Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Oktober 2023

قراءة الفاتحة في الصلاة | BACAAN FATIHAH DALAM SHALAT

 *╾╌╌─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫﷽💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ─╌╌╸



(Dinti sarikan dari kitab Ahaditsu Ash Shalat dan Kaifa Tushalli karya Murobbi Ruhina KH. Muhammad  Ihya' 'Ulumiddin Alumnus pertama Ribath Prof. DR. Al Muhadits Abuya As  Sayyid Muhammad 'Alawiy Al Malikiy Al Hasaniy Rushaifah - Makkah)


i)• DASAR HADITS


و حَدَّثَنَاه إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: 


«مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ ...الحديث». 

[رواه مسلم / كتاب الصلاة / باب وجوب قراءة الفاتحة في كل ركعة، وإنه إذا لم يحسن الفاتحة ولا أمكنه تعلمها قرأ ما تيسر له من غيرها / حديث رقم: ٨٧٨].


Dan telah menceritakan kepada kami : Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali.  Telah mengabarkan kepada kami : Sufyan bin Uyainah. Dari al-Ala'. Dari Bapaknya. Dari Abu Hurairah radliyyAllahu  'anhu. Dari Nabi -ﷺ-, beliau bersabda :  


"Barangsiapa yang mengerjakan shalat tanpa membaca Ummul Qur'an (Fatihah) di dalamnya, maka shalatnya masih mempunyai hutang, tidak sempurna" Tiga kali. Ditanyakan kepada Abu Hurairah, " Kami berada di belakang imam?" Maka beliau menjawab, "Bacalah Ummul Qur'an dalam dirimu ... Al Hadits

[HR. Muslim No. 878].


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Al-Bukhariy Asy Syafi'iy  rahimahullahu meriwayatkan hadits ini dalam sebuah bab dengan judul :


بَابُ وُجُوبِ الْقِرَاءَةِ لِلْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ فِي الصَّلَوَاتِ كُلِّهَا فِي الْحَضَرِ وَالسَّفَرِ وَمَا يُجْهَرُ فِيهَا وَمَا يُخَافَتُ


Bab: “Kewajiban membaca bagi imam dan makmum dalam semua shalat, di kota sendiri dan di luar kota, dan pada shalat yang dijahrkan dan yang dibaca pelan”.


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫 Sedangkan imam Muslim meriwayatkan hadits ini dalam bab:


بَابُ وُجُوْبِ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ


Bab: “Kewajiban membaca al-Fâtihah di dalam setiap raka’at.


ii)• PENDAPAT ULAMA' MADZHAB


1]. MENURUT MADZHAB SYAFI'IYYAH


BACAAN FATIHAH BAGI YANG MAMPU ADALAH KEWAJIBAN DAN RUKUN SHALAT maka tidak sah bagi Imam Ma'mum Munfarid, dalam shalat fardlu atau Sunnah, shalat keras maupun pelan, pria maupun wanita, musafir maupun anak kecil, berdiri maupun duduk, bahkan yang shalat sambil  berbaring atau dalam keadaan sangat takut, jika tidak membaca fatihah


قال الإمام أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي (ت ٦٧٦ هـ) رحمه الله في كتابه المجموع شرح المهذب/ كتاب الصلاة / مسائل متعلقة بالتعوذ (ج ٣ ص ٣٢٦): 


وَقِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ لِلْقَادِرِ عَلَيْهَا فَرْضٌ مِنْ فُرُوضِ الصَّلَاةِ وَرُكْنٌ مِنْ أَرْكَانِهَا وَمُتَعَيِّنَةٌ لَا يَقُومُ مَقَامَهَا تَرْجَمَتُهَا بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ وَلَا قِرَاءَةُ غَيْرِهَا مِنْ الْقُرْآنِ وَيَسْتَوِي فِي تَعَيُّنِهَا جَمِيعُ الصَّلَوَاتِ فَرْضُهَا وَنَفْلُهَا جَهْرُهَا وَسِرُّهَا وَالرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ وَالْمُسَافِرُ وَالصَّبِيُّ وَالْقَائِمُ وَالْقَاعِدُ وَالْمُضْطَجِعُ وَفِي حَالِ شِدَّةِ الْخَوْفِ وَغَيْرِهَا سَوَاءٌ فِي تَعَيُّنِهَا الْإِمَامُ وَالْمَأْمُومُ وَالْمُنْفَرِدُ


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf Al-Nawawiy Asy Syafi'iy (w. 676 H), mengatakan dalam Kitabnya Al-Majmu' Syarhu Al-Muhadzdzab / Kitab Shalat / Masalah Terkait Mencari Perlindungan (vol. 3 , hal.326):


Membaca Al-Fatihah bagi yang mampu merupakan salah satu kewajiban shalat dan salah satu rukunnya, wajib dan tidak dapat digantikan dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa selain bahasa Arab, dan tidak dapat digantikan dengan bacaan selainnya dari Al Qur'an, dan sama dalam ketentuannya pada semua shalat sama baik shalat wajib maupun sunah, baik dengan suara keras maupun pelan, laki-laki maupun perempuan, musafir, atau anak-anak, yang shalat berdiri maupun  yang duduk, dan yang berbaring, dan dalam kasus ketakutan yang parah dan waktu-waktu lainnya, baik itu imam, ma'mum, atau orang yang shalat sendirian (munfarid).


وقال الامام شمس الدين محمد بن أبي العباس أحمد بن حمزة شهاب الدين الرملي الشافعي (ت ١٠٠٤هـ) في كتابه نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج / أركان الصلاة / الرابع من أركان الصلاة قراءة الفاتحة (ج ١ ص ٤٧٦):


(وَتَتَعَيَّنُ الْفَاتِحَةُ) فِي السِّرِّيَّةِ وَالْجَهْرِيَّةِ حِفْظًا أَوْ تَلْقِينًا أَوْ نَظَرًا فِي مُصْحَفٍ (فِي كُلِّ رَكْعَةٍ) فِي قِيَامِهَا، وَمِنْهُ الْقِيَامُ الثَّانِي مِنْ رَكْعَتَيْ صَلَاةِ الْخُسُوفِ، أَوْ بَدَلَهُ لِلْمُنْفَرِدِ وَغَيْرِهِ فَرْضًا كَانَتْ أَوْ نَفْلًا، لِخَبَرِ «لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ» وَيَدُلُّ عَلَى دُخُولِ الْمَأْمُومِينَ فِي الْعُمُومِ


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Syamsuddin Muhammad bin Abi al-Abbas Ahmad bin Hamzah Syihabuddin al-Ramliy Asy Syafi'iy (w. 1004 H) mengatakan dalam Kitabnya Nihayatu  al-Muhtaj Ila Syarhi  al-Minhaj / Rukun Sholat / Rukun Sholat Keempat Membaca Al-Fatihah (jilid 1, hal. 476):


(Dan Al-Fatihah wajib) dalam shalat pelan maupun keras, dengan cara menghafal mengeja atau melihat  Al-Qur'an (dalam setiap rakaat) pada saat berdirinya, termasuk saat berdirinya rakaat kedua pada shalat gerhana atau penggantinya bagi munfarid (orang yang shalat sendirian) dan lainnya, baik shalat  wajib maupun shalat  sunah, berdasarkan riwayat hadits: “Tidak ada salat bagi orang yang tidak membaca di dalamnya Fatihatul  Kitab.” Ini menunjukkan  masuknya para ma'mum didalam keumumannya.


وقال الشيخ زكريا بن محمد بن زكريا الأنصاري، زين الدين أبو يحيى السنيكي الشافعي (ت ٩٢٦هـ) في كتابه أسنى المطالب في شرح روض الطالب / أركان الصلاة / الركن الرابع قراءة الفاتحة في قيام كل ركعة أو بدله (ج ١ ص ١٤٩): 


الرُّكْنُ (الرَّابِعُ قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ فِي قِيَامِ كُلِّ رَكْعَةٍ، أَوْ بَدَلِهِ) لِلْمُنْفَرِدِ وَغَيْرِهِ فِي السِّرِّيَّةِ، وَالْجَهْرِيَّةِ حِفْظًا أَوْ تَلْقِينًا، أَوْ نَظَرًا فِي مُصْحَفٍ، أَوْ نَحْوِهِ لِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ «لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ» ، وَلِخَبَرِ «لَا تُجْزِئُ صَلَاةٌ لَا يُقْرَأُ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ» رَوَاهُ ابْنَا خُزَيْمَةَ وَحِبَّانَ فِي صَحِيحَيْهِمَا «وَلِفِعْلِهِ -ﷺ-» كَمَا فِي مُسْلِمٍ مَعَ خَبَرِ الْبُخَارِيِّ «صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»  


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Syaikh Zakariyya bin Muhammad bin Zakariyya al-Anshariy, Zainuddin Abu Yahya As-Sinikiy Asy-Syafi'iy (w. 926 H) mengatakan dalam Kitabnya Asna al-Mathalib Fi Syarhi  Radlatu Ath-Thalib / Rukun Shalat / Rukun Keempat: Membaca Al-Fatihah Sambil Berdiri Atau Mengganti Setiap Rakaat (jilid 1, hal. 149):


Rukun keempat (yang keempat membaca Al-Fatihah dalam  berdiri pada setiap rakaat, atau penggantinya) untuk orang yang shalat  sendiri atau selainnya  dalam shalat yang pelan, atau dalam  shalat dengan suara keras, baik secara  menghafal atau indoktrinasi (dituntun membacanya), atau melihat mushaf  Al-Qur'an, atau semacamnya, berdasarkan riwayat Shahih Bukhariy Dan Muslim : “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihahatul Kitab di dalamnya,” dan berdasarkan  hadits : “Shalat tidak cukup (sah) yang tidak dibaca didalamnya Fatihatul Kitab." Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu  Hibban dalam Sahihnya, “dan berdasarkan tindakannya -ﷺ-,  seperti dalam Shahih  Muslim dengan hadits  riwayat Al-Bukhariy : "Shalatlah kalian,  seperti kalian melihatku shalat."


2]• MENURUT MADZHAB MALIKIYYAH


SHALAT TIDAK SAH kecuali dengan membaca Fatihah


قال الإمام أبو عمر يوسف بن عبد الله بن محمد بن عبد البر بن عاصم النمري القرطبي المالكي (ت ٤٦٣هـ) في كتابه التمهيد لما في الموطأ من المعاني والأسانيد / العلاء بن عبد الرحمن / الحديث الثاني (ج ٢٠ ص ١٩٢):


وَأَمَّا اخْتِلَافُ الْعُلَمَاءِ فِي هَذَا الْبَابِ فَإِنَّ مَالِكًا وَالشَّافِعِيَّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ وَأَبَا ثَوْرٍ وداودَ بْنَ عَلِيٍّ وَجُمْهُورَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا لَا صَلَاةَ إِلَّا بِفَاتِحَةِ الكتاب


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Abu 'Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul-Barr bin 'Asim An-Namiriy Al-Qurtubiy Al-Malikiy (w. 463 H) mengatakan dalam Kitabnya “At Tamhid Lima Fi Al Muwatho' Min Al Ma'aniy Wa Al Asanid” / Al-'Alaa` Bin Abdurrahman / Hadits Kedua (vol. 20, hal. 192):


Adapun perbedaan pendapat ulama mengenai hal ini, Imam Malik, Asy Syafi'iy, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Dawud bin Ali, dan mayoritas Ahli Ilmu  mereka mengatakan tidak ada shalat kecuali dengan membaca Fatihahatul Kitab.


وقال أبو عمر يوسف بن عبد الله بن محمد بن عبد البر بن عاصم النمري القرطبي المالكي (ت ٤٦٣هـ) في كتابه الاستذكار الجامع لمذاهب فقهاء الأمصار / كتاب الصلاة / - باب القراءة خلف الإمام فيما لا يجهر فيه بالقراءة (ج ١ ص ٤٥٠):


وَأَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى إِيجَابِ الْقِرَاءَةِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُوَلَيَيْنِ مِنَ صَلَاةٍ أَرْبَعٍ عَلَى حَسَبِ مَا ذَكَرْنَا مِنَ اخْتِلَافِهِمْ فِي فَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَغَيْرِهَا


وَاخْتَلَفُوا فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُخْرَيَيْنِ ; فَمَذْهَبُ مَالِكٍ ، وَالشَّافِعِيِّ ، وَأَحْمَدَ ، وَإِسْحَاقَ ، وَأَبِي ثَوْرٍ ، وَدَاوُدَ - أَنَّ الْقِرَاءَةَ فِيهِمَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَاجِبَةٌ عَلَى الْإِمَامِ وَالْمُنْفَرِدِ . وَمَنْ أَبَى مِنْهُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِيهِمَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ ، وَعَلَيْهِ إِعَادَتُهَا . 


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Abu 'Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abd al-Barr bin 'Ashim al-Namiriy Al-Qurtubiy Al-Malikiy (w. 463 H) mengatakan dalam Kitabnya Al-Istidzkar al-Jami' Li Madzahibi Fuqoha' Al  Amshor / Kitab Shalat  / - Bab Tentang Bacaan Di Belakang Imam Dalam Perkara Yang Tidak Dibacakannya Dengan Suara Keras (Vol. 1, Hal. 450):


Para ulama sepakat mengenai wajibnya membaca 2 rakaat pertama dari shalat 4  rakaat, sesuai dengan apa yang kami sebutkan mengenai perbedaan mereka mengenai Fatihatul  Kitab dan yang lainnya.


Mereka berbeda pendapat mengenai 2 rakaat lainnya. Madzhab Malik, Syafi’iy, Ahmad, Ishaq, Abu Tswur, dan Dawud   membaca Fatihahatul  Kitab di dalamnya adalah WAJIB bagi imam, ma'mum, dan soliter (munfarid, orang yang shalat sendirian). Barangsiapa di antara mereka yang menolak  membaca Fatihahatul Kitab di dalamnya, maka tidak ada shalat baginya, dan ia wajib mengulanginya.


وقال الإمام مالك بن أنس بن مالك بن عامر الأصبحي المدني (ت ١٧٩هـ) في كتابه 

 "المدونة" / كتاب الصلاة الأول / رفع اليدين في الركوع والإحرام (ج ١ ص ٦٥): 


قَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ أَبِي نُعَيْمٍ وَهْبِ بْنِ كَيْسَانَ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ: مَنْ صَلَّى رَكْعَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَلَمْ يُصَلِّ إلَّا وَرَاءَ إمَامٍ.


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam  Malik bin Anas bin Malik bin 'Amir Al-Ashbahig Al-Madaniy (w. 179 H) mengatakan dalam Kitabnya 

 “Al-Mudawwanah” / Kitab Shalat Pertama / Mengangkat Tangan Saat Ruku' Dan Ihram (Bagian 1, hal. 65):


Malik bin Anas berkata dari Abu Nu`aim Wahb ibn Kaisan bahwa dia mendengar Jabir ibn Abdullah radliyyAllahu  'anhu berkata: Barangsiapa shalat satu rakaat yang tidak dia bacakan didalamnga Ummu  Al-Qur'an (Fatihah), maka dia tidak dihitung shalat kecuali ia shalat di belakang seorang imam.


وقال الإمام أبو عمر يوسف بن عبد الله بن محمد بن عبد البر بن عاصم النمري القرطبي المالكي (ت ٤٦٣هـ) في كتابه 

الكافي في فقه أهل المدينة /  كتاب الصلاة / باب القراءة (ج ١ ص ١٠٧):


لابد من قراءة فاتحة الكتاب للإمام والمنفرد في كل ركعة من الفريضة والنافلة لا يجزئ عنها غيرها ولا يقرأ فيها بسم الله الرحمن الرحيم لا سرا ولا جهرا وهو المشهور عن مالك وتحصيل مذهبه عند أصحابه.


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Abu 'Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul-Barr bin 'Ahsim al-Namiriy Al-Qurtubiy Al-Mali6ki (w. 463 H) berkata dalam Kitabnya Al Kafi  Fi Fiqhi Ahli Al Madinah / Kitab Shalat / Bab Bacaan (Bagian 1, hal. 107):


Fatihah Kitab itu wajib dibaca oleh imam dan orang yang shalat sendirian pada setiap rakaat shalat fardhu dan sunnah, dan tidak mencukupi darinya selain itu, dan di dalamnya tidak dibaca dengan "basmalah",  tidak pada shalat yang  pelan dan tidak pula pada shalat yang  keras. Inilah yang masyhur dari Imam Malik, dan pendidikan madzhabnya menurut para sahabatnya (Malikiyyah).


وقال الإمام أبو عمر يوسف بن عبد الله بن محمد بن عبد البر بن عاصم النمري القرطبي المالكي (ت ٤٦٣هـ) في كتابه 

التمهيد لما في الموطأ من المعاني والأسانيد / تابع لمحمد بن شهاب الزهري / الحديث التاسع والثلاثون (ج ١١ ص ٣١): 


وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا وَمَا عَدَا هَذَا الْمَوْضُوعَ وَحْدَهُ فَعَلَى عُمُومِ الْحَدِيثِ وَتَقْدِيرِهِ لَا صَلَاةَ يَعْنِي لَا رَكْعَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ إِلَّا لِمَنْ صَلَّى خَلَفَ إِمَامٍ يَجْهَرُ بِالْقِرَاءَةِ فَإِنَّهُ يَسْتَمِعُ وَيُنْصِتُ


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Abu 'Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul-Barr bin 'Ashim al-Namiriy Al-Qurtubiy Al-Malikiy (w. 463 H) berkata dalam kitabnya:

At Tamhid Lima Fi  Al-Muwatho' Min Al Ma'aniy Wa Al Asaanid / Mengikuti Pada Muhammad Bin Syihab Al-Zuhri / Hadits Tiga Puluh Sembilan (Bagian 11, hal. 31):


Dan bilamana dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan perhatikanlah. Kecuali hal ini saja, menurut keumuman hadist dan penghayatannya, tidak ada shalat, yakni tidak ada rakaat, bagi orang yang tidak membaca didalamnya dengan  Fatihatul Kitab, kecuali bagi orang yang shalat di belakang imam yang membacakannya dengan suara keras, maka hendaknya dia mendengar dan memperhatikannya.


وقال الإمام أبو عبد الله، محمد بن أحمد الأنصاري القرطبي المالكي في كتابه تفسير القرطبي = الجامع لأحكام القرآن /  تفسير سورة الفاتحة / الباب الثاني في نزولها وأحكامها، وفيه عشرون مسألة (ج ١ ص ١١٩):


وَأَنَّ الْفَاتِحَةَ مُتَعَيِّنَةٌ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ لِكُلِ أَحَدٍ عَلَى الْعُمُومِ، لِقَوْلِهِ -ﷺ- : (لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ)، وَقَوْلِهِ: (مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ) ثَلَاثًا.


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Abu Abdullah, Muhammad bin Ahmad al-Anshariy Al-Qurtubiy Al-Malikiy mengatakan dalam kitabnya Tafsir Al-Qurtubi = Al-Jami' Fi Al-Ahkami  Al-Qur'an / Tafsir Surat Al-Fatihah / Bab Dua Dalam Masalah Turunnya Dan Hukum Hukumnya Yang Berisi Dua Puluh Masalah (Bagian 1, hal. 119):


Dan Fatihah itu wajib dalam setiap rakaat bagi setiap orang pada umumnya, berdasarkan sabda Nabi -ﷺ-: (Tidak ada shalat bagi siapa pun yang tidak membaca Fatihah di dalamnya. Dia bertaubat, dan sabdanya -ﷺ- :  (Barangsiapa yang shalat yang dia tidak membaca didalamnya dengan Ummul Qur'an, maka itu prematur) sebanyak tiga kali.


3]• MENURUT MADZHAB HANABILLAH


WAJIB IMAM DAN MUNFARID MEMBACA FATIHAH dalam setiap rakaat, namun imam menanggung bacaan Fatihah orang yang menjadi ma'mumnya


وقال الإمام أبو النجا شرف الدين موسى الحجاوي المقدسي الحنبلي (ت ٩٦٨ هـ) في كتابه الإقناع في فقه الإمام أحمد بن حنبل /  باب صفة الصلاة / فصل أركان الصلاة (ج ١ ص ١٣٣):


وقراءة الفاتحة في كل ركعة على الإمام والمنفرد وكذا على المأموم لكن يتحملها الإمام عنه 


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Abu al-Naja Syarafuddin  Musa al-Hijjawiy Al-Maqdisiy Al-Hanbaliy (w. 968 H) mengatakan dalam Kitabnya Al-Iqna' Fi Fiqhi Imam Ahmad bin Hanbal / Bab Ciri-ciri Sholat / Bab tentang Rukun Shalat (Bagian 1, hal. 133):


Membaca Al-Fatihah setiap rakaat adalah wajib untuk imam dan orang yang shalat sendirian, begitu juga bagi orang yang shalat di belakangnya, tetapi ditanggung oleh imam atas namanya.


وقال الإمام منصور بن يونس بن بن إدريس البهوتى الحنبلي (ت ١٠٥١ هـ) في كتابه شرح منتهى الإرادات = «دقائق أولي النهى لشرح المنتهى»  / باب النية في الصلاة / فصل أفعال الصلاة وأقوالها (ج ١ ص ٢١٦): 


(وَ) الثَّالِثُ (قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ) فِي كُلِّ رَكْعَةٍ، وَتَقَدَّمَ مُوَضَّحًا، وَيَحْتَمِلُهَا إمَامٌ عَنْ مَأْمُومٍ.


 ╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam  Manshur bin Yunus bin Idris al-Bahutiy  Al-Hanbaliy (w. 1051 H) mengatakan dalam kitabnya Syarhu Muntaha al-Iradaat = “Daqaaqi Uli al-Nuha Li Syarhi al-Muntaha” / Bab Niat Sholat / Bab tentang Tindakan Dan Ucapan Shalat (vol. 1, hal. 216):


(Dan) yang ketiga (membaca Al-Fatihah) pada setiap rakaat, dan penjelasannya telah berlalu dengan jelas, dan seorang imam menanggung bacaan Fatihahnya  atas nama ma'mum.


iii)• FATIHAH BAGI MA'MUM PADA SHALAT JAHRIYYAH (BERSIFAT KERAS) ATAU SIRRIYYAH (BERSIFAT PELAN)


Imam Ibnu Khuzaimah membuat bab dalam kitabnya :


بَابُ الْقِرَاءَةِ خَلْفَ الْإِمَامِ وَ إِنْ جَهَرَ الْإِمَامُ بِاْلقِرَاءَةِ وَ الزَّجْرِ عَنْ أَنْ يَزِيْدَ الْمَأْمُوْمُ عَلَى قِرَاءَةِ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ إِذَا جَهَرَ الْإِمَامُ بِاْلقِرَاءَةِ


“Bab: Membaca di belakang imam, walaupun imam menjaharkan bacaan. Dan larangan  terhadap makmum dari membaca lebih dari al-Fâtihah jika imam menjaharkan bacaan.”


1]• MENURUT MADZHAB SYAFI'IYYAH


MA'MUM HARUS MEMBACA FATIHAH  pada saat shalat yang keras dan pelan


قال الإمام أبو اسحاق إبراهيم بن علي بن يوسف الشيرازي (ت ٤٧٦ هـ) في كتابه المهذب في فقه الإمام الشافعي / كتاب الصلاة /  باب صلاة الجماعة (ج ١ ص ١٧٩):


" وإن أدركه في القيام وخشي أن تفوته القراءة ترك دعاء الاستفتاح واشتغل بالقراءة ; لأنها فرض فلا يشتغل عنه بالنفل , فإن قرأ بعض الفاتحة فركع الإمام ففيه وجهان : أحدهما : يركع ويترك القراءة ; لأن متابعة الإمام آكد ; ولهذا لو أدركه راكعا سقط عنه فرض القراءة . الثاني : يلزمه أن يتم الفاتحة ; لأنه لزمه بعض القراءة فلزمه إتمامها " انتهى .


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf Al-Syqiraziy  (w. 476 H) mengatakan dalam Kitabnya Al-Muhadzdzab Fi Fiqhi Al-Imam Al-Syafi'iy / Kitab Shalat  / Bab Tentang Shalat Berjamaah (vol. 1, hal. 179): 


“Kalau dia mendapatkan (imam) sedang berdiri, namun dia khawatir tidak sempat membacaan (Al-Fatihah), maka hendaknya dia tinggalkan doa istiftah dan menyibukkan diri dengan membaca (Fatihah). Karena membaca Al-Fatihah adalah wajib, maka jangan diganggu dengan yang sunnah. Kalau dia baru membaca sebagian Fatihah, namun imam sudah ruku', maka ada dua pendapat; 


(Salah satunya) adalah dia ruku' dan meninggalkan bacaan (Fatihah) karena mengikuti imam sangat diperintahkan. Oleh karena itu, kalau dia mendapati (imam) telah ruku' maka gugur baginya kewajiban baca (Fatihah). 


(Yang kedua), dia harus menyempurnakan Al-Fatihah, karena dia telah mulai membaca sebagiannya, maka dia harus menyempurnakannya.”


وقال الإمام أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦ هـ) في كتابه المجموع شرح المهذب/  كتاب الصلاة / مسائل متعلقة بالتعوذ (ج ٣ ص ٣٦٤):


وَأَمَّا الْمَأْمُومُ فَالْمَذْهَبُ الصَّحِيحُ وُجُوبُهَا عَلَيْهِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فِي الصَّلَاةِ السِّرِّيَّةِ وَالْجَهْرِيَّةِ


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Abu Zakariyya Muhyiddin bin Syaraf Al-Nawawiy Al-Syafi'iy (w. 676 H) mengatakan dalam Kitabnya Al-Majmu' Syarhu  Al-Muhadzdzab / Kitab Shalat / Masalah Terkait Mencari Perlindungan (vol. 3, hal. 364):


Adapun ma'mum menurut Madzhab yang Shahih wajibnya bacaan Fatihah  baginya dalam setiap rakaat shalat yang bersifat pelan dan keras.


وقال الإمام أبو الحسين يحيى بن أبي الخير بن سالم العمراني اليمني الشافعي (ت ٥٥٨هـ) في كتابه البيان في مذهب الإمام الشافعي /  باب صفة الصلاة / مسألة وجوب القراءة (ج ٢ ص ١٩٤):


وهل يقرأ المأموم؟ ينظر فيه: فإن كان في صلاة يسر فيها. . قرأ المأموم.


وإن كان في صلاة يجهر فيها. . فهل تجب على المأموم قراءة الفاتحة؟ فيه قولان:


[الأول] : قال في القديم: (لا تجب عليه القراءة) .


و [الثاني] : قال في الجديد: (تجب عليه القراءة) .


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Abu Al-Hussein Yahya bin Abi Al-Khair bin Salim Al-'Imraniy Al-Yamaniy Al-Syafi'iy (w. 558 H) mengatakan dalam Kitabnya Al-Bayan Fi Al Fiqhi Imam Al-Syafi'iy / Bab Tentang Ciri-ciri Sholat / Masalah Wajibnya Dzikir (Bagian 2, hal. 194):


Apakah ma'mum wajib membaca (Fatihah)? Maka dilihat dulu dadalamya : Jika dia dalam posisi shalat yang bersifat pelan.. . Maka ma'mum wajib membaca.


Dan jikalau dia dalam posisi shalat yang bersifat keras : Apakah ma'mum wajib membaca Fatihah? Maka  hendaknya dia membacanya dengan suara keras. . Apakah orang yang shalat di belakang shalat wajib membaca Al-Fatihah? Didalamnya ada dua pendapat :


[Yang pertama]: Imam Asy Syafi'iy berkata didalam Qaul Qadim: (Tidak wajib baginya membaca fatihah).


Dan [yang kedua]: Imam Asy Syafi'iy berkata dalam Qaul  Al-Jadid: (Wajib baginya untuk membaca fatihah).

              

وقال الإمام شمس الدين محمد بن أبي العباس أحمد بن حمزة شهاب الدين الرملي الشافعي (ت ١٠٠٤هـ) في كتابه نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج / أركان الصلاة / الرابع من أركان الصلاة قراءة الفاتحة (ج ١ ص ٤٧٦):


(وَتَتَعَيَّنُ الْفَاتِحَةُ) فِي السِّرِّيَّةِ وَالْجَهْرِيَّةِ حِفْظًا أَوْ تَلْقِينًا أَوْ نَظَرًا فِي مُصْحَفٍ (فِي كُلِّ رَكْعَةٍ) فِي قِيَامِهَا، وَمِنْهُ الْقِيَامُ الثَّانِي مِنْ رَكْعَتَيْ صَلَاةِ الْخُسُوفِ، أَوْ بَدَلَهُ لِلْمُنْفَرِدِ وَغَيْرِهِ فَرْضًا كَانَتْ أَوْ نَفْلًا، لِخَبَرِ «لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ» وَيَدُلُّ عَلَى دُخُولِ الْمَأْمُومِينَ فِي الْعُمُومِ   


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam  Syamsuddin Muhammad bin Abi al-Abbas Ahmad bin Hamzah Syihabuddin al-Ramliy Al-Syafi'iy (w. 1004 H) mengatakan dalam Kitabnya Nihayatu  al-Muhtaj Ila Syarhi  al-Minhaj / Rukun Shalat / Rukun sholat yang keempat adalah Membaca Al-fatihah (jilid 1, hal. 476):


(Dan membaca Al-Fatihah wajib) dalam shalat sirriyyah  (pelan) dan jahriyyah (keras) dengan cara menghafal, didekte, atau melihat mushaf Al Qur'an (dalam setiap rakaat) dalam berdirinya, termasuk saat berdiri rakaat kedua pada shalat gerhana, atau penggantinya bagi orang yang shalat sendirian dan selainnya, baik shalat yang wajib maupun yang sunah, berdasarkan hadits: “Tidak ada Shalat bagi orang yang tidak membaca di dalamnya Fatihahatul Kitab.” Dan ini menunjukkan masuknya para ma'mum dalam keumumannya. 


وقال الإمام  شمس الدين، محمد بن محمد، الخطيب الشربيني [ت ٩٧٧ هـ] في كتابه مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج /  كتاب الصلاة / باب صفة الصلاة (ج ١ ص ٣٥٣):


(وَتَتَعَيَّنُ الْفَاتِحَةُ) أَيْ قِرَاءَتُهَا حِفْظًا، أَوْ نَظَرًا فِي مُصْحَفٍ أَوْ تَلْقِينًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ (فِي كُلِّ رَكْعَةٍ) فِي قِيَامِهَا أَوْ بَدَلِهِ لِلْمُنْفَرِدِ وَغَيْرِهِ سِرِّيَّةً كَانَتْ الصَّلَاةُ أَوْ جَهْرِيَّةً فَرْضًا أَوْ نَفْلًا، لِقَوْلِهِ -ﷺ-: «لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَا يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ». (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ). وَخَبَرُ «لَا تُجْزِئُ صَلَاةٌ لَا يُقْرَأُ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ» . رَوَاهُ ابْنَا خُزَيْمَةَ وَحَبَّانَ فِي صَحِيحَيْهِمَا.


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Syamsuddin Muhammad bin Muhammad, al-Khatib Al-Syirbiniy Al-Syafi'iy [w. 977 H] mengatakan dalam Kitabnya Mughni al-Muhtaj Ila Ma'rifati Ma'ani Alfadzi Al-Minhāj / Kitab Shalat / Bab Shifat Shalat (vol. 1, hal. 353):


(Al-Fatihah wajib) yaitu membacanya dengan cara hafalan, atau dengan melihat mushaf Al-Qur'an, atau dengan indoktrinasi (didekte), atau sejenisnya (di setiap rakaat) sambil berdiri atau penggantinya bagi orang yang  shalat sendirian dan selainnya, baik shalatnya berjenis pelan atau keras, baik shalat wajib atau sunah, berdasarkan sabda Nabi -ﷺ-: “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Dengan Fatihahatul Kitab”. (Muttafaq 'Alaih, Disepakati). Dan hadits : “Shalat tidaklah sah yang tidak dibacakan Fatihahatul Kitab didalamnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Hibban dalam Shahihnya).


2]• MENURUT MADZHAB HANAFIYYAH


قال الامام محمد بن محمد بن محمود، أكمل الدين أبو عبد الله ابن الشيخ شمس الدين ابن الشيخ جمال الدين الرومي البابرتي الحنفي (ت ٧٨٦ هـ) في كتابه العناية شرح الهداية - بهامش فتح القدير / باب صفة الصلاة / فصل في القراءة (ج ١ ص ٣٣٨ - ٣٣٩): 


(وَلَا يَقْرَأُ الْمُؤْتَمُّ خَلْفَ الْإِمَامِ) سَوَاءٌ كَانَ فِي الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ أَوْ غَيْرِهَا خِلَافًا لِلشَّافِعِيِّ فِي الْفَاتِحَةِ 


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Muhammad bin Muhammad bin Mahmud, Akmaluddin  Abu Abdullah Ibn al-Syaikh Syamsuddin Ibn al-Syaiikh Jamaluddin al-Rumi al-Babartiy Al-Hanafiy (w. 786 H) mengatakan dalam Kitabnya Al- Inaya Syarhu al-Hidayah - Dalam Catatan Kaki Fathu al-Qadir / Bab Ciri-ciri Sholat / Bab Bacaan (Bagian 1, hal. 338 - 339):


(Ma'mum tidak boleh  membaca Fatihah di belakang imam) baik saat shalat jenis keras  atau lainnya, menyelisihi pendapat  Asy Syafi'iy tentang Al-Fatihah.


وقال الإمام محمود بن أحمد بن موسى بن أحمد بن الحسين المعروف بـ «بدر الدين العينى» الحنفى (ت ٨٥٥ هـ) في كتابه البناية شرح الهداية / أدنى ما يجزئ من القراءة في الصلاة / قراءة المؤتم خلف الإمام (ج ٢ ص ٣١٣): 


(ولا يقرأ المؤتم خلف الإمام) ش: سواء جهر الإمام أو أسر به.

╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Mahmud bin Ahmad bin Musa bin Ahmad bin Al-Hussein yang dikenal dengan sebutan “Badruddin  al-Ainiy” Al-Hanafiy (w. 855 H), mengatakan dalam Kitabnya Al-Binayah Sharh al-Hidayah /Minimum Yang Cukup Untuk Bacaan Dalam Shalat / Bacaan Orang Yang Shalat Di Belakang Imam (jilid 2, hal. 313):


(Ma'mum tidak boleh  membaca Fatihah di belakang imam), baik  imam membaca keras atau membacanya pelan.


وقال الإمام حسن بن عمار بن علي الشرنبلالي المصري الحنفي (ت ١٠٦٩هـ) في كتابه 

مراقي الفلاح شرح متن نور الإيضاح /  باب شروط الصلاة وأركانها / مدخل (ص ٨٦):


 "ولا يقرأ المؤتم، بل يستمع وينصت، وإن قرأ كُره تحريما".


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Hassan bin Ammar bin Ali Al-Syurunabulaliy  Al-Masriy Al-Hanafiy (w. 1069 H) mengatakan dalam Kitabnya Muroaqi Al-Falah Syarhu Matan Nuru Al-Idloh / Bab Syarat dan Rukun Sholat / Pendahuluan (hal. 86):


 “Orang yang berma'mum tidak membaca Fatihah, melainkan mendengarkan dan memperhatikan dengan seksama, dan jika dia membaca, maka dilarang mendekati haram (makruh tahrim).”


3]• MENURUT MADZHAB MALIKIYYAH


MA'MUM WAJIB ISMA' (MENDENGAR)  DAN INSHOT (MENDENGAR DENGAN SEKSAMA) dan yang mu'tamad  ketika imam membaca Fatihah dan ma'mum  haram membaca Fatihah pada shalat yang dikeraskan ketika ma'mum mendengar bacaan imam dengan suara keras, dan haram membaca pada shalat yang dipelankan ketika imam membaca pelan.


Sebagian yang lagi berpendapat ma'mum membaca Fatihah  dishalat yang dipelankan atau jika imam  posisinya jauh, maka posisi ma'mum menempati pada shalat yang berjenis pelan


قال الإمام القاضي محمد بن عبد الله أبو بكر بن العربي المعافري الاشبيلي المالكي (ت ٥٤٣هـ) في كتابه أحكام القرآن/  الآية الثانية الحمد لله رب العالمين والثالثة إياك نعبد وإياك نستعين / مسألة أقوال العلماء في قراءة المأموم الفاتحة (ج ١ ص ١٠):


وَالصَّحِيحُ عِنْدِي وُجُوبُ قِرَاءَتِهَا فِيمَا يُسِرُّ وَتَحْرِيمُهَا فِيمَا جَهَرَ إذَا سَمِعَ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ، لِمَا عَلَيْهِ مِنْ فَرْضِ الْإِنْصَاتِ لَهُ، وَالِاسْتِمَاعِ لِقِرَاءَتِهِ؛ فَإِنْ كَانَ عَنْهُ فِي مَقَامٍ بَعِيدٍ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ صَلَاةِ السِّرِّ؛ 


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Al-Qadi Muhammad bin Abdullah Abu Bakr bin Al-Arabiy Al-Ma'afiri Al-Isybiliy  Al-Malikiy (w. 543 H) berkata dalam Kitabnya Ahkamu  Al-Qur'an / Ayat kedua: Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam, Dan Yang Ketiga : Engkau Yang Kami Sembah Dan Engkau Kami Mohon Pertolongan / Permasalahan Ucapan Para Ulama Tentang Bacaan Al-fatihah Berjamaah (vol. 1, hal. 10):


Yang benar menurut pendapat saya (Ibnu 'Arabiy Al Malikiy), WAJIB HUKUMNYA MEMBACANYA DALAM SHALAT YANG DIPELANKAN dan keharamannya pada shalat yang dikeraskan ketika ma'mum mendengar bacaan imam dengan suara keras, karena kewajiban baginya untuk mendengarkan dengan seksama dan mendengarkan bacaannya; Jika imam  posisinya jauh, maka posisi ma'mum menempati pada shalat yang berjenis pelan


وقال الإمام أبو عبد الله محمد الخرشي المالكي في كتابه شرح الخرشي على مختصر خليل / باب الوقت المختار / فصل في فرائض الصلاة (ج ١ ص ٢٦٩):


 لَا [أي لا تجب] عَلَى الْمَأْمُومِ لِخَبَرِ «قِرَاءَةُ الْإِمَامِ قِرَاءَةُ الْمَأْمُومِ» وَسَوَاءٌ السَّرِيَّةُ وَالْجَهْرِيَّةُ كَانَ الْإِمَامُ يَسْكُتُ بَيْنَ الْقِرَاءَةِ وَالتَّكْبِيرِ أَمْ لَا إلَّا أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لَهُ الْقِرَاءَةُ خَلْفَ الْإِمَامِ فِي السَّرِيَّةِ


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Abu Abdullah Muhammad Al-Kharasyiy Al-Malikiy mengatakan dalam Kitabnya Syarhu  Al-Kharasyiy 'Ala  Mukhtasar Khalil / Bab Tentang Waktu Yang Dipilih / Bab Tentang Kewajiban Shalat (vol. 1, hal. 269):


Tidak [artinya, tidak wajib] bagi ma'mum berdasarkan hadits : “Bacaan imam adalah bacaan ma'mum.” Baik  pada shalat pelan atau   keras, imam diam antara membaca dan mengucapkan “Allahu Akbar.” Atau tidak?  kecuali dia dianjurkan membaca di belakang imam dalam shalat yang berjenis pelan.


وقال الامام أبو عمر يوسف بن عبد الله بن محمد بن عبد البر بن عاصم النمري القرطبي المالكي (ت ٤٦٣هـ) في كتابه الكافي في فقه أهل المدينة / كتاب الصلاة / باب القراءة (ج ١ ص ٢٠١):


وأما المأموم فالإمام يحمل عنه القراءة لإجماعهم على أنه إذا أدركه راكعا أنه يكبر ويركع ولا يقرأ شيئا ولا ينبغي لأحد أن يدع القراءة خلف إمامه في صلاة السر الظهر والعصر والثالثة من المغرب والأخرتين من العشاء فإن فعل فقد أساء ولا شيء عليه عند مالك وأصحابه وأما إذا جهر الإمام فلا قراءة بفاتحة الكتاب ولا بغيرها 


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Abu 'Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul-Barr bin 'Ahsim al-Namiriy Al-Qurtubiy Al-Malikiy (w. 463 H) mengatakan dalam Kitabnya Al-Kafi Fi Fiqhi Ahli Al Madinah / Kitab Shalat / Bab Tentang Membaca (Bagian 1, hal. 201):


Adapun ma'mum,  maka imamlah yang membawakan bacaannya, berdasarkan kesepakatan mereka bahwa jika dia menemukannya sedang ruku', maka dia mengucapkan “Allahu Akbar” lalu ruku' dan tidak membaca apa pun, dan tidak sepantasnya  seorangpun  meninggalkannya. bacaannya di belakang imamnya pada shalat dzuhur, ashar, shalat ketiga pada shalat Maghrib, dan kedua rakaat yang terakhir pada shalat Isya', jika ia melakukannya, maka ia telah berbuat keburukkan, dan tidak mendapatkan apapun  menurut Malik dan para sahabatnya. Dan adapun jika imam  membacanya dengan suara keras, maka bagi ma'mum tidak ada pembacaan dengan Fatihahatul Kitab atau selainnya.


وقال الامام أبو القاسم، محمد بن أحمد بن محمد بن عبد الله، ابن جزي الكلبي الغرناطي المالكي (ت ٧٤١هـ) في كتابه القوانين الفقهية /  الباب العاشر في القراءة وفيه ثلاثة فصول (ص ٤٤):


وَيقْرَأ الْمَأْمُوم فِي السِّرّ فَإِن لم يقْرَأ فَلَا شَيْء عَلَيْهِ فِي الْمَذْهَب وَلَا يقْرَأ فِي الْجَهْر سمع أَو لم يسمع  


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Abu al-Qasim, Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah, Ibnu Juzai  al-Kalbiy al-Gharnatiy Al-Malikiy (w. 741 H) mengatakan dalam Kitabnya  Al Qawanin Al Fiqhiyyah / Bab Sepuluh Tentang Membaca Dan  Didalamnya Memuat Tiga Bab ( hal.44):


Ma'mum membaca Fatihahatul Kitab dalam shalat pelan, dan jika dia tidak membaca, maka tidak ada salahnya baginya menurut madzhab (Malikiyyah), dan dia tidak boleh membaca pada shalat yang keras, baik dia mendengarnya atau tidak.


وقال الإمام محمد بن أحمد بن عرفة الدسوقي المالكي (ت ١٢٣٠هـ) في كتابه حاشية الدسوقي على الشرح الكبير / باب في بيان أوقات الصلاة وما يتعلق بذلك من الأحكام / فصل فرائض الصلاة (ج ١ ص ٢٣٧):


 (قَوْلُهُ: لَا عَلَى مَأْمُومٍ) أَيْ فَلَا تَجِبُ عَلَيْهِ كَانَتْ الصَّلَاةُ جَهْرِيَّةً أَوْ سِرِّيَّةً خِلَافًا لِابْنِ الْعَرَبِيِّ الْقَائِلِ بِلُزُومِهَا لِلْمَأْمُومِ فِي السِّرِّيَّةِ وَهُوَ ضَعِيفٌ وَالْمُعْتَمَدُ عَدَمُ لُزُومِهَا لَهُ وَإِنَّمَا اُسْتُحِبَّ لَهُ قِرَاءَتُهَا فِي هَذِهِ الْحَالَةِ فَقَطْ.


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Muhammad bin Ahmad bin Arafa Ad-Dasuqiy  Al-Malikiy (w. 1230 H) mengatakan dalam Kitabnya Hashiyat Al-Dasuqiy 'Ala  Asy-Syarhi Al-Kabir / Bab Penjelasan Waktu Sholat Dan Hukum Terkait / Bab Kewajiban Sholat ( Bagian 1, hal.237):


(Ucapannya: “Tidak” bagi ma'mum) artinya, tidak wajib baginya membaca Fatihatul Kitab baik pada shalat yang dilakukan dengan suara keras atau pelan, menyelisihi pendapat Imam Ibnu al-Arabi yang mengatakan bahwa wajib bagi ma'mum membaca Fatihahatul Kitab pada sholat yang dikerjakan pelan, dan itu pendapat yang lemah, dan yang dijadikan sandaran (mu'tamad) adalah tidak perlu baginya, melainkan dianjurkan baginya untuk membacanya dalam hal ini saja.


4]• MENURUT MADZHAB HANABILLAH


BACAAN FATIHAH GUGUR BAGI MA'MUM karena sudah ditanggung oleh imamnya


قال الإمام منصور بن يونس بن بن إدريس البهوتى، فقيه الحنابلة (ت ١٠٥١ هـ) في كتابه شرح منتهى الإرادات = دقائق أولي النهى لشرح المنتهى /  باب النية في الصلاة / فصل وتشترط لصلاة جماعة نية (ج ١ ص ١٧٨): 


لِأَنَّ الْجَمَاعَةَ تَتَعَلَّقُ بِهَا أَحْكَامٌ مِنْ وَجُوَبِ الِاتِّبَاعِ وَسُقُوطِ سُجُودِ السَّهْوِ وَالْفَاتِحَةِ عَنْ الْمَأْمُومِ، وَفَسَادُ صَلَاتِهِ بِفَسَادِ صَلَاةِ إمَامِهِ. 


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Mansur ibn Yunus ibn Idris al-Bahutiy Al-Hanbaliy (w. 1051 H), mengatakan dalam Kitabnya Syarhu  Muntaha Al-Iradat = Daqaiqu Uli An-Nuha Li Syarhi Al-Muntaha /Bab Niat Sholat / Bab Dan Diperlukan Niat Untuk Shalat Berjamaah (vol. 1, hal. 178):


Karena shalat berjamaah ada kaitannya dengan hukum-hukum seperti wajibnya mengikuti shalat, dan gugurnya sujud sahwi, dan Fatihah atas nama ma'mum, dan kebatalan shalatnya karena batalnya shalatnya  imamnya.


وقال الإمام علاء الدين أبو الحسن علي بن سليمان المرداوي الحنبلي (٧١٧ - ٨٨٥ هـ) في كتابه الإنصاف في معرفة الراجح من الخلاف /كتاب الصلاة / باب صلاة الجماعة (ج ٢ ص ٢٣٠): 


تَنْبِيهَانِ. أَحَدُهُمَا: قَوْلُهُ (وَمَا لَا يَجْهَرُ فِيهِ) يَعْنِي أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلْمَأْمُومِ أَنْ يَقْرَأَ فِي سَكَتَاتِ الْإِمَامِ، وَفِيمَا لَا يَجْهَرُ فِيهِ


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam 'Alauddin Abu Al-Hasan Ali bin Sulaiman Al-Mardawiy Al-Hanbaliy (717-885 H) mengatakan dalam Kitabnya Al-Insaaf Fi Ma'rifati Ar Rajih Min Al Khilafi/ Kitab Shalat / Bab tentang Shalat Berjama'ah (vol. 2, hal. 230):


Dua peringatan : Salah satunya: Ucapannya (dan apa yang tidak diucapkan dengan keras). Artinya, dianjurkan bagi  ma'mum  membaca Fatihah pada saat imam diam, dan pada saat imam didalam shalat yang tidak dibaca dengan suara keras.


وقال الإمام أبو محمد عبد الله بن أحمد بن محمد بن قدامة الحنبلي (٥٤١ - ٦٢٠ ه) في كتابه المغني / باب صفة الصلاة / مسألة من كان له إمام فقراءة الإمام له قراءة (ج ١ ص ٤٠٦):


مَسْأَلَةٌ: قَالَ: فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَصَلَاتُهُ تَامَّةٌ؛ لِأَنَّ مَنْ كَانَ لَهُ إمَامٌ فَقِرَاءَةُ الْإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ وَجُمْلَةُ ذَلِكَ أَنَّ الْقِرَاءَةَ غَيْرُ وَاجِبَةٍ عَلَى الْمَأْمُومِ فِيمَا جَهَرَ بِهِ الْإِمَامُ، وَلَا فِيمَا أَسَرَّ بِهِ. نَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَدُ، فِي رِوَايَةِ الْجَمَاعَةِ. 


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah Al-Hanbaliy (541 – 620 H) mengatakan dalam Kitabnya Al-Mughni / Bab Ciri-ciri Sholat / Masalah Siapa Yang Mempunyai Imam Dan Bacaan Imam Untuknya (vol. 1, hal.406):


Pertanyaan: Beliau menjawab: Jika ma'mum tidak melakukan hal tersebut (membaca Fatihah), maka shalatnya tetap  sempurna. Sebab barangsiapa mempunyai seorang imam, maka bacaan imam itu baginya, dan secara ringkas, bacaan itu tidak wajib bagi ma'mum didalam shalat yang diucapkan imam keras dan juga tidak didalam shalat yang imam membaca  pelan dengannya. Hal itu ditetapkan oleh Imam Ahmad dalam riwayat jama'ah.


وقال الإمام شمس الدين محمد بن عبد الله الزركشي المصري الحنبلي (ت ٧٧٢هـ) في كتابه  شرح الزركشي على مختصر الخرقي / باب صفة الصلاة / السلام من أركان الصلاة (ج ١ ص ٦٠١):


قال: فإن لم يفعل فصلاته تامة، لأن من كان له إمام فقراءة الإمام له قراءة.ش: هذا تصريح منه بأن القراءة لا تجب على المأموم مطلقا، وهو المنصوص، المعروف عند الأصحاب، لما تقدم من الآية وحديث أبي هريرة.


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Al-Zarkasyiy Al-Masriy Al-Hanbaliy (w. 772 H) mengatakan dalam Kitabnya Syarhu Al-Zarkasyiy 'Ala  Mukhtasar Al-Kharqiy / Bab Ciri-ciri Sholat / Salam Merupakan Salah Satu Rukun Shalat (vol. 1, hal. 601):


Beliau berkata: Jika ia tidak melakukan hal itu (membaca Fatihah), maka shalatnya tetap  sempurna, karena barangsiapa mempunyai imam, maka bacaan imam itu adalah bacaannya sendiri.


Syarah : Ini pernyataan darinya bahwa membaca Fatihah tidak wajib bagi ma'mum secara mutlak, dan itulah yang dinyatakan (Imam Ahmad), dan diketahui para sahabat (Hanabilah), berdasarkan ayat tersebut di atas dan hadits Abu Hurairah radliyyAllahu 'anhu.


وقال الامام منصور بن يونس البهوتى الحنبلي في كتابه الروض المربع شرح زاد المستقنع / كتاب الصلاة /  باب صلاة الجماعة (ص ١٢٦):


(ولا قراءة على مأموم) أي يتحمل الإمام عنه قراءة الفاتحة؛ لقوله -ﷺ-: «من كان له إمام فقراءته له قراءة» ، رواه أحمد.. (ويستحب) للمأموم أن يقرأ (في إسرار إمامه) أي فيما لا يجهر فيه الإمام (و) في (سكوته) أي سكتات الإمام، وهي قبل الفاتحة وبعدها بقدرها، وبعد فراغ القراءة، 


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Mansur bin Yunus Al-Buhutiy Al-Hanbaliy berkata dalam Kitabnya Al-Raudlotu  Al-Murabbi' Syarhu  Zadu Al-Mustaqni’ / Kitab Shalat / Bab Sholat Berjama'ah (hal. 126):


(Dan tidak ada bacaan Fatihah bagi ma'mum) artinya imam memikul tanggung jawab membaca Al-Fatihah atas namanya. Berdasarkan sabdanya -ﷺ-: “Barang siapa yang mempunyai imam, maka bacaannya adalah bacaan baginya,” (diriwayatkan oleh Ahmad).(Dianjurkan) bagi ma'mum untuk membaca Fatihah (di posisi membaca pelan  imamnya), yaitu apa yang tidak diucapkan oleh imam dengan keras, dan dalam (diamnya), yaitu diamnya imam, yaitu Sebelum dan sesudah Al-Fatihah, dengan sekadarnya, dan setelah selesai membaca,


قال شيخ الإسلام أحمد بن تيمية الحنبلي وجمع وترتيب: عبد الرحمن بن محمد بن قاسم رحمه الله في كتابه مجموع الفتاوى / باب صلاة الجماعة / سئل عن القراءة خلف الإمام (ج ٣٤ ص ٢٦٥):


وَالثَّالِثُ: وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ السَّلَفِ؛ أَنَّهُ إذَا سَمِعَ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ أَنْصَتَ وَلَمْ يَقْرَأْ فَإِنَّ اسْتِمَاعَهُ لِقِرَاءَةِ الْإِمَامِ خَيْرٌ مِنْ قِرَاءَتِهِ وَإِذَا لَمْ يَسْمَعْ قِرَاءَتَهُ قَرَأَ لِنَفْسِهِ فَإِنَّ قِرَاءَتَهُ خَيْرٌ مِنْ سُكُوتِهِ فَالِاسْتِمَاعُ لِقِرَاءَةِ الْإِمَامِ أَفْضَلُ مِنْ الْقِرَاءَةِ وَالْقِرَاءَةُ أَفْضَلُ مِنْ السُّكُوتِ هَذَا قَوْلُ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ كَمَالِكِ وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَجُمْهُورِ أَصْحَابِهِمَا وَطَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ وَهُوَ الْقَوْلُ الْقَدِيمُ لِلشَّافِعِيِّ وَقَوْلُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ.


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Syekh Al-Islam Ahmad Ibnu Taimiyyah Al-Hanbaliy mengatakan dalam  Kitabnya Majmu` Al-Fatawa / Bab Tentang Sholat Berjama'ah / Dia Ditanya Tentang Bacaan Di Belakang Imam (vol. 34, hal. 265):


Ketiga: Ini pendapat sebagian besar ulama salaf, jika ma'mum  mendengar bacaan imam, maka dia wajib  mendengarkannya dan tidak boleh membaca Fatihah, karena  mendengarkan bacaan imam lebih baik dari pada membacanya, dan ketika dia tidak mendengar bacaannya, maka dia membacanya dalam diri sendiri, karena bacaannya lebih baik dari pada diamnya, mendengarkan bacaan imam lebih utama dari pada membaca, dan membaca lebih baik dari pada berdiam diri. Inilah pendapat mayoritas ulama seperti  Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal serta mayoritas sahabat sahabat dari keduanya dan sebagian sahabat Imam Asy Syafi'iy Syafi’i dan Abu  Hanifah, dan itu merupakan Qaul lama (Qadim) Imam  Al-Syafi'iy dan pendapat Imam  Muhammad bin Al-Hasan (sahabat Imam Abu Hanifah).


5]• MENURUT MADZHAB DZOHIRIYYAH


MEMBACA FATIHAH WAJIB bagi imam ma'mum atau shalat sendirian bagi laki-laki maupun perempuan pada shalat wajib maupun shalat Sunnah


قال الإمام أبو محمد علي بن أحمد بن سعيد بن حزم الأندلسي [الظاهري] في كتابه  المحلى بالآثار / أوقات الصلاة / مسألة قراءة أم القرآن في الصلاة (ج ٢ ص ٢٦٥):


مَسْأَلَةٌ: وَقِرَاءَةُ أُمِّ الْقُرْآنِ: فَرْضٌ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْ كُلِّ صَلَاةٍ إمَامًا كَانَ أَوْ مَأْمُومًا أَوْ مُنْفَرِدًا - وَالْفَرْضُ وَالتَّطَوُّعُ سَوَاءٌ، وَالرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ سَوَاءٌ


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Abu Muhammad Ali bin Ahmed bin Sa'id bin Hazm Al-Andalusiy [Adz-Dzahiriy] mengatakan dalam Kitabnya Al-Muhalla Bi Al-Atsār / Waktu Sholat / Masalah Membaca Ummu  Al-Qur'an Dalam Sholat (vol. 2, hal.265):


Pertanyaan: Membaca Ummu Al-Qur'an: Wajib pada setiap rakaat setiap shalat, baik ia seorang imam, ma'mum, atau shalat  sendirian - shalat wajib dan sunah sama, baik laki-laki maupun perempuan  juga sama 


6]• MENURUT MADZHAB AHLI HADITS


قال الإمام  محمد بن إسماعيل الأمير اليمني الصنعاني (١١٨٢ هـ) في كتابه سبل السلام شرح بلوغ المرام / باب صفة الصلاة / قراءة الفاتحة في الصلاة (ج ١ ص ٢٥٤):


وَأَمَّا الْمُؤْتَمُّ فَدُخُولُهُ فِي ذَلِكَ وَاضِحٌ وَزَادَ إيضَاحًا فِي قَوْلِهِ: [وَفِي أُخْرَى] مِنْ رِوَايَةِ عُبَادَةَ لِأَحْمَدَ وَأَبِي دَاوُد وَالتِّرْمِذِيِّ وَابْنِ حِبَّانَ: «لَعَلَّكُمْ تَقْرَءُونَ خَلْفَ إمَامِكُمْ؟ قُلْنَا، نَعَمْ، قَالَ: لَا تَفْعَلُوا إلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ؛ فَإِنَّهُ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا».فَإِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى إيجَابِ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ خَلْفَ الْإِمَامِ تَخْصِيصًا، كَمَا دَلَّ اللَّفْظُ الَّذِي عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ لِعُمُومِهِ، وَهُوَ أَيْضًا ظَاهِرٌ فِي عُمُومِ الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ وَالسِّرِّيَّةِ،


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Imam Muhammad bin Ismail Al Amir Al Yaman Ash-Shan'aniy (1182 H), mengatakan dalam Kitabnya Subulu  al-Salam, Syarhu  Bulugh al-Maram / Bab Ciri-ciri Sholat / Membaca Al-Fatihah dalam Sholat (vol. 1 , hal.254):


Adapun Al-Mu'tam, pencantumannya di dalamnya sudah jelas, dan beliau menambahkan klarifikasi dalam pernyataannya: [Dan di bagian lain] dari riwayat Ubadah oleh Ahmad, Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan Ibnu  Hibban: “Mungkin kamu akan membaca di belakang imammu? Kami menjawab iya. Beliau menjawab: Jangan lakukan itu kecuali dengan bacaan Fatihatul kitab,  Sebab tidak ada shalat bagi orang yang tidak membacanya.” Hal ini merupakan bukti adanya kewajiban membaca Al-Fatihah khusus di belakang imam, sebagaimana ditunjukkan oleh perkataan kedua Syaikh (Bukhariy dan Muslim), karena  keumumannya dan itu lagi dzohirnya dalam keumumuman shalat yang dibaca keras maupun yang dibaca pelan


قال الإمام محمد بن علي بن محمد بن عبد الله الشوكاني اليمني (ت ١٢٥٠هـ) في كتابه   نيل الأوطار شرح منتقى الأخبار / أبواب صفة الصلاة / باب وجوب قراءة الفاتحة (ج ٢ ص ٢٤٧):


وَظَاهِرُ هَذِهِ الْأَدِلَّةِ وُجُوبُ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْ غَيْرِ فَرْقٍ بَيْنَ الْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ وَبَيْنَ إسْرَارِ الْإِمَامِ وَجَهْرِهِ، 


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah Al-Syaukaniy  Al-Yamaniy (w. 1250 H) mengatakan dalam Kitabya Nailu Al-Authar Syarhu  Muntaqa Al-Akhbar / Bab Ciri-ciri Sholat / Bab Wajibnya Membaca Al-Fatihah (Bagian 2, hal. 247):


Arti nyata dari dalil ini adalah wajibnya membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat, tanpa ada perbedaan antara imam dan ma'mum, dan antara imam yang membaca dalam pelan dan membaca dengan suara keras. 

 

جاء في الموسوعة الفقهية الكويتية صادر عن: وزارة الأوقاف والشئون الإسلامية - الكويت / القراءة في الصلاة / قراءة المأموم خلف الإمام (ج ٣٣ ص ٥٢ - ٥٣):


 قِرَاءَةُ الْمَأْمُومِ خَلْفَ الإِْمَامِ:


١٠ - اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي قِرَاءَةِ الْمَأْمُومِ خَلْفَ الإِْمَامِ. فَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ لاَ تَجِبُ الْقِرَاءَةُ عَلَى الْمَأْمُومِ سَوَاءٌ كَانَتِ الصَّلاَةُ جَهْرِيَّةً أَوْ سِرِّيَّةً  ...(إلى أن قال )...


وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّ الْمَأْمُومَ لاَ يَقْرَأُ مُطْلَقًا خَلْفَ الإِْمَامِ حَتَّى فِي الصَّلاَةِ السِّرِّيَّةِ، وَيُكْرَهُ تَحْرِيمًا أَنْ يَقْرَأَ خَلْفَ الإِْمَامِ، فَإِنْ قَرَأَ صَحَّتْ صَلاَتُهُ فِي الأَْصَحِّ. قَالُوا: وَيَسْتَمِعُ الْمَأْمُومُ إِذَا جَهَرَ الإِْمَامُ وَيُنْصِتُ إِذَا أَسَرَّ، ...(إلى أن قال )...


وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى وُجُوبِ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ عَلَى الْمَأْمُومِ فِي الصَّلاَةِ مُطْلَقًا سِرِّيَّةً كَانَتْ أَوْ جَهْرِيَّةً ، لِقَوْل النَّبِيِّ -ﷺ-: لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ ، وَقَوْلِهِ -ﷺ- لاَ تُجْزِئُ صَلاَةٌ لاَ يَقْرَأُ الرَّجُل فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.. اهـ.


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫 Hal ini tertuang dalam Kitab Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah (Ensiklopedia Fikih Kuwait) Yang Diterbitkan Oleh: Kementerian Wakaf Dan Urusan Islam - Kuwait / Bacaan Shalat / Bacaan Ma'mum Di Belakang Imam (vol. 33, hlm. 52-53):


Bacaan Ma'mum Dibelakang Imam


10- Para Ahli Fikih  berbeda pendapat mengenai bacaan  ma'mum di belakang imam. Menurut pendapat Malikiyyah dan Hanabillah  berpendapat bahwa  tidak wajib bagi ma'mum membaca Fatihahah, baik dalam shalat yang dibaca  dengan suara keras atau pelan ... (sampai dia berkata)...


Madzhab Hanafiyyah  berpendapat bahwa ma'mum tidak boleh membaca Fatihah  sama sekali (secara mutlak) di belakang imam, dehingga dalam shalat yang dibaca pelan sekalipun, dan makruh tahrim  (makruh mendekati haram) ma'mum membaca Fatihah di belakang imam, dan jika ia membacanya  dibelakang imam tetap sah shalatnya menurut pendapat yang paling benar. Mereka berkata: Ma'mum  mendengarkan (isma') ketika imam membacanya  dengan keras, dan mendengarkan dengan seksama (inshot) ketika dia membaca dengan pelan... (sampai dia berkata)...


Madzhab Syafi'iyyah berpendapat bahwa wajib hukumnya membaca surat Al-Fatihah bagi ma'mum dalam shalat secara mutlak, baik dalam shalat yang dibaca pelan maupun  dibaca dengan suara keras, berdasarkan  Sabda Nabi Muhammad -ﷺ- :  "Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihah." Dan berdasarkan sabdanya -ﷺ-: Shalat tidak cukup (sah) yang seseorang tidak membaca didalamnya dengan  Fatihahatul Kitab.


Magelang : 13/10/2023 M

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BAHASA ALAM AKHIRAT (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DSB) (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAHARU (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TABKHIR EMBAKAR DUPA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KUFUR AKIBAT MENCELA NASAB KETURUNAN (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAHALLUL CUKUR GUNDUL ATAU POTONG RAMBUT SELESAI HAJI DAN UMROH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TIDAK PERLU TEST DNA SEBAGAI BUKTI DZURRIYYAH NABI -ﷺ- (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top