Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA'. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Agustus 2020

*💾✍• DΣFIПIƧI ƧYΛΉID DЦПIΛ ΛKΉIЯΛƬ, ƧYΛΉID DЦПIΛ ƬΉӨK (BЦKΛП DIΛKΉIЯΛƬ), ƧYΛΉID ΛKΉIЯΛƬ ƬΉӨK (BЦKΛП DIDЦПIΛ), ƬIПGKΛƬΛППYΛ, MΛᄃΛMПYΛ DΛП ᄃΛЯΛ PΣЯΛЩΛƬΛП JΣПΛZΛΉ MΣЯΣKΛ*



(kajian orang mati yang masuk kategori syahid baik karena berperang dijalan Allah maupun tidak dalam nuansa kemerdekaan RI yang ke -75  ditahun pandemi 2020 m)


*A]• 💾📚 HAKIKAT ORANG MATI SYAHID ITU MASIH HIDUP DAN DIBERI RIZQI DISURGA*

🌴✍ Orang yang mati  Syahid karena menegakkan agama Allah dimata Allah mereka masih tetap hidup dan mendapatkan rizqi disurga  walaupun jasad mereka sudah meninggal. Seperti Allah Ta'ala telah berfirman :

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (١٦٩)

Artinya :

Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki,
{QS. Ali Imran : 003 / 169}.

*🌴✍• Imam Ibnu Katsir Asy Syafi'iy rahimahullAhu ta'ala menjelaskan didalam kitab tafsirnya  mengenai keberadaan ruh orang mukmin dan para syuhada' dan tetap diberikan rizqi kepada mereka disana :*

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ فُضَيْل الْأَنْصَارِيُّ، عَنْ مَحْمُوْدِ  بْنِ لَبِيدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💞–:

*_"الشُّهَدَاءُ عَلَى بَارِقِ نَهَرٍ بِبَابِ الْجَنَّةِ، فِي قُبَّةٍ خَضْرَاءَ، يَخْرُجُ عَلَيْهِمْ رِزْقُهُمْ مِنْ الْجَنَّةِ بُكْرَةً وَعَشِيًّا"_* ... (الى ان قال) ...

وَقَدْ رُوِّينَا فِي مُسْنَدِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ حَدِيثًا فِيهِ الْبِشَارَةُ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ بِأَنَّ رُوحَهُ تَكُونُ فِي الْجَنَّةِ تَسْرَحُ أَيْضًا فِيهَا، وَتَأْكُلُ مِنْ ثِمَارِهَا، وَتَرَى مَا فِيهَا مِنَ النَّضْرَةِ وَالسُّرُورِ،

وَتُشَاهِدُ مَا أَعَدَّهُ اللَّهُ لَهَا مِنَ الْكَرَامَةِ، وَهُوَ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَزِيزٍ عَظِيمٍ، اجْتَمَعَ فِيهِ ثَلَاثَةٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ أَصْحَابِ الْمَذَاهِبِ الْمُتَّبَعَةِ؛ فَإِنَّ الْإِمَامَ أَحْمَدَ، رَحِمَهُ اللَّهُ، رَوَاهُ عَنِ [الْإِمَامِ]  مُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيسَ الشَّافِعِيِّ، رَحِمَهُ اللَّهُ، عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ الْأَصْبَحِيِّ، رَحِمَهُ اللَّهُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَبِيهِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💞–:

*_"نَسَمةُ الْمؤْمِنِ طَائِرٌ يَعْلق فِي شَجِر الجَنَّةِ، حَتَّى يُرْجِعَهُ اللهُ إلَى جَسَدِهِ يَوْمَ يَبْعَثُهُ"_*

قَوْلُهُ: "يَعْلُقُ" أَيْ: يَأْكُلُ .

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ: "إنَّ روحَ الْمؤْمنِ تَكُونُ عَلَى شَكْلِ طَائِرٍ فِي الْجَنَّةِ".

وَأَمَّا أَرْوَاحُ الشُّهَدَاءِ، فَكَمَا تَقَدَّمَ فِي حَوَاصِلِ طَيْرٍ خُضْرٍ، فَهِيَ كَالْكَوَاكِبِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى أَرْوَاحِ عُمُومِ الْمُؤْمِنِينَ فَإِنَّهَا تَطِيرُ بِأَنْفُسِهَا، فَنَسْأَلُ اللَّهَ الْكَرِيمَ الْمَنَّانَ أَنْ يُثَبِّتَنَا عَلَى الْإِيمَانِ.
{انظر كتاب تفسير ابن كثير : ج ٢ ص ١٦٤ / ال عمران : ١٧٤ / للإمام أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي البصري ثم الدمشقي الشافعي  (المتوفى: ٧٧٤ هـ) / الناشر: دار طيبة للنشر والتوزيع الطبعة: الثانية ١٤٢٠ هـ = ١٩٩٩ مـ}.

Berkata Imam Ahmad : Dinyatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Fudail Al-Ansari, dari Mahmud ibnu Labid, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah–ﷺ💞–. pernah bersabda:

*_"Orang-orang yang mati syahid berada di tepi sungai yang ada di pintu surga, padanya terdapat kubah hijau, rezeki mereka dikeluarkan dari dalam surga setiap pagi dan petang."_*

Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad sendiri. Tetapi telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Juraij, dari Abu Kuraib yang mengatakan bahwa   telah   menceritakan   kepada   kami   Abdur Rahman ibnu Sulaiman dan Ubaidah, dari Muhammad ibnu Ishaq dengan lafaz yang sama. Sanadnya dinilai jayyid.

... (sampai pada perkataan mushannif/pengarang) ...

Telah diriwayatkan kepada kami di dalam kitab Musnad Imam Ahmad sebuah hadis yang isinya mengatakan berita gembira bagi setiap mukmin, bahwa rohnya berada di dalam surga dan terbang dengan bebas di dalam surga, memakan buah-buahan, dan melihat-lihat keindahan yang ada di dalamnya yang hijau segar. juga kegembiraan yang meliputi suasananya, serta menyaksikan kemuliaan yang telah disediakan oleh Allah Swt. buat dirinya.

Sanad hadis ini sahih, jarang ada, lagi mengandung hal yang besar. Di dalam sanadnya terdapat tiga orang Imam dari empat orang Imam yang menjadi panutan. Karena sesungguhnya Imam Ahmad meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Idris Asy-Syafi'iy  rahimahullAhu​, dari Malik ibnu Anas Al-Asbahiy rahimahullAhu​, dari Az-Zuhri Abdur Rahman ibnu Ka’b ibnu Malik, dari ayahnya r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullahِ –ﷺ💞–  pernah bersabda:

«نَسَمَةُ الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ يَعْلُقُ فِي شَجِرِ الْجَنَّةِ حَتَّى يُرْجِعَهُ اللَّهُ إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ يَبْعَثُهُ»

Jiwa orang mukmin merupakan burung yang bergantungan di pepohonan surga sebelum Allah mengembalikannya ke jasadnya pada hari Allah membangkitkannya.

Sabda Nabi ِ –ﷺ💞– yang mengatakan, "Yu'alliqu," artinya bergantungan.

Makna yang dimaksud ialah memakan buah-buahan surga.

Dari hadis ini disimpulkan bahwa roh orang mukmin itu dalam bentuk burung di dalam surga.
Adapun mengenai arwah para syuhada, seperti yang disebut di atas, berada di dalam perut burung hijau. Perihalnya sama dengan bintang-bintang bila dibandingkan dengan arwah orang mukmin secara umum, karena sesungguhnya arwah orang mukmin terbang dengan sendirinya. Kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi anugerah, semoga Dia mematikan kami dalam keadaan beriman.
{Lihat Kitab Tafsir Ibnu Katsir : juz 2 hal 164 / Ali Imran : 174 / Karya Imam Ibnu Katsir Asy Syafi'iy / Dar Thayyibah , Cet. Kedua , Th. 1420 H = 1999 M}.


🌴✍ Adapun kriteria syahid juga  diberikan oleh Rasulullah ِ –ﷺ💞– kepada beberapa orang baik bagi orang yang gugur ketika berperang fi Sabilillah ataupun bukan.  Seperti dijelaskan dalam riwayat hadits :

*✍• Hadits Pertama*

وحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ ، عَنْ سُهَيْلٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ –ﷺ💞– :

*_«مَا تَعُدُّونَ الشَّهِيدَ فِيكُمْ ؟»_*

قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ ، قَالَ :

*_«إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ ، »_*

قَالُوا : فَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ :

*_«مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ ، وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ ، وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ ، »_*

قَالَ ابْنُ مِقْسَمٍ : أَشْهَدُ عَلَى أَبِيكَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّهُ قَالَ : وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ ،

وحَدَّثَنِي عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ بَيَانٍ الْوَاسِطِيُّ ، حَدَّثَنَا خَالِدٌ ، عَنْ سُهَيْلٍ ، بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ ، غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيثِهِ ، قَالَ سُهَيْلٌ : قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مِقْسَمٍ ، أَشْهَدُ عَلَى أَخِيكَ أَنَّهُ زَادَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَمَنْ غَرِقَ فَهُوَ شَهِيدٌ ، وحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ ، حَدَّثَنَا بَهْزٌ ، حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ ، حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ ، بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَفِي حَدِيثِهِ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مِقْسَمٍ ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ ، وَزَادَ فِيهِ : وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ
{رواه مسلم / كِتَابُ الْإِمَارَة /ِ بَابُ بَيَانِ الشُّهَدَاءِ / حديث رقم ٣٦٥١}

Telah menceritakan kepada kami : Zuhair bin Harb.  Telah menceritakan kepada kami : Jarir. Dari Suhail. Dari Ayahnya. Dari Abu Hurairah, beliau  berkata :  "Rasulullah –ﷺ💞– bersabda:

*_"Apa yang dimaksud orang yang mati syahid di antara kalian?"_*

para sahabat menjawab, "Wahai Rasulullah, orang yang meninggal karena berjuang di jalan Allah itulah orang yang mati syahid." Beliau bersabda:

*_"Kalau begitu, sedikit sekali jumlah ummatku yang mati syahid."_*

Para sahabat berkata, "Lantas siapakah mereka ya Rasulullah?" beliau bersabda:

*_"Barangsiapa terbunuh di jalan Allah maka dialah syahid, dan siapa yang mati di jalan Allah juga syahid, siapa yang mati karena penyakit kolera (wabah)  juga syahid, siapa yang mati karena sakit perut juga syahid."_*

[Ibnu Miqsam] berkata, "Saya bersaksi atas [bapakmu] mengenai hadits ini, bahwa beliau juga berkata :

*"Orang yang meninggal karena tenggelam juga syahid."*

Dan telah menceritakan kepadaku [Abdul Hamid bin Bayan Al Wasithi] telah menceritakan kepada kami [Khalid] dari [Suhail] dengan sanad seperti ini, namun dalam haditsnya disebutkan; [Suhail] berkata; [Ubaidullah bin Miqsam] berkata, "Saya bersaksi atas saudara laki-lakimu bahwa dalam hadits ini dia menambahkan :

*"Barangsiapa meninggal karena tenggelam, maka ia syahid."*

Dan telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin Hatim] telah menceritakan kepada kami [Bahz] telah menceritakan kepada kami [Wuhaib] telah menceritakan kepada kami [Suhail] dengan sanad ini, dan dalam haditsnya dia menyebutkan; telah mengabarkan kepadaku ['Ubaidullah bin Miqsam] dari [Abu Shalih] dan dia juga menambahkan :

*"Dan orang yang meninggal karena tenggelam juga syahid."*
{HR. Muslim / Kitabu Al ìmarati / Babu Bayani Asy Syuhada'i / No. 3651}.


*✍• Hadits Kedua*

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah –ﷺ💞– mengatakan sabda serupa dengan hadits riwayat Muslim.

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ سُمَيٍّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –ﷺ💞– قَالَ :

*_«بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ وَقَالَ الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»_*
{رواه مسلم / كِتَابُ الْإِمَارَةِ / بَابُ بَيَانِ الشُّهَدَاءِ / حديث رقم : ٣٦٤٩}

Telah menceritakan kepada kami :  Yahya bin Yahya, dia berkata; saya bacakan di hadapan Malik ; Dari Sumaiy. Dari Abu Shalih. Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah–ﷺ💞– bersabda:

*_"Ketika laki-laki sedang berjalan dan menemukan ranting berduri di tengah jalan, kemudian dia menyingkirkan ranting tersebut hingga Allah pun bersyukur kepadanya lalu mengampuni dosa-dosanya."_*

Lalu beliau bersabda:

*_"Syuhada' itu ada lima macam; meninggal karena penyakit kolera, orang yang meninggal karena sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang meninggal karena reruntuhan, dan orang yang syahid karena berjuang di jalan Allah 'azza wajalla."_*
{HR. Muslim /  Kitabu Al ìmarati / Babu Bayani Asy Syuhada'i / No. 3649}.


*B]• 💾📚 DEFINISI SYAHID TINGKATAN TINGKATANNYA DAN MACAM MACAMNYA*

Syahid menurut bahasa, merupakan kata tunggal ( شَهيد ) sedangkan kata jamaknya adalah Syuhada, (شُهَداء), yang artinya disaksikan.

Dalam terminologi (syara’)

وَالشَّهِيدُ فِي اصْطِلاَحِ الْفُقَهَاءِ: مَنْ مَاتَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فِي قِتَال الْكُفَّارِ وَبِسَبَبِهِ. وَيُلْحَقُ بِهِ فِي أُمُورِ الآْخِرَةِ أَنْوَاعٌ يَأْتِي بَيَانُهَا.
{انظر كتاب ” الموسوعة الفقهية الكويتية ” : ج ٢٦ ٢١٤ و ٢٧٢ / حرف الشين / شهيد / صادر عن: وزارة الأوقاف والشئون الإسلامية - الكويت عدد الأجزاء: ٤٥ جزءا الطبعة: (من ١٤٠٤ هـ - ١٤٢٧ هـ) }

Orang yang meninggal dari kalangan umat Islam dalam memerangi orang kafir dan dengan sebab (memerangi orang kafir). Diikutkan juga masalah akhirat dengan beberapa macam, nanti akan dijelaskan penjelasannya.
{Lihat Kitab  ‘Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah : juz 26 hal 214 dan 272 / Harfu Asy Syini / Syahid / Dikeluarkan Dari Kementerian Urusan Wakaf Dan Islam Negara Kuwait , Mulai Th. 1404 H - 1427 H}.


*📚🌴• Jadi pada dasarnya mati syahid itu dianugerahkan kepada para mujahid yang berjihad di jalan Allah, melawan orang kafir. Hal itu merupakan syahid dengan tingkat tertinggi. Sebagaimana telah diriwayatkan dalam hadits  Rasulullah –ﷺ💞– :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ذَكْوَانَ، عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ –ﷺ💞–  فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ؟ قَالَ:

*_«مَنْ أُهَرِيقَ دَمُهُ وَعُقِرَ جَوَادُهُ»_*
{رواه ابن ماجة / ٢٤ - كتاب الجهاد / (١٥) باب القتال في سبيل الله سبحانه تعالى / رقم الحديث : ٢٧٩٤}.

Telah menceritakan kepada kami : Abu Bakar bin Abu Syaibah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami : Ya'la bin Ubaid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami : Hajjaj bin Dinar. Dari Muhammad bin Dzakwan. Dari Syahr bin Hausyab. Dari 'Amru bin Abasah], beliau  berkata; "Aku mendatangi Nabiَّ –ﷺ💞–, aku katakan, "Wahai Rasulullah! Jihad apakah yang paling utama?"

Rasulullah َّ –ﷺ💞–  menjawab:

*_“Yang terluka kuda tunggangannya dan menumpahkan darahnya.”_*
{HR. Ibnu Majah / 24 - Kitabu Al Jihadi / 15 - Babu Al Qitali Fi Sabilillahi Subhanahu Ta'ala / No. 2794}.

Dalam riwayat hadits yang lain :

حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ بَحِيرِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ، عَنْ نُعَيْمِ بْنِ هَمَّارٍ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ –ﷺ💞– : أَيُّ الشُّهَدَاءِ أَفْضَلُ؟ قَالَ:

*_«الَّذِينَ إِنْ يُلْقَوْا فِي الصَّفِّ لَا يَلْفِتُونَ وُجُوهَهُمْ حَتَّى يُقْتَلُوا، أُولَئِكَ يَتَلَبَّطُونَ فِي الْغُرَفِ الْعُلَى مِنَ الْجَنَّةِ، وَيَضْحَكُ إِلَيْهِمْ رَبُّكَ، وَإِذَا ضَحِكَ رَبُّكَ  إِلَى عَبْدٍ فِي الدُّنْيَا فَلَا حِسَابَ عَلَيْهِ »_*
{رواه أحمد / تتمة مسند الأنصار / حديث نعيم بن همار الغطفاني / رقم الحديث : ٢٢٤٧٦.  وصححه الألباني في “السلسلة الصحيحة ” ٢٥٥٨}.

Telah menceritakan kepada kami : Al Hakam bin Nafi'.  Telah menceritakan kepada kami : Isma'il bin 'Ayyasy. Dari Bahir bin Sa'ad. Dari Khalid bin Ma'dan. Dari Katsir bin Murrah. Dari Nu'aim bin Hammar bahwa seseorang bertanya kepada Nabi–ﷺ💞–; 'Siapa syuhada yang paling utama?

Rasulullah –ﷺ💞– bersabda;

*_"Orang-orang yang bila masuk ke barisan perang mereka memfokuskan pandangan mereka hingga terbunuh, mereka itulah orang-orang yang pergi menuju kamar-kamar disurga yang tinggi, Rabb mereka tertawa kepada mereka. Dan bila Rabbmu tertawa kepada seorang hamba didunia, maka ia tidak dihisab."_*
{HR. Ahmad / Titimmatu Musnad Al Anshori / Hadits Nu'aim Bin Hammar Al Ghothofaniy / No. 22476. *DISHAHIHKAN* oleh Albani Tokoh Wahhabiy}.


*🌴✍• Namun demikian, dalam hadits Rasulullah –ﷺ💞–  lainnya,  Allah juga menganugerahkan pahala syahid kepada orang-orang yang wafat dengan sebab selain berperang di jalan Allah. Seperti dijelaskan dalam riwayat hadits :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ سُمَيٍّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –ﷺ💞– قَالَ :

*_«الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ »_*
{رواه البخاري واللفظ له / كتاب الجهاد والسير / باب: الشهادة سبع سوى القتل / حديث رقم : ٢٧٠١. ومسلم}.

Telah bercerita kepada kami : 'Abdullah bin Yusuf. Telah mengabarkan kepada kami : Malik. Dari Sumayya. Dari Abu Shalih. Dari Abu Hurairah radliyyAllahu 'anhu bahwa Rasulullah–ﷺ💞– bersabda:

*_"Syuhada' (orang yang mati syahid) ada lima; yaitu orang yang terkena wabah penyakit Tha'un, orang yang terkena penyakit perut, orang yang tenggelam, orang yang tertimpa reruntuhan bangunan dan yang mati syahid di jalan Allah"._*
{HR. Bukhari Lafadz Miliknya / Kitabu Al Jihadi Wa As Siyari / Babu Asy Syahaadati Sab'un Siwa Al Qatli. Dan  Muslim}.


*C]• 💾📚TINGKATAN SYAHID DAN MACAMNYA*

Terkait sabda Rasulullah –ﷺ💞–  tersebut, Al-Imam An-Nawawi Asy Syafi'iy rahimahullAhu ta'ala membagi tingkatan syahid sebagai penjelasan beliau berikut ini :


*📡🎙• يقول الإمام النووي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " المنهاج على شرح صحيح مسلم ":*

وَاعْلَمْ أَنَّ الشَّهِيدَ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ أَحَدُهَا الْمَقْتُولُ فِي حرب الكفار بِسَبَبٍ مِنْ أَسْبَابِ الْقِتَالِ فَهَذَا لَهُ حُكْمُ الشُّهَدَاءِ فِي ثَوَابِ الْآخِرَةِ وَفِي أَحْكَامِ الدُّنْيَا وَهُوَ أَنَّهُ لَا يُغَسَّلُ وَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ ,

وَالثَّانِي شَهِيدٌ فِي الثَّوَابِ دُونَ أَحْكَامِ الدُّنْيَا وَهُوَ الْمَبْطُونُ وَالْمَطْعُونُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ وَغَيْرُهُمْ مِمَّنْ جَاءَتِ الْأَحَادِيثُ الصَّحِيحَةُ بِتَسْمِيَتِهِ شَهِيدًا فَهَذَا يُغَسَّلُ وَيُصَلَّى عَلَيْهِ وَلَهُ فِي الْآخِرَةِ ثَوَابُ الشُّهَدَاءِ وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَكُونَ مِثْلَ ثَوَابِ الْأَوَّلِ ,

وَالثَّالِثُ مَنْ غَلَّ فى الغنيمة وشبهه ممن وَرَدَتِ الْآثَارُ بِنَفْيِ تَسْمِيَتِهِ شَهِيدًا إِذَا قُتِلَ فِي حَرْبِ الْكُفَّارِ فَهَذَا لَهُ حُكْمُ الشُّهَدَاءِ فِي الدُّنْيَا فَلَا يُغَسَّلُ وَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ وَلَيْسَ لَهُ ثَوَابُهُمُ الْكَامِلُ فِي الْآخِرَةِ .انتهى
{انظر كتاب " المنهاج على شرح صحيح مسلم " : ج ٢ ص ١٦٤ /  ١ - كتاب الإيمان / ٦٢ - باب الدليل على أن من قصد أخذ مال غيره بغير حق، كان القاصد مهدر الدم في حقه، وإن قتل كان في النار، وأن من قتل دون ماله فهو شهيد /  رقم الحديث : ١٤٠. للإمام النووي الشافعي (المتوفى: ٦٧٦ هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ هـ}.

*🎥✍• Imam Nawawi Asy Syafi'iy  rahimahullAhu ta'ala  mengatakan :*

“Ketahuilah bahwa mati syahid itu ada tiga macam :

*(salah satunya)*  adalah meninggal dalam peperangan dengan salah satu sebab peperangan. Ini mempunyai hukum syahid dalam pahala akhirat dan hukum di dunia. Dimana ia tidak dimandikan dan tidak disholati.

*(Kedua),* syahid dalam pahala tanpa hukum di dunia. Yaitu orang yang sakit perut, orang terbunuh, orang tertimpa bangunan, orang yang terbunuh karena mempertahankan hartanya dan selain dari mereka sebagaimana yang telah ada dalam hadits shoheh dengan penamaan syahid. Dia dimandikan dan dishalati, dan dia mendapatkan pahala syahid di akhirat. Hal itu tidak harus sama dengan pahala (macam) yang pertama.

*(Ketiga),* orang yang menyembunyikan gonimah, dan semisalnya yang ada dalam hadits dengan meniadakan penamaan syahid. Ketika tebunuh dalam perang melawan orang kafir. Ia mendapatkan hukum syahid di dunia, maka tidak dimandikan dan tidak disholati. Akan tetapi dia tidak mendapatkan pahala sempurna di akhirat. Selesai
{Lihat Kitab Al Minhaaj 'Alaamah Syarh Muslim :  juz 2 hal 164 / 1 - Kitabu Al Iman / 62 - Babu Ad Dalili 'Ala Anna Man Qashada Akhadza Mala  Ghairihi ... / No. 140. Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy /  Dar Ìhya' At Turats Al 'Arabiy , Cet. Kedua , Th. 1392 H}.


*💾🌴• Imam An-Nawawi Asy Syafi'iy dalam kesempatan lain juga menjelaskan atas hadits riwayat Muslim diatas sebagai berikut :*

قَالَ الْعُلَمَاءُ : الْمُرَادُ بِشَهَادَةِ هَؤُلَاءِ كُلِّهِمْ غَيْرِ الْمَقْتُولِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَنَّهُمْ يَكُونُ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ ثَوَابُ الشُّهَدَاءِ وَأَمَّا فِي الدُّنْيَا فَيُغَسَّلُونَ وَيُصَلَّى عَلَيْهِمْ وَقَدْ سَبَقَ فِي كِتَابِ الْإِيمَانِ بَيَانُ هَذَا وَأَنَّ الشُّهَدَاءَ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ :

شَهِيدٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَهُوَ الْمَقْتُولُ فِي حَرْبِ الْكُفَّارِ وَشَهِيدٌ فِي الْآخِرَةِ دُونَ أَحْكَامِ الدُّنْيَا وَهُمْ هَؤُلَاءِ الْمَذْكُورُونَ هُنَا

وَشَهِيدٌ فِي الدُّنْيَا دُونَ الْآخِرَةِ وَهُوَ مَنْ غَلَّ فِي الْغَنِيمَةِ أَوْ قُتِلَ مُدْبِرًا
{انظر كتاب المنهاج شرح صحيح مسلم : ج ١٣ ص ٦٣ / كتاب الإمارة / باب بيان الشهداء / للإمام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي (المتوفى: ٦٧٦ هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ هـ}.

“Para Ulama mengatakan, mereka yang dianggap mati syahid adalah mereka yang gugur bukan di medan perang. Mereka di akhirat kelak menerima pahala sebagaimana pahala para syuhada yang gugur di medan perang. Sedangkan di dunia mereka tetap dimandikan dan dishalatkan sebagaimana penjelasan telah lalu pada bab Iman.

Orang mati syahid terdiri atas tiga jenis.

(Pertama), syahid di dunia dan di akhirat, yaitu mereka yang gugur di medan perang.

(Kedua), syahid di akhirat, tidak di dunia, yaitu mereka yang disebut dalam hadits ini.

(Ketiga), syahid di dunia, tidak di akhirat, yaitu mereka yang gugur tetapi berbuat curang terhadap ghanimah atau gugur melarikan diri dari medan perang,”
{Lihat Kitab Syarah Shahih Muslim : juz 13 hal 64 / Kitabu Al Ìmarati / Babu Bayani Asy Syuhada'i / Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy / Dar Ìhya' At Turats Al 'Arabiy , Cet. Kedua , Th. 1392 H}.


*💾🌴• Imam An-Nawawiy​ Asy Syafi'iy rahimahullAhu ta'ala mengutip pandangan ulama bahwa mereka semua itu wafat dengan penderitaan dan kepedihan menahan sakit yang begitu hebat tak terperi sehingga mendapat derajat syahadah/mati syahid. Beliau mengatakan :

قَالَ الْعُلَمَاءُ وَإِنَّمَا كَانَتْ هَذِهِ الْمَوْتَاتُ شَهَادَةً بِتَفَضُّلِ اللَّهِ تَعَالَى بِسَبَبِ شِدَّتِهَا وَكَثْرَةِ أَلَمِهَا
{انظر كتاب المنهاج شرح صحيح مسلم : ج ١٣ ص ٦٣ / كتاب الإمارة / باب بيان الشهداء / للإمام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي (المتوفى: ٦٧٦ هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ هـ}.

"Ulama mengatakan :  semua jenis kematian itu dianggap mati syahid berkat kemurahan Allah SWT karena kekerasan dan kepedihan kelimanya,”
{Lihat Kitab Syarah Shahih Muslim : juz 13 hal 64 / Kitabu Al Ìmarati / Babu Bayani Asy Syuhada'i / Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy / Dar Ìhya' At Turats Al 'Arabiy , Cet. Kedua , Th. 1392 H}.


*💾✍• قال الحافظ ابن حجر العسقلاني الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " فتح الباري شرح صحيح البخاري " :*

قُلْتُ وَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ الْمَذْكُورِينَ لَيْسُوا فِي الْمَرْتَبَةِ سَوَاءً وَيدل عَلَيْهِ مَا روى أَحْمد وبن حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ والدَّارِمِيُّ وَأَحْمَدُ وَالطَّحَاوِيُّ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حبشِي وبن مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ عَمْرِو بْنِ عَنْبَسَةَ أَنَّ النَّبِيَّ –ﷺ💞– سُئِلَ أَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ ؟

قَالَ مَنْ عُقِرَ جَوَادُهُ وَأُهْرِيقَ دَمُهُ وَرَوَى الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ فِي كِتَابِ الْمَعْرِفَةِ لَهُ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ مِنْ حَدِيثِ بن أَبِي طَالِبٍ قَالَ :

كُلُّ مَوْتَةٍ يَمُوتُ بِهَا الْمُسْلِمُ فَهُوَ شَهِيدٌ غَيْرَ أَنَّ الشَّهَادَةَ تَتَفَاضَلُ

وَسَيَأْتِي شَرْحُ كَثِيرٍ مِنْ هَذِهِ الْأَمْرَاضِ الْمَذْكُورَةِ فِي كِتَابِ الطِّبِّ وَكَذَا الْكَلَامُ عَلَى حَدِيثِ أَنَسٍ فِي الطَّاعُونِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

وَيَتَحَصَّلُ مِمَّا ذُكِرَ فِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ أَنَّ الشُّهَدَاءَ قِسْمَانِ :

شَهِيدُ الدُّنْيَا وَشَهِيدُ الْآخِرَةِ وَهُوَ مَنْ يُقْتَلُ فِي حَرْبِ الْكُفَّارِ مُقْبِلًا غَيْرَ مُدْبِرٍ مُخْلِصًا

وَشَهِيدُ الْآخِرَةِ وَهُوَ مَنْ ذُكِرَ بِمَعْنَى أَنَّهُمْ يُعْطَوْنَ مِنْ جِنْسِ أَجْرِ الشُّهَدَاءِ وَلَا تَجْرِي عَلَيْهِمْ أَحْكَامُهُمْ فِي الدُّنْيَا

وَفِي حَدِيثِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ عِنْدَ النَّسَائِيِّ وَأَحْمَدَ وَلِأَحْمَدَ مِنْ حَدِيثِ عُتْبَةَ بْنِ عَبْدٍ نَحْوَهُ مَرْفُوعا يخْتَصم الشُّهَدَاء والمتوفون على الْفرش فِي الَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنَ الطَّاعُونِ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى جِرَاحِهِمْ فَإِنْ أَشْبَهَتْ جِرَاحَ الْمَقْتُولِينَ فَإِنَّهُمْ مَعَهُمْ وَمِنْهُمْ فَإِذَا جِرَاحُهُمْ قَدْ أَشْبَهَتْ جِرَاحَهُمْ وَإِذَا تَقَرَّرَ ذَلِكَ فَيَكُونُ إِطْلَاقُ الشُّهَدَاءِ عَلَى غَيْرِ الْمَقْتُولِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَجَازًا فَيَحْتَجُّ بِهِ مَنْ يُجِيزُ اسْتِعْمَالَ اللَّفْظِ فِي حَقِيقَتِهِ وَمَجَازِهِ وَالْمَانِعُ يُجِيبُ بِأَنَّهُ مِنْ عُمُومِ الْمَجَازِ فَقَدْ يُطْلَقُ الشَّهِيدُ عَلَى مَنْ قُتِلَ فِي حَرْبِ الْكُفَّارِ لَكِنْ لَا يَكُونُ لَهُ ذَلِكَ فِي حُكْمِ الْآخِرَةِ لِعَارِضٍ يَمْنَعُهُ كَالِانْهِزَامِ وَفَسَادِ النِّيَّةِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ. اهـ
{انظر كتاب "فتح الباري شرح صحيح البخاري " : ج ٦ ص ٤٤ / كتاب الجهاد والسير  / باب: الشهادة سبع سوى القتل / رقم الحديث : ٢٧٠١}.

*📡✍• Al-Hafidz Ibnu Hajar Al 'Asqalaniy Asy Syafi'iy  rahimahullahu ta'ala mengatakan :*

"Yang Nampak bahwa orang-orang yang disebutkan –para syuhada’ lima macam dan lainnya – tidak sama dalam kedudukannya. Yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban di Shohehnya dari hadits Jabir, Darimi, Ahmad, Tohawi dari hadits Abdullah bin Jahsy, Ibnu Majah dari hadits Amr bin Utbah bahwa Nabi ﷺ💚 ditanya tentang jihad yang paling mulia? Beliau menjawab :

مَنْ عُقِرَ جَوَادُهُ وَأُهْرِيقَ دَمُهُ

*_“Yang terluka kuda tunggangannya dan menumpahkan darahnya.”_*

Diriwayatkan oleh Hasan bin Ali Al-Halwani dalam ‘Kitabul Ma’rifah’ dengan sanad hasan dari hadits Ibnu Abi Tholib berkata : *_“Setiap kematian, dimana  orang muslim itu mati adalah syahid. Dimana (derajat) syahadah itu berbeda-beda.”_* Selesai
{Lihat Kitab ‘Fathul Bari Syarhu Shahihul Bukhariy : juz  6 hal 44 / Kitabu Al Jihadi Wa As Siyari / Babu Asy Syahaadati Sab'un Siwa Al Qatlu / No. 2701. Karya Imam Ibnu Hajar Al 'Asqalaniy Asy Syafi'iy}.


*💾🌴• Dari berbagai hadits yang menyebutkan tentang mati syahid, Al-Hafidz Al-Ainiy Al Hånåfiy rahimahullAhu ta'ala membagi syahid menjadi tiga tingkatan. Beliau mengatakan dalam lanjutan penkelsannya :

وَفِي (التَّوْضِيح) : الشُّهَدَاء ثَلَاثَة أَقسَام: شَهِيد فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة، وَهُوَ الْمَقْتُول فِي حَرْب الْكفَّار بِسَبَب من الْأَسْبَاب، وشهيد فِي الْآخِرَة دون أَحْكَام الدُّنْيَا، وهم من ذكرُوا آنِفا. وشهيد فِي الدُّنْيَا دون الْآخِرَة، وَهُوَ من غل فِي الْغَنِيمَة وَمن قتل مُدبرا أَو مَا فِي مَعْنَاهُ.
{انظر كتاب عمدة القاري شرح صحيح البخاري : ج ١٤ ص ١٢٨ / كتاب الوصايا / باب الشهادة سبع سوى القتل / للإمام  أبو محمد محمود بن أحمد بن موسى بن أحمد بن حسين الغيتابى الحنفى بدر الدين العينى (المتوفى: ٨٥٥ هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت - بدون السنة}

*🌴✍• Imam Mula 'Aliy Al Qariy Al Hånåfiy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " 'Umdatu Al Qari' Syarhu Shahih Al Bukhariy " berkata :*

Dalam kitab ‘At-Taudhih’ disebutkan: Orang yang mati syahid ada 3:

Syahid dunia dan akhirat, merekalah orang yang terbunuh karena sebab apapun di medan perang melawan orang kafir.

Syahid akhirat, namun hukum di dunia tidak syahid. Mereka adalah orang yang disebut syahid, namun mati di selain medan perang.

Syahid dunia, dan bukan akhirat. Dialah orang yang mati di medan jihad, sementara dia ghulul (mencuri ghanimah), atau terbunuh ketika lari dari medan perang, atau sebab lainnya.
{Lihat Kitab 'Umdatul Qari' Syarhu Shahih Al  Bukhari : juz  14 hal 128 / Kitabu Al Washaya / Babu Asy Syahaadati Sab'un Siwa Al Qatli / Karya Imam Mula​ 'Aliy Al Qariy Al Hånåfiy / Dar Ìhya' At Turats Al 'Arabiy - Beirut - Tnp. Th}.


*D]• 💾📚PAHALA SYAHID HANYA DIDAPATKAN KETIKA DALAM KEBAIKAN BUKAN DALAM KEADAAN BERMAKSIAT*

Pahala Syahid hanya bisa didapatkan ketika memenuhi beberapa syarat diantaranya karena sedang dalam keadaan atau melakukan hal yang mulia yang sesuai dengan syariat, seperti mau  bersabar dan hanya mengharap pahala dan ridlo Allah semata, sakit atau terkena pandemi (wabah c-19 : waktu sekarang), sehingga apabila meninggal ia terhitung orang yang berada dalam kebaikan, tidak menyelisihi atau mengganggu hak hak sesama, dsb, dan bukan karena sebab sedang melakukan kemaksiatan seperti ketika masuk rumah orang  dengan maksud akan mencuri tapi kemudian mati karena tertimpa tembok yang roboh ditempat tersebut,  sekalipun ia mati sebab tertimpa reruntuhan, dan  mati karena melahirkan anak hasil zina, sekalipun ia mati sebab melahirkan, dsb.

*💾🌴• قال تاج الدين السبكي الشافعي رحمه الله تعالى عندما سئل عن الشَّهَادَةِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا حَقِيقَتُهَا في فتاويه :*

الْجَوَابُ : أَنَّهَا حَالَةٌ شَرِيفَةٌ تَحْصُلُ لِلْعَبْدِ عِنْدَ الْمَوْتِ لَهَا سَبَبٌ وَشَرْطٌ وَنَتِيجَةٌ عُرِفَتْ مِنْ نَصِّ الشَّارِعِ عَلَى مَحَالِّهَا وَآثَارِهَا وَاسْتُنْبِطَ مِنْ ذَلِكَ عِلَلَهَا الْمُوجِبَةِ لِضَبْطِهَا وَأَسْبَابَهَا وَشُرُوطَهَا،
{انظر كتاب فتاوى السبكي : ج ٢ ص ٣٣٩ / كتاب الجهاد / للإمام أبو الحسن تاج  الدين علي بن عبد الكافي السبكي الشافعي (المتوفى: ٧٥٦ هـ) الناشر: دار المعارف - بدون السنة}.

*💾✍• Berkata Imam Tajjuddin As Subukiy Asy Syafi'iy menjawab pertanyaan mengenai syahid fi Sabilillah dan hakikatnya didalam kitab fatawanya :*

Jawabannya : hal tersebut (syahadah)  adalah predikat mulia yang bisa didapatkan oleh seorang hamba ketika meninggal, namun wajib adanya sebab, syarat, dan konskwensinya, yang diketahui dari nash  Rasulillah terhadap tempat - tempat dan atsar - atsarnya, dan dari semua itu bisa menemukan alasan - alasan yang diwajibkan untuk menjaganya, bisa menemukan  sebab - sebabnya , dan syarat - syaratnya.
{Lihat Kitab Fatawa As Subukiy : juz 2 hal 339 / Kitabu Al Jihadi / Karya Imam Tajjuuddin As Subukiy Asy Syafi'iy / Dar Al Ma'rifah - Tnp. Tahun}.


*🌴✍• Keterangan lain, disampaikan Imam Al-Qurthubiy Al Malikiy rahimahullAhu ta'ala  sebagaimana yang dinukil oleh Imam As-Suyuthiy Asy Syafi'iy rahimahullAhu ta'ala :*

قَالَ الْقُرْطُبِيّ : وَهَذَا وَالَّذِي قبله إِذا لم يغدرا بنفسيهما وَلم يهملا التَّحَرُّز فَإِن فرطا فِي التَّحَرُّز حَتَّى أصابهما ذَلِك فهما عاصيان.
{انظر كتاب الديباج على صحيح مسلم بن الحجاج : ج ٤ ص ٥٠٨ / رقم : ١٩١٤ / للإمام عبد الرحمن بن أبي بكر، جلال الدين السيوطي الشافعي (المتوفى: ٩١١ هـ) / الناشر: دار ابن عفان للنشر والتوزيع - المملكة العربية السعودية - الخبر الطبعة: الأولى ، ١٤١٦ هـ = ١٩٩٦ مـ}.

Al-Qurthubi mengatakan:

Orang yang mati karena tenggelam atau karena tertindih, mendapatkan pahala syahid, jika tidak membahayakan dirinya, atau segera menghindar. Jika dia tidak segera menghindar, sehingga terkena benturan, maka dia mati maksiat.
{Lihat Kitab Ad-Dibaj ’Ala Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj : juz 4 hal 508 / No. 1914 / Karya Imam Jalaluddin As Suyuthiy Asy Syafi'iy / Dar Ibnu 'Afan - Al Mamlakah Al 'Arabiyyah As Su'udiyyah - Al Khabar, Cet. Pertama, Th. 1416 H = 1996 M}.


*💾🌴• سئل شيخ الإسلام ابن تيمية الحنبلي رحمه الله تعالى عن رجل ركب البحر للتجارة فغرق فهل مات شهيدًا؟*

أَجَابَ: نَعَمْ، مَاتَ شَهِيدًا، إذَا لَمْ يَكُنْ عَاصِيًا بِرُكُوبِهِ، فَإِنَّهُ قَدْ صَحَّ عَنْ النَّبِيِّ –ﷺ💞– أَنَّهُ قَالَ:

*_«الْغَرِيقُ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَالْحَرِيقُ شَهِيدٌ، وَالْمَيِّتُ بِالطَّاعُونِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ فِي نِفَاسِهَا شَهِيدَةٌ، وَصَاحِبُ الْهَدْمِ شَهِيدٌ»_* .

وَجَاءَ ذِكْرُ غَيْرِ هَؤُلَاءِ.

وَرُكُوبُ الْبَحْرِ لِلتِّجَارَةِ جَائِزٌ إذَا غَلَبَ عَلَى الظَّنِّ السَّلَامَةُ. وَأَمَّا بِدُونِ ذَلِكَ فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَرْكَبَهُ لِلتِّجَارَةِ، فَإِنْ فَعَلَ فَقَدْ أَعَانَ عَلَى قَتْلِ نَفْسِهِ، وَمِثْلُ هَذَا لَا يُقَالُ: إنَّهُ شَهِيدٌ، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ.
{انظر كتاب مجموع الفتاوى الكبرى : ج ٣ ص ٢٢ / كتاب الجنائز / ركب البحر للتجارة فغرق / للإمام تقي الدين أبو العباس أحمد بن عبد الحليم بن عبد السلام بن عبد الله بن أبي القاسم بن محمد ابن تيمية الحراني الحنبلي الدمشقي (المتوفى: ٧٢٨ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية الطبعة: الأولى، ١٤٠٨ هـ = ١٩٨٧ مـ}.

*🌴✍• Syaikhul Islam Imam Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy rahimahullAhu ta'ala ditanya mengenai seseorang yang berlayar dengan tujuan berdagang kemudian ia mati tenggelam, apakah dia termasuk mati syahid?*

Beliau menjawab : *BENAR, DIA MATI SYAHID*, ketika dia tidak bermaksiat ketika menumpanginya, karena hal tersebut benar bersumber dari Nabi –ﷺ💞– bahwasannya beliau pernah bersabda :

*_"orang yang mati tenggelam termasuk syahid; orang yang mati karena sakit perut termasuk syahid; orang yang mati terbakar termasuk syahid; orang yang mati karena wabah termasuk syahid; wanita yang mati karena melahirkan termasuk syahid; juga orang yang mati karena tertimpa reruntuhan termasuk syahid."_*

Ada juga hadits yang menyebutkan selain dari itu.

Asalnya pergi berdagang dengan kapal itu boleh selama yakin bisa selamat. Namun kalau tidak yakin bisa selamat, maka tidak boleh berdagang dengan kapal laut. Jika nekat dilakukan, maka sama saja bunuh diri dan tidak disebut syahid. Wallahu a’lam.
{Lihat Kitab Majmu' Al Fatawa Al Kubro : juz 3 hal 22 / Kitabu Al Jana'izi / Rukubu Al Bahri Littijaarati Faghariqa / Karya Imam Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah, Cet. Pertama, Th. 1408 H = 1987 M}.


*🌴✍• وقال في موضع آخر:*

وَمَنْ أَرَادَ سُلُوكَ طَرِيقٍ يَسْتَوِي فِيهَا احْتِمَالُ السَّلَامَةِ وَالْهَلَاكِ وَجَبَ عَلَيْهِ الْكَفُّ عَنْ سُلُوكِهَا فَإِنْ لَمْ يَكْفِ فَيَكُونُ أَعَانَ عَلَى نَفْسِهِ فَلَا يَكُونُ شَهِيدًا.
{انظر كتاب مجموع الفتاوى الكبرى : ج ٥ ص ٣٨١ / كتاب الاختيارات العلمية / كتاب الحج/ للإمام تقي الدين أبو العباس أحمد بن عبد الحليم بن عبد السلام بن عبد الله بن أبي القاسم بن محمد ابن تيمية الحراني الحنبلي الدمشقي (المتوفى: ٧٢٨ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية الطبعة: الأولى، ١٤٠٨ هـ = ١٩٨٧ مـ}.

*💾✍• Dalam kesempatan lain Imam Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy rahimahullAhu ta'ala berkata :*

Orang yang hendak menempuh perjalanan, sementara ada peluang yang sama antara selamat atau kecelakaan, maka wajib baginya untuk menahan diri dan tidak melanjutkan perjalanan. Jika tidak berhenti, berarti sama dengan mencelakakan dirinya sendiri. Sehingga tidak termasuk mati syahid.
{Lihat Kitab Majmu' Al Fatawa Al Kubro : juz 5 hal 381 / Kitabu Al Ìkhtiyarati Al Ìlmiyyah / Kitabu Al Hajji / Karya Imam Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah, Cet. Pertama, Th. 1408 H = 1987 M}.


*💾✍• Imam Al-Qasthalāniy råhimahullAhu ta'ala dalam Kitåbnyå Irsyād As-Sāri Li Syarh Shahīh al-Bukhāriy  menjelaskan terkait hadits ini :*

وَالصّابِرُ فِي الطَّاعُوٍن الَّذِي لاَ يَخْرُجُ مِنَ الْبَلَدِ الَّذِي يَقَعُ فِيْهِ قَاصِدًا بِإِقَامَتِهِ ثَوابَ الله، رَاجيًا صِدْقَ مَوْعُوْدِهِ، عَارِفًا أَنَّهُ إِنْ وَقَعَ لَهُ فَهُوَ بِتَقْدِيْرِ اللهِ تَعَالَى، وَإِنْ صُرفَ عَنْهُ فَبِتَقْدِيْرِهِ تَعَالَى، غَيْرَ مُتَضَجِّرٍ بِهِ لَوْ وَقَعَ، مُعْتَمِدًا عَلَى رَبِّهِ فِي الْحَالَتَيْنِ، لحَدِيْثِ الْبُخَارِي وَالنَّسَائِي، عَنْ عَائِشَةَ مَرْفُوْعًا:

فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ في الطَّاعُون فَيَمْكُثُ في بلَدِهِ صَابِراً مُحْتَسِباً يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ"
{انظر كتاب إرشاد السّاري شرح صحيح البخاري : ج ٢ ص ٤٦٥ / ٢٣ - كتاب الجنائز / ٨٧ - باب ما جاء في عذاب القبر / للإمام أحمد بن محمد بن أبى بكر بن عبد الملك القسطلاني القتيبي المصري، أبو العباس، شهاب الدين (المتوفى: ٩٢٣ هـ) / الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية، مصر الطبعة: السابعة، ١٣٢٤ هـ}.

Dan orang yang bersabar dari wabah, yang mana ia tidak keluar dari negerinya/wilayahnya yang terkena wabah, yang demikian dilaksanakan dengan maksud agar mendapatkan pahala dari Allah, mengharap kebenaran janjinya, seraya mengetahui bahwa apabila ia terkena wabah maka itu sudah takdir yang ditetapkan Allah, dan jika ia dihindarkan dari wabah maka sudah takdir Allah pula, tanpa menampakkan kejemuan seandainya terjadi, dan bersandar pada Allah pada dua keadaan (terkena wabah atau tidak), yang demikian karena adanya hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah secara marfū’:

*“Tidak seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah menakdirkan kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid.”*
{Lihat Kitab  Irsyād As-Sāri Li Syarh Shahīh Al-Bukhāriy : juz 2 hal 465 / 23 - Kitabu Al Janaizi / 87 - Babu Ma Ja'a Fi 'Adzabi Al Qabri / Karya Imam Ahmad Bin Muhammad Al Qasthalaniy /
Al-Mathba’ah Al-Kubrā Al-Amīriyah - Mesir, Cet. ke-7, Th. 1323 H}.


*🌴📚• Orang Muslim yang terkena wabah penyakit (covid - 19 : skrg Th. 2020 M) kemudian meninggal sudah tentu mati syahid, sebagaimana yang banyak disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,  dengan memenuhi sebab, syarat, dan ketentuan syar'i yang ada. Dan orang yang bersabar akan adanya wabah ini pun mendapatkan pahala sebagaimana yang disebutkan dalam hadits jika niatnya benar.


*💾✍• Hal ini ditegaskan oleh Imam Al-Munāwiy rahimahullAhu ta'ala dalam Kitabnya " Faydhul Qadīr Syarhu Al Jami'u Ash Shaghir ":*

 فَلَوْ مَكَثَ وَهُوَقَلَقٌ مُتندِمٌ عَلَى عَدَمِ الْخُرُوْجِ ظَانًّا أَنَّهُ لَوْ لَمْ يَخْرُجْ لَمْ يَقَعْ بِهِ فَاتَهُ أَجْرُالشَّهَادَةِ وَإنْ مَاتَ بِهِ ، هَذَا قَضِيَّةُ مَفْهُوْمِالْخَبَرِ كَمَا اقْتَضَى مَنْطُوْقُهُ أَنَّالْمُتَّصِفَ بِمَا ذُكِرَ لَهُ أَجْرُ شَهِيْدٍ وَإِنْ لَمْ يَمُتْ بِهِ
{انظر كتاب فيض القدير شرح الجامع الصغير : ج ٤ ص ٢٨٧ / حرف الطاء / فصل في المحلى بأل من هذا الحرف أي حرف الطاء / للإمام زين الدين محمد المدعو بعبد الرؤوف بن تاج العارفين بن علي بن زين العابدين الحدادي ثم المناوي القاهري (المتوفى: ١٠٣١ هـ) / الناشر: المكتبة التجارية الكبرى - مصر الطبعة: الأولى، ١٣٥٦ هـ}.

“Seandainya ia menetap (di wilayah/rumah), sedangkan ia risau dan menyesal tidak keluar, seraya beranggapan seandainya ia tidak keluar maka ia tidak terkena wabah, yang demikian pahala kesyahidannya akan lenyap. Hal ini adalah kasus yang berkaitan dengan mafhūm (makna tersirat) sebuah hadits, sebagaimana manthūq (makna gamblang) hadits ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (berdiam diri di rumah saat terjadi wabah dst) akan mendapatkan pahala syahid walaupun ia tidak sampai meninggal dunia.”
{Lihat Kitab Faydh Al-Qadīr : juz 4 hal 287 / Harfu Ath Tho' / Karya Imam Al Munawiy / Al Maktabah At Tijariyyah Al Kubro - Mesir , Cet. Pertama, Th. 1356 H}.


*🌴📚• Maksud  Riwayat Hadits Tentang Adzab Dan Rahmat  Akibat Wabah Yang Melanda :*

Diriwayatkan dari Yahya bin Ya’mar, Aisyah radhiyyAllahu ‘anha mengabarkan kepadanya bahwa ia bertanya kepada Rasulullah –ﷺ💞– tentang ath-tha’un (wabah yang menyebar dan mematikan), maka beliau menjawab,

كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ ، مَا مِنْ عَبْدٍ يَكُونُ فِى بَلَدٍ يَكُونُ فِيهِ ، وَيَمْكُثُ فِيهِ ، لاَ يَخْرُجُ مِنَ الْبَلَدِ ، صَابِرًا مُحْتَسِبًا ، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

“Itu adalah azab yang Allah turunkan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Namun, Allah menjadikannya sebagai rahmat kepada orang beriman. Tidaklah seorang hamba ada di suatu negeri yang terjangkit wabah di dalamnya, lantas ia tetap di dalamnya, ia tidak keluar dari negeri tersebut lalu bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah, ia tahu bahwa tidaklah wabah itu terkena melainkan dengan takdir Allah, maka ia akan mendapatkan pahala syahid.”
(HR. Bukhariy)


*💾✍• Imam Ibnu Hajar Al Asqalaniy Asy Syafi'iy  rahimahullAhu​ menerangkan :*

قَوْلُهُ أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ فِي رِوَايَةِ الْكُشْمِيهَنِيِّ عَلَى مَنْ شَاءَ أَيْ مِنْ كَافِرٍ أَوْ عَاصٍ

قَوْلُهُ فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ أَيْ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَفِي حَدِيثِ أَبِي عَسِيبٍ عِنْدَ أَحْمَدَ فَالطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لَهُمْ
{انظر كتاب فتح الباري شرح صحيح البخاري : ج ١٠ ص ١٩٢ / قوله باب أجر الصابر على الطاعون / للإمام أحمد بن علي بن حجر أبو الفضل العسقلاني الشافعي / الناشر: دار المعرفة - بيروت، ١٣٧٩ هـ}.

Bahwa yang dimaksud sebagai *ADZAB*  adalah untuk orang kafir dan ahli maksiat.

Sedangkan wabah itu *JADI RAHMAT* untuk orang beriman.
{Lihat Kitab Fathu  Al-Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy : juz 10 hal 192 / Qauluhu : Babu Ajri Ash Shabir 'Ala Ath Tha'uni / Karya Imam Ibnu Hajar Al 'Asqalaniy Asy Syafi'iy / Dar Al Ma'rifah - Beirut , Th. 1379 H}.


*🌴✍• Ibnu Hajar rahimahullAhu​ ta'ala juga berkata :*

كَمَا اِقْتَضَى مَنْطُوقه أَنَّ مَنْ اِتَّصَفَ بِالصِّفَاتِ الْمَذْكُورَة يَحْصُل لَهُ أَجْر الشَّهِيد وَإِنْ لَمْ يَمُتْ بِالطَّاعُونِ
{انظر كتاب فتح الباري شرح صحيح البخاري : ج ١٠ ص ١٩٤ / قوله باب أجر الصابر على الطاعون / للإمام أحمد بن علي بن حجر أبو الفضل العسقلاني الشافعي / الناشر: دار المعرفة - بيروت، ١٣٧٩ هـ}.

“Makna manthuq (tersurat) dari hadits ini adalah orang yang memiliki sifat yang disebut pada hadits tersebut *AKAN  MENDAPATKAN PAHALA SYAHID WALAUPUN TIDAK MENINGGAL DUNIA*.
{Lihat Kitab Fathu  Al-Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy : juz 10 hal 194 / Qauluhu : Babu Ajri Ash Shabir 'Ala Ath Tha'uni / Karya Imam Ibnu Hajar Al 'Asqalaniy Asy Syafi'iy / Dar Al Ma'rifah - Beirut , Th. 1379 H}.


*💾🌴• Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar Al 'Asqalaniy Asy Syafi'iy rahimahullAhu ta'ala mengutip keterangan Imam  Ibnu Tin rahimahullAhu ta'ala :*

قَالَ بن التِّينِ : هَذِهِ كُلُّهَا مِيتَاتٌ فِيهَا شِدَّةٌ تَفَضَّلَ اللَّهُ عَلَى أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنْ جَعَلَهَا تَمْحِيصًا لِذُنُوبِهِمْ وَزِيَادَةً فِي أُجُورِهِمْ يُبَلِّغُهُمْ بِهَا مَرَاتِبَ الشُّهَدَاءِ
{انظر كتاب فتح الباري شرح صحيح البخاري : ج ٦ ص ٤٤ / قوله باب ألشهادة سبع سوى القتل / للإمام أحمد بن علي بن حجر أبو الفضل العسقلاني الشافعي / الناشر: دار المعرفة - بيروت، ١٣٧٩ هـ}.

Ibnu Tin mengatakan, semua kejadian kematian di atas, deritanya sangat berat. Sehingga Allah memberikan keistimewaan bagi umat Muhammad –ﷺ💞–, *DENGAN MENJADIKAN SEMUA PENDERITAAN ITU SEBAGAI PENGHAPUS DOSANYA,* dan tambahan pahala untuknya, yang mengentarkan mereka *SAMPAI PADA DERAJAT ORANG YANG MATI SYAHID*.
{Lihat Kitab Fathu  Al-Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy : juz 6 hal 44 / Qauluhu : Babu Asy Syahaadati Sab'un Siwa Al Qatli / Karya Imam Ibnu Hajar Al 'Asqalaniy Asy Syafi'iy / Dar Al Ma'rifah - Beirut , Th. 1379 H}.


*📚✍• Ada riwayat lain yang menambahkan jika berdiam di rumah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata kepada Rasulullah –ﷺ💞– tentang ath-tha’un (wabah), kemudian Rasulullah –ﷺ💞–menyampaikan,

أَنَّهُ كَانَ عَذَاباً يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِى بَيْتِهِ صَابِراً مُحْتَسِباً يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ

“Wabah adalah azab yang Allah turunkan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Namun, wabah itu dijadikan oleh Allah sebagai rahmat untuk orang beriman. Ketika terjadi wabah, siapa pun tinggal di dalam rumahnya dalam keadaan sabar, mengharap pahala dari Allah, ia tahu bahwa tidaklah wabah itu terkena melainkan dengan takdir Allah, maka ia akan mendapatkan pahala syahid.”
{HR. Ahmad, 6:251. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih sesuai syarat Bukhari}.


*📚🌴• Pahala syahid ini juga bisa didapat dengan melakukan beberapa ketentuan menurut teks hadits Nabi belum ditambah sebab, syarat, dan ketentuan ijtihadiyyah Ulama' Madzhab. Perlakuan tersebut adalah :

1)• Tetap diam di rumah.

2)• Bersabar (menahan hati, lisan, dan anggota badan).

3)• Mengharap pahala dari Allah.

4)• Wabah itu terkena dengan takdir Allah.


*💾👌• Imam An-Nawawiy​ Asy Syafi'iy rahimahullAhu ta'ala menyebutkan perbedaan pendapat tentang makna Al-Mabthun (orang yang mati karena sakit di dalam perut). Diantara yang beliau sebutkan :*

قِيلَ : هُوَ الَّذِي تَشْتَكِي بَطْنه , وَقِيلَ : هُوَ الَّذِي يَمُوت بِدَاءِ بَطْنه مُطْلَقًا
{انظر كتاب المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج : ج ١٣ ص ٦٣ / كتاب الإمارة / باب بيان الشهداء / للإمام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي (المتوفى: ٦٧٦ هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ هـ}.

Ada yang mengatakan, itulah orang yang sakit perutnya. Ada juga yang mengatakan, orang yang mati karena sakit apapun yang ada di dalam perutnya.
{Lihat Kitab Al Minhaj Syarh Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj : juz   13 hal 63 / Kitabu Al Ìmarati / Babu Bayani Asy Syuhada'i / Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy / Dar Ìhya` At Turats Al 'Arabiy - Beirut , Cet. Kedua , Th. 1392 M}.


*💾✍• Syaikh DR. Abdul Muhsin al-Abbad hafidzahumullAhu pernah ditanya tentang orang yang mati karena kanker, apakah mendapat pahala syahid?*

Jawab beliau,

لا ؛ لأن السرطان لا يكون دائماً في البطن ، فقد يكون في غير البطن
{انظر شرح سنن ابي داود : ج ٢٥٥ ص ٣٦ /
[٣٦٢] الأسئلة / السرطان ودخوله في داء البطن / للشيخ الدكتور : عبد المحسن بن حمد بن عبد المحسن بن عبد الله بن حمد العباد البدر مصدر الكتاب: دروس صوتية قام بتفريغها موقع الشبكة الإسلامية}.

Tidak, karena kanker, tidak selalu ada di perut. Terkadang berada di selain perut.
{Lihat Kitab Syarh Sunan Abu Dawud : juz 255 hal 36 / Karya Syaikh DR. Abdul Muhsin Abad Al Badri, rekaman no. 230}.


*E]• 💾📚 SYAHID DUNIA AKHIRAT DAN PERAWATANNYA_*

Syahid dunia akhirat adalah titel bagi orang  yang gugur dimedan perang melawan musuh Islam, tidak melarikan diri dari berkecamuknya  perang ketika melawan musuh Islam, tidak menyembunyikan   rampasan perang  sebelum dibagikan, tingkatan syahid ini jenazahnya tidak wajib dimandikan, tetap dikafani, dan tidak atau  dishalati.

Khusus untuk jenazah muslim yang mati syahid dalam tingkatan ini ada 4 hukum khusus yakni : tidak boleh dimandikan, tetap  dikafani, tidak atau boleh  dishalati, dan harus dikuburkan. Berikut penjelasannya :

*_1⃣. Tidak Boleh Dimandikan_*

Jenazah ini dibiarkan sebagaimana kondisi dia meninggal, sehingga dia dimakamkan bersama darahnya yang keluar. Berdasarkan riwayat hadits Riwayat Imam Ahmad terkait jenazah korban perang Uhud:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ سَمِعْتُ عَبْدَ رَبِّهِ يُحَدّtetapثُ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ ابْنِ جَابِرٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ –ﷺ💞– أَنَّهُ قَالَ فِي قَتْلَى أُحُدٍ :

*_«لَا تُغَسِّلُوهُمْ فَإِنَّ كُلَّ جُرْحٍ أَوْ كُلَّ دَمٍ يَفُوحُ مِسْكًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِمْ »_*
{رواه احمد / باقي مسند المكثرين / مسند جابر بن عبد الله رضي الله تعالى عنه / رقم الحديث : ١٣٧٧٧}.

Telah menceritakan kepada kami : Muhammad -yakni Ibnu Ja'far-. Telah menceritakan kepada kami : Syu'bah, aku mendengar 'Abdurrabbih menceritakan dari Az Zuhriy. Dari Ìbni Jabir. Dari Jabir Ìbni 'Abdillah. Dari Nabi  –ﷺ💞–, bahwasannya beliau bersabda terkait dengan para Syuhada' yang gugur diperang Uhud :

*_“Jangan kalian mandikan mereka, karena setiap luka atau darah, akan mengeluarkan bau harum minyak misik pada hari kiamat.”_*
{HR. Ahmad / Sisa Musnad Al Muktsirin / Musnad Jabir bin Abdillah RadliyyAllahu Ta'ala 'Anhu / No.  13777 Dan Dinilai *SHAHIH* oleh Syuaib Al-Arnauth}.

*🌴📚• Dalam Hadits Lain Riwayat Imam Bukhariy Juga Mengenai Syuhada' Perang Uhud:

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ جَابِرٍ قَ  قَالَ النَّبِيُّ –ﷺ💞– : 

*_«ادْفِنُوهُمْ فِي دِمَائِهِمْ يَعْنِي يَوْمَ أُحُدٍ وَلَمْ يُغَسِّلْهُمْ »_*
{رواه البخاري / كتاب الجنائز / باب من لم ير غسل الشهداء / حديث رقم : ١٢٩٤}.

Telah menceritakan kepada kami : Abu Al Walid. Telah menceritakan kepada kami :  Laits. Dari Ibnu Syihab. Dari 'Abdurrahman bin Ka'ab bin Malik. Dari Jabir beliau  berkata; Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda:

*_"Kuburkanlah mereka bersama dengan darah-darah mereka"._* Yaitu mereka yang gugur pada perang Uhud:

*_"Dan janganlah mereka dimandikan"._*
{HR. Bukhariy / Kitabu Al Janaizi / Babu Man Lam Yara Ghusla Asy Syuhada'i / No. 1294}.


*_2⃣• Syahid Dimedan Perang  Dikafani Tanpa Dimandikan Dan Dikuburkan_*

Dalam riwayat hadits riwayat Imam Tirmidziy​ lain ada penjelasan orang mati syahid dimedan perang tetap  dikafani :*

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ أَخْبَرَهُ أَنَّ النَّبِيَّ –ﷺ💞– كَانَ يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ *فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ* ثُمَّ يَقُولُ :

*_«أَيُّهُمَا أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ ؟»_

فَإِذَا أُشِيرَ لَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ وَقَالَ ؛

*_«أَنَا شَهِيدٌ عَلَى هَؤُلَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»_*

*وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ فِي دِمَائِهِمْ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يُغَسَّلُوا*

قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أَبُو عِيسَى : *_حَدِيثُ جَابِرٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ_*

وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ –ﷺ💞–  وَرُوِيَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ ثَعْلَبَةَ بْنِ أَبِي صُعَيْرٍ عَنْ النَّبِيِّ–ﷺ💞– وَمِنْهُمْ مَنْ ذَكَرَهُ عَنْ جَابِرٍ وَقَدْ اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي الصَّلَاةِ عَلَى الشَّهِيدِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ : لَا يُصَلَّى عَلَى الشَّهِيدِ وَهُوَ قَوْلُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ وَبِهِ يَقُولُ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ

و قَالَ بَعْضُهُمْ : يُصَلَّى عَلَى الشَّهِيدِ وَاحْتَجُّوا بِحَدِيثِ النَّبِيِّ –ﷺ💞– أَنَّهُ صَلَّى عَلَى حَمْزَةَ وَهُوَ قَوْلُ الثَّوْرِيِّ وَأَهْلِ الْكُوفَةِ وَبِهِ يَقُولُ إِسْحَقُ
{رواه الترمذي / أبواب الجنائز / باب ما جاء في ترك الصلاة على الشهيد / حديث رقم : ١٠١٩}.

Telah menceritakan kepada kami :  Qutaibah. Telah menceritakan kepada kami :  Laits. Dari Ibnu Syihab. Dari Abdurrahman bin Ka'bu bin Malik :  bahwa Jabir bin Abdullah mengabarinya *bahwa Nabi –ﷺ💞– mengumpulkan dua orang dari para korban Perang Uhud DENGAN SATU KAIN KAFAN*, lalu beliau bertanya:

*_"Mana di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur'an?"_*

Tatkala ditunjukkan salah satunya, maka beliau mendahulukannya untuk dimasukkan ke dalam liang lahad. Beliau bersabda:

*_"Saya akan menjadi saksi atas mereka pada Hari Kiamat."_*

Beliau memerintahkan agar menguburkan mereka dengan darah-darah mereka. Beliau tidak menshalatkannya, juga tidak memandikannya.

(Abu Isa At Tirmidzi) berkata; "Hadis semakna diriwayatkan dari Anas bin Malik. Abu Isa berkata; *"Hadis Jabir merupakan HADITS HASAN SHAHIH.* Hadis ini diriwayatkan dari Az-Zuhriy. Dari Anas. Dari Nabi –ﷺ💞–. Juga diriwayatkan dari Az-Zuhri. Dari Abdullah bin Tsa'labah bin Abu Shu'air. Dari Nabi–ﷺ💞– . Di antara mereka ada yang menyebutkan dari Jabir.

Ulama berselisih tentang shalat atas orang mati syahid. Sebagian berpendapat; *TIDAK PERLU DISHALATI ORANG YANG SYAHID.* Ini pendapat panduduk Madinah, juga pendapat Syafi'i dan Ahmad.

Sebagian berpendapat; orang yang syahid *HARUS DISHALATI,* mereka berdalil dengan hadits  Nabi –ﷺ💞– bahwa beliau shalat atas Hamzah. Ini adalah pendapat Ats Tsauri dan penduduk Kufah dan juga Ishaq"
{HR. Tirmidziy / Abwabu Al Janaizi / Babu Ma Ja'a Fi Tarki Ash Shalati 'Ala Asy Syahidi / No. 1019}.


*_3⃣. Boleh Atau Tidak Boleh  Dishalatkan_*

Artinya, jenazah korban perang fi sabilillah tidak wajib dishalatkan, dan boleh juga dishalatkan.

Jenazah yang meninggal di perang Uhud, dimakamkan tanpa dishalatkan. Berdasarkan riwayat hadits :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ
–ﷺ💞– يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ ثُمَّ يَقُولُ:

*_«أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ ؟»_*

فَإِذَا أُشِيرَ لَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ وَقَالَ:

*_«أَنَا شَهِيدٌ عَلَى هَؤُلَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»_*

وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ فِي دِمَائِهِمْ وَلَمْ يُغَسَّلُوا وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ
{رواه البخاري / كتاب الجنائز / باب الصلاة على الشهيد / حديث رقم : ١٢٩١}.

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf. Telah menceritakan kepada kami : Al Laits, ia berkata :  Telah menceritakan kepada saya :  Ibnu Syihab. Dari 'Abdurrahman bin Ka'ab bin Malik. Dari Jabir bin 'Abdullah radliyyAllahu 'anhua berkata: "Nabi –ﷺ💞–  pernah menggabungkan dalam satu kubur dua orang laki-laki yang gugur dalam perang Uhud dan dalam satu kain, lalu bersabda:

*_"Siapakah diantara mereka yang lebih banyak mempunyai hafalan Al Qur'an"?_*.

Bila Beliau telah diberi tahu kepada salah satu diantara keduanya, maka Beliau mendahulukannya didalam lahad lalu bersabda:

*_"Aku akan menjadi saksi atas mereka pada hari qiyamat"._*

Maka Beliau memerintahkan agar menguburkan mereka dengan darah-darah mereka, tidak dimandikan dan juga tidak dishalatkan".
{HR. Bukhariy / Kitabu Al Janaizi / Babu Ash Shalati 'Ala Asy Syahid / No. 1291}.


*_4️⃣• Boleh Dishalati Dan Harus Dikuburkan Ditempat Mereka Gugur Dan Tidak Boleh Dipemakaman Umum_*

Sementara dalil bahwa mereka boleh dishalatkan, dan wajib dikuburkan. Berdasarkan riwayat hadits :  bahwa *Nabi–ﷺ💞– MENSHALATKAN  JENAZAH HAMZAH BIN ABDUL MUTHALIB*, paman beliau yang meninggal ketika perang Uhud. Berdasarkan riwayat hadits :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ ، ح وحَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِيُّ ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ ، وَهَذَا ، لَفْظُهُ أَخْبَرَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ اللَّيْثِيُّ ، أَنَّ ابْنَ شِهَابٍ ، أَخْبَرَهُ أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ حَدَّثَهُمْ :

*_«أَنَّ شُهَدَاءَ ، أُحُدٍ لَمْ يُغَسَّلُوا ، وَدُفِنُوا بِدِمَائِهِمْ وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ»_*
{رواه ابو داود / كِتَاب الْجَنَائِزِ  / بَابٌ فِي الشَّهِيدِ يُغَسَّلُ / حديث رقم : ٢٧٧٧}.

Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Shalih] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Wahb] dan telah diriwayatkan dari jalur yang lain: Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Daud Al Mahri], telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Wahb], dan ini adalah lafazhnya, telah mengabarkan kepadaku [Usamah bin Zaid Al Laitsi] bahwa [Ibnu Syihab] telah mengabarkan kepadanya bahwa [Anas bin Malik] telah menceritakan kepada mereka bahwa para syuhada` Uhud tidak dimandikan, dan mereka dikubur dengan darah mereka (lumuran darah yang pada jenazah mereka), serta tidak dishalatkan (kecuali Sayyidina Hamzah).
{HR. Abu Dawud / Kitabu Al Janaizi /  Babun : Fi Asy Syahidi Yughassalu / No. 2777}.


*F]• 💾📚 DEFINISI SYAHID DUNIA THOK (TIDAK SYAHID  DIAKHIRAT) DAN  PERAWATANNYA*

Tingkatan Syahid didunia saja tidak syahid diakhirat ini hanya menurut pandangan orang banyak tentang  tewasnya oleh musuh dihadapan mereka, akan tetapi  hakikatnya ia menyembunyikan ghonimah (harta rampasan perang) sebelum dibagikan, dsb. Ataupun ia matinya bunuh diri karena tidak tahan menahan sakit karena luka - luka yang dideritanya, dimedan perang,  dsb. Berikut kisah orang yang  tewas dibunuh oleh musuh islam namun ia hanya mendapatkan tingkatan syahid dunia saja (hanya dipandangan manusia ia terlihat mati syahid) karena ia masih menyembunyikan harta ghonimah sebelum dibagikan :

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي ابْنُ وَهْبٍ ، عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ الدُّؤَلِيِّ ، عَنْ سَالِمٍ أَبِي الْغَيْثِ ، مَوْلَى ابْنِ مُطِيعٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، ح وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ ، وَهَذَا حَدِيثُهُ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ ، عَنْ ثَوْرٍ ، عَنْ أَبِي الْغَيْثِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ :

خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ –ﷺ💞– إِلَى خَيْبَرَ ، فَفَتَحَ اللَّهُ عَلَيْنَا فَلَمْ نَغْنَمْ ذَهَبًا وَلَا وَرِقًا ، غَنِمْنَا الْمَتَاعَ وَالطَّعَامَ وَالثِّيَابَ ، ثُمَّ انْطَلَقْنَا إِلَى الْوَادِي ، وَمَعَ رَسُولِ اللَّهِ –ﷺ💞–  عَبْدٌ لَهُ ، وَهَبَهُ لَهُ رَجُلٌ مِنْ جُذَامٍ يُدْعَى رِفَاعَةَ بْنَ زَيْدٍ مِنْ بَنِي الضُّبَيْبِ ، فَلَمَّا نَزَلْنَا الْوَادِيَ ، قَامَ عَبْدُ رَسُولِ اللَّهِ –ﷺ💞–  يَحُلُّ رَحْلَهُ ، فَرُمِيَ بِسَهْمٍ ، فَكَانَ فِيهِ حَتْفُهُ ، فَقُلْنَا : هَنِيئًا لَهُ الشَّهَادَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💞– :

*_«كَلَّا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ، إِنَّ الشِّمْلَةَ لَتَلْتَهِبُ عَلَيْهِ نَارًا أَخَذَهَا مِنَ الْغَنَائِمِ يَوْمَ خَيْبَرَ لَمْ تُصِبْهَا الْمَقَاسِمُ »_*

قَالَ : فَفَزِعَ النَّاسُ ، فَجَاءَ رَجُلٌ بِشِرَاكٍ أَوْ شِرَاكَيْنِ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَصَبْتُ يَوْمَ خَيْبَرَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💞– : 

*_«شِرَاكٌ مِنْ نَارٍ أَوْ شِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ »_*
{رواه مسلم / كِتَابُ الْإِيمَانَ / بَابُ غِلَظِ تَحْرِيمِ الْغُلُولِ ، وَأَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ / حديث رقم : ١٩٥}.

Telah menceritakan kepada kami : Abu ath-Thahir  dia berkata : Telah mengabarkan kepada kami :  Ibnu Wahab. Dari Malik bin Anas. Dari Tsaur bin Zaid ad-Duali. Dari Salim Abu al-Ghaits (mantan budak Ibnu Muthi'). Dari Abu Hurairah. -(dalam riwayat lain disebutkan)- Dan telah menceritakan kepada kami :  Qutaibah bin Sa'id] dan ini adalah haditsnya :  Telah menceritakan kepada kami :  'Abdul Aziz -(yaitu Ibnu Muhammad)-. Dari Tsaur. Dari Abu al-Ghaits. Dari Abu Hurairah, beliau  berkata :

*"Pada hari Khaibar kami keluar bersama Nabi–ﷺ💞–  hingga Allah memberi kemenangan kepada kami, namun tidaklah ghanimah (harta rampasan perang) yang kami peroleh berupa emas atau perak, melainkan harta benda, makanan dan pakaian. Kemudian kami bergegas menuju sebuah bukit. Dan Rasulullah –ﷺ💞– saat itu bersama dengan budak beliau yang dihadiahi oleh seorang lelaki dari Judzam yang biasa dipanggil dengan nama Rifa'ah bin Zaid dari bani Adl-Dlubaib. Ketika kami sampai di bukit itu, budak Rasulullah –ﷺ💞– tersebut berdiri untuk melepaskan ikatan tali pelananya. Namun tiba-tiba dia dipanah, dan menemui ajalnya di sana. Kami pun berkata, 'kami mengucapkan selamat baginya wahai Rasulullah karena telah mendapatkan mati syahid.' Tapi Rasulullah –ﷺ💞– malah berkata:

*_'Tidak, demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh ia akan dilahab oleh api neraka karena selimut dari ghanimah perang Khaibar yang diambilnya sebelum dibagikan.'_*

Abu Huraitah berkata : 'Orang-orang pun terhenyak kaget. Setelah itu datanglah seorang lelaki dengan membawa seikat atau dua ikat tali sandal seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, aku dapatkan ini saat perang Khaibar'. Maka Rasul pun berkata:

*_'Seikat tali sandal dari api neraka atau dua ikat tali sandal dari api neraka'."_*
{HR. Muslim / Kitabu Al Imani / Ghaldzu Tahrimi Al Ghululi, Wa Annahu La Yadkhulu Al Jannata Ìlla Al Mu'minuna / No. 195}.


*📚🌴• Hadits Senada Yang Lain :*

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَ حَدَّثَنِي سِمَاكٌ الْحَنَفِيُّ أَبُو زُمَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ قَالَ حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ :

لَمَّا كَانَ يَوْمُ خَيْبَرَ أَقْبَلَ نَفَرٌ مِنْ صَحَابَةِ النَّبِيِّ  –ﷺ💞– فَقَالُوا :  فُلَانٌ شَهِيدٌ فُلَانٌ شَهِيدٌ حَتَّى مَرُّوا عَلَى رَجُلٍ فَقَالُوا : فُلَانٌ شَهِيدٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ  –ﷺ💞– : 

*_«كَلَّا إِنِّي رَأَيْتُهُ فِي النَّارِ فِي بُرْدَةٍ غَلَّهَا أَوْ عَبَاءَةٍ »_*

ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💞– :

*_«يَا ابْنَ الْخَطَّابِ اذْهَبْ فَنَادِ فِي النَّاسِ أَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ »_*

قَالَ فَخَرَجْتُ فَنَادَيْتُ : أَلَا إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ
{رواه مسلم / كتاب الإيمان / بَاب غِلَظِ تَحْرِيمِ الْغُلُولِ وَأَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ / رقم الحديث : ١١٤}.

Telah menceritakan kepada kami : Zuhair bin Harb.  Telah menceritakan kepada kami : Hasyim bin al-Qasim. Telah menceritakan kepada kami : Ikrimah bin Ammar, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami : Simak al-Hanafi Abu Zumail, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami : 'Abdullah bin Abbas] beliau  berkata : Telah menceritakan kepada kami : 'Umar bin al-Khaththab, beliau  berkata : 

"Ketika terjadi perang Khaibar, maka sejumlah sahabat menghadap Nabi –ﷺ💞– seraya berkata : 'Fulan mati syahid, fulan mati syahid', hingga mereka melewati seorang laki-laki lalu berkata : 'fulan mati syahid.' Maka Rasulullah –ﷺ💞– bersabda:

*_"Tidak demikian, sesungguhnya aku melihatnya di neraka dalam pakaian atau mantel yang dia ambil (sebelum dibagi).'_*

Kemudian Rasulullah –ﷺ💞– bersabda lagi:

*_"Wahai Ibnu al-Khaththab, pergi dan serukanlah kepada manusia bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang beriman.'_*

Maka Umar berkata, 'Aku keluar seraya berseru : 

'Ketahuilah, tidak akan masuk surga kecuali orang mukmin'."
{HR. Muslim / Kitabu Al Imani / Babu Ghilati Tahrimi Al Ghululi Wa Annahu La Yadkhulu Al Jannata Ìlla Al Mu'minuna / No. 114}.


*📚✍• قال الإمام  النووي الشافعي رحمه الله تعالى في فوائد الحديث الأولى :*

وَأَمَّا أَحْكَامُ الْحَدِيثِينَ فَمِنْهَا: غِلَظُ تَحْرِيمِ الْغُلُولِ، وَمِنْهَا: أَنَّهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ قَلِيلِهِ وَكَثِيرِهِ حَتَّى الشِّرَاكُ، وَمِنْهَا: أَنَّ الْغُلُولَ يَمْنَعُ مِنْ إِطْلَاقِ اسْمِ الشَّهَادَةِ عَلَى مَنْ غَلَّ إِذَا قُتِل. انتهى.
{انظر كتاب المنهاج شرح صحيح مسلم ابن الحجاج : ج ٢ ص ١٣٠ / كتاب الايمان / بَابُ غِلَظِ تَحْرِيمِ الْغُلُولِ ، وَأَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ / للإمام : أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي (المتوفى: ٦٧٦هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ هـ}.

*💾✍• Imam Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullAhu ta'ala dalam faidah - faidah hadits yang pertama  berkata :*

Dan adapun hukum - hukum yang bisa diambil dari hadits - hadits tersebut,  diantaranya : beratnya keharaman  Ghulul (menyembunyikan rampasan  perang sebelum dibagikan).

Diantaranya lagi : hukumnya tidak ada perbedaan (berbuat ghulul) antara  banyaknya dan sedikitnya, sekalipun hanya menyembunyikan seikat tali sandal.

Sebagian hukum yang lain : Ghulul dapat menghalangi status syahid secara umum bagi pelakunya kalau dia terbunuh.”
{Lihat Kitab Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim : juz 2 hal 130 / Kitabu Al Imani / Babu Ghiladzi  Tahrimi Al Ghululi Wa Annahu La Yadkhulu Al Jannata Ìlla Al Mu'minuna /   Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy / Dar Ìhya' At Turats Al 'Arabiy - Beirut, Cet. Kedua , Th. 1392 H}.


*📚✍• قال الإمام  النووي الشافعي رحمه الله تعالى في فوائد الحديث الثاني :*

وَقَوْلُهُ - –ﷺ💞– : كَلَّا زَجْرٌ وَرَدٌّ لِقَوْلِهِمْ فِي هَذَا الرَّجُلِ إِنَّهُ شَهِيدٌ مَحْكُومٌ لَهُ بِالْجَنَّةِ أَوَّلَ وَهْلَةٍ بَلْ هُوَ فِي النَّارِ بِسَبَبِ غُلُولِهِ.
(كِتَابُ الْإِيمَانَ / بَابُ غِلَظِ تَحْرِيمِ الْغُلُولِ ، وَأَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ / حديث رقم :  ١٩٤}.
{انظر كتاب المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج : ج ٢ ص ١٢٨ / كِتَابُ الْإِيمَانَ / بَابُ غِلَظِ تَحْرِيمِ الْغُلُولِ ، وَأَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ / حديث رقم : ١٩٤ /  للإمام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي (المتوفى: ٦٧٦ هـ) الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت الطبعة: الثانية، ١٣٩٢}.

*📡✍• Imam Nawawiy Asy Syafi'iy berkata didalam Kitabnya " Al Minhaaj 'Ala Syarhi Shahih Muslim Bin Al Hajjaj Menanggapi Faidah Hadits Yang Kedua :*

Sabda Nabi ﷺ💘 *((Tidak))* Memperingatkan dan menolak perkataan para sahabatnya, terhadap lelaki ini bahwa dia mati   syahid, yang dikukuhkan baginya masuk surga pertama kali melihatnya, akan tetapi sebaliknya dia diceburkan kedalam neraka sebab perlakuan ghululnya (mengutilnya).
{Lihat Kitab Al Minhaaj 'Ala Syarhi Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj : juz 2 hal 128 / Kitabu Al Iman / Babu Ghiladzi Tahriimi Al Ghuluuli Wa Annahu La Yadkhulu Al Jannata Illa Al Mukminun / No. 194. Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy / Dar Ìhya' At Turats Al 'Arabiy - Beirut, Cet. Kedua , Th. 1392 H}.


*🌴✍• قال الإمام الحجاوي الحنبلي  رحمه الله تعالى في " زاد المستقنع في اختصار المقنع ":*

وَتُمْلَكُ الْغَنِيمَةُ بِالِاسْتِيلَاءِ عَلَيْهَا فِي دَارِ الحَرْبِ، وَهِيَ لِمَنْ شَهِدَ الْوَقْعَةَ مِنْ أَهْلِ الْقِتَالِ، فَيُخْرِجُ الخُمُسَ، ثُمَّ يَقْسِمُ بَاقِي الْغَنِيمَةِ: لِلرَّاجِلِ سَهْمٌ، وَلِلْفَارِسِ ثَلَاثَةُ أَسْهُمٍ: سَهْمٌ لَهْ وَسَهْمَانِ لِفَرَسِهِ، وَيُشَارِكُ الجَيْشُ سَرَايَاهُ فِيمَا غَنِمَتْ، وَيُشَارِكُونَهُ فِيمَا غَنِمَ. انتهى .
{انظر كتاب زاد المستقنع في اختصار المقنع : ص ٩٧ / كتاب الجهاد / للإمام موسى بن أحمد بن موسى بن سالم بن عيسى بن سالم الحجاوي المقدسي، ثم الصالحي، شرف الدين، أبو النجا الحنبلي (المتوفى: ٩٦٨ هـ = ١٥٦٠ مـ) / ناشر: دار الوطن للنشر - الرياض - بدون السنة}.

*📚✍• Imam Al-Hijawiy Al Hanbaliy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Zadu Al Mustaqni' Fi Ìkhtishari Al Muqni' " mengatakan :*

“Ghanimah didapat dengan menguasai wilayah perang (Darul Harbi). Ia bagi orang yang ikut berperang dalam pasukan perang. Disisihkan seperlima, kemudian sisanya, pejalan kaki satu bagian, penunggang kuda tiga bagian: satu bagian untuknya dan dua bagian untuk kudanya. Seluruh pasukan diikutsertakan sebagai tentara untuk mendapat ghanimah.”
{Lihat Kitab Zadu Al Mustaqni' Fi Ìkhtishari Al Muqni' : hal 97 / Kitabu Al Jihadi / Karya Imam Al Hijawiy Al Hanbaliy / Dar Al Wathon - Ar Riyadh , Tnp. Tahun}.


*💾🌴• قال العلامة ملا علي القاري الحنفي رحمه الله في كتابه " مرقاة المفاتيح " :*

" وَفِيهِ بَحْثٌ ؛ إِذْ لَا دَلَالَةَ فِي الْحَدِيثِ عَلَى نَفْيِ شَهَادَتِهِ ، كَيْفَ وَقَدْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَخِدْمَةِ رَسُولِ اللَّهِ –ﷺ💞– ، وَلَا يُشْتَرَطُ فِي الشَّهِيدِ ألّا يَكُونُ عَلَيْهِ ذَنَبٌ أَوْ دَيْنٌ بِالْإِجْمَاعِ " انتهى
{انظر كتاب "مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح : ج ٦ ص ٢٥٨٣ / كتاب الجهاد / باب قسمة الغنائم والغلول فيها / للإمام علي بن (سلطان) محمد، أبو الحسن نور الدين الملا الهروي القاري الحنفي (المتوفى: ١٠١٤ هـ) / الناشر: دار الفكر، بيروت - لبنان الطبعة: الأولى، ١٤٢٢ هـ = ٢٠٠٢ مـ}.

*🌴✍• Al  'Alamah Mula 'Aliy Al-Qoriy Al Hånåfiy rahimahullAhu​ ta'ala mengatakan didalam Kitabnya " Mirqatu Al Mafatiihi Syarhu Misykati Al Mashabihi “ :*

"Di dalam hadits ada pembahasan, bahwa tidak ada dalil dalam hadits ini yang menafikan status syahidnya. Bagaimana tidak, ia telah dibunuh di jalan Allah (sabilillah) dan membela Rasulullah –ﷺ💞– Tidak disyaratkan dalam ijma' (consensus para ulama), bahwa orang yang mati syahid harus tidak punya dosa atau hutang.”
{Lihat Kitab Mirqotu Al Mafatiihi​ Syarhu Misykati Al Mashabihi : juz  6 hal 2583 / Kitabu Al Jihadi / Babu Qismati Al Ghonaimi Wa Al Ghululi Fiha / Karya Imam Mula 'Aliy Al Qariy Al Hånåfiy / Dar Al Fikri - Beirut Libanon, Cet. Pertama, Th. 1422 H = 2002 M}.


*💾👌• Imam Al-Bukhariy Asy Syafi'iy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya Shahih Al-Bukhari, sepakat ulama menyebutnya sebagai kitab yang paling Shahih setelah Kitabullah, oleh karenanya umat Islam menyambutnya dengan lapang dada, beliau meletakkan sebuah Bab berjudul:*

باب لاَ يَقُولُ فُلاَنٌ شَهِيدٌ

*“TIDAK BOLEH SESEORANG MENGATAKAN FULAN SYAHID”*

Lalu beliau menyebutkan riwayat:

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ –ﷺ💞–:

اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِهِ
{بوابه البخاري / كتاب الجهاد والسير / باب لا يقول فلان شهيد /  حديث رقم : ٢٧٧٠}.

Abu Hurairah berkata dari Nabi –ﷺ💞–:

”Allah lebih tahu siapakah yang (benar-benar) berjihad di jalan-Nya, Allah lebih tahu siapakah yang terluka di jalan-Nya.
{Imam Bukhariy Membuat Bab / Kitabu Al Jihadi Wa As Siyari / Babu La Yaqulu Fulanun Syahidun / No. 2770}.

*💾✍• Ibnu Hajar Al 'Asqalaniy Asy Syafi'iy dalam hal ini  menerangkan:*

*[[ قَوْلُهُ بَابُ لَا يُقَالُ فُلَانٌ شَهِيدٌ ]]*

أَيْ عَلَى سَبِيلِ الْقَطْعِ بِذَلِكَ إِلَّا إِنْ كَانَ بِالْوَحْيِ وَكَأَنَّهُ أَشَارَ إِلَى حَدِيثِ عُمَرَ أَنَّهُ خَطَبَ فَقَالَ :

*تَقُولُونَ فِي مَغَازِيكُمْ فُلَانٌ شَهِيدٌ وَمَاتَ فَلَانٌ شَهِيدًا وَلَعَلَّهُ قَدْ يَكُونُ قَدْ أَوْقَرَ رَاحِلَتَهُ أَلَا لَا تَقُولُوا ذَلِكُمْ وَلَكِنْ قُولُوا كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ قُتِلَ فَهُوَ شَهِيدٌ "*

وَهُوَ حَدِيثٌ حَسَنٌ أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَسَعيدُ بْنُ مَنْصُورٍ وَغَيْرُهُمَا
{انظر كتاب فتح الباري شرح صحيح البخاري : ج ٦ ص ٩٠ /  كتاب الجهاد والسير / باب لا يقول فلان شهيد /  حديث رقم : ٢٧٧٠ / للإمام أحمد بن علي بن حجر أبو الفضل العسقلاني الشافعي الناشر: دار المعرفة - بيروت، ١٣٧٩ هـ}.

*[[Tidak boleh Mengatakan Fulan Syahid]]*

Yakni dengan memastikan hal itu kecuali dengan (berita) dari wahyu, seolah-olah beliau (Al-Bukhari) mengisyaratkan kepada hadits Umar bahwa beliau berkhutbah lalu mengatakan:

*“Kalian katakan dalam peperangan-peperangan kalian ‘fulan syahid’ dan ‘fulan mati syahid’, barangkali dia telah memberatkan kendaraannya, ketahuilah janganlah kalian mengatakan semacam itu akan tetapi katakanlah seperti yang dikatakan Rasulullah: “Siapa yang meninggal atau terbunuh di jalan Allah maka dia syahid”.*

“ Dan itu hadits hasan Riwayat Ahmad dan Said bin Manshur dan selain keduanya.
{Lihat Kitab Fathu Al Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy : juz 6 hal 90 / Kitabu Al Jihadi Wa As Siyari / Babu La Yaqulu Fulanun Syahidun / No. 2770 / Karya Imam Ibnu Hajar Al 'Asqalaniy Asy Syafi'iy / Dar Al Ma'rifati - Beirut , Th. 1379 H}.


*📚🌴• Aqidah inipun ditegaskan oleh Ath-Thohawi dalam buku aqidahnya:*

قَوْلُهُ: "وَنَرْجُو لِلْمُحْسِنِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَيُدْخِلَهُمُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ، وَلَا نَأْمَنُ عَلَيْهِمْ، ولا نشهد لهم بالجنة، ونستغفر لمسيئهم، وَنَخَافُ عَلَيْهِمْ، وَلَا نُقَنِّطُهُمْ".

ش: وَعَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَعْتَقِدَ هَذَا الَّذِي قَالَهُ الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي حَقِّ نَفْسِهِ وَفِي حَقِّ غَيْرِهِ. قَالَ تَعَالَى: {أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا} [الْإِسْرَاءِ: ٥٧].

وَقَالَ تَعَالَى: {فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ} [آلِ عِمْرَانَ: ١٧٥].

وَقَالَ تَعَالَى: {وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ} [البقرة: ٤١]. {وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ} [البقرة: ٤٠]. {فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي} [البقرة: ١٥٠].

وَمَدَحَ أَهْلَ الْخَوْفِ، فَقَالَ تَعَالَى: {إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ، وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ} [المؤمنون: ٥٧ - ٥٨]. إلى قوله: {أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ} [الْمُؤْمِنُونَ: ٦١].

وَفِي الْمُسْنَدِ وَالتِّرْمِذِيِّ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، {الَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَة} [الْمُؤْمِنُونَ: ٦٠]، هو الَّذِي يَزْنِي وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُ؟ قَالَ: "لَا، يَا ابْنَةَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيَخَافُ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُ" 1. قَالَ الْحَسَنُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: عَمِلُوا -وَاللَّهِ- بِالطَّاعَاتِ، وَاجْتَهَدُوا فِيهَا، وَخَافُوا أَنْ تُرَدَّ عَلَيْهِمْ، إِنَّ الْمُؤْمِنَ جَمَعَ إِحْسَانًا وَخَشْيَةً، وَالْمُنَافِقَ جَمَعَ إِسَاءَةً وَأَمْنًا. انْتَهَى.
{انظر كتاب شرح العقيدة الطحاوية : ج ١ ص ٣٢٥ / أهل القبلة مسلمون مؤمنون / للإمام صدر الدين محمد بن علاء الدين عليّ بن محمد ابن أبي العز الحنفي، الأذرعي الصالحي الدمشقي (المتوفى: ٧٩٢ هـ) / الناشر: دار السلام للطباعة والنشر التوزيع والترجمة (عن مطبوعة المكتب الإسلامي) الطبعة: الطبعة المصرية الأولى، ١٤٢٦ هـ = ٢٠٠٥ مـ}.

Ucapannya :

"وَنَرْجُو لِلْمُحْسِنِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَيُدْخِلَهُمُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ، وَلَا نَأْمَنُ عَلَيْهِمْ، ولا نشهد لهم بالجنة، ونستغفر لمسيئهم، وَنَخَافُ عَلَيْهِمْ، وَلَا نُقَنِّطُهُمْ".

Kami berharap untuk orang-orang yang berbuat baik dari orang-orang mukmin agar Allah mengampuni mereka dan memasukkan mereka ke dalam Al-Jannah dengan rahmat-Nya dan kami tidak merasa aman atas mereka serta tidak bersaksi bahwa mereka pasti dapat surga. Kami juga memintakan ampun untuk orang-orang yang berbuat jelek dan kami khawatir atas mereka tapi kami tidak putus asa pada mereka.

Dan begitulah sifat seorang mukmin, ia tidak merasa aman tentram dengan amalnya, karena yakin pasti diterima, bahkan ia selalu merasa khawatir, jangan-jangan amalnya tidak diterima, Aisyah bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah ayat :

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan (yakni dari shodaqoh atau yang mereka amalkan dari amal shalih), dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. [QS. Al-Mukminun:60]

“Apakah maksudnya adalah seorang yang berzina dan meminum khamr serta mencuri?“ Rasulullah menjawab:

*_“Tidak wahai putri Ash-Shiddiq, akan tetapi itu adalah seseorang yang berpuasa shalat, bersedekah dan khawatir amalannya tidak diterima.”_*
[HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah: 4188]

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan:

“Demi Allah mereka mengamalkan ketaatan serta bersungguh-sungguh padanya tapi mereka juga takut kalau amalnya ditolak, sesungguhnya seorang mukmin menyertakan antara perbuatan baik dan rasa khawatir, sementara seorang munafiq menggabung antara perbuatan jelek dan perasaan tenang.”
{Lihat Kitab Syarhu Al 'Aqidah At-Thahawiyah : juz 1 hal 325 / Ahlu Al Qiblati Muslimuna  Mu'minuna / Karya Imam Shadruddin Abi Al 'ìzz Al Hånåfiy / Dar As Salam - Terjemah Dari Al Mathbu'ah Al Maktabah Al Islamiy , Cet. Al Mishriyyah Ula , Th. 1426 H = 2005 M}.


*🌴👌• Menurut al-Nasafi, orang bisa disebut ghulul apabila mengambil sesuatu dengan sembunyi-sembunyi.
{Lihat Kitab Tafsir Al-Nasafi : hal 191 / Karya Syaikh ‘Abd Allah bin Ahmad}.


*🌴✍• Dengan kata lain segala macam bentuk pangambilan dan penyimpangan harta, seperti korupsi, suap, manipulasi dan mencuri, termasuk perbuatan ghulûl. Jadi, kata ghulul (الْغُلُولُ) di atas, secara umum digunakan untuk setiap pengambilan harta oleh seseorang secara khianat, atau tidak dibenarkan dalam tugas yang diamanahkan kepadanya.

Ditandaskan pada ayat ini, seorang Nabi tidak mungkin berbuat ghulûl, khianat atau korupsi. Allah SWT telah menjaga para nabi dari pelanggaran, walau sekecil apa pun. Jika ada nabi tergelincir dari syari’ah, maka Allah SWT selalu langsung menegur dan meluruskannya dengan turun wahyu. Oleh karena itu tidak pantas bagi siapa pun menyangka seorang nabi berbuat korupsi. Rasul SAW memiliki kedudukan yang tinggi dan meraih derajat mulia dan selalu berakhlaq terpuji.
{Lihat Kitab al-Tafsir al-Wadlih :  hal 44 / Karya Syaikh Muhammad Mahmud Al Hijazi}.


*🌴✍• Riwayat Hadits Tentang Orang Yang Bunuh Diri Dalam Perang Karena Luka Luka Yang Tidak Tertahankan.*

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –ﷺ💞–، التَقَى هُوَ وَالمُشْرِكُونَ ، فَاقْتَتَلُوا ، فَلَمَّا مَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ❤– إِلَى عَسْكَرِهِ ، وَمَالَ الآخَرُونَ إِلَى عَسْكَرِهِمْ ، وَفِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ –ﷺ💙– رَجُلٌ ، لاَ يَدَعُ لَهُمْ شَاذَّةً وَلاَ فَاذَّةً إِلَّا اتَّبَعَهَا يَضْرِبُهَا بِسَيْفِهِ ، فَقَالَ : مَا أَجْزَأَ مِنَّا اليَوْمَ أَحَدٌ كَمَا أَجْزَأَ فُلاَنٌ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💞– :

*_"أَمَا إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ "_*،

فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ : أَنَا صَاحِبُهُ ، قَالَ : فَخَرَجَ مَعَهُ كُلَّمَا وَقَفَ وَقَفَ مَعَهُ ، وَإِذَا أَسْرَعَ أَسْرَعَ مَعَهُ ، قَالَ : فَجُرِحَ الرَّجُلُ جُرْحًا شَدِيدًا ، فَاسْتَعْجَلَ المَوْتَ ، فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِالأَرْضِ ، وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ، ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَى سَيْفِهِ ، فَقَتَلَ نَفْسَهُ ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ –ﷺ💞–، فَقَالَ : أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ ، قَالَ :

*_"وَمَا ذَاكَ ؟ "_*

قَالَ : "الرَّجُلُ الَّذِي ذَكَرْتَ آنِفًا أَنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ ، فَأَعْظَمَ النَّاسُ ذَلِكَ ، فَقُلْتُ : أَنَا لَكُمْ بِهِ ، فَخَرَجْتُ فِي طَلَبِهِ ، ثُمَّ جُرِحَ جُرْحًا شَدِيدًا ، فَاسْتَعْجَلَ المَوْتَ ، فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ فِي الأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💞–  عِنْدَ ذَلِكَ :

*_"إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الجَنَّةِ ، فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ ، فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ "_*
{رواه البخاري / كتاب الجهاد والسير / باب لا يقول فلان شهيد / حديث رقم : ٢٧٧٠}.

Telah menceritakan kepada kami : Qutaibah. Telah menceritakan kepada kami : Ya'qub. Dari Abu Hazim. Dari Sahal bin Sa'ad As Sa'idi radliyyAllahu 'anhu :

Bahwa Rasulullah –ﷺ💞–  berhadapan dengan Kaum Musyrikin, kemudian keduanya saling menyerang. Ketika Rasulullah –ﷺ💜–  bergabung dengan bala tentara dan musuhnya pun bergabung kepada bala tentara mereka.

Dan diantara shahabat Rasulullah –ﷺ💞– ada seseorang yang tidak menyisakan musuh pun kecuali terus ia mengejarnya untuk dipenggal dengan pedangnya. Setelah itu seseorang berkata;

*"Hari ini tidak ada seorangpun dari kita yang mendapat ganjaran pahala sebagaimana yang didapat si fulan orang tadi)."*

Maka Rasulullah –ﷺ💚–  bersabda:

*_"Sesungguhnya orang itu termasuk dari penduduk neraka."_,*

Seorang laki-laki dari kaumnya berkata; "Aku adalah sahabatnya." Sahal berkata; "Kemudian dia berangkat bersama orang itu, apabila dia berhenti orang itu pun berhenti dan bilamana dia bergegas maka orang itupun bergegas bersamanya. Sahal melanjutkan; "Kemudian laki-laki itu (orang yang berperang tadi) ditemukan dalam keadaan terluka sangat parah hingga mengharapkan segera mati. Lalu ia itu meletakkan pedangnya di tanah dan ujung pedangnya diletakkah diantara dua dadanya lalu dia membunuh dirinya sendiri.

Maka orang yang bersamanya tadi pergi menemui Rasulullah –ﷺ💙– sambil berkata; "Aku bersaksi bahwa tuan adalah benar-benar utusan Allah". Beliau bertanya:

*_"Kenapa kamu berkata seperti itu?"._*

Orang itu menjawab; "Orang yang tuan sebutkan tadi benar-benar penghuni neraka."

Mendengar perkataanya, para sahabat merasa heran. Aku lalu berkata; "Aku menjadi saksinya. Aku telah keluar bersamanya dimana aku mencarinya kemudian aku dapatkan dia dalam keadaan luka parah, hingga ia berkeinginan supaya cepat mati, lalu dia meletakkan pedangnya di tanah dan ujung pedangnya diletakkah diantara dua dadanya setelah itu dia membunuh dirinya sendiri. Pada kesempatan itu juga Rasulullah –ﷺ💞–  bersabda:

*_"Sesungguhnya ada seseorang yang mengamalkan amalan penduduk surga berdasarkan yang nampak oleh manusia padahal dia adalah dari golongan penduduk neraka. Dan ada seseorang yang mengamalkan amalan penduduk neraka berdasarkan yang nampak oleh manusia padahal dia sebenarnya dari golongan penduduk surga."_*
{HR. Bukhariy / Kitabu Al Jihadi Wa As Siyari / Babu La Yaqulu Fulanun Syahidun / No. 2770}.


*_📚✍• Hadits Yang Senada :_*

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ ح و حَدَّثَنِي مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ :

شَهِدْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ –ﷺ💞– فَقَالَ لِرَجُلٍ مِمَّنْ يَدَّعِي الْإِسْلَامَ هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلَمَّا حَضَرَ الْقِتَالُ قَاتَلَ الرَّجُلُ قِتَالًا شَدِيدًا فَأَصَابَتْهُ جِرَاحَةٌ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ الَّذِي قُلْتَ لَهُ إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَإِنَّهُ قَدْ قَاتَلَ الْيَوْمَ قِتَالًا شَدِيدًا وَقَدْ مَاتَ فَقَالَ النَّبِيُّ –ﷺ💞–:

*_" إِلَى النَّارِ "_*,

قَالَ فَكَادَ بَعْضُ النَّاسِ أَنْ يَرْتَابَ فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى ذَلِكَ إِذْ قِيلَ إِنَّهُ لَمْ يَمُتْ وَلَكِنَّ بِهِ جِرَاحًا شَدِيدًا فَلَمَّا كَانَ مِنْ اللَّيْلِ لَمْ يَصْبِرْ عَلَى الْجِرَاحِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَأُخْبِرَ النَّبِيُّ –ﷺ💞–  بِذَلِكَ فَقَالَ :

*_"اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنِّي عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ "_*

ثُمَّ أَمَرَ بِلَالًا فَنَادَى بِالنَّاسِ إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ
{رواه البخاري / كتاب الجهاد والسير / باب إن الله يؤيد الدين بالرجل الفاجر / حديث رقم : ٢٩٢٥}.

Telah bercerita kepada kami : Abu Al Yaman.  Telah mengabarkan kepada kami : Syu'aib. Dari Az Zuhriy. -(Dan diriwayatkan pula dalam Riwayat lain)- : Telah bercerita kepadaku : Mahmud bin Ghailan. Telah bercerita kepada kami : 'Abdur Razzaq. Telah mengabarkan kepada kami Ma'mar. Dari Az Zuhriy. Dari Ibnu Al Musayyib. Dari Abu Hurairah radliyyAllahu 'anhu, beliau  berkata;

"Ketika kami sedang ikut dalam suatu peperangan bersama Rasulullah –ﷺ💞– , Beliau berkata kepada seseorang yang mengaku dirinya telah masuk Islam;

*_"Orang ini termasuk penduduk neraka"._*

Ketika terjadi peperangan orang tadi berperang dengan sangat berani lalu dia terluka kemudian dikatakan (kepada Beliau);

"Wahai Rasulullah, orang yang Baginda maksudkan tadi sebagai penduduk neraka, dia telah berperang hari ini dengan sangat berani dan dia telah gugur".

Maka Nabi –ﷺ❤–  berkata:

*_"Dia akan masuk neraka"._*

(Abu Hurairah) berkata; "Orang-orang semuanya jadi Ragu. Ketika dalam keraguan seperti itu, ada orang yang mengabarkan bahwa orang yang berperang tadi tidaklah mati melainkan setelah mendapatkan luka yang sangat parah namun ketika pada malam harinya dia tidak shabar atas luka yang dideritanya hingga akhirnya dia bunuh diri. Kejadian ini kemudian dikabarkan kepada Nabi –ﷺ💚–, maka Nabi –ﷺ💞–  bersabda:

*_"Allahu Akbar, aku bersaksi bahwa aku ini hamba Allah dan Rasul-Nya"._*

Kemudian Beliau memerintahkan Bilal agar menyerukan manusia bahwa tidak akan masuk surga melainkan jiwa yang pasrah dan Allah bisa jadi menolong agama ini melalui seorang yang berdosa".
{HR. Bukhariy / Kitabu Al Jihadi Wa As Siyari / Babu La Yaqulu Fulanun Syahidun / No. 2925}.


*📚🌴• وقد قال النووي الشافعي رحمه الله تعالى في شرح مسلم :*

اسْمُهُ قُزْمَانُ قَالَهُ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ قَالَ : وَكَانَ مِنَ الْمُنَافِقِينَ. اهـ.
{انظر كتاب المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج : ج ٢ ص ١٢٣ / كتاب الايمان / (باب بيان غلظ تحريم قتل الإنسان نفسه / (وأن من قتل نفسه / للإمام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي (المتوفى: ٦٧٦ هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ هـ}.

*💾✍• Imam Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj " berkata :*

(Orang yang bunuh diri dalam perang karena tidak tahan terhadap lukanya yang sangat parah) namanya  *Quzmaan* seperti telah dikatakan oleh Imam Al Khatib Al Baghdadiy, beliau berkata : dan ia termasuk  salah satu daftar  dari orang - orang munafiq.
{Lihat Kitab Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj : juz 2 hal 123 / Kitabu Al Ìmani / Babu Bayani Ghiladzi Tahrimi Qatli Al Ìnsani Nafsahu / Wa Anna Man Qatala Nafsahu / Dar Ìhya`u At Turats Al 'Arabiy - Beirut , Cet. Kedua , Th. 1392 H}.


*💾🌴• وقال ابن الجوزي الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه " كشف المشكل من حديث الصحيحين ":*

وَهَذَا الرجل اسْمه قزمان، وَهُوَ مَعْدُود فِي جملَة الْمُنَافِقين، وَكَانَ قد تخلف يَوْم أحد فَعَيَّرَهُ النِّسَاء وقلن لَهُ: قد خرج الرِّجَال، مَا أَنْت إِلَّا امْرَأَة، فَخرج لما أحفظنه، فَصَارَ فِي الصَّفّ الأول، وَكَانَ أول من رمى بهم، وَجعل يُرْسل نبْلًا كالرماح، ثمَّ صَار إِلَى السَّيْف فَفعل الْعَجَائِب، فَلَمَّا انْكَشَفَ الْمُسلمُونَ كسر جفن سَيْفه وَجعل يَقُول: الْمَوْت أحسن من الْفِرَار، يال الْأَوْس،

قتل سَبْعَة، وأصابته جِرَاحَة، فَمر بِهِ قَتَادَة بن النُّعْمَان فَقَالَ: هَنِيئًا لَك الشَّهَادَة. فَقَالَ: إِنِّي وَالله مَا قَاتَلت على دين، مَا قَاتَلت إِلَّا على الْحفاظ، أَلا تسير قُرَيْش إِلَيْهَا حَتَّى تطَأ سعفتنا، ثمَّ أقلقته الْجراحَة فَقتل نَفسه، فَقَالَ النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم: " إِن الله ليؤيد هَذَا الدّين بِالرجلِ الْفَاجِر ". اهـ.
{انظر كتاب كشف المشكل من حديث الصحيحين : ج ٢ ص ١٧٢ - ١٧٣ / كشف المشكل من مسند سهل بن سعد الساعدي / للإمام جمال الدين أبو الفرج عبد الرحمن بن علي بن محمد الجوزي الحنبلي (المتوفى: ٥٩٧ هـ) /  الناشر: دار الوطن - الرياض ، بدون السنة}.

Menurut Ibnul Jauzi dalam Kasyful Musykil, orang ini termasuk daftar orang munafik.


*💾✍• Diprediksikan bisa terbunuh dimedan perang karena banyaknya musuh namun bukan dengan niatan bunuh diri diakhirnya akan tetapi dengan dua pilihan mati syahid atau bisa memberi peluang kemenangan kepada kaum muslimin, bukan  seperti dilakukan oleh quzmah salah seorang munafik diatas gagah berani melawan musuh namun diakhiri dengan bunuh diri. Keinginan mati syahid  d atau memberikan peluang kemenangan kepada kaum muslimin tersebut pernah dilakukan oleh para sahabat yang berani mati ketika di medan jihad. Mereka meringsek masuk ke barisan musuh untuk menyerang pasukan kafir, meskipun itu sangat membahayakan keselamatan nyawanya sendiri (seolah - olah bunuh diri jika berani melakukannya). Diantaranya :

1⃣• ✍ Yang dilakukan Sayyidina Al-Barra’ bin Malik RadhiyyAllahu ‘anhu

Di zaman Khalifah Abu Bakr RadhiyyAllahu ‘anhu, tepatnya tahun 11 H, terjadi perang Yamamah, melawan Bani Hanifah yang murtad, yang dipimpin oleh Musailamah al-Kadzab.

Singkat cerita, ketika pasukan Musailamah mulai terdesak, mereka masuk ke sebuah kebun, yang dikelilingi benteng sangat tinggi. Ribuan tentara Musailamah berjaga dan menutup pintunya rapat-rapat, dan mereka mengerahkan anak panah mereka ke kaum muslimin.

Di saat itu, Sayyidina Al-Barra bin Malik menawarkan diri :

يَا قَوْمُ، ضَعُونِي عَلَى تِرْسٍ، وارفَعُوا التِّرْسَ عَلَى الرِّمَاحِ، ثمَّ اقْذفُونِي إلِى الحَدِيْقَةِ قَرِيْبًا منْ بَابِهَا، فَإِمَّا أنْ اسْتَشْهَدَ، وَإِما أنْ أفتَحَ لكُم البَابَ.

Wahai bapak-bapak, letakkan saya di perisai, lalu taruh di atas pelontar, dan lemparkan saya ke kebun itu, di balik pintunya. Bisa jadi saya syahid atau saya berhasil membukakan pintu itu untuk kalian.

Sayyidina Al-Barra’ bin Malik termasuk sahabat berbadan kurus.

Ketika beliau dilempar, beliau jatuh di balik pintu benteng itu sambil mengibas-ngibaskan pedang, hingga beliau berhasil membunuh beberapa pasukan Musailamah, dan berhasil membuka pintu. Sementara Sayyidina Al-Barra’ sendiri terluka sangat banyak. Setelah pintu terbuka, kaum muslimin akhirnya meringsek dan berhasil mengalahkan pasukan Musailamah al-Kadzab.

Tahukah anda, Sayyidina Al-Barra’ bin Malik tidak wafat ketika peristiwa Yamamah itu. Meskipun yang beliau lakukan berpeluang besar meninggal. Setelah peristiwa Yamamah, al-Barra’ masih mengikuti beberapa kali jihad, hingga beliau meninggal di peristiwa penaklukan Tustur di iran tahun 20 H.

Ini sama sekali bukan bunuh diri, karena peluang meninggalnya tidak terbukti apa yang terjadi pada Sayyidina al-Barra’. Beliau tetap hidup dan tidak terbunuh dalam peristiwa itu.

Andaipun beliau mati, yang membunuh beliau adalah orang kafir, dan bukan beliau sendiri.


2⃣• 👌Kejadian lainnya dialami Sayyidina Auf bin al-Harits bin al-Afra’, ketika perang Badar beliau tanya kepada Nabi –ﷺ💞– :

َيَا رَسُولَ اللهِ؛ مَا يُضْحِكُ الرّبّ مِنْ عَبْدِهِ؟

قَالَ: غَمْسُهُ يَدَهُ فِي الْعَدُوّ حَاسِرًا،

Ya Rasulullah, amalan apa yang bisa membuat Rabb (Tuhan) kita tertawa kepada hamba-Nya?

Jawab beliau,

“Dia menceburkan dirinya ke tengah musuh tanpa pelindung.”

Kemudian beliau melapas baju besinya lalu menyerang barisan musuh, dan berhasil membunuh beberapa pasukan musuh, lalu akhirnya beliau syahid.

Ini hampir sama dengan bom bunuh diri, walaupun yang meledakkan bom itu adalah dirinya sendiri, namun dirinya mendapat izin dari pimpinan negara yang bersistem Islam memerangi musuh islam, berbeda dengan bom bunuh diri yang diperintah dan dilakukan sepihak hanya untuk kepentingan diri sendiri atau golongan tertentu . Yang terjadi pada sahabat, walaupun mereka dibunuh oleh musuhnya, tetapi  pada awalnya mereka melakukan hal yang bisa membunuh dirinya sendiri, namun hal tersebut untuk syahid membela Islam bukan untuk kepentingan pribadi ataupun golongan tertentu, dan hal yang ia lakukan atas seizin pimpinan perang kaum muslimin yang syah. Hal tersebut boleh dilakukan apabila bisa memberi kemenangan terhadap kaum muslimin dibawah naungan Khalifah yang syah diakui oleh seluruh dunia Islam.

*💾🌴• Al 'Utsaimin Tokoh Ulama' Wahhabiy  berkata dalam mensyarahi kitab riyadlus shalihin :*

قال شيخ الإسلام: «لأن هذا جهاد في سبيل الله، آمنت أمة وهو لم يفتقد شيئًا؛ لأنه مات وسيموت إن آجلًا أو عاجلًا»؛


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy –rahimahullahu ta'ala -  telah memberikan nash pada masalah ini, membuat permisalan untuk hal ini dengan kisah seorang pemuda, seorang pemuda mukmin yang berada di suatu umat yang dipimpin oleh seorang raja yang musyrik dan kafir. Raja yang kafir dan musyrik ini membunuh pemuda yang beriman ini, dia berupaya berulang kali, dia lemparkan pemuda itu dari atas gunung, dia lemparkan pemuda itu ke lautan, tetapi setiap upaya pembunuhan -itu gagal karena Allah Jalla Jalaluhu selalu menyelamatkan pemuda itu, maka heranlah raja musyrik itu. Suatu hari pemuda itu berkata kepada raja musyrik itu :

ثم قال له: إنك لست قاتلي حتى تفعل ما آمرك به! قال: وما هو؟ قال تجمع الناس في صعيد واحد، كل أهل البلد تجمعهم في مكان واحد، ثم تصلبني على جذع، ثم تأخذ سهماً من كنانتي فتضعه في كبد القوس، ثم ترميني به وتقول: بسم الله رب الغلام، فإنك إن فعلت ذلك قتلتني!

فجمع الملك الناس في صعيد واحد، وصلب الغلام، وأخذ سهما من كنانته فوضعها في كبد القوس، ثم رماه

وقال: بسم الله رب الغلام، ثم رماه فأصابه السهم من صدغه، فوضع يده عليه ومات،

فاصبح الناس يقولون: بسم الله رب الغلام. وآمنوا بالله وكفروا بالملك. وهذا هو الذي كان يريده هذا الغلام.


“Apakah kamu ingin membunuhku ?” raja itu berkata :

“Ya, tidaklah aku melakukan semua ini melainkan untuk membunuhmu”.

Pemuda itu berkata : “Kumpulkan orang-orang di tanah lapang, kemudian ambillah satu panah dari tempat panahku, letakkanlah dia di busurnya, kemudian lepaskanlah kepadaku dan katakanlah:

”Dengan nama Allah Rabb pemuda ini”.

Adalah penduduk raja ini jika menyebut mereka mengucapkan : Dengan nama raja, akan tetapi pemuda ini berkata kepada raja ini : Katakanlah : Dengan nama Allah Rabb pemuda ini. Maka raja ini mengumpulkan orang-orang di satu tempat yang luas, kemudian dia mengambil sebuah anak panah dari tempat panah pemuda itu, dia letakkan di busurnya seraya mengatakan : Dengan nama Allah Jalla Jalaluhu Rabb pemuda ini. Dia lepaskan anak panah itu sampai mengenai pemuda itu dan matilah dia. Melihat kejadian itu berteriaklah semua orang :

*“Tuhan adalah Tuhan pemuda ini, Tuhan adalah Tuhan pemuda ini”.

Dan mereka ingkari penuhanan raja yang musyrik ini. Mereka berkata :

“Raja ini telah melakukan segala cara yang memungkinkan untuk membunuh pemuda ini, ternyata dia tidak mampu membunuhnya. Ketika dia mengucapkan satu kalimat :

Dengan menyebut Allah Jalla Jalaluhu Rabb pemuda ini, dia bisa mati. Kalau demikian pengatur semua kejadian adalah Allah Jalla Jalaluhu, maka berimanlah semua manusia.

Syaikhul Islam berkata : Perbuatan pemuda ini mendatangkan manfaat yang besar bagi Islam. Merupakan hal yang dimaklumi bahwa yang menyebabkan kematian terbunuhnya pemuda ini adalah dia sendiri, tetapi dengan kematiannya didapatkan manfaat yang besar ; suatu umat beriman semuanya. Jika bisa didapatkan manfaat seperti ini maka dibolehkan bagi seseorang menebus agamanya dengan jiwanya.
{Lihat Syarah Kitab Riyadlus Shalihin : juz 1 hal 221 / Adab 'Ammah / 3 - Babu Ash Shabri / Oleh Tokoh Wahhabiy Ibnu 'Utsaimin / Dar Al Wathon - Riyadh , Th. 1426 H}.


*📚🌴• Hadits Tentang Kerugian Orang Yang Syahid Hanya Mencari Dunia Dan Kegagahan.*

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ قَالَ تَفَرَّقَ النَّاسُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ لَهُ نَاتِلُ أَهْلِ الشَّامِ أَيُّهَا الشَّيْخُ حَدِّثْنَا حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ –ﷺ💞– قَالَ : نَعَمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ –ﷺ💞– يَقُولُ :

*_« إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ : فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ : قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ : فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ : تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ : كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ و حَدَّثَنَاه عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ أَخْبَرَنَا الْحَجَّاجُ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ قَالَ : تَفَرَّجَ النَّاسُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ لَهُ : نَاتِلٌ الشَّامِىُّ وَاقْتَصَّ الْحَدِيثَ بِمِثْلِ حَدِيثِ خَالِدِ بْنِ الْحَارِثِ
{رواه مسلم / كِتَابُ الْإِمَارَةِ / بَابُ مَنْ قَاتَلَ لِلرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ اسْتَحَقَّ النَّارَ  / حديث رقم : ٣٦٣٨}.

Telah menceritakan kepada kami : Yahya bin Habib Al Haritsi. Telah menceritakan kepada kami : Khalid bin Al Harits. Telah menceritakan kepada kami : Ibnu Juraij. Telah menceritakan kepadaku : Yunus bin Yusuf. Dari Sulaiman bin Yasar, beliau  berkata :

"Orang-orang berpencar dari hadapan [Abu Hurairah], setelah itu Natil, seorang penduduk Syam, bertanya :  "Wahai Syaikh, ceritakanlah kepada kami hadits yang pernah kamu dengar dari Rasulullah –ﷺ💞– Beliau  menjawab : 

"Ya, saya pernah mendengar Rasulullah –ﷺ💞– bersabda:

*_"Sesungguhnya manusia yang pertama kali dihisap pada hari Kiamat ialah seseorang yang mati syahid, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, lantas Dia bertanya: 'Apa yang telah kamu lakukan di dunia wahai hamba-Ku? Dia menjawab: 'Saya berjuang dan berperang demi Engkau ya Allah sehingga saya mati syahid.' Allah berfirman: 'Dusta kamu, sebenarnya kamu berperang bukan karena untuk-Ku, melainkan agar kamu disebut sebagai orang yang berani. Kini kamu telah menyandang gelar tersebut.' Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka.

Dan didatangkan pula seseorang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, Allah bertanya: 'Apa yang telah kamu perbuat? ' Dia menjawab, 'Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca Al Qur'an demi Engkau.' Allah berfirman: 'Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur'an agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu, kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka.

Dan seorang laki-laki yang di beri keluasan rizki oleh Allah, kemudian dia menginfakkan hartanya semua, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas.' Allah bertanya: 'Apa yang telah kamu perbuat dengannya? ' dia menjawab, 'Saya tidak meninggalkannya sedikit pun melainkan saya infakkan harta benda tersebut di jalan yang Engkau ridlai." Allah berfirman: 'Dusta kamu, akan tetapi kamu melakukan hal itu supaya kamu dikatakan seorang yang dermawan, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.' Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka."

Dan telah menceritakan kepadaku Ali bin Khasyram. Telah mengabarkan kepada kami : Al Hajjaj -(yaitu Ibnu Muhammad)- Dari Ibnu Juraij. Telah menceritakan kepadaku : Yunus bin Yusuf. Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata :

"Orang-orang berpencar dari hadapan [Abu Hurairah], lantas Natil As Syami …kemudian dia menyebutkan hadits tersebut seperti haditsnya Khalid bin Al Harits."
{HR. Muslim / Kitabu Al Ìmarati / Babu Man Qatala Lirriyaa'i Wa As Sum'ati Ìstahaqqa An Nara / No. 3638}


*🌴✍• Orang Yang Mati Dimedan Perang Namun Niatnya Hanya Mencari Dunia, Popularitas, Dan Biar Dianggap Gagah Berani Tetap Wajib Dimandikan Dan Dishalati Layaknya Orang Yang Bukan Syahid.*

*💾👌• جاء في كتاب حاشية قليوبي وعميرة في فقه الشافعية :*

نَعَمْ إنْ لَمْ يَكُنْ قَصْدُهُ إعْلَاءَ كَلِمَةِ اللَّهِ تَعَالَى، بَلْ تَحْصِيلَ الْكَسْبِ أَوْ الْمُفَاخَرَةَ، أَوْ لِيُقَالَ: إنَّهُ شُجَاعٌ مَثَلًا فَهُوَ وَشَهِيدٌ فِي الدُّنْيَا دُونَ الْآخِرَةِ فَهُوَ قِسْمٌ ثَالِثٌ. وَبَحَثَ بَعْضُهُمْ أَنَّهُ لَوْ عُلِمَ مِنْهُ ذَلِكَ وَجَبَ فِيهِ الْغُسْلُ، وَالصَّلَاةُ كَغَيْرِ الشَّهِيدِ فَرَاجِعْهُ.
{انظر كتاب حاشييتا  قليوبي وعميرة : ج ١ ص ٣٩٦ / كتاب الجنائز / فصل أركان صلاة الجنازة / فرع الولي أولى بإمامة الصلاة على الميت من الوالي / المؤلف: أحمد سلامة القليوبي وأحمد البرلسي عميرة / الناشر: دار الفكر - بيروت ،  ١٤١٥ هـ = ١٩٩٥ مـ}.

*🌴✍• Tersebut Dalam Kitab Hasyiyyah Qulyubiy Dan 'Amirah Dalam Fiqih Madzhab Imam Syafi'iy :*

Benar jikalau tujuannya bukan untuk menegakkan kalimat Allah Ta'ala, akan tetapi ingin mendapatkan pekerjaan atau ketenaran atau supaya dikatakan : sebagai orang yang pemberani umpamanya, maka dia mendapatkan titel syahid dunia bukan syahid akhirat dan itu menjadi bagian yang ketiga. Dan sebagian ulama' membahas bahwa jikalau diketahui tujuan dari jihadnya begitu (mencari dunia, popularitas, dan biar dikatakan pemberani), maka wajib baginya dimandikan, dan  dishalati layaknya orang yang mati bukan syahid. Maka tinjaulah ulang dirinya.
{Lihat Kitab Hasyiyyataa Qulyubiy Wa 'Amirah : juz 1 hal 396 / Kitabu Al Janaizi / Fashlun : Arkanu Shalati Al Jinazati / Cabang: Al Waliyyu Aula Biimamati Ash Shalati 'Ala Al Mayyiti Min Al Wali / Pengarang : Imam Ahmad Salamah Al Qulyubiy dan Ahmad Al Burlusiy 'Amirah / Dar Al Fikri - Beirut, Th. 1415 H = 1995 M}.


*G]• 💾📚 DEFINISI SYAHID AKHIRAT THOK (BUKAN SYAHID DIDUNIA) DAN PERAWATANNYA*

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa orang yang mati di selain medan jihad, namun beliau menggelarinya sebagai syahid. Berdasarkan riwayat hadits :

*📚🌴• Hadits Tentang Orang Yang Mati Karena Membela Hartanya Ia Syahid Akhirat Bukan Syahid Dunia.*

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ هُوَ ابْنُ أَبِي أَيُّوبَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو الْأَسْوَدِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ –ﷺ💞– يَقُولُ :

*_« مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ »_*
{رواه البخاري واللفظ له / كتاب المظالم / باب من قاتل دون ماله / رقم الحديث : ٢٣٤٨. ومسلم. والترمذي وقال : وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ}.

Telah menceritakan kepada kami : 'Abdullah bin Yazid. Telah menceritakan kepada kami : Sa'id, -(dia adalah anak dari Abu Ayyub), ia  berkata :  Telah menceritakan kepadaku : Abu Al Aswad. Dari 'Ikrimah. Dari [Abdullah bin 'Amru radliyyAllahu 'anhuma, beliau  berkata : aku mendengar Nabi –ﷺ💞–  bersabda:

*_"Siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid"._*
{HR. Bukhariy Teks Hadits Miliknya / Kitabu Al Madzolimi / Babu Man Qatala Duna Malihi / No. 2348. Dan  Muslim No. 1915. Dan Tirmidziy Dan Beliau Berkata : *INI ADALAH HADITS HASAN SHAHIH}.*


*📘🎙• قال العلامة المباركفوري رحمه الله تعالى في كتابه " تحفة الاحوذي شرح سنن الترمذي ":*

 قوله : ( من قتل دون ماله ) أي : عند دفعه من يريد أخذ ماله ظلما ، ( ومن قتل دون دمه ) أي : في الدفع عن نفسه ( ومن قتل دون دينه ) أي : في نصرة دين الله والذب عنه ( ومن قتل دون أهله ) أي : في الدفع عن بضع حليلته ، أو قريبته ( فهو شهيد ) ؛ لأن المؤمن محترم ذاتا ودما وأهلا ، ومالا فإذا أريد منه شيء من ذلك جاز له الدفع عنه فإذا قتل بسببه فهو شهيد قوله : ( هذا حديث حسن صحيح ) وأخرجه أحمد ، وأبو داود ، والنسائي .

*🎥✏• Al 'Alaamah Mubarakfuriy rahimahullahu ta'ala berkata didalam Kitabnya " Tuhfatu Al Ahwadzi Syarhu Sunan At Tirmidzi ":*

*Sabda Nabi : (Barangsiapa siapa terbunuh membela hartanya maka dia syahid)* maksudnya terbunuh ketika mempertahankan hartanya dari orang yang menginginkannya secara dzalim.

*Dan Sabda Nabi : (Barangsiapa  yang terbunuh karena mempertahankan  darahnya, maka dia syahid)* maksudnya terbunuh karena mempertahankan diri.

*Sabda Nabi : (Barangsiapa terbunuh karena membela agamanya, maka dia mati syahid)* maksudnya terbunuh karena menolong  agama Allah dan menegakkannya.

*Sabda Nabi : (Barangsiapa terbunuh karena membela keluarganya)* maksudnya dia terbunuh karena menjaga kemaluan istrinya dan kerabat - kerabatnya *(maka dia mati syahid)*, karena orang berimån itu dimuliakan jasadnya, darahnya,  keluarganya, dan hartanya, ketika sesuatu hal ingin merampasnya dari semua itu, maka diperbolehkan untuk mempertahankannya, ketika dia terbunuh dengan sebab itu, maka dia terhitung mati syahid.

*(Perkataan Abu 'Isa : Ini adalah Hadits Hasan Shahih)* Dikeluarkan juga oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Nasaa'i.
{Lihat Kitab Tuhfatu Al Ahwadzi Syarhu Sunan Tirmidzi / / 14 - Abwaabu Ad Diyaati / Babu Ma Ja'a Fiman Qutila Duna Malihi Fahuwa Shahiidun / No. 1421. Karya Al 'Alaamah Al Mubarakfuriy}.


*📚🌴• Dalam Hadist Lain Tentang Orang Yang Mati Karena Membela Hartanya, Dibunuh Karena Membela Keluarganya, Atau Karena Membela Darahnya, Atau Karena Membela Agamanya Maka Ia Juga Syahid Akhirat Bukan Syahid Dunia.*

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ وَسُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ يَعْنِي أَبَا أَيُّوبَ الْهَاشِمِيَّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَوْفٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ النَّبِيِّ –ﷺ💞– قَالَ :

*_« مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ أَوْ دُونَ دَمِهِ أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ»_*
{رواه ابو داود / كتاب السنة     / باب في قتال اللصوص / رقم الحديث : ٢٤٠٥}.

Telah menceritakan kepada kami : Harun bin Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami : Abu Dawud Ath Thayalisi dan Sulaiman bin Dawud -(maksudnya Sulaiman Abu Ayyub Al Hasyimi)- Dari Ibrahim bin Sa'd.  Dari Bapaknya. Dari Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir. Dari Thalhah bin Abdullah. Dari Sa'id bin Zaid. Dari Nabi –ﷺ💞–, beliau bersabda:

*_"Siapa yang dibunuh karena membela hartanya maka ia syahid, siapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka ia syahid, atau karena membela darahnya, atau karena membela agamanya maka ia syahid."_*
{HR. Abu Dawud / Kitabu As Sunnati / Babu Fi Qitali Al Lushuushi / No. 2405}.


*📚🌴• Hadits Senada Yang Lain Tentang Orang Yang Mati Karena Terkena Penyakit Tha'un  (Sampar, Pes, Pandemi Covid - 19 Sekarang), Mati Tenggelam,  Meninggal Karena Sakit Radang Selaput Dada,  Meninggal Karena Sakit Perut, Mati Karena Terbakar,  Dan Orang Yang Meninggal Terkena Reruntuhan, Serta Seorang Wanita Yang Meninggal Karena Melahirkan Mereka Juga Syahid Akhirat Bukan Syahid Dunia Selama Masih Dalam Keadaan Tidak Bermaksiat Kepada Ållah.*

حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ ، عَنْ مَالِكٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَابِرِ بْنِ عَتِيكٍ ، عَنْ عَتِيكِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ عَتِيكٍ ، وَهُوَ جَدُّ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَبُو أُمِّهِ ، أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَمَّهُ جَابِرَ بْنَ عَتِيكٍ ، أَخْبَرَهُ :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –ﷺ💞–  جَاءَ يَعُودُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ ثَابِتٍ ، فَوَجَدَهُ قَدْ غُلِبَ ، فَصَاحَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💚–، فَلَمْ يُجِبْهُ فَاسْتَرْجَعَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ❤–، وَقَالَ : غُلِبْنَا عَلَيْكَ يَا أَبَا الرَّبِيعِ ، فَصَاحَ النِّسْوَةُ ، وَبَكَيْنَ فَجَعَلَ ابْنُ عَتِيكٍ يُسَكِّتُهُنَّ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💙–:

*_«دَعْهُنَّ ، فَإِذَا وَجَبَ فَلَا تَبْكِيَنَّ بَاكِيَةٌ»_*

قَالُوا : وَمَا الْوُجُوبُ ؟ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ :

*_« الْمَوْتُ »_*

قَالَتِ ابْنَتُهُ : وَاللَّهِ إِنْ كُنْتُ لَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ شَهِيدًا ، فَإِنَّكَ كُنْتَ قَدْ قَضَيْتَ جِهَازَكَ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💞–:

*_« إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَوْقَعَ أَجْرَهُ عَلَى قَدْرِ نِيَّتِهِ ، وَمَا تَعُدُّونَ الشَّهَادَةَ ؟»_*

قَالُوا : الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💞– :

*_« الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ : الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ »_*
{رواه ابو داود / كِتَاب الْجَنَائِزِ / بَابٌ فِي فَضْلِ مَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ / حديث رقم : ٢٧٥٣}.

Telah menceritakan kepada kami : Al Qa'nabi. Dari Malik. Dari Abdullah bin Abdullah bin Jabir bin 'Atik. Dari 'Atik bin Al Harits bin 'Atik (ia adalah kakek Abdullah bin Abdullah ayah ibunya), bahwa ia telah mengabarkan kepadanya bahwa pamannya yaitu Jabir bin 'Atik telah mengabarkan kepadanya : 

Bahwa Rasulullah–ﷺ💞–  datang mengunjungi Abdullah bin Tsabit, lalu beliau mendapatinya telah parah sakitnya, kemudian Rasulullah–ﷺ💜– memanggilnya dan Abdullah tidak menjawab panggilan beliau. Lalu mengucapkan istirja' (INNAALILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI'UUN), beliau berkata:

*_"Taqdirmu telah mendahului kami wahai Abu Ar Rabi'!_*

kemudian para wanita berteriak dan menangis, lalu Ibnu 'Atik mendiamkan mereka. Kemudian Rasulullah –ﷺ💚–  bersabda:

*_"Biarkan mereka, seandainya ia telah 'wajab' maka janganlah ada seorang wanita yang menangis!"_*

Mereka bertanya; apakah 'wajab' itu wahai Rasulullah?

Beliau bersabda:

*_"Meninggal dunia."_*

Anak wanitanya berkata; demi Allah, sungguh aku berharap kamu (doa untuk sang ayah) menjadi orang yang syahid. Sungguh engkau telah menyelesaikan persiapan (perang) mu. Rasulullah –ﷺ💞– bersabda:

*_"Sesungguhnya Allah 'azza wajalla telah memberikannya pahala sesuai dengan niatnya. Apakah yang kalian anggap sebagai mati syahid?"_*

Mereka berkata; terbunuh di jalan Allah ta'ala. Rasulullah –ﷺ💙– bersabda:

*_"Mati syahid selain terbunuh di jalan Allah ada tujuh, yaitu: orang yang meninggal karena terkena penyakit tha'un (sampar, pes) adalah syahid, orang yang mati tenggelam adalah syahid, orang yang meninggal karena sakit radang selaput dada adalah syahid, orang meninggal karena sakit perut adalah syahid, orang yang terbakar adalah syahid, dan orang yang meninggal terkena reruntuhan adalah syahid, serta seorang wanita yang meninggal dalam keadaan hamil adalah syahid."_*
{HR. Abu Dawud / Kitabu Al Janaizi / Babu Fi Fadhli Man Mata Fi Ath Tha'uni / No. 2753. Dan *DISHAHIHKAN* Oleh Al-Albani Tokoh Wahhabiy}.


*📚🌴• الموت على عمل صالح | Mati Syahid Saat Melakukan Amal Shalih.*

Dalil yang menunjukan makna ia meninggal dalam kondisi ini, yaitu *Hadits Shahih*  dari Anas bin Malik RadhiyyAllahu ‘anhu :

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ ، أَخْبَرَنَا حُمَيْدٌ ، عَنْ أَنَسٍ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ ُ ﷺ💜 قَالَ :

*_« لَا عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ ، فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ عُمْرِهِ ، أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ ، بِعَمَلٍ صَالِحٍ ، لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ، ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا سَيِّئًا ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرٍ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ ، لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ، ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا صَالِحًا ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ »_*,

قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ ؟ ،

قَالَ : *_« يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ، ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ »._*
{رواه أحمد بن حنبل     /  مُسْنَدُ الْعَشَرَةِ الْمُبَشَّرِينَ بِالْجَنَّةِ / بَاقِي مُسْنَد المُكْثِرِينَ مِنَ الصَّحَابَةِ / مُسْنَدُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ / رقم الحديث: ١١٧٦٨}.

Telah menceritakan kepada kami : Yazid bin Harun,  berkata : Telah mengabarkan kepada kami : Humaid. Dari Anas, beliau  berkata; Rasulullah  ﷺ❤  bersabda:

*_"Janganlah kalian merasa kagum dengan seseorang hingga kalian dapat melihat akhir dari amalnya, sesungguhnya ada seseorang selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal kebaikan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk ke dalam surga, namun ia berubah dan beramal dengan amal keburukan. Dan sungguh, ada seorang hamba selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal keburukan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk neraka, namun ia berubah dan beramal dengan amal kebaikan. Jika Allah menginginkan kebaikan atas seorang hamba maka Ia akan membuatnya beramal sebelum kematiannya, "_*

Para sahabat bertanya; "Wahai Rasulullah, bagaimana Allah membuatnya beramal?"

Beliau bersabda: *_"Memberinya taufik untuk beramal kebaikan, setelah itu Ia mewafatkannya."_*
{HR. Ahmad / Musnad Al 'Asyrati Al Mubasysyiriina Bi Al Jannati / Baqi Musnad Al Muktsiriina Min Ash Shahabati / Hadits Anas bin Malik radliyyAllahu 'anhu / No. 11768. Dan Tirmidzi. Dan *DISHAHIHKAN* oleh Al Hakim dalam Mustadrak}.

*✍• Hadits Yang Senada.*

حَدَّثَنَا حَسَنٌ ، وَعَفَّانُ , قَالَا : حَدَّثَنَا حَمَّادُ بنُ سَلَمَةَ ، عَنْ عُثْمَانَ الْبتِّيِّ ، عَنْ نُعَيْمٍ ، قَالَ عَفَّانُ فِي حَدِيثِهِ : ابنِ أَبي هِنْدٍ ، عَنْ حُذَيْفَةَ ، قَالَ : أَسْنَدْتُ النَّبيَّ  ﷺ💓 إِلَى صَدْرِي ، فَقَالَ :

*_«مَنْ قَالَ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، قَالَ حَسَنٌ : ابتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ، خُتِمَ لَهُ بهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بهَا ، دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ تَصَدَّقَ بصَدَقَةٍ ابتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بهَا ، دَخَلَ الْجَنَّةَ»._*
{رواه أحمد بن حنبل     / مُسْنَدُ الْعَشَرَةِ الْمُبَشَّرِينَ بِالْجَنَّةِ / مُسْنَدُ الْأَنْصَارِ     / حَدِيثُ حُذَيْفَةَ بنِ الْيَمَانِ عَنِ النَّبيِّ صَلَّى الله عليه وسلم / رقم الحديث: ٢٢٧١٣. وقال الهيثمي في المجمع (2/324) : رواه أحمد وروى البزار طرفاً منه في الصوم فقط ورجاله موثقون " . ا . هـ . وقال المنذري في الترغيب (2/13), (1441) : رواه أحمد بإسناده ولا بأس به ، وقال الألباني في صحيح الترغيب (1/579)

Telah menceritakan kepada kami : Hasan dan 'Affan, keduanya berkata : Telah menceritakan kepada kami : Hammad bin Salamah. Dari 'Utsman Al Battiy. Dari Nu'aim. 'Affan berkata dalam haditsnya : Abi Hindin. Dari Hudzaifah radliyyAllahu 'anhu, beliau  berkata : Aku sandarkan Nabi ﷺ💘 ke dadaku lalu beliau  bersabda:

*_" Barang siapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah karena mencari ridha Allah, di tutup usianya dengan ucapan itu, ia masuk surga. Barang siapa yang berpuasa pada suatu hari karena mencari ridha Allah, di tutup usianya dengan puasanya itu, ia masuk surga dan barang siapa yang bershadaqah dengan satu shadaqah karena mencari ridha Allah, di tutup usianya dengan shadaqahnya itu, ia masuk surga."_*
{HR. Ahmad / Musnad Al 'Asyrati Al Mubasysyiriina Bi Al Jannati / Musnad Al Anshaari / Hadits Hudzaifah Bin Al Yaman 'An An Nabiyyi ShallAllahu 'Alaihimu Wa Sallama / No. 22713. Al Haitsamiy berkata : *PERAWI PERAWINYA TERPERCAYA*. Al Mundziri berkata : *SANADNYA TIDAK MENGAPA*. Dan Albaniy Tokoh Wahhabiy *MENSHAHIHKANNYA*}.

*✍• Hadits Yang Senada.*

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الحافظ ، نا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ ، نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ الصَّاغَانِيُّ ، نا حَسَنُ بْنُ مُوسَى الأَشْيَبُ ، نا حَمَّادٌ ، عَنْ عُثْمَانَ الْبَتِّيِّ ، عَنْ نُعَيْمِ بْنِ أَبِي هِنْدَ ، عَنْ حُذَيْفَةَ ، قَالَ : أَسْنَدْتُ النَّبِيَّ ﷺ💝 إِلَى صَدْرِي , فَقَالَ :

*_«مَنْ قَالَ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ صَلَّى صَلاةً ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ صَامَ  ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ»._*
{رواه البيهقي في كتابه الأسماء والصفات  /  بَابُ : مَا جَاءَ فِي إِثْبَاتِ الْوَجْهِ صِفَةً لا ... / رقم الحديث: ٦٦٤}.

Telah mengabarkan kepada kami : Abu 'Abdillah Al Hafidz. Telah menceritakan kepada kami : Telah menceritakan kepada kami : Abu Al 'Abbas Muhammad bin Ya'qub. Telah menceritakan kepada kami : Muhammad bin Ishaq Ash Shaghaaniy. Telah menceritakan kepada kami : Hasan bin Musa Al Asyyab. Telah menceritakan kepada kami : Hammad. Dari 'Utsman Al Battiy. Dari Nu'aim bin Abi Hindin. Dari Hudzaifah radliyyAllahu 'anhu, beliau  berkata :

Aku sandarkan Nabi ﷺ💙
ke dadaku lalu beliau bersabda:

*_"Barang siapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah karena mencari ridha Allah, di tutup usianya dengan ucapan itu, ia masuk surga. Barang siapa yang berpuasa pada suatu hari karena mencari ridha Allah, di tutup usianya dengan puasanya itu, ia masuk surga dan barang siapa yang bershadaqah dengan satu shadaqah karena mencari ridha Allah, di tutup usianya dengan shadaqahnya itu, ia masuk surga."_*
{HR. Baihaqiy Dalam Kitabnya Al Asmaa'u Wa Ash Shifatu / Babu Ma Ja'a Fi Itsbaati Al Wajhi Shifatu La ... / No. 664}.


*📚🌴• Hadits Yang Menjelaskan Orang Yang Mati Ketika Mencari Ilmu Ia Juga Syahid Akhirat Bukan Syahid Dunia.*


*📡🎙• قال الحافظ ابن عبد البر المالكي رحمه الله:*

‏ “من مات طالباً للعلم
فهو من علامات حسن الخاتمة”.

‏لأنه مات على طاعة عظيمة

Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr berkata:

Siapa yang mati dalam keadaan menuntut ilmu, maka ia berada dalam tanda husnul khatimah (mati yang baik) karena ia telah mati dalam ketaatan yang sangat besar.

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِسْحَاقَ الْمَخْرَمِيُّ ، ثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ بَكَّارٍ الضَّبِّيُّ ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْجَعْدِ الْقُرَشِيُّ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ💞 :

*_" مَنْ جَاءَ أَجَلُهُ وَهُوَ يَطْلُبُ الْعِلْمَ لَقِيَ اللَّهَ وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّبِيِّينَ إِلا دَرَجَةُ النُّبُوَّةِ " ،_*

لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنِ الزُّهْرِيِّ إِلا مُحَمَّدُ بْنُ الْجَعْدِ ، تَفَرَّدَ بِهِ الْعَبَّاسُ بْنُ بَكَّارٍ .
{رواه الطبراني في المعجم الأوسط / بَابُ الْيَاءِ    / مَنِ اسْمُهُ يَعْقُوبُ / رقم الحديث: ٩٦٨٨. وهذا الحديث ضعفه الألباني في السلسلة الضعيفة}.

Telah menceritakan kepada kami : Ya'qub bin Ishaq Al Makhrumiy. Telah menceritakan kepada kami : Al 'Abbas bin Bakkar Adl Dlobiyy. Telah menceritakan kepada kami : Muhammad bin Al Ja'di Al Qurasyiy. Dari Az Zuhriy. Dari 'Aliy bin Zaid bin Jud'an. Dari Sa'id bin Al Musayyib. Dari Ibnu 'Abbas,  beliau berkata : Rasulullah ﷺ💙 bersabda :

*_" Barangsiapa yang ajalnya datang dan dia dalam keadaan mencari ilmu, maka dia akan bertemu Allah,  dan tidak ada  diantaranya dan antara Para Nabi  kecuali derajat kenabian_*

Hadits ini tidak keluar dari Az Zuhriy, kecuali Muhammad bin Al Ja'di, Al 'Abbas bin Bakaar menyendiri denganya.
{HR. Thabaraniy Dalam Kitab Al Mu'jam Al Ausath / Babu Al Yaa'i / Man Ismuhu Ya'qub / No. 9688. Hadits Ini *DIDLO'IFKAN* oleh Al Albani yang Tokoh Wahhabiy dalam Al Silsilatu Adl Dlo'iifah}.

أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْمُؤْمِنِ ، نا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّد بْنِ عُثْمَانَ ، ثنا يَعْقُوبُ بْنُ سُفْيَانَ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ نُصَيْرٍ ، ثنا هِلالُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحَنَفِيُّ ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ مَوْلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، وَأَبِي ذَرٍّ ، قَالا :

بَابٌ مِنَ الْعِلْمِ يَتَعَلَّمُهُ أَحَبُّ إِلَيْنَا مِنْ أَلْفِ رَكْعَةٍ تَطَوُّعٍ ، وَبَابٌ مِنَ الْعِلْمِ يَتَعَلَّمُهُ عُمِلَ بِهِ أَوْ لَمْ يُعْمَلْ بِهِ ، وَقَالا : سَمِعْنَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ💞 يَقُولُ :

*_" إِذَا جَاءَ الْمَوْتُ طَالِبَ الْعِلْمِ وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ مَاتَ وَهُوَ شَهِيدٌ "._*
{رواه ابن عبد البر في كتابه  جامع بيان العلم وفضله / بَابٌ جَامِعٌ فِي فَضْلِ الْعِلْمِ / رقم الحديث: ١٦٨. وهذ الحديث ضعفه الألباني في الضعيفة أيضا}.

Telah mengabarkan kepada kami : 'Abdullaah bin Muhammad bin 'Abdul Mu'min. Telah menceritakan kepada kami : Al Hasan bin!  Muhammad bin 'Utsman. Telah menceritakan kepada kami : Ya'qub bin 'Utsman, ia berkata : Telah mengabarkan kepada kami : Al Hajjaj bin Nushair. Telah menceritakan kepada kami : Hilal bin 'Abdirrahman Al Hanafiy. Dari 'Atha` bin Abi Maimunah -(bekas budak Anas bin Malik)- Dari Abi Salamah. Dari Abi Hurairah. Dari Abi Dzar, keduanya berkata :

Bab ilmu dan mengajarkannya lebih baik dibandingkan shalat Sunnah 1000 raka'at, dan bab ilmu dangdut mengajarkannya baik diamalkan ataupun tidak diamalkan. Keduanya berkata :

Kami mendengar Rasulullah ﷺ💘 pernah bersabda :

*_" Ketika kematian datang kepada pencari ilmu, dan dia meninggal masih dalam keadaan tersebut, maka dia adalah syahid."_*
{HR. Ibnu Abdil Barr Dalam Kitabnya Jaami'u Bayani Al Ilmi Wa Fadllihi / Babu Jaami'un Fi Fadli Al 'Ilmi / No. 168. Dan hadits ini *DIDLO'IFKAN/DILEMAHKAN* oleh Albani Tokoh Wahhabiy}.


*📚🌴• Orang Yang Memohon Dengan Sungguh Sungguh Agar  Mati Syahid Walaupun Tidak Mati Syahid Ia Kelak Akan Mendapatkan Pahala Syahid Diakhirat Bukan Syahid Didunia.*

Termasuk orang yang mendapatkan pahala syahid adalah orang orang yang  memohon syahadah (mati dalam keadaan syahid) dengan sungguh-sungguh,  meskipun ia tidak mati syahid. Hal ini dijelaskan dalam riwayat hadits :

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ💓 :

*_«مَنْ طَلَبَ الشَّهَادَةَ صَادِقًا أُعْطِيَهَا وَلَوْ لَمْ تُصِبْهُ»_*
{رواه مسلم / كتاب الإمارة    / باب استحباب طلب الشهادة في سبيل الله تعالى / رقم الحديث : ١٩٠٨}.

Telah menceritakan kepada kami : Syaiban bin Farruh. Telah menceritakan kepada kami : Hammad bin Salamah. Telah menceritakan kepada kami : Tsabit. Dari Anas bin Malik, beliau  berkata : Rasulullah ﷺ💜  bersabda:

*_"Barangsiapa memohon syahadah (mati dalam keadaan syahid) dengan sungguh-sungguh, maka sungguh ia akan diberi pahala seperti pahala mati syahid meskipun ia tidak mati syahid."_*
{HR. Muslim / Kitabu Al Imarati / Babu Istihbaabi Thalbi Asy Syahadati Fi Sabilillaahi Ta'ala / No. 1908}.

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى وَاللَّفْظُ لِحَرْمَلَةَ قَالَ أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا و قَالَ حَرْمَلَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أَبُو شُرَيْحٍ أَنَّ سَهْلَ بْنَ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ : أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ💚 قَالَ :

*_«مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ»_*

وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو الطَّاهِرِ فِي حَدِيثِهِ بِصِدْقٍ
{رواه مسلم / ٣٣ - كتاب الإمارة / ٤٦ - باب استحباب طلب الشهادة في سبيل الله تعالى / رقم الحديث : ١٩٠٩}.

Telah menceritakan kepadaku : Abu At Thahir dan Harmalah bin Yahya dan ini adalah lafadz Harmalah, Abu At Thahir berkata; Telah mengabarkan kepada kami, sedangkan Harmalah mengatakan; Telah menceritakan kepada kami : 'Abdullah bin Wahb. Telah menceritakan kepadaku Abu Syuraikh bahwa Sahl bin Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif. Telah menceritakan kepadanya dari Ayahnya. Dari Kakeknya, bahwa Nabi ﷺ💙  bersabda:

*_"Barangsiapa mengharapkan mati syahid dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengangkatnya sampai ke derajat para syuhada' meski ia meninggal dunia di atas tempat tidur."_*

Dan dalam hadits yang diriwayatkan Abu At Thahir tidak menyebutkan :  'Dengan sungguh-sungguh.'
{HR. Muslim / 33 - Kitabu Al Imarati / 46 - Babu Istihbaabi Thalbi Asy Syahadati Fi Sabilillaahi Ta'ala / No. 1909}.

*📒🎙• قال الإمام النووي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " المنهاج شرح صحيح مسلم ":*

مَعْنَى الرِّوَايَةِ الْأُولَى مُفَسَّرٌ مِنَ الرِّوَايَةِ الثَّانِيَةِ وَمَعْنَاهُمَا جَمِيعًا أَنَّهُ إِذَا سَأَلَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ أُعْطِيَ مِنْ ثَوَابِ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ كَانَ عَلَى فِرَاشِهِ وَفِيهِ استحباب سؤال الشهادة واستحباب نية الخير.
{انظر كتاب المنهاج على ڜرح صحيح مسلم / ٣٣ - كتاب الإمارة / ٤٦ - باب استحباب طلب الشهادة في سبيل الله تعالى / رقم الحديث : ١٩٠٩. للإمام النووي الشافعي}.

*💝🎤• Berkata Imam Nawawi Asy Syafi'iy  rahimahullahu ta'ala dalam Kitabnya Al Minhaj 'Ala Sgarhi Shahih Muslim :*

“Arti riwayat pertama dijelaskan dengan riwayat kedua. Arti keduanya adalah kalau dia memohon syahadah dengan jujur, akan diberi pahala syahadah meskipun (meninggal) di atas ranjang. Di dalamnya ada anjuran memohon syahadah dan dianjurkan niatan baik.”
{Lihat Kitab Al Minhaj 'Ala Syarhi Shahih Muslim : juz 13 hal 55 / Muslim / 33 - Kitabu Al Imarati / 46 - Babu Istihbaabi Thalbi Asy Syahadati Fi Sabilillaahi Ta'ala / No. 1909. Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy}.

*💜✍• Hadits Yang Senada.*

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ خَالِدٍ أَبُو مَرْوَانَ وَابْنُ الْمُصَفَّى قَالَا حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ عَنْ ابْنِ ثَوْبَانَ عَنْ أَبِيهِ يُرَدُّ إِلَى مَكْحُولٍ إِلَى مَالِكِ بْنِ يُخَامِرَ أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ حَدَّثَهُمْ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ💙 يَقُولُ :

*_«مَنْ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فُوَاقَ نَاقَةٍ فَقَدْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ وَمَنْ سَأَلَ اللَّهَ الْقَتْلَ مِنْ نَفْسِهِ صَادِقًا ثُمَّ مَاتَ أَوْ قُتِلَ فَإِنَّ لَهُ أَجْرَ شَهِيدٍ »_*

زَادَ ابْنُ الْمُصَفَّى مِنْ هُنَا وَمَنْ جُرِحَ جُرْحًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ نُكِبَ نَكْبَةً فَإِنَّهَا تَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَغْزَرِ مَا كَانَتْ لَوْنُهَا لَوْنُ الزَّعْفَرَانِ وَرِيحُهَا رِيحُ الْمِسْكِ

وَمَنْ خَرَجَ بِهِ خُرَاجٌ فِي سَبِيلِ اللَّهَ فَإِنَّ عَلَيْهِ طَابَعَ الشُّهَدَاءِ.
{رواه أبو داود /  كتاب الجهاد    / باب فيمن سأل الله تعالى الشهادة / رقم الحديث : ٢٥٤١، واللفظ له.  والترمذي (١٦٥٣) وقال حسن صحيح . وصححه ابن دقيق العيد في " الاقتراح " (ص : ١٢٣) والألباني الوهابي في " صحيح أبي داود "}.

Telah menceritakan kepada kami : Hisyam bin Khalid Abu Marwan, dan Ibnu Al Mushaffa,  mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami : Baqiyyah. Dari Ibnu Tsauban. Dari Abu, dan dikembalikan kepada Makhul,  kepada Malik bin Yukhamir, bahwa Mu'adz bin Jabal, telah menceritakan kepada mereka bahwa ia telah mendengar Rasulullah ﷺ❤ bersabda :

*_" Barangsiapa yang berperang di jalan Allah di atas unta maka telah wajib Surga baginya, dan barang siapa yang memohon kepada Allah agar terbunuh dengan niat yang benar, kemudian ia meninggal atau terbunuh maka baginya pahala orang yang mati syahid."_*

Ibnu Al Mushaffa menambahkan dari sini; dan barangsiapa yang terluka di jalan Allah, atau tertimpa musibah maka sesungguhnya musibah tersebut akan datang pada Hari Kiamat seperti darah yang paling deras, warnanya adalah warna za'faran dan baunya adalah bau minyak kasturi. Barangsiapa yang padanya keluar bisul di jalan Allah maka sesungguhnya padanya terdapat stempel sebagai orang syahid.
{HR. Abu Dawud / Kitabu Al Jihadi / Babu Fi Man Sa'alAllaaha Asy Syahadata / No.  (2541), dan lafadz hadits miliknya. Dan  Tirmizi, (no. 1653) dan mengatakan :  *Hasan Shohih.* Dan *dinyatakan shohih* oleh Ibnu Daiqiqul Id di ‘Al-Iqtiroh : hal/123. Dan Al-Albany Tokoh Wahhabiy *MENSHAHIHKANNYA* di Shoheh Abi Dawud}.


*💾🌴• Mereka digelari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai syahid, namun jenazahnya disikapi sebagaimana jenazah kaum muslimin pada umumnya. Artinya tetap wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan.

Para ulama mengistilahkan dengan syahid akhirat. Di akhirat dia mendapat pahala syahid, namun di dunia dia ditangani sebagaimana umumnya jenazah.


*💾📚• Ketika mejelaskan hadist​ daftar orang yang mati syahid selain di medan jihad, Al-Hafidz Al-Ainiy Al Hånåfiy rahimahullAhu ta'ala mengatakan :*

فهم شُهَدَاء حكما لَا حَقِيقَة، وَهَذَا فضل من الله تَعَالَى لهَذِهِ الْأمة بِأَن جعل مَا جرى عَلَيْهِم تمحيصاً لذنوبهم وَزِيَادَة فِي أجرهم بَلغهُمْ بهَا دَرَجَات الشُّهَدَاء الْحَقِيقِيَّة ومراتبهم، فَلهَذَا يغسلون وَيعْمل بهم مَا يعْمل بِسَائِر أموات الْمُسلمين.
{انظر كتاب عمدة القاري شرح صحيح البخاري : ج ١٤ ص ١٢٨ / كتاب الوصايا / باب الشهادة سبع سوى القتل / للعلامة أبو محمد محمود بن أحمد بن موسى بن أحمد بن حسين الغيتابى الحنفى بدر الدين العينى (المتوفى: ٨٥٥ هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت ، بدون السنة}.

“Mereka mendapat gelar syahid secara status, bukan hakiki. Dan ini karunia Allah untuk umat ini, dimana Dia menjadikan musibah yang mereka alami (ketika mati) sebagai pembersih atas dosa-dosa mereka, dan ditambah dengan pahala yang besar, sehingga mengantarkan mereka mencapai derajat dan tingkatan para syuhada hakiki. Karena itu, mereka tetap dimandikan, dan ditangani sebagaimana umumnya jenazah kaum muslimin.”
{Lihat Kitab 'Umdatu Al Qari Syarh Shahihv Bukhari : juz 14 hal 128 / Kitabu Al Washaya / Babu Asy Syahaadati Sab'un Siwa Al Qatli / Karya Imam Badruddin Al 'Ainiy Al Hånåfiy / Dar Ìhya' At Turats Al 'Arabiy - Beirut , Tnp. Tahun}.


*💾🌴• وقال الإمام  ابن أبي زيد المالكي رحمه الله تعالى في كتابه  الرسالة:*

ولا يغسل الشهيد في المعترك ولا يصلى عليه ويدفن بثيابه ـ

قال شراحه: وهو من مات بسيف القتال مع الكفار في وقت قيام القتال، ومثل الموت بالسيف لو داسته الخيل فمات، أو سقط عن دابته أو حمل على العدو فتردى في بئر، أو سقط من شاهق..

قال مالك: أما من قتل مظلوما أو قتله اللصوص في المعترك أو مات بغرق أو هدم فإنه يغسل ويصلى عليه،

قال ابن القاسم: وكذلك إن قتله اللصوص في دفعه إياهم.
{انظر كتاب الرسالة : ص ٥٤ / باب ما يفعل بالمحتضر وفي غسل الميت / للإمام أبو محمد عبد الله بن (أبي زيد) عبد الرحمن النفزي، القيرواني، المالكي (المتوفى: ٣٨٦ هـ) / الناشر: دار الفكر - بدون السنة}.

*💾🌴• Imam Ibnu Abi Zaid Al Malikiy​ rahimahullAhu ta'ala dalam Kitabnya Ar Risalah Berkata :*

Syahid dalam berkecamuknya perang tidak wajib dishalati, dan dikuburkan bersama pakaian - pakaiannya

Pensyarah berkata penjelasannya : yaitu orang yang mati terkena pedang saat bertempur bersama orang kafir ketika berkecamuknya perang, dan semisal mati terkena pedang , yakni apabila  terinjak - injak unta hingga tewas, atau terjatuh dikedaraannya, atau ditawan musuh kemudian dilemparkan kedalam sumur, atau terjatuh dari tebing yang tinggi,

Imam Malik berkata :; adapun orang yang terbunuh karena kedzaliman atau para pencuri/perampok  membunuhnya dalam kancah pertarungan, atau mati tenggelam, atau mati tertimpa benda keras, maka ia tetap wajib dimandikan dan dishalati.

Imam Ibnu Al Qasim berkata : begitu juga (wajib dimandikan, dishalati) apabila para  pencuri/perampok  membunuhnya karena mempertahankan jiwanya dari serangan mereka.
{Lihat Kitab Ar Risalah : hal 54 / Babu Ma Yuf'alu Bilmukhtadliri Wa Fi Ghusli Al Mayyiti / Karya Imam Abi Zaid Al Qairawaniy Al Malikiy / Dar Al Fikri - Tnp. Tahun}.


*H]• 📚🌴 PENYEBAB SU'UL KHOTIMAH.*


*📗✏• قال  الحافظ ابن كثير الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " البداية والنهاية ":*

«إن الذنوب والمعاصي والشهوات تخذل صاحبها عند الموت ، مع خذلان الشيطان له، فيجتمع عليه الخذلان مع ضعف الإيمان، فيقع في سوء الخاتمة،
{انظر كتاب البداية والنهاية : ج ٩ ص ١٨٤ / ثم دخلت سنة ست وتسعين وفيها فتح قتيبة بن مسلم رحمه الله تعالى كاشغر (١) من أرض الصين وبعث إلى ملك الصين رسلا (٢) يتهدده ويتوعده ويقسم بالله لا يرجع حتى يطأ بلاده ويختم ملوكهم وأشرافهم، ويأخذ الجزية منهم أو يدخلوا في الاسلام. فصل / للإمام الحافظ أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي البصري ثم الدمشقي الشافعي (المتوفى: ٧٧٤ هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي الطبعة: الأولى ١٤٠٨ هـ = ١٩٨٨ مـ}

*🌴🎙• Imam Ibnu Katsir Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala berkata dalam Kitabnya " Al Bidahah Wa An Nihayah ":*

“Dosa-dosa, maksiat dan syahwat kelak akan menghianati pemiliknya ketika maut datang bersamaan dengan penghiatan syaithon kepadanya. Sehingga berkumpullah pada diri orang tersebut 2 penghiatan plus lemahnya iman. Sehingga jatuhlah dia pada su’ul khotimah”
{Lihat Kitab Al Bidayah wa An Nihayah : juz 9 hal. 148 / Tsumma Dakholat Sittata Sittin Wa Tis'ina Wa Fiha Fathu Qutaibah Bin Muslim  rahimahullAhu Ta'ala .... / Karya Imam Al Hafidz Ibnu Katsir Asy Syafi'iy / Dar Ìhya' At Turats Al 'Arabiy , Cet. Pertama , Th. 1408 H = 1988 M}.


*💾🖊• قال الإمام ابن حجر العسقلاني الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " فتح الباري شرح صحيح البخاري " :*

قَالَ بن بَطَّالٍ : فِي تَغْيِيبِ خَاتِمَةِ الْعَمَلِ عَنِ الْعَبْدِ حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ وَتَدْبِيرٌ لَطِيفٌ لِأَنَّهُ لَوْ عَلِمَ وَكَانَ نَاجِيًا أُعْجِبَ وَكَسِلَ وَإِنْ كَانَ هَالِكًا ازْدَادَ عُتُوًّا فَحُجِبَ عَنْهُ ذَلِكَ لِيَكُونَ بَيْنَ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ.
{انظر كتاب فتح الباري  صحيح البخاري : ج ١١ ص ٣٣٠ / ٨١ - كتاب الرقاق / باب: الأعمال بالخواتيم، وما يخاف منها / رقم الحديث : ٦٤٩٣ / للإمام ابن حجر العسقلاني الشافعي / الناشر: دار المعرفة - بيروت، ١٣٧٩ هـ}.

*📘🖌• Imam Ibnu Hajar Al 'Asqalaniy Asy Syafi'iy rahimahullAhu ta'ala dalam Kitabnya Fathu Al Baari Syarhu Shahih Bukhariy :*

‘Ibnu Baththol (Al Malikiy)  rohimahullAhu ta'ala mengatakan : 

“Dirahasiakanya akhir amalan seorang hamba terkandung padanya hikmah yang besar dan merupakan sebuah pengaturan yang sarat hikmah. Sebab, jika seseorang telah mengetahui bahwa dia adalah orang yang berhasil, selamat maka dia akan menjadi ujub dan malas. Sebaliknya jika dia telah mengetahui bahwa dia adalah orang yang celaka maka dia akan tambah membangkang. Oleh karena itulah dirahasiakan agar seseorang berada pada kondisi diantara takut dan harap”
{Lihat Kitab Fathul Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy : juz 11  hal 330 / 81 - Kitabu Ar Riqaaq / Babu Al A'maali Bi Al Khawatimi Wa Ma Yukhaafu Minhaa / No. 6493 / Karya Ibnu Hajar Al 'Asqalaniy Asy Syafi'iy / Terbitan Dar Al Ma'rifah - Beirut, Th. 1379 H}.


*📚🎙• قال الإمام ابن قدامة المقدسي الحنبىي رحمه الله تعالى في كتابه " مختصر منهاج القاصدين ":*

وإذا عرفتَ معنى سوء الخاتمة؛ فاحذرْ أسبابَها، وأَعِدَّ ما يصلح لها، وإيَّاك والتَّسويف بالاستعداد؛ فإنَّ العمرَ قصيرٌ، وكلَّ نَفَسٍ مِن أنفاسك بمنزلة خاتمتِكَ؛ لأنه يُمْكن أنْ تُخطَف فيه رُوحُكَ، والإنسان يموت على ما عاش عليه، ويُحْشَرُ على ما مات عليه.
{انظر كتاب مختصر منهاج القاصدين صـ ٣٩٣ / الربع الرابع: ربع المنجيات / كتاب التوبة وذكر شروطها وأركانها وما يتعلق بذلك / كتاب الرجاء والخوف الشطر الثاني من الكتاب (٨) ـ ذكر خوف الملائكة عليهم السلام  / للإمام نجم الدين، أبو العباس، أحمد بن عبد الرحمن بن قدامة المقدسي (المتوفى: ٦٨٩ هـ) /  الناشر: مكتَبَةُ دَارِ البَيَانْ، دمشق عام النشر: ١٣٩٨ هـ = ١٩٧٨ مـ}.

*🍒✍• Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy rahimahullAhu ta'ala mengatakan, dalam Kitabnya " Mukhtashar Minhaju Al Qashidin ":*

“Jika engkau telah mengetahui makna su’ul khotimah, maka jauhilah sebab-sebabnya, persiapkanlah hal-hal yang dapat memperbaikinya serta waspadalah dari menunda-nunda persiapan kematian karena umur itu sungguh singkat. Setiap tarikan nafasmu layaknya akhir hidupmu karena boleh jadi ruh dicabut pada saat itu. Seluruh manusia akan diwafatkan pada kondisi yang dia terbiasa dengannya. ```Kelak akan dibangkitkan sesuai kondisi dia diwafatkan”.```
{Lihat Kitab Mukhtashar Minhaju Al Qashidin : hal 393 / Ar Rab'u Ar Rabi'u / Kitabu At Taubati Wa Dzikru Syauruthiha ... / Kitabu Ar Raja' Wa Al Khaufi ... /  Karya Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy / Maktabah Dar Al Bayan - Damaskus , Th. 1398 H = 1978 M}.

جمعها ورتبها " طالب العلم " محمد عبد الحكيم الجاوي

Selesai, Rabu wage MTsN 1 Magelang :

٧ محرّم ١٤٤٢ هـ
٢٦ اغسطس ٢٠٢٠ مـ

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BAGAIMANAPUN BENTUKNYA VAGINA RASANYA TUNGGAL (1) BAHASA ALAM AKHIRAT (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA KHUSUS (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DSB) (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAHARU (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) INOVASI BID'AH OLEH ULAMA' YANG DITUDUH MEMBID'AH BID'AHKAN (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KAJIAN TINGKEPAN NGAPATI MITONI KEHAMILAN (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TABKHIR EMBAKAR DUPA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA HAJAT TERCAPAI SEMBELIHLAH SYAHWAT DAN MENDEKATLAH KEPADA ALLAH (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KUFUR AKIBAT MENCELA NASAB KETURUNAN (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMBELI KITAB ULAMA' MENARIK RIZQI DAN KEKAYAAN (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SEMBELIHAN (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAHALLUL CUKUR GUNDUL ATAU POTONG RAMBUT SELESAI HAJI DAN UMROH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TIDAK PERLU TEST DNA SEBAGAI BUKTI DZURRIYYAH NABI -ﷺ- (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top