Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label PERAWATAN JENAZAH BAG VI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERAWATAN JENAZAH BAG VI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juli 2018

*📚✒ ŖÄLÄH §ÌñGKÄT MÈñGÚRÚ§ JÈñÄZÄH MÈñÚRÚT QÚR'Äñ HÄÐÌT§ LÌñTħ MÄÐZHÄß ÐÄñ ÄÐÄT JÄWÄ ♻💞*

*📚✒ ŖÄLÄH §ÌñGKÄT MÈñGÚRÚ§ JÈñÄZÄH MÈñÚRÚT QÚR'Äñ HÄÐÌT§ LÌñTħ MÄÐZHÄß ÐÄñ ÄÐÄT JÄWÄ ♻💞*

 *📚✒مُخْتٙصٙرُ الرِّسٙالٙةِ فِيْ تٙجْهِيْهِ الْجٙنٙازٙةِ عِنْدٙ الْقُرْأٓنِ وٙالسُّنّٙةِ وٙالْمٙذٙاهِبِ وٙعٙادٙةِ الْجٙاوٙةِ |  Ŕì§äĹäĤ §ìñĞĶäŤ МèñĞúŔú§ ĴèñäŹäĤ МèñúŔúŤ QúŔ'äñ ĤäðìŤ§ ĹìñŤä§ МäðŹĤäß ðäñ äðäŤ ĴäŴä ✍📓*

KANTOR MWC NU KEC. SRUMBUNG
Oleh : Muhammad Abdul Hakim &  Team
Edisi revisi : Jum'at pahing, 16 Februari 2018 M | 30 Jumadil Awwal 1439 H


*📚DΛFTΛЯ ISI*

*📚 BAG VI*

*📚✍VI• PΣЯΛЩΛTΛП JΣПΛZΛΉ.*

📌• Kata pengantar ...
📌• Sekapur sirih ...


*📚 BAG VI*

*📚✍VI• PΣЯΛЩΛTΛП JΣПΛZΛΉ.*

*A)• 💾👉Wajib Mengurus Jenazah Manusia*


*B)• 💾👉Perbedaan Pendapat Tentang Hukum  Mengambil Upah Dari Mengurus Jenazah.*


*C)• 💾👉 Mengurus  Potongan Jenazah, korban Kebakaran،  Korban Mutilasi, Jasadnya Hancur, Dll.*


*1⃣ Perawatan Korban Mutilasi Menurut Madzhab Abi Hanifah rahimahullahu ta'ala.*

*ì)• 🌴👉 Cara Mengurus  Potongan Tubuh Mayit, Seperti Tangan Atau Kaki, Atau Kepala Saja.*

*ii)• 🌴👉 Cara Mengurus  Potongan Tubuh Mayat Yang Lebih Utuh.*

*iii)• 🌴👉 Cara Mengurus Mayat Yang Terbelah Memanjang Separoh, Dan Ditemukan Hanya Separohnya.*


*2⃣• Perawatan Korban Mutilasi Menurut Madzhab Imam Malik rahimahullahu ta'ala :*

*3⃣• Perawatan Korban Mutilasi Menurut Madzhab Imam Syafi'iy rahimahullahu ta'ala :*

*ì)•✍ Cara Mengurusi Mayyit Selain Syahid Dan Orang Yang Mati Sedang Ihram.*

*ii)• Cara Mengurusi Janazah Dalam Keadaan Rusak Karena Terbakar Atau Yang Lainnya.*

*iii)• Cara Mengurus Bagian Potongan Tubuh Dari Janazah Orang Muslim.*

*iv)• Cårå Mengurus Bayi Prematur (Kluron : Jawa)  Atau Keguguran.*

*💓👉• Cara mengurus jenazah bayi yang lahir keguguran.*

*👉    Sunnah memberi nama anak yang keguguran  tersebut :*

*v)• Cara Mengurus Bayi Anak Kecil*

*👉 Diwajibkan menshalati jenazah anak-anak yang mati sebelum berumur baligh. Meskipun kematiannya langsung setelah melahirkan.*

*👉• Boleh Mengaqiqahi Bayi Yang Mati :*


*4⃣• Perawatan Kurban Mutilasi Dan Yang Lainnya Menurut Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal.*

*5⃣• Perawatan Kurban Mutilasi Dan Sejenisnya Menurut  Madzhab Dawud Adz Dzahiriy.*

*6⃣• Perawatan Kurban Mutilasi, Sebab Diamputasi, Dan Lainnya Menurut Harakah Wahhabiy :*


*D)• 💾✍ Cara Mengurus Mayyit Orang Waria/Banci/Bencong/Wandi.*

*1.       Jika Khuntsa (Waria/Banci) masih kecil maka yang memandikan boleh di lakukan oleh orang laki-laki dan juga boleh orang  orang perempuan.*

*2.       Jika Khuntsa dewasa maka ada dua wajah pendapat  :*

*ii]• Hukum Laki Laki  Dan Wanita Menyentuh Waria, Banci, Dan Mukhannats.*


*💾🌹• Definisi Perincian  Hukum Khuntsa/Waria Secara Singkat :*

*[i]• 👌Pengertian Khuntsa*

*[ii]• 👌Pembagian Khuntsa*

*[iii]• 👌Hukum – hukum Khuntsa*

*1. 💝 Khuntsa yang dihukumi (digolongkan) perempuan:*

*2. 💖 Khuntsa yang dihukumi (digolongkan) pria:*

*3. 💞 Khunsta Musykil.*

*[iv]• 👌Catatan :*

*_1.Bila dalam kitab fiqh disebutkan lafadl “al-Khuntsa” maka yang dimaksud adalah Khuntsa musykil._*

*_2.Hampir keseluruhan bab fiqh Khuntsa Musykil diposisikan sebagai wanita untuk tujuan Ihtiyath (hati-hati) diantaranya:_*

*_3.Khuntsa mempunyai hukum khusus dalam beberapa masalah. Diantaranya:_*

*1⃣• Perawatan Mayyit Waria/Banci/Transgender Menurut Pengikut Madzhab Abi Hanifah rahimahullahu Ta'ala :*

*2⃣• Perawatan Mayyit Waria/Banci/Transgender Menurut Pengikut Madzhab Imam Malik rahimahullahu ta'ala.*

*3⃣• Perawatan Mayyit Waria/Banci/Transgender Menurut Pengikut Madzhab Imam Syafi'iy rahimahullahu ta'ala.*

*4⃣• Perawatan Mayyit Waria/Banci/Transgender Menurut Pengikut Madzhab Imam Ahmad.*


*E)• 💾✍ Cara Mensucikan Anggota Badan Yang Terpisah Atau Bertambah*

*i)• 👌Cara Mensucikan Anggota Tubuh Yang Terpotong/Putus.*

*_a• Menurut Kalangan Pengikut Madzhab Abi Hanifah._*

*_b• Menurut Kalangan Pengikut Madzhab Imam Malik._*

*_c• Menurut Kalangan Pengikut Madzhab Imam Syafi'iy._*

*♻• Satu kali mandi junub bisa diperuntukkan untuk haid, keluar mani dan/atau jimak dan wudhu sekaligus.*

*_d• Cara Mensucikan Anggota Yang Terpotong, Terluka, Diperban Menurut Imam Ahmad Rahimahullahu Ta'ala._*


*_e• Cara Me sucikan Luka Yang Tidak Mungkin Dibasuh Stau Diusap Menurut Harakah Wahhabiy._*

*ii)• 👌Hal Hal Yang Mungkin Terjadi Setelah Mandi Besar Atau Memandikan Mayyit Dan Setelah Berwudlu', Tayammum Atau  Mewudlu'kan, Mentayammumi  Mayyit.*

*_1⃣• Menghilangkan Perkara Yang Menghalangi Air Sampai Pada Kulit Anggota Mandi Besar dan Wudlu'._*

*_2⃣• Muntah/Mengeluarkan Isi Perut Tidak Membatalkan Wudlu'nya Orang Hidup Atau Yang Sudah Mati._*

*_3⃣• Hukum Keluarnya Madzi, Wadzi Dari Penis Pria Dan Cairan Keputihan Dari Vagina Wanita Baik Yang Masih Hidup Ataupun Sudah Mati._*

*iii)• 👌Cara Mensucikan Anggota Badan Yang Bercabang Atau Bertambah Bagi Yang Masih Hidup Atau Sudah Mati.*

*_1⃣• Menurut Madzhab Imam Abu Hanifah Rahimahullahu Ta'ala :_*

*_2⃣• Menurut Madzhab Imam Malik Rahimahullahu Ta'ala :_*

*_3⃣• Menurut Madzhab Imam Syafi'iy Rahimahullahu Ta'ala :_*

*_4⃣• Menurut Madzhab Imam Ahmad Rahimahullahu Ta'ala :_*


*📚✍• ΚΛTΛ PΣПGΛПTΛЯ*

السلام عليكم و رحمة الله وبركاته

حٙامِدًا لِلّٰهِ تٙبٙارٙكٙ وٙتٙعٙالٙى وٙمُصٙلِّيًا عٙلٙى رٙسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ💚 أٙمّٙا بٙعْدُ :

Sebagai orang yang selalu memuji kepada Allah, dan selalu membacakan shalawat atas Rasulillah ﷺ💞, setelah mengucapkan semua itu :

Kami dengan segenap kerendahan hati dan segala kekurangan, kami nukil dan susun risalah ini dengan maksud dan  tujuan menyebarkan sedikit wacana ilmu yang kami miliki dan berdakwah untuk kemaslahatan ummat yang hiterogen dengan  ilmu dan amal yang berbeda beda sehingga diharapkan bisa saling mengerti, saling mengisi,  dan menghargai satu dan yang lainnya sehingga tidak terjadi perdebatan atau permusuhan yang tidak ada gunanya.

Kiranya kami cukupkan sekian pengantar kami semoga risalah ini bisa diterima dikalangan manapun dari kalangan zaman  old (lama) dan kalangan zaman now (sekarang). Atas perhatiannya kami haturkan terimakasih.

والسلام عليكم و رحمة الله وبركاته

طالب العلم
محمد عبد الحكيم الماجلانجي



*📚✍• SΣΚΛPЦЯ SIЯIΉ*

السلام عليكم و رحمة الله وبركاته

حٙامِدًا لِلّٰهِ تٙبٙارٙكٙ وٙتٙعٙالٙى وٙمُصٙلِّيًا عٙلٙى رٙسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ💖 أٙمّٙا بٙعْدُ :

Kami haturkan terima kasih kepada yang mulia Murabbi Arwaahana KHM. Suja'i Mashduqi, *_dan Kami khususkan  Mitsil Pahalanya, Pahala Orang Yang Membacanya dan Yang Menggunakannya  kepada  Almarhumah Ibu Ny. Hajjah Nasyi'ah tercinta yang  telah meninggalkan kami baru-baru ini, dan bagi semua saudaraku  santri atau alumni Yayasan Pon. Pes. As Sålåfìyyåh yang sudah tiada_*, beserta keluarga  selaku Pengasuh  Yayasan Ma'had As Sålåfìyyåh  Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta.

Terima kasih kepada Murobbi Arwaahana Abina KHM. Ihya' Ulumuddin Suhari dan Dua Ummina kami tercinta beserta keluarga  selaku Pengasuh Ma'had  Pengembangan dan Dakwah Nurul Haromain Jl. Brigjen Abdul Manan Wijaya 141 Ngroto Pujon Malang Jatim.

Kami haturkan terima kasih kepada Teman dan Sahabat kami Raden Mas Ronggo Panuntun sebagai pembimbing Ilmu Hakikat kami beserta keluarga tercinta. Tidak lupa kami haturkan terima kasih kepada sanak saudara sahabat, orang orang yang berjasa dalam tersusunnya risalah ini, dan juga handai taulan dimana saja berada sehingga dengan segala kekurangannya tersusunlah buku ini.

Kritik dan saran yang membangun  selalu kami nantikan agar dapat memberikan semangat kepada kami, menjadi motivasi bagi kami, dan kami bisa  menghasilkan susunan rangkuman ilmu dan teori amaliyyah yang bisa diterima dikalangan manapun. Atasv perhatian dan kritiknya kami haturkan terima kasih.


والسلام عليكم و رحمة الله وبركاته

طالب العلم
محمد عبد الحكيم الماجلانجي






📚 BAG VI*

*📚✍VI• PΣЯΛЩΛTΛП JΣПΛZΛΉ.*

*A)• 💾👉Wajib Mengurus Jenazah Manusia*


*💾✍• وذكر في كتاب الفقه الميسر :*

يجب تغسيل الميت المسلم، إلا أن يكون شهيداً مات في المعركة فإنه لا يغسل ولا يصلّى عليه، بل يدفن في ثيابه، لأن النبي ﷺ💞 لم يغسل قتلى أحد ولم يصل عليهم.

 يحرم على المسلم أن يغسل الكافر أويكفنه أويدفنه , إلا إذا لم يوجد أحد من أقربائه يتولى ذلك فإنه يؤتى به [ بجثته

Wajib memandikan mayyit, kecuali apabila dia mati syahid dimedan pertempuran , dia tidak dimandikan , tidak dishalatkan, akan tetapi langsung  dikuburkan bersamaan dengan pakaiannya, dan karena Nabi ﷺ💚 juga tidak memandikan para syuhada' yang gugur diperang Uhud dan beliau tidak menyolati mereka.

Dan *```HARAM*``` orang Islam apabila memandikan orang kafir, mengkafaninya, atau menguburkannya, kecuali apabila tidak ditemukan salahsatupun dari keluarganya yang mau mengurusi hal tersebut, karena sesungguhnya bangkai saudaranya didatangkan kepadanya.
{Lihat Kitab Al Fiqhu Al Muyassar}.


حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : 

بَيْنَا رَجُلٌ وَاقِفٌ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ💚 بِعَرَفَةَ إِذْ وَقَعَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَوَقَصَتْهُ أَوْ قَالَ :  فَأَوْقَصَتْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ💙 :

*_«اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ وَلَا تَمَسُّوهُ طِيبًا وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ وَلَا تُحَنِّطُوهُ فَإِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا»._*
{رواه البخاري / كتاب جزاء الصيد    /  باب المحرم يموت بعرفة، ولم يأمر النبي صلى الله عليه وسلم أن يؤدى عنه بقية الحج  /  رقم الحديث : ١٧٦٥}.

Telah menceritakan kepada kami : Sulaiman bin Harb. Telah menceritakan kepada kami : Hammad. Dari Ayyub. Dari Sa'id bin Jubair. Dari Ibnu 'Abbas radliyyAllahu 'anhum, beliau berkata;

"Ketika ada seorang laki-laki yang sedang wukuf bersama Nabi ﷺ💞 di 'Arafah terjatuh dari hewan tunggangannya sehingga ia terinjak" atau dia (Ibnu 'Abbas radliyyAllahu 'anhuma), beliau berkata:

"Hingga orang itu mati seketika".

Maka Nabi ﷺ💜  berkata:

*_"Mandikanlah dia dengan air dan (air) dicampur daun bidara dan kafanilah dengan dua helai kain dan janganlah (kainnya) diberi wewangian dan jangan pula diberi tutup kepala (serban) dan jangan pula (jasadnya) diberi wewangian karena Allah nanti membangkitkannya pada hari qiyamat dalam keadaan bertalbiyyah"._*
{HR. Bukhariy / Kitabu Jazaa'i Ash Shaidi / Babu Al Muhrimi Yamuutu Bi'arafata ... / No. 1765}.


*💾🎙• قال الإمام ابن رشد المالكي رحمه الله تعالى في كتابه " بداية المجتهد " :*

فأما حكم الغسل فإنه قيل فيه إنه فرض على الكفاية. وقيل سنة على الكفاية.

والقولان كلاهما في المذهب. والسبب في ذلك أنه نقل بالعمل لا بالقول، والعمل ليس له صيغة تفهم الوجوب أو لا تفهمه.

وقد احتج عبد الوهاب لوجوبه بقوله عليه الصلاة والسلام في ابنته "اغسلنها ثلاثا أو خمسا" وبقوله في المحرم "اغسلوه" فمن رأى أن هذا القول خرج مخرج تعليم لصفة الغسل لا مخرج الأمر به لم يقل بوجوبه، ومن رأى أنه يتضمن الأمر والصفة قال: بوجوبه.
{انظر كتاب بداية المجتهد . للإمام ابن رشد المالكي} .

*📿🎤• Imam Ibnu Rusyd Al Malikiy rahimahullahu ta'ala berkata didalam kitabnya " Bidayatu Al Mujtahid ":*

Adapun *```HUKUM*``` memandikan mayyit dikatakan didalamnya hal tersebut *```FARDLU KIFAYAH*``` dan dikatakan *```SUNNAH KIFAYAH*```

Dan dua pendapat ini salah satunya ada didalam madzhab. Dan sebab didalamnya hal tersebut diambil dari sebuah aktifitas bukan dari sebuah perkataan, dan aktifitas tidak ada baginya singhat yang bisa difahami wajib atau tidak  memahaminya wajib.

Abdul Wahhab berhujjah karena *```WAJIBNYA** berdasarkan sabda Nabi 'Alaihi Ash Shalaatu Wa Sallamu dalam kasus memandikan putrinya *_" mandikanlah ia tiga atau lima kali "_* dan sabda Nabi dalam kasus orang yang ihram terjatuh dari kudanya *_" kalian mandikanlah ia "._*

Maka bagi siapa saja yang menganggap sabda ini keluar dari tempat mengetahui sifat/bentuk  memandikan bukan pada tempat keluarnya perintah, maka jangan mengatakan dengan kewajibannya, dan barangsiapa yang menganggap hal itu mengandung perintah dan sifat, maka katakan : dengan kewajibannya.
{Lihat Kitab Bidayatu Al Mujtahid / Kitabu Ahkaami Al Mayyiti. Karya Imam Ibnu Rusyd Al Malikiy}.

Ada riwayat yang menyatakan tentang yang memandikan adam adalah para malaikat:

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنَا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ عُتَيٍّ قَالَ : رَأَيْتُ شَيْخًا بِالْمَدِينَةِ يَتَكَلَّمُ فَسَأَلْتُ عَنْهُ فَقَالُوا : هَذَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ فَقَالَ :
إِنَّ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَام لَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ قَالَ :  لِبَنِيهِ أَيْ بَنِيَّ إِنِّي أَشْتَهِي مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ فَذَهَبُوا يَطْلُبُونَ لَهُ فَاسْتَقْبَلَتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَمَعَهُمْ أَكْفَانُهُ وَحَنُوطُهُ وَمَعَهُمْ الْفُؤُوسُ وَالْمَسَاحِي وَالْمَكَاتِلُ فَقَالُوا لَهُمْ :

*_" يَا بَنِي آدَمَ مَا تُرِيدُونَ وَمَا تَطْلُبُونَ أَوْ مَا تُرِيدُونَ وَأَيْنَ تَذْهَبُونَ قَالُوا أَبُونَا مَرِيضٌ فَاشْتَهَى مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ قَالُوا لَهُمْ ارْجِعُوا فَقَدْ قُضِيَ قَضَاءُ أَبِيكُمْ فَجَاءُوا فَلَمَّا رَأَتْهُمْ حَوَّاءُ عَرَفَتْهُمْ فَلَاذَتْ بِآدَمَ فَقَالَ إِلَيْكِ إِلَيْكِ عَنِّي فَإِنِّي إِنَّمَا أُوتِيتُ مِنْ قِبَلِكِ خَلِّي بَيْنِي وَبَيْنَ مَلَائِكَةِ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَقَبَضُوهُ وَغَسَّلُوهُ وَكَفَّنُوهُ وَحَنَّطُوهُ وَحَفَرُوا لَهُ وَأَلْحَدُوا لَهُ وَصَلَّوْا عَلَيْهِ ثُمَّ دَخَلُوا قَبْرَهُ فَوَضَعُوهُ فِي قَبْرِهِ وَوَضَعُوا عَلَيْهِ اللَّبِنَ ثُمَّ خَرَجُوا مِنْ الْقَبْرِ ثُمَّ حَثَوْا عَلَيْهِ التُّرَابَ ثُمَّ قَالُوا يَا بَنِي آدَمَ هَذِهِ سُنَّتُكُمْ."_*

– عن أُبيِّ بن كعب‏:‏ ‏”‏أن آدم عليه السلام قبضته الملائكة وغسلوه وكفنوه وحنطوه وحفروا له وألحدوا وصلوا عليه ثم دخلوا قبره فوضعوه في قبره ووضعوا عليه اللبن ثم خرجوا من القبر ثم حثوا عليه التراب ثم قالوا يا بني آدم هذه سنتكم‏”‏‏.‏
رواه عبد اللَّه بن أحمد في المسند‏.‏


فقد روى الطبراني في معجمه الكبير عن أبي رافع عن النبي ﷺ💞: 

 *_«من غسل ميتاً فكتم عليه غفر له أربعون كبيرة.،»_*
{رواه الطبراني في معجم الكبير. وقال الحافظ ابن حجر في كتابه الدراية في تخريج أحاديث الهداية: إسناده قوي، وضعف هذه الرواية  الألباني}.

Thabaraniy telah meriwayatkan dalam Mu'jam Al Kabir dari Abi Rafi'. Dari Nabi ﷺ💘:

Barangsiapa memandikan jenazah kemudian menyembunyikan (keburukkan mayyit), maka diampuni baginya empat puluh dosa besar (selain syirik).
{HR. Thabaraniy dalam Mu'jam Al Kabir. Ibnu Hajar berkata : *Sanadnya Kuat*. Dan Albaniy Tokoh Wahhabiy *MENDLO'IFKANNYA*}.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سَلَّامُ بْنُ أَبِي مُطِيعٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ يَزِيدَ الْجُعْفِيِّ، عَنْ عَامِرٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ الْجَزَّارِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ💙 :

*_" مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا، فَأَدَّى فِيهِ الْأَمَانَةَ، وَلَمْ يُفْشِ عَلَيْهِ مَا يَكُونُ مِنْهُ عِنْدَ ذَلِكَ، خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ "،_*

قَالَ:

*_" لِيَلِهِ أَقْرَبُكُمْ مِنْهُ إِنْ كَانَ يَعْلَمُ، فَإِنْ كَانَ لَا يَعْلَمُ فَمَنْ تَرَوْنَ أَنَّ عِنْدَهُ حَظًّا مِنْ وَرَعٍ وَأَمَانَةٍ "_*
{رواه احمد . وقال شعيب الأرناؤوط: إسناده ضعيف لضعف جابر.. ويحيى الجزار لم يذكروا له سماعا من عائشة}.

Dari Aisyah ia berkata :Rasulullah ﷺ💜 pernah bersabda :

*_Barang siapa memandikan maiyyit kemudian ia menunaikan amanat padanya, dan tidak menyiar-nyiarkan (cacat) yang ada pada waktu itu,maka keluarlah dosa-dosanya sebagaimana ia baru dilahirkan ibunya."_*

Dan beliau  bersabda:

*_”Hendaklah yang mendampingi itu keluarga yang lebih dekat ketika diketahui, jika tidak diketahui maka orang yang kamu pandang wira’I dan dapat dipercaya."_*
{HR. Ahmad. Dan Syaikh Al Arna'uth : *SANADNYA DLO'IF/LEMAH* karena kelemahan Jabir dan Yahya Al Jazal}.


 *💾📿• قال الإمام الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " الأم " :*

( قال ) : وأحب إلي إن رأى من المسلم شيئا أن لا حدث به فإن المسلم حقيق أن يستر ما يكره من المسلم ،
{انظر كتاب الأم : ج ١ ص ٢٣٥ /  كتاب الجنائز    / باب ما جاء في غسل الميت. للإمام الشافعي}.

Dalam kitabnya al-Umm Imam Syâf'î r.a berkata:

Aku sangat setuju apabila seorang muslim melihat dari saudaranya –seagama- sesuatu –hal yang kurang baik- agar ia tidak membicarakannya. Sebab sesungguhnya suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk menutupi hal yang tidak disenangi dari orang lain.
{Lihat Kitab Al Umm : juz 1 hal 235 / Kitabu Al Jana'izi / Babu Ma Ja'a Fi Ghasli Al Mayyiti. Karya Imam Syafi'iy}.

*💾📿• قال العلامة المباركفوري رحمه الله تعالى في كتابه " تحفة الاحوذي شرح سنن الترمذي " :*

 (من ستر على مسلم) وفي حديث بن عُمَرَ مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا أَيْ بَدَنَهُ أَوْ عيبه بعدم الغيبة له والذب عن معائبه وهَذَا بِالنِّسْبَةِ إِلَى مَنْ لَيْسَمَعْرُوفًا بِالْفَسَادِ وَإِلَّا فَيُسْتَحَبُّ أَنْ تُرْفَعَ قِصَّتُهُ إلى الوالي فإذا رأى في مَعْصِيَةً فَيُنْكِرُهَا بِحَسَبِ الْقُدْرَةِ وَإِنْ عَجَزَ يَرْفَعُهَا إِلَى الْحَاكِمِ إِذَا لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ مَفْسَدَةٌ كَذَا فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ لِلنَّوَوِيِّ (سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ) أَيْ لَمْ يَفْضَحْهُ بِإِظْهَارِ عُيُوبِهِ وَذُنُوبِهِ
{انظر كتاب تحفة الاحوذي شرح سنن الترمذي : ج ٤ ص ٥٧٤. للعلامة المباركفوري}.

MAN SATARO ‘ALA MUSLIMIN SATAROLLOOHU FID DUNYAA WAL AKHIROH
Barangsiapa menutupi atas orang muslim maka Allah akan menutupinya didunia dan diakhirat.

Dalam redaksi hadits lain menggunakan kata “MUSLIMAN” tidak ‘ALAA MUSLIM
Yang dimaksud menutupi adalah menutupi badannya atau cela saudara muslim lainnya dengan tidak menggunjingnya atau membuka aib-aibnya.

Yang demikian berlaku bagi orang yang belum dikenal akan kejelekannya bila sudah maka dianjurkan dilaporkan keberadaannya pada seorang Wali (penguasa)....

Yang dimaksud “Allah akan menutupinya didunia dan diakhirat” adalah Allah tidak akan membuka kejelekan-kejelekan dan dosa-dosanya...
{Lihat Kitab Tuhfah al-Ahwaadzi Syarhu Sunan  Tirmidzi juz IV hal 574. Karya Al 'Alaamah Al Mubarakfuriy}.


*💾📿• قال الإمام النووي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " المنهاج على. شرح صحيح مسلم " :*

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَسْتُرُ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

قَوْلُهُ ﷺ💚 : ( لَا يَسْتُرُ اللَّهُ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ) ,

قَالَ الْقَاضِي : يُحْتَمَلُ وَجْهَيْنِ : أَحَدُهُمَا أَنْ يَسْتُرُ مَعَاصِيَهُ وَعُيُوبَهُ عَنْ إِذَاعَتِهَا فِي أَهْلِ الْمَوْقِفِ .

وَالثَّانِي تَرْكُ مُحَاسَبَتِهِ عَلَيْهَا ، وَتَرْكُ ذِكْرِهَا .

قَالَ : وَالْأَوَّلُ أَظْهَرُ
{انظر كتاب المنهاج على شرح مسلم : ج ١٦ ص ١٤٣. للإمام النووي الشافعي}.

Imam al-Qadhi berkata “Dalam hadits diatas dapat memberi kesan atas dua pengertian :

1. Menutupi maksiat-maksiat, aib-aib yang telah dilakukan saudara muslim lainnya dan tidak membeberkannya pada orang lain

2. Tidak mencari-cari, meneliti kesalahan orang lain serta tidak menuturkannya.
{Lihat Kitab Syarh An-Nawaawi ala Muslim : Juz  16 hal 143. Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy}.

*💾📿• قال الإمام ابن قدامة المقدسي الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه " المغني " :*

فَصْلٌ: وَيَنْبَغِي لِلْغَاسِلِ، وَلِمَنْ حَضَرَ، إذَا رَأَى مِنْ الْمَيِّتِ شَيْئًا مِمَّا ذَكَرْنَاهُ وَمِمَّا يُحِبُّ الْمَيِّتُ سَتْرَهُ، أَنْ يَسْتُرَهُ، وَلَا يُحَدِّثَ بِهِ؛ لِمَا رَوَيْنَاهُ، وَلِأَنَّ النَّبِيَّ - ﷺ❤ - قَالَ: «مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ مُسْلِمٍ، سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ» .

وَإِنْ رَأَى حَسَنًا مِثْلَ أَمَارَاتِ الْخَيْرِ، مِنْ وَضَاءَةِ الْوَجْهِ، وَالتَّبَسُّمِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ، اُسْتُحِبَّ إظْهَارُهُ، لِيَكْثُرَ التَّرَحُّمُ عَلَيْهِ، وَيَحْصُلَ الْحَثُّ عَلَى مِثْلِ طَرِيقَتِهِ، وَالتَّشَبُّهُ بِجَمِيلِ سِيرَتِهِ.

قَالَ ابْنُ عَقِيلٍ: وَإِنْ كَانَ الْمَيِّتُ مَغْمُوصًا عَلَيْهِ فِي الدِّينِ وَالسُّنَّةِ، مَشْهُورًا بِبِدْعَتِهِ، فَلَا بَأْسَ بِإِظْهَارِ الشَّرِّ عَلَيْهِ، لِتُحْذَرَ طَرِيقَتُهُ. وَعَلَى هَذَا يَنْبَغِي أَنْ يَكْتُمَ مَا يَرَى عَلَيْهِ مِنْ أَمَارَاتِ الْخَيْرِ؛ لِئَلَّا يَغْتَرَّ مُغْتَرٌّ بِذَلِكَ، فَيَقْتَدِيَ بِهِ فِي بِدْعَتِهِ.
{انظر كتاب المغني : ج ٢ ص ٤٥٦. للإمام ابن قدامة الحنبلي}.

*Ibnu Qudâmah r.a berkata:*

Seyogianya bagi orang yang memandikan mayat dan orang-orang yang menyaksikan pemandian tersebut, apabila mereka melihat -dari mayat tersebut-, sesuatu yang tidak diinginkan oleh simayat –ketika ia masih hidup- untuk diketahui orang lain, agar mereka menyembunyikannya, dan jangan sampai membicarakan atau menyebutnya. Hal ini berdasarkan riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan terdahulu. Dan karena Rasulullah ﷺ💜 bersabda :

*_Barangsiapa yang menutupi keaiban seorang muslim, maka Allah s.w.t akan menutupi keaibannya didunia dan diakhirat"._*

Dan apabila mereka melihat sesuatu yang baik dari mayat tersebut, misalnya wajahnya berseri, mulut yang tersenyum atau sebagainya, maka disunnahkan untuk menampakannya, agar orang lain ikut mendoakan agar Allah s.w.t memberikan rahmat untuknya, dan sebagai contoh yang memotivasi agar orang yang masih hidup dapat mengikuti tingkah lakunya semasa ia masih hidup.

*Ibnu 'Aqîl r.a berkata:*

Dan apabila orang yang meniggal tersebut sering melakukan kebohongan dalam agama dan hadits Rasulullah ﷺ💙  terkenal suka menyebarkan hal-hal yang bid'ah, maka tidak mengapa kejelekannya dinampakan, agar menjadi peringatan dan pelajaran bagi orang yang mengikuti tingkah lakunya semasa masih hidup.

Dengan demikian berarti seyogianya untuk menyembunyikan –dari orang tersebut- tanda-tanda kebaikan, agar hal tersebut tidak membuat banyak orang tertipu. Yang akhirnya akan mengikutinya dalam hal-hal bid'ah.
{Lihat Kitab Al Mughniy : juz 2 hal 456. Karya Imam Ibnu Qudamah Al Hanbaliy}.


*B)• 💾👉Perbedaan Pendapat Tentang Hukum  Mengambil Upah Dari Mengurus Jenazah.*

فمذهب جمهور العلماء منهم المالكية والشافعية والحنابلة هو جواز أخذ الأجرة على تغسيل الميت.

*✍ قال الامام الشربيني الشافعي في مغني المحتاج:*

وتصح الإجارة لتجهيز ميت كغسله وتكفينه ودفنه، وتعليم القرآن أو بعضه، ونحو ذلك مما هو فرض كفاية، وليس بشائع في الأصل، وإن تعين على الأجير في الأصح.

والحنابلة كرهوا الاستئجار على غسل الميت، ولم يحرموه، قال في كشاف القناع: ويكره أخذ أجرة على شيء من ذلك، يعني: الغسل، والتكفين، والحمل، والدفن.
قال في المبدع: كره أحمد للغاسل والحفار أخذ أجرة على عمله، إلا أن يكون محتاجاً فيعطى من بيت المال، فإن تعذر أعطي بقدر عمله.
Dan pengikut Madzhab Imam Abi Hanifah *TIDAK BOLEH MENGAMBIL UPAH KARENA BEKERJA MEMANDIKAN MAYYIT* berkata Imam Al Kisaaniy dalam kitabnya " Badaa'u Ash Shanaai' :

*DAN TIDAK BOLEH MENGAMBIL UPAH DARI BEKERJA MEMANDIKAN JENAZAH* ... dan dia menuturkannya dalam beberapa fatwa karena  hukumnya wajib, dan *BOLEH* mengerjakan penggalian kuburan.


وذهب الحنفية إلى عدم جواز أخذ الأجرة على غسل الميت، قال الكاساني في بدائع الصنائع:

ولا يجوز الاستئجار على غسل الميت..
ذكره في الفتاوى، لأنه واجب، ويجوز على حفر القبور.
والله أعلم.

*👉🖍Menurut Jumhur (Mayoritas ulama') diantaranya Malikiyyah, Syafi'iyyah, dan Hanabillah *BOLEH* mengambil upah dari memandikan jenazah.

*👌• Imam Syarbiniy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitabnya " Mughni Al Muhtaaj ":*

Dan *SAH* mengambil upah karena mengurus mayyit, seperti memandikannya, mengkafaninya, menguburkannya, mengajarkan Al Qur'an atau sebagiannya, dan semacamnya dari perkara yang hukumnya termasuk Fardlu Kifayah. Bukan secara umum pada asalnya, walaupun sudah jelas atas orang yang bekerja mencari upah dalam pendapat yang lebih Ashah/unggul.


*👌Para pengikut Imam Ahmad (Hanabillah) mereka memakruhkan mencari upah dari pekerjaan memandikan mayyit, dan mereka tidak sampai mengharamkannya. Imam Bahutiy dalam kitab Kasyafu Al Qinaa'​ berkata :

*DIMAKRUHKAN* untuk mengambil upah dari memandikan mayit, mengkafaninya, mengangkatnya, dan memakamkannya.

Dalam kitab al-Mubdi’ (Imam Ibnu  Muflih)  mengatakan :  “Imam Ahmad memakruhkan bagi yang memandikan mayit atau yang menggali kuburan untuk mengambil upah dari tugasnya. Kecuali jika dia sangat membutuhkan, dan dia boleh diberi dari baitul mal. Jika tidak memungkinkan, dia diberi sesuai ukuran kerjanya.



*💾✍• قال الإمام البهوتي الحنبلي (وهو منصور بن يونس بن صلاح الدين ابن حسن بن إدريس البهوتى الحنبلى ، المتوفى: ١٠٥١ هـ)، رحمه الله تعالى في كتابه  " كشاف القناع على متن الاقناع "  :*

"وَيُكْرَهُ أَخْذُ أُجْرَةٍ عَلَى تغسيل الميت وَالتَّكْفِين وَالْحَمْل وَالدَّفْن . قَالَ فِي الْمُبْدِعِ : كَرِهَ أَحْمَدُ لِلْغَاسِلِ وَالْحَفَّارِ أَخْذَ أُجْرَةٍ عَلَى عَمَلِهِ ، إلَّا أَنْ يَكُونَ مُحْتَاجًا ، فَيُعْطَى مِنْ بَيْتِ الْمَالِ ، فَإِنْ تَعَذَّرَ أُعْطِيَ بِقَدْرِ عَمَلِهِ" انتهى .
{انظر كتاب كشاف القناع عن متن الإقناع : ج ٢ ص ٨٦. للإمام  البهوتى الحنبلى}

*📿🎙• Imam Bahutiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala berkata dalam Kitabnya " Kasyafu Al Qinaa' 'Ala Matni Al Iqnaa' ":*

*DIMAKRUHKAN* untuk mengambil upah dari memandikan mayit, mengkafaninya, mengangkatnya, dan memakamkannya.

Dalam kitab al-Mubdi’ (Imam Ibnu  Muflih)  mengatakan :  “Imam Ahmad memakruhkan bagi yang memandikan mayit atau yang menggali kuburan untuk mengambil upah dari tugasnya. Kecuali jika dia sangat membutuhkan, dan dia boleh diberi dari baitul mal. Jika tidak memungkinkan, dia diberi sesuai ukuran kerjanya.”
{Lihat Kitab Kasyafu Al Qinaa' 'Alaa Matni Al Iqnaa' : juz 2 hal 86. Karya Imam Al Bahutiy Al Hanbaliy}.


أما إذا كانت هذه الأجرة مشروطة فإنها بلا شك تنقص أجر الغاسل المكفن ؛ لأن الغاسل المكفن ينال أجراً كبيراً ؛ لأن تغسيل الميت وتكفينه من فروض الكفاية ؛ فيحصل للغاسل والمكفن أجر فرض الكفاية.

لكن إذا أخذ على ذلك أجرة فإن أجره سوف ينقص ، ولا حرج عليه إذا أخذ أجرة على هذا ؛ لأن هذه الأجرة تكون في مقابل العمل المتعدي للغير ، والعمل المتعدي للغير يجوز أخذ الأجرة عليه ، كما جاز أخذ الأجرة على تعليم القرآن على القول الصحيح
{انظر فتاوى نور على  الدرب : ج ٧ ص ٣٦}.

*🌴🎤. Tokoh Wahhabiy Shalih Al 'Utsaimin berkata :*

Jika upah ini disyaratkan di depan, jelas menerima upah ini akan mengurangi pahala orang yang memandikan dan mengkafani. Karena yang memandikan dan mengkafani akan mendapatkan pahala besar; karena memandikan dan mengkafani mayit termasuk fardhu kifayah, sehingga yang melaksanakannya akan mendapatkan pahala melaksanakan fardhu kifayah.

Namun jika dia mengambil upah, maka pahalanya akan berkurang, meskipun tidak masalah baginya mengambil upah ini. Karena upah ini sebagai ganti atas kerja yang bermanfaat bagi orang lain (amal muta’adi). Dan orang yang melakukan amal muta’addi (kerja manfaat) bagi orang lain, dia berhak mendapat upah. Sebagaimana orang yang mengajarkan al-Quran boleh mengambil upah menurut pendapat yang shahih.
{Lihat Fatawa Nur ‘ala ad-Darb : juz  7 hal 36. Dijawab Oleh Tokoh Wahhabiy Shalih 'Utsaimin}.

Jawaban yang sama dari perkumpulan ulama' mereka yang lain :

تجوز ، والأولى أن يقوم بها متبرع إذا تيسر ذلك . وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
{انظر في فتاوى اللجنة الداىٔمة : ج ١٥ ص ١١٢}.

Boleh, meskipun yang lebih bagus orang itu melaksanakannya dengan suka rela, jika tidak menyusahkannya. Wa billah at-taufiiq. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihii wa shahbihii wa sallam…
{Lihat Fatawa Lajnah Daimah : juz 15 hal 112}.
us


*C)• 💾👉 Mengurus  Potongan Jenazah, korban Kebakaran،  Korban Mutilasi, Jasadnya Hancur, Dll.*

حَدَّثَنَا عَيَّاشُ بْنُ الوَلِيدِ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الأَعْلَى، حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ💞َ، قَالَ:

*_«يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ، وَيَنْقُصُ العَمَلُ، وَيُلْقَى الشُّحُّ، وَتَظْهَرُ الفِتَنُ، وَيَكْثُرُ الهَرْجُ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّمَ هُوَ؟ قَالَ: «القَتْلُ القَتْلُ»_*

وَقَالَ شُعَيْبٌ، وَيُونُسُ، وَاللَّيْثُ، وَابْنُ أَخِي الزُّهْرِيِّ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ💖.
{رواه البخاري / ٩٢ - كتاب الفتن / باب ظهور الفتن /  رقم الحديث : ٧٠٦١}.

Telah menceritakan kepada kami : 'Ayyasy bin Al Walid. Telah mengabarkan kepada kami : 'Abdul A'la. Telah menceritakan kepada kami : Ma'mar. Dari Az Zuhriy. Dari Sa'id. Dari Abu Hurairah. Dari Nabi ﷺ💓  bersabda (tentang tanda-tanda kiamat);

*_"Jaman terasa ringkas, amal shalih berkurang, kebakhilan merajalela, fitnah (maksiat) dinyatakan secara terang-terangan, dan banyak al haraj."_*

Para sahabat bertanya; 'Ya Rasulullah, apa maksud istilah al haraj? ' Nabi menjawab : 

*_"Pembunuhan-pembunuhan."_*

Sedang Syu'aib,  Yunus, dan Al Laits, serta anak Saudaraku, Az Zuhriy, mengatakan dari Az Zuhriy. Dari Humaid. Dari Abu Hurairah. Dari Nabi ﷺ💔.
{HR. Bukhariy / 92 - Kitabu Al Fitani / Babu Dzuhuuri Al Fitani / No. 7061}.


Hadits ini memberikan gambaran kepada kita, perjalanan kepribadian manusia ketika semakin jauh dari masa kenabian. Kecenderungan untuk menjauh dari aturan syariah, membuat mereka semakin bengis dan kejam. Tidak hanya puas dengan membunuh, penganiayaan harus berlanjut pada mutilasi.


*1⃣ Perawatan Korban Mutilasi Menurut Madzhab Abi Hanifah.*

*ì)• 🌴👉 Cara Mengurus  Potongan Tubuh Mayit, Seperti Tangan Atau Kaki, Atau Kepala Saja.*

Terkait cara memandikan dan mengkafani korban mutilasi,  Ulama Hanafi menjelaskan :

*🖍• Imam Burhanudin Ibnu Mazah mengatakan :*

ﻭﺇﻥ ﺃﻭﺟﺪ ﺷﻴﺌﺎً ﻣﻦ ﺃﻃﺮﺍﻑ ﻣﻴﺖ ﻛﻴﺪ ﺃﻭ‎ ‎ﺭﺟﻞ ﺃﻭ ﺭﺃﺱ ﻟﻢ ﻳﻐﺴﻞ ﻭﻟﻢ ﻳﺼﻞِ ﻋﻠﻴﻪ،‏‎ ‎ﻭﻟﻜﻨﻪ ﻳﺪﻓﻦ
{انظر كتاب المحيط البرهاني في الفقه النعماني فقه الإمام أبي حنيفة رضي الله عنه : ج ٢ ص ٣٦٤. للإمام أبو المعالي برهان الدين محمود بن أحمد بن عبد العزيز بن عمر بن مَازَةَ البخاري الحنفي، المتوفى: ٦١٦هـ}.

Jika hanya ditemukan potongan tubuh mayit, seperti tangan atau kaki, atau kepala saja, dia tidak dimandikan dan tidak dishalatkan, namun langsung dimakamkan.
{Lihat Kitab al-Muhith al-Burhani : juz 2 hal 364. Karya Abu Al Ma'alis Burhanuddin Al Hanafiy}.

*ii)• 🌴👉 Cara Mengurus  Potongan Tubuh Mayat Yang Lebih Utuh.*

Keterangan dari Imam Al-Hasan bin Ziyad dari Abu Hanifah, beliau mengatakan :

ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪ ﺃﻛﺜﺮ ﺍﻟﺒﺪﻥ ﻏﺴﻞ ﻭﻛﻔﻦ ﻭﺻﻠﻲ‎ ‎ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺩﻓﻦ. ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻧﺼﻒ ﺍﻟﺒﺪﻥ،‏‎ ‎ﻭﻣﻌﻪ ﺍﻟﺮﺃﺱ ﻏﺴﻞ ﻭﺻﻠﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺩﻓﻦ
{انظر كتاب المحيط البرهاني في الفقه النعماني فقه الإمام أبي حنيفة رضي الله عنه : ج ٢ ص ٣٦٤. للإمام أبو المعالي برهان الدين محمود بن أحمد بن عبد العزيز بن عمر بن مَازَةَ البخاري الحنفي، المتوفى: ٦١٦هـ}.

Jika ditemukan potongan tubuh mayat yang lebih utuh, dia dimandikan, dikafani, dishalati, dan dimakamkan. Dan jika ditemukan separoh jasad dan ada kepalanya maka dikafani, dimandikan, dishalati, dan dimakamkan.
{Lihat Kitab al-Muhith al-Burhani : juz 2 hal 364. Karya Abu Al Ma'alis Burhanuddin Al Hanafiy}.


*iii)• 🌴👉 Cara Mengurus Mayat Yang Terbelah Memanjang Separoh, Dan Ditemukan Hanya Separohnya.*

Imam Al-Hasan bin Ziyad dari Abu Hanifah, juga mengatakan :

ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﺸﻘﻮﻗﺎً ﻧﺼﻔﻴﻦ ﻃﻮﻻً، ﻓﻮﺟﺪ‎ ‎ﻣﻨﻪ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﻨﺼﻔﻴﻦ ﻟﻢ ﻳﻐﺴﻞ، ﻭﻟﻢ ﻳﺼﻞِ‏‎ ‎ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻟﻜﻨﻪ ﻳﺪﻓﻦ ﻟﺤﺮﻣﺘﻪ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ‎ ‎ﻧﺼﻒ ﺍﻟﺒﺪﻥ ﺑﻼ ﺭﺃﺱ ﻏﺴﻞ، ﻭﻟﻢ ﻳﺼﻞِ‏‎ ‎ﻋﻠﻴﻪ. ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺃﻗﻞ ﻣﻦ ﻧﺼﻒ ﺍﻟﺒﺪﻥ‎ ‎ﻭﻣﻌﻪ ﺍﻟﺮﺃﺱ ﻏﺴﻞ ﻭﻛﻔﻦ ﻭﺩﻓﻦ ﻭﻻ‎ ‎ﻳﺼﻠﻰ ﻋﻠﻴﻪ.
{انظر كتاب المحيط البرهاني في الفقه النعماني فقه الإمام أبي حنيفة رضي الله عنه : ج ٢ ص ٣٦٤. للإمام أبو المعالي برهان الدين محمود بن أحمد بن عبد العزيز بن عمر بن مَازَةَ البخاري الحنفي، المتوفى: ٦١٦هـ}.

“Jika terbelah memanjang separoh, dan ditemukan hanya separohnya, maka tidak dimandikan, tidak dishalati, namun dikubur dalam rangka memuliakan jasadnya. Jika ditemukan separoh jasad melintang tanpa kepala maka dimandikan dan tidak dishalati. Jika kurang dari separoh jasad dan ada kepalanya, dia dimandikan, dikafani, dikuburkan dan tidak dishalati.”
{Lihat Kitab al-Muhith al-Burhani : juz 2 hal 364. Karya Abu Al Ma'alis Burhanuddin Al Hanafiy}.


*✏• Keterangan dalam Hasyiyyah Ibn Abidin :*

*🌴🎙• قال الإمام ابن عابدين الحنفي (وهو  ابن عابدين، محمد أمين بن عمر بن عبد العزيز عابدين الدمشقي الحنفي، المتوفى: ١٢٥٢ هـ)، رحمه الله تعالى في كتابه " الدر المختار وحاشية ابن عابدين  (رد المحتار) ":*

ﻟﻮ ﻭﺟﺪ ﻃﺮﻑ ﻣﻦ ﺃﻃﺮﺍﻑ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﺃﻭ‎ ‎ﻧﺼﻔﻪ ﻣﺸﻘﻮﻗﺎ ﻃﻮﻻ ﺃﻭ ﻋﺮﺿﺎ ﻳﻠﻒ ﻓﻲ‎ ‎ﺧﺮﻗﺔ ﺇﻻ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻣﻌﻪ ﺍﻟﺮﺃﺱ ﻓﻴﻜﻔﻦ.
{انظر كتاب رد المحتار على الدر المختار : ج ٢ ص ٢٢٢. للإمام ابن عابدين، محمد أمين بن عمر بن عبد العزيز عابدين الدمشقي الحنفي}.

“Jika ditemukan potongan anggota badan manusia atau ditemukan separoh badan terbelah memanjang atau melintang, cukup dibungkus dengan kain (tidak dimandikan), kecuali jika ada kepalanya maka dia dikafani.”
{Lihat Kitab ar-Raddul Mukhtar : juz  2 hal 222. Karya Imam Ibnu 'Abidin Al Hanafiy}.


*📿💾• Dari Beberapa Keterangan Di Atas, Bisa Diambil Kesimpulannya :*

*1]• Potongan jasad mayat, ada yang disikapi sebagai layaknya manusia utuh dan ada yang disikapi bukan sebagai manusia.*

*2]• Potongan jasad yang disikapi sebagaimana layaknya manusia, wajib dimandikan, dikafani, dishalati dan dimakamkan sebagaimana layaknya jenazah.*

Sebaliknya, potongan jasad yang tidak disikapi sebagaimana layaknya manusia, tidak dimandikan dan tidak dishalati, tapi cukup dibungkus dengan kain dan dikuburkan.

*3]• Potongan yang disikapi sebagai jasad manusia utuh:*

*_– Potongan jasad mayat yang lebih dari separoh, meskipun tanpa kepala._*

*_– Potongan kurang dari separoh badan bersama kepala._*

*4]• Potongan yang disikapi BUKAN sebagai jasad manusia utuh:*

*_– Hanya potongan anggota badan, seperti tangan, kaki._*

*_– Hanya potongan separoh tanpa kepala._*


*2⃣• Perawatan Korban Mutilasi Menurut Madzhab Imam Malik rahimahullahu ta'ala :*

Kalangan pengikut madzhab Imam Malik berpendapat : Bahwasanya potongan organ tubuh tersebut *TIDAK DISHALATI* kecuali jika diketemukan 2/3 lebih, atau ditemukan lebih dari setengahnya, dan kurang dari 2/3 namun beserta  kepalanya *MAKA ORGAN TUBUH  TERSEBUT JUGA WAJIB DISHALATI*.

*🌴🎙• قال الشيخ الامام ابي بركات احمد الدردير المالكي رحمه الله تعالى في كتابه " الشرح الكبير بهامش الدسوقي ":* 

وَلَا يُغَسَّلُ  دُونَ الْجُلِّ يَعْنِي دُونَ ثُلُثَيْ الْجَسَدِ، وَالْمُرَادُ بِالْجَسَدِ مَا عَدَا الرَّأْس، فَإِذَا وُجِدَ نِصْفُ الْجَسَدِ أَوْ أَكْثَرُ مِنْهُ وَدُونَ الثُّلُثَيْنِ مَعَ الرَّأْسِ لَمْ يُغَسَّلْ عَلَى الْمُعْتَمَدِ أَيْ يُكْرَهُ لِأَنَّ شَرْطَ الْغُسْلِ وُجُودُ الْمَيِّتِ، فَإِنْ وُجِدَ بَعْضُهُ فَالْحُكْمُ لِلْغَالِبِ وَلَا حُكْمَ لِلْيَسِيرِ وَهُوَ مَا دُونَهَا.
{انظر حاشية الدسوقي على الشرح الكبير    /  باب في بيان أوقات الصلاة وما يتعلق بذلك من الأحكام    /  فصل أحكام الموتى.  للإمام  محمد بن أحمد بن عرفة الدسوقي المالكي}.


*💾🌴• Berkata Syaikh Al Imam Abi Barkat  Ahmad Ad Dardir Al Malikiy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Asy Syarhu Al Kabir ":*

Kurang dari Al Jul yakni kurang dari 2/3 ukuran badan *TIDAK WAJIB  DIMANDIKAN*, dan yang dikehendaki dengan istilah " Jasad " yaitu selain kepala, jikalau ditemukan separo jasad atau lebih dari itu, dan kurang dari 2/3 bersama dengan kepala,  *MAKA TIDAK DIMANDIKAN* menurut perangkat yang mu'tamad/akurat 6artinya *DIMAKRUHKAN* karena syarat memandikan .Ayyit adalah adalah wujudnya mayyit,

Jikalau ditemukan separuhnya *MAKA HUKUMNYA MENURUT UMUM (sama ketika ditemukan ukurannya 2/3) *, dan *TIDAK ADA HUKUMNYA SAMA SEKALI*  bagi jasad  yang sedikit yaitu kurang dari ukuran minimal tersebut (kurang dari 2/3)."
{Lihat Kitab Hasyiyyah Ad Dasuqiy 'Ala Asy Syarhu Al Kabir / Babu Fi Bayani Auqaati Ash Shalaati Wa Ma Yata'alaqu Bidzalika Min Al Ahkaami / Fashl Ahkaami Al Mauta. Karya Imam Ahmad Ad Dasuqiy Al Malikiy}.


Para ulama berbeda pendapat apakah potongan tubuh layak dishalati ataukah tidak. Jumhur menilai : potongan tubuh yang banyak layak dishalati karena dianggap sebagai mayit. Bagi ulama yang berpendapat bahwa potongan tubuh yang sedikit layak dishalati beralasan karena kehormatan sebagian dari anggota tubuh manusia sama seperti kehormatan seluruh tubuh, terlebih jika sebagiannya itu merupakan pangkal kehidupan. Pendapat ini juga membolehkan untuk urusan shalat gaib bagi potongan tubuh yang sedikit.
{Lihat Kitab  Bidayatul Mujtahid. Karya Ibnu Rusyd Al Malikiy}.

*3⃣• Perawatan Korban Mutilasi Menurut Madzhab Imam Syafi'iy rahimahullahu ta'ala :*

*ì)•✍ Cara Mengurusi Mayyit Selain Syahid Dan Orang Yang Mati Sedang Ihram.*

*💾🎙• قال الشيخ إبراهيم بن محمد بن أحمد الشافعي الباجوري (١٧٨٤ م -  ١٨٥٩ م)، رحمه الله تعالى في كتابه " حاشية البيجوري على شرح ابن قاسم الغزي على متن أبي شجاع ":*

عَلَى طِرِيْقِ فَرْضِ الْكِفَايَةِ (فِي الْمَيِّتِ)… الْمُسْلِمِ غَيْرِ الْمُحْرِمِ وَالشَّهِيْدِ (أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلاَةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ ) (قَوْلُهُ غُسْلُهُ) أَيْ أَوْ بَدُلُهُ وَهُوَ التَّيَمُّمُ كَمَا لَوْ حُرِقَ بِالنَّارِ وَكَانَ لَوْ غُسِلَ تَهَرَّى .
{انظر كتاب حاشية البيجوري على شرح ابن قاسم الغزي على متن أبي شجاع : ج ١ ص ٢٤٢ - ٢٤٣. للشيخ ابراهيم البيجوري الشافعي}.

*🌴🎙• Berkata Syaikh Ibrahim Al Baajuriy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam Hasyiyyahnya :*

Dan wajib menurut secara fardlu kifayah pada mayat yang muslim selain orang yang mati dalam keadaan ihram dan mati syahid (dalam pertempuran membela agama) empat perkara, yaitu:

memandikannya, mengkafaninya, melakukan shalat atasnya dan menguburnya. Ucapan pengarang: memandikannya, artinya atau penggantinya, yaitu tayammum, sebagaimana andaikata mayat yang terbakar oleh api dan andaikata dimandikan maka dagingnya terlepas dari tubuhnya.
{Lihat Kitab Hasyiyyah Al Bajuri : juz 1 hal 242 – 243. Karya Syaikh Ibrahim Al Baijuriy Asy Syafi'iy}.


*ii)• Cara Mengurusi Janazah Dalam Keadaan Rusak Karena Terbakar Atau Yang Lainnya.*

*💾🎙• قال الشيخ زكريا بن محمد بن زكريا الأنصاري، زين الدين أبو يحيى السنيكي ، المتوفى: ٩٢٦ هـ)، رحمه الله تعالى في كتابه " أسنى المطالب في شرح روض الطالب ":*

وَإِنْ كان بِحَيْثُ لو غُسِّلَ تَهَرَّى لِحَرْقٍ أو نَحْوِهِ يُمِّمَ بَدَلَ الْغُسْلِ لِعُسْرِهِ.
{انظر كتاب أسنى المطالب في شرح روض الطالب : ج ١ ص ٣٠٥. للشيخ زكريا الأنصاري الشافعي}

*♻✍• Berkata Syaikh Zakariyya Al Anshariy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Asna Al Mathoolib Syarhu Raudlatu Ath Thaalib ":*

“Apabila janazah dalam keadaan rusak karena terbakar atau lainnya yang andai di mandikan kulitnya akan terkelupas maka janazah tersebut ditayammumi sebagai pengganti dari mandi karena sulitnya melaksanakan pemandian”.
{Lihat Kitab Asna al-Mathoolib : juz 1 hal 305. Karya Syaikh Zakariyya Al Anshariy Asy Syafi'iy}.


*iii)• Cara Mengurus Bagian Potongan Tubuh Dari Janazah Orang Muslim.*

*💾🎙• الشيخ سليمان بن محمد بن عمر البُجَيْرَمِيّ المصري الشافعي ، المتوفى: ١٢٢١ هـ)، رحمه الله تعالى في كتابه "تحفة الحبيب على شرح الخطيب = حاشية البجيرمي على الخطيب ":*

وَلَوْ وُجِدَ جُزْءُ مَيِّتٍ مُسْلِمٍ غَيْرِ شَهِيدٍ صُلِّيَ عَلَيْهِ بَعْدَ غُسْلِهِ وَسُتِرَ بِخِرْقَةٍ وَدُفِنَ كَالْمَيِّتِ الْحَاضِرِ ، وَإِنْ… كَانَ الْجُزْءُ ظُفْرًا أَوْ شَعْرًا لَكِنْ لَا يُصَلَّى عَلَى الشَّعْرَةِ الْوَاحِدَةِ
قَوْلُهُ : ( وَلَوْ وُجِدَ جُزْءُ مَيِّتٍ ) أَيْ تَحَقَّقَ انْفِصَالُهُ مِنْهُ حَالَ مَوْتِهِ أَوْ فِي حَيَاتِهِ وَمَاتَ عَقِبَهُ فَخَرَجَ الْمُنْفَصِلُ مِنْ حَيٍّ وَلَمْ يَمُتْ عَقِبَهُ إذَا وُجِدَ بَعْدَ مَوْتِهِ فَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ ، وَيُسَنُّ مُوَارَاتُهُ بِخِرْقَةٍ وَدَفْنُهُ .ا هـ .
{انظر كتاب تحفة الحبيب على شرح الخطيب = حاشية البجيرمي على الخطيب : ج ٦ ص ٩٨، ج ١ ص ٤٥٥. للشيخ البُجَيْرَمِيّ المصري الشافعي}.

*💾✒• Berkata Syaikh Bujairamiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Tuhfatu Al Habib 'Ala Syarhi Al Khathib = Hasyiyyah Bujairamiy 'Ala Al Khathib ":*

Bila di ketemukan bagian dari janazah orang muslim maka wajib di sholati setelah terlebih dahulu dimandikan dan dibungkus dengan kain, dan juga dikuburkan selayaknya janazah yang hadir, meskipun bagian tersebut hanyalah kuku atau rambut hanya saja bila hanya sehelai rambut tidak perlu disholati
(Perkataan pengarang “Bila di ketemukan bagian dari janazah orang muslim”) dengan syarat bila diketahui pasti anggota tersebut milik mayit saat ia sudah mati/saat matinya, atau saat hidupnya kemudian mati setelahnya, berbeda dengan bagian tubuh yang terpisah dari orang hidup namun ia tidak mati setelah anggautanya terpisah dan baru diketemukan saat ia mati maka tidak wajib disholati”.
{Lihat Kitab Hasyiyah Bujairomi : juz 6 hal 98, juz 1 hal 455. Karya Syaikh Al Bujairamiy Asy Syafi'iy}.


*iv)• Cårå Mengurus Bayi Prematur (Kluron : Jawa)  Atau Keguguran.*

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ هَاشِمِ بْنِ مَرْزُوقٍ حَدَّثَنَا عَبِيدَةُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مُسْلِمٍ الْحَضْرَمِيِّ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ💞 قٙالٙ :

*_«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ السِّقْطَ لَيَجُرُّ أُمَّهُ بِسَرَرِهِ إِلَى الْجَنَّةِ إِذَا احْتَسَبَتْهُ»._*
{رواه ابن ماجه / ٦ - كتاب الجنائز / (٥٨) باب ما جاء فيمن أصيب بسقط / رقم الحديث : ١٦٠٧. وضعفه النووي في "الخلاصة" : ج ٢ ص ١٠٦٦. والبوصيري ، وصححه الألباني في صحيح ابن ماجه}.

Telah menceritakan kepada kami : 'Aliy bin Hasyim bin Marzuq. Telah menceritakan kepada kami : 'Abidah bin Humaid. Telah menceritakan kepada kami : Yahya bin Ubaidullah. Dari 'Ubaidullah bin Muslim Al Hadlrami. Dari Mu'adz bin Jabal. Dari Nabi ﷺ💖, beliau bersabda:

*_"Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh anak yang meninggal dalam kandungan ibunya akan menarik ibunya dengan talinya pusar ke surga jika ia sabar. "_*
{HR. Ibnu Majah / 6 - Kitabu Al Jana'izi / 58 - Babu Ma Ja'a Fiman Ushiiba Bisiqtin / No. 1607. Dalam Al Khalashah Imam Nawawiy *MENDLO'IFKANNYA*. Dan Albaniy Tokoh Wahhabiy *MENSHAHIHKANNYA*}.

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي سِنَانٍ ، قَالَ : دَفَنْتُ ابْنِي سِنَانًا ، وَأَبُو طَلْحَةَ الْخَوْلَانِيُّ جَالِسٌ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ ، فَلَمَّا أَرَدْتُ الْخُرُوجَ أَخَذَ بِيَدِي ، فَقَالَ : أَلَا أُبَشِّرُكَ يَا أَبَا سِنَانٍ ، قُلْتُ : بَلَى ، فَقَالَ : حَدَّثَنِي الضَّحَّاكُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَرْزَبٍ ، عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ💜، قَالَ :

*_" إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ ، قَالَ اللَّهُ صحيح ش لِمَلَائِكَتِهِ : قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي ؟ فَيَقُولُونَ : نَعَمْ ، فَيَقُولُ : قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ ؟ فَيَقُولُونَ : نَعَمْ ، فَيَقُولُ : مَاذَا قَالَ عَبْدِي ، فَيَقُولُونَ : حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ ، فَيَقُولُ اللَّهُ : ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ " ._*
قَالَ أَبُو عِيسَى : هَذَا *حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيب*ٌ .
{رواه الترمذي /  كتاب الجنائز عن رسول الله صلى الله عليه وسلم     / باب فضل المصيبة إذا احتسب / رقم الحديث : ١٠٢١. وحسنه الألباني في صحيح الترمذي}.

Telah menceritakan kepada kami : Suwaid bin Nashr. Telah menceritakan kepada kami : 'Abdullah bin Al Mubarak. Dari Hammad bin Salamah. Dari Abu Sinan  berkata;

*"Saya mengubur anakku,* Sinan dan Abu Thalhah Al Khaulani  duduk di tepi kuburan. Tatkala saya hendak keluar, dia mengambil tanganku. Dia berkata; 'Maukah aku beri kabar gembira Wahai Abu Sinan?' Saya menjawab; 'Ya.' dia berkata; 'Telah menceritakan kepadaku Al Dlahak bin Abdurrahman bin 'Arzab. Dari Abu Musa Al Asy'ari : 

Bahwa Rasulullah ﷺ💙 bersabda:

*_'Jika anak seorang hamba meninggal, Allah berfirman kepada para malaikatNya: Kalian telah mencabut anak hambaKu. Mereka menjawab; 'Ya.' (Allah Tabaraka Wa Ta'ala) berfirman; 'Kalian telah mencabut buah hatinya.' Mereka menjawab; 'Ya.'(Allah Tabaraka Wa Ta'ala) bertanya: 'Apa yang dikatakan hambaKu.' Mereka menjawab; 'Dia memujiMu dan mengucapkan istirja'.' Allah berkata: 'Bangunlah untuk hambaKu satu rumah di syurga, dan berilah nama dengan Baitulhamd'."_*

Abu Isa berkata; *"Ini merupakan Hadits Hasan Gharib."*
{HR. Tirmidzi / Kitabu Al Jana'izi 'An Rasulillah ShallAllahu 'Alaihi Wasallama / Babu Fadli Al Mushibati Idzaa Uhtisiba / No. 1021. Dan Albani Tokoh Wahhabiy *MENGHASANKANNYA*}.

*💾🎙• قال الإمام  النوويُّ الشافعي رحمهُ الله في كتابه " المجموع شرح المهذب " :*

" موتُ الواحدِ من الأولادِ حجابٌ منَ النار ، وكذا السقطُ ، واللهُ أعلم ".
{انظر كتاب "المجموع" : ج ٥ ص ٢٨٧. للإمام النووي الشافعي.  وانظر : كتاب "حاشية ابن عابدين" : ج ٢ ص ٢٢٨. للإمام ابن عابدين الحنفي}.

*📿🎤• Imam An Nawawi Asy Syafi'iy –rahimahullah ta'ala - berkata:*

“Meninggalnya salah satu dari anak-anak menjadi pembatas dari api neraka, demikian juga janin yang keguguran, wallahu a’lam”.
{Lihat Kitab Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab : juz 5 hal 287. Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy. Dan Lihat Kitab Hasyiyyah Ibnu 'Abidin : juz 2 hal 228. Karya Imam Ibnu 'Abidin Al Hanafiy}.


*💾🎙• قال شيخ الإسلام ابن تيمية الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه " مجموع الفتاوى "  :*

" إسْقَاطُ الْحَمْلِ حَرَامٌ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ ، وَهُوَ مِنْ الْوَأْدِ الَّذِي قَالَ اللَّهُ فِيهِ : ( وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ * بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ ) ، وَقَدْ قَالَ : ( وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ ) " انتهى .

والجنين بعد نفخ الروح فيه ، يعتبر إنساناً ، فإذا سقط أو أجهض ، فإنه يغسل ويكفن ويصلى عليه ويسمى ويعق عنه ، ويبعث يوم القيامة .
{انظر كتاب مجموع الفتاوى : ج ٣٤ ص ١٦٠. للإمام ابن تيمية الحنبلي}.

*🌴🎤• Syeikh Islam Ibnu Taimiyah Al Hanbaliy –rahimahullah  ta'ala -  berkata di dalam Majmu’  Fatawa :*

“Menggugurkan kandungan hukunnya haram menurut ijma’ kaum muslimin, dan hal itu termasuk penguburan hidup-hidup sebagaimana dalam firman Allah:

( وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ * بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ )

“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh”. (QS. At Takwir: 8-9)

Allah juga telah berfirman:

( وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ )

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan”. (QS. Al Isra’: 31)

Janin yang telah ditiupkan ruh kepadanya sudah dianggap sebagai manusia, *_```jika keguguran atau diaborsi, maka dimandikan, dikafani, disholati, diberi nama, diaqiqahi dan dibangkitkan pada hari kiamat."_*```
{Lihat Kitab Majmu' Al Fatawa : juz 34 hal 160. Karya Imam Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy}.

*💓👉• Cara mengurus jenazah bayi yang lahir keguguran.*

Memandikan dan Menshalatkan

*💾🎙• قال الشيخ الإمام تقي الدين الشافعي (وهو أبو بكر بن محمد بن عبد المؤمن بن حريز بن معلى الحسيني الحصني، تقي الدين الشافعي ، المتوفى: ٨٢٩ هـ)، رحمه الله تعالى في كتابه "  كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار ":*

(وَاثْنَانِ لَا يُغْسَلَانِ وَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِمَا)

أَحَدُهُمَا (الشَّهِيْدُ فِيْ مَعْرِكَةِ الْمُشْرِكِيْنَ)

(وَ) الثَّانِيْ (السِّقْطُ الَّذِيْ لَمْ يَسْتَهِلْ) أَيْ لَمْ يَرْفَعْ صَوْتَهُ (صَارِخًا)

وَأما السقط حالتان
الأولى أَن يستهل أَي يرفع صَوته بالبكاء أَو لم يستهل وَلَكِن شرب اللَّبن أَو نظر أَو تحرّك حَرَكَة كَبِيرَة تدل على الْحَيَاة ثمَّ مَاتَ فَإِنَّهُ يغسل وَيصلى عَلَيْهِ بِلَا خلاف لأَنا تَيَقنا حَيَاته وَفِي الحَدِيث
(إِذا اسْتهلّ الصَّبِي ورث وَصلى عَلَيْهِ)

الْحَالة الثَّانِيَة أَن لَا يتَيَقَّن حَيَاته بِأَن لَا يستهل وَلَا ينظر وَلَا يمتص وَنَحْوه فَينْظر إِن عرى عَن أَمارَة الْحَيَاة كالاختلاج وَنَحْوه فَينْظر أَيْضا إِن لم يبلغ حدا ينْفخ فِيهِ الرّوح وَهُوَ أَرْبَعَة أشهر فَصَاعِدا لم يصل عَلَيْهِ بِلَا خلاف فِي الرَّوْضَة وَلَا يغسل على الْمَذْهَب لِأَن الْغسْل أخف من الصَّلَاة وَلِهَذَا يغسل الذِّمِّيّ وَلَا يصلى عَلَيْهِ وَإِن بلغ أَرْبَعَة أشهر فَقَوْلَانِ الْأَظْهر أَنه أَيْضا لَا يصلى عَلَيْهِ لَكِن يغسل على الْمَذْهَب وَأما إِذا اختلج أَو تحرّك فيصلى عَلَيْهِ على الْأَظْهر وَيغسل على الْمَذْهَب .
{انظر كتاب  عنوان الكتاب: كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار : ج ١ ص ١٦٠ - ١٦١. للإمام السيد تقي الدين أبو بكر بن محمد الحسينى الحصني الشافعي}.

*📓🖍• Berkata Syaikh Sayyid  Taqiyuddin Al Husainiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Kifayatu Al Akhyaar Fi Hilli Ghayati Al Ikhthishaar ":*

Dua orang yang matinya tidak dimandikan dan dishalati : Orang mati syahid dan bayi lahir keguguran yang tidak bersuara (menjerit).

Adapun bayi yang lahir keguguran terbagi atas :

*👉 Saat ia lahir dengan mengeluarkan suara, menangis, atau tidak mengeluarkan suara tetapi ia minum air susu atau melihat, atau bergerak-gerak layaknya pergerakan orang dewasa yang menunujukkan adanya kehidupan pada dirinya, kemudian ia meninggal dunia
 *_```maka ia dimandikan dan dishalatkan hal ini sesuai kesepakatan ulama karena diyakini adanya kehidupan pada dirinya_*``` dan dalam sebuah hadits :  *“Bayi yang lahir mengeluarkan suara maka berhak harta warisan dan dishalatkan”.*

*👉  Tidak diyakini adanya kehidupan pada dirinya seperti saat kelahiran tidak bersuara, tidak melihat, tidak menetek, maka perihalnya ditinjau terlebih dahulu sebagai berikut :

~ Bila tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti bergerak dan sejenisnya dan kegugurannya belum sampai pada batas tertiupnya ruh pada dirinya (dalam kandungan usia 4 bulan keatas) maka ulama sepakat ia tidak dishalati, dan tidak dimandikan menurut pendapat yang dijadikan madzhab dikalangan syafi’iyyah karena hokum memandikan lebih ringan ketimbang menshalatkan karenanya orang mati kafir dzimmi dimandikan tapi tidak boleh dishalatkan.

~ Bila ia telah berusia 4 bulan ke atas maka :

*👉    Menurut pendapat yang paling azhhar ia tidak boleh dishalatkan, tetapi boleh dimandikan menurut pendapat yang dijadikan madzhab.

*👉    Bila ia bergerak maka dishalatkan menurut pendapat yang paling azhhar ia tidak boleh dishalatkan, tetapi boleh dimandikan menurut pendapat yang dijadikan madzhab.
{Lihat Kitab Kifaayatu al-Akhyaar : juz 1  hal 160-161. Karya Imam Sayyid  Taqiyuddin Al Husainiy Asy Syafi'iy}.


*👉    Sunnah memberi nama anak yang keguguran  tersebut :*

*💾🎙• قال الإمام النووي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " المجموع شرح المهذب " :*

قال أصحابنا لو مات المولود قبل تسميته استحب تسميته قال البغوي وغيره يستحب تسمية السقط
{انظر كتاب المجموع شرح المهذب : ج ٨ ص ٤٣٥. للإمام النووي الشافعي}.

*📗✒• Imam Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitabnya " Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab ":*

Berkata pengikut-pengikut as-Syafi’i “Bila bayi lahir sebelum diberi nama maka sunah memberinya nama”. Berkata al-Baghawi dan lainnya “Disunahkan memberi nama pada bayi yang lahir keguguran”.
{Lihat Kitab Al-Majmuu’ alaa Syarh al-Muhadzdzab : juz VIII hal 435. Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy}.

*✍ Dalam Kesempatan lain dalam kitab dan  kasus yang sama disebutkan :*

*💾🎙• قال الإمام النووي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " المجموع شرح المهذب " :*

قد ذكرنا أن مذهب أصحابنا استحباب تسمية السقط وبه قال ابن سيرين وقتادة والاوزاعي * وقال مالك لا يسمى ما لم يستهل صارخا والله أعلم
{انظر كتاب المجموع : ج ٨ ص ٤٤٨. للإمام النووي الشافعي}.

*📗✒• Imam Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitabnya " Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab ":*

Telah kami sebutkan bahwa pengikut-pengikut Imam Syafi’i cenderung memilih kesunahan memberi nama pada bayi yang lahir keguguran, semacam ini yang dipilih oleh Ibn Siriin, Qataadah dan al-Auzaa’i.
{Lihat Kitab Al-Majmuu’ alaa Syarh al-Muhadzdzab : juz VIII hal 448. Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy}.


*💾🎙• قال الإمام ابن حجر الهيتمي الشافعي (وهو أحمد بن محمد بن علي بن حجر الهيتمي المكي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " تحفة المحتاج في شرح المنهاج ":*

عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَلَوْ مَاتَ قَبْلَ التَّسْمِيَةِ اُسْتُحِبَّ تَسْمِيَتُهُ بَلْ يُسَنُّ تَسْمِيَةُ السِّقْطِ ا هـ
{انظر كتاب تحفة المحتاج في شرح المنهاج : ج ٤١ ص ١٩٤. للإمام أحمد بن محمد بن علي بن حجر الهيتمي المكي الشافعي}.

*🌴📿• Berkata Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Tuhfatu Al Muhtaaj Fi Syarhi Al Minhaaj ":*

Redaksi dalam kitab al-Mughni

“Bila bayi lahir sebelum diberi nama maka sunah memberinya nama bahkan disunahkan memberi nama pada bayi yang lahir keguguran”.
{Lihat Kitab Tuhfah al-Muhtaaj : juz 41 hal 193. Karya Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Asy Syafi'iy}.


*💾🎙• قال الإمام الشربيني الشافعي (وهو شمس الدين، محمد بن أحمد الخطيب الشربيني الشافعي ، المتوفى: ٩٧٧ هـ)، رحمه الله تعالى في كتابه " مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج ":*

ولو مات قبل التسمية استحب تسميته بل يسن تسمية السقط فإن لم يعلم أذكر هو أم أنثى سمي اسم يصلح لهما كخارجة وطلحة وهند.
{انظر كتاب مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج : ج ٤ ص ٢٩٤. للإمام الشربيني الشافعي}

*📿🖍• Berkata Imam Khathib Syarbiniy dalam kitabnya " Mughniy Al Muhtaaj Ìlaa Ma'rifati Ma'ani Alfaadzi Al Minhaaj ":*

“Bila bayi lahir sebelum diberi nama maka sunah memberinya nama bahkan disunahkan memberi nama pada bayi yang lahir keguguran, bila tidak diketahui jenis kelaminnya apakah ia lelaki atai pria maka diberi nama yang pantas untuk keduanya seperti nama Kharijah, Thalhah dan Hindun”.
{Lihat Kitab Mughni al-Muhtaaj : juz IV hal 294. Karya Imam Syamsuddin Asy Syarbiniy Asy Syafi'iy}.


*v)• Cara Mengurus Bayi Anak Kecil*

أجمعَ أهلُ العلمِ على أنَّ الطفلَ إذا عُرِفت حياتُه واستهلَّ – بصوتٍ – أنّه يُغَسَّلُ ويكفَّن ويُصَلى عليه .
{نقل الإجماع ابن المنذر وابن قدامة في "المغني" : ج ٢ ص ٣٢٨. والكاساني الحنفي في "بدائع الصنائع" : ج ١ ص ٣٠٢}.

Para ulama telah melakukan ijma’ bahwa janin jika dinyatakan hidup dan lahir dengan menangis (lalu meninggal dunia), maka dimandikan, dikafani dan dishalatkan.
{Ijma’ tersebut dinukil oleh Ibnu Mundzir dan Ibnu Qudamah dalam al Mughni: juz 2 hal 328 dan Al Kasaani dalam Badai’ Shanai’: juz 1 hal 302}.


*💾🎙• قالَ الامام النوويّ الشافعي رحمه الله تعالى في "المجموع شرح المهذب " :*

ويكونُ كفنُه ككفنِ البالغِ ثلاثةَ أثواب .
{انظر كتاب المجموع شرح المهذب : ج ٥ ص ٢١٠. للإمام النووي الشافعي}.

*💾✍• Imam An Nawawi Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitabnya " Al Majmu’ Syarhu Al Muhadzab ":*

“Kafan yang digunakan sama dengan kafannya orang baligh; yaitu dengan tiga helai kain”.
{Lihat Kitab Al Majmu' : juz 5 hal 210. Karya Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy}.


*💾🎙• قال الإمام النووي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه  " المجموع شرح المهذب " :*

"أما الصبي، فمذهبنا ومذهب جمهور السلف والخلف وجوب الصلاة عليه ونقل ابن المنذر رحمه الله الإجماع فيه.

وحكى أصحابنا عن سعيد بن جبير أنه قال : " لا يصلى عليه ما لم يبلغ " وخالف العلماء كافة.

وحكى العبدري عن بعض العلماء أنه قال : إن كان قد صَلَّى صُلِّي عليه, وإلا فلا, وهذا أيضاً شاذ مردود...؛ لعموم النصوص الواردة بالأمر بالصلاة على المسلمين, وهذا داخل في عموم المسلمين, وعن المغيرة بن شعبة رضي الله عنه أن رسول الله  ﷺ💚 قال : «الرَّاكِبُ خَلْفَ الجَنَازَةِ، وَالمَاشِي حَيْثُ شَاءَ مِنْهَا، وَالطِّفْلُ يُصَلَّى عَلَيْهِ» (رواه أحمد والنسائي والترمذي، وقال *_حديث حسن صحيح ")_*. انتهى
{انظر كتاب المجموع "شرح المهذب" : ج ٥ ص ٢١٧. للإمام النووي الشافعي}.


*👉Diwajibkan menshalati jenazah anak-anak yang mati sebelum berumur baligh. Meskipun kematiannya langsung setelah melahirkan.*

*🌴🎙• Imam Nawawi Asy Syafi'iy  rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab "  berkata :*

“Adapun bayi, maka mazhab kami (Syafi'iyyah)  dan mazhab mayoritas ulama salaf dan kholaf *ADALAH WAJIB MENSHALATINYA.* Ibnu Munzir mengutip ijmak (consensus) atas hal itu. Ulama kalangan mazhab kami (Syafi'iyyah)  meriwayatkan dari Sa'id bin Jubair bahwa beliau mengatakan :  “Shabiyy (Anak kecil) *TIDAK DISHALATI (JENAZAH) SELAGI BELUM BALIGH*." Akan tetapi hampir semua ulama tidak menyetujuinya.

Diriwayatkan dari Al-Abdari dari sebagian para ulama bahwa beliau mengatakan :  “Kalau (anak) itu telah melakukan shalat, maka dia *DISHALATI.* Kalau belum  (shalat), maka *TIDAK DISHALATI​*. Ini juga tertolak dan menyalahi mayoritas ulama (syadz/aneh). Berdasarkan keumuman nash yang ada terkait perintah melakukan shalat (jenazah) kepada seluruh umat Islam. Dan (anak) masuk dalam keumuman umat Islam.

Dari Mughiroh bin Syu’bah radliyyAllahu​ 'anhu sesungguhnya Rasulullah ﷺ💓  bersabda:

«الرَّاكِبُ خَلْفَ الجَنَازَةِ، وَالمَاشِي حَيْثُ شَاءَ مِنْهَا، وَالطِّفْلُ يُصَلَّى عَلَيْهِ» (رواه أحمد والنسائي والترمذي، وقال حديث حسن صحيح)

“Orang yang naik kendaraan hendaknya berada di belakang jenazah, orang yang berjalan terserah (dimana saja), *DAN ANAK KECIL DISHALATKAN ATASNYA.”* (HR. Ahmad, Nasa’i, Tirmizi dan mengatakan *HADITS HASAN SHAHIH).”*
{Lihat Kitab Al Majmu' Syarh Al-Muhadzab : juz  5 hal 217. Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy}.


*💾🎙• قال الإمام  ابن عبد البر المالكي رحمه الله تعالى في كتابه " الاستذكار " :*

" وفي هذا الحديث من الفقه : الصلاة على الأطفال ، وعلى هذا جماعة الفقهاء وجمهور أهل العلم والاختلاف فيه شذوذ " انتهى 
{انظر كتاب "الاستذكار" : ج ٣ ص ٣٨. للإمام ابن عبد البر المالكي}.

*🌴💾• Imam Ibnu Abdil Barr Al Malikiy  rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Al Istidzkar " mengatakan :*

“Dalam hadits ini ada fiqihnya, shalat (jenazah) kepada anak-anak. Dan ini pendapat mayoritas ahli ilmu. Yang berbeda adalah syadz (menyalahi mayoritas ulama).”
{Lihat Kitab Al-Istidzkar : juz 3 hal 38. Karya Imam Ibnu Abdi Al Barr Al Malikiy}.


*💾🎙• قال الإمام  ابن قدامة المقدسي​ الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه " المغني " :*

وإن دفن قبل الصلاة , فعن أحمد أنه ينبش , ويصلى عليه . وعنه : أنه إن صلي على القبر جاز. واختار القاضي أنه يصلى على القبر ولا ينبش. وهو مذهب أبي حنيفة , والشافعي..." انتهى
{انظر كتاب "المغني" : ج ٢ ص ٢١٧. للإمام ابن قدامة المقدسي الحنبلي}.

*📿✍• Imam Ibnu Qudamah Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Al Mughniy "  mengatakan :*

Kalau anak-anak meninggal dunia dan telah dikubur sebelum disholati, maka dishalati di atas kuburannya. Kalau tidak memungkinkan, maka dilakukan shalat gaib atasnya. Ibnu QUdamah rahimahullah mengatakan, “Kalau telah dikubur sebelum dishalatkan, maka menurut pendapat Ahmad dikeluarkan lagi dan dishalati. Tapi menurutnya juga, kalau dishalati di atas kuburannya dibolehkan. Al-Qadhi memilih bahwa dia di sholati di atas kubur tanpa dikeluarkan. Dan ini adalah mazhab Abu Hanifah dan Syafi’i."
{Lihat Kitab Al-Mughniy : juz 2 hal 217. Karya Imam Ibnu Qudamah Al Hanbaliy}.


*👉• Boleh Mengaqiqahi Bayi Yang Mati :*


*💾✍• جاءَ في كتاب الموسوعةِ الفقهيةِ الكويتية :*

" ذهبَ الشّافعيّةُ إلى أنّ العقيقةَ تُطلبُ من الأصلِ الّذي تلزمُه نفقةُ المولودِ ، فيؤدّيها من مالِ نفسِه لا من مالِ المولود ، ولا يفعلُها من لا تلزمُه النّفقةُ إلاّ بإذنِ من تلزمُه .

وصرّحَ الحنابلةُ أنّه لا يَعقّ غيرُ أبٍ إلاّ إن تعذّرَ بموتٍ أو امتناعٍ ، فإن فعلَها غيرُ الأبِ لم تُكرَه ، ولكنّها لا تكون عقيقةً ، وإنّما عقّ النّبيّ صلى الله عليه وسلم عن الحسن والحسين ، لأنّه أولى بالمؤمنينَ من أنفسِهم " انتهى .
{انظر كتاب الموسوعة الفقهية : ج ٣٠ ص ٢٧٩}.

*♻✒• Disebutkan di dalam kitab " Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyyah " :*

“Syafi’iyah berpendapat bahwa aqiqah merupakan tanggung jawab dari bapak yang diwajibkan untuk memberikan nafkah kepada bayi tersebut, maka hendaknya menunaikannya dari uangnya sendiri tidak berasal dari harta bayi tersebut, dan tidak dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai kewajiban untuk menafkahinya.

Dengan jelas Hanabilah menyatakan bahwa selain bapaknya tidak bisa melaksanakan aqiqah, kecuali jika ada udzur karena meninggal dunia atau enggan melaksanakannya, maka jika dilakukan oleh orang lain maka tidak dibenci, akan tetapi bukan sebagai aqiqah, kalau Nabi –shallAllahu ‘alaihi wa sallam- telah mengaqiqahi Hasan dan Husain itu karena Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri”.
{Lihat Kitab Al Mausuu'ah Al Fiqhiyyah : juz 30 hal 279}.


Jika bapaknya masih hidup dan mampu, maka perlu diberi nasehat agar melaksanakan aqiqah untuk anaknya, jika tidak mau atau mengizinkan ibunya untuk mengaqiqahinya, maka baru ibunya boleh melaksanakannya.


*4⃣• Perawatan Kurban Mutilasi Dan Yang Lainnya Menurut Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal.*

Menurut Imam Ahmad mayyit yang terkena virus penyakit berbahaya, orang yang terbakar, dan orang yang tenggelam, jika memungkinkan untuk dimandikan maka harus dimandikan. Namun jika ada halangan lainnya, maka boleh untuk melakukan tayamum bagi si jenazah. Jika tidak didapati air, jenazah ditayamumi. Jika penggunaan air pada sebagian anggota tubuh tidak memungkinkan, maka yang memungkinkan dimandikan/disiram air sedangkan untuk yang tidak terkena siraman air maka jenazah ditayamumi. Dan sisanya ditayamumi sama seperti orang yang hidup. Sedangkan potongan anggota tubuh yang diketemukan  menurut beliau tidak wajib dishalati.


*📓✍• وقال الإمام  ابن قدامة الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه " المغني " :*

فَصْلٌ : فَإِنْ لَمْ يُوجَدْ إلَّا بَعْضُ الْمَيِّتِ ، فَالْمَذْهَبُ أَنَّهُ يُغَسَّلُ ، وَيُصَلَّى عَلَيْهِ . وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ . وَنَقَلَ ابْنُ مَنْصُورٍ عَنْ أَحْمَدَ ، أَنَّهُ لَا يُصَلَّى عَلَى الْجَوَارِحِ .

قَالَ الْخَلَّالُ : وَلَعَلَّهُ قَوْلٌ قَدِيمٌ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ، وَاَلَّذِي اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ قَوْلُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ يُصَلَّى عَلَى الْأَعْضَاءِ .

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ ، وَمَالِكٌ : إنْ وُجِدَ الْأَكْثَرُ صُلِّيَ عَلَيْهِ ، وَإِلَّا فَلَا ؛ لِأَنَّهُ بَعْضٌ لَا يَزِيدُ عَلَى النِّصْفِ ، فَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ ، كَاَلَّذِي بَانَ فِي حَيَاةِ صَاحِبِهِ ، كَالشَّعْرِ وَالظُّفْرِ . وَلَنَا ، إجْمَاعُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ ،

قَالَ أَحْمَدُ : صَلَّى أَبُو أَيُّوبَ عَلَى رِجْلٍ ، وَصَلَّى عُمَرُ عَلَى عِظَامٍ بِالشَّامِ ، وَصَلَّى أَبُو عُبَيْدَةَ عَلَى رُءُوسٍ بِالشَّامِ .رَوَاهُمَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ ، بِإِسْنَادِهِ .

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ : أَلْقَى طَائِرٌ يَدًا بِمَكَّةَ مِنْ وَقْعَةِ الْجَمَلِ ، فَعُرِفَتْ بِالْخَاتَمِ ، وَكَانَتْ يَدَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَتَّابِ بْنِ أَسِيدٍ ، فَصَلَّى عَلَيْهَا أَهْلُ مَكَّةَ . وَكَانَ ذَلِكَ بِمَحْضَرٍ مِنْ الصَّحَابَةِ ، وَلَمْ نَعْرِفْ مِنْ الصَّحَابَةِ مُخَالِفًا فِي ذَلِكَ ، وَلِأَنَّهُ بَعْضٌ مِنْ جُمْلَةٍ تَجِبُ الصَّلَاةُ عَلَيْهَا ، فَيُصَلَّى عَلَيْهِ كَالْأَكْثَرِ ، وَفَارَقَ مَا بَانَ فِي الْحَيَاةِ ؛ لِأَنَّهُ مِنْ جُمْلَةٍ لَا يُصَلَّى عَلَيْهَا ، وَالشَّعْرُ وَالظُّفْرُ لَا حَيَاةَ فِيهِ . انتهى
{انظر كتاب المغني : ج ٢ ص ٢٠٩. للإمام قدامة  المقدسي الحنبلي}.

*💾📿• Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy  rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Al Mughniy " mengatakan :*

(Pasal) Jikalau tidak diketemukan kecuali hanya sebagian tubuh mayyit, menurut satu madzhab bagian tubuh mayyit tersebut dimandikan dan dishalati. Dan itu adalah perkataan Imam Syafi'iy. Ibnu Manshur menukil dari Imam Ahmad : Jawarih/organ - organ tubuh tidak dishalati.

Al Khalal berkata : Barangkali itu adalah qaul qadim Abi 'Abdillah  (perkataan Imam Syafi'iy di Iraq), yang telah menetapkan atas persoalan tersebut bahwasannya  organ - organ tubuh (mayyit yang ditemukan) harus dishalati.

Imam Abu Hanifah dan Malik berkata : Jikalau (organ - organ tubuh mayyit) ditemukan lebih banyak, maka wajib dishalati, jikalau tidak demikian maka tidak wajib dishalati. Karena itu cuma sebagian tidak lebih dari separuh, maka itu *TIDAK  DISHALATI,* layaknya sesuatu yang jelas jelas  terdapat dalam diri pemiliknya, seperti rambut, dan kuku. Dan ada pada kami dasar  kesepakatan para sahabat radliyyAllahu 'anhum.

Imam Ahmad berkata : Abu Ayyub menshalati sepotong kaki, 'Umar menshalati seonggok tulang disyam, Abu 'Ubaidah menshalati beberapa kepala disyam, 'Abdullah bin Ahmad telah meriwayatkan keduanya dengan sanadnya sendiri.

Imam Syafi'iy berkata : Seekor burung telah menjatuhkan sepotong tangan dimakkah, dari tempat  pertempuran " perang Jamal ", lantas dikenali dengan adanya cincin yang melingkar dijarinya, dan diketahui adanya cincin tersebut berada ditangan  milik 'Abdurrahman bin 'Attab bin Asiid, maka Ahlu Makkah menshalati tangan tersebut. Dan kejadian tersebut terjadi dihadapan para sahabat, dan kami tidak melihat satupun dari para sahabat yang menyelisihi kejadian tersebut, dan tangan tersebut adalah termasuk sebagian dari *SEKIAN BANYAK YANG WAJIB DISHALATI*, maka tangan tersebut dishalati layaknya organ tubuh yang lebih lengkap, dan berbeda dengan organ yang jelas - jelas tidak terdapat kehidupannya  (seperti rambut dan kuku), organ tersebut  termasuk dari sekian banyak organ tubuh *YANG TIDAK​ WAJIB DISHALATI*, seperti rambut dan kuku tidak ada kehidupan didalamnya.
{Lihat Kitab Al-Mughni : juz 2 hal 209. Karya Imam Ibnu Qudamah Al Hanbaliy}.


*📓✍• وقال ايضا  الإمام  ابن قدامة الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه " المغني " :*

فَصْلٌ : وَالْمَجْدُورُ ، وَالْمُحْتَرِقُ ، وَالْغَرِيقُ ، إذَا أَمْكَنَ غُسْلُهُ غُسِّلَ ، وَإِنْ خِيفَ تَقَطُّعُهُ بِالْغُسْلِ صُبَّ عَلَيْهِ الْمَاءُ صَبًّا ، وَلَمْ يُمَسَّ ، فَإِنْ خِيفَ تَقَطُّعُهُ بِالْمَاءِ لَمْ يُغَسَّلْ ، وَيُيَمَّمُ إنْ أَمْكَنَ ، كَالْحَيِّ الَّذِي يُؤْذِيه الْمَاءُ ، وَإِنْ تَعَذَّرَ غُسْلُ الْمَيِّتِ لِعَدَمِ الْمَاءِ يُيَمَّمُ ، وَإِنْ تَعَذَّرَ غُسْلُ بَعْضِهِ دُونَ بَعْضٍ ، غُسِّلَ مَا أَمْكَنَ غُسْلُهُ ، وَيُيَمَّمُ الْبَاقِي ، كَالْحَيِّ سَوَاءً .
{انظر كتاب المغني : ج ٢ ص ٢١٠. للإمام قدامة  المقدسي الحنبلي}.

*💾📿• Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy  rahimahullahu ta'ala  menyatakan kembali dalam kitabnya " Al Mughniy " :*

“Jenazah yang terkena virus penyakit berbahaya, orang yang terbakar, dan orang yang tenggelam, jika memungkinkan untuk dimandikan maka harus dimandikan. Namun jika ada halangan lainnya, maka boleh untuk melakukan tayamum bagi si jenazah. Jika tidak didapati air, jenazah ditayamumi. Jika penggunaan air pada sebagian anggota tubuh tidak memungkinkan, maka yang memungkinkan dimandikan/disiram air sedangkan untuk yang tidak terkena siraman air maka jenazah ditayamumi. Dan sisanya ditayamumi sama seperti orang yang hidup.
{Lihat Kitab Al-Mughni : juz 2 hal 210. Karya Imam Ibnu Qudamah Al Hanbaliy}.


*🌴👌• قال الإمام عبد الرحمن الجزيري رحمه الله تعالى في كتابه " الفقه على مذاهب الأربعة " :*

 أن يوجد جسد الميت أو أكثره عند الحنفية والمالكية، بأن وجد عند الحنفية أكثر البدن أو نصفه مع الرأس، وإن وجد عند المالكية ثلثا بدنه ولو مع الرأس، وإلا كان غسله مكروها.

وقال الشافعية والحنابلة : إن لم يوجد إلا بعض الميت ولو كان قليلا غسل وصلى عليه لفعل الصحابة.
{انظر كتاب الفقه علي المذاهب الأربعة : ج ١ ص ٨٦. للإمام عبد الرحمن الجزيري  (القاهرة، المكتب الثقافي،٢٠٠٠م)}.

*📿💞• Berkata Imam 'Abdurrahman Al Jaziriy dalam kitabnya " Al Fiqhi 'Ala Madzahibi Al Arba'ah ":*

Apabila ditemukan jasad mayyit atau potongan lebih banyak, menurut pengikut Madzhab Abu Hanifah dan Imam Malik : Gambarannya jikalau ditemukan potongan anggota tubuh mayyit lebih banyak atau separo bersama kepalanya, menurut pengikut Imam Malik jikalau ditemukan organ tubuh mayyit kurang dari 1/3 walaupun bersama kepalanya, akan tetapi jika tidak seperti itu, maka *MEMANDIKANNYA ADALAH MAKRUH*

Dan pengikut madzhab Imam Syafi'iy dan Imam Ahmad bin Hanbal​ berkata : Apabila tidak diketemukan kecuali sebagian organ tubuh mayyit sekalipun hanya sedikit, maka organ  sedikit yang diketemukan *HARUS DIMANDIKAN DAN DISHALATI* karena mengikuti perilaku para sahabat.
{Lihat Kitab Al Fiqhi 'Ala Madzahibi Al Arba'ah : juz 1 hal 86. Karya Imam 'Abdurrahman Al Jaziriy. Cet. Cairo - Al Maktab Ats Tsaqafiy}.


*5⃣• Perawatan Kurban Mutilasi Dan Sejenisnya Menurut  Madzhab Dawud Adz Dzahiriy.*

Menurut Madzhab Adz Dzahiriy untuk sêlamanya jikalau diketemukan potongan organ tubuh orang Islam *_MAKA WAJIB DIMANDIKAN KEMBALI, DIKAFANI, DIMAKAMKAN, DAN TIDAK MENGAPA DISHALATI LAGI UNTUK KEDUA KALINYA._*

*📿✍• قال الإمام ابن حزم الظاهري رحمه الله تعالى في كتابه " ألمحلى ":*

مَسْأَلَةٌ: وَيُصَلَّى عَلَى مَا وُجِدَ مِنْ الْمَيِّتِ الْمُسْلِمِ, وَلَوْ أَنَّهُ ظُفْرٌ أَوْ شَعْرٌ فَمَا فَوْقَ ذَلِكَ, وَيُغَسَّلُ وَيُكَفَّنُ,
إلاَّ أَنْ يَكُونَ مِنْ شَهِيدٍ فَلاَ يُغَسَّلُ, لَكِنْ يُلَفُّ وَيُدْفَنُ.

وَيُصَلَّى عَلَى الْمَيِّتِ الْمُسْلِمِ وَإِنْ كَانَ غَائِبًا لاَ يُوجَدُ مِنْهُ شَيْءٌ.

فَإِنْ وُجِدَ مِنْ الْمَيِّتِ عُضْوٌ آخَرُ بَعْدَ ذَلِكَ أَيْضًا غُسِّلَ أَيْضًا, وَكُفِّنَ, وَدُفِنَ, وَلاَ بَأْسَ بِالصَّلاَةِ عَلَيْهِ ثَانِيَةً, وَهَكَذَا أَبَدًا.

بُرْهَانُ ذَلِكَ: أَنَّنَا قَدْ ذَكَرْنَا قَبْلُ وُجُوبَ غُسْلِ الْمَيِّتِ وَتَكْفِينِهِ وَدَفْنِهِ وَالصَّلاَةِ عَلَيْهِ.

فَصَحَّ بِذَلِكَ غُسْلُ جَمِيعِ أَعْضَائِهِ قَلِيلِهَا وَكَثِيرِهَا وَسَتْرُ جَمِيعِهَا بِالْكَفَنِ وَالدَّفْنِ, فَذَلِكَ بِلاَ شَكٍّ وَاجِبٌ فِي كُلِّ جُزْءٍ مِنْهُ.

فَإِذْ هُوَ كَذَلِكَ فَوَاجِبٌ عَمَلُهُ فِيمَا أَمْكَنَ عَمَلُهُ فِيهِ, بِالْوُجُودِ مَتَى وُجِدَ, وَلاَ يَجُوزُ أَنْ يَسْقُطَ ذَلِكَ فِي الأَعْضَاءِ الْمُفَرَّقَةِ بِلاَ بُرْهَانٍ.

وَيَنْوِي بِالصَّلاَةِ عَلَى مَا وُجِدَ مِنْهُ الصَّلاَةُ عَلَى جَمِيعِهِ: جَسَدِهِ, وَرُوحِهِ.
{انظر كتاب المحلّى : ج ١١ ص  / كتاب الجنائز / و يصلى على ما وجد من الميت المسلم و يغسل و يكفن و يصلى على الغائب. للإمام ابن حزم الظاهري}.

*💾🌴• Berkata Imam Ibnu Hazm Adz Dzahiriy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Al Muhalla " :*

Permasalahan : Dan *DISHALATI* atas organ tubuh  mayat orang islam yang ditemukan, walaupun berupa kuku, rambut, dan organ tubuh yang lebih besar dari semua itu, tetap dimandikan dan dikafani, kecuali apabila organ tersebut berasal dari orang yang mati syahid, *MAKA TIDAK DIMANDIKAN*, akan tetapi cukup  dibungkus, dan dimakamkan.

Dan dishalati atas mayyit orang Islam walaupun keberadaannya tidak dihadapan/hadlir, yang tidak ditemukan organ tubuh apapun darinya. Maka jikalau ditemukan kembali organ tubuh yang lain dari mayyit setelah semua itu, *MAKA WAJIB DIMANDIKAN KEMBALI, DIKAFANI, DIMAKAMKAN, DAN TIDAK MENGAPA DISHALATI LAGI UNTUK KEDUA KALINYA*, dan harus begini untuk selamanya.

Penjelasan semua itu : Sesungguhnya kami telah menyebutkan sebelum wajibnya memandikan mayyit, mengkafaninya, menguburkanya, dan menshalatinya.

Benar dengan semua itu wajib memandikan semua anggota mayyit baik sedikit dan banyak organ tubuhnya, menutupi semuanya dengan kafan dan menguburkannya, begitu juga tidak ada keraguan lagi *WAJIB* bagi setiap organ tubuh darinya.

Ketika hal tersebut begitu, *MAKA WAJIB MENGAMALKANNYA*, dengan wujud organ tubuh saat diketemukan, tidak boleh menggugurkan semua kewajiban  itu pada òrgan-organ tubuh yang tercerai berai dengan tanpa alasan.

Dan berniat dengan shalat atas potongan organ tubuh yang diketemukan, menshalati atas semuanya baik jasadnya atau ruhnya.
{Lihat Kitab Al Muhalla : juz 11 hal / Kitabu Al Jana'izi / Wa Yushalli 'Ala Ma Wujida Min Al Mayyiti Al Muslimi ... Karya Imam Ibnu Hazm Adz Dzahiriy}.


*6⃣• Perawatan Kurban Mutilasi, Sebab Diamputasi, Dan Lainnya Menurut Harakah Wahhabiy :*

Menurut Wahhabiy Wajib untuk memandikan potongan tubuh yang  sebagaimana jenazah yang lainnya jika memungkinkan. Namun apabila tidak memungkinkan untuk memandikannya maka ditayamumi.


يجب تغسله كما يغسل غيره إذا أمكن ذلك ، فإن لم يمكن فإنه يُيمّم ، لأن التيمم يقوم مقام التغسيل بالماء عند العجز عن ذلك .

Wajib bagi anda untuk memandikannya sebagaimana jenazah yang lainnya jika memungkinkan. Namun apabila tidak memungkinkan untuk memandikannya maka ditayamumi. Karena tayamum bisa menggantikan kedudukan pemandian jenazah dengan air yang tidak bisa dilakukan.

Abdul Aziz bin Bazz juga pernah ditanya dengan pertanyaan yang sama beliau menjawab :

الأمر واسع فليس لها حكم الإنسان ؛ ولا مانع من أن توضع في النفاية أو تدفن في الأرض احتراماً لها فهذا أفضل ، وإلا فالأمر واسع والحمد لله كما قلنا فلا يجب غسله ولا دفنه إلا إذا كان جنيناً أكمل أربعة أشهر.

"Masalah ini cukup longgar, karena bagian yang terputus tersebut tidak bisa disamakan dengan hukum manusia. Maka tidak masalah jika ditaruh di tempat pembuangan sampah atau lebih baiknya dikubur sebagai bentuk pemuliaan bagi anggota tubuh itu. Walaupun tidak dikubur tidak masalah. Sebagaimana yang telah saya katakana bahwa tidak wajib dimandikan dan dikubur kecuali jika itu adalah janin yang berumur lebih dari 4 bulan.”
{Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqolaat Mutanawwi’ah :  juz 9 hal 436.  Abdul Aziz  bin Baz Al Wahhabiy}.


*D)• 💾✍ Cara Mengurus Orang Waria/Banci :*

Apabila ada orang banci meninggal, siapa yang harus memandikan, laki-laki atau perempuan ? 

Dan bagaimana jika seorang khunsa bersentuhan dengan jenis yang jelas ?
                
Perlu di bedakan antara banci yang saat ini di kenal sebagai (wanita-pria) dengan Khunsa yang tidak di ketahui setatusnya.      

Kalau yang dimaksud Waria maka yang boleh memandikannya hanyalah orang laki-laki.

Termasuk sebaliknya Wanita Tomboy  (wanita bergaya laki-laki) jika meninggal  setatusnya tetap wanita.      


*i]• Yang Boleh Memandikan Mayyit Waria, Banci, Atau Mukhannats.*

jika  Khuntsa  tersebut tidak mempunyai mahrom  (kandung, sebab pernikahan, dan sebab persusuan) maka di perinci:

1.       Jika Khuntsa masih kecil maka yang memandikan boleh di lakukan oleh orang laki-laki dan juga boleh orang  orang perempuan.

2.       Jika Khuntsa dewasa maka ada dua wajah pendapat  :

Pertama dengan cara di tayammumi dan dipendam,  Kedua di mandikan dan  yang memandikan boleh laki-laki, boleh perempuan karena dalam kondisi darurat.

*💾✍• قال الإمام  النووي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " روضة الطالبين وعمدة المفتين ":*

إِذَا مَاتَ الْخُنْثَى الْمُشْكِلُ وَلَيْسَ هُنَاكَ مَحْرَمٌ لَهُ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ النِّسَاءِ، فَإِنْ كَانَ صَغِيرًا، جَازَ لِلرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ غَسْلُهُ، وَكَذَا وَاضِحُ الْحَالِ مِنَ الْأَطْفَالِ، يَجُوزُ لِلْفَرِيقَيْنِ غَسْلُهُ، كَمَا يَجُوزُ مَسُّهُ وَالنَّظَرُ إِلَيْهِ.

وَإِنْ كَانَ الْخُنْثَى كَبِيرًا، فَوَجْهَانِ، كَمَسْأَلَةِ الْأَجْنَبِيِّ،

أَحَدُهُمَا: يُيَمَّمُ وَيُدْفَنُ.

وَالثَّانِي: يُغَسَّلُ. وَفِيمَنْ يُغَسِّلُهُ أَوْجُهٌ.

أَصَحُّهَا وَبِهِ قَالَ أَبُو زَيْدٍ: يَجُوزُ لِلرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ جَمِيعًا غَسْلُهُ لِلضَّرُورَةِ، وَاسْتِصْحَابًا لِحُكْمِ الصِّغَرِ.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ فِي حَقِّ الرِّجَالِ كَالْمَرْأَةِ، وَفِي حَقِّ النِّسَاءِ كَالرَّجُلِ، أَخْذًا بِالْأَحْوَطِ.

وَالثَّالِثُ: يُشْتَرَى مَنْ تَرِكَتِهِ جَارِيَةٌ لِتُغَسِّلَهُ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ تَرِكَةٌ، اشْتُرِيَتْ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ. قَالَ الْأَئِمَّةُ: وَهَذَا ضَعِيفٌ، لِأَنَّ إِثْبَاتَ الْمِلْكِ ابْتِدَاءً.
{انظر كتاب روضة الطالبين وعمدة المفتين : ج ٢ ص ١٠٥ / كتاب الجنائز     / باب غسل الميت / فصل فيمن يغسل الميت. للإمام النووي الشافعي}.

*💾🎙• Imam Nawawiy Asy Syafi'iy  rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitabnya " Raudlatu Ath Thaalibiin Wa 'Umdatu Al Muftiin ":*

Bila yang di maksud adalah Khuntsa  Musykil  |  خُنْثٙى مُشْكِلٌ  (punya dua kelamin yang sama sama bisa  berfungsi atau satu kelamin yang sulit di tentukan) Maka jika  Khuntsa  tersebut tidak mempunyai mahrom  (kandung, sebab pernikahan, dan sebab persusuan) maka di perinci:

1.       Jika Khuntsa masih kecil maka yang memandikan boleh di lakukan oleh orang laki-laki dan juga boleh orang  orang perempuan.

2.       Jika Khuntsa dewasa maka ada dua wajah pendapat  :

Pertama : *DITAYAMMUMI DAN DIKUBUR,*

Kedua : *DIMANDIKAN* dan orang yang memandikannya ada beberapa pandangan : Dan *YANG PALING SHAHIH* dengan kasus ini apa yang telah dikatakan oleh Abu Zaid,  *DIMANDIKAN* dan  yang memandikan boleh laki-laki, boleh perempuan karena dalam kondisi darurat dan bertujuan untuk menetapkannya  pada hukum anak - anak kecil.

Kedua : Bahwasannya dia didalam hak laki - laki seperti perempuan, dan didalam hak perempuan seperti laki - laki, mengambilnya dengan lebih berhati - hati.

Ketiga : Dibelikan dengan harta peninggalannya seorang budak wanita supaya memandikannya, ketika tidak ada harta peninggalannya, maka dibelikan dengan diambilkan dari harta Baitul Mal. Para Imam berkata : Pendapat ini adalah lemah, karena ketetapan kepemilikkan adalah permulaannya.
{Lihat Kitab Raudlatu Ath Thaalibiin Wa 'Umdatu Al Muftiin​ : juz 1 hal 18. Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy. Dan lihat  Hasyiyah al-Bujairimi all-Khotib : ban 2 hal 207. Karya Imam Bujairamiy Asy Syafi'iy}.


*ii]• Hukum Laki - Laki Dan Wanita Menyentuh Waria, Banci, Dan Mukhannats.*

Jika ada orang  perempuan atau lelaki menyentuh kulit dari beberapa model orang waria/banci/bencong/wandu dan orang mukhannats yang masih hidup ataupun sudah mati? Maka hukumnya diperinci :

*(a)•* Banci yang memiliki jenis kelamin ganda tapi belum jelas status yang dominan apakah lelaki atau wanita yang oleh ulama fiqih disebut khuntsa musykil (خنثي مشكل), *MAKA BERSENTUHAN DENGAN MEREKA TIDAK BATAL WUDHUNYA KARENA ADA KEMUNGKINAN KESAMAAN JENIS ANTARA  BANCI TERSEBUT DENGAN PRIA ATAU WANITA YANG MENYENTUH.*

*(b)•* Banci berjenis kelamin ganda tapi sudah diketahui jenis kelamin yang dominan dalam istilah fiqih disebut khuntsa (الخنثي). *_Maka, apabila yang dominan adalah pria maka batal wudhu apabila bersentuhan dengan wanita; kalau yang dominan itu wanita maka batal wudhu apabila bersentuhan dengan pria._*

*(c)•* pria yang berpembawaan atau berperilaku wanita-- karena bawaan lahir atau ikut-ikutan, sedang jenis kelamin normal alias tidak ganda dalam istilah fiqih disebut mukhonnas (مخنث), *_maka ia dihukumi sebagai lelaki baik sebelum operasi kelamin atau sesudahnya. Kalau pria banci tipe ketiga ini menyentuh wanita, maka batal wudhu keduanya sebagaimana pendapat yang umum dalam madzhab Syafi'i. Begitu juga kasus wanita lesbian yang berpenampilan lelaki, maka ia tetap dianggap wanita dalam segala aspeknya._*


Rujukan soal banci tipe khunsa dan mukhonnas dapat ditemui di semua kitab fiqih madzhab Syafi'i. Antara lain:

- Al-Jaziri dalam kitab Al-Fiqh alal Madzahib al-Arba'ah, mengutip pendapat madzhab Syafi'i sbb:

*🌹🌴• جاء في كتاب الفقه على مذاهب الأربعة للإمام عبد الرحمن الجزيري رحمه الله تعالى :*

 ولا تنقض الوضوء لمس أنثى لمثلها , ولا خنثى لخنثى او لرجل , أو لامرأة.
{انظر كتاب الفقه على مذاهب الأربعة : ج ١ ص ٥١. للإمام عبد الرحمن الجزيري}.

*📓👉• Tersebut dalam kitab " Al Fiqhu 'Ala Madzahibi Al Arba'ati " karya Imam 'Abdurrahman Al Jaziriy rahimahullahu ta'ala :*

*_Tidak batal wudhu'_* sentuhan wanita dengan wanita, banci dengan banci atau dengan lelaki atau dengan perempuan.
{Lihat Kitab Al Fiqhu 'Ala Madzahibi Al Arba'ah : juz 1 hal 51. Karya Imam Abdurrahman Al Jaziriy}.


- Hal senada dinyatakan Imam Nawawi dalam Al-Majmu' Syarhu Al Muhadzab  menyatakan:

 (الخامس): لو لمس الخنثى المشكل بشرة خنثى مشكل أو لمس رجل أو امرأة بدن المشكل أو لمس المشكل بدنهما لم ينتقض للاحتمال فلو لمس المشكل بشرة رجل وامرأة انتقض هو لانه لمس من يخالفه ولا ينتقض الرجل ولا المرأة للشك وكذا لو لمساه لم ينتقض واحد منهما للشك وفى انتقاض الخثى القولان في الملموس فلو اقتدت المرأة بهذا الرجل لم تصح صلاتها لانها ان لم تكن محدثة فأمامها محدث

*💾🎙• Berkata Imam Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab ":*

[ KELIMA ] Bila KHUNTSA MUSYKIL (orang dengan dua alat kelamin, pria dan wanita) menyentuh kulit khuntsa musykil lainnya atau seorang pria
atau wanita menyentuh badan KHUNTSA MUSYKIL atau KHUNTSA MUSYKIL menyentuh badan pria atau wanita *_maka wudhunya tidak batal_* karena terdapat kemungkinan kesamaan jenis antara keduanya.
Bila KHUNTSA MUSYKIL menyentuh badan seorang pria atau wanita *_maka batal wudhunya_* karena ia menyentuh orang yang berlainan jenis dengannya *_dan wudhu pria atau wanitanya tidak menjadi batal_* karena keraguan kesamaan jenis diatas, begitu juga tidak batal wudhu seorang pria atau wanita yang menyentuh KHUNTSA MUSYKIL karena keraguan diatas sedang untuk wudhunya KHUNTSA MUSYKIL yang disentuh terdapat dua pendapat ulama namun bila seorang wanita menjadi makmum lelaki jenis ini (KHUNTSA MUSYKIL yang telah ia sentuh) maka shalatnya tidak sah sebab bila ia tidak menjadi hadats akibat bersentuhan dengannya maka imamnya menjadi hadats.
{Lihat Kitab Al Majmu' Syarah Muhazdzab : juz 2 hal 30. Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy}.

Adapun Al-Mukhonats yang berasal dari kodratnya dan tidak memiliki ketertarikan pada wanita maka ada dua pendapat :

*_(Pertama):_* Al-Malikiyah, Al-Hanabilah, dan sebagian Al-Hanifiyah memberi keringanan kepada Al-Mukhonats  jenis ini untuk berada bersama wanita dan bolehnya dia memandang wanita. Berdalil pengecualian tentang golongan yang boleh memandang kepada wanita dalam Firman Allah :

التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ

“Atau laki-laki yang mengikuti kalian yang tidak punya syahwat terhadap wanita.” (QS. An-Nur: 31)

*_(Pendapat kedua) :_*  As-Syafi’iyah dan kebanyakkan Al-Hanafiyah berpendapat bahwa Al-Mukhonats yang tidak memiliki ketertarikan pada wanita tidak boleh masuk kepada wanita dan memandang kepada mereka. Berdalil dengan hadits Ummu salamh Rhadiyallahu ‘anha:

 أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل عليها وعندها مخنث وهو يقول لعبد الله أخيها إن يفتح الله الطائف غدا دللتك على امرأة تقبل بأربع وتدبر بثمان فقالالنبي صلى الله عليه وسلم أخرجوهم من بيوتكم

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam masuk ke rumahku sementara di sisiku ada seorang mukhannats. Aku mendengar mukhannats itu berkata kepada Abdullah bin Abi Umayyah (saudara laki-laki Ummu Salamah, pen.): “Wahai Abdullah! Jika besok Allah membukakan/ memenangkan Thaif untuk kalian, maka hendaklah engkau berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan putri Ghailan, karena dia menghadap dengan empat dan membelakangi dengan delapan”. Ucapannya yang demikian didengar oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam , maka beliau pun menetapkan:“Mereka (mukhannats) itu sama sekali tidak boleh masuk menemui kalian lagi.” (HR. Al-Bukhari no. 4324 dan Muslim no. 21807)    

 Makna kalimat : “ menghadap dengan empat dan membelakangi dengan delapan ” ini adalah penyifatan fisik wanita yang disukai pada saat itu yaitu lekukan itu sampai ke pinggangnya, pada masing-masing sisi (pinggang) empat sehingga dari belakang terlihat seperti delapan.

Dan pendapat yang kedua lebih kuat, silahkan lihat pembahasan lebih rinci disini.

Wanita menikah dengan Al-Mukhonats

Tidak boleh seorang wanita menikah dengan Al-Mukhonats sampai dia bertaubat, apalagi Al-Mukhonats tersebut seorang pelaku homoseksual. Karena tergabung padanya dua laknat , laknat pelaku homoseksual dan laknat karena dia menyerupai wanita.
(lihat Majmu’ Al-fatawa 15/321)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam bersabda :

عَنَ اللهُ من عمِلَ عَمَلَ قومِ لُوطٍ ،لعَنَ اللهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قوْمِ لوطٍ ، لعَنَ اللهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قومِ لوطٍ

‘Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth'” (HR Ahmad dan selainnya dari Ibnu Abbas Rhadiyallahu ‘anhuma, As-Shohihah No. 3462).

Dan juga dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma , beliau berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْالنِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

 “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang meyerupai laki-laki.” (HR. Al-Bukhari No. 5885)


Adapun Khuntsa  seseorang yang mempunyai dua jenis kelamin ( dzakar dn farji ) ketika orang tersebut memasukkan salah satu alat kelamin gandanya, dalam kasus ini *TIDAK DIWAJIBKAN MANDI JUGA TIDAK DISEBUT SEBAGAI ZINA*,

begitu juga jk ada dua orang khuntsa yg saling memasukkan alat kelaminnya kepada temannya, maka tdk dihukumi zina, jg tdk wajib mandi.

Dari kitab majmu' imam nawawi

ولو أولج في فرج أو أولج رجل في قبله لم يتعلق به حكم الوطء

فلو أولج في امرأة وأولج في قبله رجل ، وجب الغسل على الخنثى

jika seorang khuntsa (banci berkelamin ganda) memasukkan dzakarnya kedalam farji (farjinya sendiri) atau seorang lelaki memasukkan dzakarnya kedalam qubulnya khuntsa maka ini tdk ada hubungannya dengan hukum wati (dalam artian tdk wajib mandi )

jika seorang khuntsa memasukkan dzakarnya kedalam farji seorang perempuan dan seorang lelaki memasukkan dzakarnya kedalam qubulnya khuntsa maka khuntsa tersebut berkewajiban utk mandi.

ولو أن خنثيين أولج كل واحد في فرج صاحبه ، فلا شيء على واحد منهما ،

jikalau ada dua orang khuntsa saling memasukkan dzakarnya ke farji temanyya maka tdk ada kewajiban apapun terhadap salah seorang dari keduanya (dlm artian dua2nya tdk wajib mandi )


*💾🌹• Definisi Perincian Dan Hukum Khuntsa/Waria Secara Singkat :*


*[i]• 👌Pengertian Khuntsa*

Khuntsa adalah orang yang mempunyai dua alat kelamin, satu kelamin laki-laki dan satu kelamin perempuan atau hanya mempunyai satu lobang yang tidak menyerupai alat kelamin laki-laki maupun kelamin perempuan.

*[ii]• 👌Pembagian Khuntsa*

Khuntsa ada dua macam:

1. Khuntsa Musykil yaitu yang sama sekali tidak bisa dihukumi status kelaminnya, karena tidak ada tanda-tanda yang mengarahkankecenderungan ke laki-laki ataupun perempuan.

2. Khuntsa Ghoiru Musykil yaitu yang masih bisa dihukumi status kelaminnya sebab ada tanda-tanda kecenderungan/kecondongan pada salah satunya.

*[iii]• 👌Hukum – hukum Khuntsa*

*1. 💝 Khuntsa yang dihukumi (digolongkan) perempuan:*

a. Khuntsa yang memiliki satu alat (berbentuk lubang), namun setelah baligh dia keluar haidl atau hamil.

b. Khuntsa yang memiliki satu alat (berbentuk lubang), tidak haidl dan tidak hamil, namun ada perasaan senang (mail) pada laki-laki.

c. Khuntsa yang memiliki satu alat (berbentuk lubang), tidak haidl/hamil dan ada perasaan senang (mail) pada keduanya, namun sifat kewanitaannya lebih menonjol dibanding sifat lelaki.

d. Khuntsa yang memiliki dua alat, namun mengalami haidl, keluar mani, kencing dari vaginanya.

e. Khuntsa yang memiliki dua alat, keluar kencing/mani dari keduanya namun keluar dulu dari vaginanya.

f. Khuntsa yang memiliki dua alat, keluar kencing bersamaan dari dua kelamin, namun ada perasaan senang pada laki-laki.

g. Khuntsa yang memiliki dua alat, keluar kencing bersamaan, ada perasaan senang pada laki-laki dan perempuan, namun sifat wanita lebih menonjol dari pria.


*_2. 💖 Khuntsa yang dihukumi (digolongkan) pria:*

a. Khuntsa yang memiliki satu alat (berbentuk lubang), tidak haidl dan tidak hamil, namun ada perasaan senang (mail) pada wanita.

b. Khuntsa yang memiliki satu alat (berbentuk lubang), tidak haidl/hamil dan ada perasaan senang (mail) pada keduanya, namun sifat kelaki-lakiannya lebih menonjol dibanding sifat wanita.

c. Khuntsa yang memiliki dua alat, namun keluar mani, kencing dari penisnya.

d. Khuntsa yang memiliki dua alat, keluar kencing/mani dari keduanya namun keluar dulu dari penisnya.

e. Khuntsa yang memiliki dua alat, keluar kencing bersamaan dari dua kelamin, namun ada perasaan senang pada wanita.

f. Khuntsa yang memiliki dua alat, keluar kencing bersamaan, ada perasaan senang pada laki-laki dan perempuan, namun sifat kelaki-lakiannya lebih menonjol dari wanita.

3. Khunsta Musykil

Seorang Khuntsa dihukumi musykil, bila tidak ditemukan tanda-tanda diatas atau ada namun berimbang dan betul-betul sulit dinilai kecenderungan pada salah satunya.  Sedangkan menurut pendapat ulama yang lebih kuat, tumbuhnya jenggot, besar kecilnya payu dara dan keluarnya air susu dari payu dara tidak bisa dibuat salah satu tanda yang dibuat pijakan untuk menentukan jenis kelaminnya khuntsa.

Dari pembagian khuntsa diatas dapat disimpulkan bahwa, umumnya waria yang ada di masyarakat adalah”mukhonnis” (laki-laki yang berlagak perempuan baik dengan ucapan, prilaku maupun pakaian). Dan hukum berlagak seperti itu harom, serta mereka tetap digolongkan laki-laki.2Sedang apa yang terjadi di masyarakat, yaitu orang yang operasi ganti kelamin hukumnya harom, karena terjadi Tadlis (penipuan), Takhonnus (berprilaku perempuan), dan Taghyiru Kholqillah (merubah kodrat) yang tidak dibenarkan oleh Syara’.

*[iv]• 👌Catatan :*

1.Bila dalam kitab fiqh disebutkan lafadl “al-Khuntsa” maka yang dimaksud adalah Khuntsa musykil.

*_2.Hampir keseluruhan bab fiqh Khuntsa Musykil diposisikan sebagai wanita untuk tujuan Ihtiyath (hati-hati) diantaranya:_*

a..Wajib menyela jenggot (bila tumbuh) saat wudlu, bila air tidak sampai ke kulit.

b.Aurot dalam sholat adalah seluruh anggota badan, kecuali wajah dan dua telapak tangan.

c.Harom mengumandangkan Azdan/Iqomah dengan keras, kecuali hanya untuk para khuntsa atau wanita, dengan suara pelan sebatas memberi pendengaran pada keduanya.

*_3.Khuntsa mempunyai hukum khusus dalam beberapa masalah. Diantaranya:_*

a.Dalam masalah keluarnya sesuatu dari qubul (jalan depan), bisa dihukumi batal wudlunya untuk yang berkelamin dua, bila sudah keluar sesuatu dari kedua alat kelaminnya.

b.Dalam masalah bersetubuh dan keluar mani untuk yang berkelamin dua, wajib mandi bila kedua alat digunakan jima’ atau sudah keluar mani dari keduanya.

*1⃣• Perawatan Mayyit Waria/Banci/Transgender Menurut Pengikut Madzhab Abi Hanifah rahimahullahu Ta'ala :*

*🌴✒• قال الإمام  جمال الدين عبد الله بن يوسف الزيلعي الحنفي رحمه الله تعالى في كتابه " نصب الراية في تخريج أحاديث الهداية ":*

( وَإِنْ مَاتَ قَبْلَ أَنْ يَسْتَبِينَ أَمْرُهُ لَمْ يُغَسِّلْهُ رَجُلٌ وَلَا امْرَأَةٌ ) لِأَنَّ حَلَّ الْغُسْلِ غَيْرُ ثَابِتٍ بَيْنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ ( فَيَتَوَقَّى لِاحْتِمَالِ الْحُرْمَةِ وَيُيَمَّمُ بِالصَّعِيدِ ) لِتَعَذُّرِ الْغُسْلِ
{انظر كتاب نصب الراية في تخريج أحاديث الهداية    /  كتاب الخنثى / فصل في أحكام الخنثى. للإمام الزيلعي الحنفي}.

*🌹✍• Imam Zaila'iy Al Hanafiy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Nashbu Ar Royah Fi Takhriiji Ahaadiitsi Al Hidayah ":*

Apabila waria mati sebelum jelas perkaranya, maka laki - laki dan perempuan *TIDAK BOLEH MEMANDIKANNYA* karena kehalalan memandikan (banci) tidak ditetapkan diantara laki - laki dan perempuan, maka menjaganya karena mengandung keharaman dan DITAYAMMUMI dengan debu karena kesulitan  memandikan.
{Lihat Kitab Nashbu Ar Rooyah Fi Takhriiji Ahaadiitsi Al Hidayah : juz hal / Kitabu Al Khuntsa / Fashl Fi Ahkaami Al Khuntsa. Karya Imam Zaila'iy Al Hanafiy}.


*💾✍• قال الإمام الكاساني الحنفي رحمه الله تعالى في كتابه "   بدائع الصنائع في ترتيب الشرائع    " :*

وأما حكم غسله بعد الموت فلا يحل للرجل أن يغسله لاحتمال أن يكون أنثى ولا يحل للمرأة أن تغسله لاحتمال أنه ذكر ولكنه ييمم ، كان الميمم رجلا ، أو امرأة ، غير أنه إن كان ذا رحم محرم منه يممه من غير خرقة ، وإن كان أجنبيا يممه بالخرقة ويكف بصره عن ذراعيه .
{انظر كتاب بدائع الصنائع في ترتيب الشرائع     / كتاب الخنثى     /  فصل في حكم الخنثى المشكل. للإمام الكاساني الحنفي}.

*📓🌴• Berkata Imam Al Kasaaniy Al Hanafiy rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitabnya " Badaa'iu Ash Shanaai' Fi Tartiibi Asy Syaraai' ":*

Dan adapun hukum memandikan  waria  setelah mati maka tidak halal bagi laki-laki agar memandikannya karena kemungkinan adanya dia adalah seorang wanita, dan  tidak halal bagi perempuan agar memandikannya, karena kemungkinan dia adanya adalah seorang pria, akan tetapi *DITAYAMMUMI*, adanya orang yang  mentayammuminya seorang pria atau wanita, hanya saja dia harus orang yang punya hubungan kekerabatan dari si mayyit waria, *MAKA DIA BOLEH MENTAYAMMUMINYA TANPA MENGGUNAKAN SESOBEK KAIN*, dan apabila yang mentayammuminya adalah orang lain (bukan mahram), *MAKA DIA HARUS MENTAYAMMUMINYA DENGAN SESOBEK KAIN*, dan dia harus menahan pandangan matanya jauh dari kedua lengan  waria (yang dimandikannya).
{Lihat Kitab Badaa'iu Ash Shanaai' Fi Tartiibi Asy Syaraai' : juz hal / Kitabu Al Khuntsa / Fashl Fi Hukmi Al Khuntsa Al Musykil. Karya Imam Al Kaasaaniy Al Hanafiy}.


*💾🎙• قال الإمام السخرسي الحنفي (وهو  محمد بن أحمد بن أبي سهل السرخسي الحنفي), رحمه الله تعالى في كتابه " المبسوط " :*

وإن مات قبل أن يستبين أمره وقد راهق لم يغسله رجل ولا امرأة ولكن ييمم الصعيد ; لأن الأصل أن النظر إلى العورة حرام وبالموت لا تنكشف هذه الحرمة إلا أن نظر هذا الجنس أخف فلأجل الضرورة أبيح النظر للجنس عند الغسل ، والمراهق كالبالغ في وجوب ستر عورته ، فإذا كان هو مشكلا لا يوجد له جنس أو لا يعرف جنسه أنه من الرجال أو من النساء فيعذر عليه لانعدام من يغسله وهو بمنزلة ما لو تعذر غسله لانعدام ما يغسل به فييمم الصعيد ،
{انظر كتاب المبسوط / كتاب الخنثى. للإمام محمد بن أحمد بن أبي سهل السرخسي الحنفي}.

*🌴📓• Berkata Imam Surakhsi Al Hanafiy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Al Mabsuth ":*

Dan apabila seorang waria mati sebelum jelas perkaranya dan waria tersebut telah menginjak dewasa, maka laki-laki maupun wanita tidak boleh memandikannya, akan tetapi DITAYAMMUMI dengan debu, karena pada asalnya melihat aurat itu haram hukumnya, dan dengan sebab kematian tidak menghilangkan keharaman ini kecuali melihat jenis ini diringankan lantas karena keadaan darurat, maka diperbolehkan melihat jenis ini ketika memandikannya.

Dan murahiq (anak yang menginjak dewasa) layaknya seperti anak yang sudah baligh dalam wajibnya menutup aurat, maka ketika dia waria musykil yang tidak ditemukan jenisnya apa atau tidak diketahui dari jenis pria atau wanita, maka dianggap halangan terhadapnya karena tidak adanya orang yang memandikannya, dan ia masuk dalam kategori apabila kesulitan memandikannya karena tidak adanya perkara yang bisa memandikannya, maka DITAYAMMUMI dengan debu.
{Lihat Kitab Al Mabsuth / Kitabu Al Khuntsa. Karya Imam Sarakhsiy Al Hanafiy}.


*💾🌴• قال الإمام ابن الهمام (وهو كمال الدين بن عبد الواحد الحنفي), رحمه الله تعالى في كتابه " فيض القدير " :*

( وإن قال الخنثى أنا رجل أو أنا امرأة لم يقبل قوله إذا كان مشكلا ) لأنه دعوى يخالف قضية الدليل ,

( وإن لم يكن مشكلا ينبغي أن يقبل قوله ) لأنه أعلم بحاله من غيره ,

( وإن مات قبل أن يستبين أمره لم يغسله رجل ولا امرأة ) لأن حل الغسل غير ثابت بين الرجال والنساء ( فيتوقى لاحتمال الحرمة وييمم بالصعيد ) لتعذر الغسل ,

( ولا يحضر إن كان مراهقا غسل رجل ولا امرأة ) لاحتمال أنه ذكر أو أنثى
{انظر كتاب فتح القدير    /  كتاب الخنثى     /  فصل في أحكامه. للإمام ابن الهمام الحنفي}.

*🌴✏• Berkata Imam Kamal Ibnu Al Hammam Al Hanafiy dalam kitabnya " Faidlu  Al Qadir ":*

Apabila seorang waria berkata : aku laki-laki atau berkata : aku perempuan, tidak bisa diterima  perkataannya ketika dia seorang waria musykil, karena pernyataannya menyelisihi ketetapan dalil.

Dan apabila dia bukan waria musykil seyogyanya diterima pernyataannya, karena dia lebih tahu dengan keadaannya dibandingkan dengan yang lainnya.

Dan apabila dia mati sebelum jelas perkaranya pria atau wanita tidak boleh memandikannya, karena kehalalan memandikan (waria/banci) tidak tetap diantara seorang lelaki maupun wanita, maka lebih baik menjaganya (agar tidak melakukannya)  karena mengandung unsur keharaman, dan DITAYAMMUMI karena​ udzur/halangan memandikan,

Dan jangan menghadirkan apabila mayyit warianya masih murahiq (belum baligh baru menginjak dewasa) jasa  laki-laki maupun wanita yang memandikannya, karena mayyit  waria murahiq tersebut belum jelas jenis kelamin laki-laki atau perempuannya.
{Lihat Kitab Faidlu Al Qadir / Kitabu Al Khuntsa / Fashl Fi Ahkaami. Karya Imam Kamal Ibnu Al Hammam Al Hanafiy}.


*2⃣• Perawatan Mayyit Waria/Banci/Transgender Menurut Pengikut Madzhab Imam Malik rahimahullahu ta'ala.*

Menurut Kalangan Pengguna pengikut Imam Malik dari harta peninggalan waria yang mati dibelikan budak wanita untuk memandikannya, jikalau ia tidak meninggalkannya harta diambilkan dari Baitul Mall untuk pembelian budak tersebut, dan ketika dari Baitul Mall tidak ada harta , maka mayyit waria tersebut *DITAYAMMUMI*.

*💾📿• قال الإمام الحطاب المالكي (وهو محمد بن محمد بن عبد الرحمن (الحطاب) المالكي رحمه الله تعالى في كتابه " مواهب الجليل في شرح مختصر خليل ":*

( السَّابِعُ وَالْعِشْرُونَ ) فِيمَنْ يُغَسِّلُهُ إذَا مَاتَ قَالَ ابْنُ عَرَفَةَ فِي النِّكَاحِ فِي بَعْضِ تَعَالِيقِ أَبِي عِمْرَانَ عَنْ ابْنِ أَخِي هِشَامٍ : إنْ مَاتَ اُشْتُرِيَ لَهُ خَادِمٌ تُغَسِّلُهُ انْتَهَى .

وَوَجْهُهُ وَاضِحٌ ؛ لِأَنَّهُ إنْ كَانَ ذَكَرًا فَهِيَ أَمَتُهُ ، وَإِنْ كَانَ أُنْثَى فَهُوَ امْرَأَةٌ إلَّا أَنَّهَا تُؤْمَرُ بِسَتْرِهِ ، وَهَذَا مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ أَحَدُ الصِّنْفَيْنِ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ وَلَكِنَّا لَمْ نَطَّلِعْ عَلَيْهِ ,

وَهَذَا إذَا كَانَ لَهُ مَالٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ وَأَمْكَنَ أَنْ تُشْتَرَى مِنْ بَيْتِ الْمَالِ فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يُشْتَرَى لَهُ مِنْهُ جَارِيَةٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يُيَمَّمُ انْتَهَى .

وَقَدْ صَرَّحَ بِذَلِكَ الشَّيْخُ يُوسُفُ بْنُ عُمَرَ فِي شَرْحِ الرِّسَالَةِ عِنْدَ قَوْلِهِ : وَإِنْ كَانَ مَعَ الْمَيِّتَةِ ذُو مَحْرَمٍ مِنْهَا ، وَنَصُّهُ : " وَإِنْ مَاتَ الْمُشْكِلُ فَإِنَّهُ يُشْتَرَى لَهُ جَارِيَةٌ مِنْ مَالِهِ تُغَسِّلُهُ إنْ كَانَ لَهُ مَالٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ اُشْتُرِيَتْ لَهُ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ إنْ كَانَ هُنَاكَ ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ يُمِّمَ وَدُفِنَ .
{انظر كتاب مواهب الجليل في شرح مختصر خليل : ج ١٨ ص ٤١٥ /  باب الفرائض / فرع لإنسان عم خنثى فولد من ظهره ذكرا ثم مات الخنثى ثم ابن أخيه فهل يرث منه ابن الخنثى. للإمام محمد بن محمد بن عبد الرحمن (الحطاب) المالكي}.
   
*🌴✍• Berkata Imam Hithabi Al Malikiy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Mawahibu Al Jalil Syarhu Mukhtashar Khalil ":*

(Yang ke - 27) Orang yang memandikannya ketika mati, Ibnu 'Arafah berkata dalam bab nikah, pada sebagian ulasan Abi 'Imran dari Ibnu Akhi Hisyam : Jikalau waria mati, maka dibelikan untuknya khadim/pembantu agar memandikannya. Selesai.

Dan segi pandangnya jelas, karena apabila waria tersebut dominan berkelamin laki-laki, maka pembantunya tadi menjadi budak wanitanya, dan apabila waria tersebut dominan berkelamin wanita, maka dia menjadi wanita kecuali diperintahkan untuk menutupinya, dan ini merupakan sesuatu yang menunjukkan bahwasanya salah satu dari dua kategori tersebut masuk dalam esensi  perintah, namun kami tidak menampakkannya

Dan hal ini ketika dia mempunyai harta, ketika tidak mempunyai harta dan memungkinkan apabila dibelikan dari harta Baitul Maal, maka yang jelas dibelikan budak wanita baginya dari harta tersebut, ketika semua itu tidak ada, maka yang jelas *DITAYAMMUMI* selesai.

Dan Syaikh Yusuf bin 'Umar telah menjelaskan semua itu dalam Syarhu Ar Risalah menurut perkataannya : Dan walaupun bersama mayyit wanita orang yang mempunyai kekerabatan darinya, dan nashnya : " Dan apabila waria musykil mati, maka dibelikan baginya seorang budak wanita dari hartanya yang bertugas memandikannya, apabila dia mempunyai harta, jikalau dia  tidak mempunyai harta, maka dibelikan budak wanita dengan harta yang diambilkan dari Baitul Mall jika disana tersedia, dan apabila tidak ada, *MAKA DITAYAMMUMI DAN DIKUBURKAN."*
{Lihat Kitab Mawahibu Al Jalil Fi Syarhi Mukhtashar Khalil : juz 18 hal 415 / Baabu Al Faraaidl / Far'un Lilinsaani 'Ammaa Khuntsa ... Karya Imam Hithabi Al Malikiy}.


*3⃣• Perawatan Mayyit Waria/Banci/Transgender Menurut Pengikut Madzhab Imam Syafi'iy rahimahullahu ta'ala.*

Menurut kalangan pengikut madzhab Imam Syafi'iy yang berkewajiban memandikan  mayyit waria adalah mahromnya jika punya menurut kesepakatan ulama'.

Jika mayyit warianya masih kecil boleh dimandikan oleh siapapun dari kaum pria atau wanita diatas pakaiannya (didalam kain yang lebar) dan yang memandikan harus berhati-hati dengan menutup matanya dan berhati-hati saat merabanya karena sifatnya masih masuk kategori darurat, hal ini  menurut kesepakatan ulama'.

Jikalau yang mati waria sudah baligh atau dewasa yang pertama berkewajiban memandikannya adalah mahromnya, apabila mereka tidak diketemukan maka mayyit waria dewasa tersebut DITAYAMMUMI seperti ketika tidak ada yang hadir dihadapan mayyit kecuali orang lain yang bukan mahramnya, dan kedua jika mahromnya tidak ada yang mau atau bisa memandikannya maka siapapun dari pria atau wanita untuk memandikannya,  namun tidak boleh syahwat (minat) dengan  waria yang mati tersebut, memandikannya diatas pakaiannya (didalam kain yang dibentangkan), dan  berhati-hati ketika melihat  dan merabanya, karena prosesi memandikan mayyit waria yang sudah  dewasa ini masuk dalam kategori darurat sebab tidak ada  mahromnya yang memandikan.


*💾🌴• قال الإمام النووي الشافعي في كتابه " المجموع شرح المهذب ":*

فرع: إذَا مَاتَ الخُنْثَى المُشْكِل فَإِنْ كَانَ هُنَاكَ مَحْرَمٌ لهُ مِنْ الرِّجَال أَوْ النِّسَاءِ غَسَّلهُ بِالاتِّفَاقِ، وَإِنْ لمْ يَكُنْ لهُ مَحْرَمٌ مِنْهُمَا فَإِنْ كَانَ الخُنْثَى صَغِيرًا جَازَ للرِّجَال وَالنِّسَاءِ جَمِيعًا غُسْلهُ بِالاتِّفَاقِ، كَمَا سَنَذْكُرُهُ فِي الصَّغِيرِ الوَاضِحِ,

وَإِنْ كَانَ كَبِيرًا فَفِيهِ طَرِيقَانِ أصحهما: وَبِهِ قَطَعَ صَاحِبُ الشَّامِل (الكَبِيْرُ: شَرْحٌ لِـمُخْتَصَرِ المُزَنِيِّ، لأَبِيْ نَصْرِ عَبْدِالسَّيِّدِ ابْنِ الصَّبَّاغِ البَغْدَادِيِّ، فَقِيْهِ العِرَاقِ ٤٠٠ - ٤٧٧ هـ)، وَالجُمْهُورُ وَصَحَّحَهُ المُتَوَلي وَالشَّاشِيُّ وَآخَرُونَ أَنَّهُ عَلى الوَجْهَيْنِ فِيمَا إذَا مَاتَ رَجُلٌ وَليْسَ عِنْدَهُ إلا امْرَأَةٌ أَجْنَبِيَّةٌ.

أحدهما: يُيَمَّمُ، قَال صَاحِبُ الحَاوِي (الكبير في فقه مذهب الإمام الشافعي وهو شرح مختصر المزني المؤلف: أبو الحسن علي بن محمد بن محمد بن حبيب البصري البغدادي، الشهير بالماوردي, المتوفى. ٤٥٠ هـ) : وَهُوَ قَوْل أَبِي عَبْدِ اللهِ الزُّبَيْرِيِّ وَأَصَحُّهُمَا هُنَا بِاتِّفَاقِ الأَصْحَابِ يُغَسَّل فَوْقَ ثَوْبٍ.

 الثاني: وَهُوَ الذِي اخْتَارَهُ المَاوَرْدِيُّ، أَنَّهُ يُغَسِّلهُ أَوْثَقُ مَنْ يَحْضُرُهُ مِنْ الرِّجَال أَوْ النِّسَاءِ، فَإِذَا قُلنَا بِالمَذْهَبِ أَنَّهُ يُغَسَّل فَفِيمَنْ يُغَسِّلهُ أَوْجُهٌ: أَصَحُّهَا وَبِهِ قَال أَبُو زَيْدٍ المَرْوَزِيُّ وَغَيْرُهُ، وَصَحَّحَهُ إمَامُ الحَرَمَيْنِ وَالمُتَوَلي وَالبَغَوِيُّ وَالشَّاشِيُّ وَآخَرُونَ، وَقَطَعَ بِهِ صَاحِبُ الشَّامِل وَآخَرُونَ أَنَّهُ يَجُوزُ للرِّجَال وَالنِّسَاءِ جَمِيعًا غُسْلهُ فَوْقَ ثَوْبٍ، وَيَحْتَاطُ الغَاسِل فِي غَضِّ البَصَرِ وَالمَسِّ، وَاسْتَدَلوا لهُ بِأَنَّهُ مَوْضِعُ ضَرُورَةٍ وَبِأَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لهُ حُكْمُ مَا كَانَ فِي الصِّغَرِ

والثاني: أَنَّهُ فِي حَقِّ الرِّجَال كَالمَرْأَةِ وَفِي حَقِّ النِّسَاءِ كَالرَّجُل أَخْذًا بِالأَحْوَطِ.

والثالث: وَهُوَ مَشْهُورٌ يُشْتَرَى مِنْ تَرِكَتِهِ جَارِيَةٌ لتُغَسِّلهُ، فَإِنْ لمْ يَكُنْ لهُ تَرِكَةٌ اُشْتُرِيَتْ مِنْ بَيْتِ المَال وَاتَّفَقُوا عَلى تَضْعِيفِ هَذَا الوَجْهِ قَالوا: لأَنَّ إثْبَاتَ المِلكِ ابْتِدَاءً بَعْدَ المَوْتِ مُسْتَبْعَدٌ. قَال أَبُو زَيْدٍ: هُوَ بَاطِلٌ لا أَصْل لهُ. وَلوْ ثَبَتَ فَالأَصَحُّ أَنَّ الأَمَةَ لا يَجُوزُ لهَا غُسْل سَيِّدِهَا فَلا فَائِدَةَ فِي شِرَائِهَا.

قَال الرَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُ وَليْسَ المُرَادُ بِالكَبِيرِ البَالغَ وَلا بِالصَّغِيرِ مَنْ دُونَهُ بَل المُرَادُ بِالصَّغِيرِ مَنْ لمْ يَبْلغْ حَدًّا يُشْتَهَى مِثْلهُ وَبِالكَبِيرِ مَنْ بَلغَهُ.

فرع: قَال المُتَوَلي وَصَاحِبُ البَيَانِ (الجاحظ الكناني هو أبو عثمان عمرو بن بحر بن محبوب بن فزارة الليثي الكناني البصري (١٥٩ هـ - ٢٥٥ هـ) وَخَلائِقُ مِنْ الأَصْحَابِ: بَل كُلهُمْ إذَا مَاتَ صَبِيٌّ أَوْ صَبِيَّةٌ لمْ يَبْلغَا حَدًّا يُشْتَهَيَانِ فِيهِ جَازَ للرِّجَال وَالنِّسَاءِ جَمِيعًا غُسْلهُ، فَإِنْ بَلغَتْ الصَّبِيَّةُ حَدًّا تُشْتَهَى فِيهِ لمْ يُغَسِّلهَا إلا النِّسَاءُ، وَكَذَا الغُلامُ إذَا بَلغَ حَدًّا يُجَامِعُ أُلحِقَ بِالرِّجَال.
{انظر كتاب المجموع شرح المهذب : ج ٥ ص ٨٨. للإمام النووي الشافعي}.

*💾🌴• Imam Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta"ala berkata dalam kitabnya " Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab ":*

(Cabang) Ketika Khuntsa musykil (waria/banci) mati apabila disana dia mempunyai saudara mahram laki-laki ataupun perempuan, *MAKA SAUDARA MAHRAMNYA LAH YANG BERHAK MEMANDIKANNYA* menurut kesepakatan ulama', dan jikalau dia tidak mempunyai saudara mahram dari kaum laki-laki maupun perempuan, ketika  simayyit waria masih kecil,   *MAKA BOLEH PRIA ATAU WANITA LAIN MEMANDIKANNYA* , menurut kesepakatan ulama', seperti kami telah menyebutkannya didalam masalah Ash Shaghir (anak kecil) Al Wadlih (yang jelas),
Dan ketika yang mati waria yang sudah baligh/dewasa maka didalamnya ada dua jalan : *YANG PALING SHAHIH* dari keduanya sebagaimana telah ditetapkan oleh pengarang kitab " Asy Syaamil " (Ibnu Shabaagh), mayoritas ulama' (jumhur), dan *DISHAHIHKAN* oleh Imam Al Mutawwaliy, Asy Syaasyi (Imam Qoffal), dan yang lain-lainnya bahwasannya hal tersebut atas dua sudut pandang, seperti halnya  mayyit laki-laki yang tidak ada disampingnya kecuali wanita lain (yang bukan mahramnya)

*_Sudut pandang yang pertama dari keduanya adalah :_* *DITAYAMMUMI*, pengarang kitab " Al Hawi " (Al Kabir, Imam Mawardi) : Dan itu adalah perkataan Abi 'Abdillah Az Zubairiy dan *YANG PALING SHAHIH DARI KEDUANYA* disana berdasarkan kesepakatan para sahabat (ulama' Syafi'iyyah) mayyit waria dewasa tersebut *DIMANDIKAN DIATAS PAKAIANNYA* (didalam kain  yang dibentangkan menutupinya).

*_Dan jalan yang kedua :_* yaitu jalan yang Imam Mawardiy telah memilihnya bahwasannya yang memandikannya adalah orang yang​ paling dipercaya dari kaum pria ataupun wanita yang menghadiri mayyitnya, ketika kami berkata menurut madzhab (Syafi'iy) bahwasannya dia dimandikan, lantas dalam perkara orang yang wajib memandikannya ada beberapa sudut pandang : *DAN YANG PALING SHAHIH* dan telah mengatakan  dengan pendapat itu , Abu Zaid Al Marwaziy juga yang lainnya, dan telah  *DISHAHIHKAN* oleh Imam Haromain,  Mutawwaliy, Baghawiy, Asy Syasyiy, juga  selain mereka, dan pengarang kitab " Asy Syaamil " (Imam Ibnu Shabaagh) dan ulama'-ulama' yang lain dengan itu  menetapkan bahwasannya boleh bagi kaum lelaki dan wanita semua  memandikannya diatas pakaiannya, dan  orang yang memandikannya berhati-hati dengan  memejamkan mata dan menahan syahwat saat  menyentuhnya, mereka menyimpulkan  bahwasannya kasus itu terjadi  dalam kondisi darurat, dan diperbolehkannya hukum yang ada dalam masalah anak kecil.

*_Dan yang kedua :_* Bahwasannya waria itu dalam hak lelaki seperti wanita dan dalam hak wanita seperti lelaki yang  pengertiannya diambil dengan hati-hati.

*_Dan yang ketiga :_* Dan yang masyhur,  dibelikan dari harta peninggalannya,  seorang budak wanita agar memandikannya, apabila dia tidak punya harta peninggalan maka budak wanitanya dibelikan dari uang yang diambilkan dari Baitul Mall, mereka sepakat akan *_kelemahan sudut pandang ini,_* mereka mengatakan : bahwasannya ketetapan kepemilikannya dimulai setelah kematian untuk  diperhambakan. Abu Zaid berkata : *_Pendapat tersebut batal tidak dasarnya sama sekali._* Jikalaupun tetap, maka yang paling shahih sesungguhnya seorang amat/budak wanita tidak boleh memandikan majikan/pemiliknya, tidak ada faidahnya sama sekali dalam pembeliannya.

Imam Rafi'iy dan yang lainnya berkata : dan bukan yang dimaksud dengan waria yang besar, adalah yang baligh, dan bukan yang dimaksud dengan waria kecil, adalah yang dibawah waria besar, sebaliknya yang dimaksud dengan waria kecil adalah orang yang belum baligh dengan batasan tertentu  diserupakan dengan waria kecil lainnya yaitu waria  semisalnya (sepantaran), dan disamakan  dengan waria besar adalah waria yang telah baligh.

(Cabang) : berkata Imam Mutawwaliy dan pengarang kitab " Al Bayan " (Al Hafidz Al Kinaniy Al Bashriy) dan beberapa sahabat (kalangan Syafi'iyyah) : sebaliknya semuanya ketika bayi kecil laki-laki dan bayi kecil perempuan mati,  keduanya tidak dihitung baligh dengan batasan tertentu, akan tetapi keduanya dalam hal ini diserupakan, maka boleh bagi pria ataupun wanita kesemuanya boleh memandikannya, ketika bayi kecil perempuan menginjak baligh dengan batasan tertentu, maka diserupakan didalamnya, tidak boleh memandikannya kecuali seorang wanita, dan begitu juga  jikalau seorang anak laki-laki baligh dengan batasan tertentu dikumpulkan, maka disamakan dengan kaum pria.
{Lihat Kitab Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab : juz 5 hal 88. Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy}.

*💾👌• قال الإمام ابن حجر الهيثمي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه "  تحفة المحتاج في شرح المنهاج     ":*

. (فَإِنْ لَمْ يَحْضُرْ إلَّا أَجْنَبِيٌّ) كَبِيرٌ وَاضِحٌ وَالْمَيِّتُ امْرَأَةٌ (أَوْ أَجْنَبِيَّةٌ) كَذَلِكَ وَالْمَيِّتُ رَجُلٌ (يُمِّمَ) الْمَيِّتُ (فِي الْأَصَحِّ) لِتَعَذُّرِ الْغُسْلِ شَرْعًا لِتَوَقُّفِهِ عَلَى النَّظَرِ وَالْمَسِّ الْمُحَرَّمِ وَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّهُ لَوْ كَانَ فِي ثِيَابٍ سَابِغَةٍ وَبِحَضْرَةِ نَهْرٍ مَثَلًا وَأَمْكَنَ غَمْسُهُ بِهِ لِيَصِلَ الْمَاءُ لِكُلِّ بَدَنِهِ مِنْ غَيْرِ مَسٍّ وَلَا نَظَرٍ وَجَبَ
{انظر كتاب تحفة المحتاج في شرح المنهاج     : ج ٣ ص ١٠٩ / كتاب الجنائز . للإمام ابن حجر الهيثمي الشافعي}.

*📓✍• Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitabnya " Tuhfatu Al Muhtaaj 'Ala Syarhi Al Minhaaj ":*

Ketika tidak hadir kecuali orang lain laki-laki yang jelas sudah dewasa dan yang mati adalah seorang perempuan, atau tidak hadir kecuali wanita lain demikian juga, dan yang mati adalah seorang laki-laki, *MAKA MAYYIT DITAYAMMUMI* menurut pendapat yang Ashshah/paling benar, karena kesulitan dalam memandikan secara syari'at karena terhentinya pada melihat dan meraba yang diharamkan, dan diambil alternatif dari situ jikalau ada kain yang dibentangkan atau dihadapan sungai umpamanya dan dimungkinkan bisa membenamkannya kedalamnya supaya air bisa mengalir keseluruh badan mayyit tanpa harus meraba dan melihat *MAKA WAJIB DILAKSANAKAN*.
{Lihat Kitab Tuhfatu Al Muhtaaj Fi Syarhi Al Minhaaj : juz  1 hal 109. Karya Ìmam Ibnu Hajar Al Haitamiy Asy Syafi'iy}.


*💾✒• قال الإمام الرملي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه "  نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج ":*

وَالْخُنْثَى الْمُشْكِلُ الْكَبِيرُ يُغَسِّلُهُ الْمَحَارِمُ مِنْهُمَا، فَإِنْ فُقِدُوا يُمِّمَ كَمَا لَوْ لَمْ يَحْضُرْ الْمَيِّتَ إلَّا أَجْنَبِيٌّ، كَذَا جَزَمَ بِهِ ابْنُ الْمُقْرِي تَبَعًا لِظَاهِرِ كَلَامِ أَصْلِهِ، وَاَلَّذِي صَحَّحَهُ فِي الْمَجْمُوعِ وَنَقَلَهُ عَنْ اتِّفَاقِ كَلَامِ الْأَصْحَابِ، أَنَّ لِكُلٍّ مِنْ الْفَرِيقَيْنِ تَغْسِيلَهُ لِلْحَاجَةِ وَاسْتِصْحَابًا لِحُكْمِ الصِّغَرِ وَهَذَا هُوَ الْمُعْتَمَدُ،
{انظر كتاب نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج : ج ٢ ص ٤٥١ /  كتاب الجنائز / بيان الغاسل. للإمام محمد بن شهاب الدين الرملي الشافعي}.

*💾🌴• Berkata Imam Ramli Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Nihayatu Al Muhtaaj Ìla Syarhi Al Minhaaj ":*

Dan Khuntsa Musykil (waria) yang sudah besar yang memandikannya adalah saudara-saudara mahramnya dari kaum pria atau wanita, ketika mereka tidak bisa hadir *MAKA MAYYIT WARIA TERSEBUT DITAYAMMUMI* seperti ketika tidak bisa hadir dihadapan mayyit kecuali lelaki lain (bukan mahramnya), beginilah Ibnu Muqriy menetapkannya mengikuti dzahir  ungkapan asalnya, dan perkara yang Imam Nawawiy telah menambahkan ya di kitab " Al Majmu' ", dan menukilnya dari kesepakatan pendapat para sahabat (kalangan Syafi'iyyah) : Bahwasanya setiap golongan memandikannya karena hajat/kebutuhan dan istishab/menetapkan pada hukum mengurus mayyit anak kecil, dan ìni adalah perusahaan dapat yang mu'tamad/akurat dapat dijadikan pegangan.
{Lihat Kitab Nihayatu Al Muhtaaj Ìla Syarhi Al Minhaaj : juz 2 hal 451. Karya Imam Ramliy Asy Syafi'iy}.



*4⃣• Perawatan Mayyit Waria/Banci/Transgender Menurut Pengikut Madzhab Imam Ahmad.*

Menurut pengikut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal Khuntsa Musykil berumur 7 tahun atau lebih  ketika mati maka dia  *DITAYAMMUMI* oleh saudara mahromnya terlebih dahulu  jika hadir, namun jikalau saudara mahromnya tidak ada yang mau M atau amat/budak wanitanya tidak bisa dihadirkan, maka dia ditayammumi oleh orang lain yang bukan  saudara  mahromnya, dalam mentayammuminya wajib  dengan menggunakan  kain atau semacamnya yang dibalutkan ditangan orang yang mentayammuminya, dan *HARAM MENTAYAMMUMINYA* bagi selain saudara mahramnya tanpa menggunakan kain penghalang.

Dan laki-laki lebih diutamakan dibandingkan wanita untuk mentayamuminya ketika Khuntsa Musykil (waria) mati ditengah-tengah kaum pria maupun wanita.

Dan bocah boleh memandikan jenazah, ketika ada kasus  seorang wanita mati ditengah-tengah kaum pria dan didalamnya ada seorang bocah laki-laki yang belum mempunyai syahwat, maka mereka wajib mengajarinya tentang perkara memandikan jenazah, dan kasus terkait dengan versi anak laki-laki tersebut, begitu juga apabila seorang lelaki yang mati didalam kerumunan kaum wanita yang didalamnya ada seorang bocah perempuan yang mampu memandikan jenazah.


*💾🎙• قال الإمام البهوتي الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه "  كشاف القناع عن متن الإقناع ":*

(وَيَحْرُمُ) أَنْ يُيَمِّمَ (بِدُونِهِ) أَيْ دُونَ الْحَائِلِ (لِغَيْرِ مَحْرَمٍ) لِمَا فِيهِ مِنْ الْمَسِّ (وَرَجُلٌ أَوْلَى بِتَيَمُّمِ خُنْثَى مُشْكِلٍ) مِنْ امْرَأَةٍ، إذَا مَاتَ الْخُنْثَى بَيْنَ رِجَالٍ وَنِسَاءٍ لِأَنَّ الصِّنْفَيْنِ قَدْ اشْتَرَكَا فِي الْمَحْذُورِ وَامْتَازَ الرَّجُلُ بِفَضِيلَةِ الذُّكُورِيَّةِ لَكِنْ إذَا مَاتَتْ الْمَرْأَةُ مَعَ الرِّجَالِ وَفِيهِمْ صَبِيٌّ لَا شَهْوَةَ لَهُ عَلَّمُوهُ الْغُسْلَ وَبَاشَرَهُ نَصَّ عَلَيْهِ كَذَا الرَّجُلُ يَمُوتُ مَعَ نِسْوَةٍ فِيهِنَّ صَغِيرَةٌ تُطِيقُ الْغُسْلَ ذَكَرَهُ فِي شَرْحِ الْهِدَايَةِ

قُلْتُ: وَكَذَا الْخُنْثَى يَمُوتُ مَعَ رِجَالٍ أَوْ نِسْوَةٍ فِيهِنَّ صَغِيرٌ أَوْ صَغِيرَةٌ تُطِيقُهُ (وَإِنْ كَانَتْ لَهُ) أَيْ لِلْخُنْثَى الْمُشْكِلِ (أَمَةٌ غَسَّلَتْهُ) لِأَنَّهُ إنْ كَانَ أُنْثَى فَلَا كَلَامَ وَإِنْ كَانَ ذَكَرًا فَلِأَمَتِهِ أَنْ تُغَسِّلَهُ.
{انظر كتاب  كشاف القناع عن متن الإقناع : ج ٢ ص ٩٢ /  كتاب الجنائز     /  فصل في غسل الميت وما يتعلق به. للإمام منصور بن يونس البهوتي الحنبلي}.

*♻✍• Imam Bahutiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala berkata didalam kitabnya " Kasyaafu Al Qinaa' 'An Matni Al Iqnaa' ":*

Dan *HARAM* apabila *MENTAYAMUMI* dengan tanpa kain penghalang bagi selain saudara mahramnya, karena adanya  persoalan menyentuh didalamnya, dan laki-laki lebih diutamakan mentayammumi Khuntsa Musykil (waria) dibandingkan perempuan, ketika waria mati ditengah-tengah antara laki-laki dan perempuan, karena kedua sifatnya tergabung didalam perkara yang dikawatirkan dan laki-laki dipisahkan sebab dengan keutamaan jenis kelaminnya, akan tetapi ketika seorang wanita mati ditengah-tengah kaum pria dan didalamnya ada seorang bocah laki-laki yang belum mempunyai syahwat, maka mereka wajib mengajarinya tentang perkara memandikan jenazah, dan terkait dengan versinya, begitu juga seorang lelaki yang mati didalam kerumunan kaum wanita yang didalamnya ada seorang bocah perempuan yang mampu memandikan jenazah, ia menuturkannya disyarh Al Hidayah.

Aku berpendapat : dan begitu juga seorang waria yang mati bersamaan dengan kaum pria atau kaum wanita yang ada ditengah-tengah mereka bocah laki-laki kecil atau bocah perempuan kecil, yang mampu memandikannya, dan apabila ada pada Khuntsa Musykil seorang amat (budak wanita) maka dia wajib memandikannya, karena jikalau siwaria dominan pada kewanitaannya maka tidak ada sanggahan apapun didalamnya, dan apabila simayyit waria condong kejenis laki-lakinya, maka bagi amatnya hak untuk   memandikan mayyit waria  majikannya/pemiliknya.
{Lihat Kitab Kasyaafu Al Qinaa' 'An Matni Al Ìqnaa' : juz 2 hal 92. Karya Imam Bahutiy Al Hanbaliy}.


*E)• 💾✍ Cara Mensucikan Anggota Badan Yang Terpisah Atau Bertambah*

حَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَعْيَنَ حَدَّثَنَا مَعْقِلٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ :

*«أَنَّ رَجُلًا تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ ﷺ💓  فَقَالَ ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ فَرَجَعَ ثُمَّ صَلَّى»*.
{رواه مسلم / ٢ - كتاب الطهارة / ١٠ - باب وجوب استيعاب جميع أجزاء محل الطهارة / رقم الحديث : ٢٤٣}.

Telah menceritakan kepadaku : Salamah bin Syabib. Telah menceritakan kepada kami : al-Hasan bin Muhammad bin A'yan. Telah menceritakan kepada kami : Ma'qil. Dari Abu az-Zubair. Dari Jabir. Telah mengabarkan kepadaku Umar bin al-Khaththab : 

*Bahwa seorang laki-laki berwudlu lalu meninggalkan (kering) satu tempat kuku di atas kakinya, saat Nabi ﷺ💖  melihatnya, maka beliau pun bersabda:*

*_"Kembali dan perbaguslah wudlumu."_*

Maka dia kembali kemudian melakukan shalat.
{HR. Muslim / 2 - Kitabu Ath Thaharah / 10 - Babu Wujuubi Isti'aabi Anzaa'i Mahali Ath Thaharati / No. 243}.

*♻✍• قال الإمام​  النووي الشافعي رحمه الله تعالى – على شرحه لهذا الحديث - في كتابه " المنهاج على شرح صحيح مسلم " :*

" فِي هَذَا الْحَدِيث : أَنَّ مَنْ تَرَكَ جُزْءًا يَسِيرًا مِمَّا يَجِب تَطْهِيره لَا تَصِحّ طَهَارَته وَهَذَا مُتَّفَق عَلَيْهِ .... ،

وَفِي هَذَا الْحَدِيث دَلِيل عَلَى أَنَّ مَنْ تَرَكَ شَيْئًا مِنْ أَعْضَاء طَهَارَته جَاهِلًا لمْ تَصِحّ طَهَارَته " انتهى .
{انظر المنهاج شرح صحيح مسلم : ج ٣ ص ١٢٣ /  ٢ - كتاب الطهارة / ١٠ - باب وجوب استيعاب جميع أجزاء محل الطهارة / رقم الحديث : ٢٤٣. للإمام النووي الشافعي}.

*📗✍• Berkata Imam Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Al Minhaaj Syarhu Shahih Muslim ":*

Dalam hadis ini terdapat kesimpulan bahwa orang yang meninggalkan sebagian anggota yang wajib dibasuh maka wudhunya tidak sah. Ini perkara yang disepakati.

Dan dalam hadits ini sebagai dalil bahwasannya orang yang meninggalkan anggota berwudlu'nya secara tidak mengerti, maka tidak syah bersucinya.
{Lihat Kitab Al Minhaaj Syarh Muslim : juz 3 hal 132 / 10 - Babu Wujuubi Isti'aabi Anzaa'i Mahali Ath Thaharati / No. 243. Karya Imam An-Nawawi Asy Syafi'iy}.


*💞• Dalam riwayat Ahmad, diriwayatkan :*

 حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي الْعَبَّاسِ ، حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ ، حَدَّثَنَا بَحِيرُ بْنُ سَعْدٍ ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ ، عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ💚، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ💙 :

*_" رَأَى رَجُلًا يُصَلِّي ، وَفِي ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ ، لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ ، فَأَمَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ " ._*
{رواه احمد /  مُسْنَدُ الْعَشَرَةِ الْمُبَشَّرِينَ بِالْجَنَّةِ / مُسْنَدُ الْمَكِّيِّينَ     /  حَدِيثُ جَدِّ أَبِي الْأَشَدِّ السُلَمِيِّ رَضِيَ الله تعالى عنه /  رقم الحديث: ١٥١٩٢}.

Telah menceritakan kepada kami : Ibrahim bin Abi Al 'Abbas. Telah menceritakan kepada kami : Baqiyyah. Telah menceritakan kepada kami : Bahir bin Sa'd. Dari Khaalid bin Ma'daan. Dari sebagian sahabat Nabi ِّﷺ💘:

*_"Bahwa Rasulullah ّﷺ💝 pernah melihat seseorang shalat, sementara di punggung kakinya ada selebar koin yang belum tersentuh air. Kemudian beliau menyuruh orang ini untuk mengulangi wudhunya."_*
{HR. Ahmad / Musnad Al 'Asyrah Al Mubasysysyiriina Bi Al Jannati / Musnad Al Makiyyiin / Hadits Jadda Abi  Al Asyaddi As Sulamiy radliyyAllahu ta'ala 'anhu / No. 15192.  Dan dinilai *HASAN*  oleh Syuaib al-Arnauth}.

Berdasarkan hadis di atas, para ulama menegaskan bahwa wudhu tidak sah, jika masih ada bagian anggota wudhu yang tidak terkena air. Meskipun itu hanya seluas koin atau kuku di jari kaki. Ketika wudhu batal, maka shalat yang dikerjakan juga batal.

*i)• 👌Cara Mensucikan Anggota Tubuh Yang Terpotong/Putus.*

*_a• Menurut Kalangan Pengikut Madzhab Abi Hanifah._*

*♻✍• قال الإمام ابن عابدين الحنفي رحمه الله تعالى في كتابه "  الدر المختار وحاشية ابن عابدين (رد المحتار) " :*

كَمَا فِي الْفَيْضِ، وَفِيهِ أَيْضًا (مَقْطُوعُ الْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ إذَا كَانَ بِوَجْهِهِ جِرَاحَةٌ يُصَلِّي بِغَيْرِ طَهَارَةٍ) وَلَا يَتَيَمَّمُ (وَلَا يُعِيدُ عَلَى الْأَصَحِّ) وَبِهَذَا ظَهَرَ أَنَّ تَعَمُّدَ الصَّلَاةِ بِلَا طُهْرٍ غَيْرُ مُكَفِّرٍ فَلْيُحْفَظْ وَقَدْ مَرَّ وَسَيَجِيءُ فِي صَلَاةِ الْمَرِيضِ. .
{انظر كتاب الدر المختار وحاشية ابن عابدين (رد المحتار) : ج ١ ص ٢٥٣ / كتاب الطهارة / باب التيمم / فروع صلى المحبوس بالتيمم. للإمام ابن عابدين الحنفي}.

*💾✒• Berkata Imam Ibnu 'Abidiin Al Hanafiy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Raddu Al Muhtar 'Ala Ad Durri Al Mukhtar ":*

Seperti dalam Al Faidlu, dan didalamnya lagi orang yang terputus kedua tangan dan kedua kakinya, ketika ada luka diwajahnya maka dia boleh shalat dengan tidak bersuci dan tidak juga dengan tayammum, dan tidak mengulangi shalatnya menurut pendapat yang Ashshah/paling benar, dan dengan ini menjadi jelas bahwa beribadah dengan media shalat dengan tanpa bersuci itu tidak diingkari, maka perhatikanlah sesungguhnya  telah berjalan dan akan datang dalam bab shalatnya orang sakit.
{Lihat Kitab Raddu Al Muhtaaj 'Ala Ad Durri Al Mukhtar : juz 1 hal 253. Karya Imam Ibnu 'Abidiin Al Hanafiy}.


*_b• Menurut Kalangan Pengikut Madzhab Imam Malik._*

*♻👌• وجاء في كتاب التاج والإكليل لمختصر خليل للإمام ابو عبد الله المواق المالكي (وهو  محمد بن يوسف بن أبي القاسم بن يوسف العبدري الغرناطي، أبو عبد الله المواق المالكي، المتوفى: ٨٩٧ هـ)، رحمه الله تعالى :*

وَأَمَّا الْأَدْهَانُ عَلَى أَعْضَاءِ الْوُضُوءِ فَإِنْ كَانَتْ غَلِيظَةً جَامِدَةً تَمْنَعُ مُلَاقَاةَ الْمَاءِ فَلَا بُدَّ مِنْ إزَالَتِهَا، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ كَذَلِكَ صَحَّتْ الطَّهَارَةُ.
{انظر كتاب التاج والإكليل لمختصر خليل : ج ١ ص ٢٣٦ - ٢٣٧. للإمام ابو عبد الله المواق المالكي}.

*🌴✍• Berkata Imam Abu 'Abdillah  Mawwaq Al Malikiy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Al Taaj Wa Al Ikliil Limukhtashar Khaliil ":*

Adapun pelumas yang menempel pada anggota badan, apabila adanya minyak pelumas tersebut kesat dan kental yang mencegah sampainya air maka wajib menghilangkannya, dan jika tidak  seperti itu, maka syah wudlu'nya.
{Lihat Kitab Al Taaj Wa Al Ìkliil Limukhtashar Khaliil : juz 1 hal 236 - 237. Karya Imam Abu 'Abdillah Al Mawwaq Al Malikiy}


*_c• Menurut Kalangan Pengikut Madzhab Imam Syafi'iy._*

Sisa bagian tubuh yang terpotong tepat atau kurang dari siku atau mata kaki, atau terpotong salah satu tulangnya  *MAKA WAJIB MEMBASUH SISANYA DAN TULANGNYA YANG LAIN* jika  terpotongnya melebihi anggota yang wajib dibasuh, melebihi siku atau mata kaki *MAKA SUNNAH MEMBASUH ANNGOTA YANG TERSISA TERSEBUT* agar terhindar dari terdapatnya anggota tubuh yang tidak disucikan.


*📓✏• قال الإمام  النووي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " المجموع شرح المهذب ":*

إذَا كَانَ عَلَى بَعْضِ أَعْضَائِهِ شَمْعٌ أَوْ عَجِينٌ أَوْ حِنَّاءٌ وَأَشْبَاهُ ذَلِكَ فَمَنَعَ وُصُولَ الْمَاءِ إلَى شَيْءٍ مِنْ الْعُضْوِ لَمْ تَصِحَّ طَهَارَتُهُ سَوَاءٌ أَكَثُرَ ذَلِكَ أَمْ قَلَّ ,

وَلَوْ بَقِيَ عَلَى الْيَدِ وَغَيْرِهَا أَثَرُ الْحِنَّاءِ وَلَوْنُهُ دُونَ عَيْنِهِ أَوْ أَثَرُ دُهْنٍ مَائِعٍ بِحَيْثُ يَمَسُّ الْمَاءُ بَشَرَةَ الْعُضْوِ وَيَجْرِي عَلَيْهَا لَكِنْ لَا يَثْبُتُ صَحَّتْ طَهَارَتُهُ اهـ
{انظر كتاب المجموع شرح المهذب : ج ١ ص ٤٦٧. للإمام النووي الشافعي}.

*💾👌• Dan Imam An-Nawawi Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala  mengatakan dalam kitabnya " Al Majmu' 'Ala Syarhi Al Muhadzab " :*

Apabila sebagian anggota wudhu tertutup cat atau lem, atau kutek atau semacamnya, sehingga bisa menghalangi air sampai ke permukaan kulit anggota wudhu, *_maka wudhunya batal,_* baik sedikit maupun banyak.

Apabila ada bekas henna (kutek) dan warnanya, bukan bendanya, atau bekas minyak yang cair sekiranya air dapat menyentuh anggota wudhu dan mengalir padanya tetapi tidak pasti, *_maka sah wudhunya."_*
{Lihat Kitab al-Majmu’ Syarh Muhadzab : juz  1 hal 467. Karya Ìmam Nawawiy Asy Syafi'iy}.


*📓🌴• قال الشيخ زين الدين المليباري الشافعي في كتابه " فتح المعين " :*

ورابعها: أن لا يكون على العضو حائل بين الماء والمغسول كنورة وشمع ودهن جامد وعين حبر وحناء بخلاف دهن جار أي مائع وإن لم يثبت الماء عليه وأثر حبر وحناء
{انظر كتاب فتح المعين. للشيخ زين الدين المليباري الشافعي}.

*🌴🖤• Berkata Syaikh Zainuddin Al Maliibaariy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Fathu Al Mu'iin ":*

Yang ke - 4 syarat wudhu. Tidak ada di anggota wudlu sesuatu yang menghalangi antara air dengan yang dibasuh seperti gamping, lilin, minyak padat, tinta, pacar, beda kalo minyak cair walaupun air tidak bisa diam juga bekas pacar dan tinta.
{Lihat Kitab Fathu Al Mu'iin. Karya Syaikh Zainuddin Al Maliibaariy Asy Syafi'iy}.


*📗👉• قال الشيخ السيد البكري بن محمد شطا الدمياطي  الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " اعانة الطالبين شرح فتح المعين " :*

ﻗﻮﻟﻪ: ﺑﺨﻼﻑ ﺩﻫﻦ ﺟﺎﺭ (ﺃﻱ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﺩﻫﻦ ﺟﺎﺭ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﻌﺪ ﺣﺎﺋﻼ ﻓﻴﺼﺢ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻣﻌﻪ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﻻﻥ ﺛﺒﻮﺕ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻟﻴﺲ ﺑﺸﺮﻁ)

ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺃﺛﺮ ﺣﺒﺮ ﻭﺣﻨﺎﺀ ( ﺃﻱ ﻭﺑﺨﻼﻑ ﺃﺛﺮ ﺣﺒﺮ ﻭﺣﻨﺎﺀ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﻀﺮ. ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻻﺛﺮ ﻣﺠﺮﺩ ﺍﻟﻠﻮﻥ ﺑﺤﻴﺚ ﻻﻳﺘﺤﺼﻞ ﺑﺎﻟﺤﺖ ﻣﺜﻼ ﻣﻨﻪ ﺷﺊ
{انظر كتاب اعانة الطالبين شرح فتح المعين : ج ١ ص ٣ه. للشيخ السيد البكري محمد شطا الدمياطي الشافعي}.

*📿✍• Berkata Syaikh Sayyid Al Bakri bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Ì'anatu Ath Thaalibiin Syarhu Fathu Al Mu'iin ":*

Ungkapan Mushannif : berbeda dengan minyak yang mengalir artinya : berbeda dengan sesuatu yang menempel pada anggota badan, minyak yang mengalir tidak dihitung sebagai penghalang, *MAKA SYAH WUDLU'NYA BERSAMANYA*, walaupun air tidak bisa menetap/diam pada anggota badan tersebut, karena menetap/dianya air bukan termasuk syaratnya.


Ungkapan Mushannif : dan atsar/bekas tinta atau henna (pohon Inai, pacar) artinya : berbeda dengan bekas tinta dan henna, hal tersebut tidak membahayakan. Dan yang dimaksud dengan atsar/bekasnya adalah hanya tinggal warnanya, sekiranya dari bekas tersebut  sesuatu tidak berhasil menghilangkannya dengan cara digosok/disikat.
{Lihat Kitab Ì'anatu Ath Thaalibiin Syarhu Fathu Al Mu'iin : juz 1 hal 35. Karya Syaikh Sayyid Bakriy Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy}.


Sebagaimana lem, cat, kutek dan yang lainnya, cincin akik yang menutupi bagian jari tangan sehingga tidak terkena air, bisa membatalkan wudhu. Ini bisa kita saksikan, ketika ada cincin akik yang besar, dipakai agak ketat sehingga menutupi permukaan kulit yang tertutupi akik.

Jika terjadi semacam ini, pemakai akik ketika wudhu, diharuskan memutar akiknya, memastikan seluruh permukaan jari tangannya terkena air. Dengan demikian, wudhunya sah.


*♻• Satu kali mandi junub bisa diperuntukkan untuk haid, keluar mani dan/atau jimak dan wudhu sekaligus.*

Al-Syairazi dalam Al-Muhadzab  menyatakan:

*📓💛• قال الإمام الشيرازي رحمه الله تعالى في كتابه " المهذب ":*

فإن أحدث وأجنب ففيه ثلاثة أوجه : أحدها أنه يجب الغسل ويدخل فيه الوضوء وهو المنصوص في الأم لأنهما طهارتان فتدخلتا كغسل الجنابة وغسل الحيض والثاني أنه يجب عليه الوضوء والغسل لأنهما حقان مختلفان يجبان بسببين مختلفين فلم يتداخل أحدهما في الأخر كحد الزنا والفرقة والثالث أنه يجب عليه أن يتوضأ مرتبا ويغسل سائر البدن لأنهما متفقان في الغسل ومختلفان في الترتيب فما اتفقا فيه تداخلا وما اختلفا فيه لم يتدخلا قال الشيخ الإمام رحمه الله وأحسن توفيقه : وسمعت شيخنا أبا حاتم القزويني رحمه الله يحكي فيه وجها رابعا أنه يقتصر على الغسل إلا أنه يحتاج أن ينويهما ووجهه أنهما عبادتان متجانستان صغرى وكبرى فدخلت الصغرى في الكبرى في الأفعال دون النية كالحج والعمرة فإن توضأ من الحدث ثم ذكر أنه كان جنبا أو اغتسل من الحدث ثم ذكر أنه كان جنبا أجزأه ما غسل من الحدث عن الجنابة لأن فرض الغسل في أعضاء الوضوء من الجنابة والحدث واحد وبالله التوفيق
{انظر كتاب المهذب : ج ١ ص ٦٤. للإمام الشيرازي}.

*♻🎙• Imam Syairoziy rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitabnya " Al Muhadzab ":*

Apabila seseorang hadas kecil (tidak punya wudhu) dan junub maka ada tiga pendapat: Pertama, wajib mandi dan termasuk di dalamnya wudhu. Ini adalah nash Imam Syafi'i dalam Al-Umm dengan alasan karena keduanya sama-sama bersuci maka saling mengisi sebagaimana mandi junub dan mandi haid. Kedua, wajib wudhu dan mandi besar karena keduanya dua hak yang berbeda yang wajib dengan dua sebab yang berbeda maka tidak saling mengisi satu sama lain seperti had zina dan pisah. Ketiga, wajib baginya berwudhu secara tertib dan membasuh anggota tubuh yang lain karena keduanya sama dalam membasuh dan beda dalam tertib (urut-urutan), maka yang sama saling mengisi sedang yang berbeda tidak saling mengisi. Syaikh Al-Imam berkata: Aku mendengar guruku Abu Hatim Al-Qazwini bercerita ada pendapat keempat yakni bahwa dalam kasus ini cukup mandi besar saja. Hanya saja ia harus niat untuk keduanya. Alasannya karena keduanya (mandi dan wudhu) adalah dua ibadah yang terkena najis kecil dan besar, maka yang kecil masuk pada yang besar dalam perbuatan tapi tidak dalam soal niat. Sebagaimana haji dan umroh. Apabila ia wudhu dari hadas kecil lalu ia ingat bahwa ia junub atau ia mandi dari hadas lalu ia ingat bahwa ia junub maka apa yang ia basuh itu sah untuk hadas besar karena wajibnya membasuh pada anggota wudhu dari junub dan hadas kecil itu satu."
{Lihat Kitab Al-Muhadzab : juz  1 hal 64. Karya Imam Syairoziy}.


*💾✒• قال الإمام الرملي الشافعي (وهو شمس الدين محمد بن أبي العباس أحمد بن حمزة شهاب الدين الرملي ، المتوفى: ١٠٠٤ هـ)، رحمه الله تعالى في كتابه "  نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج " :*

( فَإِنْ قَطَعَ بَعْضَهُ ) أَيْ بَعْضَ مَا يَجِبُ غَسْلُهُ ( وَجَبَ ) غَسْلُ ( مَا بَقِيَ ) لِخَبَرِ { إذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ } وَلِأَنَّ الْمَيْسُورَ لَا يَسْقُطُ بِالْمَعْسُورِ ( أَوْ ) قَطَعَ ( مِنْ مِرْفَقِهِ ) بِأَنْ سَلَّ عَظْمَ ذِرَاعِهِ وَبَقِيَ الْعَظْمَانِ الْمُسَمَّيَانِ بِرَأْسِ الْعَضُدِ ( فَرَأْسٌ ) أَيْ فَيَجِبُ غَسْلُ رَأْسِ ( عَظْمِ الْعَضُدِ عَلَى الْمَشْهُورِ ) لِكَوْنِهِ مِنْ الْمِرْفَقِ تَفْرِيعًا عَلَى أَنَّهُ اسْمٌ لِمَجْمُوعِ الْعَظْمَيْنِ وَالْإِبْرَةِ وَهُوَ الْأَصَحُّ ، وَالثَّانِي فَرْعُهُ عَلَى أَنَّهُ طَرَفُ عَظْمِ السَّاعِدِ فَقَطْ وَوُجُوبُ غَسْلِ رَأْسِ الْعَضُدِ بِالتَّبَعِيَّةِ ( أَوْ فَوْقَهُ ) أَيْ قَطَعَ مِنْ فَوْقِ مِرْفَقِهِ ( نُدِبَ ) غَسْلُ ( بَاقِي عَضُدِهِ ) كَمَا لَوْ كَانَ سَلِيمَ الْيَدِ لِئَلَّا يَخْلُوَ الْعُضْوُ عَنْ طَهَارَةٍ .
{انظر كتاب نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج . ج ٣ ص ٣٣. للإمام الرملي الشافعي}.

*🌴🎙• Berkata Imam Ramli Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Nihayatu Al Muhtaaj Ìlaa Syarhi Al Minhaaj " :*

Jika sebagian tangan yang wajib dibasuh ketika melaksanakan wudlu’ terpotong (buntung), maka wajib membasuh anggota yang tersisa berdasar hadis Nabi yang menyatakan: *_“Jika aku perintahkan terhadap kalian tentang suatu hal, maka laksanakan semampu kalian.”_* Dan karena hal yang mudah tidak serta merta dapat gugur sebab adanya sebuah kesulitan. Atau terpotong tepat kedua siku hingga yang tersisa adalah kedua tulang siku yang disebut puncak (bagian atas) lengan, maka menurut qaul/pendapat  yang paling populer (masyhur) wajib membasuh kedua tulang yang tersisa tersebut karena masih merupakan bagian dari siku sebab yang dinamakan tangan adalah keseluruhan dari kedua tulang siku beserta lengan. Pendapat ini adalah pendapat yang paling benar (ashah). Atau terpotong diatas siku, maka disunnahkan untuk membasuh sisa lengan yang ada seperti halnya orang yang memiliki tangan sempurna (tidak buntung) agar terhindar dari terdapatnya anggota tubuh yang tidak disucikan.
{Lihat Kitab Nihayah Al-Muhtaj Ila Syarhi  Al-Minhaj : Juz: 2. Hal. 33. Karya Imam Ramliy Asy Syafi'iy}.


*_d• Cara Mensucikan Anggota Yang Terpotong, Terluka, Diperban Menurut Imam Ahmad Rahimahullahu Ta'ala._*

Menurut Imam Ahmad Jika pada anggota wudhu yang diperintahkan untuk dibasuh terdapat luka dan dia khawatir akan berbahaya jika dibasuh atau terlambat sembuhnya, maka cukup diusap dengan air jika luka tersebut terbuka. Jika dia terbuka dan tidak dapat dibasuh, maka cukup dibasuh yang dapat dibasuh dari anggota wudhunya, lalu dia bertayammum sebagai pengganti anggota wudhu yang tidak dapat dibasuh dan diusap.

Jika telah dibalut dengan perban atau obat yang menghalanginya dari air, maka cukup diusap perbannya atau sesuatu yang menutupinya.


 *📓✍• قال الامام ابن قدامة المقدسي الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه " المغني ":*

" قَالَ أَحْمَدُ : إذَا تَوَضَّأَ , وَخَافَ عَلَى جُرْحِهِ الْمَاءَ , مَسَحَ عَلَى الْخِرْقَةِ .

وَكَذَلِكَ إنْ وَضَعَ عَلَى جُرْحِهِ دَوَاءً , وَخَافَ مِنْ نَزْعِهِ , مَسَحَ عَلَيْهِ . نَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَدُ .

وَرَوَى الْأَثْرَمُ , بِإِسْنَادِهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ , أَنَّهُ خَرَجَتْ بِإِبْهَامِهِ قُرْحَةٌ , فَأَلْقَمَهَا مَرَارَةً , فَكَانَ يَتَوَضَّأُ عَلَيْهَا .

وَلَوْ انْقَطَعَ ظُفْرُ إنْسَانٍ , أَوْ كَانَ بِأُصْبُعِهِ جُرْحٌ خَافَ إنْ أَصَابَهُ الْمَاءُ أَنْ يَزْرَقَّ الْجُرْحُ , جَازَ الْمَسْحُ عَلَيْهِ . نَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَدُ . وَقَالَ الْقَاضِي , فِي اللُّصُوقِ عَلَى الْجُرْحِ : إنْ لَمْ يَكُنْ فِي نَزْعِهِ ضَرَرٌ نَزَعَهُ , وَغَسَلَ الصَّحِيحَ , وَيَتَيَمَّمُ لِلْجُرْحِ , وَيَمْسَحُ عَلَى مَوْضِعِ الْجُرْحِ , فَإِنْ كَانَ فِي نَزْعِهِ ضَرَرٌ فَحُكْمُهُ حُكْمُ الْجَبِيرَةِ , يَمْسَحُ عَلَيْهِ " انتهى .
{انظر كتاب "المغني" : ج ١ ص ١٧٢ - ١٧٣. للإمام ابن قدامة الحنبلي. وانظر كتاب موسوعة الفقهية الكويتية : ج ١٤ ص ٢٧٣. لوزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية - دولة الكويت}.

*💾✏• Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy  rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitab " Al Mughni ":*

Ahmad berkata, "Jika dia berwudhu dan khawatir lukanya terkena air, maka hendaknya dia mengusap kain (yang menutupi lukanya). Demikian pula jika dia meletakkan obat pada bagian lukanya, dan khawatir jika obat tersebut dia copot, maka dia dapat mengusapnya."

Al-Atsram meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Umar, bahwa ibu jarinya mengalami luka, lalu beliau meletakkan sejenih ramuan, kemudian dia berwudhu (dengan mengusap) atasnya.

Seandainya kuku seseorang pecah dan pada jarinya terdapat luka yang dia khawatir jika terkena air akan menambah lukanya, maka dia dibolehkan mengusapnya. Hal tersebut telah dinyatakan oleh Imam Ahmad. Al-Qadhi berkata, tentang perban di atas luka, "Jika mencopotnya tidak membahayakan, maka harus dicopot dan membasuh bagian yang sehat serta bertayammum untuk mengganti bagian luka (yang tidak dapat dibasuh) serta mengusap bagian yang luka. Jika mencopotnya berbahaya, maka hukumnya adalah hukum perban, cukup diusap di atasnya."
{Lihat Kitab Al-Mughni : juz  1 hal 172-173. Karya Imam Ibnu Qudamah Al Hanbaliy. Dan  lihat: Kitab Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah : juz  14 hal 273. Karya Kementerian Urusan Wakaf dan Urusan Islam  Negara Kuwait}.


*💾🧦• Adapun terkait dengan mengusap kedua khuf, jika anda telah membasuh seluruh kaki anda, atau anda membasuh apa yang dapat anda basuh dan mengusap bagian kaki yang luka, sebagaimana telah disebutkan, lalu anda memakai khuf dan anda dalam keadaan suci seperti itu, maka dibolehkan bagi anda untuk mengusapnya selama sehari semalam jika anda menetap dan tiga hari tiga malam jika anda melakukan safar.*

*♻👢• قال الامام ابن قدامة المقدسي الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه " المغني ":*
قال ابن قدامة :

" َإنْ لَبِسَ الْخُفَّ عَلَى طَهَارَةٍ مَسَحَ فِيهَا عَلَى الْجَبِيرَةِ , جَازَ الْمَسْحُ عَلَيْهِ ; لِأَنَّهَا [ أي: طهارة المسح على الخفين ] عَزِيمَةٌ ; وَلِأَنَّهَا إن كَانَتْ نَاقِصَةً فَهُوَ لِنَقْصٍ لَمْ يَزَلْ , فَلَمْ يَمْنَعْ جَوَازَ الْمَسْحِ , كَنَقْصِ طَهَارَةِ الْمُسْتَحَاضَةِ قَبْلَ زَوَالِ عُذْرِهَا . وَإِنْ لَبِسَ الْجَبِيرَةَ عَلَى طَهَارَةٍ مَسَحَ فِيهَا عَلَى الْجَبِيرَةِ , جَازَ الْمَسْحُ " انتهى .
{انظر كتاب "المغني" : ج ١ ص ١٧٦ - ١٧٧. للإمام ابن قدامة الحنبلي}.

*📓👢• Imam Ibnu Qudamah Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitabnya " Al Mughniy ":*

"Memakai khuf (sepatu boot)  dalam keadaan suci dengan mengusap perban, maka dibolehkan mengusapnya. Karena dia (bersuci dengan mengusap kedua khuf) merupakan hukum baku. Meskipun dianggap kurang, akan tetapi kekurangan yang bersifat terus menerus, maka tidak mencegah dibolehkannya mengusap, seperti kurangnya bersuci wanita istihadhah  sebelum uzurnya hilang. Orang yang memakai perban dalam keadaan suci dengan mengusapnya, maka diboleh mengusap khuf di atasnya."
{Lihat Kitab Al-Mughni : juz  1 hal 176-177. Karya Ibnu Qudamah Al Hanbaliy}.


*📗📿• وقال الإمام  ابن مفلح الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه "  الفروع " :*

" وإن لبس خفا على طهارة مسح فيها جبيرة مسح " انتهى 
{انظر كتاب "الفروع" : ج ١ ص ١٩٨. للإمام ابن مفلح الحنبلي}.

*💾👢• Imam Ibnu Muflih rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitabnya " Al Furuu' ":*

"Jika dia memakai khuf dalam keadaan suci dengan cara mengusap perban, maka dia boleh mengusap khuf."
{Lihat Kitab Al-Furu' : juz 1 hal 198. Karya Imam Ibnu Muflih Al Hanbaliy}.


*5⃣• Menurut Harakah Wahhabiy.*

*🌴📿• وقال علماء اللجنة الدائمة :*

" إذا كان في موضع من مواضع الوضوء جرح ولا يمكن غسله ولا مسحه ؛ لأن ذلك يؤدي إلى أن هذا الجرح يزداد ، أو يتأخر برؤه ، فالواجب على هذا الشخص هو التيمم " انتهى .
{انظر "فتاوى اللجنة الدائمة" : ج ٥ ص ٣٥٧}.

Ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah berkata, "Jika pada salah satu anggota wudhu terdapat luka yang tidak mungkin dibasuh atau diusap, karena jika hal itu dilakukan akan semakin menambah sakit atau menunda kesembuhan, maka yang diwajibkan bagi orang tersebut adalah tayammum."
{Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah : juz 5 hal 357}.

*📗✒• وقال ابن عثيمين الوهابي :*

" إذا وجد جرح في أعضاء الطهارة فله مراتب :

المرتبة الأولى : أن يكون مكشوفا ولا يضره الغسل ، ففي هذه المرتبة يجب عليه غسله إذا كان في محل يغسل .

المرتبة الثانية : أن يكون مكشوفا ويضره الغسل دون المسح ، ففي هذه المرتبة يجب عليه المسح دون الغسل .

المرتبة الثالثة : أن يكون مكشوفا ويضره الغسل والمسح ، فهنا يتيمم له .

المرتبة الرابعة : أن يكون مستورا بلزقة أو شبهها محتاج إليها ، وفي هذه المرتبة يمسح على هذا الساتر ، ويغنيه عن غسل العضو ولا يتيمم .
{انظر كتاب "مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين" : ج ١١ ص ١٢١}.

*♻✍• Tokoh Wahhabiy  Ibnu Utsaimin  berkata :*

"Jika terdapat luka pada salah satu anggota bersuci, maka ada beberapa tingkatan;

Tingkatan pertama: Lukanya terbuka dan tidak berbahaya jika dibasuh. Dalam hal ini maka dia wajib dibasuh jika dia merupakan anggota yang wajib dibasuh.

Tingkatan kedua; Lukanya terbuka tapi berbahaya jika dibasuh dan tidak berbahaya jika diusap. Dalam tingkatan ini, yang diwajibkan adalah diusap, tidak dibasuh.

Tingkatan ketiga: Lukanya terbuka dan berbahaya jika dibasuh dan diusap. Maka dalam kondisi seperti itu, hendaknya dia bertayammum untuk mengganti basuhan anggota wudhu tersebut.

Tingkatan keempat: Lukanya tertutup oleh perban dan semacamnya dan hal itu dibutuhkan. Dalam tingkatan seperti ini, cukup baginya mengusap di atasnya. Hal itu sudah menggantikan basuhan dan usapan di atasnya. (Majmuah Fatawa wa Maqalat Ibnu Utsaimin, 11/121).
*ii)• 👌Hal Hal Yang Mungkin Terjadi Setelah Mandi Besar Atau Memandikan Mayyit Dan Setelah Berwudlu', Tayammum Atau  Mewudlu'kan, Mentayammumi  Mayyit.*

*_1⃣• Menghilangkan Perkara Yang Menghalangi Air Sampai Pada Kulit Anggota Mandi Besar dan Wudlu'._*

*♻✍• جاء في الفقه على مذاهب الأربعة للإمام عبد الرحمن الجزيري رحمه الله تعالى :*

واتفقوا على إزالة كل حائل يمنع وصول الماء إلى ما تحته؛ كعجين، وشمع، وعمّاص في عينه. اهـ.
{انظر كتاب الفقه على مذاهب الأربعة : ج ١ ص ١٠٥. للإمام عبد الرحمن الجزيري}.

*💾✍• Terdapat dalam kitab Al Fiqhu 'Ala Al Madzahibi Al Arba'ah karya Imam Abdurrahman Al Jaziriy rahimahullahu ta'ala :*

Ulama' sepakat wajib menghilangkan setiap penghalang yang mencegah sampainya air pada perkara dibawahnya, seperti pasta, lilin, dan campuran tetes air mata dan minyak dimatanya.
{Lihat Kitab Al Fiqhu 'Ala Madzahibi Al Arba'ah : juz 1 hal 105. Karya Imam Abdurrahman Al Jaziriy}.

*💾👉• قال الإمام زين الدين المليباري الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " فتح المعين ":*

وَرَابِعُهَا: أَنْ لَا يَكُوْنَ عَلَى الْعُضْوِ حَائِلٌ بَيْنَ الْمَاءِ وَالْمَغْسُوْلِ
{انظر كتاب فتح المعين : ج ١ ص ٦٠. للاما زين الدين المليباري الشافعي​}.

*💾🎙• Imam Zainuddin Al-Malibari Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya Fathul Mu'in, beliau  mengatakan :*

Dan (syarat sahnya wudhu) yang keempat adalah, tidak ada pada anggota wudhu suatu penghalang antara air dan anggota wudhu yang wajib dibasuh.
{Lihat Kitab Fathu Al Mu'in : Juz I, hal 45. Karya Syaikh Zainuddin Al Maliibaariy Asy Syafi'iy}.

*📓📿•وجاء في كتاب فقه السنة للشيخ سيد سابق رحمه الله تعالى :*

وُجُوْدُ الْحَائِلِ مِثْلِ الشَّمْعِ عَلَى أَيِّ عُضْوٍ مِنْ أَعْضَاءِ اَلوُضُوْءِ يُبْطِلُهُ.
{انظر كتاب فقه السنة : ج ١ ص ٦٠.  للشيخ سيد سابق}.

*💾✒• Berkata Syaikh Sayyid Sabiq hafidzohullahu ta'ala dalam kitabnya " Fiqhu  As Sunnah ":*

Adanya penghalang semisal lilin yang  menempel pada anggota wudlu' itu akan membatalkan wudlu'nya (tidak syah wudlu'nya).
{Lihat Kitab Fiqhu As Sunnah : juz 1 hal 60. Karya Syaikh Sayyid Sabiq}.

*♻🎙• قال الإمام النووي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " المنهاج على شرح صحيح مسلم "؛:*

 وَاخْتَلَفُوا فِي الْمُتَيَمِّمِ يَتْرُكُ بَعْضَ وَجْهِهِ ، فَمَذْهَبُنَا وَمَذْهَبُ الْجُمْهُورِ أَنَّهُ لَا يَصِحُّ كَمَا لَا يَصِحُّ وُضُوءُهُ ،
{انظر كتاب المنهاج على شرح صحيح  مسلم / كِتَابِ الطَّهَارَةِ / بَابُ وُجُوبِ غَسْلِ الرِّجْلَيْنِ بِكَمَالِهِمَا / رقم الحديث : ٣٨٩}.

*📓💜• Berkata Imam  Nawawiy Asy Syafi'iy dalam kitabnya " Al Minhaaj 'Ala Syarhi Shahih Muslim ":*

Ulama' berselisih pendapat pada orang yang bertayammum meninggalkan sebagian anggota bagian wajahnya, menurut madzhab kami (Syafi'iyyah) dan jumhur/mayoritas ulama' bahwasannya hal tersebut tidak syah, seperti wudlu'nya yang tidak syah.
{Lihat Kitab Al Minhaaj 'Ala Syarhi Shahih Muslim / Kitabu Ath Thaharati / Babu Wujuubi Ghusli Ar Rijlaini Bikamalihima / No. 389}.


*_2⃣• Muntah/Mengeluarkan Isi Perut Tidak Membatalkan Wudlu'nya Orang Hidup Atau Yang Sudah Mati._*

*♻✍•  قال الإمام النووي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " المجموع شرح المهذب ":*

وٙذٙهٙبٙ الإِمٙامُ الشٙافِعِيُّ إلى أن القٙيْءٙ لاٙ يٙنْقُضُ الوُضُوءٙ، وهذا هُوٙ الصّٙحِيحُ ، لأنه ليس هناك دليلٌ صحيحٌ على نقضِ الوُضوءِ باِلْقٙيْءِ .
{انظر : كتاب "المجموع شرح المهذب" : ج ٢ ص ٦٣ - ٦٥. للإمام النووي الشافعي. وانظر كتاب "المغني" : ج ١ ص ٢٤٧ - ٢٥٠. للإمام ابن قدامة  الحنبلي}.

*🌴✏• Imam Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala berkata dalam kitabnya " Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab ":*

Imam Syafii berpendapat bahwa muntah tidak membatalkan wudhu. Inilah pendapat yang benar, karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa muntah membatalkan wudhu.
{Lihat: Al-Majmu Syarhu Al Muhadzab : juz  2 hal 63-65. Dan Lihat Kitab Al-Mughni : juz  1 hal 247-250}.


*_3⃣• Hukum Keluarnya Madzi, Wadzi Dari Penis Pria Dan Cairan Keputihan Dari Vagina Wanita Baik Yang Masih Hidup Ataupun Sudah Mati._*

Didalam Kitab Fathu Al Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy, Imam Ibnu Hajar Al 'Asqalaaniy menjelaskan :

Pengertian Madzi:

وَهُوَ مَاءٌ أَبْيَضُ رَقِيْقٌ لزج يخرج عند الملاعبة أو تذكر الجماع أو ارادته وقد لا يحس بخروجه

Madzi adalah air yang berwarna putih halus lengket yang keluar ketika mula’abah atau ingat dan ingin jima’ dan kadang-kadang keluarnya tidak terasa.
{Lihat Kitab Fathu Al Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy : juz 1 hal 379. Karya Imam Ibnu Hajar Al 'Asqalaniy Asy Syafi'iy}.

Sedangkan Wady adalah :

وَالْوَدْيُ وَهُوَ مَاءٌ أَبْيَضُ كَدِرٌ لَا رَائِحَةَ لَهُ يَخْرُجُ بَعْدَ الْبَوْلِ

Air yang warnanya putih keruh tidak berbau, keluar setelah kencing.
{Lihat Kitab Tuhfatu Al Ahawadziy Syarhu Sunan Tirmidzi : juz 1 hal 313. Karya Al 'Alamah Al Mubarakfuriy}.

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, dapatlah disimpulkan sebagai berikut :


1.    Pada dasarnya madzi maupun madzi itu najis, sehingga harus dicuci atau berganti pakaian ketika akan shalat. Bagi yang dipastikan keluar madzi atau wadhi, maka membatalkan wudhu. Sehingga ketika akan shalat wajib berwudhu kembali.

2.    Apabila dalam keadaaan salat kemudian dipastikan keluar madzi atau wadhi dari kemaluan, maka batal salat dan wudlunya

3.    Bagi yang bermadzi dan wadhi, maka wajib mencuci kemaluannya supaya bersih dari najis.

4.    Dan jika seseorang secara terus menerus keluar madzi pada saat shalat baik munfarid atau berjamaah, itu sudah termasuk kategori penyakit, maka lanjutkan shalatnya.

*💾♻• Di kalangan ulama Syafi’iyyah sendiri ada dua pandangan dalam masalah ini. Sebagian mereka menganggap keputihan itu suci dan sebagian lagi menganggapnya najis.*

An-Nawawi merangkumnya dalam Al-Majmu’ ketika menjelaskan keterangan Asy-Syirazi,

ﺭُﻃُﻮﺑَﺔُ ﺍﻟْﻔَﺮْﺝِ ﻣَﺎﺀٌ ﺃَﺑْﻴَﺾُ ﻣُﺘَﺮَﺩِّﺩٌ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺬْﻱِ ﻭَﺍﻟْﻌَﺮَﻕِ ﻓَﻠِﻬَﺬَﺍ ﺍُﺧْﺘُﻠِﻒَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺇﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺼَﻨِّﻒَ ﺭَﺣِﻤَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺭَﺟَّﺢَ ﻫُﻨَﺎ ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﻨْﺒِﻴﻪِ ﺍﻟﻨَّﺠَﺎﺳَﺔَ ﻭَﺭَﺟَّﺤَﻪُ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﺍﻟْﺒَﻨْﺪَﻧِﻴﺠِﻲُّ : ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺒَﻐَﻮِﻱّ ﻭَﺍﻟﺮَّﺍﻓِﻌِﻲُّ ﻭَﻏَﻴْﺮُﻫُﻤَﺎ ﺍﻟْﺄَﺻَﺢُّ ﺍﻟﻄَّﻬَﺎﺭَﺓُ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺻَﺎﺣِﺐُ ﺍﻟْﺤَﺎﻭِﻱ ﻓِﻲ ﺑَﺎﺏِ ﻣَﺎ ﻳُﻮﺟِﺐُ ﺍﻟْﻐُﺴْﻞَ ﻧَﺺَّ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲُّ ﺭَﺣِﻤَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓِﻲ ﺑَﻌْﺾِ ﻛُﺘُﺒِﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﻃَﻬَﺎﺭَﺓِ ﺭُﻃُﻮﺑَﺔِ ﺍﻟْﻔَﺮْﺝِ ﻭَﺣُﻜِﻲَ ﺍﻟﺘَّﻨْﺠِﻴﺲُ

ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﺳُﺮَﻳْﺞٍ ﻓَﺤَﺼَﻞَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺴْﺄَﻟَﺔِ ﻗَﻮْﻟَﺎﻥِ ﻣَﻨْﺼُﻮﺻَﺎﻥِ ﻟِﻠﺸَّﺎﻓِﻌِﻲِّ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ ﻣَﺎ ﻧَﻘَﻠَﻪُ ﺍﻟْﻤُﺼَﻨِّﻒُ ﻭَﺍﻟْﺂﺧَﺮُ ﻧَﻘَﻠَﻪُ ﺻَﺎﺣِﺐُ ﺍﻟْﺤَﺎﻭِﻱ ﻭَﺍﻟْﺄَﺻَﺢُّ ﻃﻬﺎﺭﺗﻬﺎ

“Basah yang ada pada kemaluan wanita (keputihan) adalah cairan putih antara madzi dan keringat. Makanya ada perbedaan pendapat padanya. Kemudian, penulis (Asy-Syirazi) rahimahullah menguatkan pendapat bahwa itu najis di sini (di kitab Al-Muhadzdzab) juga dalam kitab At-Tanbih. Demikian pula Al-Bandaniji menguatkan pendapat tersebut.

Sementara Al-Baghawi, Ar-Rafi’i dan lainnya mengatakan bahwa yang paling benar adalah sucinya keputihan itu. Penulis kitab Al-Hawi (Al-Mawardi –penerj) menyatakan dalam bab hal-hal yang mewajibkan mandi, *_“Asy-Syafi’I dalam beberapa kitabnya menegaskan sucinya keputihan wanita.”_*
{Lihat Kitab Al-Majmu’ : juz 2 hal 570. Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy}.

*📿🌴• Demikian juga Al-Murdawiy Al Hanbaliy  rahimahullahu ta'ala  menjelaskan :*

وَفِي رُطُوبَةِ فَرْجِ الْمَرْأَةِ رِوَايَتَانِ ) ... الى ان قال ...
إحْدَاهُمَا: هُوَ طَاهِرٌ، وَهُوَ الصَّحِيحُ مِنْ الْمَذْهَبِ مُطْلَقًا .

“Pendapat mengenai keputihan/lendir dari kemaluan wanita ada dua pendapat ... *_salah satunya adalah suci dan inilah yang shahih dalam mazhab kami secara mutlak.”_*
{Lihat Kitab Al-Inshaf : juz 1 hal 341, Darul Ihya At-Turast, Syamilah}.

*📓✍• Kesimpulan ini juga didukung oleh Imam Ibnu Taimiyah Al Hanbaliy dalam Syarh Umdatul Fiqh :*

ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺮﻃﻮﺑﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻓﻲ ﻓﺮﺝ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻓﻄﺎﻫﺮ ﻓﻲ ﺍﻗﻮﻯ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺘﻴﻦ
{انظر شرح عمدة الفقه للإمام ابن قدامة  المقدسي الحنبلي (المتوفى ٦٢٠ هـ) : ج ٢ ص ١١٢.  الشارح عبد الله بن عبد العزيز الجبرين}.

“Adapun keputihan yang ada pada vagina wanita maka itu suci (bukan najis) menurut yang terkuat diantara dua riwayat yang ada.”
{Lihat Syarhu 'Umdatu Al Fiqh : juz 1 hal 112. Karya Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibriin}.

*iii)• 👌Cara Mensucikan Anggota Badan Yang Bercabang Atau Bertambah Bagi Yang Masih Hidup Atau Sudah Mati.*

*_1⃣• Menurut Madzhab Imam Abu Hanifah Rahimahullahu Ta'ala :_*

*📒🎙• جاء في كتاب : فتح القدير في شرح الهداية في فقه الحنفية، للامام كمال الدين محمد بن عبد الواحد السيواسي الحنفي رحمه الله تعالى :*

وَلَوْ قُطِعَتْ يَدُهُ أَوْ رِجْلُهُ فَلَمْ يَبْقَ مِنْ الْمِرْفَقِ وَالْكَعْبِ شَيْءٌ يَسْقُطُ الْغُسْلُ ، وَلَوْ بَقِيَ وَجَبَ ، وَلَوْ طَالَ أَظْفَارُهُ حَتَّى خَرَجَتْ عَنْ رُءُوسِ الْأَصَابِعِ وَجَبَ غَسْلُهَا قَوْلًا وَاحِدًا ، وَلَوْ خُلِقَ لَهُ يَدَانِ عَلَى الْمَنْكِبِ فَالتَّامَّةُ هِيَ الْأَصْلِيَّةُ يَجِبُ غَسْلُهَا ، وَالْأُخْرَى زَائِدَةٌ فَمَا حَاذَى مِنْهَا مَحَلَّ الْفَرْضِ وَجَبَ غَسْلُهُ وَمَا لَا فَلَا.
{انظر كتاب : فتح القدير في شرح الهداية في فقه الحنفية : ج ص. للإمام كمال الدين محمد بن عبد الواحد السيواسي الحنفي}.

*💾🎙• Berkata Imam Al Kamal Ibnu Al Hammam Al Hanafiy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Fathu Al Qadiir Fi Syarhi Al Hidayah ":*

Jikalau tangan dan kakinya terputus dari siku dan mata kaki,  tanpa tersisa sedikitpun, maka gugurlah basuhannya, dan apabila masih tersisa, maka wajib membasuhnya, dan apabila kuku - kukunya tumbuh  melebihi ujung jari jemarinya, maka wajib membasuhnya, menurut sebuah pendapat,

Jikalau diciptakan baginya dua tangan yang menempel pada lengannya, dan yang sempurna adalah aslinya, maka wajib membasuhnya, dan yang lainnya adalah tambahan lantas perkara yang  bersebelahan darinya tempat yang wajib dibasuh, maka wajib membasuhnya​, dan perkara yang tidak bersebelahan dengan tempat yang wajib dibasuh maka tidak wajib membasuhnya.
{Lihat Kitab Fathu Al Qadiir Syarhu Al Hidayah. Karya Kamal Ibnu Hammam Al Hanafiy}.


*_2⃣• Menurut Madzhab Imam Malik Rahimahullahu Ta'ala :_*

*💾✍• جاء في كتاب " حاشية الدسوقي على الشرح الكبير " للإمام محمد بن أحمد بن عرفة الدسوقي المالكي رحمه الله تعالى:*

كٙكٙفٍّ خُلِقَتْ بِمَنْكِبٍ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ يَدٌ غَيْرُهَا يَجِبُ غَسْلُهَا، فَإِنْ كَانَ لَهُ يَدٌ سِوَاهَا فَلاَ يَجِبُ غَسْل الْكَفِّ إِلاَّ إِذَا نَبَتَتْ فِي مَحَل الْفَرْضِ، أَوْ فِي غَيْرِهِ وَكَانَ لَهَا مِرْفَقٌ، فَتُغْسَل لِلْمِرْفَقِ؛ لأَِنَّ لَهَا حُكْمَ الْيَدِ الأَْصْلِيَّةِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا مِرفٙقٌ فٙلاٙ غُسْلٙ مٙالٙمْ تَصِل لِمَحَل الْفَرْضِ.
{انظر حاشية الدسوقي على الشرح الكبير    : ج ١ ص ٨٧ / باب أحكام الطهارة     / فصل أحكام الوضوء / فرائض الوضوء. للإمام الدسوقي المالكي}.

*📘🎤• Terdapat dalam kitab Hasyiyyah Ad Dasuqiy 'Ala Syarhi Al Kabir.  Berkata Imam Dasuqiy Al Malikiy rahimahullahu ta'ala :*

Seperti telapak tangan yang diciptakan pada lengan, dan tidak ada tangan selainnya, maka wajib membasuhnya,

Jikalau ada padanya tangan yang lainnya, maka tidak wajib membasuh telapak tangan kecuali tangan tersebut tumbuh bercabang ditempat yang wajib dibasuh atau tumbuh ditempat lainnya dan siku masih ada padanya, maka siku dibasuh, karena baginya masih termasuk bagian tangan yang aslinya, jikalau tangannya tidak bersiku, maka tidak ada basuhannya​ selama tangan tersebut tidak bersambung  pada tempat anggota tubuh yang wajib dibasuh.
{Lihat Kitab Hasyiyyah Ad Dasuqiy 'Ala Syarhi Al Kabir : juz 1 hal 87. Karya Imam Dasuqiy Al Malikiy}.


*_3⃣• Menurut Madzhab Imam Syafi'iy Rahimahullahu Ta'ala :_*

*💾👉• قال الإمام العلامة أبي عبد الله محمد بن قاسم الغزي الشافعي في كتابه " فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب ":*

وَيَجِبُ غَسْلُ مَا عَلَى اْليَدَيْنِ، مِنْ شَعْرٍ وَسُلْعَةٍ وَأُصْبُعٍ زَائِدَةٍ وَأَظَافِيْرَ.
{انظر كتاب فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب : ص ٥. للعلامة أبي عبد الله محمد بن قاسم الغزي الشافعي}.

*♻✏• Imam Muhammad bin Qasim Al-Gazzi, dalam kitabnya Fathul Qarib, menerangkan bahwa kuku dan ANNGOTA YANG BERTAMBAH/BERCABANG itu termasuk anggota wudhu yang wajib dibasuh ketika berwudhu. Beliau mengatakan :*

Wajib hukumnya membasuh apa saja yang terdapat pada kedua tangan, yaitu bulu, retak-retak di telapak kaki, jari yang lebih, dan kuku-kuku.
{Lihat Kitab Fathu Al Qarib Al Mujib : hal 5. Karya Syaikh Muhammad bin Qasim Al Ghazzi Asy Syafi'iy}.


*📘🎤• قال الشيخ السيد تقي الدين الشافعي (وهو أبو بكر بن محمد بن عبد المؤمن بن حريز بن معلى الحسيني الحصني، تقي الدين الشافعي المتوفى: ٨٢٩ هـ)، رحمه الله تعالى في كتابه "  كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار ":*

فَيَجِبُ غَسْلُ ظَاهِرِ هَذِهِ الشُّعُوْرِ وَبَاطِنُهَا مَعَ الْبَشَرَةِ تَحْتَهَا وَإِنْ كَثُفَ لِأَنَّهَا مِنَ الْوَجْهِ

وَأَمَّا شَعْرُ الْعَارِضَيْنَ فَإِنْ كَانَ خَفِيْفًا وَجَبَ غَسَلِ ظَاهِرِهِ وَبَاطِنِهِ مَعَ الْبَشَرَةِ.
{انظر كتاب كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار : ص ٣٧. للشيخ السيد تقي الدين الشافعي}.

*💾🎙• Berkata Syaikh Sayyid Taqiyuddin Al Hishniy Al Husainiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Kifayatu Al Akhyaar ":*

Maka wajib membasuh luar rambut ini dan bagian dalamnya bersama kulit luar yang di bawahnya dan jika tebal, karena sesungguhnya tidak keluar dari wajah

Dan adapun rambut pada dua pipi, maka jika ada yang tipis, maka wajib membasuh bagian luarnya dan bagian dalam bersama kulitnya
{Lihat Kitab Kifayatu Al Akhyaar : hal 37. Karya Syaikh Sayyid Taqiyuddin Asy Syafi'iy}.

Dijelaskan jua dalam kitab Al-Iqnaa’ I/38 :

(القول في الكلام على شعور الوجه) ويجب غسل كل هدب وهو الشعر النابت على أجفان العين، وحاجب وهو الشعر النابت على أعلى العين سمي بذلك لانه يحجب عن العين شعاع الشمس، وعذار وهو الشعر النابت المحاذي للاذن بين الصدغ والعارض، وشارب وهو الشعر النابت على الشفة العليا سمي بذلك لملاقاته فم الانسان عند الشرب، وشعر نابت على الخد وعنفقة وهو الشعر النابت على الشفة السفلى أي يجب غسل ذلك ظاهرا وباطنا وإن كثف الشعر، لا كثافته نادرة فألحق بالغالب،

[PERNYATAAN DALAM RAMBUT-RAMBUT YANG ADA DI MUKA] Wajib membasuh setiap rambut bulu mata, alis, athi-athi (rambut yang tumbuh sejajar dengan telinga antara pelipis dan muka pipi), kumis, godek, dan bulu yang tumbuh di bibir bawah. Wajib membasuh bagian dhahir dan bathinnya meskipun ia lebat karena kelebatannya dinilai sangat jarang maka hukumnya disamakan dengan kebiasaannya. [Lihat Kitab Al-Iqnaa’ : I/38 ].


( وَيَجِبُ غَسْلُ كُلِّ هُدْبٍ ) بِالْمُهْمَلَةِ ( وَحَاجِبٍ وَعِذَارٍ ) بِالْمُعْجَمَةِ ( وَشَارِبٍ وَخَدٍّ وَعَنْفَقَةِ شَعَرٍ ) بِفَتْحِ الْعَيْنِ ( وَبَشَرٍ ) أَيْ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا سَوَاءٌ خَفَّ الشَّعْرُ أَمْ كَثُفَ لِأَنَّ كَثَافَتَهُ ، نَادِرَةٌ ، فَأُلْحِقَ بِالْغَالِبِ

Wajib membasuh setiap rambut bulu mata, alis, athi-athi (rambut yang tumbuh sejajar dengan telinga antara pelipis dan muka pipi), kumis, godek, dan bulu yang tumbuh dibibir bawah. Wajib membasuh bagian dhahir dan bathinnya meskipun ia lebat karena kelebatannya dinilai sangat jarang maka hukumnya disamakan dengan kebiasaannya. [Lihat Kitab Hasyiyyah ini Lil Qolyubi Wa 'Amirah : I/207 ].

( ويجب غسل كل هدب ) ...  ( وعذار ) وهو بالذال المعجمة الشعر النابت المحاذي للأذن بين الصدغ والعارض

Wajib membasuh setiap rambut bulu mata... Dan athi-athi (rambut yang tumbuh sejajar dengan telinga antara pelipis dan muka pipi).
[Lihat Kitab Mughni al-Muhtaaj : I/51 ].

*📗🎙• وقال الإمام النووي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه "  المجموع شرح المهذب ":*

لَوْ خَرَجَتْ فِي وَجْهِهِ سلْعَةٌ, وَخَرَجَتْ عَنْ حَدِّ الْوَجْهِ وَجَبَ غَسْلُهَا كُلَّهَا عَلَ
الْمَذْهَبِ ...؛ لِنُدُورِهِ, وَلِأَنَّهَا كُلَّهَا تُعَدُّ مِنْ الْوَجْهِ. اهـ.
{انظر كتاب المجموع شرح المهذب : ج ١ ص ٣٨٢. للإمام النووي الشافعي}.

*📓🌴• Berkata Imam Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab ":*

Apabila sesuatu perkara keluar pada wajah dan batas wajahnya​, maka wajib membasuh seluruhnya menurut madzhab (Syafi'iy) ..., karena kelangkaannya, dan karena semua itu dihitung wajah.
{Lihat Kitab Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab : juz 1  hal 382. Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy}.


*💾✍• قال الإمام الخطيب الشربيني الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه " الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع ":*

وَيجب غسل شعر على الْيَدَيْنِ ظَاهرا وَبَاطنا وَإِن كثف لندرته وَغسل ظفر وَإِن طَال وَغسل بَاطِن ثقب وشقوق فيهمَا إِن لم يكن لَهُ غور فِي اللَّحْم وَإِلَّا وَجب غسل مَا ظهر مِنْهُ فَقَط وَيجْرِي هَذَا فِي سَائِر الْأَعْضَاء كَمَا يَقْتَضِيهِ كَلَام الْمَجْمُوع فِي بَاب صفة الْغسْل وَغسل يَد زَائِدَة إِن نَبتَت بِمحل الْفَرْض وَلَو من الْمرْفقِ كأصبع زَائِدَة وسلعة سَوَاء جَاوَزت الْأَصْلِيَّة أم لَا
وَإِن نَبتَت بِغَيْر مَحل الْفَرْض وَجب غسل مَا حَاذَى مِنْهَا مَحَله لوُقُوع اسْم الْيَد عَلَيْهِ مَعَ محاذاته لمحل الْفَرْض ,

بِخِلَاف مَا لم يحاذه فَإِن لم تتَمَيَّز الزَّائِدَة عَن الْأَصْلِيَّة بِأَن كَانَتَا أصليتين أَو إِحْدَاهمَا زَائِدَة وَلم تتَمَيَّز بِنَحْوِ فحش قصر وَنقص أَصَابِع وَضعف.
{انظر كتاب الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع : ج ١ ص ٤٣. للإمام الخطيب الشربيني الشافعي}.

*📿🎙• Berkata Imam Khathib Syarbiniy Asy Syafi'iy​ rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Al Ìqnaa' Fi Hilli Alfaadzi Abi Syujaa' ":*

Dan wajib membasuhnya rambut yang tumbuh diatas kedua tangan yang terlihat maupun yang tidak terlihat sekalipun tebal karena jarang  tumbuhnya, membasuh kuku sekalipun kukunya panjang, membasuh dalamnya lubang dan retak - retak pada kedua belah tangan sekalipun tidak ada lubang daging padanya, dan apabila tidak demikian, maka wajib membasuh perkara yang terlihat darinya saja, dan ini berlaku pada beberapa anggota yang lain, seperti pendapat dalam  kitab " Al Majmu' " yang menetapkannya, dalam bab sifat/karakteristik membasuh dan membasuh tangan yang lebih/bercabang apabila tumbuh ditempat anggota fardlunya wudlu', walaupun dari siku seperti jari jemari yang lebih dan sesuatu yang bertambah baik melewati aslinya atau tidak, apabila tumbuh diselain anggota fardlunya wudlu', maka wajib membasuh tempatnya yang bersebelahan
darinya, karena ikut menjadi nama tangan sebab bersebelahannyapada tempat fardlunya wudlu',  berbeda dengan sesuatu yang tidak bersebelahan dengannya, maka ketika tidak bisa dibedakan anggota yang bertambah dengan aslinya, gambarannya keduanya asli atau salahsatunya tambahan namun tidak bisa membedakannya semisal bentuknya buruk, pendek, kurang jari jemarinya, dan lemah.
{Lihat Kitab Iqna’ fi Halli Alfazi Abi Syuja’ : juz 1 hal 37. Karya Syaikh Muhammad Al-Syarbini Al- Khatib Asy Syafi'iy. Cet. (Surabaya: Nurul Hidayah)}.


*_4⃣• Menurut Madzhab Imam Ahmad Rahimahullahu Ta'ala :_*

*🌴🎙• قال الإمام شرف الدين أبو النجا الحجاوي الحنبلي (وهو موسى بن أحمد بن موسى بن سالم بن عيسى بن سالم الحجاوي المقدسي، ثم الصالحي، شرف الدين، أبو النجا (المتوفى: ٩٦٨ هـ)، رحمه الله تعالى في كتابه " الإقناع في فقه الإمام أحمد بن حنبل ":*

واختاره ويجب غسل إصبع زائدة ويد أصلها في محل الفرض أو غيره ولم تتميز وإلا.
{انظر كتاب الإقناع في فقه الإمام أحمد بن حنبل / كتاب الطهارة. للإمام الحجاوي الحنبلي}.

*📘🎤• Berkata Imam Al Hijaawiy Al Maqdisiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Al Ìqnaa' Fi Fiqhi Ìmam Ahmad bin Hanbal ":*

Dan memilihnya, wajib membasuh jari jemari yang lebih/bertambah,  dan tangan aslinya yang tumbuh ditempat anggota fardlunya wudlu' dan tempat  lainnya yang tidak bisa bedakan, jikalau tidak demikian maka tidak wajib membasuhnya.
{Lihat Kitab Al Ìqnaa' Fi Fiqhi Ahmad bin Hanbal. Karya Imam Al Hijaawiy Al Hanbaliy}.


*📓✍• قال الإمام ابن قدامة المقدسي الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه " المغني ":*

فَصْلٌ: وَإِنْ خُلِقَ لَهُ إصْبَعٌ زَائِدَةٌ، أَوْ يَدٌ زَائِدَةٌ فِي مَحَلِّ الْفَرْضِ، وَجَبَ غَسْلُهَا مَعَ الْأَصْلِيَّةِ؛ لِأَنَّهَا نَابِتَةٌ فِيهِ، أَشْبَهَتْ الثُّؤْلُولَ،

وَإِنْ كَانَتْ نَابِتَةً فِي غَيْرِ مَحَلِّ الْفَرْضِ كَالْعَضُدِ أَوْ الْمَنْكِبِ، لَمْ يَجِبْ غَسْلُهَا، سَوَاءٌ كَانَتْ قَصِيرَةً أَوْ طَوِيلَةً؛ لِأَنَّهَا فِي غَيْرِ مَحَلِّ الْفَرْضِ،

فَأَشْبَهَتْ شَعْرَ الرَّأْسِ إذَا نَزَلَ عَنْ الْوَجْهِ، وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ حَامِدٍ وَابْنِ عَقِيلٍ

وَقَالَ الْقَاضِي: إنْ كَانَ بَعْضُهَا يُحَاذِي مَحَلَّ الْفَرْضِ غَسَلَ مَا يُحَاذِيهِ مِنْهَا. وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ. وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُ الرَّأْيِ فِي ذَلِكَ، كَنَحْوٍ مِمَّا ذَكَرْنَا.

وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ الْأَصْلِيَّةَ مِنْهُمَا وَجَبَ غَسْلُهُمَا جَمِيعًا؛ لِأَنَّ غَسْلَ إحْدَاهُمَا وَاجِبٌ، وَلَا يَخْرُجُ عَنْ عُهْدَةِ الْوَاجِبِ يَقِينًا إلَّا بِغَسْلِهِمَا، فَوَجَبَ غَسْلُهُمَا، كَمَا لَوْ تَنَجَّسَتْ إحْدَى يَدَيْهِ وَلَمْ يَعْلَمْ عَيْنَهَا.
{انظر كتاب المغني : ج ١ ص ٩١. للإمام ابن قدامة الحنبلي}.

*📿✍• Berkata Imam Ibnu Qudamah Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya " Al Mughniy​ " :*

(Fashl/Pasal) : Apabila diciptakan baginya jari tambahan, atau tangan tambahan ditempat fardlunya wudlu', maka wajib membasuhnya bersamaan anggota badan aslinya, karena tambahan tersebut tumbuh disana, dan penyakit kutil/mata ikan disamakan denganya,

dan apabila tambahan tersebut tumbuh pada selain tempat fardlunya wudlu', seperti pada lengan atas atau bahu, maka tidak wajib membasuhnya, baik bentuknya pendek atau panjang, karena tumbuh ditempat selain fardlunya wudlu',

dan diserupakan rambut kepala yang terurai kebawah mengenai wajah, dan ini pendapat Ibnu Hamid dan Ibnu 'Aqil.

Al Qadli berkata ; Apabila sebagian anggota tambahan tersebut bersebelahan dengan tempat fardlunya wudlu', *maka wajib* membasuh anggota tambahan yang bersebelahan darinya. Dan yang pertama adalah pendapat yang Ashshah/paling benar.

Dan pengikut Madzhab Ro'yi/Abi Hanifah menyelesihi dalam semua hal tersebut, seperti contoh yang telah kami sebutkan.

Apabila tidak tahu anggota asli dari keduanya, maka wajib membasuh keduanya sekaligus, karena salah satu dari keduanya wajib dibasuh, tidak akan keluar dari penjagaan perkara yang wajib secara mantab, kecuali dengan membasuh keduanya, maka wajib membasuh keduanya, seperti ketika salah satu dari kedua tangannya terkena najis dan tidak diketahui bentuk najisnya.
{Lihat Kitab Al Mughniy : juz 1 hal 91. Karya Imam Ibnu Qudamah Al Hanbaliy}.


*💾✍• جاء في كتاب " موسوعة الفقهية الاسلامية " المؤلف : وازرة الاوقاف والشؤون الإسلاميه - دولة الكويت :*

ب - الطَّهَارَةُ عَلَى الْعُضْوِ الزَّائِدِ فِي -الْغَسْل:

٥ - اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ مَنْ خُلِقَ لَهُ عُضْوٌ زَائِدٌ، كَإِصْبَعٍ زَائِدَةٍ أَوْ يَدٍ زَائِدَةٍ، فِي مَحَل الْفَرْضِ وَجَبَ غَسْلُهَا مَعَ الأَْصْلِيَّةِ؛ لأَِنَّهَا نَابِتَةٌ فِيهِ، فَتَأْخُذُ حُكْمَهُ.

وَاخْتَلَفُوا فِيمَا إِذَا نَبَتَتِ الزَّائِدَةُ فِي غَيْرِ مَحَل الْفَرْضِ، كَالإِْصْبَعِ أَوِ الْكَفِّ عَلَى الْعٙضُدِ أَوِ الْمَنْكِبِ،

فَقَال الْحَنَفِيَّةُ، وَالشَّافِعِيَّةُ، وَهُوَ قَوْل الْقَاضِي مِنَ الْحَنَابِلَةِ: إِنَّ مَا حَاذَى مِنْهَا مَحَل الْفَرْضِ وَجَبَ غَسْلُهُ، وَإِلاَّ فَلاَ يَجِبُ.

وَقَال الْمَالِكِيَّةُ: لَوْ خُلِقَتْ لَهُ كَفٌّ بِمَنْكِبٍ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ يَدٌ غَيْرُهَا يَجِبُ غَسْلُهَا، فَإِنْ كَانَ لَهُ يَدٌ سِوَاهَا فَلاَ يَجِبُ غَسْل الْكَفِّ إِلاَّ إِذَا نَبَتَتْ فِي مَحَل الْفَرْضِ، أَوْ فِي غَيْرِهِ وَكَانَ لَهَا مِرْفَقٌ، فَتُغْسَل لِلْمِرْفَقِ؛ لأَِنَّ لَهَا حُكْمَ الْيَدِ الأَْصْلِيَّةِ , فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا مِرْفَقٌ فَلاَ غَسْل مَا لَمْ تَصِل لِمَحَل الْفَرْضِ.

وَالأَْصَحُّ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ: أَنَّ الْعُضْوَ الزَّائِدَ إِذَا كَانَ فِي غَيْرِ مَحَل الْفَرْضِ، كَالْعَضُدِ أَوِ الْمَنْكِبِ لَمْ يَجِبْ غَسْلُهُ، سَوَاءٌ أَكَانَ قَصِيرًا أَمْ طَوِيلاً؛ لأَِنَّهُ فِي غَيْرِ مَحَل الْفَرْضِ فَأَشْبَهَ شَعْرَ الرَّأْسِ إِذَا نَزَل عَلَى الْوَجْهِ.
{انظر كتاب " موسوعة الفقهية الاسلامية " : ج  ٣٠ ص ١٤٧ - ١٤٨.  المؤلف : وازرة الاوقاف والشؤون الإسلاميه - دولة الكويت}.

*💾✏• Terdapat dalam kitab " Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Islamiyyah " Karya Ministry of Awqaf and Islamic Affairs (Kementerian Wakaf dan Urusan Islam - Negara Kuwait :*

*B)• Mensucikan Anggota Tubuh Yang Bertambah Didalam Basuhannya :

5 - Ahli Fiqih sepakat bahwasannya orang yang diciptakan baginya anggota badan tambahan, seperti tangan dan kaki tambahan ditempat fardlunya wudlu', maka wajib membasuhnya bersamaan dengan anggota aslinya, karena tambahan tersebut tumbuh didalamnya, maka ambillah hukumnya.

Dan mereka berselisih pendapat ketika tambahan tersebut tumbuh diselain tempat fardlunya wudlu', seperti jari atau telapak tangan tumbuh pada lengan atas atau bahu,

*👌Pengikut Madzhab Imam Abu Hanifah (Hanafiyah), Imam Syafi'iy (Syafi'iyyah), dan sebuah pendapat Al Qadli pengikut Imam Ahmad (hanabillah)  berkata :*

Bahwasannya anggota tambahan yang tumbuh bersebelahan darinya *MAKA WAJIB MEMBASUHNYA* dan jikalau tidak demikian *MAKA TIDAK WAJIB MEMBASUHNYA*.

*👌Dan Pengikut Imam Malik (Malikiyah) berkata :*

Apabila diciptakan baginya telapak tangan dibahu, dan tidak ada lagi baginya tangan selainnya *MAKA WAJIB MEMBASUHNYA*, lantas apabila dia mempunyai tangan selainnya *MAKA TIDAK WAJIB MEMBASUHNYA* kecuali apabila anggota tambahan tersebut tumbuh ditempat fardlunya wudlu' atau ditempat lainnya dan siku ada påda tangan tambahannya *MAKA SIKUNYA DIBASUH* karena ada pada tangan tambahannya hukum tangan aslinya, maka ketika tidak ada padanya siku *MAKA TIDAK ADA BASUHAN SAMA SEKALI* selagi tidak muttashil/terkait pada fardlunya wudlu'.

*👌Dan yang Ashshah/paling benar menurut hanabillah (pengikut Imam Ahmad) :*

Bahwasannya anggota badan tambahan/lebih ketika tumbuh ditempat fardlunya wudlu', seperti lengan atas dan bahu *MAKA TIDAK WAJIB MEMBASUHNYA* baik adanya tambahan anggota badan tersebut pendek atau panjang, karena hal tersebut pada selain tempat fardlunya wudlu', maka disamakan dengan anggota badan tambahan tersebut, rambut kepala yang turun kewajah.
{Lihat Kitab Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Islamiyyah : juz 30 hal 147 - 148. Karya Ministry of Awqaf and Islamic Affairs (Kementerian Wakaf dan Urusan Islam - Negara Kuwait)}.

نقلها ورتبها طالب العلم " محمد عبد الحكيم الجاوي " الماجلانجي - جاوة الوسطى

Ahad Wage,
 ٢٤ شوال  ١٤٣٩ هـ | ٨ يولي ٢٠١٨ مـ
 To be countinew


PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BAGAIMANAPUN BENTUKNYA VAGINA RASANYA TUNGGAL (1) BAHASA ALAM AKHIRAT (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA KHUSUS (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DSB) (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAHARU (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) INOVASI BID'AH OLEH ULAMA' YANG DITUDUH MEMBID'AH BID'AHKAN (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KAJIAN TINGKEPAN NGAPATI MITONI KEHAMILAN (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TABKHIR EMBAKAR DUPA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA HAJAT TERCAPAI SEMBELIHLAH SYAHWAT DAN MENDEKATLAH KEPADA ALLAH (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KUFUR AKIBAT MENCELA NASAB KETURUNAN (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMBELI KITAB ULAMA' MENARIK RIZQI DAN KEKAYAAN (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SEMBELIHAN (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAHALLUL CUKUR GUNDUL ATAU POTONG RAMBUT SELESAI HAJI DAN UMROH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TIDAK PERLU TEST DNA SEBAGAI BUKTI DZURRIYYAH NABI -ﷺ- (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top