Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Juni 2023

حركة ذكر أو ثدي أو حك جسد بأصابعه او رجله بقدامه وغيرها متوالية في الصلاة | PENIS ATAU PAYUDARA ATAU MENGGARUK-GARUK BADAN DENGAN BERGERAK GERAK TIGA KALI BERTURUT-TURUT DAN SELAINNYA KETIKA SHALAT

 .*╾╌╌─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫﷽💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ─╌╌╸*



(edisi ketika anggota menonjol atau cabang bukan anggota pokok yang bergerak berturut turut  tidak membatalkan shalat akan tetapi makruh dan membatalkan shalat jika sengaja memainkannya)

1]• ─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫MADZHAB SYAFI'IYYAH

Jika sengaja menggerak-gerakkan dzakar (batang penis)  dengan maksud main-main MAKA SHALAT BATAL. Tetapi apabila bergerak sendiri tanpa ada kesengajaan atau ketika rukuk maka TIDAK MENJADIKAN SHALAT BATAL meskipun gerakannya berulang-ulang.

Adapun gerakan payudara kelopak mata bibir lidah telinga dll yang menempel pada anggota tubuh pokok  tergolong gerakan yang ringan dikiaskan dengan gerakan penis diatas. Karena  payudara adalah sebagian anggota yang ikut pada dada, seperti jari yang ikut pada telapak tangan, dst MAKA TIDAK BATAL menggerakkannya meski 3× berturut-turut asalkan dada atau telapak tangan sebagai organ pokok tidak ikut  bergerak.

*•⊰❁༄🕋 Syaikh Zainuddin Al Malibariy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Fathu Al Mu'in :

 لاتبطل بحركات خفيفة وإن كثرت وتوالت بل تكره ، كتحريك أصبع أو أصابع في حك أو سبحة مع قرار كفه أو جفن أو شفة أو ذكر أو لسان لأنها تابعة لمحالها المستقرة كالأصابع
[انظر كتاب فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين (هو شرح للمؤلف على كتابه هو المسمى قرة العين بمهمات الدين) : ص ١٤٣ - ١٤٤ /  باب الصلاة / فصل في مبطلات الصلاة / للإمام زين الدين أحمد بن عبد العزيز بن زين الدين بن علي بن أحمد المعبري المليباري الهندي الشافعي (ت ٩٨٧هـ) / الناشر: دار بن حزم، الطبعة: الأولى - بدون السنة].

“TIDAK BATAL SHALAT AKIBAT GERAKAN-GERAKAN RINGAN MESKIPUN BANYAK DAN BERULANG-ULANG, TETAPI HAL ITU HUKUMNYA MAKRUH seperti gerakan jari saat menggaruk dengan syarat telapak tangannya tetap (tidak ikut bergerak) atau gerakan pelupuk mata, bibir, DZAKAR (batang penis) atau lisan (lidah) karena kesemua itu masih menempel pada tempat pokoknya yang diam dan kokoh seperti halnya jari-jemari”.
[Lihat Kitab Fathu  Al-Mu’in BI Syarhi  Qurrat Al-‘Aini Bi Hummat Al-Din : Hal 143 - 144. Cet. Pertama Dar ibn Hazm - Tnp. Tahun].

*•⊰❁༄🕋Syaikh An  Nawawiy Al-Bantaniy Al Jawiy Al Indonisisiy Asy Syafi'iy  menjelaskan :

 اما الحركة القليلة، كحرتين، فلا تبطل الصلاة بها، سواء كان عمدا او سهوا، مالم يقصد بها اللعب، فإن قصد بها ذالك، كأن قام أُصبعَه الوسطى في صلاته لشخص لاعبا معه بطلت صلاته

 “Adapun gerakan sedikit saja, seperti dua gerakan, maka tidak menjadikan shalat batal baik dilakukan secara sengaja atau karena lupa, dengan catatatan tidak ada tujuan bermain-main. Apabila seseorang sengaja menggerakkan anggota badannya dengan tujuan main-main, misalnya mengacungkan jari tengahnya di dalam shalatnya kepada orang lain dengan maksud main-main atau bercanda maka shalatnya batal.
[Lihat Kitab Kasyifatu As Saja Syarhu Safinati As Saja : Hal 31. Cet. Pertama Dar ibn Hazm: Th. 2011. Karya Syaikh Muhammad Bin 'Umar Nawawiy Al Bantaniy Al Jawiy Al Indonisisiy Asy Syafi'iy].

*•⊰❁༄🕋Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Al Makkiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Tuhfatu Al Muhtaj Fi Syarhi Al Minhaj :

(لَا) الْفِعْلِ الْمُلْحَقِ بِالْقَلِيلِ نَحْوُ (الْحَرَكَاتِ الْخَفِيفَةِ الْمُتَوَالِيَةِ كَتَحْرِيكِ أَصَابِعِهِ) مَعَ قَرَارِ كَفِّهِ (فِي سُبْحَةٍ أَوْ حَكٍّ فِي الْأَصَحِّ) وَمِثْلُهَا تَحْرِيكُ نَحْوِ جَفْنِهِ أَوْ شَفَتِهِ أَوْ لِسَانِهِ أَوْ ذَكَرِهِ أَوْ أُذُنِهِ عَلَى الْأَوْجَهِ مِنْ اضْطِرَابٍ فِي ذَلِكَ لِأَنَّهَا تَابِعَةٌ لِمَحَالِّهَا الْمُسْتَقِرَّةِ كَالْأَصَابِعِ فِيمَا ذَكَرَ
[انظر كتاب تحفة المحتاج في شرح المنهاج : ج ٢ ص ١٥٤ / كتاب الصلاة / فصل في ذكر مبطلات الصلاة وسننها ومكروهاتها / للامام أحمد بن محمد بن علي بن حجر الهيتمي المكي الشافعي / الناشر: المكتبة التجارية الكبرى بمصر لصاحبها مصطفى محمد - عام النشر: ١٣٥٧ هـ - ١٩٨٣ مـ].

(Bukan) aktifitas yang  melekat dengan pekerjaan yang sedikit, semisal gerakan-gerakan yang  (ringan, yang  berurutan seperti menggerakkan jari-jarinya) bersamaan dengan tetap diam tidak bergerak telapak tangannya (dalam rosario (aktifitas ringan) atau menggaruk menurut pendapat yang paling benar dan mirip dengan itu bergerak pada kelopak matanya, bibir, lidah, ALAT KELAMIN, atau telinga dalam aspek gangguan karena mereka bergantung pada posisi stabilnya, sebagaimana disebutkan di atas
[Lihat Kitab Tuhfatu Al Muhtaj Fi Syarhi Al Minhaj : Juz 2 Hal 154. Karya Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Al Makkiy Asy Syafi'iy].

*•⊰❁༄🕋Imam Syihabuddin Ar Ramliy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Fathu Ar Rahman Bisyarhi Zaid Ibni Ruslan :

واحترز بقوله: (موالاة) عن الأفعال المتفرقة، فإنها لا تؤثر كما لو خطا خطوة، ثم بعد زمان خطا أخري وهلم جرا، لما مر في خبر أمامة، وحد التفريق: أن يعد الثاني منقطعا عن الأول عرفا، ولو نوى فعلات متوالية وفعل واحدة .. بطلت صلاته.وخرج بقوله: (مثل موالاة ثلاث خطو) الحركات الخفيفة المتوالية، كتحريك أجفانه، أو أصابعه في سبحة أو حك أو عد، أى: مع قرار اليد في محل واحد، فإنها لا تؤثر، لأنها لا تخل بنظم الصلاة، بخلاف ما إذا حرك اليد ثلاثا .. فإنها تبطل به، إلا أن يكون به حكة لا يمكنه الصبر عنها، ذكره القاضي والخوارزمي، ومد اليد وجذبها مرة واحدة، وكذا رفعها عن الصدر ووضعها في محل الحك.
[انظر كتاب فتح الرحمن بشرح زبد ابن رسلان : ص ٣٢٤ / كتاب الصلاة / للامام  شهاب الدين أبو العباس أحمد بن أحمد بن حمزة الرملي الشافعي (ت ٩٥٧ هـ) / الناشر: دار المنهاج، بيروت - لبنان، الطبعة: الأولى، ١٤٣٠ هـ - ٢٠٠٩ مـ].

Dan dia berhati-hati dengan mengatakan: (kontinuitas) tentang perbuatan-perbuatan yang terpisah, karena tidak mempengaruhi seolah-olah dia melangkah, lalu setelah beberapa waktu melakukan kesalahan lagi dan seterusnya, karena hal itu disampaikan dalam berita Imamah, dan dia menetapkan pemisahan: bahwa yang kedua dianggap terputus dari yang pertama oleh kebiasaan, bahkan jika dia bermaksud tindakan berturut-turut dan melakukan satu.Doanya dibatalkan, dan dia keluar dengan mengatakan: (Seperti kontinuitas tiga langkah) gerakan ringan, berturut-turut, seperti itu seperti menggerakkan kelopak matanya, atau jari-jarinya di tasbih, menggosok, atau menghitung, artinya: dengan tangan bertumpu pada satu tempat, tidak mempengaruhinya, karena tidak mengganggu tata cara sholat, tidak seperti jika dia menggerakkan tangan tiga kali.. itu membatalkannya, kecuali dia memiliki gatal yang tidak bisa dia sabar. Al-Qadi dan Al-Khawarizmi menyebutkannya, dan dia mengulurkan tangan dan menariknya sekali, serta mengangkatnya dari dada dan menempatkannya itu di tempat yang gatal.
[Lihat Kitab Fathu Ar Rahman Bisyarhi Zaid Ibni Ruslan : Hal 324. Karya Imam Syihabuddin Ar Ramliy Asy Syafi'iy].

*•⊰❁༄🕋Dijelaskan dalam kitab Safinatun Naja karangan Syekh Salim Ibn Sumai Al-Hadrami dalam bab hal-hal yang membatalkan shalat:

(فصل) تبطل الصلاة بأربع عشرة خصلة: بالحدث، وبوقوع النجاسة إن لم تلق حالا من غير حمل، وانكشاف العورة إن لم تستر حالا، والنطق بحرفين أو حرف مفھم عمدا، وبالمفطر عمدا، والأكل الكثير ناسيا، أوثلاث حركات متواليات ولو سھوا، والوثبة الفاحشة والضربة المفرطة، وزيادة ركن فعلي عمدا، والتقدم على إمامه بركنين فعليين، والتخلف بھما بغيرعذر، ونية قطع الصلاة وتعليق قطعھا بشيء، والتردد في قطعھا

Pasal: hal-hal yang membatalkan shalat ada 14:

1. Berhadats (seperti kencing dan buang air besar)

2. Terkena najis, jika tidak dihilangkan seketika, tanpa dipegang atau diangkat (dengan tangan atau selainnya).

3. Aurat terbuka kecuali bila langsung ditutup.

4. Mengucapkan dua huruf atau satu huruf yang dapat difahami

5. Mengerjakan sesuatu yang membatalkan puasa dengan sengaja

6. Makan yang banyak sekalipun lupa

7. Bergerak dengan tiga gerakan berturut-turut sekalipun lupa

8. Melompat yang luas

9. Memukul yang keras

10. Menambah rukun yang bersifat fi’liyah secara sengaja

11. Mendahului imamnya dengan 2 rukun yang bersifat fi’liyah

12. Tertinggal imam dengan dua rukun yang bersifat fi’liyah tanpa adanya udzur

13. Niat membatalkan dan menggantungkan sholat karena suatu hal (misal, niat jika turun hujan akan membatalkan sholat) dan

14. Mensyaratkan berhenti sholat dengan sesuatu dan ragu dalam memberhentikannya.
[Lihat Kitab Safinatun Naja. Karya Syaikh Salim Ibn Sumai Al-Hadramiy Asy Syafi'iy].

*•⊰❁༄🕋Dalam kitab Fathul Qorib dijelaskan bahwa salah satu hal yang membatalkan shalat adalah gerakan yang dilakukan secara terus menerus:

(والعمل الكثير)
المتوالي كثلاث خطوات عمداً كان ذلك أو سهواً، أما العمل القليل فلا تبطل الصلاة به
[انظر كتاب فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب = القول المختار في شرح غاية الاختصار (ويعرف بشرح ابن قاسم على متن أبي شجاع) : ص ٨٥ / كتاب أحكام الصلاة / مبطلات الصلاة / للامام محمد بن قاسم بن محمد بن محمد، أبو عبد الله، شمس الدين الغزي، ويعرف بابن قاسم وبابن الغرابيلي الشافعي (ت ٩١٨هـ) / الناشر: الجفان والجابي للطباعة والنشر، دار ابن حزم بيروت - لبنان، الطبعة: الأولى، ١٤٢٥ هـ - ٢٠٠٥ مـ].

"Gerakan yang banyak dan terus menerus seperti tiga jangkahan, dengan sengaja ataupun lupa. Sedangkan gerakan badan yang sedikit, maka tidak sampai membatalkan sholat"
[Lihat Kitab Fathu Al Qarib Al Mujib : Hal 85. Karya Muhammad Bin Qasim Al Ghaziy Asy Syafi'iy].

Dari kedua kitab tersebut dijelaskan salah satu dari hal yang membatalkan shalat adalah bergerak dengan 3  gerakan berturut-turut. Maksudnya dalam pandangan ulama Madzhab Syafi'i adalah ketika kita menggerakan anggota tubuh kita sebanyak 3 kali secara beriringan serta tanpa jeda yang cukup lama.

Adapun Batasan Dianggap Terputus Dengan Seukuran 1 Rakaat

*•⊰❁༄🕋 Tersebut Dalam Kitab Raudhah Ath-Thalibin WA ‘Umdah Al-Muftin:

 وحد التفريق أن يعد الثاني منقطعا عن الأول وقال في التهذيب عندي أن يكون بينهما قدر ركعة

“Batasan suatu gerakan dianggap terpisah adalah saat gerakan kedua dianggap terputus dari gerakan pertama. Imam al-Baghawi berkata dalam kitab at-Tahdzib, ‘Menurutku (dua gerakan dianggap terputus itu) sekiranya di antara kedua gerakan berjarak sekitar satu rakaat.”  
[Lihat Kitab Raudhah at-Thalibien wa ‘Umdah al-Muftin, juz 1, hal. 108. Karya Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy].

*•⊰❁༄🕋Imam Zakariyya Yahya Al Anshariy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan :

وَحَكِّهِ) بَدَنَهُ لِجَرَبٍ، أَوْ نَحْوِهِ (بِأَصَابِعَ) فِي الصُّوَرِ الْأَرْبَعِ (لَمْ يَضُرَّ) ؛ لِأَنَّهَا لَا تُخِلُّ بِالصَّلَاةِ (وَ) ، لَكِنْ (الْأَوْلَى تَرْكُهُ) أَيْ مَا ذُكِرَ مِنْ الْفِعْلَاتِ الْخَفِيفَةِ. ..(إلى أن قال)...

فَإِنْ كَانَ لِجَرَبٍ لَا يُمْكِنُهُ الصَّبْرُ عَنْهُ لَمْ تَبْطُلْ اهـ وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ إطْلَاقُ الْبَغَوِيّ أَنَّ الْحَكَّ ثَلَاثًا مُبْطِلٌ
[انظر كتاب أسنى المطالب في شرح روض الطالب : ج ١ ص ١٨٣ / الباب الخامس في شروط الصلاة وموانعها / الشرط السابع ترك الأفعال الكثيرة / للإمام زكريا بن محمد بن زكريا الأنصاري، زين الدين أبو يحيى السنيكي الشافعي (ت ٩٢٦هـ) / الناشر: دار الكتاب الإسلامي - بدون السنة].

DAN menggaruk) tubuhnya untuk kudis, atau sejenisnya (dengan jari) pada empat gambaran  (tidak berpengaruh); Karena tidak mematahkan shalat (akan), tetapi (yang lebih utama adalah meninggalkannya), yaitu sesuatu yang disebutkan dari   perbuatan-perbuatan yang ringan... (sampai ia berkata)...

Jika karena gatal yang tidak dapat ia tahan, maka hal itu TIDAK BATAL. Selesai. Dan berdasarkan hal tersebut, istilah Imam Al Baghawiy berarti menggaruk  sebanyak 3 kali adalah MEMBATALKAN SHALAT.
[Lihat Kitab Asna Al Mathalib Fi Syarhi Raudl Ath Thalib : Juz 1 Hal 183. Karya Imam Zakariyya Yahya Al Anshariy Asy Syafi'iy].

*•⊰❁༄🕋PERINCIAN TENTANG PENGHITUNGAN JUMLAH GERAKAN DALAM SHALAT, misalnya seperti yang dijelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in:

 وإمرار اليد وردها على التوالي بالحك مرة واحدة، وكذا رفعها عن صدره ووضعها على موضع الحك مرة واحدة أي إن اتصل أحدهما بالآخر، وإلا فكل مرة، على ما استظهره شيخنا.
[انظر كتاب فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين (هو شرح للمؤلف على كتابه هو المسمى قرة العين بمهمات الدين) : ص ١٤٤ /  باب الصلاة / فصل في مبطلات الصلاة / للامام  زين الدين أحمد بن عبد العزيز بن زين الدين بن علي بن أحمد المعبري المليباري الهندي الشافعي (ت ٩٨٧هـ) / الناشر: دار بن حزم، الطبعة: الأولى - بدون السنة].

“Menggerakkan tangan dan mengembalikannya secara beriringan dihitung satu hitungan, begitu juga mengangkat tangan dari dada dan meletakkan tangan di tempat menggaruk dihitung satu hitungan jika dilaksanakan secara langsung (ittishal), jika tidak langsung maka setiap jeda dihitung satu kali hitungan. Ketentuan ini berdasarkan penjelasan yang dijelaskan oleh guruku (Imam Ibnu Hajar).”
[Lihat Kitab Fathu Al Mu'n : Hal 144. Karya Syaikh Zainuddin Al-Malibariy Asy Syafi'iy].

*•⊰❁༄🕋NAMUN DEMIKIAN, KETENTUAN DI ATAS TIDAK BERLAKU BAGI GERAKAN-GERAKAN KECIL, seperti gerakan Jari-jari, bibir dan lidah. Sehingga, menggaruk dengan jari-jari pada bagian tubuh yang gatal walaupun dilakukan berulang-ulang dan lebih dari hitungan 3  kali tetap dianggap SEBAGAI HAL YANG DIPERBOLEHKAN dan TIDAK MEMBATALKAN SHALAT, selama telapak tangan tidak ikut bergerak. Hanya saja menggerakkan jari-jari dengan jumlah yang banyak ini dihukumi MAKRUH. Seperti yang dijelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in:

 لا ( تبطل ) بحركات خفيفة ( وإن كثرت وتوالت، بل تكره، ) كتحريك ( أصبع أو ) أصابع ( في حك أو سبحة مع قرار كفه، ) أو جفن ( أو شفة أو ذكر أو لسان، لانها تابعة لمحالها المستقرة كالاصابع
[انظر كتاب فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين (هو شرح للمؤلف على كتابه هو المسمى قرة العين بمهمات الدين) : ص ١٤٤ /  باب الصلاة / فصل في مبطلات الصلاة / للامام  زين الدين أحمد بن عبد العزيز بن زين الدين بن علي بن أحمد المعبري المليباري الهندي الشافعي (ت ٩٨٧هـ) / الناشر: دار بن حزم، الطبعة: الأولى - بدون السنة].

“(Shalat) tidak batal dengan gerakan yang ringan, meskipun dalam jumlah yang banyak dan dilakukan beriringan, hanya saja dihukumi makruh. Seperti menggerakkan satu jari atau beberapa jari untuk menggaruk (kulit) atau bertasbih besertaan tetapnya (tidak bergeraknya) telapak tangan. Atau bergeraknya pelupuk mata, bibir, DZAKAR (BATANG PENIS) dan lisan, karena bagian tubuh tersebut mengikuti terhadap tempat menetapnya, seperti jari-jari (mengikuti tangan).”
[Lihat Kitab Fathu Al Mu'n : Hal 144. Karya Syaikh Zainuddin Al-Malibariy Asy Syafi'iy].

*•⊰❁༄🕋BAGAIMANA JIKA RASA GATAL SULIT UNTUK DITAHAN DAN MEMBUTUHKAN GARUKAN LEWAT GERAKAN TELAPAK TANGAn LEBIH DARI TIGA KALI? Ukuran "sulit ditahan" di sini menurut adat alias umumnya masyarakat. Dalam keadaan demikian gerakan telapak tangan dalam jumlah yang banyak dianggap sebagai hal yang dimaafkan (ma’fû) dan tidak membatalkan shalat. Kondisi tersebut masuk masuk kategori darurat. Berbeda halnya ketika rasa gatal masih bisa ditahan, maka dalam keadaan tersebut cukup dengan gerakan jari-jari saja, tanpa perlu menggerakkan telapak tangan dalam jumlah yang banyak. Hal yang sama juga berlaku ketika gerakan muncul secara refleks, tanpa disengaja, seperti gerakan-gerakan yang terjadi ketika sedang kedinginan atau ketika kaget. GERAKAN-GERAKAN INI PUN DIMAAFKAN dan TIDAK MEMBATALKAN SHALAT. Tentang hal ini Syekh Zainuddin Al-Malibariy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan:

 وخرج بالأصابع الكف، فتحريكها ثلاثا ولاء مبطل، إلا أن يكون به جرب لا يصبر معه عادة على عدم الحك فلا تبطل للضرورة. قال شيخنا: ويؤخذ منه أن من ابتلي بحركة اضطرارية ينشأ عنها عمل كثير سومح فيه.
[انظر كتاب فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين (هو شرح للمؤلف على كتابه هو المسمى قرة العين بمهمات الدين) : ص ١٤٤ /  باب الصلاة / فصل في مبطلات الصلاة / للامام  زين الدين أحمد بن عبد العزيز بن زين الدين بن علي بن أحمد المعبري المليباري الهندي الشافعي (ت ٩٨٧هـ) / الناشر: دار بن حزم، الطبعة: الأولى - بدون السنة].

 “Dikecualikan dengan perkataan ‘jari-jari’ yakni telapak tangan, maka menggerakkan telapak tangan tiga kali secara beriringan dapat membatalkan shalat, kecuali ketika seseorang merasa gatal-gatal yang tidak sabar secara adat untuk tidak menggaruknya, maka dalam keadaan demikian (menggerak-gerakkan telapak tangan) tidak membatalkan shalat karena dianggap darurat. Guruku (Ibnu Hajar al-Haitami) berkata: ‘Berdasarkan hal tersebut maka orang yang diberi cobaan berupa gerakan refleks (idtirari) yang memunculkan perbuatan yang banyak maka dianggap sebagai hal yang dimaafkan.”
[Lihat Kitab Fathu Al Mu'in : Hal 144. Karya Syaikh Zainuddin Al-Malibariy Asy Syafi'iy].

*•⊰❁༄🕋Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab :

أَنَّ الْفِعْلَ الَّذِي لَيْسَ مِنْ جِنْسِ الصَّلَاةِ إنْ كَانَ كَثِيرًا أَبْطَلَهَا بِلَا خِلَافٍ ، وَإِنْ كَانَ قَلِيلًا لَمْ يُبْطِلْهَا بِلَا خِلَافٍ ، هَذَا هُوَ الضَّابِطُ ، ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِي ضَبْطِ الْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ : ...(الى ان قال) ...

( وَالرَّابِعُ ) : وَهُوَ الصَّحِيحُ الْمَشْهُورُ - وَبِهِ قَطَعَ الْمُصَنِّفُ وَالْجُمْهُورُ - أَنَّ الرُّجُوعَ فِيهِ إلَى الْعَادَةِ فَلَا يَضُرُّ مَا يَعُدُّهُ النَّاسُ قَلِيلًا كَالْإِشَارَةِ بِرَدِّ السَّلَامِ ، وَخَلْعِ النَّعْلِ وَرَفْعِ الْعِمَامَةِ وَوَضْعِهَا ، وَلِبْسِ ثَوْبٍ خَفِيفٍ وَنَزْعِهِ ، وَحَمْلِ صَغِيرٍ وَوَضْعِهِ وَدَفْعِ مَارٍّ وَدَلْكِ الْبُصَاقِ فِي ثَوْبِهِ ، وَأَشْبَاهِ هَذَا .

وَأَمَّا مَا عَدَّهُ النَّاسُ كَثِيرًا كَخُطُوَاتٍ كَثِيرَةٍ مُتَوَالِيَةٍ ، وَفَعَلَاتٍ مُتَتَابِعَةٍ فَتُبْطِلُ الصَّلَاةَ ... (الى ان قال) ...

فَأَمَّا الْحَرَكَاتُ الْخَفِيفَةُ كَتَحْرِيكِ الْأَصَابِعِ فِي سُبْحَةٍ أَوْ حَكَّةٍ أَوْ حَلٍّ وَعَقْدٍ ... (الى ان قال)...

وَهُوَ الصَّحِيحُ الْمَشْهُورُ وَبِهِ قَطَعَ جَمَاعَةٌ لَا تَبْطُلُ وَإِنْ كَثُرَتْ مُتَوَالِيَةً لَكِنْ يُكْرَهُ
[انظر كتاب المجموع شرح المهذب : ج ٤ ص ٩٣ - ٩٤ / كتاب الصلاة / مسائل تتعلق بالكلام في الصلاة / للإمام أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي (ت ٦٧٦ هـ) / الناشر: (إدارة الطباعة المنيرية، مطبعة التضامن الأخوي) - القاهرة، عام النشر:١٣٤٤ - ١٣٤٧ هـ].

Amal yang tidak termasuk dalam jenis shalat, JIKA BANYAK MAKA MEMBATALKANNYA tanpa perselisihan, dan JIKA SEDIKIT, TIDAK MEMBATALKANNYA tanpa perselisihan. Kemudian mereka berbeda dalam menentukan sedikit dan banyaknya atas  empat aspek: ... (sampai dia berkata) ...

(Dan yang keempat): Ini adalah yang terkenal benar - dan penulis dan ulama jumhur telah menentukannya - bahwa kembali ke adat kebiasaan di dalamnya tidak merusak apa yang telah dijadikan kebiasaan orang pada hal yang terhitung sedikit : seperti memberi isyarat untuk membalas salam, melepas sepatu, mengangkat dan mengenakan serban, memakai sandal dan melepasnya, membawa anak kecil dan meletakkannya, mendorong orang yang lewat, menggosok ludahnya ke pakaian dan semacam itu. selesai.

Adapun gerakan-gerakan ringan, seperti menggerakkan jari-jari dalam tasbih, menggaruk karena gatal-gatal, membeberkan atau menggenggamkan jari-jarinya, MAKA SAH-SAH SAJA SHALATNYA tidak batal karenanya, meskipun banyak secara berurutan, TETAPI MAKRUH.
[lihat Kitab Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab :

*•⊰❁༄🕋Imam Al Imraniy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Bayan :

وإنْ عمِل في الصلاة عملًا ليس من جنسها.. نظرت: فإنْ كان قليلًا، مثل: دفع المارِّ بين يديه، وفتح الباب، وخلْع النعل، وإصلاح الرداء عليه، والحمْل، أو الوضع، أو الإشارة، وما أشبهَ ذلك.. لم تبطلْ صلاته؛ ل-:«أنَّ النبي صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أمَر المصلِّي بدفع المارِّ بين يديه»، و: «خلَع نَعليهِ في الصَّلاةِ»، و:«حمَلَ ابنةَ ابنتِه، وهي أمامةُ بنتُ أبي العاص، وهو يُصلِّي، فكان إذا سجَد.. وضعَها, وإذا قام.. رفعَها»، و:«سلَّم عليه الأنصارُ وهو يصلِّي، فردَّ عليهم بالإشارةِ»، وهو إجماعٌ لا خلافَ فيه، ولأنَّ المصلِّي لا يخلو من عملٍ قليلٍ؛ فعُفي عنه.
[انظر كتاب البيان في مذهب الإمام الشافعي : ج ٢ ص ٣١٥ /  باب ما يفسد الصلاة ويكره فيها / مسألة العمل اليسير في الصلاة / للامام أبو الحسين يحيى بن أبي الخير بن سالم العمراني اليمني الشافعي (ت ٥٥٨هـ) / الناشر: دار المنهاج - جدة في الطبعة: الأولى، ١٤٢١ هـ- ٢٠٠٠ مـ].

Dan jika dia melakukan perbuatan yang tidak termasuk perbuatan shalat.. maka dilihat: jika itu sedikit, seperti: mendorong orang yang lewat di depannya, membuka pintu, melepas sepatu, membetulkan jubah membawa, menaruh, memakai, atau menunjuk, dan sejenisnya.. MAKA  SHALATNYA TIDAK BATAL; Karena sesungguhnya -: "Nabi ﷺ, memerintahkan jamaah untuk mendorong orang yang lewat di depannya," dan: "Beliau melepas sepatunya dalam shalat." Dan: "Beliau  membawa putra putrinya, dan dia adalah Umamah binti Abi Al-'Ash, saat beliau sedang sholat. Ketika beliau sedang  berdiri.. beliau  mengangkatnya. "Dan:" Orang Ansar mengucap salam kepada beliau saat beliau sedang shalat, dan beliau menjawab mereka dengan isyarat. ” Ini adalah kesepakatan bulat di mana tidak ada perselisihan, dan karena orang yang shalat tidak sepi dari gerakan yang sedikit; jadi diampuni)
[Lihat Kitab Al Bayan Fi Fiqhi Al Imam Asy Syafi'iy; Juz 2 Hal 315. Karya Imam Abul Husain Yahya Al 'Imraniy Al Yamaniy Asy Syafi'iy].

*•⊰❁༄🕋Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab ;

فَإِنْ سَبَقَ لِسَانُهُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ إلَى الْكَلَامِ أَوْ غَلَبَهُ الضَّحِكُ [ وَلَمْ يُطِلْ ] لَمْ تَبْطُلْ ; لِأَنَّهُ غَيْرُ مُفْرِطٍ فِيهِ فَهُوَ كَالنَّاسِي وَالْجَاهِلِ .

وَإِنْ أَطَالَ الْكَلَامَ وَهُوَ نَاسٍ أَوْ جَاهِلٌ بِالتَّحْرِيمِ أَوْ مَغْلُوبٌ فَفِيهِ وَجْهَانِ الْمَنْصُوصُ فِي الْبُوَيْطِيِّ : إنَّ صَلَاتَهُ تَبْطُلُ ; لِأَنَّ كَلَامَ النَّاسِي وَالْجَاهِلِ وَالْمَغْلُوبِ كَالْعَمَلِ الْقَلِيلِ إذَا كَثُرَ أَبْطَلَ الصَّلَاةَ فَكَذَلِكَ الْكَلَامُ ،

وَمِنْ أَصْحَابِنَا مَنْ قَالَ : لَا تَبْطُلُ كَأَكْلِ النَّاسِي لَا يُبْطِلُ الصَّوْمَ قَلَّ أَوْ كَثُرَ ، وَإِنْ تَنَحْنَحَ أَوْ تَنَفَّسَ أَوْ نَفَخَ أَوْ بَكَى أَوْ تَبَسَّمَ عَامِدًا ، وَلَمْ يَبِنْ مِنْهُ حَرْفَانِ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ
[انظر كتاب المجموع شرح المهذب : ج ٤ ص ٧٨ /  كتاب الصلاة باب ما يفسد الصلاة ويكره فيها / للامام أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي (ت ٦٧٦ هـ) / الناشر: (إدارة الطباعة المنيرية، مطبعة التضامن الأخوي) - القاهرة، عام النشر:١٣٤٤ - ١٣٤٧ هـ].

Apabila lidahnya tidak sengaja keceplosan tanpa sengaja berbucaara atau tidak tertahan untuk tertawa, MAKA TIDAK BATAL karena dia tidak berlebihan di dalamnya, dia digambarkan seperti orang yang lupa dan orang yang bodoh, dan apabila ia berucap banyak baik karena lupa atau tidak tahu menahu dengan keharamannya atau terpaksa, maka  didalamnya ada tercatat dua aspek seperti didalam Al Buwaithiy :  (pertama) SHALATNYA BATAL karena hal itu merupakan ucapan orang yang lupa dan orang yang bodoh, dan terpaksa, diibaratkan seperti berbuat yang sedikit, kemudian perbuatan sedikit tersebut jikalau  menjadi banyak, MAKA MEMBATALKAN SHALAT, begitu juga  seperti ucapan

Dan sebagian sahabat kami (Syafi'iyyah) ada yang berpendapat : TIDAK MEMBATALKANNYA, sebagaimana orang yang terlupa makan tidak membatalkan puasa, baik sedikit maupun banyak, dan jika ia berdehem,  bernafas, meniup, menangis, atau tersenyum dengan sengaja, dan tidak jelas keluar darinya 2 huruf,  MAKA SHALATNYA TIDAK BATAL.”
[Lihat Kitab Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab : Juz 4 Hal 78. Karya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy].

*•⊰❁༄🕋Imam Syamsuddin Ar Ramliy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Nihayatu Al Muhtaj :

ويُنظر: ((نهاية المحتاج)) للرملي (2/37).

*•⊰❁༄🕋DAPAT DISIMPULKAN bahwa menggerakkan jari-jari untuk menggaruk bagian tubuh yang gatal dapat dilakukan dalam jumlah gerakan yang banyak selama telapak tangan (sebagai organ pokok)  seseorang tidak ikut bergerak, hanya saja hal tersebut dihukumi MAKRUH. Sedangkan menggerakkan telapak tangan lebih dari 3 kali  dianggap sebagai hal yang DIMAAFKAN dalam shalat, ketika dilaksanakan untuk menggaruk bagian tubuh yang sudah tidak bisa ditahan lagi secara adat (urf, pandangan umum masyarakat).

2]• ─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫MADZHAB HANAFIYYAH

*•⊰❁༄🕋Imam Burhanuddin Ibnu Mazah Al Hanafiyenjelaskan dalam kitabnya Al Muhith Al Burhaniy Fi Al Fiqhi An Nu'maniy :

المصلي إذا نظر إلى فرج امرأته المطلقة طلاقاً رجعياً بشهوة يصير مراجعاً، وهل تفسد صلاته؟ حكى الناطفي في «أجناسه» : أن على قول أبي حنيفة وأبي يوسف: تفسد صلاته، ...(الى ان قال) ...

وقال أبو حنيفة رحمه الله: المصلي إذا نظر إلى فرج المرأة بشهوة لا تفسد صلاته ويحرم عليه أمها وابنتها وهو قول محمد، وقال أبو يوسف في صلاة ... لا تفسد صلاته،
[انظر كتاب المحيط البرهاني في الفقه النعماني: فقه الإمام أبي حنيفة رضي الله عنه : ج ١ ص ٣٩٩ / كتاب الصلاة / الفصل السادس عشر في التغني والألحان / للإمام  ¹برهان الدين أبو المعالي محمود بن أحمد بن عبد العزيز بن عمر بن مَازَةَ البخاري الحنفي (ت ٦١٦ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية، بيروت - لبنان، الطبعة: الأولى، ١٤٢٤ هـ - ٢٠٠٤ مـ].

Jika seseorang yang  sedang shalat melihat kemaluan istrinya yang diceraikan dengan talak raj'i,  DENGAN SYAHWAT, maka dia menjadi orang yang meruju', dan apakah shalatnya batal? Al-Nathifi mengatakan dalam kitab "al-Ajnaas" -nya: Menurut perkataan Abu Hanifah dan Abu Yusuf: SHALATNYA BATAL, ... (sampai dia berkata) ..

Dan Abu Hanifah, semoga Tuhan mengasihani dia, berkata: Jika seseorang yang sedang shalat MELIHAT VAGINA WANITA DENGAN NAFSU, maka SHALATNYA TIDAK BATAL,  dan ibu serta putrinya diharamkan  baginya, dan itu juga  merupakan perkataan Muhammad... dan Abu Yusuf berkata : dalam shalat ... TIDAK BATAL SHALATNYA.
[Lihat Kitab Al Muhith Al Burhaniy Fi Al Fiqhi An Nu'maniy : Juz 1 Hal 399. Karya Imam Burhanuddin Ibnu Mazah Al Hanafiy].

*•⊰❁༄🕋Imam Az Zaila'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Tabyiinu Al Haqaiq :

وَيُكْرَهُ أَنْ يُرَوِّحَ عَلَى نَفْسِهِ بِمِرْوَحَةِ أَوْ بِكُمِّهِ. وَلَا تَفْسُدُ بِهِ الصَّلَاةُ مَا لَمْ يَكْثُرْ؛ لِأَنَّ الْعَمَلَ الْقَلِيلَ غَيْرُ مُفْسِدٍ اتِّفَاقًا وَالْكَثِيرَ مُفْسِدٌ
[انظر كتاب تبيين الحقائق شرح كنز الدقائق وحاشية الشِّلْبِيِّ : ج ١ ص ١٦٤ - ١٦٥ /   [كتاب الصلاة / باب ما يفسد الصلاة وما يكره فيها / للإمام عثمان بن علي الزيلعي الحنفي / الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية - بولاق، القاهرة، الطبعة: الأولى، ١٣١٤ هـ].

Dan MAKRUH apabila mengipasi dirinya  dengan semacam kipas angin atau dengan lengan bajunya. Shalatnya tidak batal karenanya, SELAMA GERAKKANNYA TIDAK BANYAK. Karena perbuatan yang sedikit tidak merusak shalat menurut kesepakatan, dan bergerak banyak yang merusak.
[Lihat Kitab Tabyinu Al Haqaiq Syarhu Kanzu Ad Daqaiq Wa Hasyiyyah Asy Syibliy : Juz 1 Hal 164 - 165. Karya Imam  'Utsman Az Zaila'iy Al Hanafiy].

*•⊰❁༄🕋Imam Badruddin Al'Ainiy Al Hanafiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Banayah Syarhu Al Hidayah :

روى محمد بن الحسن عن أبي حنيفة أنه قال: إذا تروح مرتين لا تفسد، فإن زاد فسدت، وقليله لا يفسد، وذكر الأستاذ حسام الدين الشهيد، إذا حك موضعا من جسده ثلاث مرات بدفعة واحدة تفسد صلاته ...(الى ان قال)...

وعن أبي يوسف لو مسته امرأة بشهوة ولم تشتهه أو قبلت فمه ولم يقبلها لا تفسد صلاته، وفي " المرغيناني " ولو قبل امرأة لم يشتهها لا تفسد.
[انظر كتاب البناية شرح الهداية : ج ٢ ص ٤٤٩ /  [فصل في العوارض التي تكره في الصلاة / الأكل والشرب في الصلاة / للامام محمود بن أحمد بن موسى بن أحمد بن الحسين المعروف بـ «بدر الدين العينى» الحنفى (ت ٨٥٥ هـ)
الناشر: دار الكتب العلمية - بيروت، لبنان، الطبعة: الأولى، ١٤٢٠ هـ - ٢٠٠٠ مـ]

Muhammad bin Al-Hassan meriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa beliau berkata: Jika dia berkipas-kipas 2 kali, maka TIDAK BATAL SHALATNYA, dan jika bertambah, ITU BATAL, dan sedikit tidak batal, dan Al Ustadz Hissamuddin  Asy Syahid menyebutkan : jika dia menggaruk suatu tempat di tubuhnya 3  kali dalam sekali gebrakkan, maka shalatnya batal … (sampai dia berkata). ..

Dari Abu Yusuf (sahabat Imam Abu Hanifah): jika seorang wanita menyentuhnya dengan nafsu dan tidak menginginkannya, atau mencium mulutnya dan dia tidak menciumnya, maka shalatnya tidak batal.

Dan dalam “Al-Marghinani” bahkan jika dia mencium seorang wanita yang tidak dia inginkan, itu tidak membatalkan shalatnya.
[Lihat Kitab Al Banayah Syarhu Al Hidayah : Juz 2 Hal 449. Karya Imam Badruddin Al 'Ainiy Al Hanafiy].

3]• ─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫
MADZHAB MALIKIYYAH

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇Imam Ibnu Rusyd Al Malikiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Bidayatu Al Mujtahid :

وَاتَّفَقُوا فِيمَا أَحْسَبُ عَلَى جَوَازِ الْفِعْلِ الْخَفِيفِ.
[انظر كتاب بداية المجتهد ونهاية المقتصد : ج ١ ص ١٢٦ / الجملة الثانية في الشروط شروط الصلاة الباب السابع في معرفة التروك التي هي شروط في صحة الصلاة / للامام أبو الوليد محمد بن أحمد بن محمد بن أحمد بن رشد القرطبي الشهير بابن رشد الحفيد المالكي (ت ٥٩٥هـ) / الناشر: دار الحديث - القاهرة، تاريخ النشر: ١٤٢٥هـ - ٢٠٠٤ مـ].

Mereka setuju, menurut saya, tentang diperbolehkannya tindakan ringan.
[Lihat Kitab Bidayatu Al Mujtahid Wa Nihayatu Al Muqtashid : Juz 1 Hal 126. Karya Imam Ibnu Rusyd Al Malikiy].

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇Imam Ibnu Abdil Barr Al Malikiy rahimahullahu menjelaskan dalam kitabnya Al Istidzkar :

وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ (مِنْهُ إِلَّا) الْقَلِيلُ الَّذِي لَا يُخْرِجُ الْمُصَلِّيَ عَنْ عَمَلِ صَلَاتِهِ إِلَى غَيْرِهَا وَلَا يَشْتَغِلُ بِهِ عَنْهَا نَحْوَ حَكِّ الْجَسَدِ حَكًّا غَيْرَ طَوِيلٍ (وَأَخْذِ الْبَرْغُوثِ) وَقَتْلِ الْعَقْرَبِ بِمَا خَفَّ مِنَ الضَّرْبِ.
[انظر كتاب الاستذكار : ج ٢ ص ٢٧٤ / كتاب صلاة الجماعة / باب التشديد في أن يمر أحد بين يدي المصلي / للامام أبو عمر يوسف بن عبد الله بن محمد بن عبد البر بن عاصم النمري القرطبي المالكي (ت ٤٦٣هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية - بيروت الطبعة: الأولى، ١٤٢١ - ٢٠٠٠ مـ]

Dan para ulama telah sepakat bahwa tidak boleh darinya (kecuali gerakan yang) sedikit yang mushalli (orang yang shalat) tidak keluar dari pekerjaan shalatnya kepada hal-hal lain, dan tidak mengalihkan/menyibukkanya darinya, seperti menggaruk badan tanpa garukan yang lama, mengambil kutu,  membunuh kalajengking dengan pukulan yang lebih ringan.
[Lihat Kitab Al Istidzkar : Juz 2 Hal 274. Karya Imam Ibnu Abdil Barr Al Malikiy].

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇Imam Ibnu 'Irfah Ad Dasuqiy Al Malikiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitab Hasyiyyahnya :

(قَوْلُهُ وَلَا فِي حَكِّ جَسَدِهِ) أَيْ وَهُوَ جَائِزٌ إنْ كَانَ لِحَاجَةٍ وَقَلَّ وَقَوْلُهُ وَكُرِهَ لِغَيْرِ حَاجَةٍ أَيْ وَالْحَالُ أَنَّهُ قَلِيلٌ.(قَوْلُهُ فَإِنْ كَثُرَ) أَيْ الْحَكُّ مُطْلَقًا كَانَ لِحَاجَةٍ أَوْ لِغَيْرِهَا وَقَوْلُهُ وَلَوْ سَهْوًا أَيْ هَذَا إذَا كَانَ عَمْدًا بَلْ وَلَوْ كَانَ سَهْوًا أَبْطَلَ فَإِنْ تَوَسَّطَ أَبْطَلَ عَمْدُهُ وَسَجَدَ لِسَهْوِهِ
[انظر كتاب حاشية الدسوقي على الشرح الكبير : ج ١ ص ٢٨٥ /  باب في بيان أوقات الصلاة وما يتعلق بذلك من الأحكام / فصل حكم سجود السهو وما يتعلق به / للامام محمد بن أحمد بن عرفة الدسوقي المالكي (ت ١٢٣٠هـ) / الناشر: دار الفكر - بدون السنة].

(Perkataannya : dan tidak dengan menggaruk-garuk  badannya) yaitu dibolehkan jika ada kebutuhan, dan sedikit, ucapannya serta memakruhkannya tanpa adanya keperluan, artinya  keadaannya hanya sedikit (Perkataannya : “Jika terlalu banyak"), artinya menggaruk secara mutlak baik karena ada perlu atau karena alasan lain, dan perkataannya :  meskipun tidak sengaja, artinya ketika  itu disengaja, sebaliknya jika itu adalah kekhilafan, maka itu membatalkan, maka jika dia melakukan tengah-tengahnya, maka batal kesengajaannya dan sujud sahwi karena kelalaiannya.
[Lihat Kitab Hasyiyyah Ad Dasuqiy 'Ala Asy Syarhi Al Kabir : Juz 1 Hal 285. Karya Imam Ibnu 'Irfah Ad Dasuqiy Al Malikiy].

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇Imam Al Kharsyi Al Malikiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan :

 (قَوْلُهُ لَا لِزَوْجَةٍ وَأَمَةٍ إلَخْ) هَذَا إذَا تَحَقَّقَ حُصُولَ اللَّذَّةِ أَوْ الِاشْتِغَالِ الَّذِي تَفْسُدُ بِهِ الصَّلَاةُ سَوَاءٌ وَجَدَ غَيْرَهُنَّ أَمْ لَا وَإِنْ لَمْ يَتَحَقَّقْ ذَلِكَ بَلْ تَحَقَّقَ خِلَافَهُ أَوْ تَرَدَّدَ فِي ذَلِكَ فَإِنَّهُ يَسْتَنِدُ إلَيْهِنَّ وَيُصَلِّي وَلَا إعَادَةَ عَلَيْهِ وَجَدَ غَيْرَهُنَّ أَمْ لَا

وَالسُّرِّيَّةُ مِثْلُ الزَّوْجَةِ فَإِذَا عَلِمْت ذَلِكَ فَالْأُولَى حَذْفُ ذِكْرِ الزَّوْجَةِ وَالْأَمَةِ وَيَذْكُرُهُ عَلَى حِدَتِهِ بِتَفْصِيلِهِ الْمَذْكُورِ.
[انظر كتاب شرح الخرشي على مختصر خليل : ج ١ ص ٢٩٥ / فصل في فرائض الصلاة / فصل في بيان حكم القيام في الصلاة وبدله ومراتبهما / للإمام أبو عبد الله محمد الخرشي المالكي / الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية ببولاق مصر، الطبعة: الثانية، ١٣١٧ هـ].

(Perkataannya: tidak kepada istri dan budak perempuan, dsb), ini terjadi jika timbul ladzah/kesenangan atau keasyikan yang dengan itu bisa merusakkan shalatnya, baik dia menemukan mereka atau tidak, dan apabila semua itu tidak jelas, tetapi malah jelas menyelisihinya, maka dia harus bersandarkan kepada mereka, dan shalat tanpa adanya pengulangan atasnya baik menemukan mereka atau tidak.

Dan selir itu seperti  seperti seorang istri, dan jika dia mengetahuinya, maka lebih baik tidak menyebutkan istri dan budak perempuan, dan menyebutkannya secara terpisah dalam rincian tersebut di atas.
[Lihat Kitab Syarhu Al Kharsyi : Juz 1 Hal 295. Karya Imam Al Kharsyi Al Malikiy].

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇Imam Ibnu Juzay Al Malikiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Qawanin Al Fiqhiyyah :

فِي زِيَادَة الْفِعْل فَإِن كَانَ كثيرا جدا بطلت الصَّلَاة مُطلقًا وَلَو وَجب كَقَتل حَيَّة أَو عقرب وإنقاذ أعمى أَو نفس أَو مَال وحد الْكثير الَّذِي من جنس الصَّلَاة مثل الصَّلَاة وَقيل نصفهَا وَإِن كَانَ يَسِيرا جدا فمغتفر كابتلاع شَيْء بَين أَسْنَانه والتفاته وَلَو بِجَمِيعِ خَدّه إِلَّا أَن يستدبر الْقبْلَة وتحريك الْأَصَابِع لحكة وَمَا فَوق الْيَسِير إِن كَانَ من جنس فعل الصَّلَاة كسجدة أبطل عمده وَسجد لسَهْوه وَإِن كَانَ من غير جِنْسهَا اغتفر مَا كَانَ للضَّرُورَة كانفلات دَابَّة أَو مَشى لسترة أَو فُرْجَة وَفِي غير ذَلِك الْبطلَان فِي الْعمد وَالسُّجُود في السَّهْو
[انظر كتاب القوانين الفقهية : ص ٣٨ /  الباب الخامس في خصال الصلاة وفيه فرائض وسنن وفضائل ومفسدات ومكروهات وكل واحد منها عشرون / للامام أبو القاسم، محمد بن أحمد بن محمد بن عبد الله، ابن جزي الكلبي الغرناطي المالكي (ت ٧٤١هـ)].

Dalam menambah gerakkan, jika terlalu banyak MAKA BATAL SHALATNYA SECARA MUTLAK, meskipun gerakkan yang wajib, seperti membunuh ular atau kalajengking dan menyelamatkan orang buta atau jiwa atau uang.

Dan batas gerakan banyak dari jenis gerakan shalat yang sama dengan shalat, dan dikatakan bahwa separuhnya, JIKALAU  SANGAT SEDIKIT, MAKA DIAMPUNI, seperti menelan sesuatu di antara giginya, menolehnya,  walaupun dengan segenap pipinya,  kecuali apabila menoleh ke hingga membelakangi arah kiblat, menggerakkan jari-jari karena gatal,

Dan gerakan yang melebihi sedikit, walaupun sama dengan gerakan shalat seperti sujud, MAKA  MEMBATALKAN SHALATYA DENGAN KESENGAJAANNYA, dan haru sujud sahwi karena kelalaiannya, dan jika gerakan itu bukan dari jenisnya, MAKA DIA DIAMPUNI, selama bukan karena kedaruratan, seperti berpalingnya binatang tunggangan, atau berjalan untuk menutupi aurat atau, untuk menutup shaf kosong, dan selain semua itu, ketidakabsahan menurut unsur  kesengajaan dan harus sujud sahwi dalam kelalaiannya.
[Lihat Kitab Al Qawanin Al Fiqhiyyah : Hal 38. Karya Imam Ibnu Juzay Al Malikiy].
 

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇Imam Muhammad 'Ulaisy Al Malikiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Manhu Al Jalil Syarhu Mukhtashar Khalil :

(وَ) كُرِهَ (رَفْعُهُ) أَيْ الْمُصَلِّي (رِجْلًا) بِكَسْرِ الرَّاءِ وَسُكُونِ الْجِيمِ عَنْ الْأَرْضِ إلَّا لِعُذْرٍ كَطُولِ قِيَامٍ (وَوَضْعُ قَدَمٍ عَلَى أُخْرَى) لِأَنَّهُ عَبَثٌ (وَإِقْرَانُهُمَا) أَيْ ضَمُّ الرِّجْلَيْنِ مَعًا كَالْمُقَيَّدِ سَوَاءٌ اعْتَمَدَ عَلَيْهِمَا مَعًا دَائِمًا أَوْ رَوَّحَ بِهِمَا بِأَنْ صَارَ يَعْتَمِدُ عَلَى هَذِهِ تَارَةً وَعَلَى هَذِهِ الْأُخْرَى تَارَةً أُخْرَى أَوْ اعْتَمَدَ عَلَيْهِمَا مَعًا لَا دَائِمًا.
 [انظر كتاب منح الجليل شرح مختصر خليل : ج ١ ص ٢٧١ / باب في بيان أوقات الصلوات الخمس / فصل في فرائض الصلاة وسننها ومندوباتها ومكروهاتها / للامام محمد عليش المالكي / الناشر: دار الفكر - بيروت، الطبعة: الأولى،: ١٤٠٤ هـ - ١٩٨٤ مـ].

(Dan) dia membenci orang yang shalat  mengangkat kaki dari lantai kecuali karena ada udzur/alasan seperti karena berdirinya lama (dan meletakkan satu kaki di atas yang lain) karena itu adalah mengotak-atik/main-main (dan memasangkannya) yaitu menyatukan kedua kaki seperti rantai, apakah dia bertekanan dengan  keduanya lama, atau mengangin-anginkan keduanya dengan gambaran bertekanan dengan satu kaki pada suatu kesempatan dan bertekanan dengan kaki satunya pada kesempatan lainnya, atau bertekanan lama  dengan keduanya.
[Lihat Kitab Manhu Al Jalil Syarhu Mukhtashar Khalil : Juz 1 Hal 271. Karya Imam Muhammad 'Ulaisy Al Malikiy].

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇Adapun jika Qiyamu Dzakar (Tegang penisnya Kalau Wanita Mungkin Kalau Sedang Syahwat Yang Menonjol dari payudaranya  Bergerak²)  Karena Melihat Yang Menggairahkan Atau Berhayal Maka TIDAK MEMBATALKAN WUDLU'

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇Tersebut dalam kitab Hasiyyah Ash Shawiy 'Ala Asy Syarhu Ash Shaghir 'Ala Mukhtashar Khalil:

لَا بِلَذَّةٍ مِنْ نَظَرٍ أَوْ فِكْرٍ وَلَوْ أَنْعَظَ، وَلَا بِلَمْسِ صَغِيرَةٍ لَا تُشْتَهَى أَوْ بَهِيمَةٍ، هَذَا مُحْتَرَزُ مَا قَبْلَهُ أَيْ أَنَّ مُجَرَّدَ اللَّذَّةِ بِدُونِ لَمْسٍ لَا يَنْقُضُ الْوُضُوءَ، إنْ كَانَتْ بِسَبَبِ نَظَرٍ لِصُورَةٍ جَمِيلَةٍ أَوْ بِسَبَبِ فِكْرٍ وَلَوْ حَصَلَ لَهُ إنْعَاظٌ: وَهُوَ قِيَامُ الذَّكَرِ.
[انظر كتاب بلغة السالك لأقرب المسالك المعروف بحاشية الصاوي على الشرح الصغير (الشرح الصغير هو شرح الشيخ الدردير لكتابه المسمى أقرب المسالك لِمَذْهَبِ الْإِمَامِ مَالِكٍ) : ج ١ ص ١٤٤ / فصل في نواقض الوضوء / تنبيه لمس المحرم للذة / للامام أبو العباس أحمد بن محمد الخلوتي، الشهير بالصاوي المالكي (ت ١٢٤١هـ) / الناشر: دار المعارف - بدون السنة].

Bukan kenikmatan dari melihat atau berhayal, sekalipun  i'adz (penis tegang) terjadi padanya, dan bukan karena sebab meraba gadis cilik yang ia tidak tertarik, ataupun menyentuh binatang, ini menjaga perkara yang sebelumnya yakni kenikmatan belaka tanpa sentuhan, hal ini TIDAK MEMBATALKAN WUDLU' karena sebab melihat gambar yang molek atau sebab khayalan, walaupun i'adz (yakni penis menjadi berdiri  tegang).
[Lihat Kitab Hasyiyyah Ash Shawiy 'Ala Asy Syarhu Ash Shaghir 'Ala Mukhtashar Khalil : Juz 1 Hal 144. Karya Imam Ash Shawiy Al Malikiy].

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ Imam Al Kharsyi Al Malikiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Syarhu Mukhtashar Khalil :

(ص) وَلَا لِتَبَسُّمٍ (ش) أَيْ: لَا سُجُودَ فِيهِ سَوَاءٌ كَانَ عَمْدًا أَوْ سَهْوًا غَيْرَ أَنَّ الْعَمْدَ مَكْرُوهٌ؛ لِأَنَّ التَّبَسُّمَ حَرَكَةُ الشَّفَتَيْنِ فَهُوَ كَحَرَكَةِ الْأَجْفَانِ وَالْقَدَمَيْنِ وَعَرَّفَهُ بَعْضُهُمْ بِأَنَّهُ انْبِسَاطُ الْوَجْهِ وَاتِّسَاعُهُ مَعَ ظُهُورِ الْبُشْرَى مِنْ غَيْرِ صَؤتٕ  .انتهى.
[انظر كتاب شرح الخرشي على مختصر خليل : ج ١ ص ٣٢٥ / باب الوقت المختار / فصل حكم السهو وما يتعلق به / للإمام أبو عبد الله محمد الخرشي المالكي / الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية ببولاق مصر، الطبعة: الثانية، ١٣١٧ هـ].

Dan tidak untuk tersenyum. Artinya, tidak ada sujud sahwi  di dalamnya, baik disengaja maupun lalai, tetapi sengaja dibenci karena tersenyum adalah gerakan bibir, jadi seperti gerakan kelopak mata dan kaki, dan sebagian mendefinisikannya. sebagai kesederhanaan dan keluasan wajah dengan penampilan kabar baik tanpa suara.
[Lihat Kitab Syarhu Mukhtashar Khalil : Juz 1 Hal 325. Karya Imam Al Kharsyi Al Malikiy].

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ Syaikh DR. Yusuf Al Qardlowiy mengunggulkannya ia berkata :

أنه لا أثر للشهوة على الوضوء إلا إذا أنزل الإنسان مذيا أو منيا، أو أدخل ذكره في فرج زوجته ،

bahwa tidak ada pengaruh nafsu/syahwat terhadap wudhu kecuali seseorang mengeluarkan madzi atau air mani, atau memasukkan penisnya ke dalam vagina istrinya.

4]• ─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫
MADZHAB HANABILAH

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Kafi :

والكثير: ما زاد على ذلك مما عد كثيرًا في العرف؛ فيبطل الصلاة، إلا أن يفعله متفرقًا.
[انظر كتاب الكافي في فقه الإمام أحمد : ج ١ ص ٢٧٩ / كتاب الصلاة / باب سجود السهو / للإمام أبو محمد موفق الدين عبد الله بن أحمد بن محمد بن قدامة الجماعيلي المقدسي ثم الدمشقي الحنبلي، الشهير بابن قدامة المقدسي (ت ٦٢٠هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية، الطبعة: الأولى، ١٤١٤ هـ - ١٩٩٤ مـ].

Dan banyak: adalah apa yang lebih dari itu, yang dianggap banyak menurut adat kebiasaan umum, maka hal itu  MEMBATALKAN SHALAT, KECUALI MELAKUKANNYA SECARA TERPISAH.
[Lihat Kitab Al Kafi Fi Fiqhi Al Imam Ahmad : Juz 1 Hal 279. Karya Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy].

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Mughniy :

وَلَمْ أَرَ عَنْ أَحْمَدَ فِي التَّأَوُّهِ شَيْئًا، وَلَا فِي الْأَنِينِ، وَالْأَشْبَهُ بِأُصُولِنَا أَنَّهُ مَتَى فَعَلَهُ مُخْتَارًا أَفْسَدَ صَلَاتَهُ؛
[انظر كتاب المغني : ج ٢ ص ٤١ /  مسألة الإمام إذا تكلم لمصلحة الصلاة / فصل البكاء والتأوه والأنين في الصلاة / أبو محمد عبد الله بن أحمد بن محمد بن قدامة (٥٤١ - ٦٢٠ ه) على مختصر: أبي القاسم عمر بن حسين بن عبد الله بن أحمد الخرقي (المتوفى ٣٣٤ ه) / الناشر: مكتبة القاهرة، الطبعة: الأولى، (١٣٨٨ هـ = ١٩٦٨ مـ) - (١٣٨٩ هـ = ١٩٦٩ مـ)].

Dan saya tidak melihat apa-apa dari Imam  Ahmed tentang rintihan, atau Isak tangis, dan ini mirip dengan prinsip kami bahwa ketika dia melakukannya dengan keinginannya, maka rusaklah sholatnya.
[Lihat Kitab Al Mughniy : Juz 2 Hal 41. Karya Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy].

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇Imam Musthofa Ar Rahaibaniy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Mathalib Uli An Nuha Fi Syarhi Ghayatu Al Muntaha :

(وَ) تَبْطُلُ أَيْضًا (بِعَمَلِ مُتَوَالٍ مُسْتَكْثَرٍ عَادَةً مِنْ غَيْرِ جِنْسِهَا، وَلَوْ سَهْوًا أَوْ جَهْلًا) لِأَنَّهُ يُذْهِبُ الْخُشُوعَ، وَيَقْطَعُ الْمُوَالَاةَ، وَيَمْنَعُ الْمُتَابَعَةَ، وَكُلُّ ذَلِكَ مُنَافٍ لَهَا (إنْ لَمْ تَكُنْ ضَرُورَةٌ كَخَوْفٍ وَهَرَبٍ مِنْ عَدُوٍّ، وَنَحْوِهِ) ، كَسَيْلٍ وَسَبْعٍ وَنَارٍ، فَإِنْ كَانَتْ ضَرُورَةٌ لَمْ تَبْطُلْ.

(وَمَنْ عَلِمَ بِبُطْلَانِهَا وَمَضَى فِيهَا أُدِّبَ) لِاسْتِخْفَافِهِ بِحُرْمَتِهَا. (وَلَا تَبْطُلُ) الصَّلَاةُ (بِعَمَلٍ يَسِيرٍ) مُطْلَقًا (أَوْ) ، أَيْ: وَلَا بِعَمَلٍ (كَثِيرٍ غَيْرِ مُتَوَالٍ) عُرْفًا.(وَكُرِهَ) الْعَمَلُ الْيَسِيرُ أَوْ الْكَثِيرُ غَيْرُ الْمُتَوَالِي (بِلَا حَاجَةٍ) ، كَحَكَّةٍ وَنَحْوِهَا. انتهى.
[انظر كتاب مطالب أولي النهى في شرح غاية المنتهى : ج ١ ص ٥٣٩ /  كتاب الصلاة / باب مبطلات الصلاة / للإمام مصطفى بن سعد بن عبده السيوطي شهرة، الرحيبانى مولدا ثم الدمشقي الحنبلي (ت ١٢٤٣هـ) / الناشر: المكتب الإسلامي، الطبعة: الثانية، ١٤١٥هـ - ١٩٩٤مـ].

(Dan) juga batal (dengan melakukan gerakkan secara berturut-turut, yang  terlalu banyak,  menurut kebiasaan,  gerakan selain jenis  gerakan shalat, walaupun mereka lupa  atau bodoh) karena bisa menghilangkan kekhusyukan, memotong kesinambungan, dan mencegah ketindaklanjutan, dan semua itu bertentangan dengannya (ketika tidak ada kedaruratan; seperti ketakutan,  melarikan diri dari musuh dan sejenisnya) seperti badai, binatang buas, dan api, jika semua itu ada karena darurat, maka tidak batal shalatnya.

(Dan siapa pun yang mengetahui ketidakabsahannya dan melanjutkannya, maka diajarkan sopan santun) karena dia telah meremehkannnya dengan menghormatinya. (Dan tidak membatalkan) shalat (dengan gerakkan yang sedikit) secara mutlak (atau) yaitu: tidak pula dengan (gerakkan yang banyak) secara  tidak berurutan, menurut adat kebiasaan. (Dan MAKRUH) gerakkan  sedikit atau banyak yang tidak berurutan (jika tidak ada hajat keperluan) seperti menggaruk karena gatal-gatal dan sejenisnya.
[Lihat Kitab Al Mathalib Uli An Nuha Fi Syarhi Ghayatu Al Muntaha : Juz 1 Hal 539. Karya Imam Musthofa Ar Rahaibaniy Al Hanbaliy].

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Mughniy :

وَلَا بَأْسَ بِالْعَمَلِ الْيَسِيرِ فِي الصَّلَاةِ لِلْحَاجَةِ. قَالَ أَحْمَدُ: لَا بَأْسَ أَنْ يَحْمِلَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ فِي الصَّلَاةِ الْفَرِيضَةِ؛ لِحَدِيثِ أَبِي قَتَادَةَ، وَحَدِيثِ عَائِشَةَ، أَنَّهَا اسْتَفْتَحَتْ الْبَابَ، فَمَشَى النَّبِيُّ - ﷺ - وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ حَتَّى فَتَحَ لَهَا....(إلى أن قال)...

فَلَا بَأْسَ إنْ سَقَطَ رِدَاءُ الرَّجُلِ أَنْ يَرْفَعَهُ، وَإِنْ انْحَلَّ إزَارُهُ أَنْ يَشُدَّهُ...(إلى أن قال)...

وَهَذَا لِأَنَّ النَّبِيَّ - ﷺ - هُوَ الْمُشَرِّعُ، فَمَا فَعَلَهُ أَوْ أَمَرَ بِهِ، فَلَا بَأْسَ بِهِ. ..(إلى أن قال)...

فَكُلُّ هَذَا وَأَشْبَاهُهُ لَا بَأْسَ بِهِ فِي الصَّلَاةِ، وَلَا يُبْطِلُهَا، وَلَوْ فَعَلَ هَذَا لِغَيْرِ حَاجَةٍ، كُرِهَ، وَلَا يُبْطِلُهَا أَيْضًا. انتهى
[انظر كتاب المغني : ج ٢ ص ١٨٢ - ١٨٣ /  فصل العمل اليسير في الصلاة / مسألة لا يقطع الصلاة إلا الكلب الأسود البهيم / للإمام أبو محمد عبد الله بن أحمد بن محمد بن قدامة (٥٤١ - ٦٢٠ ه) على مختصر: أبي القاسم عمر بن حسين بن عبد الله بن أحمد الخرقي (المتوفى ٣٣٤ ه) / الناشر: مكتبة القاهرة، الطبعة: الأولى، (١٣٨٨ هـ = ١٩٦٨ مـ) - (١٣٨٩ هـ = ١٩٦٩ مـ)].

Tidak ada salahnya melakukan sedikit gerakan dalam shalat  jika diperlukan. Ahmad berkata: Tidak mengapa seorang laki-laki menggendong anaknya saat shalat wajib. Karena hadits Abu Qatadah dan hadits Aisyah, bahwa beliau meminta dibukakan pintu, maka Nabi ﷺ  berjalan sambil shalat sampai beliau membukakan  pintu  untuknya...(sampai ia berkata)...

Tidak masalah ketika selendang seseorang jatuh dalam shalat kemudian dia mengangkatnya, dan apabila kedodoran sarungnya dia boleh mengencangkannya ... (sampai ia berkata)...

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pembuat undang-undang, maka apapun yang dilakukan atau diperintahkannya tidak mengapa...(sampai ia berkata)...

semua ini dan sejenisnya diperbolehkan dalam shalat dan tidak membatalkannya. Dan jikalau hal ini tanpa ada hajat keperluan, maka DIMAKRUHKAN dan juga TIDAK MEMBATALKAN SHALAT.
[Lihat Kitab Al Mughniy : Juz 2 Hal 182 - 183. Karya Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy].

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇Imam Manshur Al Buhutiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Kasyafu Al Qina' 'An Matni Al Iqna':

( وَلَا ) تَبْطُلُ الصَّلَاةُ ( إنْ تَبَسَّمَ ) فِيهَا وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِ حَكَاهُ ابْنُ الْمُنْذِرِ .  
[انظر كتاب كشاف القناع عن متن الاقناع: ج ١ ص ٤٠١ /  كتاب الصلاة / باب سجود السهو / للامام منصور بن يونس بن إدريس البهوتي الحنبلي / الناشر: مكتبة النصر الحديثة بالرياض، لصاحبَيها/ عبدالله ومحمد الصالح الراشد - بدون السنة].

(Dan itu tidak) membatalkan shalat (jika dia tersenyum) didalamnya, dan itu  adalah merupakan  perkataan ulama yang paling banyak, seperti yang telah diceritakan oleh Imam Ibnu Al-Mundzir.
[Lihat Kitab Kasyafu Al Qina' 'An Matni Al Iqna' : Juz 1 Hal 401. Karya Imam Manshur Al Buhutiy Al Hanbaliy].

5]• ─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫
MADZHAB DZOHIRIYYAH

─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇Imam Ibnu Hazm Al Andalusiy Adz Dzahiriy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Muhalla Bi Al Atsar :

وَمَا عَمِلَهُ الْمَرْءُ فِي صَلَاتِهِ مِمَّا أُبِيحَ لَهُ مِنْ الدِّفَاعِ عَنْهُ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ جَائِزٌ، وَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ بِذَلِكَ، وَكَذَلِكَ الْمُحَارَبَةُ لِلظَّالِمِ، وَإِطْفَاءُ النَّارِ الْعَادِيَةِ، وَإِنْقَاذُ الْمُسْلِمِ، وَفَتْحُ الْبَابِ؛ قَلَّ ذَلِكَ الْعَمَلُ أَمْ كَثُرَ؟ .

وَكُلُّ مَا تَعَمَّدَ الْمَرْءُ عَمَلَهُ فِي صَلَاتِهِ مِمَّا لَمْ يُبَحْ لَهُ عَمَلُهُ فِيهَا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ بِذَلِكَ قَلَّ ذَلِكَ الْعَمَلُ أَمْ كَثُرَ؟ .
[انظر كتاب المحلى بالآثار : ج ٢ ص ١١٦ / كتاب الصلاة / مسألة ولا يحل لأحد أن يصلي الفرض راكبا ولا ماشيا إلا في حال الخوف فقط / للإمام ابن حزم الاندلسي الظاهري].

Apa yang dilakukan seseorang dalam shalatnya, mulai dari yang diperbolehkan baginya mulai dari pembelaan atasya dan selainnya, ADALAH BOLEH, DAN SHALATNYA TIDAK BATAL KARENANYA, begitu juga seperti  memerangi penindas, memadamkan api merembet cepat, menyelamatkan kaum muslimin, dan membukakan pintu, baik semua aktifitas itu sedikit maupun banyak

Dan segala sesuatu yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam shalatnya, yang tidak boleh dilakukannya di dalamnya, MAKA SHALATNYA BATAL KARENANYA, baik aktifitas tersebut sedikit atau banyak.
[Lihat Kitab Al Muhalla Bi Al Atsar: Juz 2 Hal 116. Karya Imam Ibnu Hazm Al Andalusiy Adz Dzahiriy].

Selesai dinukil Ahad Kliwon malem Senin legi

Dikradenan selatan oo3 oo1 Kradenan Srumbung Magelang Jateng 56483

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات

٢٩ ذو القعدة ١٤٤٤ هـ
١٨ يــــونــــي ٢٠٢٣ مـ


PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BAHASA ALAM AKHIRAT (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DSB) (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAHARU (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TABKHIR EMBAKAR DUPA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KUFUR AKIBAT MENCELA NASAB KETURUNAN (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAHALLUL CUKUR GUNDUL ATAU POTONG RAMBUT SELESAI HAJI DAN UMROH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TIDAK PERLU TEST DNA SEBAGAI BUKTI DZURRIYYAH NABI -ﷺ- (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top