Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label SEMBELIHAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEMBELIHAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Juni 2024

ꌗꌩꍏꋪꍏ꓄ ꂵꀤꈤꀤꂵꍏ꒒ ꌗꍏꃅꈤꌩꍏ ꉣꍟꈤꌩꍟꂵꌃꍟ꒒ꀤꃅꍏꈤ ꃅꍟꅏꍏꈤ

 ═हই• ⃟  ⃟ •❂͜͡✯  ١٨ ذو الحجة ١٤٤٥ هـ✯͜͡⊱• ⃟  ⃟ •ইह═

 ❁˚ৡ✿⊱•••*•⊰❂͜͡✯━━━━━┓

•⊰❂͜͡✯﷽✯͜͡❂⊱• | ꌗꌩꍏꋪꍏ꓄ ꂵꀤꈤꀤꂵꍏ꒒ ꌗꍏꃅꈤꌩꍏ  ꉣꍟꈤꌩꍟꂵꌃꍟ꒒ꀤꃅꍏꈤ ꃅꍟꅏꍏꈤ

┗━━━━━✯͜͡❂⊱•*•••⊰✿ৡৢ˚❁




✯͜͡❂⊱•𝕬}• 𝕬𝖑 𝕳𝖆𝖉𝖎𝖙𝖘

 

Disyaratkan menyembelih dengan mengalirkan darah dan menyebut asma Allah dan tidak cukup menyembelih dengan cara tidak mengalirkan darah, seperti disetrum, dicekik, dipukuli, dimasukkan air panas, meskipun dengan membaca basmalah, statusnya menjadi  bangkai, dan haram dimakan.


•⊰✿ৡৢ˚Riwayat Tentang Menyembelih Harus Dengan Cara Mengalirkan Darah Dan Menyebut Asma Allah Dan Tidak Cukup Dengan Tidak Mengalirkan Darah Walaupun Dengan Menyebut Asma Allah Dan Boleh Menyembelih  Dengan Alat Apapun Yang Bisa Ditajamkan Kecuali Tulang Dan Kuku


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى الْعَنَزِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ عَبَايَةَ بْنِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا لَاقُو الْعَدُوِّ غَدًا وَلَيْسَتْ مَعَنَا مُدًى قَالَ -ﷺ-: 


أَعْجِلْ أَوْ أَرْنِي مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ فَكُلْ لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفُرَ وَسَأُحَدِّثُكَ أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ وَأَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ ...الحديث.

[رواه مسلم / ٣٥ - كتاب الأضاحي / ٤ - باب: جواز الذبح بكل ما أنهر الدم، إلا السن والظفر وسائر العظام / رقم الحديث: ١٩٦٨].


Dari Rafi' bin Khadij radliyyAllahu 'anhu, beliau  berkata : "Aku berkata kepada Rasulullah : 'Besok kita akan bertemu musuh, sementara kita tidak lagi mempunyai pisau tajam? ' Rasulullah -ﷺ- menjawab: 


"Sembelihlah dengan sesuatu yang dapat mengalirkan darah, sebutlah nama Allah lalu makanlah, kecuali dengan gigi dan kuku. Aku jelaskan kepada kalian; gigi itu sejenis tulang, sedangkan kuku adalah alat yang biasa digunakan oleh bangsa Habsyah (untuk menyembelih)." ... Al Hadits.

[HR. Muslim No. 1968].


❁˚ৡ✿⊱•*Imam Abu Zakariyya Muhyiddin bin Syaraf Al-Nawawiy Al-Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al-Hajjaj (Juz. 13 Hal. 123):


قَالَ الْعُلَمَاءُ : فَفِي هَذَا الْحَدِيثِ تَصْرِيحٌ بِأَنَّهُ يُشْتَرَطُ فِي الذَّكَاةِ مَا يَقْطَعُ وَيُجْرِي الدَّمَ ، وَلَا يَكْفِي رَضُّهَا وَدَمْغُهَا بِمَا لَا يُجْرِي الدَّمَ ، ...(إلى أن قال)...

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ تَصْرِيحٌ بِجَوَازِ الذَّبْحِ بِكُلِّ مُحَدَّدٍ يَقْطَعُ إِلَّا الظُّفُرَ وَالسِّنَّ وَسَائِرَ الْعِظَامِ ، فَيَدْخُلُ فِي ذَلِكَ السَّيْفُ وَالسِّكِّينُ وَالسِّنَانُ وَالْحَجَرُ وَالْخَشَبُ وَالزُّجَاجُ وَالْقَصَبُ وَالْخَزَفُ وَالنُّحَاسُ وَسَائِرُ الْأَشْيَاءِ الْمُحَدَّدَةِ ، فَكُلُّهَا تَحْصُلُ بِهَا الذَّكَاةُ إِلَّا السِّنَّ وَالظُّفُرَ وَالْعِظَامَ كُلَّهَا ،

[انظر كتاب المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج : (ج ١٣ ص ١٢٣) / كتاب الأضاحي / باب جواز الذبح بكل ما أنهر الدم الاالسن والظفر / المؤلف: أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت، الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ هـ].


Para ulama berkata: Dalam hadits ini ada pernyataan bahwa syarat penyembelihan  adalah yang dapat memutus dan mengalirkan darah. Dan tidak cukup (tidak sah) meremukkannya  dan menyengatnya dengan sesuatu yang tidak dapat mengalirkan darah...(sampai ia berkata)...


Dan didalam hadits ini dengan jelas menyatakan bahwa dibolehkan menyembelih dengan apa pun yang dapat ditajamkan dan dapat memutus  kecuali kuku, gigi, dan tulang lainnya, maka termasuk didalamya pedang, pisau, kepala lembing atau mata panah, batu, kayu, kaca, dan rotan atau alang alang, Tembikar, tembaga, dan segala sesuatu  yang sembelihan bisa berhasil dengan menggunakannya, kecuali gigi, kuku, dan seluruh tulang. Selesai.


•⊰✿ৡৢ˚Riwayat Hadits Yang Senada:


‏حَدَّثَنَا ‏ ‏عَبْدُ الرَّحْمَنِ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏سُفْيَانَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏سِمَاكٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏مُرَيِّ بْنِ قَطَرِيٍّ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ الطَّائِيِّ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ‏ ‏إِنَّا نَصِيدُ الصَّيْدَ فَلَا نَجِدُ سِكِّينًا إِلَّا ‏ ‏الظِّرَارَ ‏ ‏وَشِقَّةَ الْعَصَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‏ ‏


«أَمَرَّ الدَّمَ بِمَا شِئْتَ وَاذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ ‏»

[رواه أحمد / مسند الكوفيين  / حديث عدي بن حاتم الطائي / حديث رقم: ١٨٢٥٠]


Dari 'Adi bin Hatim Ath Tha`i radliyyAllahu 'anhu beliau berkata :  "Aku berkata kepada Rasulullah -ﷺ- : "Kami berburu hewan buruan, namun kami tidak mendapatkan pisau kecuali batu dan pecahan tongkat." Maka Rasulullah -ﷺ- bersabda: 


"Alirkanlah darah dengan menggunakan alat sekehendakmu, lalu sebutlah nama Allah."

[HR. Ahmad No. 18250]


يُشتَرَطُ لصِحَّةِ التَّذْكيةِ قَطعُ الحُلقومِ والمَريءِ فقط، ولا يُشتَرَطُ قَطعُ الوَدَجَينِ،  


ويُشتَرَطُ لصِحَّةِ الذَّبحِ قَطعُ ما أنهَرَ الدَّمَ فقط،


Agar penyembelihannya sah, syaratnya hanya organ saluran pernafasan (hulqum) dan kerongkongan sebuah saluran  berotot yang mengangkut makanan dari mulut ke perut (mar'i) yang dipotong, dan tidak ada syarat pemotongan jugularis (dua otot saluran darah disamping kanan dan kiri leher).


Pendapat yang lain agar penyembelihannya sah, maka yang diperlukan hanyalah memotong bagian yang mengeluarkan darah saja.



✯͜͡❂⊱•𝕭}• 𝕻𝖊𝖓𝖉𝖆𝖕𝖆𝖙 𝖀𝖑𝖆𝖒𝖆'


❁˚ৡ✿⊱•Hal hal yang harus putus pada binatang sembelihan  menurut pendapat masing masing madzhab dalam prosesi  penyembelihan agar sembelihan tersebut dapat dikonsumsi : 


١)• الحلقوم الذي هو مجرى النفس، 


٢)• والمريء الذي هو مجرى الطعام والشراب 


٣و٤)• والودجان وهما العرقان في صفحتي العنق يجري فيهما الدم،


1)• (الحُلقومِ) Tenggorokan yang merupakan saluran pernafasan, 


2)• (المَريءِ) kerongkongan yang merupakan saluran makanan dan minuman, dan 


3&4)• (الوَدَجَينِ) jugularis yang merupakan dua pembuluh darah di kedua sisi leher yang menjadi tempat mengalirnya darah.



❁˚ৡ✿⊱•Para ulama' berbeda pendapat terkait cara penyembelihan hewan agar menjadi halal untuk dikonsumsi : 


✯͜͡❂⊱•*A. Pendapat Syafi’iyah dan Hanabilah :* 


Wajib memotong Hulqum (saluran nafas) dan Mari’ (saluran makanan) secara sempurna.


Sedangkan untuk wadijain (dua saluran darah yang ada disamping leher) hanya SEBATAS SUNNAH.


Menurut imam Abu Said Al Ustukhry (syafiiyah) berpendapat cukup terpotong salah satu dari hulqum dan mari' saja karena hidupnya tidak lama lagi setelah terpotong salah satunya, namun pendapat ini dinilai lemah dan tidak bisa dijadikan pijakan hukum.


✯͜͡❂⊱•*B. Pendapat Imam Abu Haniifah:*


Wajib memotong tiga dari empat saluran/urat ;


1. Hulqum


2. Mari’


3. dan 4. wadajain


Jika ada satu dari keempat diatas yang tidak terpotong maka sembelihannya Sah.


✯͜͡❂⊱•*C. Pendapat Malikiyah yang masyhur :*


Wajib memotong Hulqum, dan dua urat yang ada dibagian samping leher (wadajain) Jika cara penyembelihannya diyakini atau diduga tidak sesuai ketentuan diatas maka tidak boleh dikonsumsi. 


𝘼]✯͜͡❂⊱•𝙈𝙀𝙉𝙐𝙍𝙐𝙏 𝙈𝘼𝘿𝙕𝙃𝘼𝘽 𝙄𝙈𝘼𝙈 𝙎𝙔𝘼𝙁𝙄’𝙄𝙔


Wajib memotong Hulqum (saluran nafas) dan Mari’ (saluran makanan) secara sempurna.


Sedangkan untuk wadijain (dua saluran darah yang ada disamping leher) hanya SEBATAS SUNNAH.


Menurut imam Abu Said Al Ustukhry (syafiiyah) berpendapat cukup terpotong salah satu dari hulqum dan mari' saja karena hidupnya tidak lama lagi setelah terpotong salah satunya, namun pendapat ini dinilai lemah dan tidak bisa dijadikan pijakan hukum.


❁˚ৡ✿⊱•Imam Abu Zakariyya Muhyiddin bin Syaraf An-Nawawiy Asy Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab (Juz. 9 Hal. 90):


قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَذْهَبَنَا اشْتِرَاطُ قَطْعِ الحلقوم والمرئ بِكَمَالِهِمَا وَأَنَّ الْوَدَجَيْنِ سُنَّةٌ وَهُوَ أَصَحُّ الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ أَحْمَدَ


* قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ : أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّهُ إذَا قَطَعَ بِمَا يَجُوزُ الذبج به وسمى وقطع الحلقوم والمرئ وَالْوَدَجَيْنِ وَأَسَالَ الدَّمَ حَصَلَتْ الذَّكَاةُ وَحَلَّتْ الذَّبِيحَةُ قَالَ وَاخْتَلَفُوا فِي قَطْعِ الْبَعْضِ وَكَانَ الشَّافِعِيُّ يقول يشترط قطع الحلقوم والمرئ وَيُسْتَحَبُّ الْوَدَجَيْنِ وَقَالَ اللَّيْثُ وَدَاوُد يُشْتَرَطُ قَطْعُ الْجَمِيعِ وَاخْتَارَهُ ابْنُ الْمُنْذِرِ


* وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إذَا قَطَعَ ثَلَاثَةً مِنْ الْأَرْبَعَةِ حَلَّ وَالْأَرْبَعَةُ هي الحلقوم والمرئ والودجين وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ لَا لِرِوَايَاتٍ (إحْدَاهَا) كَأَبِي حَنِيفَةَ (وَالثَّانِيَةُ) إنْ قَطَعَ الْحُلْقُومَ وَاثْنَيْنِ مِنْ الثَّلَاثَةِ الْبَاقِيَةِ حَلَّ وَإِلَّا فَلَا (وَالثَّالِثَةُ) يَجِبُ قطع الحلقوم والمرئ وَأَحَدِ الْوَدَجَيْنِ وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ إنْ قَطَعَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ الْأَرْبَعَةِ أَكْثَرَهُ حَلَّ وَإِلَّا فَلَا 


* وَقَالَ مَالِكٌ يَجِبُ قَطْعُ الحلقوم والودجين ولا يشترط المرئ ونقله العبدرى عنه وعن الليث ابن سَعْدٍ فَيَصِيرُ عَنْ اللَّيْث رِوَايَتَانِ وَعَنْ مَالِكٍ رِوَايَةٌ كَاشْتِرَاطِ قَطْعِ الْأَرْبَعَةِ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي ثَوْرٍ وَعَنْ مَالِكٍ أَيْضًا الِاكْتِفَاءُ بِالْوَدَجَيْنِ.


* دَلِيلُنَا مَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ

[انظر كتاب المجموع شرح المهذب : (ج ٩ ص ٩٠) / المؤلف: أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦ هـ) / الناشر: (إدارة الطباعة المنيرية، مطبعة التضامن الأخوي) - القاهرة، عام النشر:١٣٤٤ - ١٣٤٧ هـ].


Telah kami sebutkan bahwa madzhab kami (Syafi'iyyah) MENSYARATKAN TERPUTUSNYA  TENGGOROKAN (hulqum, saluran nafas) DAN KERONGKONGAN (mari', saluran makanan minuman keperut) dengan sempurna, dan memutus  jugularisnya (wijdain, urat lembut saluran darah disamping kanan dan kiri leher) ADALAH SUNNAH, dan ini adalah YANG LEBIH BENAR DARI DUA RIWAYAT DARI IMAM AHMAD.


Imam Ibnu Mundhir berkata: Para ulama sepakat bahwa ketika memutus dengan alat yang penyembelihan boleh dilakukan dengannya, dan menyebut asma Allah, dan penyembelihan dilakukan memutus hulqum  (tenggorokan, saluran nafas), dan mari' (kerongkongan, saluran makanan dan minuman), dan wadajain (jugularis, pembuluh darah disamping kanan dan kiri leher), dan mengalirkan darahnya, maka penyembelihan telah berhasil, dan sembelihannya halal dikonsumsi. Dia berkata :  “Mereka berselisih paham mengenai pemotongan beberapa bagian, dan Imam Asy Syafi’i mengatakan bahwa pemotongan tenggorokan dan kerongkongan adalah wajib, dan disunnahkan  pemotongan wadajain pembuluh  darah bagian kanan dan kiri leher. Dan berkata Imam Laits dan Dawud Adz Dzohiriy mewajibkan memutuskan kesemuanya, dan Ibnu Mundhir memilih ini. 


Imam Abu Hanifah berkata: Jika dia telah memotong 3 saluran dari 4 saluran yang ada, maka sembelihan halal dikonsumsi, dan 4 saluran tersebut adalah hulqum  (tenggorokan), mari' (kerongkongan), dan wadajain (dua pembuluh darah leher sebelah kanan dan kiri). Abu Yusuf (sahabat Imam Abu Hanifah) mengatakan, tidak berdasarkan terhadap beberapa riwayat (salah satunya) :  seperti pendapat Abu Hanifah (dan yang kedua): Jika sudah putus tenggorokannya , dan 2 dari 3  sisanya, maka halal dikonsumsi, jika tidak demikian, maka sebaliknya (dan yang ketiga):  wajib memutuskan tenggorokan, kerongkongan, dan salah satu dari dua jugularis, dan Muhammad bin Al- Hassan (sahabat Imam Abu Hanifah) berkata :  Jika dia telah memotong sebagian besar dari keempatnya, maka halal dikonsumsi, jika tidak demikian, maka sebaliknya. 


Imam Malik mengatakan :  bahwa wajib hukumnya memutus  tenggorokan dan pembuluh darah dikanan dan kiri  leher, dan tidak mewajibkan memutus mari' saluran makanan dan minuman yang menujuju perut. Dan Al-Abdari menukil darinya, dari Imam Al-Laits, Ibnu Saad, sehingga ada dua riwayat dari Al Laits, dan satu riwayat dari Malik: seperti riwayat ketentuan memotong yang keempat, dan itu adalah perkataan Abu Tsaur dan juga dari Malik, cukuplah dengan memotong wadajain itu. Hujjah kami (syafi'iyyah) adalah apa yang penulis sebutkan. Selesai 



❁˚ৡ✿⊱•Selanjutnya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin bin Syaraf An-Nawawiy Asy Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Roudlotu At Tholibin Wa 'Umdatu Al Muftin (Juz. 3 Hal. 202):


وَأَمَّا الْحُلْقُومُ، فَهُوَ مَجْرَى النَّفَسِ خُرُوجًا وَدُخُولًا، وَالْمَرِّيءُ مَجْرَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ، وَهُوَ تَحْتَ الْحُلْقُومِ، وَرَاءَهُمَا عِرْقَانِ فِي صَفْحَتَيِ الْعُنُقِ يُحِيطَانِ بِالْحُلْقُومِ، وَقِيلَ: بِالْمَرِّيءِ، وَيُقَالُ لَهُمَا: الْوَدَجَانِ، وَيُقَالُ لِلْحُلْقُومِ وَالْمَرِّيءِ مَعَهُمَا: الْأَوْدَاجُ. وَلَا بُدَّ مِنْ قَطْعِ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِّيءِ، عَلَى الصَّحِيحِ الْمَنْصُوصِ. 


وَقَالَ الِاصْطَخْرِيُّ: يَكْفِي أَحَدُهُمَا؛ لِأَنَّ الْحَيَاةَ لَا تَبْقَى بَعْدَهُ. قَالَ الْأَصْحَابُ: هَذَا خِلَافُ نَصِّ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ، وَخِلَافُ مَقْصُودِ الذَّكَاةِ، وَهُوَ الْإِزْهَاقُ بِمَا يُوحِي وَلَا يُعَذِّبُ. 


وَيُسْتَحَبُّ مَعَهُمَا قَطْعُ الْوَدَجَيْنِ؛ لِأَنَّهُ أَوْحَى، وَالْغَالِبُ أَنَّهُمَا يَنْقَطِعَانِ بِقَطْعِ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِّيءِ، فَإِنْ تَرَكَهُمَا، جَازَ. وَلَوْ تَرَكَ مِنَ الْحُلْقُومِ أَوِ الْمَرِّيءِ شَيْئًا يَسِيرًا، أَوْ مَاتَ الْحَيَوَانُ، فَهُوَ مَيْتَةٌ. 


وَكَذَا لَوِ انْتَهَى إِلَى حَرَكَةِ الْمَذْبُوحِ، فَقَطَعَ الْمَتْرُوكَ، فَمَيْتَهٌ. وَفِي «الْحَاوِي» وَجْهٌ: إِنْ بَقِيَ الْيَسِيرُ، فَلَا يَضُرُّ، وَاخْتَارَهُ الرُّويَانِيُّ فِي «الْحِلْيَةِ» ، وَالصَّحِيحُ: الْأَوَّلُ.

[انظر كتاب روضة الطالبين وعمدة المفتين :(ج ٣ ص ٢٠٢) / فصل / فصل / المؤلف: أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦ هـ) / الناشر: المكتب الإسلامي، بيروت- دمشق- عمان، الطبعة: الثالثة، ١٤١٢ هـ / ١٩٩١ مـ].


Adapun hulqum  (tenggorokan)  adalah tempat masuk dan keluarnya nafas, dan mari' (kerongkongan) adalah tempat keluarnya makanan dan minuman, letaknya di bawah tenggorokan, dan dibelakangnya terdapat dua urat pada kedua sisi leher yang mengelilingi  tenggorokan. Dan dikatakan: dengan mari'. Dan disebut: wadajaan (jugularis). dan dikatakan secara bersamaan hulqum  (tenggorokan) serta mari' (kerongkongan) disebut: Al Audaj (jugularis). Dan wajib  dilakukan pemutusan tenggorokan dan kerongkongan, sesuai teks yang benar.


Al-Ishthakhriy  berkata: Cukup memutus satu saja. Karena hidup tidak bertahan lama setelahnya. Para sahabat (Syafi'iyyah) berkata: Hal ini bertentangan dengan nash Imam Asy Syafi’iy  rahimahullah, dan bertentangan dengan tujuan dzakaah (penyembelihan) yaitu mengalirkan darah dengan apa yang dianjurkan dan tidak menyiksa. 


Dan disunnahkan untuk memutus  jugularis bersamaan dengan keduanya (hulqum dan mari'). Karena hal tersebut yang diisyaratkan, dan kemungkinan besar (umumnya) keduanya (wadajain) ikut terputus dengan terputusnya  tenggorokan dan kerongkongan, ketika  meninggalkan keduanya (wadajain), MAKA DIPERBOLEHKAN. Dan jika meninggalkan (tidak memutus)  sedikit saja bagian tenggorokan atau kerongkongan, atau hewan tersebut mati, maka hewan tersebut termasuk hewan bangkai (tidak bisa dimakan). 


Begitu pula jika dia akhirnya memindahkan hewan yang disembelih, lalu memotong bagian yang tertinggal, maka dia menjadi bangkai. Dan di  dalam kitab  “Al-Hawiy” ada pendapat: Jika sisa sedikit maka tidak ada menjadi persoalan, dan Al-Rouyaniy memilihnya didalam Kitab  “Al-Hilyah”, dan yang benar (Shahih) adalah: pendapat yang pertama. Selesai.


❁˚ৡ✿⊱•Selanjutnya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin bin Syaraf An-Nawawiy Asy Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Minhaju Ath Thalibin Wa 'Umdatu Al Muftin (Hal. 318):


وقيل: يحرم العضو وذكاة كل حيوان قدر عليه بقطع كل الحلقوم وهو مخرج النفس والمرىء وهو مجرى الطعام ويستحب قطع الودجين وهما عرقان في صفحتي العنق ولو ذبحه من قفاه عصى فإن أسرع فقطع الحلقوم والمريء وبه حياة مستقرة حل وإلا فلا 

[انظر كتاب منهاج الطالبين وعمدة المفتين في الفقه : (ص ٣١٨) /  كتاب الصيد والذبائح / المؤلف: أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي (ت ٦٧٦هـ) / الناشر: دار الفكر، الطبعة: الأولى، ١٤٢٥هـ/٢٠٠٥مـ].


Dikatakan: Diharamkan organ dan menyembelih setiap hewan yang boleh disembelih,  dengan cara memotong seluruh tenggorokan yang merupakan jalan keluar ruh, dan kerongkongan yang merupakan saluran makanan. 


Dan disunnahkan untuk memotong jugularis, yaitu dua urat pada kedua sisi leher, dan jika ia menyembelihnya dari belakang leher, maka ia bermaksiat, jika ia terburu-buru memotong tenggorokan dan kerongkongan padahal ia sedang ada kehidupan yang stabil, maka hal itu diperbolehkan. Selesai.


❁˚ৡ✿⊱•Selanjutnya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin bin Syaraf An-Nawawiy Asy Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al-Hajjaj (Juz. 13 Hal. 106):


قَالَ الشَّافِعِيُّ وَأَصْحَابُهُ وَمُوَافِقُوهُمْ : لَا تَحْصُلُ الذَّكَاةُ إِلَّا بِقَطْعِ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ بِكَمَالِهِمَا ، وَيُسْتَحَبُّ قَطْعُ الْوَدَجَيْنِ وَلَا يُشْتَرَطُ ، وَهَذَا أَصَحُّ الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ أَحْمَدَ ، 


وَقَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ : أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ إِذَا قَطَعَ الْحُلْقُومَ وَالْمَرِيءَ وَالْوَدَجَيْنِ وَأَسَالَ الدَّمَ حَصَلَتِ الذَّكَاةُ ، قَالَ : وَاخْتَلَفُوا فِي قَطْعِ بَعْضِ هَذَا فَقَالَ الشَّافِعِيُّ : يُشْتَرَطُ قَطْعُ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَيُسْتَحَبُّ الْوَدَجَانِ ، وَقَالَ اللَّيْثُ ، وَأَبُو ثَوْرٍ ، وَدَاوُدُ ، وَابْنُ الْمُنْذِرِ : يُشْتَرَطُ الْجَمِيعُ ، 


وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ : إِذَا قَطَعَ ثَلَاثَةً مِنْ هَذِهِ الْأَرْبَعَةِ أَجْزَأَهُ ، 


وَقَالَ مَالِكٌ : يَجِبُ قَطْعُ الْحُلْقُومِ وَالْوَدَجَيْنِ ، وَلَا يُشْتَرَطُ الْمَرِيءُ ، وَهَذِهِ رِوَايَةٌ عَنِ اللَّيْثِ أَيْضًا ، وَعَنْ مَالِكٍ رِوَايَةٌ أَنَّهُ يَكْفِي قَطْعُ الْوَدَجَيْنِ ، وَعَنْهُ اشْتِرَاطُ قَطْعِ الْأَرْبَعَةِ كَمَا قَالَ اللَّيْثُ وَأَبُو ثَوْرٍ ، وَعَنْ أَبِي يُوسُفَ ثَلَاثُ رِوَايَاتٍ : إِحْدَاهَا كَأَبِي حَنِيفَةَ : وَالثَّانِيَةُ : إِنْ قَطَعَ الْحُلْقُومَ وَاثْنَيْنِ مِنَ الثَّلَاثَةِ الْبَاقِيَةِ حَلَّتْ وَإِلَّا فَلَا ، وَالثَّالِثَةُ : يُشْتَرَطُ قَطْعُ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَأَحَدِ الْوَدَجَيْنِ ، وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ : إِنْ قَطَعَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنَ الْأَرْبَعَةِ أَكْثَرَهُ حَلَّ ، وَإِلَّا فَلَا . وَاللَّهُ أَعْلَمُ . 

[انظر كتاب المنهاج شرح مسلم ابن الحجاج : (ج ١٣ ص ١٠٦) / كتاب الأضاحي / باب جواز الذبح بكل ما أنهر الدم إلا السن والظفر وسائر العظام / للامام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي].


❁˚ৡ✿⊱•Imam Al Imroniy Al Yamaniy Asy Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Al Bayan Fi Madzhabi Al Imam Asy Syafi'iy (Juz. 4 Hal. 531):


*وأما موضع الذبح* : فهو أسفل مجامع اللحيين وهو آخر العنق، *والكمال فيه: أن يقطع أربعة أشياء: الحلقوم، والمريء، والودجين.* 


فـ (الحلقوم) : مجرى النفس والتنفس من الرئة، و (المريء) : تحت الحلقوم وهو مجرى الطعام والشراب، و (الودجان) ـ قال الشيخ أبو حامد ـ: هما عرقان محيطان بالحلقوم، قال: وكنا نذكر قبل هذا: أنهما محيطان بالمريء، ورأيت أكثر الناس يقولون: هما محيطان بالحلقوم، وأيهما كان.. فقطعهما شرط في الكمال.  *وأما الإجزاء* : فاختلف الناس فيه على أربعة مذاهب. *فمذهبنا: أن الإجزاء يحصل بقطع الحلقوم والمريء لا غير* .


وقال مالك: ( *قطع الأربعة شرط في الإجزاء* ) 


وقال أبو حنيفة: ( *قطع أكثر الأربعة شرط في الإجزاء* ) فمن أصحابه من قال: مذهبه: أن قطع الأكثر من كل واحد من الأربعة شرط في الإجزاء وهو الظاهر، وقال أبو يوسف: قطع أكثر الأربعة عددا شرط في الإجزاء.

[انظر كتاب البيان في مذهب الإمام الشافعي : (ج ٤ ص ٥٣١) /  باب الصيد والذبائح / مسألة: ما ينحر ويذبح وموضع الذبح وما يقطع منه / المؤلف: أبو الحسين يحيى بن أبي الخير بن سالم العمراني اليمني الشافعي (ت ٥٥٨هـ) / الناشر: دار المنهاج - جدة، الطبعة: الأولى، ١٤٢١ هـ- ٢٠٠٠ مـ].


❁˚ৡ✿⊱•Imam Al Mawardiy Asy Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Al Jawiy Al Kabir Fi Fiqhi Madzhabi Al Imam Asy Syafi'iy (Juz. 15 Hal. 78):


فَأَمَّا حَالُ الْكَمَالِ ، فَيَكُونُ بِقَطْعِ أَرْبَعَةٍ : الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَالْوَدَجَيْنِ ، فَأَمَّا الْحُلْقُومُ فَهُوَ مَجْرَى النَّفْسِ فِي مُقَدَّمِ الرَّقَبَةِ ، وَأَمَّا الْمَرِيءُ فَهُوَ مَجْرَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ يَلِي الْحُلْقُومَ ، وَبِهِمَا تُوجَدُ الْحَيَاةُ ، وَبِفَقْدِهِمَا تُفْقَدُ الْحَيَاةُ ، وَأَمَّا الْوَدَجَانِ فَهُمَا عِرْقَانِ فِي جَنْبَيِ الْعُنُقِ مِنْ مُقَدَّمِهِ ، وَلَا تَفُوتُ الْحَيَاةُ بِفَوَاتِهِمَا . 

[انظر كتاب الحاوي الكبير في فقه مذهب الإمام الشافعي وهو شرح مختصر المزني: (ج ١٥ ص ٨٧) / فصل / مسألة / المؤلف: أبو الحسن علي بن محمد بن محمد بن حبيب البصري البغدادي، الشهير بالماوردي الشافعي(ت ٤٥٠هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية، بيروت - لبنان، الطبعة: الأولى، ١٤١٩ هـ -١٩٩٩ مـ].


❁˚ৡ✿⊱•Imam Taqiyyuddin Al Hishniy Al Husainiy Asy Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Kifayatul Akhyar Fi Hilli Ghoyatu Al Ikhtishar (Hal. 516 - 517):


(وَكَمَال الذَّكَاة أَرْبَعَة أَشْيَاء قطع الْحُلْقُوم والمريء والودجين والمجزئ مِنْهَا شَيْئَانِ قطع الْحُلْقُوم والمريء)


الذَّكَاة فِي اللُّغَة التَّطَيُّب من قَوْلهم رَائِحَة ذكية أَي طيبَة فَسُمي بهَا الذّبْح لتطيب أكله بِالْإِبَاحَةِ وَفِي الشَّرْع قطع مَخْصُوص قَالَه الْمَاوَرْدِيّ وَقَالَ النَّوَوِيّ معنى الذَّكَاة فِي اللُّغَة التتميم فَمَعْنَى ذَكَاة الشَّاة ذَبحهَا التَّام الْمُبِيح وَمِنْه فلَان ذكي أَي تَامّ الْفَهم إِذا عرفت أَن الذَّكَاة فِي الشَّرْع قطع مَخْصُوص فَهَذَا الْمَقْطُوع تَارَة يكون مُعْتَبرا للفضيلة وَتارَة يكون مُعْتَبرا لأجل الْأَجْزَاء فَالْمُعْتَبر لأجل الْأَجْزَاء قطع جَمِيع الْحُلْقُوم والمريء فالحلقوم هُوَ مجْرى النَّفس خُرُوجًا ودخولاً والمريء مجْرى الطَّعَام وَالشرَاب وَهُوَ تَحت الْحُلْقُوم وراءهما عرقان فِي صفحتي الْعُنُق يحيطان بالحلقوم وَقيل بالمرىء يُقَال لَهما الودجان فَيُسْتَحَب قطع الودجين مَعَ الْحُلْقُوم والمريء لِأَنَّهُ أُوحِي وَالْغَالِب أَنَّهُمَا ينقطعان بِقطع الْحُلْقُوم والمريء فَإِن تَركهمَا جَازَ وَلَو ترك شَيْئا يَسِيرا من الْحُلْقُوم أَو المريء وَمَات الْحَيَوَان فَهُوَ ميتَة وَكَذَا لَو انْتهى إِلَى حَرَكَة الْمَذْبُوح فَقطع الْمَتْرُوك فَهُوَ ميتَة وَفِي وَجه أَن الْيَسِير لَا يضر وَاخْتَارَهُ الرَّوْيَانِيّ وَالصَّحِيح الأول وَقَالَ الاصطخري يَكْفِي قطع الْحُلْقُوم أَو المريء لِأَن الْحَيَاة تفقد بفقد أَحدهمَا وَهُوَ ضَعِيف* وَلَا بُد من قطع جَمِيعهَا كَمَا تقدم لِأَن مَا قَالَه تَعْذِيب للحيوان وَالْمَقْصُود تَعْجِيل التَّوْجِيه بِلَا تَعْذِيب وَالله ، 

[انظر كتاب كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار: (ص ٥١٦ - ٥١٧) / كتاب الصيد والذبائح والضحايا والأطعمة / باب الزكاة والصيد / المؤلف: أبو بكر بن محمد بن عبد المؤمن بن حريز بن معلى الحسيني الحصني، تقي الدين الشافعي (ت ٨٢٩هـ) / الناشر: دار الخير - دمشق، الطبعة: الأولى، ١٩٩٤ مـ].


𝘽]✯͜͡❂⊱•𝙈𝙀𝙉𝙐𝙍𝙐𝙏 𝙈𝘼𝘿𝙕𝙃𝘼𝘽 𝙄𝙈𝘼𝙈 𝘼𝘽𝙐 𝙃𝘼𝙉𝙄𝙁𝘼𝙃


Wajib memotong tiga dari empat saluran/urat ;


1. Hulqum


2. Mari’


3 dan 4. wadajain


Jika ada satu dari keempat diatas yang tidak terpotong maka sembelihannya Sah.


Imam Abu Yusuf dan Muhammad (sahabat Abu Hanifah) berkata : Wajib memutus tenggorokan, kerongkongan, dan  salah satu dari urat  bagian leher, dan jikalau memutus sebagian tenggorokan atau kerongkongan, maka tidak halal dimakan.


❁˚ৡ✿⊱•Imam Ja'far Al Quduriy Al Baghdadiy Al Hanafiy berkata dalam Kitabnya Mukhtashar Al Quduriy Fi Al Fiqhi Al Hanafiy (Hal. 206):


والعروق التي تقطع في الذكاة أربعة: الحلقوم والمريء والودجان فإذا قطعها حل الأكل وإن قطع أكثرها فكذلك عند أبي حنيفة وقال أبو يوسف ومحمد: لا بد من قطع الحلقوم والمريء وأحد الودجين

[انظر كتاب مختصر القدوري في الفقه الحنفي : (ص ٢٠٦) / ٤٤ - كتاب الصيد والذبائح / المؤلف: أبو الحسين أحمد بن محمد بن أحمد بن جعفر القدوري الحنفي البغدادي (ت ٤٢٨ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية، الطبعة: الأولى، ١٤١٨ هـ - ١٩٩٧ مـ].


Urat-urat yang  dipotong dalam dzakat (penyembelihan) ada empat, yaitu Hulqum  (tenggorokan, urat saluran nafas), Mari' (kerongkongan, urat saluran makanan dan minuman keperut), dan Wadajain (jugularis. Urat pembeluh darah disamping kanan dan kiri leher), ketika memutus semuanya, dan jika  memutus sebagian besarnya, maka begitu juga halal dimakan menurut Abu Hanifah. Dan Abu Yusuf dan  Muhammad (Sahabat Imam Abu Hanifah)  berkata: Wajib memutus  tenggorokan, kerongkongan, dan salah satu jugularis. Selesai.



❁˚ৡ✿⊱•Imam Badruddin Al 'Ainiy Al Hanafiy berkata dalam Kitabnya 'Umdatu Al Qariy Syarhu Shahih Al Bukhariy (Juz. 12 Hal. 122):


فَعِنْدَنَا أَنَّ قَطْعَ الْأَرْبَعَةِ الْمَذْكُورَةِ حِلُّ الْأَكْلِ وَإِنْ قَطَعَ أَكْثَرَهَا، فَكَذَلِكَ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ، وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ: لَا بُدَّ مِنْ قَطْعِ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَأَحَدِ الْوَدَجَيْنِ حَتَّى لَوْ قَطَعَ بَعْضَ الْحُلْقُومِ أَوِ الْمَرِيءِ لَمْ يَحِلَّ، هَكَذَا ذَكَرَ الْقُدُورِيُّ الِاخْتِلَافَ فِي (مُخْتَصَرِهِ) وَالْمَشْهُورُ فِي كُتُبِ مَشَايِخِنَا أَنَّ هَذَا قَوْلُ أَبِي يُوسُفَ وَحْدَهُ، وَالْحَاصِلُ أَنَّ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ إِذَا قَطَعَ الثَّلَاثَ أَيَّ ثَلَاثٍ كَانَ مِنَ الْأَرْبَعَةِ جَازَ. انتهى

[انظر كتاب عمدة القاري شرح صحيح البخاري : (ج ٢١ ص ١٢٢) / كتاب العدة / - باب: {النحر والذبح} / المؤلف: بدر الدين أبو محمد محمود بن أحمد العينى الحنفي (ت ٨٥٥ هـ) / عنيت بنشره وتصحيحه والتعليق عليه: شركة من العلماء بمساعدة إدارة الطباعة المنيرية، لصاحبها ومديرها محمد منير عبده - بدون السنة].


Menurut kami (Hanafiyyah), memutus keempat urat tersebut halal  dimakan, meskipun ia memotong sebagian besarnya. Hal yang sama berlaku bagi Abu Hanifah. Abu Yusuf dan Muhammad (sahabat Abu Hanifah) berkata : Wajib memutus tenggorokan, kerongkongan, dan  salah satu dari urat  bagian leher, dan jikalau memutus sebagian tenggorokan atau kerongkongan, maka tidak halal dimakan. Demikianlah Al-Quduriy  menyebutkan perbedaannya (dalam kitab mukhtashornya), dan yang diketahui dalam kitab-kitab Sayaikh kami (Hanafiyyah) adalah pernyataan Abu Yusuf saja.  Dan intinya menurut Imam Abu Hanifah, jika memutus  ketiganya, yaitu tiga dari empat, maka diperbolehkan. Selesai.



❁˚ৡ✿⊱•Imam Jamaluddin Az Zaila'iy Al Hanafiy berkata dalam Kitabnya Nashbu Ar Royah Fi Takhriji  Ahaditsi Al Hidayah (Juz. 6 Hal. 42):


( وَالْعُرُوقُ الَّتِي تُقْطَعُ فِي الذَّكَاةِ أَرْبَعَةٌ : الْحُلْقُومُ وَالْمَرِيءُ وَالْوَدَجَانِ ) لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : { أَفْرِ الْأَوْدَاجَ بِمَا شِئْت }وَهِيَ اسْمُ جَمْعٍ ، وَأَقَلُّهُ الثَّلَاثُ فَيَتَنَاوَلُ الْمَرِيءَ وَالْوَدَجَيْنِ وَهُوَ حُجَّةٌ عَلَى الشَّافِعِيِّ فِي الِاكْتِفَاءِ بِالْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ إلَّا أَنَّهُ لَا يُمْكِنُ قَطْعُ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ إلَّا بِقَطْعِ الْحُلْقُومِ فَيَثْبُتُ قَطْعُ الْحُلْقُومِ بِاقْتِضَائِهِ وَبِظَاهِرِ مَا ذَكَرْنَا يَحْتَجُّ مَالِكٌ رَحِمَهُ اللَّهُ وَلَا يَجُوزُ الْأَكْثَرُ مِنْهَا بَلْ يُشْتَرَطُ قَطْعُ جَمِيعُهَا ( وَعِنْدَنَا إنْ قَطَعَهَا حَلَّ الْأَكْلُ وَإِنْ قَطَعَ أَكْثَرَهَا فَكَذَلِكَ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ ) وَقَالَا : لَا بُدَّ مِنْ قَطْعِ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَأَحَدِ الْوَدَجَيْنِ . 

[انظر كتاب نصب الراية في تخريج أحاديث الهداية : (ج ٦ ص ٤٢) / كتاب الذبائح / العروق التي تقطع في الذكاة أربعة / للامام  جمال الدين عبد الله بن يوسف الزيلعي الحنفي].


❁˚ৡ✿⊱•Imam Ibnu Al Maudud Al Mushiliy Al Hanafiy berkata dalam Kitabnya Al Ikhtiyar Lita'lili Al Mukhtar (Juz. 5 Hal. 11):


( وَالْعُرُوقُ الَّتِي تُقْطَعُ فِي الذَّكَاةِ : الْحُلْقُومُ وَالْمَرِيءُ وَالْوَدَجَانِ ) ، 


وَقَالَ الْكَرْخِيُّ : الذَّكَاةُ فِي الْأَوْدَاجِ : وَالْأَوْدَاجُ أَرْبَعَةٌ : الْحُلْقُومُ ، وَالْمَرِيءُ ، وَالْعِرْقَانِ اللَّذَانِ بَيْنَهُمَا ، وَأَصْلُهُ قَوْلُهُ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - : " أَفْرِ الْأَوْدَاجَ بِمَا شِئْتَ " ، وَهُوَ اسْمُ جَمْعٍ فَيَتَنَاوَلُ ثَلَاثَةً ، وَهُوَ الْمَرِيءُ وَالْوَدَجَانِ ، وَلَا يُمْكِنُ قَطْعُ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ إِلَّا بِقَطْعِ الْحُلْقُومِ فَثَبَتَ قَطْعُ الْحُلْقُومِ اقْتِضَاءً ، ( فَإِنْ قَطَعَهَا حَلَّ الْأَكْلُ ) لِوُجُودِ الذَّكَاةِ ، ( وَكَذَلِكَ إِذَا قَطَعَ ثَلَاثَةً مِنْهَا ) أَيَّ ثَلَاثَةٍ كَانَتْ . وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ : لَا بُدَّ مِنْ قَطْعِ الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَأَحَدِ الْوَدَجَيْنِ . وَعَنْ مُحَمَّدٍ أَنَّهُ يُعْتَبَرُ الْأَكْثَرُ مِنْ كُلِّ عِرْقٍ .

[انظر كتاب الاختيار لتعليل المختار : (ج ٥ ص ١١) / كتاب الذبائح / المؤلف: عبد الله بن محمود بن مودود الموصلي الحنفي / الناشر: مطبعة الحلبي - القاهرة (وصورتها دار الكتب العلمية - بيروت، وغيرها)، تاريخ النشر: ١٣٥٦ هـ - ١٩٣٧ مـ]. 


𝘾]✯͜͡❂⊱•𝙈𝙀𝙉𝙐𝙍𝙐𝙏 𝙈𝘼𝘿𝙕𝙃𝘼𝘽 𝙄𝙈𝘼𝙈 𝙈𝘼𝙇𝙄𝙆


Wajib memotong Hulqum dan dua urat yang ada dibagian samping kanan dan kiri  leher (wadajain) Jika cara penyembelihannya diyakini atau diduga tidak sesuai ketentuan diatas maka tidak boleh dikonsumsi. 


❁˚ৡ✿⊱•Imam Hathab Ar Ru'ainiy Al Malikiy berkata dalam Kitabnya Mawahibu Al Jalil Syarhu Mukhtashar Khalil (Juz. 3 Hal. 209):


وَقَوْلُهُ تَمَامَ الْحُلْقُومِ وَالْوَدَجَيْنِ يَعْنِي أَنَّ الذَّكَاةَ الْكَامِلَةَ عَلَى الْمَعْرُوفِ مِنْ الْمَذْهَبِ تَحْصُلُ بِقَطْعِ جَمِيعِ الْحُلْقُومِ ، وَجَمِيعِ الْوَدَجَيْنِ

[انظر كتاب مواهب الجليل في شرح مختصر خليل : (ج ٣ ص ٢٠٩) / باب الذكاة / فرع ذبيحة العبد / المؤلف: شمس الدين أبو عبد الله محمد بن محمد بن عبد الرحمن الطرابلسي المغربي، المعروف بالحطاب الرُّعيني المالكي (ت ٩٥٤هـ) / الناشر: دار الفكر - الطبعة: الثالثة، ١٤١٢هـ - ١٩٩٢مـ].


Ungkapannya :  “sempurna  tenggorokan dan wadajain", artinya dzakat (sembelihan) menjadi sempurna menurut madzhab (Malikiyyah), yang  dicapai dengan memutus seluruh tenggorokan dan semua wadajain. Selesai.


❁˚ৡ✿⊱•Imam Al Qodli Abdul Wahhab Al Baghdadiy Al Malikiy berkata dalam Kitabnya Al Ma'unah 'Ala Madzhabi 'Alimi Al Madinah (Juz. 6 Hal. 291):


شرط الذكاة بالذبح قطع الحلقوم، والودجين، فإن بقى شيء منها لم تتم الذكاة 

[انظر كتاب المعونة على مذهب عالم المدينة «الإمام مالك بن أنس» : (ج ٦ ص ٢٩١) / كتاب الذبائح / المؤلف: القاضي عبد الوهاب البغدادي (ت ٤٢٢ هـ) / الناشر: المكتبة التجارية، مصطفى أحمد الباز - مكة المكرمة، بدون السنة ].


Syarat dzakat (penyembelihannya) adalah dengan memotong tenggorokan dan wadajainnya, jika masih tersisa sedikit darinya, maka penyembelihannya tidak sempurna. Selesai.


❁˚ৡ✿⊱•Imam Al Qorofiy Al Malikiy berkata dalam Kitabnya Adz Dzakhiroh (Juz. 4 Hal. 133):


قَالَ اللَّخْمِيُّ وَرُوِيَ عَنْ مَالِكٍ لَا بُدَّ مِنَ الْأَرْبَعَةِ وَالِاكْتِفَاءُ بِالْوَدَجَيْنِ لِخُرُوجِ الدَّمِ وَقَالَ ابْنُ حَبِيبٍ إِنْ قَطَعَ الْأَوْدَاجَ وَنصف الْحُلْقُوم اجزأ

[انظر كتابة الذخيرة : (ج ٤ ص ١٣٣) / فرع / تفريع / المؤلف: أبو العباس شهاب الدين أحمد بن إدريس بن عبد الرحمن المالكي الشهير بالقرافي (ت ٦٨٤هـ) / الناشر: دار الغرب الإسلامي- بيروت

الطبعة: الأولى، ١٩٩٤ مـ].


Imam Al-Lakhmi berkata :  dan diriwayatkan dari Imam Malik: Keempatnya harus diputus, dan menganggap cukup penyembelihan dengan hanya memutus (setengah hulqum, dan) wadajain  (jugularis, 2 urat leher) saja untuk mengeluarkan darah.


Dan Ibnu Habib berkata : Jika hanya memutus wadajain dan setengah hulqum (tenggorokan)  sudah mencukupi. Selesai.


❁˚ৡ✿⊱•Syaikh 'Ulaisy Al Malikiy berkata dalam Kitabnya Manhu Al Jalil Syarhu Mukhtashar Khalil (Juz. 2 Hal. 409):


كَمَا شُهِرَ قَوْلُنَا تَمَامُ الْحُلْقُومِ وَالْوَدَجَيْنِ (الِاكْتِفَاءُ) فِي الذَّبْحِ (بِ) قَطْعِ (نِصْفِ الْحُلْقُومِ وَ) جَمِيعِ (الْوَدَجَيْنِ) فَالْوَدَجَيْنِ عَطْفٌ عَلَى نِصْفٍ لَا عَلَى الْحُلْقُومِ، وَالْمُرَادُ الِاكْتِفَاءُ بِنِصْفِ الْحُلْقُومِ مَعَ قَطْعِ جَمِيعِ الْوَدَجَيْنِ. 


ابْنُ حَبِيبٍ إنْ قَطَعَ الْوَدَجَيْنِ وَنِصْفَ الْحُلْقُومِ أُكِلَتْ، وَإِنْ قَطَعَ مِنْهُ أَقَلَّ فَلَا تُؤْكَلُ، وَفِي الْعُتْبِيَّةِ عَنْ ابْنِ الْقَاسِمِ فِي الدَّجَاجَةِ أَوْ الْعُصْفُورِ إذَا أَجْهَزَ عَلَى وَدَجَيْهِ وَنِصْفِ حَلْقِهِ أَوْ ثُلُثَيْهِ فَلَا بَأْسَ بِأَكْلِهِ.

[انظر كتاب منح الجليل شرح مختصر خليل : (ج ٢ ص ٤٠٩) / باب الذكاة / المؤلف: محمد عليش المالكي / الناشر: دار الفكر - بيروت، الطبعة: الأولى،: ١٤٠٤ هـ - ١٩٨٤ مـ].


Sebagaimana perkataan kita (Malikiyyah) telah kesohor :  “memutus sepenuhnya tenggorokan dan kedua wadajain” (menganggap cukup) dalam menyembelih (dengan) memotong (setengah tenggorokan dan) seluruh (wadajain, 2 urat saraf leher), wadajain athof (bersambung)  dengan setengah (atau nishfu) tidak bersambung dengan tenggorokannya, dan yang dimaksud menganggap cukup adalah dengan memutus separuh bagian tenggorokannya dan semua wadajain (2 urat disisi lehernya).


Ibnu Habib berkata : Jika sudah memutus  jugularis dan setengah lokumnya, maka boleh dimakan, tetapi jika lebih sedikit memutus darinya, maka tidak boleh  dimakan, maka diriwayatkan dalam Kitab Al-'Uthbiyah dari riwayat Ibnu Al-Qasim mengenai ayam atau burung, ketika  menaruhnya pada wadajain dan setengah hulqum atau dua pertiganya, maka tidak berbahaya untuk memakannya. Selesai.


❁˚ৡ✿⊱•Imam Al Kharosyiy Al Malikiy berkata dalam Kitabnya 


لَوْ غَلَبَتْهُ قَبْلَ تَمَامِ الذَّكَاةِ، فَقَامَتْ، ثُمَّ أَضْجَعَهَا وَأَتَمَّ الذَّكَاةَ، وَكَانَ أَمْرًا قَرِيبًا هَلْ تُؤْكَلُ عَلَى مَا مَرَّ؟ 


(قُلْت) : قَالَ أَبُو حَفْصٍ الْعَطَّارُ: تُؤْكَلُ وَلَمْ يُقَيِّدْهُ بِقُرْبٍ، وَنَزَلَتْ أَيَّامَ قَضَاءِ ابْنِ قَدَّاحٍ فِي ثَوْرٍ، وَحَكَمَ بِأَكْلِهِ، وَبَيَانُ بَائِعِهِ ذَلِكَ، وَكَانَتْ مَسَافَةُ هُرُوبِهِ نَحْوًا مِنْ ثَلَاثِمِائَةِ بَاعٍ.

[انظر كتاب مواهب الجليل في شرح مختصر خليل : (ج ٣ ص ٢١١) / باب الذكاة / فروع لو غلبته قبل تمام الذكاة فقامت ثم أضجعها وأتم الذكاة / المؤلف: شمس الدين أبو عبد الله محمد بن محمد بن عبد الرحمن الطرابلسي المغربي، المعروف بالحطاب الرُّعيني المالكي (ت ٩٥٤هـ) / الناشر: دار الفكر، الطبعة: الثالثة، ١٤١٢هـ - ١٩٩٢مـ].


Jika ternak  mengalahkannya sebelum dzakat (penyembelihannya) sempurna, dan ternak bangkut,  lalu jagalnya  membaringkannya dan menuntaskan penyembelihannya, dan perkara tersebut jedanya  dekat, apakah boleh dimakan, perkara yang  disebutkan di atas? 


(Saya berkata): Abu Hafsh Al-Atthar berkata: Boleh dimakan tanpa membatasinya  dengan jeda yang dekat, dan dikeluarkan pada  hari-hari penetapan hukum Ibnu Qaddah, DAN IA MENGHUKUMI  TENTANG SEEKOR LEMBU (YANG BANGKIT DAN LARI SEBELUM SEMPURNA DISEMBELIH), dan ia  memutuskan dengan BOLEH  MEMAKANNYA, dan penjelasan berapa batasan jaraknya dari semua itu, dan BATAS JARAK PELARIANNYA   SEKITAR 300 DEPA. Selesai.



𝘿]✯͜͡❂⊱•𝙈𝙀𝙉𝙐𝙍𝙐𝙏 𝙈𝘼𝘿𝙕𝙃𝘼𝘽 𝙄𝙈𝘼𝙈 𝘼𝙃𝙈𝘼𝘿


Penyembelih harus minimal harus memutus hulqum (saluran nafas) dan Mari' (saluran makanan dan minuman) menurut madzhab imam Ahmad dan mayoritas pengikutnya.


❁˚ৡ✿⊱•Imam 'Alauddin Al-Mardawiy Al-Hanbaliy berkata dalam Kitabnya Al Inshof Fi Ma'rifati Ar Rojih Min Al Khilaf (Juz. 10 Hal. 392):


قَوْلُهُ (الثَّالِثُ: أَنْ يَقْطَعَ الْحُلْقُومَ وَالْمَرِيءَ) . وَهَذَا الْمَذْهَبُ. وَعَلَيْهِ جَمَاهِيرُ الْأَصْحَابِ،

[انظر كتاب الإنصاف في معرفة الراجح من الخلاف : (ج ١٠ ص ٣٩٢) / باب الذكاة / المؤلف: علاء الدين أبو الحسن علي بن سليمان المرداوي الحنبلي (٧١٧ - ٨٨٥ هـ) / الناشر: مطبعة السنة المحمدية، الطبعة: الأولى، ١٣٧٤ هـ - ١٩٥٥ مـ].


(yang ketiga: memotong  tenggorokan dan kerongkongan). Ini adalah Madzhab Imam Ahmad, dan mayoritas para sahabatnya. Selesai.


❁˚ৡ✿⊱•Imam Manshur bin Yunus Al Buhutiy Al Hanbaliy berkata dalam Kitabnya Kasyafu Al Qina' 'An Matni Al Iqna' (Juz. 6 Hal. 206):


الشَّرْطُ (الثَّالِثُ أَنْ يَقْطَعَ الْحُلْقُومَ وَهُوَ مَجْرَى النَّفَسِ قَالَ الشَّيْخُ سَوَاءٌ كَانَ الْقَطْعُ فَوْقَ الْغَلْصَمَةِ وَهُوَ الْمَوْضِعُ الْفَانِي مِنْ الْحَلْقِ أَوْ) كَانَ الْقَطْعَ (دُونَهَا) أَيْ الْغَلْصَمَةِ (وَأَنْ يَقْطَعَ الْمَرِيءَ وَهُوَ الْبُلْعُومُ وَهُوَ مَجْرَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ) قَالَ وَالنَّحْرُ فِي اللَّبَّةِ وَالْحَلْقِ لِمَنْ قَدَرَ احْتَجَّ بِهِ أَحْمَدُ.

[انظر كتاب كشاف القناع عن متن الإقناع : (ج ٦ ص ٢٠٦) / باب الذكاة / فصل ما يشترط للذكاة ذبحا كانت أو نحرا / المؤلف: منصور بن يونس بن إدريس البهوتي الحنبلي / الناشر: مكتبة النصر الحديثة بالرياض، لصاحبَيها/ عبدالله ومحمد الصالح الراشد - الطبعة: بدون تاريخ طبع [لكن أرّخ ذلك د التركي في ١٣٨٨ هـ - ١٩٦٨ مـ].


Syarat yang ketiga adalah supaya memutus  tenggorokan yang merupakan saluran pernafasan, Syaikh berkata: baik pemotongannya berada di atas insang (pangkal lisan, lidah) dan ia adalah merupakan pinggiran tenggorokan, atau pemotongannya berada  (dibawahnya) yaitu dibawah pangkal lidah.


(Dan agar memutus  kerongkongan, yaitu faring (bulghum, bagian dari sistem pernapasan dan pencernaan yang merupakan saluran otot dan mukosa berbentuk seperti tabung dengan panjang sekitar 13 cm, saluran makanan dan minuman keperut). Dia  berkata : “Dan menyembelih  pada bagian rahang bawah dan tenggorokan adalah bagi siapa yang mampu.” Ahmad menggunakannya sebagai hujjah. Selesai.


❁˚ৡ✿⊱•Imam Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy berkata dalam Kitabnya Jami'u Masa'il Wa Al Ajwibah (Hal. 162): 


وَالْأَظْهَرُ أَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ; فَإِنَّ النَّبِيَّ -ﷺ- لَمْ يَشْتَرِطْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَوْجَبَهُ، بَلْ قَالَ فِي الْحَدِيثِ الْمُتَّفَقِ عَلَى صِحَّتِهِ: « مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلْ، لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفْرَ». 


فَإِذَا جَرَى الدَّمُ مِنَ الْعُنُقِ وَمَاتَ الْحَيَوَانُ بِذَلِكَ، وَقَدْ سَمَّى عَلَيْهِ اللَّهَ أُبِيحَ، سَوَاءٌ كَانَ الْقَطْعُ فَوْقَ الْغَلْصَمَةِ أَوْ دُونَهَا، وَسَوَاءٌ قَطَعَ اثْنَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةً أَوْ أَرْبَعَةً. انتهى

[انظر كتاب جامع  المسائل والأجوبة : (ص ١٦٢) / سؤالات أهل الرحبة / وأما الدابة إذا ذبحت والغلصمة مما يلي البدن هل يحل أكلها؟ / المؤلف: تقي الدين أبو العَباس أحمد بن عبد الحليم بن عبد السلام بن عبد الله بن أبي القاسم بن محمد ابن تيمية الحراني الحنبلي الدمشقي الحنبلي (ت ٧٢٨هـ) / الناشر: الفاروق الحديثة للطباعة والنشر - القاهرة، الطبعة: الأولى، ١٤٢٥هـ - ٢٠٠٤مـ].


Yang paling jelas, hal tersebut bukanlah sesuatu yang disyaratkan dari semua itu; karena Nabi Muhammad -ﷺ- tidak mensyaratkan atau mewajibkan dari hal itu, melainkan beliau bersabda dalam hadits yang disepakati kesahihannya: "Apa saja yang bisa mengalirkan darah dan disebutkan  nama Allah, maka  makanlah (sembelihan tersebut), yang dipakai untuk penyembelihan itu bukan dengan gigi dan kuku". 


Dan jikalau darah keluar dari leher dan hewan itu mati, dengan semua itu, dan sungguh  menyebut atasnya asma Allah, maka diperbolehkan memakannya, baik pemotongannya di atas atau di bawah galsama (ingsang, pangkal lidah), dan baik memutus dua, tiga, atau empat saluran (tenggorokan, kerongkongan, dan 2 urat disamping leher). Selesai.



𝙀]✯͜͡❂⊱•𝙈𝙀𝙉𝙐𝙍𝙐𝙏 𝙈𝘼𝘿𝙕𝙃𝘼𝘽 𝘿𝙕𝙊𝙃𝙄𝙍𝙄𝙔𝙔𝘼𝙃


Semua ternak yang dialirkan darahnya dan diatasnya disebutkan asma Allah halal untuk dikonsumsi.


❁˚ৡ✿⊱•Imam Ibnu Hazm Al Andalusiy Adz Dzohiriy berkata dalam Kitabnya Al Muhalla Bi Al Atsar (Juz. 4 Hal. 128): 


فَكُلُّ مَا أَنْهَرَ الدَّمَ فِي الْمُتَمَكَّنِ مِنْهُ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ مِنْ ذَبْحٍ أَوْ نَحْرٍ فَهُوَ ذَكَاةٌ يَحِلُّ بِهَا الْأَكْلُ. انتهى

[انظر كتاب المُحلَّى بالآثار : (ج ٦ ص ١٢٨) / كتاب التذكية / مسألة إكمال الذبح / المؤلف: أبو محمد، علي بن أحمد بن سعيد بن حزم الأندلسي [الظاهري، ت ٤٥٦ هـ] / الناشر: دار الفكر - بيروت، دون تاريخ نشر، وطَبَعتْها أيضا: دار الكتب العلمية - بيروت، سنة ١٤٠٨ هـ - ١٩٨٨ مـ]. 


Segala sesuatu yang menumpahkan darah kepada orang yang mampu dan di atasnya disebutkan nama Allah, baik yang disembelih maupun yang disembelih, maka ia adalah sembelihan yang boleh dimakan. Selesai.


𝙁]✯͜͡❂⊱•𝙈𝙀𝙉𝙐𝙍𝙐𝙏 𝙈𝘼𝘿𝙕𝙃𝘼𝘽 𝘼𝙃𝙇𝙄 𝙃𝘼𝘿𝙄𝙏𝙎


Penyembelihan sah walaupun tanpa memutus semua urat disamping kanan dan kiri leher.


*•⊰✿ৡৢ˚❁ Imam Asy Syaukaniy Al Yamaniy berkata dalam Kitabnya As Sailu Al Jaror  (Hal. 712):


(والحاصِلُ أنَّه قد دلَّ الحديثُ الصَّحيحُ على أنَّ المعتبَرَ إنهارُ الدَّمِ، فإذا طَعَن في الحَلقِ واللَّبَّةِ حتى أنهَرَ الدَّمَ، ولم يَفْرِ الأوداجَ كُلَّها؛ كان الذَّبحُ صَحيحًا، والذَّبيحةُ حَلالًا). 

[انظر كتاب السيل الجرار المتدفق على حدائق الأزهار : (ص ٧١٢) / باب الذبح / المؤلف: محمد بن علي بن محمد بن عبد الله الشوكاني اليمني (ت ١٢٥٠هـ) / الناشر: دار ابن حزم، الطبعة: الطبعة الأولى، بدون السنة].


Intinya hadis shahih menunjukkan bahwa mu'tabar (dijadikan pertimbangan) adalah  mengalirkan darah, maka jika ia menikam pada bagian tenggorokan dan rahang bawah hingga darah mengalir, dan tidak melintasi seluruh urat lehernya, maka penyembelihannya sah, dan sembelihannya boleh dimakan. Selesai.



✯͜͡❂⊱•أَلحَمْدُ لِلّـهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتُمُّ الصّالِحَاتُ✯͜͡❂⊱• 


•._.••´¯``•.¸¸.•`   🎀  KråÐêñåñ §êlå†åñ

§rµmßµñg 

Mågêlåñg

 🎀   `•.¸¸.•``¯´••._.•


١٨ ذو الحجة ١٤٤٥ ه‍ـ

  23 𝓙𝓾𝓷𝓲 2024 𝓜

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BAGAIMANAPUN BENTUKNYA VAGINA RASANYA TUNGGAL (1) BAHASA ALAM AKHIRAT (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA KHUSUS (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DSB) (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAHARU (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) INOVASI BID'AH OLEH ULAMA' YANG DITUDUH MEMBID'AH BID'AHKAN (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KAJIAN TINGKEPAN NGAPATI MITONI KEHAMILAN (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TABKHIR EMBAKAR DUPA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA HAJAT TERCAPAI SEMBELIHLAH SYAHWAT DAN MENDEKATLAH KEPADA ALLAH (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KUFUR AKIBAT MENCELA NASAB KETURUNAN (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMBELI KITAB ULAMA' MENARIK RIZQI DAN KEKAYAAN (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SEMBELIHAN (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAHALLUL CUKUR GUNDUL ATAU POTONG RAMBUT SELESAI HAJI DAN UMROH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TIDAK PERLU TEST DNA SEBAGAI BUKTI DZURRIYYAH NABI -ﷺ- (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top