Liyufthiru Fi At Taththawu'i ... / No. 1867)

Dan ini termasuk dalil hadits yang dibuat dalil/hujjah oleh orang - orang yang mengatakan *BAHWASANNYA BERTAMU ADALAH TERMASUK UDZUR*, dan begitu juga hadits yang diisnadkan kepada Imam Daruquthniy kepada Sahabat Jabir bin Abdullah, beliau  berkata:

*_"Salah seorang sahabat Rasulullah –ﷺ💞– membuat makanan, lalu mengundang Nabi –ﷺ💙– dan para sahabatnya. Setelah makanan dihidangkan, salah seorang dari mereka menyingkir. Maka Nabi - 'alaihisshalatu wassalamu- bertanya kepadanya :

 *_"Apa yang terjadi padamu?"_*

dia menjawab, *"Sesungguhnya saya sedang berpuasa."*

Maka Nabi - 'alaihishshalatu wassalaamu-  bersabda kepadanya :

 *_"Saudaramu telah bersusah payah dan membuat makanan untukmu, kemudian kamu mengatakan, sungguh saya sedang berpuasa. Makan dan berpuasalah sehari sebagai penggantinya._*
(HR. Daruquthniy / 11 - Kitabu Ash Shiyami / Bab / No. 2241).
{Lihat Kitab Mirqatu Al Mafatiihi Syarhu Misykatu Al Mashabih : juz 4 hal 1432 / Kitabu Ash Shaumi / Babu Fi Tawabu'in Lishaumi At  Taththowu'i / Karya Al 'Alamah Al Mula 'Aliy Al Qoriy Al Hånåfiy / Dar Al Fikri - Beirut Libanon , Cet. Pertama , Th. 1422 H = 2002 M}.


*💾✍• وجاء في كتاب " فقه العبادات على المذهب الحنفي " للحاجة نجاح الحلبي :*

والصحيح أن إفساد الصوم أو الصلاة بعد الشروع بهما نفلاً مكروه وليس حراماً لأن الدليل ليس قطعي الدلالة، لكن يلزمه القضاء. أما إن عرض للمتطوع عذر أبيح له الفطر اتفاقاً، والضيافة عذر للضيف والمضيف على السواء فيما قبل الزوال لا بعده.
{انظر كتاب فقه العبادات على المذهب الحنفي : ص ١٣٧ / كتاب الصيام / القسم الثالث للصوم المندوب / المؤلف :  الحاجة نجاح الحلبي}.

*🌴💾• Disebutkan dalam kitab " Fiqhu Al 'Ibadati 'Ala Al Madzhab Al Hånåfiy " karya Al Hajj Najah Al Halabiy :*

Dan *YANG BENAR* bahwasannya merusak/membatalkan puasa atau shalat Sunnah setelah memulai keduanya hukumnya adalah *MAKRUH* bukan *HARAM* dikarenakan dalilnya bukan dalil qoth'i (bersifat wajib), namun tetap *WAJIB BAGINYA  MENGQODLO'*.

Adapun bagi pelaku ibadah puasa Sunnah bilamana datang udzur , maka *MENURUT KESEPAKATAN IA BOLEH MEMBATALKANNYA* dan perjamuan adalah udzur (halangan) , sama baik bagi tamu atau yang menjamu , diwaktu sebelum zawal  (terbenamnya matahari) atau sesudahnya.
{Lihat Kitab Fiqhu Al 'Ibadati 'Ala Madzhabi Al Hanafiy : hal 137 / Kitabu Ash Shiyami / Al Qasmu Ats Tsalitsi Lishaumi Al Mandubi / Karya Al Hajj Najah Al Halabiy}.


*3⃣•🌴✍  HARAM MEMBATALKAN PUASA SUNNAH  KETIKA TIDAK ADA UDZUR/HALANGAN DAN WAJIB MENGQODLO' DAN BOLEH  MEMBATALKAN PUASA SUNNAH KETIKA UDZUR DATANG KEMUDIAN DAN TIDAK WAJIB MENGQODLO'  MENURUT  MALIKIYYAH (PENGIKUT IMAM MALIK BIN ANAS) رحمهم الله تعالى*

*🌴✍• قال الإمام  محمد بن عبد الباقي بن يوسف الزرقاني المصري الأزهري المالكي رحمه الله تعالى في شرحه على الموطأ للإمام مالك :*

حَدَّثَنِي يَحْيَى، عَنْ مَالِكٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَنَّ عَائِشَةَ وَحَفْصَةَ زَوْجَيِ النَّبِيِّ–ﷺ💞– أَصْبَحَتَا صَائِمَتَيْنِ مُتَطَوِّعَتَيْنِ فَأُهْدِيَ لَهُمَا طَعَامٌ.
فَأَفْطَرَتَا عَلَيْهِ.
فَدَخَلَ عَلَيْهِمَا رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💙–، قَالَتْ عَائِشَةُ، فَقَالَتْ حَفْصَةُ وَبَدَرَتْنِي بِالْكَلَامِ وَكَانَتْ بِنْتَ أَبِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ.
إِنِّي أَصْبَحْتُ أَنَا وَعَائِشَةُ صَائِمَتَيْنِ مُتَطَوِّعَتَيْنِ فَأُهْدِيَ إِلَيْنَا طَعَامٌ فَأَفْطَرْنَا عَلَيْهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ❤–:

*_« اقْضِيَا مَكَانَهُ يَوْمًا آخَرَ »_*

قَالَ يَحْيَى: سَمِعْتُ مَالِكًا يَقُولُ: مَنْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ سَاهِيًا أَوْ نَاسِيًا فِي صِيَامِ تَطَوُّعٍ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ. وَلْيُتِمَّ يَوْمَهُ الَّذِي أَكَلَ فِيهِ أَوْ شَرِبَ وَهُوَ مُتَطَوِّعٌ.
وَلَا يُفْطِرْهُ.

وَلَيْسَ عَلَى مَنْ أَصَابَهُ أَمْرٌ، يَقْطَعُ صِيَامَهُ وَهُوَ مُتَطَوِّعٌ، قَضَاءٌ. إِذَا كَانَ إِنَّمَا أَفْطَرَ مِنْ عُذْرٍ، غَيْرَ مُتَعَمِّدٍ لِلْفِطْرِ.
{انظر كتاب شرح الزرقاني على موطأ مالك : ج ص / كِتَابُ الصِّيَامِ / بَابُ قَضَاءِ التَّطَوُّعِ / حديث رقم : ٦٨٦ / للإمام  محمد بن عبد الباقي بن يوسف الزرقاني المصري الأزهري /  الناشر: مكتبة الثقافة الدينية - القاهرة الطبعة: الأولى، ١٤٢٤هـ }.

*💾🌴• Imam Az Zurqaniy Al Mishriy Al Azhariy Al Malikiy rahimahullAhu ta'ala dalam Kitabnya " Syarhu Az Zurqaniy 'Ala Al Muwatho' Al Imam Malik " berkata :*

Telah menceritakan kepadaku : Yahya. Dari Malik. Dari Ibnu Syihab bahwa Aisyah dan Hafshah isteri Nabi –ﷺ❤– berpuasa sunnah pada suatu pagi hari. Kemudian beliau diberi hadiah berupa makanan, lalu 'Aisyah dan Hafshah berbuka dengannya.

Kemudian Rasulullah –ﷺ💙– masuk menemui mereka. Aisyah berkata, "Hafshah lalu berkata mendahuluiku, dia adalah anak bapaknya. Wahai Rasulullah, pagi ini aku dan Aisyah berpuasa sunnah, lalu ada yang memberi kami makanan dan kami berbuka dengannya'."

Rasulullah–ﷺ💚– bersabda:

*_"Gantilah puasa kalian pada hari yang lain."_*

Yahya berkata : aku telah mendengar Imam Malik berkata : barangsiapa makan atau minum karena terlanjur atau lupa pada puasa Sunnah , maka *QODLO'' TIDAK WAJIB BAGINYA*. Dan terus  menuntaskan puasa sunnahnya pada hari dimana ia makan atau minum didalamnya. Ia tetap menjadi orang yang sedang berpuasa sunnah dan tidak perlu membatalkannya (sekalipun ia sudah makan atau minum karena lupa saat itu). Dan tidak ada bagi orang yang tertimpa sesuatu perkara yang menyebabkan terputus puasa sunnahnya qodlo' (menggantinya pada hari lain) , ketika ada sebab ia membatalkannya dari adanya udzur selain dilakukan dengan maksud sengaja berbuka.
{Lihat Kitab Syarhu Az Zurqaniy 'Ala Al Muwatho' Al Imam Malik : juz hal / Kitabu Ash Shiyami / Babu Qodlo'i At Taththawu'i / No. 686 / Karya Imam Az Zurqaniy Al Mishriy Al Azhariy Al Malikiy / Maktabah Ats Tsaqofiyyah Ad Diniyyah - Kairo , Cet. Pertama , Th. 1424 H}.


*🌴✍• Pembatalan puasa Sunnah dengan udzur, ulama sepakat bahwa *PUASANYA TIDAK PERLU  DIQODLO'.* Tetapi ketika puasa Sunnah itu dibatalkan tanpa udzur, ulama berbeda pendapat sebagai keterangan Imam  Ibnu Rusyd Al Hafidz Al Malikiy rahimahullAhu ta'ala berikut ini:

وَأَمَّا حُكْمُ الْإِفْطَارِ فِي التَّطَوُّعِ: فَإِنَّهُمْ أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ عَلَى مَنْ دَخَلَ فِي صِيَامِ تَطَوُّعٍ فَقَطَعَهُ لِعُذْرٍ قَضَاءٌ.

وَاخْتَلَفُوا إِذَا قَطَعَهُ لِغَيْرِ عُذْرٍ عَامِدًا، فَأَوْجَبَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ عَلَيْهِ الْقَضَاءَ،

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَجَمَاعَةٌ: لَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ.
{انظر كتاب بداية المجتهد ونهاية المقتصد : ج ٢ ص ٧٤ / كتاب الصيام الثاني / الأيام المنهي عن الصيام فيها / للإمام أبو الوليد محمد بن أحمد بن محمد بن أحمد بن رشد القرطبي الشهير بابن رشد الحفيد المالكي (المتوفى: ٥٩٥ هـ) / الناشر: دار الحديث - القاهرة الطبعة: بدون طبعة تاريخ النشر: ١٤٢٥ هـ = ٢٠٠٤ مـ}.

“Adapun hukum membatalkan puasa sunah, ulama bersepakat bahwa *TIDAK ADA KEWAJIBAN QADLO' BAGI MEREKA YANG MEMBATALKAN PUASA SUNAHNYA KARENA UDZUR TERTENTU*. Tetapi ulama berbeda pendapat perihal mereka yang membatalkan puasa sunnah dengan sengaja (tanpa udzur tertentu).

*IMAM MALIK*  dan Abu Hanifah *MEWAJIBKAN QODLO' PUASA SUNNAH TERSEBUT*.

Tetapi Imam As-Syafi’iy dan sekelompok ulama lainya mengatakan bahwa ia tidak wajib mengqadha puasa Sunnah yang dibatalkannya,”
{Lihat Kitab Bidayatu Al Mujtahid Wa Nihayatu Al Muqtashid : juz 2  hal 74 / Kitabu Ash Shiyami Ats Tsaniy / Al Ayyamu Al Manhiyyu Ash Shiyamu​ Fiha / Karya Imam Ibnu Rusyd Al Hafidz Al Malikiy / Dar Al Hadits - Kairo , Th. 1425 H = 2004 M}.


*💾🌴• وقال الإمام الشوكاني اليمني رحمه الله تعالى في كتابه " نيل الأوطار ":*

وَالْأَحَادِيثُ الْمَذْكُورَةُ فِي الْبَابِ تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ يَجُوزُ لَمَنْ صَامَ تَطَوُّعًا أَنْ يُفْطِرَ لَا سِيَّمَا إذَا كَانَ فِي دَعْوَةٍ إلَى طَعَامِ أَحَدٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ. وَيَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلْمُتَطَوِّعِ الْقَضَاءُ لِذَلِكَ الْيَوْمِ. وَقَدْ ذَهَبَ إلَى ذَلِكَ الْجُمْهُورُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ

وَحَكَى التِّرْمِذِيُّ عَنْ قَوْمٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنَّهُمْ رَأَوْا عَلَيْهِ الْقَضَاءَ إذَا أَفْطَرَ، قَالَ: وَهُوَ قَوْلُ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ، وَاسْتَدَلُّوا بِحَدِيثِ عَائِشَةَ الْمَذْكُورِ، وَبِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فِي الْبَابِ وَأُجِيبَ عَنْ ذَلِكَ بِمَا فِي حَدِيثِ أُمِّ هَانِئٍ مِنْ التَّخْيِيرِ، فَيُجْمَعُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ حَدِيثِ عَائِشَةَ، وَأَبِي سَعِيدٍ بِحَمْلِ الْقَضَاءِ عَلَى النَّدْبِ. وَيَدُلُّ عَلَى جَوَازِ الْإِفْطَارِ وَعَدَمِ وُجُوبِ الْقَضَاءِ حَدِيثُ أَبِي جُحَيْفَةَ الْمُتَقَدِّمُ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَرَّرَ ذَلِكَ وَلَمْ يُبَيِّنْ لِأَبِي الدَّرْدَاءِ وُجُوبَ الْقَضَاءِ عَلَيْهِ. وَتَأْخِيرُ الْبَيَانِ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ لَا يَجُوزُ.

قَالَ ابْنُ الْمُنِيرِ: لَيْسَ فِي تَحْرِيمِ الْأَكْلِ فِي صَوْمِ النَّفْلِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ إلَّا الْأَدِلَّةَ الْعَامَّةَ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَلا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ} [محمد: ٣٣] إلَّا أَنَّ الْخَاصَّ يُقَدَّمُ عَلَى الْعَامِّ كَحَدِيثِ سَلْمَانَ،

وَقَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ: مِنْ احْتَجَّ فِي هَذَا بِقَوْلِهِ تَعَالَى:. {وَلا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ} [محمد: ٣٣] فَهُوَ جَاهِلٌ بِأَقْوَالِ أَهْلِ الْعِلْمِ، فَإِنَّ الْأَكْثَرَ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِذَلِكَ النَّهْيُ عَنْ الرِّيَاءِ كَأَنَّهُ قَالَ: لَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ بِالرِّيَاءِ بَلْ أَخْلِصُوهَا لِلَّهِ.

وَقَالَ آخَرُونَ: لَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ بِارْتِكَابِ الْكَبَائِرِ، وَلَوْ كَانَ الْمُرَادُ بِذَلِكَ النَّهْيَ عَنْ إبْطَالِ مَا لَمْ يَفْرِضْ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَلَا أَوْجَبَ عَلَى نَفْسِهِ بِنَذْرٍ أَوْ غَيْرِهِ لَامْتَنَعَ عَلَيْهِ الْإِفْطَارُ إلَّا بِمَا يُبِيحُ الْفِطْرَ مِنْ الصَّوْمِ الْوَاجِبِ وَهُمْ لَا يَقُولُونَ بِذَلِكَ انْتَهَىوَلَا يَخْفَى أَنَّ الْآيَةَ عَامَّةُ الِاعْتِبَارِ بِعُمُومِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ كَمَا تَقَرَّرَ فِي الْأُصُولِ،

فَالصَّوَابُ مَا قَالَ ابْنُ الْمُنِيرِ قَوْلُهُ: (لَا عَلَيْكُمَا) فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ يَجُوزُ لَمَنْ كَانَ صَائِمًا عَنْ قَضَاءٍ أَنْ يُفْطِرَ وَلَا إثْمَ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَمْ يَسْتَفْصِلْ هَلْ الصَّوْمُ قَضَاءٌ أَوْ تَطَوُّعٌ؟ وَيُؤَيِّدُ ذَلِكَ قَوْلُهُ فِي حَدِيثِ أُمِّ هَانِئٍ: " إنْ كَانَ قَضَاءً مِنْ رَمَضَانَ فَاقْضِ يَوْمًا مَكَانَهُ " قَوْلُهُ: (يَعْنِي) هَذِهِ اللَّفْظَةُ لَيْسَتْ فِي مَتْنِ الْحَدِيثِ .انتهى .
{انظر كتاب نيل الأوطار : ج ٤ ص ٣٠٦ - ٣٠٧ / كتاب الصيام / بَابُ مَا جَاءَ فِي اسْتِقْبَالِ رَمَضَانَ بِالْيَوْمِ وَالْيَوْمَيْنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ / للإمام محمد بن علي بن محمد بن عبد الله الشوكاني اليمني (المتوفى: ١٢٥٠ هـ) /  الناشر: دار الحديث، مصر الطبعة: الأولى، ١٤١٣ هـ = ١٩٩٣ مـ}.

*💾✍• Imam Asy Syaukaniy Al Yamaniy rahimahullAhu ta'ala dalam Kitabnya " Nailu Al Authar " berkata :*

Hadis-hadis yang dikemukakan dalam bab ini menjadi dalil bahawa dibolehkan bagi orang yang berpuasa sunat untuk berbuka, khasnya apabila dijemput untuk makan oleh salah seorang kaum Muslimin.

Dan ia juga menjadi dalil bahawa disukai bagi orang yang berpuasa sunat untuk menggantikan (qodlo') hari itu.

Demikianlah pandangan kebanyakan jumhur (mayoritas) ahli ilmu.
{Lihat Kitab Nailu Al-Authar : juz 4, hal 306 - 307 / Kitabu Ash Shiyami / Babu Ma Ja'a Fi Istiqbali Ramadlona Bilyaumi Walyaumaini Wa Ghairi Dzalika / Karya Imam Asy Syaukaniy Al Yamaniy / Dar Al Hadist - Mesir , Cet. Pertama , Th. 1413 H = 1993 M}.


*💾👌• وجاء في كتاب فقه العبادات على المذهب الإمام مالك ":*

يحرم الفطر عمدا في صوم التطوع، من غير ضرورة ولا عذر، ولو أفطر لسفر طرأ عليه، أو لحلف أحد عليه بطلاق البت (الثلاث)، وعليه القضاء،
{انظر كتاب فقه العبادات على المذهب مالك : ص ٣١٤ / كتاب الصوم / الباب الأول : تعريف الصوم / المؤلف : الحاجّة كوكب عبيد / الناشر: مطبعة الإنشاء، دمشق - سوريا. الطبعة: الأولى ١٤٠٦ هـ = ١٩٨٦ مـ}.

*🌴✍• Disebutkan dalam kitab " Fiqhu Al Ìbadat 'Ala Al Madzhabi Al Imam Malik ":*

*HARAM* membatalkan secara sengaja didalam puasa sunnah dari tanpa adanya kedaruratan dan udzur, sekalipun berbuka karena bepergian yang datang kemudian padanya, atau karena bersumpah talak Bain (tiga), dan *WAJIB QODLO'* atasnya.
{Lihat Kitab Fiqhu Al ìbadat 'Ala Al Madzhab Al Imam Malik : hal 314 / Kitabu Ash Shaumi / Al Babu Al Awwalu : Ta'riifu Ash Shaumi / Karya Al Hajj Kaukab 'Abiid / Maktabah Al Ìnsyaa' - Damaskus Suriah , Cet. Pertama , Th. 1406 H = 1986 H}.



*4️⃣•🌴✍  TETAP BERPUASA JIKA TIDAK MENYAKITI TUAN RUMAH  DAN  MEMBATALKAN PUASANYA  KETIKA DIPREDIKSIKAN BISA MENYAKITI TUAN RUMAH  MENURUT  HANABILLAH (PENGIKUT IMAM AHMAD BIN HANBAL) رحمهم الله تعالى*

*🌴💾• قال الإمام أبو القاسم عمر بن الحسين بن عبد الله الخرقي الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه " متن الخرقي على المذهب الإمام أحمد بن حنبل الشيباني ":*

وَمَنْ دَخَلَ فِي صِيَامِ تَطَوُّعٍ ، فَخَرَجَ مِنْهُ ، فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ ، وَإِنْ قَضَاهُ فَحَسَنٌ
{انظر كتاب متن الخرقى على مذهب ابي عبدالله أحمد بن حنبل الشيباني : ص ٥١ / كتاب الصيام / مدخل / للإمام أبو القاسم عمر بن الحسين بن عبد الله الخرقي الحنبلي (المتوفى: ٣٣٤ هـ) / الناشر: دار الصحابة للتراث الطبعة: ١٤١٣هـ = ١٩٩٣ مـ}.

*📚✍• Imam Abul Qasim Al Khurqiy Al Hanbaliy rahimahullAhu ta'ala dalam kitab matannya berkata :*

Barangsiapa telah masuk/memulai puasa sunnah, kemudian ia keluar darinya *MAKA TIDAK WAJIB QODLO' BAGINYA* , namun apabila mengqodlo'nya itu adalah bagus.
{Lihat Kitab Matan Al Khurqiy 'Ala Al Madzhab Al Imam Ahmad bin Hanbal Asy Syaibaniy : hal 51 / Kitabu Ash Shiyami / Madkhal / Karya Imam Abul Qasim Al Khurqiy Al Hanbaliy / Dar Ash Shahabah Litturats - Mesir , Th. 1413 H = 1993 M}.


*💾✍• Imam Ibnu Taimiyah Al Hanbaliy rahimahullAhu ta'ala dalam Kitabnya " Fatawa Al-Kubra " berkata :*

وَأَعْدَلُ الْأَقْوَالِ أَنَّهُ إذَا حَضَرَ الْوَلِيمَةَ وَهُوَ صَائِمٌ إنْ كَانَ يَنْكَسِرُ قَلْبُ الدَّاعِي بِتَرْكِ الْأَكْلِ فَالْأَكْلُ أَفْضَلُ وَإِنْ لَمْ يَنْكَسِرْ قَلْبُهُ فَإِتْمَامُ الصَّوْمِ أَفْضَلُ وَلَا يَنْبَغِي لِصَاحِبِ الدَّعْوَةِ الْإِلْحَاحُ فِي الطَّعَامِ لَلْمَدْعُوِّ إذَا امْتَنَعَ فَإِنَّ كِلَا الْأَمْرَيْنِ جَائِزٌ فَإِذَا أَلْزَمَهُ بِمَا لَا يَلْزَمُهُ كَانَ مِنْ نَوْعِ الْمَسْأَلَةِ الْمَنْهِيِّ عَنْهَا
{انظر كتاب الفتاوى الكبرى : ج ٥ ص ٤٧٨ / كتاب الاختيارات العلمية / كتاب النكاح / باب الوليمة / للإمام تقي الدين أبو العباس أحمد بن عبد الحليم بن عبد السلام بن عبد الله بن أبي القاسم بن محمد ابن تيمية الحراني الحنبلي الدمشقي (المتوفى: ٧٢٨ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية الطبعة: الأولى، ١٤٠٨ هـ = ١٩٨٧ مـ}.

“Pendapat yang paling baik dalam masalah ini, jika seseorang menghadiri walimah (undangan makan) dalam keadaan ia berpuasa, jika sampai menyakiti hati yang mengundang karena enggan untuk makan, maka *MAKAN KETIKA ITU LEBIH UTAMA*. Namun jika tidak sampai menyakiti hatinya, maka *MELANJUTKAN PUASA LEBIH BAIK*. Akan tetapi, tidaklah pantas bagi tuan rumah memaksa yang diundang untuk makan ketika ia enggan untuk makan. Karena kedua kondisi yang disebutkan tadi sama-sama boleh. Jika jadinya memaksa pada hal yang sebenarnya bukan wajib, itu merupakan bagian dari pemaksaan yang terlarang.”
{Lihat Kitab Al Fatawa Al Kubra : juz 5 hal 478 / Kitabu Al Ìkhtiyarati Al ìlmiyyah / Kitabu An Nikahi / Babu Al Walimati / Karya Imam Taqiyyyuddin Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy / Dar Al Kutub Al Ìlmiyyah , Cet. Pertama , Th. 1408 H = 1987 M}.


💾✍• Adapun puasa wajib, baik ramadhan maupun di luar ramadhan, seperti puasa nadzar, atau puasa qadha, atau puasa karena bayar kaffarah, dan puasa wajib lainnya, *TIDAK BOLEH DIBATALKAN*. Kecuali jika ada uzur, seperti sakit, safar, atau uzur lainnya.


*🌴📚• Imam Ibnu Qudamah Al Hanbaliy rahimahullAhu ta'ala dalam Kitabnya " Al Mughniy "  mengatakan :*

وَمِنْ دَخَلَ فِي وَاجِبٍ، كَقَضَاءِ رَمَضَان، أَوْ نَذْرٍ مُعَيَّنٍ أَوْ مُطْلَقٍ، أَوْ صِيَامِ كَفَّارَةٍ؛ لَمْ يَجُزْ لَهُ الْخُرُوجُ مِنْهُ؛

لِأَنَّ الْمُتَعَيِّنَ وَجَبَ عَلَيْهِ الدُّخُولُ فِيهِ، وَغَيْرَ الْمُتَعَيِّنِ تَعَيَّنَ بِدُخُولِهِ فِيهِ، فَصَارَ بِمَنْزِلَةِ الْفَرْضِ الْمُتَعَيِّنِ، وَلَيْسَ فِي هَذَا خِلَافٌ بِحَمْدِ اللَّهِ.
{انظر كتاب المغني على مختصر الخرقي :  ج ٣ ص ١٦٠ - ١٦١ / كتاب الصيام / مسألة من دخل في صيام تطوع فخرج منه فلا قضاء عليه / للإمام أبو محمد موفق الدين عبد الله بن أحمد بن محمد بن قدامة الجماعيلي المقدسي ثم الدمشقي الحنبلي، الشهير بابن قدامة المقدسي (المتوفى: ٦٢٠ هـ) الناشر: مكتبة القاهرة - بدون السنة}.

Siapa yang telah memulai puasa wajib seperti qadha ramadhan, puasa nazar hari tertentu atau nazar mutlak, atau puasa kafarah, *TIDAK BOLEH MEMBATALKANNYA*. Karena sesuatu yang statusnya wajib ain, harus dilakukan. Sementara yang bukan wajib ain, menjadi wajib ain jika telah dilakukan. Sehingga statusnya sama dengan wajib ain. Dan dalam hal ini tidak ada perselisihan, alhamdulillah...
{Lihat Kitab Al-Mughniy 'Ala Mukhtashar Al Khurqiy : juz 3 hal 160 – 161 / Kitabu Ash Shiyami / Mas'alah : Man Dakhala Fi Shiyamin Taththawu'in Fakhoroja Minhu Fala Qodlo'a 'Alaihi / Karya Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy / Maktabah Kairo - Tnp. Tahun}.


*💾✍• وجاء في كتاب فقه العبادات على المذهب الحنبلي :*

حكم الإفطار في صيام غير رمضان

(١) - يجوز الخروج من صوم التطوع وليس عليه قضاء، لما روت عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها قالت:

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ذَاتَ يَوْمٍ يَا عَائِشَةُ ، هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ ؟ قَالَتْ : فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا عِنْدَنَا شَيْءٌ قَالَ : فَإِنِّي صَائِمٌ قَالَتْ : فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُهْدِيَتْ لَنَا هَدِيَّةٌ - أَوْ جَاءَنَا زَوْرٌ - قَالَتْ : فَلَمَّا رَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أُهْدِيَتْ لَنَا هَدِيَّةٌ - أَوْ جَاءَنَا زَوْرٌ - وَقَدْ خَبَأْتُ لَكَ شَيْئًا ، قَالَ : مَا هُوَ ؟ قُلْتُ : حَيْسٌ ، قَالَ : هَاتِيهِ فَجِئْتُ بِهِ فَأَكَلَ ، ثُمَّ قَالَ : قَدْ كُنْتُ أَصْبَحْتُ صَائِمًا

(٢) - يستحب الخروج من صوم مكروه، لما روت جويرية بنت الحارث رضي الله عنها :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهِيَ صَائِمَةٌ فَقَالَ أَصُمْتِ أَمْسِ قَالَتْ لا قَالَ تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِي غَدًا قَالَتْ لا قَالَ : فَأَفْطِرِي

(٣) - يحرم الإفطار من صوم واجب كقضاء أو نذراً أو كفارة، فإن أفطر لم يلزمه أكثر مما كان عليه
{انظركتاب فقه العبادات على المذهب الحنبلي : ص ٤١٠ / تعريف الفقه / كتاب الصيام / الباب الأول / المؤلف : سعاد زرزور}.

*🌴📚• Disebutkan dalam kitab " Fiqhu Al Ìbadati 'Ala Al Madzhab Al Hanbaliy ":*

Hukum Membatalkan Puasa Selain Puasa Ramadlon

(1) - *BOLEH* keluar dari puasa Sunnah dan *TIDAK ADA KEWAJIBAN QODLO'* baginya. Berdasarkan hadits yang telah diriwayatkan oleh Sayyidatuna 'Aisyah Ummul Mu'minin radliyyAllahu 'anha, beliau berkata :

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ذَاتَ يَوْمٍ يَا عَائِشَةُ ، هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ ؟ قَالَتْ : فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا عِنْدَنَا شَيْءٌ قَالَ : فَإِنِّي صَائِمٌ قَالَتْ : فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُهْدِيَتْ لَنَا هَدِيَّةٌ - أَوْ جَاءَنَا زَوْرٌ - قَالَتْ : فَلَمَّا رَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أُهْدِيَتْ لَنَا هَدِيَّةٌ - أَوْ جَاءَنَا زَوْرٌ - وَقَدْ خَبَأْتُ لَكَ شَيْئًا ، قَالَ : مَا هُوَ ؟ قُلْتُ : حَيْسٌ ، قَالَ : هَاتِيهِ فَجِئْتُ بِهِ فَأَكَلَ ، ثُمَّ قَالَ : قَدْ كُنْتُ أَصْبَحْتُ صَائِمًا

Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepadaku: "Wahai Aisyah, apakah kamu mempunyai makanan?" Aisyah menjawab, "Tidak, ya Rasulullah." Beliau bersabda: "Kalau begitu, aku akan berpuasa." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun keluar. Tak lama kemudian, saya diberi hadiah berupa makanan -atau dengan redaksi seorang tamu mengunjungi kami--. Aisyah berkata; Maka ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kembali saya pun berkata, "Ya Rasulullah, tadi ada orang datang memberi kita makanan dan kusimpan untuk Anda." Beliau bertanya: "Makanan apa itu?" saya menjawab, "Kuwe hais (yakni terbuat dari kurma, minyak samin dan keju)." Beliau bersabda: "Bawalah kemari." Maka kuwe itu pun aku sajikan untuk beliau, lalu beliau makan, kemudian berkata, "Sungguh dari pagi tadi aku puasa." (HR. Muslim).

(2) - *DIPERBOLEHKAN KELUAR DARI PUASA YANG DIMAKRUHKAN* berdasarkan riwayat hadits yang telah diriwayatkan oleh Sayyidatuna Juwairiyyah binti Al Harits radliyyAllahu 'anha :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهِيَ صَائِمَةٌ فَقَالَ أَصُمْتِ أَمْسِ قَالَتْ لا قَالَ تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِي غَدًا قَالَتْ لا قَالَ فَأَفْطِرِي

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuinya pada hari Jum’at dan ia dalam keadaan berpuasa, lalu beliau bersabda, “Apakah engkau berpuasa kemarin?” “Tidak”, jawabnya. “Apakah engkau ingin berpuasa besok?”, tanya beliau lagi. “Tidak”, jawabnya lagi. “Batalkanlah puasamu”, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1986).

(3) - *HARAM MEMBATALKAN PUASA WAJIB* seperti puasa qodlo', nadzar, atau kifarat, maka apabila membatalkan *TIDAK WAJIB BAGINYA (MENGQODLO')  MELEBIHI DARI PERKARA YANG WAJIB BAGINYA*.
{Lihat Kitab Fiqhu  Al Ìbadati 'Ala Madzhabi Al Hanbaliy : hal 410 / Ta'riifu Al Fiqhi / Kitabu Ash Shiyami / Al Babu Al Awwalu / Karya Al Hajj Sa'ad Zarzur}.


جمعها ورتبها " طالب العلم " محمّد عبد الحكيم الجاوي

Selesai Senin pon, MTsN 1 Magelang :

٦ يولي ٢٠٢٠ مـ
١٤ ذو القعدة ١٤١٤ هـ

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PAHALA MENDENGAR AL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top