Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label DAN FAKHR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DAN FAKHR. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Februari 2023

﴿وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ﴾ إذَا أَصَبْت خَيْرًا أَوْ عَمِلْت خَيْرًا فَحَدِّثْ بِهِ الثِّقَةَ مِنْ إخْوَانِك على سبيل الشكر لا الفخر والتعالي | DAN ADAPUN DENGAN NIKMAT TUHANMU MAKA CERITAKANLAH

 


(edisi sunnah at tahadduts bini'mah menceritakan nikmat yang diberikan kepada orang yang dapat dipercayai sebagai ungkapan syukur, bukan untuk berbangga diri, meninggi, riya', dsb,  yang demikian sudah  terhitung orang yang mau bersyukur)



Al Imam Al Alusiy Al Hanafiy rahimahullahu dalam kitab tafsirnya Ruhu Al Ma'aniy Fi Tafsiri Al Qur'an.Al 'Adzim menjelaskan :


وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ فَإِنَّ التَّحَدُّثَ بِهَا شُكْرٌ لَهَا كَمَا قَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَالْحَسَنُ وَقَتَادَةُ وَالْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ.


وَأَخْرَجَ الْبُخَارِيُّ فِي الْأَدَبِ وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ وَأَبُو يَعْلَى وَابْنُ حِبَّانَ وَالْبَيْهَقِيُّ وَالضِّيَاءُ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ مَرْفُوعًا: 


«مَنْ أُعْطِيَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيُجْزِ بِهِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَثْنِ بِهِ، فَمَنْ أَثْنَى بِهِ فَقَدْ شَكَرَهُ، وَمَنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ، وَمَنْ تَحَلَّى بِمَا لَمْ يُعْطَ كَانَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ».


وَلِذَا اسْتَحَبَّ بَعْضُ السَّلَفِ التَّحَدُّثَ بِمَا عَمِلَهُ مِنَ الْخَيْرِ إِذْ لَمْ يُرِدْ بِهِ الرِّيَاءَ وَالِافْتِخَارَ وَعَلِمَ الِاقْتِدَاءَ بِهِ بَلْ بَعْضُ أَهْلِ الْبَيْتِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ حَمَلَ الْآيَةَ عَلَى ذَلِكَ.

[انظر كتاب روح المعاني في تفسير القرآن العظيم والسبع المثاني = تفسير الألوسي : ج ٣٠ ص ١٦٥ / تفسير سورة الضحى / تفسير قوله تعالى وأما بنعمة ربك فحدث / للإمام  شهاب الدين محمود بن عبد الله الحسيني الألوسي الحنفي (ت ١٢٧٠هـ)، الناشر: دار الكتب العلمية - بيروت، الطبعة: الأولى، ١٤١٥ هـ].


Dan tentang nikmat Tuhanmu, maka  bicarakanlah, karena membicarakannya adalah mensyukurinya, seperti yang dikatakan oleh Umar bin Abd al-Aziz, al-Hasan, Qatadah, dan al-Fadhil al-Iyadh.


Al-Bukhari mengeluarkannya  dalam kitab Al Adab,  Abu Dawud, Al-Tirmidzi yang menyatakan HASAN, Abu Ya'la, Ibnu Hibban, Al-Bayhaqi dan Ad-Diya'. Dari Sahabat Jabir bin Abdillah radliyyAllahu'anhu secara marfu' :


Barangsiapa yang diberi pemberian (oleh seseorang), lalu dia mendapatkan (sesuatu untuk membalasnya), maka balaslah dengannya. Namun jika dia tidak mendapatkannya, maka pujilah dia, karena orang yang memujinya berarti telah berterima kasih (kepadanya). Dan barangsiapa yang menyembunyikan kebaikannya, maka berarti dia telah mengkufurinya (tidak berteima kasih kepadanya). 


"Barangsiapa menghiasi diri dengan sesuatu yang dia tidak dianugerahi dengannya, maka dia seperti memakai baju dengan dua lengan baju (yang bertumpuk) untuk menipu (seolah-olah dia memakai dua baju).”


Oleh karena itu, beberapa pendahulu lebih suka membicarakan kebaikan yang dia lakukan, dan dengan itu TIDAK BERMAKSUD RIYA'/PAMER ATAU BERBANGGA DIRI.


Dan belajar untuk mengikuti teladannya, bahkan sebagian Ahlul Bait (keluarga Nabi ﷺ), membawa ayatnya tentang semua itu.

[Lihat Kitab Ruhu Al Ma'aniy = Tafsir Al Alusiy : juz 30 hal 165 / Tafsir Surah Adh Dhuha / Tafsir Qauluhu Ta'ala Waamma Bini'mati Rabbika Fahaddits / Karya Imam Syihabuddin Al Alusiy Al Hanafiy / Cet. Pertama : Dar Al Kutub Al Ilmiyyah - Beirut Th. 1415 H]. 



Imam Jalaluddin Abdurrahman As Suyuthiy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya Ad Durru Al Mantsur Fi At Tafsiri BI Al Ma'tsur  mengeluarkan riwayat hadits :


♦  وأخْرَجَ ابْنُ أبِي حاتِمٍ عَنِ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ في قَوْلِهِ: ﴿وأمّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ﴾ قالَ: 


إذا أصَبْتَ خَيْرًا فَحَدِّثْ إخْوانَكَ.


♦ وأخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ عَنْ أبِي نَضْرَةَ قالَ: 


كانَ المُسْلِمُونَ يَرَوْنَ أنَّ مِن شُكْرِ النِّعْمَةِ أنْ يُحَدِّثَ بِها.


♦ وأخْرَجَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أحْمَدَ في (زَوائِدِ المُسْنَدِ) والبَيْهَقِيُّ في (شُعَبِ الإيمانِ) والخَطِيبُ في (المُتَّفَقِ) بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ عَنِ النُّعْمانِ بْنِ بَشِيرٍ قالَ: «قالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلى المِنبَرِ: 


مَن لَمْ يَشْكُرِ القَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الكَثِيرَ ومَن لَمْ يَشْكُرِ النّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ والتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وتَرْكُها كُفْرٌ والجَماعَةُ رَحْمَةٌ» .


♦ وأخْرَجَ سَعِيدُ بْنُ مَنصُورٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ العَزِيزِ قالَ: إنَّ ذِكْرَ النِّعْمَةِ شُكْرٌ.


♦ وأخْرَجَ البَيْهَقِيُّ عَنِ الحَسَنِ قالَ: 


أكْثِرُوا ذِكْرَ هَذِهِ النِّعْمَةِ فَإنَّ ذِكْرَها شُكْرٌ.


♦ وأخْرَجَ البَيْهَقِيُّ عَنِ الجَرِيرِيِّ قالَ: كانَ يُقالُ: إنَّ تِعْدادَ النِّعَمِ مِنَ الشُّكْرِ.


♦ وأخْرَجَ عَبْدُ الرَّزّاقِ والبَيْهَقِيُّ عَنْ قَتادَةَ قالَ: 


مِن شُكْرِ النِّعْمَةِ إفْشاؤُها.


♦ وأخْرَجَ البَيْهَقِيُّ عَنْ فَضِيلِ بْنِ عَيّاضٍ قالَ: كانَ يُقالُ: 


مِن شُكْرِ النِّعْمَةِ أنْ يُحَدِّثَ بِها.


♦ وأخْرَجَ البَيْهَقِيُّ عَنِ ابْنِ أبِي الحَوارِيِّ قالَ: جَلَسَ فَضِيلُ بْنُ عَيّاضٍ وسُفْيانُ بْنُ عُيَيْنَةَ لَيْلَةً إلى الصَّباحِ يَتَذاكَرانِ النِّعَمَ أنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْنا في كَذا أنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْنا في كَذا.

[أخرجه السيوطي في كتاب 

الدر المنثور في التفسير بالمأثور : ج ٨ ص ٥٤٦ / الضحى / للإمام عبد الرحمن بن أبي بكر، جلال الدين السيوطي الشافعي (ت ٩١١هـ)، الناشر: دار الفكر - بيروت بون السنة].


♦Ibn Abi Hatim dari jalan lain  mengeluarkan dari Imam Al-Hassan bin Ali radliyyAllahu 'anhuma pada firmanNya: 


{Dan untuk rahmat Tuhanmu, maka katakanlah} 


Beliau  berkata: Jika kamu mendapatkan kebaikan, maka ceritakanlah kepada  saudara-saudaramu.


♦Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Nadhra bahwa ia berkata: 


Kaum Muslim dulu berpikir bahwa bagian dari rasa syukur atas nikmat adalah dengan menceritakannya.


♦ Abdullah bin Ahmad dalam kitab (Zawaidu Al Musnad) dan Al Baihaqiy dalam (Syu'abu Al Iman) dan Al Khathib dalam (Al Muttafaq) mengeluarkannya dengan SANAD DLO'IF dari An Nu'man bi Basyir radliyyAllahu 'anhu, beliau berkata : Rasulullah ﷺ pernah bersabda : 


Barang siapa yang tidak berterima kasih pada nikmat yang  sedikit dia pasti tidak berterima kasih pada nikmat yang banyak, dan barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka dia pasti tidak mau bersyukur kepada Allah. Menceritakan nikmat Allah adalah syukur, sedangkan meninggalkannya adalah kufur nikmat, dan hidup berjama'ah adalah Rahmat.


♦Sa'id bin Mansur meriwayatkan dari  Umar bin Abd al-Aziz, bahwa beliau pernah  berkata: 


Menuturkan nikmat Allah adalah syukur.


♦Al-Bayhaqi meriwayatkan dari Imam Al-Hasan radliyyAllahu 'anhu, bahwa beliau pernah  berkata: 


Kalian perbanyaklah menyebut nikmat ini, karena banyak menyebutkannya adalah syukur.


♦Al-Bayhaqi meriwayatkan dari Al-Jariri bahwa dia berkata: Ada dikatakan:


Bahwasanya menyebutkan satu persatu kenikmatan kenikmatan yang diterima adalah bagian dari rasa syukur.


♦Abd al-Razzaq dan al-Bayhaqi meriwayatkan dari  Qatadah radliyyAllahu 'anhu, beliau pernah  berkata:


Termasuk dari rasa mensyukuri nikmat itu adala menyebar-nyebarkannya.


♦Al-Bayhaqi meriwayatkan dari  Fudayl ibn Iyad, beliau pernah berkata: Ada dikatakan:


Termasuk dari rasa mensyukuri nikmat adalah menceritakannya.


♦Al -Bayahqi mengeluarkan dari Ibn Abi Al -Hawary, yang mengatakan bahwa : 


Fudlail Bin 'Iyad dan Safyan ibn Uyaynah duduk bersama pada suatu malam hingga  sampai pagi, dan mereka saling menyebutkan nikmat-nikmat yang telah mereka terima, Allah telah memberikan nikmat kepada kita disini, dan  Allah juga telah memberikan nikmat kepada kita disini. 

[Dikeluarkan Oleh Imam Suyuthiy Dalam Kitab Tafsirnya Ad Dur Al Mantsur Fi Tafsiri Al Ma'sur : juz 8 hal 456 / Ad Dhuha / Karya Imam Jalaluddin Abdurrahman As Suyuthiy Asy Syafi'iy / Cet. Dar Al Fikr - Beirut Tnp. Tahun].



وجاء في تفسير القرآن العظيم = تفسير ابن كثير للإمام أبو الفداء ابن كثير الدمشقي الشافعي : 


وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ أَيْ وَكَمَا كُنْتَ عَائِلًا فَقِيرًا فَأَغْنَاكَ اللَّهُ فَحَدِّثْ بِنِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْكَ كَمَا جَاءَ فِي الدُّعَاءِ الْمَأْثُورِ النَّبَوِيِّ: «وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ مُثِنِينَ بِهَا عَلَيْكَ قابليها وأتمها علينا» 


وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ  : حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ، حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ إِيَاسٍ الْجُرَيْرِيُّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ قَالَ:كَانَ الْمُسْلِمُونَ يَرَوْنَ أَنَّ مِنْ شُكْرِ النِّعَمِ أَنْ يُحَدَّثَ بِهَا. انتهى

[انظر كتاب تفسير القران العظيم = تفسير ابن كثير : ج ٨ ص ٤١٤ /  سورة الضحى / سورة الضحى (٩٣) : الآيات ١ إلى ١١] / للإمام أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي البصري ثم الدمشقي الشافعي (ت ٧٧٤ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية - بيروت، الطبعة: الأولى - ١٤١٩ هـ].


Tersebut dalam kitab Tafsir Al Qur'an Al'Adzim = Tafsir Ibnu Katsir karya Imam Abu Al Fida' Ibnu Katsir Asy Syafi'iy rahimahullahu dijelaskan : 


Dan Apapun Dengan Nikmat Tuhanmu Maka Ceritakanlah : 

Artinya, sebagaimana 

anda berasal dari  keluarga miskin, kemudian Allah  memperkaya anda, maka bicarakanlah tentang anugerah Tuhan atas anda (kepada saudara saudara anda).


Seperti yang tersirat dalam doa Nabi yang terkenal: "Jadikan kami orang-orang yang bersyukur pada nikmat-Mu, pemuji nikmat-Mu, penerima nikmat-Mu, dan sempurnakanlah nikmat-Mu kepada kami."


“Berkata Ibnu Jarir: Telah menceritakan kepada kami : Yaqub. Telah menceritakan kepada kami : Ibnu ‘Ulayah. Telah menceritakan kepada kami : Said bin Iyas al Jariri. Dari Abi Nadhrah, ia berkata: 


Dulu kaum muslimin memandang diantara bersyukur atas nikmat Allah adalah dengan menceritakannya.”

[Lihat Kitab Tafsir Al Qur'an Al 'Adzim = Tafsir Ibnu Katsir :  juz 8 hal 414 / Surah Dhuha / Surah Dhuha : 029 Ayat 1 - 11 / Karya Ibnu Katsir Asy Syafi'iy / Cet. Pertama : Dar Al Kutub Al Ilmiyyah - Beirut Th. 1419 H].



Penjelasan imam qurtuby dalam kitab tafsirnya:


الرَّابِعَةُ- قَوْلُهُ تَعَالَى: (وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ) أَيِ انْشُرْ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْكَ بِالشُّكْرِ وَالثَّنَاءِ. وَالتَّحَدُّثِ بِنِعَمِ اللَّهِ، وَالِاعْتِرَافُ بِهَا شُكْرٌ. 


وَرَوَى ابْنُ أَبِي نَجِيحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ قَالَ بِالْقُرْآنِ. وَعَنْهُ قَالَ: بِالنُّبُوَّةِ، أَيْ بَلِّغْ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ. 


وَالْخِطَابُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالْحُكْمُ عَامٌّ لَهُ وَلِغَيْرِهِ. 


وَعَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: إِذَا أَصَبْتَ خَيْرًا، أَوْ عَمِلْتَ خَيْرًا، فَحَدِّثْ بِهِ الثِّقَةَ مِنْ إِخْوَانِكَ. 


وَعَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ: إِذَا لَقِيَ الرَّجُلُ مِنْ إِخْوَانِهِ مَنْ يَثِقُ بِهِ، يَقُولُ له: رزق الله من الصلاة البارحة كذا وَكَذَا.


وَكَانَ أَبُو فِرَاسٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ غَالِبٍ إِذَا أَصْبَحَ يَقُولُ: لَقَدْ رَزَقَنِي اللَّهُ الْبَارِحَةَ كَذَا، قَرَأْتُ كَذَا، وَصَلَّيْتُ كَذَا، وَذَكَرْتُ اللَّهَ كَذَا، وَفَعَلْتُ كَذَا. فَقُلْنَا لَهُ: يَا أَبَا فِرَاسٍ، إِنَّ مِثْلَكَ لَا يَقُولُ هَذَا

[انظر كتاب الجامع لأحكام القرآن = تفسير القرطبي : ج ٢٠ ص ١٠٢ /  تفسير سورة الضحى [سورة الضحى (٩٣): الآيات ٩ إلى ١١] / للإمام أبو عبد الله، محمد بن أحمد الأنصاري القرطبي المالكي / الناشر: دار الكتب المصرية - القاهرة، الطبعة: الثانية، ١٣٨٤ هـ - ١٩٦٤ مـ].


Yang ke empat tentang firmanNya :


" dan apa bila kamu di beri kenikmatan Oleh tuhanmu maka ceritakanlah" maksudnya sebarkanlah apa yg telah Allah berikan kenikmatan kpdmu dengan cara bersyukur dan memuji.menceritakan kenikmatan2 Allah dan menunjukkan kenikmatan tsb merupakan bentuk syukur.


ibnu abi nujaih meriwayatkan dari mujahid " dan apa bila kamu di beri kenikmatan Oleh tuhanmu maka ceritakanlah"


mujahid berkata : " dengan Al qur'an ."


dan juga dari mujahid berkata : " dengan kenabian ",


maksudnya sampaikanlah apa yg engkau diutus dengannya."khitob/ yg di ajak bicara disini adalah nabi shollallohu alaihi wasallam dan hukumnya adalah umum utk nabi juga selainnya."


Al-Hasan bin Ali r.a mengemukakan pernyataannya tentang hal itu, “Jika engkau mendapatkan kebaikan atau melakukan kebaikan, maka sebutlah dan ceritakanlah di depan saudaramu yang kamu percayai.


“Jika bertemu saudara terpercaya, seseorang katakan padanya, ‘Tadi malam Allah telah memberiku karunia untuk dapat melaksanakan shalat sekian-sekian rakaat.”


Kisah tentang Abu Firas Abdullah bin Ghalib (menegaskan tentang contoh tahadduts bin ni’mah ini) Syahdan di suatu pagi, beliau berkata:


“Semalam Allah telah memberikan karunia-Nya kepadaku. Aku membaca (al-Qur’an), Shalat sekian rakaat, berdzikir kepada Allah sekian waktu, dan aku melakukan ini itu.”


Mendengar itu, seorang sahabatnya mengatakan, “Wahai Abu Firas, orang seperti Anda seharusnya tidak mengatakan itu.” Abu Firas menjawab, “Allah memerintahkan agar manusia ber-tahadduts bin-ni’mah, sedangkan kamu melarangnya.” 

[Lihat Kitab Al Jami' Li Ahkami Al Qur'an = Tafsir Al Qurthubiy : juz 20 hal 102 / Tafsir Surah Adh Dhuha / Surat Adh Dhuha Ayat 9 - 11 / Karya Imam Abu Abdillah Muhammad Al Qurthubiy Al Malikiy / Cet. Kedua : Dar Al Kutub Al Mishriyyah - Kairo Th. 1383 H - 1964 M].


وقال الامام ابن العربي المالكي رحمه الله تعالى: 


إذَا أَصَبْت خَيْرًا أَوْ عَمِلْت خَيْرًا فَحَدِّثْ بِهِ الثِّقَةَ مِنْ إخْوَانِك؛ على سبيل الشكر لا الفخر والتعالي، وفي المسند مرفوعا: من لم يشكر القليل لم يشكر الكثير، ومن لم يشكر الناس لم يشكر الله، والتحدث بالنعمة شكر وتركها كفر... اهـ

[انظر كتاب تفسير ابن العربي]


Berkata Ibnul ‘Arabi Rahimahullah tentang ayat diatas: 


“Yaitu apabila engkau mendapatkan perkara yang baik atau mengetahui sesuatu yang baik, maka ceritakanlah kepada orang yang engkau percayai sebagai ungkapan syukur, bukan untuk berbangga dan meninggi”.


Dan disebutkan dalam Al Musnad secara Marfu' : Barangsiapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang sedikit, maka ia tidak akan mau bersyukur dengan nikmat yang banyak, barangsiapa yang tidak mau bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah, dan menceritakan nikmat yang didapatkan adalah bentuk rasa syukur, dan meninggalkannya adalah kufur nikmat.

[Lihat Tafsir Ibnu Al 'Arabiy].


 وقال الامام ابن جرير الطبري في تفسيره. جامع البيان عن تاويل ٱي القران : 


حَدَّثَنِي يَعْقُوبُ، قَالَ: ثنا ابْنُ عُلَيَّةَ، قَالَ: ثنا سَعِيدُ بْنُ إِيَاسٍ الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، قَالَ: كَانَ الْمُسْلِمُونَ يَرَوْنَ أَنَّ مِنْ شُكْرِ النِّعَمِ أَنْ يُحَدَّثَ بِهَا.  انتهى .

[انظر كتاب "تفسير الطبري" = جامع البيان عن تأويل آي القرآن : ج ٢٤ ص ٤٩١ / سورة الضحى / وقوله: وأما السائل فلا تنهر يقول: وأما من سألك من ذي حاجة فلا تنهره، ولكن أطعمه واقض له حاجته وأما بنعمة ربك فحدث يقول: فاذكره. وبنحو الذي قلنا في ذلك قال أهل التأويل / للإمام  أبو جعفر محمد بن جرير الطبري (٢٢٤ - ٣١٠ هـ) / الناشر: دار هجر للطباعة والنشر والتوزيع والإعلان

الطبعة: الأولى، ١٤٢٢ هـ - ٢٠٠١ مـ].


Imam Ibnu Jarir Ath Thabariy dalam kitab tafsirnya 


Telah menceritakan kepadaku : Ya'qub, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami : Ibnu 'Ulaiyyah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami : Sa'id bin Iyyas Al Jurairiy. Dari Abi Nadrah, dia berkata: 


"Umat Islam dulu berpendapat bahwa yang termasuk dalam  bagian rasa syukur atas nikmat adalah dengan membicarakannya.

[Lihat Kitab Tafsir Ath Thabariy = Jami' Al Bayan 'An Ta'wili Aay Al Qur'an : juz 24 

hal 491 / Surah Adh Dhuha / Wa Qauluhu : Wa Amma As Sa'il Fala Tanhar Biqauli ... / Karya Imam Ibnu Jarir Ath Thabariy / Cet. Pertama : Dar Hijr Th. 1422 H - 2002 M].


قال الشيخ ابو البقاء الكفوي  الحنفي في كتابه الكليات معجم في المصطلحات والفروق اللغوية  :


الشُّكْر، عرفان الْإِحْسَان، وَمن الله: المجازاة وَالثنَاء الْجَمِيل. وأصل الشُّكْر تصور النِّعْمَة وإظهارها وَحَقِيقَته الْعَجز عَن الشُّكْر

[انظر  كتاب الكليات معجم في المصطلحات والفروق اللغوية : ص ٥٣٤ / فصل الشين / للشيخ أيوب بن موسى الحسيني القريمي الكفوي، أبو البقاء الحنفي (ت ١٠٩٤هـ) / الناشر: مؤسسة الرسالة - بيروت بدون السنة].


Syaikh Abul Baqa' Al Kufwiy Al Hanafiy dalam kitabnya Al Kulliyat Mu'jam Al Mushthalahat Wa Al Furuq Al Lughawiyyah :


Bersyukur adalah pengetahuan yang bagus, dan berasal dari Allah : Pahala dan pujian yang indah.


Asal syukur adalah konsepsi (menggambarkan) nikmat dan manifestasinya (memperlihatkannya)  dan realitasnya adalah ketidakmampuan bersyukur.

[Lihat Kitab Al Kulliyat Mu'jam Fi Al Mushthalahat Wa Al Furuq Al Lughawiyyah : hal 534 / Fashlun : Asy Syin / Karya Syaikh Abul Baqa' Al Kufwiy Al Hanafiy / Cet. Mu'assasah Ar Risalah Beirut - Tnp. Tahun].



وقال الإمام ابن عاشور في كتابه التحرير والتنوير : 


فَإنَّ الإغْناءَ نِعْمَةٌ، فَأمَرَهُ اللَّهُ أنْ يُظْهِرَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ بِالحَدِيثِ عَنْها وإعْلانِ شُكْرِها.

ولَيْسَ المُرادُ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ نِعْمَةً خاصَّةً، وإنَّما أُرِيدَ الجِنْسُ فَيُفِيدُ عُمُومًا في المَقامِ الخِطابِيِّ، أيْ: حَدِّثْ ما أنْعَمَ اللَّهُ بِهِ عَلَيْكَ مِنَ النِّعَمِ، فَحَصَلَ في ذَلِكَ الأمْرِ شُكْرُ نِعْمَةِ الإغْناءِ، وحَصَلَ الأمْرُ بِشُكْرِ جَمِيعِ النِّعَمِ لِتَكُونَ الجُمْلَةُ تَذْيِيلًا جامِعًا. 


وذَكَرَ الفَخْرُ والقُرْطُبِيُّ عَنِ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ: إذا أصَبْتَ خَيْرًا أوْ عَمِلْتَ خَيْرًا فَحَدِّثْ بِهِ الثِّقَةَ مِن إخْوانِكَ. 


قالَ الفَخْرُ: إلّا أنَّ هَذا إنَّما يَحْسُنُ إذا لَمْ يَتَضَمَّنْ رِياءً وظَنَّ أنَّ غَيْرَهُ يَقْتَدِي بِهِ.

[انظر كتاب التحرير والتنوير «تحرير المعنى السديد وتنوير العقل الجديد من تفسير الكتاب المجيد» : ج ٣٠ ص ٤٠٣ /  ٩٣- سورة الضحى / سورة الضحى (٩٣) : الآيات ٩ إلى ١١] للإمام  محمد الطاهر بن محمد بن محمد الطاهر بن عاشور التونسي (المتوفى : ١٣٩٣هـ) / الناشر : الدار التونسية للنشر - تونس

سنة النشر: ١٩٨٤ هـ].


Imam Muhammad Thahir  Ibnu 'Asyur At Tunisiy dalam kitabnya At Tahrir Wa At Tanwir menjelaskan :


Kekayaan adalah sebuah kenikmatan, maka Allah memerintahkan dia untuk menunjukkan kenikmatan Allah tersebut kepadanya dengan berbicara tentang hal itu dan mengumumkan rasa kesyukurannya.

Yang dimaksud dengan nikmat Allah  bukanlah nikmat yang harus khusus/istimewa (apapun).


Yang saya inginkan adalah suatu jenis, yang berguna secara umum dalam posisi yang patut untuk dibicarakan, yaitu menceritakan tentang nikmat yang Tuhan berikan kepada Anda, dan dalam hal perintah itu terdapat rasa syukur atas nikmat kekayaan yang telah diberikan.


Dan dengan ucapan syukur atas segala nikmat, sehingga kalimat itu menjadi sebuah bagian terakhir yang mencakup semuanya.


Dan Al Fhkru Al Qurthubiy menyebutkan sebuah riwayat dari Al Hasan bin 'Aliy : 


Ketika kebaikkan menimpamu atau kamu sedang melakukan suatu kebaikkan maka ceritakanlah hal itu kepada orang yang dapat dipercaya diantara kawan-kawanmu.


Al Fakhru berkata : Namun, hal ini sebaiknya dilakukan  jikalau tidak mengandung unsur RIYA' (PAMER) dan KEMUNGKINAN ADANYA SANGKAAN BAHWA ORANG LAIN AKAN MENIRUNYA.

[Lihat Kitab At Tahrir Wa At Tanwir : juz 30 hal 403 / 93 - Surah Adh Dhuha / Surah Adh Dhuha : 093 Ayat 9 - 11 / Karya Imam Muhammad Bin Thahir Ibnu 'Asyur At Tunisiy / Cet. Ad Dar At Tunisiyyah Linnasyr - Tunisia Th. 1984 M].


وقال الإمام ابن عبد البر المالكي رحمه الله تعالى – في كتابه "التمهيد" مقرراً جواز مدح الرجل لنفسه، ونفيه عن نفسه ما يعيبه بالحق الذي هو فيه، إذا دفعت إلى ذلك ضرورة، أو معنى يوجب ذلك – قال -رحمه الله-: 


وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الْأَرْضُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ وَأَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَلَا فَخْرَ وَمِثْلُ هَذَا كَثِيرٌ فِي السُّنَنِ وَعَنْ عُلَمَاءِ السَّلَفِ لَا يُنْكِرُ ذَلِكَ إِلَّا مَنْ لَا عِلْمَ لَهُ بِآثَارِ مَنْ مَضَى  

[انظر كتاب التمهيد لما في الموطأ من المعاني والأسانيد : ج ٢٠ ص ٣٩ /  عبد ربه بن سعيد بن قيس الأنصاري / الحديث الثالث / للإمام أبو عمر يوسف بن عبد الله بن محمد بن عبد البر بن عاصم النمري القرطبي المالكي (ت ٤٦٣هـ) / الناشر: وزارة عموم الأوقاف والشؤون الإسلامية - المغرب، عام النشر: ١٣٨٧ هـ. وينظر: تأويل مختلف الحديث لابن قتيبة: ١٨٢ /  الرد على مطاعن المناهضين / ذكر الأحاديث التي ادعوا عليها التناقض / للإمام ابن قتيبة].


Imam Ibnu Abdil Barr Al Malikiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya At Tamhid Lima Fi Al Muwatho' Min Al Ma'aniy Wa Al Asanid : -Tentang bolehnya seseorang memuji dirinya sendiri, dan membuang dari dirinya apa yang salah dengan kebenaran yang ada padanya, jika didorong oleh kebutuhan, atau makna yang mengharuskan itu-, beliau berkata : 


Dan Rasulullah ﷺ pernah bersabda :


"Aku adalah orang  yang pertama untuk siapa bumi terbelah, orang yang pertama menjadi perantara, dan orang yang pertama diterima syafaatnya, dan aku adalah penghulu/pemimpin anak Adam, dan tidak ada kesombongan sama sekali.


Contoh seperti ini banyak terdapat dalam sunnah dan penjelasan para ulama salaf, TIDAK ADA YANG MENGINGKARINYA kecuali mereka yang tidak mengetahui jejak-jejak orang-orang masa lampau.

[Lihat Kitab At Tamhid Lima Fi Al Muwatho' Min Al Ma'aniy Wa Al Asanid : juz 20 hal 39 /  Abdurrabbih Bin Sa'id Bin Qais Al Anshariy / Al Haditsu Ats Tsalits / Karya Imam Ibnu 'Abdil Barr Al Malikiy / Cet. Kementerian Wakaf Umum Dan Urusan Islam - Maroko Th. 1387 M. Dan Lihat Kitab Ta'wilu Mukhtalifi Al Haditsi ; hal 182 / Ar Raddu 'Ala Mutha'ini Al Munahidhin / Dzikru Al Ahaditsi Ad'u 'Alaiha At Tanaqudi / Karya Imam Ibnu Qutaibah].



يقول الامام النووي الشافعي -رحمه الله تعالى- في كتابه المنهاج شرح صحيح مسلم ابن الحجاج : 


“وَمَعْنَى قَوْلِهِ ﷺ : أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبْ أَيْ أَنَا النَّبِيُّ حَقًّا فَلَا أَفِرُّ وَلَا أَزُولُ وَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ قَوْلِ الْإِنْسَانِ فِي الْحَرْبِ :


أَنَا فلان وأنا بن فلان 


ومثله قول سلمة : أنا بن الْأَكْوَعِ 


وَقَوْلُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَا الَّذِي سَمَّتْنِي أُمِّي حَيْدَرَهْ وَأَشْبَاهُ ذَلِكَ, 


وَقَدْ صَرَّحَ بِجَوَازِهِ عُلَمَاءُ السَّلَفِ وَفِيهِ حَدِيثٌ صَحِيحٌ قَالُوا وَإِنَّمَا يُكْرَهُ قَوْلُ ذَلِكَ عَلَى وَجْهِ الِافْتِخَارِ كَفِعْلِ الْجَاهِلِيَّةِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ” انتهى كلامه.

[انظر كتاب المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج : ج ١٢ ص ١٢٠ / كِتَاب الْجِهَادِ وَالسِّيَرِ  / بَابُ غَزْوَةِ حُنَيْنٍ حُنَيْنٌ وَادٍ بَيْنَ مَكَّةَ وَالطَّائِفِ وَرَاءَ عَرَفَاتٍ / للإمام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي (ت ٦٧٦هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت، الطبعة: الثانية : ١٣٩٢ هـ].


Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitabnya Kitab Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj :


Dan arti dari apa yang Nabi ﷺ telah beliau sabdakan: Saya adalah Nabi, bukan dusta -yaitu- saya adalah Nabi yang benar, saya tidak akan melarikan diri ataupun mundur (dari perang) 


Dan ini adalah dalil akan  diperbolehkannya perkataan manusia manusia saat berperang :


Aku adalah Polan ... Aku adalah anaknya Polan ...


Contoh semisalnya adalah ucapan Salamah : Aku adalah anak Akwa' 


Dan ucapan Sayyidina 'Aliy RadhiyyAllahu 'Anhu : Saya adalah seperti apa yang telah ibu saya menamaiku, saya adalah Haidar.  Dan semisal dari semua itu.


Dan para ulama terdahulu menyatakan bahwa hal itu DIPERBOLEHKAN, dan ada hadits shahih didalamnya seperti  yang telah mereka katakan, dan semua perkataan itu MAKRUH diucapkan bilamana atas suatu  tujuan untuk hal  kesombongan seperti perbuataan kaum jahiliyyah.

[Lihat Kitab Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj : juz 12 hal 120 / Kitabu Al Jihad Wa As Siyari / Babu Ghazwati Hunain Wa Hunain Wadin Baina Makkah Wa Ath Tha'if Wara'a 'Arafat / Cet. Kedua : Dar Ihya' At Turats Al 'Arabiy - Beirut Th. 1392 H].



وقال الإمام مولا علي بن سلطان القاري الحنفي رحمه الله تعالى في كتابه مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح : 


وَأَمَّا قَوْلُهُ: أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبْ، فَمَعْنَاهُ أَنَا النَّبِيُّ حَقًّا، فَلَا أَفِرُّ، وَلَا أَزُولُ، وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ قَوْلِ الْإِنْسَانِ فِي الْحَرْبِ: أَنَا فُلَانٌ، أَوْ أَنَا ابْنُ فُلَانٍ، يَعْنِي: أَنَّهُ يَجْرِي عَلَى مُقْتَضَى الْعَادَةِ إِظْهَارُهُ لِلشَّجَاعَةِ، فَلَا يُعَدُّ مِنْ بَابِ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ. 

[انظر كتاب مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح : ج ٩ ص  ٣٧٩٢ / كتاب الفضائل / باب في المعجزات / للإمام علي بن (سلطان) محمد، أبو الحسن نور الدين الملا الهروي القاري الحنفي (ت ١٠١٤هـ) / الناشر: دار الفكر، بيروت - لبنان، الطبعة: الأولى، ١٤٢٢هـ - ٢٠٠٢مـ]. 


Al 'Alamah Mula 'Aliy Bin Sulthan Al Qariy Al Harawiy Al Hanafiy rahimahullahu dalam kitabnya Mirqatu Al Mafatihi Syarhu Misykat Al Mashabih : 


Adapun sabdanya: Aku Nabi, tidak ada dusta, -artinya- aku benar-benar Nabi, jadi aku tidak akan lari, maupun mundur (dari perang), 


Dan didalam hadits ini merupakan dalil DIPERBOLEHKANNYA ucapan manusia saat perang : Aku adalah Polan .... Aku adalah anaknya Polan ...


Yaitu Merupakan kebiasaan untuk menunjukkan keberanian kepadanya, dan itu TIDAK DIANGGAP sebagai masalah PAMER dan SUM'AH/MENCARI REPUTASI.

[Lihat Kitab Mirqat Al Mafatih Syarhu Misykat Al Mashabih : juz 9 hal 3792 / Kitabu Al Fadhoili / Babu Fi Al Mu'jizat / Karya Imam Mula 'Aliy Bin Sulthan Al Harawiy Al Qariy Al Hanafiy / Cet. Pertama : Dar Al Fikr - Beirut Lebanon Th. 1422 H - 2002 M].



وقال الإمام تاج الدين عبد الرؤوف المناويّ في كتابه التوفيق على مهمات التعاريف : 


الشّكر: شكران: 


الأوّل شكر باللّسان وهو الثّناء على المنعم، 


والآخر: شكر بجميع الجوارح، وهو مكافأة النّعمة بقدر الاستحقاق، والشّكور الباذل وسعه في أداء الشّكر بقلبه ولسانه وجوارحه اعتقادا واعترافا.

[انظر كتاب التوقيف على مهمات التعاريف : ص ٢٠٦ /  باب السين / فصل الكاف / للإمام زين الدين محمد المدعو بعبد الرؤوف بن تاج العارفين بن علي بن زين العابدين الحدادي ثم المناوي القاهري (ت ١٠٣١هـ) / الناشر: عالم الكتب ٣٨ عبد الخالق ثروت-القاهرة، الطبعة: الأولى، ١٤١٠هـ - ١٩٩٠مـ].


Imam Tajuddin Abdurrauf Al Munawiy dalam kitabnya At Taufiq 'Ala Muhimmati At Ta'arif menjelaskan bahwasanya : 


Syukur : Ada dua macam syukur (berterima kasih) : 


(Yang pertama) adalah berterima kasih dengan lidah, yaitu memuji kepada  yang telah memberi anugerah,  


dan (yang lainnya) : berterima kasih dengan segenap anggota tubuh, yaitu membalas anugerah  sebagaimana mestinya, dan bersyukur yang terbaik adalah mampu mengungkapkan rasa syukur dengan hati, lidah dan segenap anggota tubuhnya, karena yakin dan mengakui.

[Lihat Kitab At Taufiq 'Ala Muhimmati At Ta'arif : hal 206 / Babu As Sin / Fashlun : Al Kaf / Karya Imam Tajuddin Abdurrauf Al Munawiy / Cet. Pertama : 'Alimu Al Kutub 38 Abdul Khaliq Tsarut - Kairo Th. 1410 H - 1990 M].



وقال الإمام ابن القيّم الجوزية الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه مدارج السالكين  : 


وَهُوَ ظُهُورُ أَثَرِ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَى لِسَانِ عَبْدِهِ: ثَنَاءً وَاعْتِرَافًا. وَعَلَى قَلْبِهِ: شُهُودًا وَمَحَبَّةً. وَعَلَى جَوَارِحِهِ: انْقِيَادًا وَطَاعَةً.

[انظر مدارج السالكين بين منازل إياك نعبد وإياك نستعين : ج ٢ ص ٢٣٤ /  فصل منزلة الشكر / فصل أصل الشكر في اللغة / للإمام محمد بن أبي بكر بن أيوب بن سعد شمس الدين ابن قيم الجوزية الحنبلي (ت ٧٥١هـ) / الناشر: دار الكتاب العربي - بيروت، الطبعة: الثالثة، ١٤١٦ هـ - ١٩٩٦مـ].


Imam Ibnu Al Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Madariju As Salikin Baina Manazili Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in : 


“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah padanya. Dengan melalui lisan :  yaitu berupa pujian dan mengucapkan dengan kesadaran bahwa ia telah mendapat nikmat. Dan melalui hati : berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui segenap anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah”

[Lihat Kitab Madariju As Salikin Baina Manazili Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in : juz 2 hal 234 / Fashlun : Manzilatu Asy Syukri /  Fashlun : Ashlu Asy Syukri Fi Al Lughati / Karya Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy / Cet. Ketiga : Dar Al Kitab Al 'Arabiy - Beirut Lebanon Th. 1416 H - 1996 M].



وقال الإمام ابن القيم الجوزية الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه الروح في الكلام على أرواح الأموات والأحياء بالدلائل من الكتاب والسنة : 


" والفرق بين التحدث بنعم الله والفخر بها : أن المتحدث بالنعمة مخبر عن صفات مُولِيها ، ومحض جوده وإحسانه ؛ فهو مُثْنٍ عليه بإظهارها والتحدث بها ، شاكرا له ، ناشرا لجميع ما أولاه ، مقصوده بذلك إظهار صفات الله ، ومدحه والثناء [ عليه ] ، وبعث النفس على الطلب منه دون غيره ، وعلى محبته ورجائه ، فيكون راغبا إلى الله بإظهار نعمه ونشرها والتحدث بها .


وأما الفخر بالنعم : فهو أن يستطيل بها على الناس ، ويريهم أنه أعز منهم وأكبر ، فيركب أعناقهم ، ويستعبد قلوبهم ، ويستميلها إليه بالتعظيم والخدمة .


قال النعمان بن بشير : إن للشيطان مصالي وفخوخا ، وإن من مصاليه وفخوخه : البطش بنعم الله ، والكبر على عباد الله ، والفخر بعطية الله في غير ذات الله " .

[انظر كتاب الروح في الكلام على أرواح الأموات والأحياء بالدلائل من الكتاب والسنة : ص ٢٤٧ /  فصل والفرق بين التحدث بنعم الله والفخر بها أن المتحدث بالنعمة مخبر / للإمام محمد بن أبي بكر بن أيوب بن سعد شمس الدين ابن قيم الجوزية الحنبلي (ت ٧٥١هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية - بيروت بدون السنة].


Imam Ibnu Al Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy menjelaskan dalam kitabnya Ar Ruh Fi Kalami Arwahi Al Amwati Wa Al Ahya'i Bidalaili Min Al Kitabi Wa As Sunnati :


Perbedaan antara membicarakan tentang nikmat Allah dan membanggakannya adalah bahwa : orang yang MEMBICARAKAN  TENTANG NIKMAT otomatis menjadi orang yang  menginformasikan tentang sifat-sifat pemiliknya, kemurnian  kemurahanNya, dan  kebaikkanNya. Maka  dia menjadi orang yang memuji dengan menunjukkan dan membicarakannya, berterima kasih kepada-Nya, menyebarkan semua yang telah Dia berikan kepadanya, 


dan maksud dengan semua itu untuk menunjukkan akan  sifat-sifat Allah, memuji-Nya, dan dapat mendorong jiwa untuk selalu mencariNya bukan kepada selain diriNya, mencintaiNya, dan selalu menyandarkan pengharapan hanya kepadaNya, maka dia akan menjadi orang yang suka menunjukkan nikmat-nikmatNya, menyebarkannya, dan membicarakannya.


Adapun MEMBANGGAKAN  DENGAN NIKMAT-NIKMAT: yaitu apabila untuk membuat orang membanggakannya, dan untuk menunjukkan kepada mereka bahwa dia lebih disayangi dan lebih besar dari mereka, kemudian dia menunggangi leher-leher (menaklukkan)  mereka, memperbudak hati mereka agar selalu  bergantung kepadanya, dan menghasut mereka agar hati selalu condong kepanya dengan memuliakan  dan pelayanan.


Al-Nu'man bin Bashir berkata: Setan memiliki banyak perangkap dan jebakkan, dan di antara perangkap dan jebakannya adalah menghancurkan atas  nikmat-nikmat Allah, menyombongkan diri melebihi   hamba-hamba Allah, dan membanggakan diri melebihi  pemberian Allah pada selain Dzat Allah.

[Lihat Kitab Ar Ruh Fi Kalami Arwahi Al Amwati Wa Al Ahya'i Bidalaili Min Al Kitabi Wa As Sunnati : hal 247 / Fashlun : Wa Al Farqu Baina At  Tahadduts Bini'matillahi Wa Al Fakhru Biha ... / Karya Imam Ibnu Al Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy / Cet. Dar Al Kutub Al Ilmiyyah - Beirut Tnp. Tahun].



Diriwayatkan Oleh Imam Ibnu Abiddunya  Dalam Kitabnya Asy Syukru Dan Yang Lainnya : 


حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْهَمْدَانِيُّ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ عِيسَى، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الشَّامِيِّ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: 


«التَّحَدُّثُ بِالنِّعَمِ شُكْرٌ، وَتَرْكُهَا كُفْرٌ، وَمَنْ لَا يَشْكُرُ الْقَلِيلَ لَا يَشْكُرُ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ، وَالْجَمَاعَةُ بَرَكَةٌ، وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ»

[أخرجه ابن أبى الدنيا في كتابه الشكر : ٢٥ /  التحدث بالنعم شكر، وتركها كفر، ومن لا يشكر القليل لا يشكر الكثير، ومن لا يشكر الناس لا / رقم الحديث : ٦٤ / للإمام أبو بكر عبد الله بن محمد بن عبيد بن سفيان بن قيس البغدادي الأموي القرشي المعروف بابن أبي الدنيا (ت ٢٨١هـ) / الناشر: المكتب الإسلامي - الكويت

الطبعة: الثالثة، ١٤٠٠ هـ - ١٩٨٠ مـ والبيهقي في شعب الإيمان : ج ٤ ص ١٠٢ رقم الحديث : ٤٤١٩. قال العجلوني: رواه أحمد، والطبراني].


Telah menceritakan kepada kami : Umar bin Isma'il Al Hamdaniy. Telah menceritakan kepada kami : Ishaq bin 'Isa. Dari Abi Abdirrahman Asy Syamiy. Dari Asy Sya'biy. Dari An Nu'man bin Basyir radliyyAllahu 'anhu, beliau berkata : Rasulullah ﷺ, pernah bersabda : 


“At Tahadduts Bini'mah (menceritakan nikmat-nikmat Allah kepada orang yang dapat dipercaya tanpa riya', sum'ah, dsb) adalah Syukur, barangsiapa yang tidak bersyukur atas nikmat yang sedikit, maka ia tidak akan bersyukur atas nikmat yang banyak. Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah. Membicarakan nikmat Allah adalah syukur, dan meninggalkannya adalah kekufuran. Jama’ah adalah berkah/rahmat, dan perpecahan adalah ‘adzaab/bencana”.

[HR. Ibnu Abiddunya Dalam Kitabnya Asy Syukru : hal 25 / At Tahadduts Bini'mah ... / No. Hadits : 64. Baihaqiy Dalam Kitabnya Syu'abu Al Iman No. Hadits : 4419. Dan Al 'Ajluniy Berkata : Diriwayatkan Oleh Ahmad Dan Thabaraniy].



Selesai dinukil Ahad pahing 


Dikradenan selatan 003 001 Kradenan Srumbung Magelang Jateng 56483



١٤ رجبــــ ١٤٤٤ هـ

25 February 2023 M

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BAGAIMANAPUN BENTUKNYA VAGINA RASANYA TUNGGAL (1) BAHASA ALAM AKHIRAT (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA KHUSUS (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DSB) (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAHARU (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) INOVASI BID'AH OLEH ULAMA' YANG DITUDUH MEMBID'AH BID'AHKAN (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KAJIAN TINGKEPAN NGAPATI MITONI KEHAMILAN (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TABKHIR EMBAKAR DUPA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA HAJAT TERCAPAI SEMBELIHLAH SYAHWAT DAN MENDEKATLAH KEPADA ALLAH (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KUFUR AKIBAT MENCELA NASAB KETURUNAN (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMBELI KITAB ULAMA' MENARIK RIZQI DAN KEKAYAAN (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SEMBELIHAN (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAHALLUL CUKUR GUNDUL ATAU POTONG RAMBUT SELESAI HAJI DAN UMROH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TIDAK PERLU TEST DNA SEBAGAI BUKTI DZURRIYYAH NABI -ﷺ- (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top