Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Agustus 2023

بَوْلُ الْغُلَامِ وقيئه قَبلَ مضي حَولَين لَمْ يَأْكُل مَا عَدَا اللَّبَنَ الَّذِي يَرْتَضِعُهُ وَالتَّمْرَ الَّذِي يُحَنَّكُ بِهِ وَالْعَطَلَ الَّذِي يَلْعَقُهُ لِلْمُدَاوَاةِ وَغَيْرِهَا | KENCING DAN MUNTAHAN ANAK LAKI LAKI SEBELUM DUA TAHUN YANG TIDAK MAKAN SELAIN ASI IBUNYA KURMA YANG PERNAH DITAHNIKKAN ATAU MAKAN SESUATU UNTUK OBAT DAN SELAINNYA

 *━•⊰❁🌦️༄ ﷽ ༄🌤️❁⊱•━*




(edisi cara mensucikan kencing atau muntahan bayi laki laki sebelum umur dua tahun walaupun ia pernah ditahnik dicokol kurma waktu lahir atau minum madu atau yang lainnya untuk obat cukup mercikkan air tanpa mencucinya)


A].*─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫DASAR HADITS



حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ أُمِّ قَيْسٍ بِنْتِ مِحْصَنٍ :


«أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ لَمْ يَأْكُلْ الطَّعَامَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -ﷺ- فَأَجْلَسَهُ رَسُولُ اللَّهِ -ﷺ- فِي حَجْرِهِ فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ»

[رواه البخاري / كتاب الوضوء / باب بول الصبيان / حديث رقم: ٢٢٣].


Telah menceritakan kepada kami : 'Abdullah bin Yusuf, ia  berkata : Telah mengabarkan kepada kami : Malik. Dari Ibnu Syihab. Dari 'Ubaidullah bin 'Abdullah bin 'Utbah. Dari Ummu Qais binti Mihshan radliyyAllahu 'anha: 


Bahwa beliau datang menemui Rasulullah -ﷺ- dengan membawa anaknya yang masih kecil dan belum makan makanan. Rasulullah -ﷺ- lalu mendudukkan anak kecil itu dalam pangkuannya sehingga ia kencing dan mengenai pakaian beliau. Beliau kemudian minta diambilkan air lalu memercikkannya dan tidak mencucinya."

[HR. Bukhari No. Hadits : 223]. 


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟

Dalam Riwayat Hadits Yang Lain :


‏حَدَّثَنَا ‏ ‏حَوْثَرَةُ بْنُ مُحَمَّدٍ ‏ ‏وَمُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ ‏ ‏قَالَا حَدَّثَنَا ‏ ‏مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ ‏ ‏أَنْبَأَنَا ‏ ‏أَبِي ‏ ‏عَنْ ‏ ‏قَتَادَةَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَبِي حَرْبِ بْنِ أَبِي الْأَسْوَدِ الدِّيْلِيِّ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَبِيهِ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏عَلِيٍّ ‏ ‏أَنَّ النَّبِيَّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏قَالَ فِي بَوْلِ الرَّضِيعِ ‏ :


‏يُنْضَحُ ‏ ‏بَوْلُ الْغُلَامِ وَيُغْسَلُ بَوْلُ ‏ ‏الْجَارِيَةِ ... الحديث 

[رواه ابن ماجه / كتاب الطهارة وسننها / باب ما جاء في بول الصبي الذي لم يطعم / حديث رقم: ٥٢٥].


Telah menceritakan kepada kami : Hautsarah bin Muhammad dan Muhammad bin Sa'id bin Yazid bin Ibrahim,  keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami : Mu'adz bin Hisyam, ia berkata, Telah memberitakan kepada kami : Bapakku. Dari Qotadah. Dari Abu Harb bin Abul Aswad Ad Dili. Dar Bapaknya. Dari Ali radliyyAllahu 'anhu : bahwa Nabi -ﷺ- pernah bersabda, berkenaan dengan kencing anak kecil yang masih menyusu: 


"Anak laki-laki diperciki sedangkan anak perempuan di cuci." ... Al Hadits.

[HR. Ibnu Majah No. Hadits : 525. SHAHIH Menurut Imam Ibnu Hajar Dalam At Talkhish].



᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟ Imam Ibnu Daqiq Al 'Ied Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Ihkamu Al Ihkam Syarhu 'Umdatu Al Ahkam : 


اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي بَوْلِ الصَّبِيِّ الَّذِي لَمْ يَطْعَمْ الطَّعَامَ فِي مَوْضِعَيْنِ : 


أَحَدُهُمَا : فِي طَهَارَتِهِ أَوْ نَجَاسَتِهِ ، وَلَا تَرَدُّدَ فِي قَوْلِ الشَّافِعِيِّ وَأَصْحَابِهِ فِي أَنَّهُ نَجِسٌ ، وَالْقَائِلُونَ بِالنَّجَاسَةِ ، اخْتَلَفُوا فِي تَطْهِيرِهِ : هَلْ يَتَوَقَّفُ عَلَى الْغَسْلِ أَمْ لَا ؟ 


فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ : أَنَّهُ لَا يَتَوَقَّفُ عَلَى الْغَسْلِ ، بَلْ يَكْفِي فِيهِ الرَّشُّ وَالنَّضْحُ ، 


وَذَهَبَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ إلَى غَسْلِهِ كَغَيْرِهِ ، 


وَالْحَدِيثُ ظَاهِرٌ فِي الِاكْتِفَاءِ بِالنَّضْحِ وَعَدَمِ الْغَسْلِ ، لَا سِيَّمَا مَعَ قَوْلِهَا " وَلَمْ يَغْسِلْهُ " وَاَلَّذِينَ أَوْجَبُوا غَسْلَهُ : اتَّبَعُوا الْقِيَاسَ عَلَى سَائِرِ النَّجَاسَاتِ ، وَأَوَّلُوا الْحَدِيثَ .  

[انظر كتاب إحكام الإحكام شرح عمدة الأحكام : ج ١ ص ١٢٠ / كتاب الطهارة / باب في المذي وغيره / حديث أم قيس أنها أتت بابن لها صغير لم يأكل الطعام / للامام  دقيق العيد الشافعي / الناشر: مطبعة السنة المحمدية - بدون السنة].


Para ulama berbeda pendapat tentang kencing anak laki-laki yang belum diberi makan didalam dua hal:


Salah satunya: apakah itu suci atau najis, dan tidak ada keraguan dalam perkataan Asy Syafi'iy dan para sahabatnya bahwa itu najis. Dan orang orang yang mengatakan dengan najis, mereka berselisih pendapat dalam tatacara mensucikannya. Apakah hanya bertumpu pada mencucinya saja atau tidak?


Pendapat Imam Asy Syafi'iy dan Ahmad adalah tidak tergantung pada cucian, melainkan cukup dengan menyemprot dan memercikkannya, 


dan Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat untuk mencucinya seperti yang lain, 


dan haditsnya jelas bahwa itu cukup untuk memercikkannya dan tidak mencucinya, terutama dengan perkataan Sayyidatna Ummu Qais binti Mihshan radliyyAllahu 'anha : "dan beliau -ﷺ- tidak mencucinya." Dan orang-orang yang mewajibkan untuk mencucinya: Mereka mengikuti analogi (qiyas) untuk semua najis, dan begitulah  mereka menginterpretasikan hadits.

[Lihat Kitab Ihkamu Al Ihkam Syarhu 'Umdatu Al Ahkam : Juz 1 Hal 120. Karya Imam Ibnu Daqiq Al 'Ied Asy Syafi'iy].


᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟ I Tersebut dalam Hasyiyyah As Sindiy 'Ala Sunan Ibnu Majah 


فَبِأَيِّ سَبَب اِخْتَلَفَ حُكْمهمَا ‏ ‏لِأَنَّ بَوْل الْغُلَام ‏ ‏إِلَخْ يُرِيد أَنَّ الْغُلَام إِنَّمَا نُشِّئَ غُلَامًا لِغَلَبَةِ مَاء الذَّكَر وَالْجَارِيَة بِالْعَكْسِ وَآدَم قَدْ خُلِقَ مِنْ الْمَاء وَالطِّين فَالْغَالِب عَلَى طَبْع الْغُلَام هُوَ الْمَاء وَالطِّين فَلِكَوْنِهِ كَانَ مِنْ الْمَاء وَالطِّين وَالْأَصْل فِيهِمَا الطَّهَارَة فَلِذَلِكَ يُخَفِّف بَوْل الْغُلَام وَأَمَّا الْجَارِيَة فَالْغَالِب عَلَى طَبْعهَا أَثَر اللَّحْم وَالدَّم لِخَلْقِهَا مِنْهُمَا وَالْأَصْل فِي الدَّم النَّجَاسَة فَبَوْلهَا بِالْغِلَظِ أَنْسَب 

[انظر كتاب حاشية السندي على سنن ابن ماجه: أبو الحسن، محمد بن عبد الهادي نور الدين السندي (المتوفى: 1138هـ)].


Sebab apa hukum keduanya berbeda karena air seni anak laki-laki dst Berarti anak laki-laki itu hanya dibesarkan sebagai anak laki-laki karena dominasi air dzakar (sperma) dan anak perempuan  sebaliknya, dan Nabi Adam diciptakan dari air dan lumpur, maka mayoritas sifat anak laki-laki adalah air dan lumpur, maka anak laki-laki ada dari air dan lumpur, dan asal keduanya adalah suci, maka oleh karena itu air kencing anak laki-laki diencerkan, dan yang umum untuk kencing  anak perempuan sebagian besar merupakan bekas  pengaruh daging dan darah karena penciptaannya dari keduanya (daging dan darah), dan asal usulnya darah adalah najis, maka kencing anak perempuan dengan kekentalannya lebih terkait,

[Lihat Hasyiyyah As Sindiy 'Ala Sunan Ibnu Majah].


᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟ IAsy Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihiy dalam Syarhu Sunan Abi Dawud menjelaskan :


وقد اختلف العلماء في حكمة الفرق بين بول الأنثى وبول الذكر، فقال بعض العلماء؛ لأن حواء خلقت من ضلع آدم، والذكر خلق من طين، وقال بعض العلماء: الحكمة في ذلك أن بول الأنثى يجتمع في مكان واحد، وبول الذكر ينتشر، وقال آخرون: لأن الذكر يكثر حمله من أبويه وأقاربه لمحبته والأنثى يقل حملها، والله أعلم 

[انظر كتاب شرح سنن ابي داود : ج ٢٤ ص ٢٥ /  بول الصبي يصيب الثوب شرح حديث: (إنما يغسل من بول الأنثى وينضح من بول الذكر) / للشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن عبد الرحمن الراجحي].


Para Ulama' berbeda pendapat tentang hikmah perbedaan air seni anak perempuan dan air seni anak laki-laki. 


Beberapa ulama mengatakan; Karena Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, dan laki-laki diciptakan dari tanah, 


dan beberapa ulama mengatakan: Hikmahnya adalah urin anak perempuan terkumpul di satu tempat, dan urin anak  laki-laki menyebar, 


dan yang lain mengatakan: Karena laki-laki lebih banyak digendong oleh orang tua dan kerabatnya karena kecintaan kepadanya, dan anak perempuan lebih sedikit digendong, dan Allah Yang Maha Tahu

[Lihat Kitab Syarhu Sunan Abi Dawud : Juz 24 Hal 25. Karya Syaikh Abdul 'Aziz Ar Rajihiy].


᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟ I Al 'Alamah Abdurrahman bin 'Abdurrahman Al Mubarakfuriy rahimahullahu dalam kitabnya Tuhfatu Al Ahwadzi Syarhu Sunan At Tirmidziy Dan Imam Ibnu Al Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya I'laamu Al Muwaqqi'in : 


التَّفْرِقَةُ وَهُوَ الَّذِي جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ وَهَذَا مِنْ مَحَاسِنِ الشَّرِيعَةِ وَتَمَامِ حِكْمَتِهَا وَمَصْلَحَتِهَا وَالْفَرْقُ بَيْنَ الصَّبِيِّ وَالصَّبِيَّةِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ : 


أَحَدُهَا كَثْرَةُ حَمْلِ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ لِلذَّكَرِ فَتَعُمُّ الْبَلْوَى بِبَوْلِهِ فَيَشُقُّ عَلَيْهِ غَسْلُهُ.


‏ ‏وَالثَّانِي أَنَّ بَوْلَهُ لَا يَنْزِلُ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ بَلْ يَنْزِلُ مُتَفَرِّقًا هَاهُنَا وَهَاهُنَا فَيَشُقُّ غَسْلُ مَا أَصَابَهُ كُلَّهُ بِخِلَافِ بَوْلِ الْأُنْثَى.


‏ ‏الثَّالِثُ أَنَّ بَوْلَ الْأُنْثَى أَخْبَثُ وَأَنْتَنُ مِنْ بَوْلِ الذَّكَرِ وَسَبَبُهُ حَرَارَةُ الذَّكَرِ وَرُطُوبَةُ الْأُنْثَى فَالْحَرَارَةُ تُخَفِّفُ مِنْ نَتْنِ الْبَوْلِ وَتُذِيبُ مِنْهَا مَا يَحْصُلُ مِنْ رُطُوبَةٍ وَهَذِهِ مَعَانٍ مُؤَثِّرَةٍ يَحْسُنُ اِعْتِبَارُهَا فِي الْفَرْقِ اِنْتَهَى كَلَامُهُ.


فَحَاصِلُ الْكَلَامِ أَنَّ أَصَحَّ الْمَذَاهِبِ وَأَقْوَاهَا فِي هَذَا الْبَابِ مَذْهَبُ مَنْ قَالَ بِالِاكْتِفَاءِ بِالنَّضْحِ فِي بَوْلِ الْغُلَامِ وَبِوُجُوبِ الْغَسْلِ فِي بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.

[انظر كتاب تحفة الأحوذي شرح سنن الترمذي : ج ١ ص ٢٠١ /  ١ - أبواب الطهارة /  باب ما جاء في نضح بول الغلام قبل أن يطعم / للعلامة أبو العلا محمد عبد الرحمن بن عبد الرحيم المباركفورى (ت ١٣٥٣ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية - بيروت، بدون السنة. وانظر كتاب " إعلام الموقعين" : ج ٢ ص ٥٩. للامام ابن القيم الجوزيه الحنبلي].


Pembedaan air seni anak laki-laki dan anak perempuan (merupakan salah satu keutamaan hukum syariat dan kesempurnaan akan hikmah dan kemaslahatannya, perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan) adalah dalam tiga aspek:


Salahsatunya : Laki-laki dan wanita sering menggendong anak laki-laki, lalu basahannya menyebar bersama air kencingnya, dan sulit baginya untuk membasuhnya.


Dan yang kedua: bahwa air kencing anak laki6 tidak turun di satu tempat, melainkan turun di sana-sini, sehingga sulit untuk membasuh semuanya, tidak seperti air kencing anak perempuan.


Ketiga: Urine wanita lebih ganas dan busuk dari pada urine pria, dan itu disebabkan oleh panasnya pria dan lembabnya wanita. Panas mengurangi bau urin, dan melarutkan apa yang tidak terjadi dengan kelembapan, dan ini adalah makna berpengaruh yang bagus dibuat untuk   mempertimbangakannya  dalam masalah perbedaan.


Kesimpulannya, Madzhab yang paling benar dan terkuat dalam hal ini adalah madzhab mereka yang mengatakan bahwa CUKUP MEMERCIKKAN AIR KE KENCING ANAK LAKI-LAKI DAN MULUTNYA, dan mencuci air  kencing anak perempuan, Wallahu a'lam.

[Lihat Kitab Tuhfatu Al Ahwadzi Syarhu Sunan At Tirmidziy : Juz 1 Hal 201. Karya Al 'Alamah Abdurrahman Bin 'Abdurrahman Al Mubarakfuriy. Dan Lihat Kitab I'laamu Al Muwaqqi'in : Juz 2 Hal 59. Karya Imam Ibnu Al Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy].


᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟ I Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj Kemudahan mensucikan air seni anak laki-laki bukan berarti air kencingnya tidak najis, melainkan najis menurut kesepakatan : 


وَقَدْ نَقَلَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا إِجْمَاعَ الْعُلَمَاءِ عَلَى نَجَاسَةِ بَوْلِ الصَّبِيِّ وَأَنَّهُ لَمْ يُخَالِفْ فِيهِ إِلَّا دَاوُدُ الظَّاهِرِيُّ

[انظر: " المنهاج شرح صحيح مسلم ابن الحجاج : ج ٣ ص ١٩٥ / كتاب الطهارة / باب حكم بول الطفل الرضيع وكيفية غسله / للامام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت، الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ ه‍ـ].


Sebagian sahabat kami (Syafi'iyyah) menukil atas kenajisan air seni anak laki-laki dan tidak ada perbedaan pendapat didalamnya kecuali pendapat Imam Dawud Adz Dzahiriy.

[Lihat Kitab Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj : Juz 3 Hal 195. Karya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy].


᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟ I Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy Al Mishriy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Fathu Al Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy Dalam menggabungkan dua versi hadits, di salah satu dari dua versi: Kami نضح (memercikkannya), dan yang lain: Dia ورش  (menyemprotkan) : 


وَلَا تَخَالُفَ بَيْنَ الرِّوَايَتَيْنِ - أَيْ بَيْنَ نَضَحَ وَرَشَّ - لِأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ أَنَّ الِابْتِدَاءَ كَانَ بِالرَّشِّ وَهُوَ تَنْقِيطُ الْمَاءِ، وَانْتَهَى إِلَى النَّضْحِ وَهُوَ صَبُّ الْمَاءِ. ا.هـ

 [انظر كتاب فتح الباري شرح صحيح البخاري : ج ١ ص ٣٢٧ /  ٤ - كتاب الوضوء / ٥٩ - باب بول الصبيان / للامام الحافظ أحمد بن علي بن حجر العسقلاني الشافعي  (٧٧٣ - ٨٥٢ هـ) / الناشر: المكتبة السلفية - مصر، الطبعة: «السلفية الأولى»، ١٣٨٠ - ١٣٩٠ هـ].


Tidak ada kontradiksi antara dua riwayat, yaitu antara memercik dan menyemprot, karena yang dimaksud adalah bahwa permulaannya adalah menyemprot, yaitu memercikkan air, dan diakhiri dengan eksudasi (memancarkan), yaitu menuangkan air.

[Lihat Kitab Fathu Al Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy : Juz 1 Hal 327. Karya Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy Al Mishriy Asy Syafi'iy].


᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟ I Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj dalam menjelaskan tatacara memercikkan air kencing anak laki-laki :


وَذَهَبَ إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَالْمُحَقِّقُونَ إِلَى أَنَّ النَّضْحَ أَنْ يُغْمَرَ وَيُكَاثَرَ بِالْمَاءِ مُكَاثَرَةً لَا يَبْلُغُ جَرَيَانَ الْمَاءِ وَتَرَدُّدَهُ وَتَقَاطُرَهُ بِخِلَافِ الْمُكَاثَرَةِ فِي غَيْرِهِ فَإِنَّهُ يُشْتَرَطُ فِيهَا أَنْ يَكُونَ بحيث يجرى بعض الماء ويتقاطر مِنَ الْمَحَلِّ وَإِنْ لَمْ يُشْتَرَطْ عَصْرُهُ وَهَذَا هُوَ الصَّحِيحُ الْمُخْتَارُ وَيَدُلُّ عَلَيْهِ قَوْلُهَا فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ ا.هـ

[انظر كتاب المنهاج شرح صحيح مسلم ابن الحجاج : ج ٣ ص ١٩٥ /  كتاب الطهارة / باب حكم بول الطفل الرضيع وكيفية غسله / للامام  أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت، الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ ه‍ـ].


Imam Al Haramain (Abdul Muluk Al Juwainiy) dan para penyelidik berpendapat pada  fakta bahwa memercikkan air adalah apabila menggenangi dan memperbanyak air dengan cara yang tidak sampai air mengalir, osilasinya (menggoyangkan percikkan air kekanan dan kekirinya), dan menetes neteskannya, berbeda dengan mengakumulasi (memperbanyak, menghimpun) air di tempat lain. karena telah ditetapkan sedemikian rupa sehingga sebagian air mengalir dan menetes dari tempat itu, meskipun tidak diwajibkan untuk memerasnya, dan inilah yang dipilih yang benar, dan dibuktikan dengan perkataan Sayyida Ummu Qais binti Mihshan radliyyAllahu 'anha: Maka beliau Rasulullah ﷺ memercikkannya dan tidak mencucinya.

[Lihat Kitab Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj : Juz 3 Hal 195. Karya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy].



B].*─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫 PENDAPAT ULAMA' MADZHAB


1)• 💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟    Menurut Pengikut Madzhab Imam Imam Asy Syafi'iy (عند الشافعية)


Ulama' Madzhab Syafiiyyah dalam hal ini berbeda pendapat berdasarkan alasan mereka masing-masing


i)• ᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟   HUKUM AIR KENCINGNYA BAYI LAKI2 SEBELUM UMUR 2 TAHUN MASIH  TERHITUNG NAJIS MUKHOFFAFAH (RINGAN) sebelum memakan selain ASI IBUNYA DAN KURMA Yang Dibuat Mencethakinya sewaktu lahir Atau MADU OBAT KERING DLL Yang Untuk Mengobati Dan Selainnya


🌤️❁⊱•━*Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy Al Mishriy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Fathu Al Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy : 


قَوْلُهُ: (لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ) الْمُرَادُ بِالطَّعَامِ مَا عَدَا اللَّبَنَ الَّذِي يَرْتَضِعُهُ وَالتَّمْرَ الَّذِي يُحَنَّكُ بِهِ وَالْعَطَلَ الَّذِي يَلْعَقُهُ لِلْمُدَاوَاةِ وَغَيْرِهَا،  ا.هـ

[انظر كتاب فتح الباري شرح صحيح البخاري : ج ١ ص ٣٢٦ /  ٤ - كتاب الوضوء / ٥٩ - باب بول الصبيان / للامام العسقلاني الشافعي (٧٧٣ - ٨٥٢ هـ) / الناشر: المكتبة السلفية - مصر، الطبعة: «السلفية الأولى»، ١٣٨٠ - ١٣٩٠ هـ].


(Ungkapannya : Belum memakan MAKANAN) Apa yang dimaksud dengan MAKANAN, kecuali susu yang dihisapnya, kurma yang dibuat mencethakkinya (tahnik), dan madu yang dijilatnya untuk obat dan lain-lain.

[Lihat Kitab Fathu Al Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy: Juz 1 Hal 326. Karya Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy Al Mishriy Asy Syafi'iy].


🌤️❁⊱•━*Asy Syaikh DR. Wahbah bin Musthofa Az Zuhailiy menjelaskan dalam kitabnya Al Fiqhu Al Islamiy Wa Adillatuhu : 


بول الصبي الرضيع الذي لم يطعم غير اللبن: قرر الشافعية والحنابلة : أن ما تنجس ببول أو قيء صبي لم يَطْعم (يتناول قبل مضي حولين) غير لبن للتغذي (لا تحنيكه بنحو تمر حين الولادة)، ينضح، أما الطفلة الصبية والخنثى فلا بد من غسل موضع بولهما، بإسالة الماء عليه، عملاً بالأصل في نجاسة الأبوال. 

[انظر كتاب الفقه الإسلامي وأدلته : ج ١ ص ٣١١ / ثانيا ـ النجاسات المختلف فيها / - بول الصبي الرضيع الذي لم يطعم غير اللبن / المؤلف: أ. د. وَهْبَة بن مصطفى الزُّحَيْلِيّ، أستاذ ورئيس قسم الفقه الإسلاميّ وأصوله بجامعة دمشق - كلّيَّة الشَّريعة / الناشر: دار الفكر - سوريَّة - دمشق، الطبعة: الرَّابعة المنقَّحة المعدَّلة بالنِّسبة لما سبقها (وهي الطبعة الثانية عشرة لما تقدمها من طبعات مصورة) - بدون السنة].


Urine bayi laki-laki yang hanya diberi susu: Ulama' Syafi'iyyah dan Hanabillah  memutuskan bahwa apa yang najis oleh AIR KENCING ATAU MUNTAHAN ANAK LAKI-LAKI yang tidak diberi makan (yang mengkonsumsinya  sebelum berjalan 2  tahun) selain susu untuk makanan dalam hal untuk gizi (bukan kurma yang ditahnikkan/dicokolkan saat lahir), CUKUP DENGAN  MEMERCIKKAN AIR,  adapun kencing anak  perempuan dan anak  hermafrodit (waria, bencong), harus dicuci di tempat kencing mereka, dengan mengalirkan air di atasnya, sesuai dengan pengamalan pada prinsip najis urin.

[Lihat Kitab Al Fiqhu Al Islamiy Wa Adillatuhu : Juz 1 Hal 311. Karya Syaikh DR. Wahbah Bin Musthofa Az Zuhailiy].


🌤️❁⊱•━* Tersebut Kitab Mughniy Al Muhtaj Ila Ma'rifati  Ma'ani Alfadzi Al Minhaj : 


وَخَرَجَ بِقَيْدِ التَّغَذِّي تَحْنِيكُهُ بِنَحْوِ تَمْرٍ وَتَنَاوُلُهُ نَحْوَ سَفُوفٍ لِإِصْلَاحٍ فَلَا يَمْنَعَانِ النَّضْحَ (وهو أن يبله بالماء وإن لم ينزل عنه) كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ،

[انظر كتاب مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج : ج ١ ص ٢٤١ /  كتاب الطهارة / باب النجاسة / للامام شمس الدين، محمد بن محمد، الخطيب الشربيني الشافعي [ت ٩٧٧ هـ] / الناشر: دار الكتب العلمية، الطبعة: الأولى، ١٤١٥ هـ - ١٩٩٤ مـ].


Dan terkecuali dengan batasan makanan dalam hal untuk gizi,  mencokolnya (mentahniknya) dengan kurma, dan melolohkannya dengan semacam obat kering untuk kemaslahatan, MAKA KEDUANYA TIDAK MENGHALANGINYA DARI BOLEHNYA HANYA MEMERCIKKAN AIR (yaitu membasahinya dengan air walaupun tidak menetes turun darinya) seperti keterangan dalam kitab Al Majmu'.

[Lihat Kitab Mughniy Al Muhtaj Ila Ma'rifati  Ma'ani Alfadzi Al Minhaj : Juz 1 Hal 241. Karya Imam Khatib Asy Syirbiniy Asy Syafi'iy].


🌤️❁⊱•━*Imam Zakariyya Al Anshariy Asy Syafi'iy menjelaskan dalam Kitab Al Ghuraru Al Bahiyyah Fi Syarhi Al Bahjah Al Wardiyyah : 


بِأَنْ يَرُشَّ عَلَيْهِ مَاءً يَعُمُّهُ وَيَغْلِبُهُ مِنْ غَيْرِ سَيَلَانٍ بِخِلَافِ الْغُلَامَةِ لَا بُدَّ فِي بَوْلِهَا مِنْ الْغَسْلِ عَلَى الْأَصْلِ وَيَحْصُلُ بِالسَّيَلَانِ مَعَ الْغَمْرِ...(الى ان قال) ...


وَقَوْلُهُ: مَا طَعِمَ أَيْ: مَا تَنَاوَلَ غَيْرَ اللَّبَنِ لِلتَّغَذِّي كَمَا ذَكَرَهُ فِي الْمَجْمُوعِ فَلَا يَمْنَعُ الرَّشَّ تَحْنِيكُهُ بِتَمْرٍ وَنَحْوِهِ وَلَا تَنَاوُلُهُ السَّفُوفِ وَنَحْوِهِ لِلْإِصْلَاحِ 


وَظَاهِرٌ أَنَّ ذَلِكَ قَبْلَ تَمَامِ الْحَوْلَيْنِ إذْ الرَّضَاعُ بَعْدَهُمَا كَالطَّعَامِ كَمَا نُقِلَ عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ وَكَلَامُ النَّاظِمِ وَغَيْرِهِ

 ا.هـ

[انظر كتاب الغرر البهية في شرح البهجة الوردية : ج ١ ص ٥٨ - ٥٩ / فصل في بيان النجاسات وإزالتها / فرع ولغ الكلب في ماء كثير لم ينقص بولوغه عن قلتين / للامام زكريا بن محمد بن أحمد بن زكريا الأنصاري، زين الدين أبو يحيى السنيكي الشافعي  (ت ٩٢٦هـ) / الناشر: المطبعة الميمنية - بدون السنة].


Dengan cara menyemprotkan air  kekencingnya meratakannya  memercikkannya  dengan kuat, dari tanpa membuatnya mengalir, berbeda dengan kencing anak perempuan, urinnya harus dicuci sesuai prinsip, dan akan  berhasil dengan mengalirkan bersamaan dengan menggenanginya 

...(sampai ia berkata)...


Dan perkataannya: Belum makan, yaitu: makanan yang  diterima (dimakan) selain susu dalam hal untuk gizi, seperti Imam Nawawiy  menyebutkannya  dalam Kitab Al Majmu', maka tidak menghalangi hanya dengan menyemprotkan kurma yang dicokolkan saat dilahirkan dan sejenisnya, juga tidak karena menelan obat kering dan sejenisnya. untuk kemaslahatan.


Dan yang tampak bahwasannya semua itu sebelum sempurna umur 2  tahun, karena menyusui setelah 2 tahun hukumnya  seperti makanan, seperti yang telah dinukil dari nash Asy Syafi'i dan kata-kata An Nadzim (penyusun bait syair) dan lainnya.

[Lihat Kitab Al Ghuraru Al Bahiyyah Fi Syarhi Al Bahjah Al Wardiyyah : Juz 1 Hal 58 - 59. Karya Imam Zakariyya Al Anshariy Asy Syafi'iy].


🌤️❁⊱•━* Syaikh Ibrahim Ahmad Al Bajuriy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam 

kitab Hasyiyah Al Baijuriy sebagai berikut;


فيصدق حينئذ بالذي لم يؤكل طعاما اصلا، وبالذي تناوله لا على جهة التغذى كتحنيكه بتمر ونحوه، وتناوله السفوف ونحوه للإصلاح. وبقي قيد آخر وهو أن يكون دون الحولين فخرج بالبول غيره كالغائط والدم والقيح وبالصبي غيره من الصبية والخنشى وبالذي لم يؤكل الطعام على جهة التغذى من أكله للتغذى ولو مرة وان عاد إلى اللبن ويقبل الحولين بعدهما ...(إلى أن قال)... 


وَالفَرْقُ بَيْنَهُمَا انّ بَوْلَ الصَّبيِ اَرَقُّ مِنْ بولِ الصّبيةِ والْإِئتلافُ بحملهِ أكْثرُ من الإئتلافِ بحمْلِهَا فخخف فيه دونها وأيضا أصل خلقه من ماء وطين وأصل خلقها من لحم و دم فانّ حواء خلقت من ضلع أدم القصيرى، وأيضا بلوغ الصبي بمائع طاهر وهو المني فقط وبلوغها بذلك وبمائع نجس وهو الحيض وألحق بها الحنثى.

[انظر كتاب حاشية الباجوري على شرح ابن قاسم الغزي عاى متن أبي شجاع : ج ١ ص ٢٣٧ و ٢٣٨ / كتاب أحكام الطهارة / فصل في بيان النجاسات وإزالتها / للامام العلامة الفقيه البارع إبراهيم بن أحمد الباجوري الشافعي (ت ١١٩٨ - ١٢٧٦ ه‍ـ]  / الناشر : دار الحديث القاهرة - بدون السنة].


Maka dibenarkan saat itu pada anak yang belum makan makanan sama sekali, dan pada anak yang memakannya tidak dalam hal gizi, seperti membumbui (mentahnik, mencokol) dia dengan kurma (saat dilahirkan) dan sejenisnya, dan memakan safuf (obat kering yang tidak dihancurkan) dan sejenisnya untuk perbaikan. Dan masih ada pantangan lainnya, yaitu kurang dari 2 tahun, dan hal  selainnya dengan air kencing, seperti tahi, darah, dan nanah, dan selain dengan anak laki-laki yakni anak perempuan dan waria (bencong, banci), dan anak yang belum  makan makanan dalam hal gizi dari memakannya untuk hal gizi walaupun hanya sekali, dan kembali lagi ke susu dan melangkah 2  tahun setelah keduanya ... (sampai dia berkata)...


“Perbedaan di antara keduanya (kencing bayi laki-laki dan perempuan), bahwa kencing bayi laki-laki lebih lembut daripada kencing bayi perempuan dan pada umumnya (orang) mengendong atau mengasuh bayi laki-laki itu lebih banyak disukai daripada menggendong bayi perempuan, oleh karenanya kencing bayi laki-laki DIRINGANKAN HUKUMNYA, tidak bagi bayi perempuan. Asal terciptanya (laki-laki) dari air dan tanah, sedangkan asal tercipatnya (perempuan) dari daging dan darah karena Hawa tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam yang pendek. Selain itu juga, balighnya (laki-laki) dengan cairan yang suci, yakni mani. Sedangkan balighnya (perempuan) dengan cairan yang najis yaitu haid. Dan disamakan seperti halnya perempuan yakni banci.” 

[Lihat Kitab Hasyiyah al Bajuri juz 1 halaman 237 & 238. Karya Syaikh Ibrahim Ahmad Al Bajuriy Asy Syafi'iy].


🌤️❁⊱•━*Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab :


نَجَاسَةِ الْقَيْءِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ سَوَاءٌ فِيهِ قَيْءُ الْآدَمِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ الْحَيَوَانَاتِ صَرَّحَ بِهِ الْبَغَوِيّ وَغَيْرُهُ ، وَسَوَاءٌ خَرَجَ الْقَيْءُ مُتَغَيِّرًا أَوْ غَيْرَ مُتَغَيِّرٍ . 


وَقَالَ صَاحِبُ التَّتِمَّةِ : إنْ خَرَجَ غَيْرَ مُتَغَيِّرٍ فَهُوَ طَاهِرٌ وَهَذَا الَّذِي جَزَمَ بِهِ الْمُتَوَلِّي ، هُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ نَقَلَهُ الْبَرَاذِعِيُّ مِنْهُمْ فِي التَّهْذِيبِ وَالصَّحِيحُ الْأَوَّلُ وَبِهِ قَطَعَ الْجَمَاهِيرُ ، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ . انتهى

[انظر كتاب " المجموع شرح المهذب " : ج ٢ ص ٥٥١ /  كتاب الحيض / باب إزالة النجاسة / للامام  زكريا محيي الدين بن شرف النووي (ت ٦٧٦ هـ) / الناشر: (إدارة الطباعة المنيرية، مطبعة التضامن الأخوي) - القاهرة، عام النشر:١٣٤٤ - ١٣٤٧ هـ].


Disepakati najisnya muntahan, apakah muntahan manusia atau muntahan selainnya dari binatang, seperti telah dijelaskan oleh Imam Al Baghawiy dan selainnya, baik  muntahan yang keluar sudah berubah bentuk atau belum berubah (masih utuh berbentuk minuman atau makanan), dan berkata pemilik Kitab At Tatimmah : Apabila muntahan keluar  tanpa perubahan, maka hukumnya suci, dan ini perkara yang dengannya Imam Al Mutawwaliy menetapkan,  dan inilah pandangan  Imam Malik, seperti Al Baradzi'iy dari madzhab mereka (Malikiy) telah menukilnya dalam Kitab At Tahdzib, DAN YANG SHAHIH ADALAH PENDAPAT PERTAMA dan dengannya Jumhur Ulama' menetapkan. Wallahu a'lam.

[Lihat Kitab Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab : Juz 2 Hal 551. Karya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy].



ii)•᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟   Menurut Sebagian Ulama' Syafi'iyyah Jika Atsar Atau Bekas Dari Mencethakki Memberi Gizi Meminum Obat  Sangat Berpengaruh Maka Kencing Anak Laki Laki Tersebut Menjadi Najis Mutawasithoh Dan Harus Dicuci


🌤️❁⊱•━*Imam 'Utsman bin Abdurrahman Ibnu Shalah Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitab Fatwanya : 


مَسْأَلَة : 


ويجزىء فِي بَوْل الْغُلَام الَّذِي لَا يطعم النَّضْح مَا حد إطعامه وَهل يقدر بسن أم بِصفة مَخْصُوصَة من الصَّبِي أم مُطلق مَا يحصل فِي بَطْنه وَلَو ابْن يَوْم مثلا


أجَاب رَضِي الله عَنهُ :


أما الطَّعَام الْمَذْكُور فِي الصَّبِي فَالْمُرَاد بِهِ على الصَّحِيح مَا سوى اللَّبن من وجور وَغَيره لَا بَأْس بِمَا يحنك بِهِ من التمرة المستحبة فِي ذَلِك وَمهما كَانَ ذَلِك مِقْدَار يظْهر أَثَره فِي التغذية فَهُوَ مَانع من الإكتفاء بالنضح. وَالله أعلم

[انظر كتاب فتاوى ابن الصلاح : ج ١ ص ٢٢٤ /  القسم الرابع / للامام  عثمان بن عبد الرحمن، أبو عمرو، تقي الدين المعروف بابن الصلاح الشافعي (ت ٦٤٣هـ) / الناشر: مكتبة العلوم والحكم , عالم الكتب - بيروت، الطبعة: الأولى، ١٤٠٧ ه‍ـ].


Masalah :


DAN CUKUP pada kencing anak laki-laki yang belum memakan apapun HANYA DENGAN MEMERCIKKI AIR (TANPA MENCUCINYA), seberapa batas memberi  makanan kepadanya, apakah itu diperkirakan berdasarkan usia, atau dengan kapasitas tertentu dari anak laki-laki tersebut, ataukah mutlak apasaja yang berhasil masuk dalam perut sianak walaupun anak tersebut baru berumur sehari misalnya?


Maka beliau (Imam Ibnu Shalah)  radliyyAllahu 'anhu menjawab : 


Adapun makanan yang telah disebutkan yang dimaksud dengannya menurut pendapat yang shahhih (benar) adalah selain susu yang diminum anak dari semacam wajur (obat yang ditaruh di mulut) atau selainnya, dan tidak menjadi persoalan dengan apa yang dia rasakan dari kurma yang ditahnikkan (dibuat mencethakkinya) yang disunnahkan di dalamnya, kalau memang ukuran  tahnik (cethak)  tersebut tampak pengaruhnya dalam hal makanan bergizi, maka tahnik yang mengenyangkan tersebut menjadi penghalang air kencingnya hanya cukup diperciki air (namun wajib dicuci karena level najis air kencingnya naik menjadi mutawasithoh).

[Lihat Kitab Fatawa Ibnu Shalah : Juz 1 Hal 224. Karya Imam 'Utsman Bin Abdurrahman Ibnu Shalah Asy Syafi'iy].



2)• 💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟    Menurut Pengikut Madzhab Imam Abu Hanifah (عند الحنفية)


🌤️❁⊱•━*Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy Al Mishriy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menyebutkan perkataan Imam Ath Thahawiy Al Hanafiy sebagai berikut : 


وَأَثْبَتَ الطَّحَاوِيُّ الْخِلَافَ فَقَالَ: قَالَ قَوْمٌ بِطَهَارَةِ بَوْلِ الصَّبِيِّ قَبْلَ الطَّعَامِ، وَكَذَا جَزَمَ بِهِ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ، وَابْنُ بَطَّالٍ وَمَنْ تَبِعَهُمَا عَنِ الشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِمَا، وَلَمْ يُعْرَفْ ذَلِكَ الشَّافِعِيَّةُ وَلَا الْحَنَابِلَةُ. وَقَالَ النَّوَوِيُّ: هَذِهِ حِكَايَةٌ بَاطِلَةٌ، انْتَهَى. 

[انظر كتاب فتح الباري شرح صحيح البخاري : ج ١ ص ٣٢٧ - ٣٢٨ /  ٤ - كتاب الوضوء / ٦٠ - باب البول قائما وقاعدا / للامام أحمد بن علي بن حجر العسقلاني (٧٧٣ - ٨٥٢ هـ) / الناشر: المكتبة السلفية - مصر، الطبعة: «السلفية الأولى»، ١٣٨٠ - ١٣٩٠ هـ].


Imam Al-Tahawiy menetapkan perbedaan pendapat dan ia mengatakan: Beberapa orang mengatakan bahwa urin anak laki-laki harus disucikan sebelum makan, dan begitu juga Imam Ibn Abd al-Barr (Al Malikiy) dan Ibn Baththal (Al Malikiy) dan orang yang mengikuti mereka berdua baik dari Imam  Syafi'iy dan Ahmad dan selain keduanya, dan pengikut Imam Syafi'i dan Imam Ahmad tidak mengetahuinya. Imam An Nawawiy mengatakan : Cerita ini bathil.

[Lihat Kitab Fathu Al Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy : Juz 1 Hal 327 - 328. Karya Imam Ibnu Hajar Al Asqalaniy Al Mishriy Asy Syafi'iy].


🌤️❁⊱•━*Tersebut dalam kitab Faidlu Al Qadir 'Ala Al Hidayah dan Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah Fatwa dari Syaikh Najmuddin An Nasafiy Al Hanafiy sebagai berikut: 


فَتَاوَى نَجْمِ الدِّينِ النَّسَفِيِّ الحنفي (٤٦١ - ٥٣٧ هـ): 


صَبِيٌّ ارْتَضَعَ ثُمَّ قَاءَ فَأَصَابَ ثِيَابَ الأُْمِّ: إِنْ كَانَ مِلْءَ الْفَمِ فَنَجِسٌ، فَإِذَا زَادَ عَلَى قَدْرِ الدِّرْهَمِ مَنَعَ الصَّلاَةَ فِي هَذَا الثَّوْبِ، 


وَرَوَى الْحَسَنُ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ: أَنَّهُ لاَ يَمْنَعُ مَا لَمْ يَفْحُشْ؛ لأَِنَّهُ لَمْ يَتَغَيَّرْ مِنْ كُل وَجْهٍ وَهُوَ الصَّحِيحُ

[انظرالموسوعة الفقهية الكويتية : ج ٣٤ ص ٨٦ / الأحكام المتعلقة بالقيء / طهارة القيء ونجاسته / صادر عن: وزارة الأوقاف والشئون الإسلامية - الكويت

عدد الأجزاء: ٤٥, الطبعة: (من ١٤٠٤ - ١٤٢٧ هـ) / الأجزاء ٢٤ - ٣٨: الطبعة الأولى، مطابع دار الصفوة - مصر، بدون السنة. وانظر كتاب فيض القدير على الهداية : ج ١ ص ٢٠٤ / كتاب الطهارات / باب الأنجاس وتطهيرها / للامام الإمام كمال الدين محمد بن عبد الواحد السيواسي ثم السكندري، المعروف بابن الهمام الحنفي (المتوفى سنة ٨٦١ هـ) / الناشر: شركة مكتبة ومطبعة مصفى البابي الحلبي وأولاده بمصر (وصَوّرتها دار الفكر، لبنان) - الطبعة: الأولى، ١٣٨٩ هـ = ١٩٧٠ مـ].


Fatwa Imam Najm al-Din al-Nasafi al-Hanafi (w. 461-537 H): 


Seorang anak laki-laki disusui kemudian muntah dan kemudian mengenai pakaian ibunya: JIKA MEMENUHI MULUT, MAKA NAJIS, lalu jika melebihi ukuran uang  dirham, maka dilarang untuk shalat dengan memakai pakaian ini,


Dan Al Hasan telah meriwayatkan dari Imam Abu Hanifah : Itu tidak menghalangi  jika tidak sampai menjadi kotor, karena hal itu tidak berubah dalam segala hal dan itu adalah yang benar.

[Lihat Kitab kitab Faidlu Al Qadir 'Ala Al Hidayah : Juz 1 Hal 204. Karya Imam Kamaluddin Ibnu Al Hammam Al Hanafiy. Dan Kitab Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah : Juz 34 Hal 86. Keluaran Kementerian Urusan Wakaf Dan Urusan Islam Kuwait].


🌤️❁⊱•━* Tersebut dalam kitab Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah keluaran Kementerian Urusan Wakaf Dan Urusan Islam Kuwait : 


طَهَارَةُ الْقَيْءِ وَنَجَاسَتُهُ: 


٣ - اخْتَلَفَتِ الآْرَاءُ فِي طَهَارَةِ الْقَيْءِ وَنَجَاسَتِهِ.فَيَقُول الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ بِنَجَاسَتِهِ وَلِكُلٍّ مِنْهُمْ تَفْصِيلُهُ، وَبِذَلِكَ يَقُول الْمَالِكِيَّةُ فِي الْمُتَغَيِّرِ عَنْ حَال الطَّعَامِ وَلَوْ لَمْ يُشَابِهْ أَحَدَ أَوْصَافِ الْعَذِرَةَ.


قَال الْحَنَفِيَّةُ: إِنَّ نَجَاسَتَهُ مُغَلَّظَةٌ؛ لأَِنَّ كُل مَا يَخْرُجُ مِنْ بَدَنِ الإِْنْسَانِ وَهُوَ مُوجِبٌ لِلتَّطْهِيرِ فَنَجَاسَتُهُ غَلِيظَةٌ وَلاَ خِلاَفَ عِنْدَهُمْ فِي ذَلِكَ،

[انظر كتاب الموسوعة الفقهية الكويتية : ج ٣٤ ص ٨٦ / الأحكام المتعلقة بالقيء / طهارة القيء ونجاسته / صادر عن: وزارة الأوقاف والشئون الإسلامية - الكويت، عدد الأجزاء: ٤٥, الطبعة: (من ١٤٠٤ - ١٤٢٧ هـ) / - الأجزاء ٢٤ - ٣٨: الطبعة الأولى، مطابع دار الصفوة - مصر، بدون السنة].


Kesucian dan kenajisan muntahan (gumohan : jawa): 


3 - Pendapat berbeda tentang kesucian dan kekotoran muntahan  Ulama Hanafiyyah, Syafi'iyyah dan Hanbilah mengatakan bahwa ITU NAJIS, dan masing-masing dari mereka memiliki perincian tentangnya. Demikian juga Ulama'  Malikiyyah  mengatakan dalam hal yang variabel (berubah-ubah) dari kondisi makanan, walaupun tidak ada yang menyerupai salahsatu sifat  kotoran manusia.


Ulama' Hanafiyyah  mengatakan: Najisnya lebih berat, karena segala sesuatu yang keluar dari tubuh manusia ia wajib untuk bersuci, maka najisnya berat, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka tentang hal itu.

[Lihat Kitab Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah : Juz 34 Hal 86. Keluaran Kementerian Urusan Wakaf Dan Urusan Islam Kuwait].


🌤️❁⊱•━*Imam Abdullah Mahmud Al Mushiliy Al Hanafiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Ikhtiyar Lita'lili Al Mukhtar :


(وَكُلُّ مَا يَخْرُجُ مِنْ بَدَنِ الْإِنْسَانِ وَهُوَ مُوجِبٌ لِلتَّطْهِيرِ فَنَجَاسَتُهُ غَلِيظَةٌ) كَالْغَائِطِ وَالْبَوْلِ وَالدَّمِ وَالصَّدِيدِ وَالْقَيْءِ، وَلَا خِلَافَ فِيهِ، وَكَذَلِكَ الْمَنِيُّ

[انظر كتاب الاختيار لتعليل المختار : ج ١ ص ٣٢ /  كتاب الطهارة / باب الأنجاس وتطهيرها / للامام عبد الله بن محمود بن مودود الموصلي الحنفي / الناشر: مطبعة الحلبي - القاهرة (وصورتها دار الكتب العلمية - بيروت، وغيرها)، تاريخ النشر: ١٣٥٦ هـ - ١٩٣٧ مـ].


(Dan segala sesuatu yang keluar dari tubuh manusia itu termasuk yang diwajibkan untuk bersuci, kemudian najisnya termasuk najis mugholadzoh) seperti kotoran, urin, darah, nanah, dan muntahan. Dan tidak ada perselisihan pendapat didalamnya, dan demikian juga air mani (sperma).

[Lihat Kitab Al Ikhtiyar Lita'lili Al Mukhtar : Juz 1 Hal 32. Karya Imam Abdullah Mahmud Al Mushiliy Al Hanafiy].


🌤️❁⊱•━*Imam Hasan Asy Syurunbulaliy Al Hanafiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Muraqi Al Falah Syarhu Nuru Al 'Idloh : 


وما ينقض الوضوء بخروجه من بدن الإنسان" كالدم السائل والمني والمذي والودي والاستحاضة والحيض والنفاس والقيء ملء الفم ونجاستها غليظة بالاتفاق لعدم معارض دليل نجاستها عنده ولعدم مساغ الاجتهاد في طهارتها عندهما 

[انظر كتاب مراقي الفلاح شرح نور الإيضاح : ص ٦٥ /  باب الانجاس والطهارة عنها مدخل / حسن بن عمار بن علي الشرنبلالي المصري الحنفي (ت ١٠٦٩هـ) / الناشر: المكتبة العصرية، الطبعة: الأولى، ١٤٢٥ هـ - ٢٠٠٥ مـ].


Apa yang membatalkan wudhu ketika keluar dari tubuh manusia, seperti cairan darah, mani (seperma), madzi, wadiy, istihaadlah (darah penyakit), haid, nifas, muntahan yang memenuhi mulut, dan najisnya termasuk najis mugholadzoh, menurut kesepakatan ulama, karena tidak ada penentangan terhadap dalil  kenajisaannya menurut dia, dan kurangnya alasan untuk ijtihad tentang kesuciannya menurut mereka.

[Lihat Kitab Muraqi Al Falah Syarhu Nuru Al 'Idloh : Hal 65. Karya Syaikh Hasan Asy Syurunbulaliy Al Hanafiy].



3)• 💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟    Menurut Pengikut Madzhab Imam Malik (عند المالكية)


Sebagian Ulama' Malikiyyah menganggap bahwa kencing anak laki-laki dan muntahannya HUKUMNYA NAJIS namun sebagian yang lain menganggap TIDAK NAJIS


🌤️❁⊱•━*Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan tentang pendapat Malikiyyah mengenai hal itu dalam kitabnya Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj : 


قَالَ الْخَطَّابِيُّ وَغَيْرُهُ : وَلَيْسَ تَجْوِيزُ مَنْ جَوَّزَ النَّضْحَ فِي الصَّبِيِّ مِنْ أَجْلِ أَنَّ بَوْلَهُ لَيْسَ بِنَجِسٍ ، وَلَكِنَّهُ مِنْ أَجْلِ التَّخْفِيفِ فِي إِزَالَتِهِ ، فَهَذَا هُوَ الصَّوَابُ .


وَأَمَّا مَا حَكَاهُ أَبُو الْحَسَنِ بْنُ بَطَّالٍ ثُمَّ الْقَاضِي عِيَاضٌ عَنِ الشَّافِعِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَّهُمْ قَالُوا : بَوْلُ الصَّبِيِّ طَاهِرٌ فَيُنْضَحُ ، فَحِكَايَةٌ بَاطِلَةٌ قَطْعًا  انتهى.

[انظر كتاب المنهاج شرح صحيح مسلم ابن الحجاج : ج ٣ ص ١٩٥ / كتاب الطهارة / باب حكم بول الطفل الرضيع وكيفية غسله / للامام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت، الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ ه‍ـ].


Al-Khattabi dan lain-lain mengatakan bahwa bukan  memperbolehkannya seseorang  memercikkan air kekencing anak laki-laki, bukan karena air kencingnya tidak najis, akan tetapi demi meringankan untuk menghilangkannya, maka ini adalah pendapat yang benar.


Dan adapun apa yang diceritakan oleh Imam Abu Al-Hassan bin Baththal (Al Malikiy)  kemudian Al-Qadi Iyadl (Al Malikiy) dari Imam Asy Syafi’iy dan lain-lain, mereka mengatakan bahwa AIR KENCING ANAK LAKI-LAKI ITU SUCI kemudian memercikkan air, maka cerita ini pasti  bohong.

[Lihat Kitab Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj : Juz 3 Hal 195. Karya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy].


🌤️❁⊱•━*Imam Abul 'Abbas Syihabuddin Ahmad Al Qarafiy Al Malikiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Ad Dzakhirah menjelaskan :


 وَعَفَا مَالِكٌ رَحِمَهُ اللَّهُ مَرَّةً عَنْ يَسِيرِ الْقَيْحِ وَالصَّدِيدِ كَيَسِيرِ الدَّمِ وَأَلْحَقَهُ مَرَّةً بِالْبَوْلِ لِمَزِيدِ اسْتِقْذَارِهِ عَلَى الدَّمِ وَفِي الطَّرَّازِ الْقَيْءُ وَالْقَلْسُ طَاهِرَانِ إِنْ خَرَجَا عَلَى هَيْئَةِ طَعَامٍ 

[انظر كتاب الذخيرة : ج ١ ص ١٨٥ / كتاب الطهارة / الباب الأول في الطهارة / للامام أبو العباس شهاب الدين أحمد بن إدريس بن عبد الرحمن المالكي الشهير بالقرافي (ت ٦٨٤هـ) / الناشر: دار الغرب الإسلامي- بيروت، الطبعة: الأولى، ١٩٩٤ مـ].  


Imam Malik, rahimahullahu mengampuni sedikit nanah dan nanah yang  bercampur sedikit darah, dan menambahkannya sekali ke urin, karena tambah  menjijikkannya pada darah dan dikatakan dalam Kitab Ath Tharaz : 

Muntah (apa yang dibuang perut karena pencernaan yang buruk) dan mukek (keluar makanan atau minuman dari mulut tanpa muntah memenuhi mulut atau tidak) DARI  KEDUANYA DIHUKUMI SUCI APABILA MASIH BERBENTUK MAKANAN. 

[Lihat Kitab Adz dzakhiroh : Juz 1 Hal 185. Karya Imam Abul 'Abbas Syihabuddin Ahmad Al Qarafiy Al Malikiy].


🌤️❁⊱•━*Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan tentang muntahan menurut Madzhab Malikiyyah dalam kitabnya Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab :


نَجَاسَةِ الْقَيْءِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ سَوَاءٌ فِيهِ قَيْءُ الْآدَمِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ الْحَيَوَانَاتِ صَرَّحَ بِهِ الْبَغَوِيّ وَغَيْرُهُ ، وَسَوَاءٌ خَرَجَ الْقَيْءُ مُتَغَيِّرًا أَوْ غَيْرَ مُتَغَيِّرٍ . 


وَقَالَ صَاحِبُ التَّتِمَّةِ : إنْ خَرَجَ غَيْرَ مُتَغَيِّرٍ فَهُوَ طَاهِرٌ وَهَذَا الَّذِي جَزَمَ بِهِ الْمُتَوَلِّي ، هُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ نَقَلَهُ الْبَرَاذِعِيُّ مِنْهُمْ فِي التَّهْذِيبِ وَالصَّحِيحُ الْأَوَّلُ وَبِهِ قَطَعَ الْجَمَاهِيرُ ، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ . انتهى

[انظر كتاب " المجموع شرح المهذب " : ج ٢ ص ٥٥١ /  كتاب الحيض / باب إزالة النجاسة / للامام  زكريا محيي الدين بن شرف النووي (ت ٦٧٦ هـ) / الناشر: (إدارة الطباعة المنيرية، مطبعة التضامن الأخوي) - القاهرة، عام النشر:١٣٤٤ - ١٣٤٧ هـ].


Disepakati najisnya muntahan, apakah muntahan manusia atau muntahan selainnya dari binatang, seperti telah dijelaskan oleh Imam Al Baghawiy dan selainnya, baik  muntahan yang keluar sudah berubah bentuk atau belum berubah (masih utuh berbentuk minuman atau makanan), dan berkata pemilik Kitab At Tatimmah : Apabila muntahan keluar  tanpa perubahan, maka hukumnya suci, dan ini perkara yang dengannya Imam Al Mutawwaliy menetapkan,  DAN INILAH PANDANGAN  IMAM MALIK, seperti Al Baradzi'iy dari madzhab mereka (Malikiy) telah menukilnya dalam Kitab At Tahdzib, DAN YANG SHAHIH ADALAH PENDAPAT PERTAMA dan dengannya Jumhur Ulama' menetapkan. Wallahu a'lam.

[Lihat Kitab Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab : Juz 2 Hal 551. Karya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy].



🌤️❁⊱•━*Imam Al Hathab Ar Ru'ainiy Al Malikiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Mawahibu Al Jalil Fi Syarhi Mukhtashar Khalil :


وَمَا خَرَجَ مِنْ الْقَيْءِ بِمَنْزِلَةِ الطَّعَامِ فَهُوَ طَاهِرٌ وَمَا تَغَيَّرَ عَنْ حَالِ الطَّعَامِ فَنَجِسٌ 

[انظر كتاب مواهب الجليل شرح مختصر خليل : ج ١ ص ٩٤ /  فصل الطاهر أنواع / فائدة حكم الشراب المتخذ من قشر البن / للامام  شمس الدين أبو عبد الله محمد بن محمد بن عبد الرحمن الطرابلسي المغربي، المعروف بالحطاب الرُّعيني المالكي (ت ٩٥٤هـ) / الناشر: دار الفكر، الطبعة: الثالثة، ١٤١٢هـ - ١٩٩٢ مـ].


Dan sesuatu yang keluar dari muntahan yang masih utuh berbentuk makanan MAKA HUKUMNYA SUCI dan yang keluar berubah tidak berbentuk makanan HUKUMNYA NAJIS

[Lihat Kitab Mawahibu Al Jalil Fi Syarhi Mukhtashar Khalil : Juz 1 Hal 94. Karya Imam Al Hathab Ar Ru'ainiy Al Malikiy].


🌤️❁⊱•━*Imam Ahmad Muhammad Ash Shawiy Al Malikiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Bulghatu As Salik Li Aqrabi Al Masalik = Hasyiyyah Ash Shawiy 'Ala Syarhi Ash Shaghir : 


وكذا القيء طاهر ما لم يتغير عن حالة الطعام بحموضة أو غيرها، فإن تغير فنجس.

[انظر كتاب  بلغة السالك لأقرب المسالك إلى مذهب الإمام مالك. = بحاشية الصاوي على الشرح الصغير (الشرح الصغير هو شرح الشيخ الدردير لكتابه المسمى أقرب المسالك لِمَذْهَبِ الْإِمَامِ مَالِكٍ) : ج ١ ص ٢٠ /  باب في بيان الطهارة / للامام أحمد بن محمد الصاوي المالكي

صححه: لجنة برئاسة الشيخ أحمد سعد علي / الناشر: مكتبة مصطفى البابي الحلبي، عام النشر: ١٣٧٢ هـ - ١٩٥٢ مـ].


Demikian juga muntahan ITU SUCI SELAMA TIDAK BERUBAH dari keadaan makanan dengan keasaman atau yang lain, JIKA BERUBAH MAKA MENJADI NAJIS.

[Lihat Kitab Bulghatu As Salik Li Aqrabi Al Masalik = Hasyiyyah Ash Shawiy 'Ala Syarhi Ash Shaghir : Juz 1 Hal 20. Karya Imam Ahmad Muhammad Ash Shawiy Al Malikiy].



🌤️❁⊱•━*Imam Malik bin Anas Al Ashbahiy Al Madaniy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitab Al Mudawwanah : 


وَقَالَ مَالِكٌ فِي الْجَارِيَةِ وَالْغُلَامِ بَوْلُهُمَا سَوَاءٌ إذَا أَصَابَ بَوْلُهُمَا ثَوْبَ رَجُلٍ أَوْ امْرَأَةٍ غَسَلَا ذَلِكَ وَإِنْ لَمْ يَأْكُلَا الطَّعَامَ، قَالَ: وَأَمَّا الْأُمُّ فَأَحَبُّ إلَيَّ أَنْ يَكُونَ لَهَا ثَوْبٌ سِوَى ثَوْبِهَا الَّذِي تُرْضِعُ فِيهِ إذْ كَانَتْ تَقْدِرُ عَلَى ذَلِكَ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَقْدِرُ عَلَى ذَلِكَ فَلْتُصَلِّ فِي ثَوْبِهَا وَلْتُدَارِ الْبَوْلَ عَنْهَا جَهْدَهَا وَلْتَغْسِلْ مَا أَصَابَ مِنْ الْبَوْلِ ثَوْبَهَا جَهْدَهَا.

[انظر كتاب المدونة : ج ١ ص ١٣١ /  كتاب الوضوء / غسل بول الجارية والغلام / للامام مالك بن أنس بن مالك بن عامر الأصبحي المدني (ت ١٧٩هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية، الطبعة: الأولى، ١٤١٥هـ - ١٩٩٤مـ].


Dan Imam Malik berkata : tentang air kencing anak  perempuan dan laki-laki, apakah jika air kencing mereka mengenai pakaian pria  atau wanita, mereka wajib mencucinya walaupun keduanya  belum memakan makanannya, 


Beliau berkata: Untuk seorang ibu, saya lebih suka, dia memiliki pakaian selain pakaiannya yang  untuk menyusui, jika dia mampu melakukan itu, dan jika dia tidak mampu melakukan itu, maka dia boleh shalat  dengan pakaiannya, dan mengeluarkan air kencing darinya sekuat kemampuannya, dan mencuci air seni apa pun yang mengenai gaunnya dengan segenap kemampuannya.

[Lihat Kitab Al Mudawwanah : Juz 1 Hal 131. Karya Imam Malik Bin Anas Al Ashbahiy Al Madaniy].



4)• 💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟    Menurut Pengikut Madzhab Imam Ahmad Bin Hanbal (عند الحنابلة)


KETIKA BAYI LAKI LAKI DENGAN SENDIRINYA MAKAN SUATU MAKANAN bukan karena dicokol kurma karena ditahnik atau obat untuk kesembuhannya MAKA KECINGNYA TETAP HARUS DISIRAM BUKAN SEKEDAR DIPERCIKI DENGAN AIR


🌤️❁⊱•━*Imam Manshur Al Buhutiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Kasyafu Al Qina' 'An Matni Al Iqna' :


وَقَوْلُهَا لَمْ يَأْكُلْ الطَّعَامَ أَيْ: بِشَهْوَةٍ وَاخْتِيَارٍ، لَا لِعَدَمِ أَكْلِهِ بِالْكُلِّيَّةِ لِأَنَّهُ يُسْقَى الْأَدْوِيَةُ وَالسُّكَّرُ وَيُحَنَّكُ حِينَ الْوِلَادَةِ فَإِنْ أَكَلَهُ بِنَفْسِهِ غُسِلَ لِأَنَّ الرُّخْصَةَ إنَّمَا وَرَدَتْ فِيمَنْ لَمْ يَأْكُلْ الطَّعَامَ، فَيَبْقَى مَنْ عَدَاهُ عَلَى الْأَصْلِ (وَكَذَا قَيْؤُهُ) أَيْ: قَيْءِ الْغُلَامِ الَّذِي لَمْ يَأْكُلْ الطَّعَامَ لِشَهْوَةٍ (وَهُوَ أَخَفُّ مِنْ بَوْلِهِ) فَيَكْفِي نَضْحُهُ، بِطَرِيقِ الْأَوْلَى  


وَ (لَا) يُنْضَحُ بَوْلُ (أُنْثَى وَخُنْثَى) وَقَيْؤُهُمَا بَلْ يُغْسَلُ لِقَوْلِ عَلِيٍّ يَرْفَعُهُ

[انظر كتاب كتاب كشاف القناع عن متن الإقناع : ج  ١ ص ١٨٩ /  باب إزالة النجاسة الحكمية / فصل وتطهر أرض متنجسة بمائع / للامام منصور بن يونس بن إدريس البهوتي الحنبلي / الناشر: مكتبة النصر الحديثة بالرياض، لصاحبَيها/ عبدالله ومحمد الصالح الراشد - بدون السنة].


Dan perkataannya (Sayyidatna Ummu Qais binti Mihshan radliyyAllahu 'anha)  bahwa anak laki-laki belum makan makanan, 


Artinya: dengan keinginan dan kemauannya, bukan karena tidak  memakan makananya dilihat dengan keseluruhan, karena dia diberi obat gula dan dicokol kurma di  langit-langit mulutnya (ditahnik, dicethak) pada saat dia lahir, jika ia memakan makanannya dengan sendirinya, maka air kencingnya wajib dicuci, karena rukhshah keringanannya berlaku  bagi orang yang belum memakan makanan, dan selainnya telah tetap atas bedasarkan  prinsip.


Begitu juga muntahannya : Artinya muntahan anak laki-laki yang belum memakan makanan karena berdasarkan keinginannya sendiri   lebih ringan dari air kencingnya sendiri, MAKA CUKUP MEMERCIKKANNYA, dengan cara pertama, 


Dan (air kencing (perempuan dan hermafrodit/waria/banci) DAN MUNTAHAN KEDUANYA) TIDAK CUKUP DIPERCIKKAN, MELAINKAN WAJIB DICUCI, menurut perkataan Ali bahwa dia memarfu'kannya.

[Lihat Kitab Kasyafu Al Qina' 'An Matni Al Iqna' : Juz 1 Hal 189. Karya Imam Manshur Bin Yunus Al Buhutiy Al Hanbaliy].



🌤️❁⊱•━*Imam Ibnu Al Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya 


وَإِنَّمَا يَزُول حكم النَّضْح إِذا أكل الطَّعَام وأراده واشتهاه تغذيا بِهِ. وَالله أعلم. انتهى 

[انظر كتاب تحفة المودود بأحكام المولود : ص ٢١٧ /  الباب الحادي عشر في حكم بول الغلام والجارية قبل أن يأكلا الطعام /  للامام محمد بن أبي بكر بن أيوب بن سعد شمس الدين ابن قيم الجوزية الحنبلي (ت ٧٥١هـ) / الناشر: مكتبة دار البيان - دمشق، الطبعة: الأولى، ١٣٩١ ه‍ـ - ١٩٧١ مـ] 


Bahkan hukum memercikkan air terhenti ketika (anak) makan makanan dan dia menginginkannya dan diberi makan dengannya. Wallahu a'lam.

[Lihat Kitab Tuhfatu  Al-Maududd BI Ahkaami Al-Maulud :  Hal 217. Karya Imam Ibnu Al Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy].



🌤️❁⊱•━*Syaikh  Muhammad Muhktar As Sinqitiy Al Hanbaliy, pernah ditanya tentang muntahan bayi yang mengenai pakaian beliau menjawab secara rinci : 


السؤال : 


هل يُعتبر ما يخرج من طفلي من القيء نجساً، وما الحكم إذا صليت ثم علمت بوجوده في ثوبي؟


الجواب : 


الذي يخرج من الطفل لا يخلو من حالتين: الحالة الأولى: أن يكون متغيراً وقد وصل إلى جوفه، فهذا يعتبر في حكم القيء وهو نجس، كأن تسقيه لبناً فيخرج اللبن وفيه صفرة قد تغيرت مادته وتغيرت رائحته فهذا يحكم بتنجسه.الحالة الثانية: أن يكون الذي خرج لم يتغير وصفه، كأن يكون حديث عهد برضاعة، فلما جاءت تحمله قلس عليها، وهو القلس، فالذي يدفعه الصبي أو الصبية عند الشبع والري من اللبن ونحوه يعتبر طاهراً، 

[انظر كتاب شرح زاد المستقنع : ج ٢٢ ص ١٨ /  الأسئلة / حكم قيء الغلام / 

للشيخ محمد بن محمد المختار الشنقيطي الحنبلي].


Pertanyaan :


Apakah muntahan yang keluar dari anak saya dianggap najis, dan bagaimana hukumnya jika saya shalat kemudian ternyata ada di pakaian saya?


Jawaban :


Perkara yang dimuntahkan oleh bayi tidak lepas dari dua keadaan:


Pertama: muntahan itu sudah berubah dari bentuk asalnya dan dipastikan sudah sampai kedalam lambung perut. Ini dianggap muntah yang najis.

Gambarannya, ia disusui kemudian air susu itu muntah bercampur dengan cairan berwarna kuning. Bentuk dan baunya sudah berubah dari asalnya, ini dihukumi najis. 


Kedua: muntahan yang keluar tidak berubah sifatnya, seperti contoh, menggendong bayi yang baru saja disusui, kemudian ia muntah mengenai orang yang menggendongnya. Muntahan ini disebut gumoh.

Gumoh yang keluar dari bayi disebabkan kekenyangan dan sebagainya dihukumi suci. 

[Lihat Kitab Syarah zadul mustaqni' : Juz 22 Hal 18. Karya Syaikh Muhammad Mukhtar As Sinqitiy Al Hanbaliy].



5)• 💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟    Menurut Pengikut Madzhab Imam Dawud Adz Dzahiriy (عند الظاهرية)


🌤️❁⊱•━*Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan pendapat  Imam Dawud Adz Dzohiriy tentang Air Kencing anak laki-laki tidaklah  najis dalam kitabnya Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj dan Imam Al 'Iraqiy menjelaskannya dalam kitab Tharhu At Tatsrib : 


🌤️❁Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan :


 وقد نقَل بعضُ أصحابِنا إجماعَ العُلَماءِ على نجاسةِ بَولِ الصَّبي، وأنَّه لم يخالفْ فيه إلَّا داودُ الظاهريُّ

[انظر كتاب المنهاج شرح صحيح مسلم ابن الحجاج : ج ٣ ص ١٩٥ / كتاب الطهارة / باب حكم بول الطفل الرضيع وكيفية غسله / للامام زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت، الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ ه‍ـ].


Beberapa sahabat kami (Syafi'iyyah)  telah meriwayatkan bahwa para ulama sepakat tentang najisnya kencing anak laki-laki, dan hanya Dawud Al Dhaheri yang tidak menyetujuinya.

[Lihat Kitab Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj : Juz 3 Hal 195. Karya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy].


🌤️❁Imam Al ‘Iraqiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan :


فِيهِ نَجَاسَةُ بَوْلِ الْآدَمِيِّ، وَهُوَ إجْمَاعٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ إلَّا مَا حُكِيَ عَنْ دَاوُد فِي بَوْلِ الصَّبِيِّ الَّذِي لَمْ يَطْعَمْ أَنَّهُ لَيْسَ بِنَجِسٍ لِلْحَدِيثِ الصَّحِيحِ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ، وَهُوَ مَرْدُودٌ بِالْإِجْمَاعِ.

[انظر كتاب طرح التثريب في شرح التقريب : ج ٢ ص ١٤٠ / حديث الأعرابي الذي بال في المسجد / فائدة نجاسة بول الآدمي / للامام أبو الفضل زين الدين عبد الرحيم بن الحسين بن عبد الرحمن بن أبي بكر بن إبراهيم العراقي الشافعي (ت ٨٠٦هـ) / الناشر: الطبعة المصرية القديمة - بدون السنة].  


Di dalamnya ada perkara najisnya kencing manusia, hal ini merupakan ijma’ para ulama’. KECUALI PENDAPAT DARI DAUD ADH DHAHIRI TENTANG TIDAK NAJISNYA KENCING BAYI YANG BELUM MAKAN, beliau berdalilkan dengan hadits shahih (maka beliau memercikinya dan tidak mencucinya) namun ini pendapat yang tertolak dengan ijma’”. 

[Lihat Kitab Tharhut Tatsrib Fi Syarhi At Taqriib : Juz 2 Hal 140. Karya Imam Abul Fadl Zainuddin Abdurrahim Al 'Iraqiy Asy Syafi'iy].



Adapun hukum Muntahan setiap muslim dan kafir adalah HARAM DAN WAJIB MENJAUHINYA


🌤️❁⊱•━*Imam Ibnu Hazm Adz Dzahiriy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Muhalla Bi Al Atsar :


وَالْقَيْءُ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ أَوْ كَافِرٍ حَرَامٌ يَجِبُ اجْتِنَابُهُ، لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْعَائِدِ فِي قَيْئِهِ» وَإِنَّمَا قَالَ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - ذَلِكَ عَلَى مَنْعِ الْعَوْدَةِ فِي الْهِبَةِ. انتهى 

[انظر كتاب " المحلى بالآثار " :  ج ١ ص ١٨٨ /  كتاب الطهارة مسألة حكم ونيم الذباب والبراغيث والنحل وبول الخفاش / للامام أبو محمد علي بن أحمد بن سعيد بن حزم الأندلسي [الظاهري] / الناشر: دار الفكر - بيروت، بدون السنة].


Dan muntah dari setiap Muslim atau kafir dilarang dan harus dihindari; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: (Orang yang kembali dengan hadiahnya seperti orang yang kembali dengan muntahnya). 


Sesungguhnya -'Alaihissalam-  mengatakan semua itu mencegah agar tidak mengambil kembali hadiah yang sudah diberikan.

[Lihat Kitab Al Muhalla Bi Al Atsar : Juz 1 Hal 188. Karya Imam Ibnu Hazm Al Andalusiy Adz Dzahiriy].



6)• 💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟    Menurut Ahli Hadits (عند أهل الحديث)


🌤️❁⊱•━*Imam Ibnu Daqiq Al 'Ied Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Ihkamu Al Ihkam Syarhu 'Umdatu Al Ahkam : 


وَالْحَدِيثُ ظَاهِرٌ فِي الِاكْتِفَاءِ بِالنَّضْحِ وَعَدَمِ الْغَسْلِ،  

[انظر كتاب إحكام الأحكام شرح عمدة الأحكام : ج ١ ص ١٢٠ / باب في المذي وغيره / حديث أم قيس أنها أتت بابن لها صغير لم يأكل الطعام / للامام ابن دقيق العيد الشافعي / الناشر: مطبعة السنة المحمدية - بدون السنة].


Dan haditsnya jelas bahwa CUKUP MEMERCIKKAN AIR dan tidak perlu mencucinya

[Lihat Kitab Ihkamu Al Ihkam Syarhu 'Umdatu Al Ahkam : Juz 1 Hal 120. Karya Imam Ibnu Daqiq Al 'Ied Asy Syafi'iy].


🌤️❁⊱•━*Imam Asy Syaukaniy Al Yamaniy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Nailu Al Author : 


وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ لَمْ يُعَارِضْ أَحَادِيثَ الْبَابِ شَيْءٌ يُوجِبُ الِاشْتِغَالَ بِهِ. 

[انظر كتاب نيل الأوطار : ج ١ ص ٦٨ / أبواب تطهير النجاسة وذكر ما نص عليه منها / باب الرخصة في باب ما يؤكل لحمه / للامام محمد بن علي بن محمد بن عبد الله الشوكاني اليمني (ت ١٢٥٠هـ) / الناشر: دار الحديث، مصر، الطبعة: الأولى، ١٤١٣هـ - ١٩٩٣مـ]. 


(Setelah menjelaskan hadits memercikkan air kencing anak laki-laki dan mencuci air kencing anak perempuan): 


Walhasil hal itu  mengkontradiksi hadis-hadis bab tersebut dengan apapun yang memerlukan perhatian kepadanya.

[Lihat Kitab Nailu Al Author : Juz 1 Hal 68. Karya Imam Asy Syaukaniy Al Yamaniy].


🌤️❁⊱•━*Imam Asy Syaukaniy Al Yamaniy rahimahullahu ta'ala berpandangan bahwa muntah itu suci secara mutlak, sebagaimana dalam kitabnya As Sail Al Jarar :


الأصلُ في الأشياءِ الطَّهارة؛ فمَن ادَّعى نجاسةَ شَيءٍ من الأشياءِ، فعليه الدَّليلُ، فإنْ جاء بما يصلُحُ للنَّقلِ عَن هذا الأصلِ المَصحوبِ بالبراءةِ الأصليَّة، فذاك، وإلَّا فلا قَبول لقولِه. 

[انظر كتاب السيل الجرار المتدفق على حدائق الأزهار : ص ٦٢ /  كتاب الطهارة /  باب الوضوء / للإمام محمد بن علي بن محمد بن عبد الله الشوكاني اليمني (ت ١٢٥٠هـ) / الناشر: دار ابن حزم، الطبعة: الطبعة الأولى - بدون السنة].


Asal mula segala sesuatu adalah suci,  barang siapa yang menyatakan kenajisan suatu benda, maka dia harus mempunyai dalil, 


Jika dia menemukan apa yang cocok untuk ditransfer dari aslinya disertai dengan kepolosan aslinya, maka itu saja, jika tidak demikian, maka ucapannya tidak diterima.

[Lihat Kitab As Sail Al Jarar : Hal 62. Karya Imam Asy Syaukaniy Al Yamaniy].


🌤️❁⊱•━*Imam Ash Shon'aniy Al Yamaniy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Subulu As Salam Syarhu Bulughu Al Maram :


وَأَمَّا: هَلْ بَوْلُ الصَّبِيِّ طَاهِرٌ أَوْ نَجِسٌ؟ فَالْأَكْثَرُ عَلَى أَنَّهُ نَجِسٌ، وَإِنَّمَا خَفَّفَ الشَّارِعُ تَطْهِيرَهُ.

[انظر كتاب سبل السلام شرح بلوغ المرام : ج ١ ص ٥٣ /  باب إزالة النجاسة وبيانها / حكم دم الحيض يصيب الثوب / للامام محمد بن إسماعيل الأمير اليمني الصنعاني (١١٨٢ هـ) / الناشر: دار الحديث - القاهرة، مصر، الطبعة: الخامسة، ١٤١٨ هـ - ١٩٩٧ مـ].


Dan apakah kencing anak laki-laki itu suci atau najis? Sebagian besar berpendapat najis, tetapi Asy Syari' (Rasulullah ﷺ) meringankan ketika mensucikannya.

[Lihat Kitab Subulu As Salam Syarhu Bulughu Al Maram : Juz 1 Hal 53. Karya Imam Ash Shon'aniy Al Yamaniy].


🌤️❁⊱•━*Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy Al Mishriy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Fathu Al Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy : 


(تَنْبِيهٌ): قَالَ الْخَطَّابِيُّ: لَيْسَ تَجْوِيزُ مَنْ جَوَّزَ النَّضْحَ مِنْ أَجْلِ أَنَّ بَوْلَ الصَّبِيِّ غَيْرُ نَجِسٍ، وَلَكِنَّهُ لِتَخْفِيفِ نَجَاسَتِهِ، انْتَهَى.

[انظر كتاب فتح الباري شرح صحيح البخاري : ج ١ ص ٣٢٧ /  ٤ - كتاب الوضوء /  ٥٩ - باب بول الصبيان / للإمام  أحمد بن علي بن حجر العسقلاني الشافعي (٧٧٣ - ٨٥٢ هـ) / الناشر: المكتبة السلفية - مصر، الطبعة: «السلفية الأولى»، ١٣٨٠ - ١٣٩٠ هـ].  


(Peringatan) : Imam Al Khothobiy berkata : Bukan bolehnya seseorang hanya cukup memercikkan air kekencing anak kecil itu karena kencing anak laki-laki itu tidak najis, akan tetapi tujuannya hanya untuk meringankan ketika mensucikan  kenajisannya. 

[Lihat Kitab Fathu Al Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy : Juz 1 Hal 327. Karya Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy Al Mishriy Asy Syafi'iy].


7)• 💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟   MENURUT ULAMA KONTEMPORER


🌤️❁⊱•━*Berkata Syaikh Muhammad bin Ibrahim hafidzohullah dalam Majmu' Fatawanya : 


(لم يأكل الطعام): أي غذاؤه باللبن سواء لبن آدمية أو بهيمة، وليس امتصاصه ما يوضع في فمه وابتلاعه أكلاً، وكذلك إذا كان يبغي الطعام لكن منعه فلا يؤثر فليس نجس. 


وكذلك إذا أكل من دون شهوة، فالذي يطلق عليه أنه يأكل الطعام هو الذي يريد الطعام ويتناوله أو يشرئب أو يصيح أو يشير إليه، والشوربة التي يجعلونها غذاء هي طعام كسائر الأطعمة. والله أعلم. انتهى من مجموع فتاواه


Dalam arti ungkapannya (dia tidak makan makanan): yaitu makanannya dengan susu, baik itu susu manusia atau hewan, dan itu bukan penyerapannya dari apa yang dimasukkan di mulutnya dan ditelannya sebagai makanan, demikian pula jika dia memaksakan memberi makanan tetapi anak  mencegahnya, maka hal itu tidak mempengaruhinya, dan tidak najis. 


Begitu pula jika dia makan tanpa nafsu, maka yang disebut atasnya dengan  makan makanan (disebut makan beneran), adalah orang yang menginginkan makanan itu dan memakannya atau meminumnya atau berteriak dan berisyarat  menunjuk makanannya, dan sup yang mereka buat sebagai makanannya adalah masuk kreteria makanan seperti semua makanan lainnya. Wallahu a'lam.


🌤️❁⊱•━*Dar Al 'Ifta` Al Mishriyyah menjelaskan dalam menanggapi sebuah pertanyaan terkait air kencing dan muntahan anak kecil:


السؤال :


ما حكم قيء الصبي الرضيع وبوله، وإذا لامست الأم بيدها عورة رضيعها عند تغسيله، فهل يفسد وضوؤها؟


الجواب :


القيء والبول نجسان وإن كان من طفل رضيع، لكن يكفي في بول الصبي الذي لم يأكل غير اللبن ولم يبلغ الحولين أن يُنضح بالماء، يعني يُرشُّ على موضعه، وإن لم يسل بحيث يغلب الماء البول في ذلك الموضع، لحديث رواه الشيخان عن أم قيس أنها جاءت بابن لها صغير لم يأكل الطعام، فأجلسه رسول الله ﷺ في حجره، فبال عليه؛ فدعا بماء فنضحه ولم يغسله.


وأما القيء فلا بد من غسله.

وإذا لمست الأم بباطن كفها عورة الرضيع عند تنظيفه انتقض وضوؤها؛ لأن من لمس قبل أو دبر نفسه أو غيره بباطن الكف انتقض وضوؤه، والمراد بباطن الكف ما يختفي عند إطباق باطن الكف على باطن الكف الأخرى، فلو لمس بظهر الكف أو حرفه لم ينتقض.

ولهذا ننصح الأم بأن تؤخر التنظيف عن أداء الصلاة إن أمكن، أو تستعمل عند التنظيف قفازين من المطاط، كالذي يستعمله الأطباء.


Pertanyaan :


Bagaimana hukum muntahan dan air kencing anak laki-laki yang masih menyusu?


Jawaban :


Muntahan (gumoh : Jawa) dan kencing adalah najis meskipun dari anak yang menyusu, tetapi cukup bagi kencing anak laki-laki yang belum makan selain susu dan belum mencapai usia 2 tahun untuk memercikkannya dengan air, yaitu menyemprot tempat itu, meskipun tidak mengalir sehingga air membanjiri air seni di tempat itu, berdasarkan riwayat  hadits yang diriwayatkan oleh dua syaikh (Bukhariy dan Muslim) dari Sayyidatna Ummu Qais radliyyAllahu 'anha, bahwa beliau  datang dengan membawa putranya  yang belum makan makanan, maka  Rasulullah ﷺ pun  mendudukkannya diatas pangkuannya, dan dia buang air kecil di atasnya, maka beliau meminta air dan memercikkannya, tetapi beliau tidak mencucinya.


Adapun MUNTAHAN, HARUS DICUCI BERSIH.

Dan jika telapak tangan seorang ibu menyentuh aurat bayi ketika membersihkannya, maka wudhunya rusak tidak sah, karena siapa yang menyentuh qubul (penis) dan dubur (lubang dubur)  dirinya sendiri atau milik orang lain dengan bagian dalam (bathin) telapak tangannya, maka wudhunya batal, dan yang dimaksud dengan bagian dalam (bathin) telapak tangan adalah yang hilang (tidak tampak) jika bagian dalam telapak tangan disatukan ke bagian dalam telapak tangan yang lain. .

Oleh karena itu kami menyarankan bagi seorang ibu untuk menunda membersihkannya sampai sholat selesai, jika memungkinkan, atau menggunakan sarung tangan karet saat membersihkan, seperti yang digunakan oleh dokter.


Selesai dinukil Selasa Kliwon malam Rabu legi


Dikradenan selatan oo3 oo1 Keadaan Srumbung Magelang Jateng 56483


الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات


٦ صفــــــــــر ١٤٤٥ ه‍ـ

٢٣ اغسطس ٢٠٢٣ مـ

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BAGAIMANAPUN BENTUKNYA VAGINA RASANYA TUNGGAL (1) BAHASA ALAM AKHIRAT (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA KHUSUS (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DSB) (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAHARU (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) INOVASI BID'AH OLEH ULAMA' YANG DITUDUH MEMBID'AH BID'AHKAN (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KAJIAN TINGKEPAN NGAPATI MITONI KEHAMILAN (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TABKHIR EMBAKAR DUPA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA HAJAT TERCAPAI SEMBELIHLAH SYAHWAT DAN MENDEKATLAH KEPADA ALLAH (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KUFUR AKIBAT MENCELA NASAB KETURUNAN (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMBELI KITAB ULAMA' MENARIK RIZQI DAN KEKAYAAN (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SEMBELIHAN (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAHALLUL CUKUR GUNDUL ATAU POTONG RAMBUT SELESAI HAJI DAN UMROH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TIDAK PERLU TEST DNA SEBAGAI BUKTI DZURRIYYAH NABI -ﷺ- (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top