Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label KAIFA TUSHOLLI (V) -. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAIFA TUSHOLLI (V) -. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Oktober 2023

SUNNAH SUNNAH KETIKA BERDIRI DIDALAM SHALAT

 .*╾╌╌─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫﷽💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ─╌╌╸*



 

(dinti sarikan dari kitab Ahaditsu Ash Shalat dan Kaifa Tushalli karya Murobbi Ruhina KH. Muhammad  Ihya' 'Ulumiddin Alumnus pertama Ribath Sayyid Muhammad 'Alawiy Al Malikiy Al Hasaniy Makkah)


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ╌╸Para ulama berbeda pendapat mengenai kemana arah pandangan orang yang sedang shalat : Mayoritas Ulama'  (Jumhur Hanafiyyah Syafi'iyyah Hanabillah)  mengatakan: DIA DISUNNAHKAN  MELIHAT KE TEMPAT SUJUDNYA, 


Dan para pengikut Madzhab Imam Malik  berkata: DIA MELIHAT KE ARAH KIBLAT, dan sebagian Fuqaha Maliki menyatakan bahwa DIA MELIHAT KE IMAMNYA, namun jika itu yang dilihatnya, maka makruh  menengok, 


Dan pendapat ma'mum melihat ke arah imamnya, dan hal itu tidak mengapa, merujuk kepada Imam  Al-Bukhari yang membuat bab didalam Kitab Sahihnya: Bab tentang menengadah ke arah imam saat shalat. Beliau (Imam Bukhariy) mengambil hijjah/dalil dalam hal ini dengan hadits Khabbab radliyyAllahu 'anhu : Mereka (para sahabat radliyyAllahu 'anhum) melihat  bagaimana Nabi -ﷺ-  membaca pada shalat Dzuhur dan Ashar  dengan janggutnya yang bergerak gerak


A]• BAB PANDANGAN ORANG YANG SHALAT (lihat gambar)


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ╌╸1). MENURUT MADZHAB HANAFIYYAH SYAFI'IYYAH DAN MALIKIYYAH


وقال العلامة بدر الدين  العيني الحنفي في كتابه  عمدة القاري شرح صحيح البخاري / كتاب مواقيت الصلاة / باب رفع البصر إلى الإمام في الصلاة (ج ٥ ص ٣٠٦): 


وَمِمَّا يُسْتَفَاد مِنْهُ: مَا ترْجم عَلَيْهِ البُخَارِيّ، وَهُوَ: رفع الْبَصَر إِلَى الإِمَام. وَقد اخْتلف الْعلمَاء فِي ذَلِك، أَعنِي: فِي رفع الْبَصَر إِلَى أَي مَوضِع فِي صلَاته، فَقَالَ أَصْحَابنَا، وَالشَّافِعِيّ، وَأَبُو ثَوْر: إِلَى مَوضِع سُجُوده، وَرُوِيَ ذَلِك عَن إِبْرَاهِيم، وَابْن سِيرِين، 


وَفِي (التَّوْضِيح): وَاسْتثنى بعض أَصْحَابنَا إِذا كَانَ مشاهدًا للكعبة، فَإِنَّهُ ينظر إِلَيْهَا. 


وَقَالَ القَاضِي حُسَيْن: ينظر إِلَى مَوضِع سُجُوده فِي حَال قِيَامه، وَإِلَى قَدَمَيْهِ فِي رُكُوعه، وَإِلَى أَنفه فِي سُجُوده، وَإِلَى حجره فِي تشهده؛ لِأَن امتداد النّظر يلهى، فَإِذا قصر كَانَ أولى. 


وَقَالَ مَالك: ينظر أَمَامه، وَلَيْسَ عَلَيْهِ أَن ينظر إِلَى مَوضِع سُجُوده وَهُوَ قَائِم: قَالَ: وَأَحَادِيث الْبَاب تشهد لَهُ؛ لأَنهم لَو لم ينْظرُوا إِلَيْهِ -ﷺ-, مَا رَأَوْا تَأَخره حِين عرضت عَلَيْهِ جَهَنَّم، وَلَا رَأَوْا اضْطِرَاب لحيته، وَلَا استدلوا بذلك على قِرَاءَته، وَلَا نقلوا ذَلِك، وَلَا رَأَوْا تنَاوله فِيمَا تنَاوله فِي قبلته حِين مثلت لَهُ الْجنَّة، وَمثل هَذَا الحَدِيث قَوْله -ﷺ-: (إِنَّمَا جعل الإِمَام ليؤتم بِهِ)؛ لِأَن الائتمام لَا يكون إلاّ بمراعاة حركاته فِي خفضه وَرَفعه. انتهى.


Al 'Alamah Badr al-Din al-Aini al-Hanafi mengatakan dalam kitabnya Umdatu  al-Qari Syarhu Shahih al-Bukhari / Kitab Waktu Sholat / Bab Menatap Imam dalam Sholat (vol. 5, hal. 306) :


Yang dapat diambil hikmahnya adalah apa yang diterjemahkan Al-Bukhari, yaitu: menujukan PANDANGAN KEPADA IMAM. Para ulama berbeda pendapat mengenai hal itu, maksud saya: tentang menujukan pandangan ke suatu tempat ketika shalat, sahabat kami (Hanafiyyah) Imam  Asy Syafi'iy dan Abu Tsaur berkata: KE TEMPAT SUJUDNYA, dan semua itu diriwayatkan dari Ibrahim dan Ibnu Sirin, 


Dan dalam kitab  (Al-Taudhih): Sebagian sahabat kami (Hanafiyyah) membuat pengecualian jika dia sedang melihat  Ka'bah, maka dia dia memandanginya. 


Qadli Husein (Asy Syafi'iy) berkata: Dia melihat tempat sujudnya ketika dia berdiri, dan pada kakinya ketika dia rukuk, dan pada hidungnya ketika dia sujud, dan pada pangkuannya ketika dia mengucapkan tasyahud, karena melepaskan pandangannya terlalu lama dapat  mengacaukan (kekhusyuan hatinya), dan jika memperpendek pandangan matanya  akan lebih baik. 


Imam Malik berkata: Dia melihat ke depannya, dan dia tidak perlu melihat ke tempat sujudnya sambil berdiri. Dia (Imam Malik) berkata: Hadits bab tersebut menjadi saksi akan hal ini; Karena jika mereka tidak memandang Nabi -ﷺ-, mereka tidak akan melihat keterlambatannya ketika Neraka ditawarkan kepadanya, mereka juga tidak akan melihat janggutnya yang bergerak gerak, dan mereka menjadikan hal itu sebagai dalil mengenai bacaannya, dan mereka juga tidak meriwayatkan semua hal itu, dan mereka  juga tidak pernah melihat ketika  mengambilnya sehubungan dengan apa yang dia ambil di kiblatnya ketika surga muncul di hadapannya, dan senada dengan hadits tersebut adalah sabda beliau -ﷺ-: (Dijadikannya Imam adalah untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihnya). Sebab  kesempurnaan tidak dapat dicapai kecuali dengan memperhatikan gerak-geriknya dalam turun dan naiknya imam.


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ╌╸2). MENURUT MADZHAB HANABILAH 


LEBIH UTAMA melihat tempat sujudnya 


SEDANGKAN ORANG BERDIRI SHALAT MEMANDANG IMAM adalah khushushiyyah (khusus) bermakmum dibelakang Rasulullah ﷺ, menyelisihi pendapat Imam Malik


وتعقّبه ابن رجب باحتمال أن يكون هذا خاصًّا به -ﷺ- قال في كتابه فتح الباري شرح صحيح البخاري /  كتاب الآذان / ٩١ - باب رفع البصر إلى الإمام في الصلاة (ج ٦ ص ٤٣٨): 


وهذا قَدْ يقال: إنه يختص بالصلاة خلف النَّبِيّ -ﷺ- ؛ لما يترتب عَلَى ذَلِكَ من معرفة أفعاله فِي صلاته، فيقتدي بِهِ، فأما غيره من الأئمة، فلا يحتاج إلى النظر إلى لحيته، فالأولى بالمصلى وراءه أن ينظر إلى محل سجوده. انتهى.


Imam Ibnu Rajab Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala  menindaklanjutinya dengan kemungkinan bahwa ini khusus untuk Nabi -ﷺ-, beliau berkata dalam kitabnya Fathu Al Bari Syarhu Shahih Al Bukhariy / Kitabu Al Adzan / 91 - Bab Raf'u Al Bashar Ila Al Imam Fi Ash Shalati (Juz 6 Hal 438) : 


Hal ini dapat dikatakan: Khususnya shalat di belakang Nabi Muhammad ﷺ. Karena hal ini berakibat mengetahui perbuatannya selama shalat, maka hendaknya ia mengikutinya. Adapun imam yang lain tidak perlu melihat gerakan  janggutnya, MAKA YANG LEBIH UTAMA  orang yang shalat di belakangnya melihat tempat sujudnya.


B]• BERDIRI DENGAN TIDAK MENDONGAKKAN KEPALA MEMANDANG LANGIT  (lihat gambar)



💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ╌╸1). MADZHAB SYAFI'IYYAH


وقال الامام ابن حجر الهيثمي المكي الشافعي في كتابه  تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي / كتاب الصلاة / فصل في ذكر مبطلات الصلاة وسننها ومكروهاتها (ج ٢ ص ١٦١): 


 (وَرَفْعُ بَصَرِهِ إلَى السَّمَاءِ) لِخَبَرِ الْبُخَارِيِّ «مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إلَى السَّمَاءِ فِي صَلَاتِهِمْ فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى قَالَ لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ» وَصَحَّ «أَنَّهُ -ﷺ- كَانَ يَرْفَعُهُ فَلَمَّا نَزَلَ أَوَّلُ سُورَةِ الْمُؤْمِنِينَ طَأْطَأَ رَأْسَهُ» وَمِنْ ثَمَّ كُرِهَتْ أَيْضًا فِي مُخَطَّطٍ أَوْ إلَيْهِ أَوْ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ يُخِلُّ بِالْخُشُوعِ أَيْضًا وَزَعْمُ عَدَمِ التَّأَثُّرِ بِهِ حَمَاقَةٌ


Imam Ibnu Hajar al-Haitami al-Makki al-Syafi'i mengatakan dalam kitabnya Tuhfatu al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj dan catatan kaki al-Shirwani dan al-'Abadi / Kitab Ash Shalat / Bab Yang Menyebutkan Apa Yang Membatalkan Shalat , Sunnahnya Dan Apa Yang Tidak Disukai (vol. 2, hal. 161):


(Dan MAKRUH  menengadahkan pandangannya ke langit) berdasarkan riwayat Al-Bukhari: "Apa yang membuat orang-orang itu mengangkat penglihatan mereka ke langit dalam shalat mereka?. Kemudian beliau bersabda lagi. “Hendaknya mereka berhenti dari hal itu, atau (jika tidak) niscaya penglihatan mereka akan tersambar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan Shahih Bahwa Sesungguhnya Nabi -ﷺ- biasa menengadahkannya, maka ketika surat pertama Al Mu'min  diturunkan, beliau  menundukkan kepalanya. Dan dari sana DIMAKRUHKAN JUGA memakai pakaian/sajadah yang bermotif garis garis  karena hal itu juga mengganggu kekhusyukan, dan mengaku tidak terpengaruh olehnya adalah suatu kebodohan.


وقال الإمام الرملي الشافعي في كتابه نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج /  فصل في مبطلات الصلاة وسننها ومكروهاتها / بطلان الصلاة بقليل الأكل (ج ٢ ص ٥٧ - ٥٨): 

    

 (وَرَفَعَ بَصَرَهُ إلَى السَّمَاءِ) لِخَبَرِ «مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إلَى السَّمَاءِ فِي صَلَاتِهِمْ لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ» وَيُكْرَهُ نَظَرُ مَا يُلْهِي عَنْهَا كَثَوْبٍ لَهُ أَعْلَامٌ


Imam Al-Ramli Al-Syafi'i berkata dalam bukunya Nihayat Al-Muhtaj ila Sharh Al-Minhaj / Bab Yang Membatalkan Shalat, Sunnahnya dan Yang Tidak Disukai / Batalnya Sholat Dengan Sedikit Makan (Bagian 2, hal. 57 -58):

    

(Dan MAKRUH  menengadahkan pandangannya ke langit) berdasarkan hadits : "Apa yang membuat orang-orang itu mengangkat penglihatan mereka ke langit dalam shalat mereka?. Kemudian beliau bersabda lagi. “Hendaknya mereka berhenti dari hal itu, atau (jika tidak) niscaya penglihatan mereka akan tersambar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan MAKRUH melihat apa pun yang mengalihkan perhatiannya, seperti pakaian yang ada gambarnya.



💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ╌╸2). MADZHAB HANAFIYYAH


MAKRUH MEMNDANG LANGIT ketika berdiri shalat


وقال الامام الزيلعي في كتابه تبيين الحقائق شرح كنز الدقائق وحاشية الشلبي / كتاب الصلاة / باب ما يفسد الصلاة وما يكره فيها (ج ١ ص ١٦٣):  


وَيُكْرَهُ أَنْ يَرْفَعَ بَصَرَهُ إلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلَاةِ لِقَوْلِهِ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - «مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلَاةِ لَيَنْتَهُنَّ أَوْ لَتُخْطَفُنَّ أَبْصَارَهُمْ».


Imam Al-Zayla'i berkata dalam bukunya “Tabyinu  Al-Haqaqiq Syarh Kanzu Al-Daqaqa'i wa Hasyiyat Al-Syibli” /  Kitab Ash Shalat / Bab: Apa yang Membatalkan Sholat Dan Apa yang Tidak Disukai di dalamnya (vol. 1 , hal.163):


Tidak disukai baginya menengadah ke langit dalam shalat, berdasarkan sabda Nabi 'Alaihi Ash Shalatu Wa As Salamu : "Apa yang membuat orang-orang itu mengangkat penglihatan mereka ke langit dalam shalat mereka?. Kemudian beliau bersabda lagi. “Hendaknya mereka berhenti dari hal itu, atau (jika tidak) niscaya penglihatan mereka akan tersambar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).


وقال العلامة منلا أو المولى او مُلا خُسْرُو (ت. ٨٨٥ هـ / ١٤٨٠ مـ) الحنفي في كتابه درر الحكام شرح غرر الأحكام وحاشية الشرنبلالي / باب ما يفسد الصلاة وما يكره فيها / مكروهات الصلاة (ج ١ ص ١٠٧):


(قَوْلُهُ : وَرَفْعُ بَصَرِهِ إلَى السَّمَاءِ. . . إلَخْ) أَقُولُ النَّهْيُ مَا قَالَهُ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إلَى السَّمَاءِ لَيَنْتَهُنَّ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ» كَمَا فِي الْبُرْهَانِ.


Al 'Alamah Manla/Mula/Maula Khusru  Al-Hanafiy  mengatakan dalam kitabnya Durar Al-Hikam, Syarh Gharar Al-Ahkam dan Hashiyat Al-Syurunbulaliy / Bab: Apa yang merusak shalat dan apa yang tidak disukai di dalamnya / Hal-hal yang tidak disukai dalam shalat (jilid 1, hal.107):


(Ungkapannya: Dan dia mengangkat pandangannya ke langit...dst) Saya katakan BAHWA ITU  LARANGAN seperti apa yang Nabi -ﷺ-  sabdakan : "Apa yang membuat orang-orang itu mengangkat penglihatan mereka ke langit dalam shalat mereka?. Kemudian beliau bersabda lagi. “Hendaknya mereka berhenti dari hal itu, atau (jika tidak) niscaya penglihatan mereka akan tersambar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Seperti disebutkan dalam Kitab Al Burhan.


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ╌╸3). MADZHAB MALIKIYYAH


MAKRUH MENENGADAHKAN PANDANGAN MATA KETIKA SHALAT walaupun ketika waktu berdoa


DAN DIMAKRUHKAN hanya memandang tempat sujud


وقال الإمام الحطاب الروعيني المالكي في كتابه مواهب الجليل في شرح مختصر خليل /  فصل فرائض الصلاة / تنبيه رفع بصره إلى السماء وهو يصلي (ج ٢ ص ٥٥٠):


(تَنْبِيهٌ) وَيُكْرَهُ رَفْعُ الْبَصَرِ إلَى السَّمَاءِ وَلَوْ كَانَ فِي وَقْتِ الدُّعَاءِ 


Imam Al-Hattab Al-Ru'ainiy Al-Malikiy  mengatakan dalam kitabnya Mawahibu  Al-Jalil Fi Syarhi  Mukhtasar Khalil / Bab Kewajiban Sholat / Perhatian : Dia menengadahkan pandangannya ke langit ketika shalat (vol. 2, hal. 550):


(Peringatan): DIMAKRUHKAN menengadahkan pandangan ke langit, meskipun pada saat berdoa melainkan menghadap kedepan atau melihat imamnya


وجاء في كتاب شَرْحُ صَحِيح مُسْلِمِ المُسَمَّى إِكمَالُ المُعْلِمِ بفَوَائِدِ مُسْلِم لِلقَاضِى عِيَاض المالكي  (ت ٥٤٤هـ) /  ٤ - كتاب الصلاة / (٢٦) باب النهى عن رفع البصر إلى السماء فى الصلاة (ج ٢ ص ٣٤١):


وذكر فى الحديث النهى عن رفع البصر إلى السماء فى الدعاء فى الصلاة والوعيد فى ذلك، 


Disebutkan dalam kitab Syarh Sahih Muslim yang berjudul Ikmalu al-Mu'allim bi Fawa'idi Muslim, karya Qadli 'Iyyadl al-Malikiy  (w. 544 H) / 4 - Kitab Doa / 26 - Bab Larangan Mengangkat Mata ke Langit dalam Shalat (vol. 2, hal. 341):


Dan disebutkan dalam hadist LARANGAN  menengadahkan pandangan ke langit ketika berdoa didalam shalat dan terdapat  ancaman didalamnya.


وجاء في كتاب شرح الخرشي على مختصر خليل - ومعه حاشية العدوي للامام الخرشي المالكي /  باب الوقت المختار / فصل في فرائض الصلاة ( ج ١ ص ٢٩٣) :  


وَكَذَلِكَ يُكْرَهُ رَفْعُهُ إلَى السَّمَاءِ وَتَقَدَّمَ أَنَّهُ يَضَعُ بَصَرَهُ أَمَامَهُ وَيُكْرَهُ أَنْ يَضَعَ بَصَرَهُ فِي مَوْضِعِ سُجُودِهِ فَقَطْ 


Hal itu tertuang dalam kitab Syarhu Al-Kharasyiy 'Ala  Mukhtasar Khalil - dan bersamanya catatan kaki Al-'Adawiy karya Imam Al-Kharasyiy al-Malikiy / Bab tentang Waktu yang Dipilih / Bab tentang Kewajiban Sholat (vol. 1, hal .293):


Demikian pula, DIMAKRUHKAN  menengadahkan pandangannya ke langit dan telah disebutkan bahwasannya dia menatap ke depan, dan dimakruhkan jika hanya memandang pada tempat sujud.  


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ╌╸4). MENURUT MADZHAB HANABILLAH


MAKRUH MENENGADAHKAN PANDANGAN MATA KELANGIT ketika didalam shalat


DAN MAKRUH MELIHAT perkara yang dapat mengganggu kekhusyukan shalat


DAN TIDAK MAKRUH  menengadahkan pandangan matanya ke langit pada saat bersendawa jika dia sedang shalat agar tidak merugikan orang disekitarnya dengan baunya


وقال الإمام ابن رجب الحنبلي في كتابه فتح الباري شرح صحيح البخاري /  كتاب الآذان / ٩٢ - باب رفع البصر إلى السماء في الصلاة (ج ٦ ص ٤٤٢):


في الحَدِيْث: دليل عَلَى كراهة رفع بصره إلى السماء فِي صلاته.


Imam Ibnu Rajab al-Hanbali berkata dalam bukunya Fathu  al-Bari, Syarhu Shahih al-Bukhari / Kitab Adzan / 92 - Bab Mengangkat Mata ke Langit dalam Sholat (vol. 6, hal. 442):


Dalam Hadits: Merupakan dalil KEMAKRUHAN  menengadahkan pandanga mata ke langit saat shalat.


قال الإمام تقي الدين ابنُ تَيميَّة الحنبلي في كتابه مجموع الفتاوى الكبرى /  الأسماء والصفات / ٢ - معنى الهم (ج ٦ ص ٥٨٨)؛


وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ رَفْعَ الْمُصَلِّي بَصَرَهُ إلَى السَّمَاءِ مَنْهِيٌّ عَنْهُ.


Imam Taqi al-Din Ibnu Taimiyyah Al-Hanbaliy  berkata dalam kitabya Majmu` al-Fatawa al-Kubra / Nama dan Sifat / 2 - Makna Kepedulian (vol. 6, hal. 588):


Para ulama sepakat bahwa MAKRUH orang yang shalat menengadahkan pandangan matanya ke langit.


وقال الإمام ابن قدامة المقدسي الحنبلي في كتابه المغني /  مسألة سجود السهو / فصل ترك شيئ من سنن الصلاة (ج ٢ ص ٨): 


وَيُكْرَهُ رَفْعُ الْبَصَرِ لِمَا رَوَى الْبُخَارِيُّ أَنَّ أَنَسًا، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إلَى السَّمَاءِ فِي صَلَاتِهِمْ، فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِي ذَلِكَ، حَتَّى قَالَ: لَيَنْتَهِيَنَّ، أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ» .وَيُكْرَهُ أَنْ يَنْظُرَ إلَى مَا يُلْهِيهِ، أَوْ يَنْظُرَ فِي كِتَابٍ؛ 


Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy  Al-Hanbaliy  mengatakan dalam kitabnya Al-Mughni / Masalah Sujud Karena Lupa / Bab tentang Mengabaikan Sesuatu dari Sunnah Sholat (jilid 2, hal. 8):


DIMAKRUHKAN menaikkan pandangan (dalam shalat)  sebagaimana yang diriwayatkan Imam  Al-Bukhari bahwa Anas berkata: Nabi Muhammad SAW bersabda:  "Apa yang membuat orang-orang itu mengangkat penglihatan mereka ke langit dalam shalat mereka?. Kemudian beliau bersabda lagi. “Hendaknya mereka berhenti dari hal itu, atau (jika tidak) niscaya penglihatan mereka akan tersambar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).


Dan DIMAKRUHKAN  melihat apa yang dapat mengalihkan kekhusyukkannya, atau melihat kitab


وقال الإمام منصور بن يونس  البهوتي الحنبلي في كتابه كشاف القناع عن متن الإقناع  /  باب صفة الصلاة / فصل ما يكره وما يباح وما يستحب في الصلاة (ج ١ ص ٣٧٠): 


(وَ) يُكْرَهُ فِي الصَّلَاةِ (رَفْعُ بَصَرِهِ إلَى السَّمَاءِ) لِحَدِيثِ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إلَى السَّمَاءِ فِي صَلَاتِهِمْ، فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى قَالَ لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ 


وَ (لَا) يُكْرَهُ رَفْعُ بَصَرهِ إلَى السَّمَاءِ (حَالَ التَّجَشِّي) إذَا كَانَ (فِي جَمَاعَةٍ) لِئَلَّا يُؤْذِيَ مَنْ حَوْلَهُ بِالرَّائِحَةِ.


Imam Mansour bin Yunus Al-Buhutiy Al-Hanbaliy  mengatakan dalam kitabnya Kasyafu  Al-Qinaa', 'An Matni  Al-Iqna' / Bab Ciri-ciri Shalat / Bab tentang apa yang tidak disukai, apa yang diperbolehkan, dan apa yang dianjurkan. dalam Shalat (vol. 1, hal. 370):


(Dan) MAKRUH dalam shalat (menengadahkan pandangan ke langit) berdasarkan hadits Anas radliyyAllahu 'anhu yang mengatakan: Nabi Muhammad ﷺ  bersabda: "Apa yang membuat orang-orang itu mengangkat penglihatan mereka ke langit dalam shalat mereka?. Kemudian beliau bersabda lagi. “Hendaknya mereka berhenti dari hal itu, atau (jika tidak) niscaya penglihatan mereka akan tersambar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). 


Dan TIDAK MAKRUH  menengadahkan pandangan matanya ke langit (pada saat bersendawa) jika dia (berkelompok) agar tidak merugikan orang disekitarnya dengan baunya.


C]• MERENGGANGKAN KAKI TELAPAK KAKI DAN JARI JEMARINYA  MENGHADAP KIBLAT (lihat gambar)


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ╌╸MENGHADAPKAN  KEARAH KIBLAT semua anggota badan yang dianjurkan atau memungkinkan  menghadap kearah kiblat 


وقد بوب البخاري عليه بابا فقال : 


( بَابُ فَضْلِ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ . يَسْتَقْبِلُ بِأَطْرَافِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ) 


Imam Al-Bukhari memasukkan satu bab di dalamnya, beliau  mengatakan:


BAB menghadap kiblat dengan ujung kakinya.


وقال الحافظ ابن حجر العسقلاني المصري الشافعي عند شرح الحديث في كتابه فتح الباري شرح صحيح البخاري / كتاب الصلاة / أبواب استقبال القبلة : 


وَالْمُرَادُ بِأَطْرَافِ رِجْلَيْهِ رُءُوسُ أَصَابِعِهَا ، وَأَرَادَ بِذِكْرِهِ هُنَا بَيَانُ مَشْرُوعِيَّةِ الِاسْتِقْبَالِ بِجَمِيعِ مَا يُمْكِنُ مِنَ الْأَعْضَاءِ. اهـ .


Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalaniy Al-Misriy Asy-Syafi’iy  mengatakan ketika menjelaskan hadits tersebut dalam kitabnya Fathu Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari / Kitab Doa / Bab Menghadap Kiblat:


Yang dimaksud dengan ujung kakinya adalah ujung jari-jarinya, dan beliau ingin menyebutkannya disini untuk menjelaskan DISUNNAHKANNYA MENGHADAPKAN KEARAH KIBLAT yang memungkinkan dari  seluruh anggota badan. 


 قال الإمام النَّوويّ الشافعي في كتابه المجموع شرح المهذب /  باب صفة الصلاة / السجود في الصلاة / تفريج الساجد بين ركبتيه وبين قدميه (ج ٣ ص ٤٣١):


وَالسُّنَّةُ أَنْ يَنْصِبَ قَدَمَيْهِ وَأَنْ يَكُونَ أَصَابِعُ رِجْلَيْهِ مُوَجَّهَةً إلَى الْقِبْلَةِ ، وَإِنَّمَا يَحْصُلُ تَوْجِيهُهَا بِالتَّحَامُلِ عَلَيْهَا وَالِاعْتِمَادِ عَلَى بُطُونِهَا ، 


Begitu juga ketika sujud dalam shalat Imam Al-Nawawi Al-Syafi'i mengatakan dalam kitabya Al-Majmu' Syarhu  Al-Muhadzdzab / Bab Ciri-ciri Sholat / Sujud Dalam Shalat / Memisahkan Orang Sujud Antara Lutut dan Kakinya (jilid 3, hal. 431):


SUNNAHNYA adalah menegakkan kaki dan jari-jari kaki menghadap kiblat, dan semestinya tercapai  menghadapkannya kearah kiblat dengan bersandar dan bertekanan padanya.


D]• MENGGULUNG CELANA JANGAN DIPOTONG CINGKRANG ATAU MENAIKKAN SARUNG GAMIS DIATAS MATA KAKI JIKA PUNYA POTENSI ANGKUH SOMBONG ATAU MEMBANGGAKAN DIRI (lihat gambar)


BOLEH MENARIK CELANA ATAU SARUNG DIBAWAH KEDUA MATA KAKI ketika tidak bertujuan untuk keangkuhan, membanggakan diri,  takabbur atau karena turun dengan sendirinya setelah celana digulung atau sarung ditarik keatas


1). MENURUT MADZHAB SYAFIIYYAH


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ╌╸YANG DIMAKSUD DENGAN ANCAMAN ADALAH BAGI ORANG YANG MENURUNKAN  SARUNGNYA TURUN MENUTUP MATA KAKI karena ada unsur ingin  membanggakan diri, begitu sebaliknya


قال الإمام النووي الشافعي  رحمه الله في كتابه المنهاج شرح صحيح مسلم ابن الحجاج /  كتاب الايمان / باب بيان غلظ تحريم النميمة  في رواية لا يدخل الجنة (ج ٢ ص ١١٦):


الْمُسْبِلُ إِزَارَهُ فَمَعْنَاهُ الْمُرْخِي لَهُ الْجَارُّ طَرَفَهُ خُيَلَاءً كَمَا جَاءَ مُفَسَّرًا فِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ : لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ يَجُرُّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ وَالْخُيَلَاءُ الْكِبْرُ وَهَذَا التَّقْيِيدُ بِالْجَرِّ خُيَلَاءَ يُخَصِّصُ عُمُومَ الْمُسْبِلِ إِزَارَهُ وَيَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالْوَعِيدِ مَنْ جَرَّهُ خُيَلَاءَ 


وَقَدْ رَخَّصَ النَّبِيُّ ﷺ فِي ذَلِكَ لِأَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَالَ : لَسْتَ مِنْهُمْ إِذْ كَانَ جَرُّهُ لِغَيْرِ الْخُيَلَاءِ 


وَقَالَ الْإِمَامُ أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ جَرِيرٍ الطَّبَرِيُّ وَغَيْرُهُ وَذَكَرَ إِسْبَالَ الْإِزَارِ وَحْدَهُ لِأَنَّهُ كَانَ عَامَّةَ لِبَاسِهِمْ وَحُكْمُ غَيْرِهِ مِنْ الْقَمِيصِ وَغَيْرِهِ حُكْمُهُ قُلْتُ : وَقَدْ جَاءَ ذَلِكَ مُبَيَّنًا مَنْصُوصًا عَلَيْهِ مِنْ كَلَامِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ  مِنْ رِوَايَةِ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ : الْإِسْبَالُ فِي الْإِزَارِ وَالْقَمِيصِ وَالْعِمَامَةِ مَنْ جَرَّ شَيْئًا خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ تَعَالَى إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ والنسائى وبن ماجه باسناد حسن وَاللَّهُ أَعْلَمُ


Imam Al-Nawawiy Asy-Syafi'iy rahimahullohu ta'ala, mengatakan dalam kitabnya Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al-Hajjaj / Kitab Iman / Bab Menjelaskan Ketatnya Larangan Bergosip Dalam Riwayat Tidak Masuk Surga (vol. 2, hal. 116):


Orang yang menarik pakaiannya, maknanya adalah orang yang mengendurkan pinggirannya KARENA KESOMBONGAN, sebagaimana dijelaskan dalam hadist lain : Allah tidak memandang orang yang menarik pakaiannya karena kesombongan. Kesombongan yang besar, dan larangan ini genitifnya adalah kesombongan, yang dikhususkan pada  seluruh orang yang menarik sarungnya kebawah menutupi mata kaki dan menandakan bahwa yang dimaksud dengan ancaman adalah bagi orang yang menurunkan  sarungnya turun menutup mata kaki  karena unsur ingin  membanggakan diri, 


dan Nabi -ﷺ-  telah memberikan keringanan kepada Sahabat Abi Bakar radliyyAllahu 'anhu dan beliau berkata, "Kamu bukan salah satu dari mereka," karena penurunan pakaiannya bukan untuk membanggakan diri, 


dan Imam Abu Ja'far Muhammad bin Jarir Al-Tabari dan yang lain berkata, “Dan tidak disetujui pakaian bawah saja, karena itu adalah pakaian umum mereka, dan hukumnya selain baju dan selainnya adalah sama. Saya (Ibnu Jarir Ath Thabariy) berpendapat : ini telah dinyatakan dengan jelas dalam teks dari sabda Rasulillah -ﷺ- dari riwayat Salim bin Abdullah, dari  ayahnya, radliyyAllahu 'anhum, dari Nabi -ﷺ- yang bersabda: Isbal (menurunkan pakaian hingga menutup mata kaki) pada sarung (Izar), gamis, dan sorban adalah orang yang menarik sesuatu karena ingin membanggakan diri, maka Allah subhanahu wa taala tidak akan memandangnya pada hari kiamat. (diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al-Nasa'i dan Ibnu Majah dengan SANAD HASAN). Dan Allah subhanahu wa taala Maha Mengetahui.



2). MENURUT  MADZHAB HANABILLAH 


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ╌╸MAKRUH WALAUPUN  MENURUNKAN PAKAIAN SAMPAI MENUTUP MATA KAKI  TANPA HAJAT KEPERLUAN, tanpa menyombongkan diri atau menipu, berdasarkan pendapat  Imam Ahmad


Makna dzohiriyyah  dari aturan ini TIDAK ADA KEMAKRUHAN, sekiranya tidak ada membanggakan diri  atau kesombongan, ini adalah pernyataan yang lebih masuk akal


قال الإمام السفاريني الحنبلي (المتوفى : ١١٨٨هـ) – رحمه الله تعالى - في كتابه  غذاء الأَلباب في شرح منظومة الآداب /  مطلب: في حكم لبس الرقيق وتطويل اللباس وتقصيره (ج ٢ ص ٢١٥): 


وَالْحَاصِلُ: أَنَّ الْإِسْبَالَ تَارَةً يَكُونُ خُيَلَاءَ وَتَارَةً لَا يَكُونُ.الْأَوَّلُ حَرَامٌ مِنْ الْكَبَائِرِ عَلَى الْأَصَحِّ، وَالثَّانِي تَارَةً يَكُونُ لِحَاجَةٍ وَأُخْرَى لَا. 


الْأَوَّلُ غَيْرُ مَكْرُوهٍ مَا لَمْ يَقْصِدْ تَدْلِيسًا فَيَحْرُمُ، 


وَالثَّانِي مَكْرُوهٌ، وَهُوَ الْإِسْبَالُ بِلَا حَاجَةٍ، وَلَا خُيَلَاءَ وَلَا تَدْلِيسٍ، لِقَوْلِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: مَا تَحْتَ الْكَعْبَيْنِ فِي النَّارِ.


وَظَاهِرُ النَّظْمِ عَدَمُ الْكَرَاهَةِ حَيْثُ لَا خُيَلَاءَ وَلَا كِبْرَ. وَهُوَ قَوْلٌ مَرْجُوحٌ، انتهى


Imam Al-Safariniy Al-Hanbaliy (Wafat: 1188 H) – rahimahullahu ta'ala – mengatakan kitabnya Ghidza'u Al Albab Fi Syarhi Mandzumati  Al-Adab / Mafhlab :  Tentang Hukum Memakai Pakaian Bagus Dan Memanjangkan Atau  Memendekkan Pakaian (vol. 2, hal. 215):


Intinya: Isbal kadang karena kesombongan dan kadang tidak, yang pertama haram di antara dosa-dosa besar menurut pendapat yang paling benar, dan yang kedua kadang-kadang karena suatu hajat dan yang lain tidak, 


yang pertama  tidak makruh, kecuali dimaksudkan untuk menipu, maka haram. 


Yang kedua makruh, yaitu menurunkan pakaian tanpa hajat keperluan, tanpa menyombongkan diri atau menipu, berdasarkan pendapat  Imam Ahmad - rahimahullahu ta'ala -: Pakaian yang dibawah  pergelangan kaki dalam neraka. 


Makna dzohiriyyah  dari aturan ini adalah TIDAK ADA KEMAKRUHAN, sekiranya tidak ada membanggakan diri  atau kesombongan. Ini adalah pernyataan yang lebih masuk akal.


الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات

ماجلانج : ١٨ ربيع الاول ١٤٤٥ هـ

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top