Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 April 2023

حكم تغطية الجبهة أو اليدين أو الركبتين أو القدمين بالعمامة أو القفاز أو غيرهما في الصلاة | HUKUM SHALAT DENGAN MENUTUPI DAHI MEMAKAI SARUNG TANGAN MENUTUPI LUTUT DAN MEMAKAI KAOS KAKI

 



(edisi trend kekinian shalat memakai sarung tangan kaos kaki dan asesoris lainnya karena adanya hajat maupun tidak)

A]• DASAR HADITS

‏حَدَّثَنَا ‏ ‏يَحْيَى بْنُ يَحْيَى ‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏غَالِبٍ الْقَطَّانِ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ‏ ‏قَالَ‏ :

‏كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ‏ ﷺ ‏ ‏فِي شِدَّةِ الْحَرِّ فَإِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدُنَا أَنْ يُمَكِّنَ جَبْهَتَهُ مِنْ الْأَرْضِ بَسَطَ ثَوْبَهُ فَسَجَدَ عَلَيْهِ ‏  
[رواه البخاري ومسلم واللفظ له / كتاب المساجد ومواضع الصلاة / باب استحباب تقديم الظهر في أول الوقت في غير شدة الحر / حديث رقم: ٩٨١].

Dan telah menceritakan kepada kami : Yahya bin Yahya. Telah menceritakan kepada kami : Bisyr bin Mufadlal. Dari Ghalib Al Qaththan. Dari Bakr bin Abdullah. Dari Anas bin Malik, radliyyAllahu 'anhu beliau berkata;

"Kami pernah shalat bersama Rasulullah ﷺ ketika hari sangat panas, jika salah seorang diantara kami tidak dapat menempatkan keningnya di tanah dengan baik (karena panasnya), maka ia menghamparkan kain lalu sujud di atasnya."
[HR. Bukhariy Dan Teks Milik Muslim]

Dan Hadits :

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ قَالَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ :

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ وَلَا نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ
[رواه البخاري /  كتاب الأذان / باب السجود على الأنف / حديث رقم: ٨١٢].   

Telah menceritakan kepada kami : Mu'alla bin Asad, ia berkata :  Telah menceritakan kepada kami : Wuhaib. Dari 'Abdullah bin Thawus. Dari Bapaknya. Dari Ibnu 'Abbas radliyaAllahu  'anhuma, beliau berkata : Nabi ﷺ pernah bersabda:

"Aku diperintahkan untuk melaksanakan sujud dengan tujuh tulang (anggota sujud); kening -beliau lantas memberi isyarat dengan tangannya menunjuk hidung- kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung jari dari kedua kaki dan tidak boleh menahan rambut atau pakaian (sehingga menghalangi anggota sujud)."
[HR. Bukhariy]

Dari Riwayat Yang Senada :

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, Nabi ﷺ pernah bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةٍ، لاَ أَكِفَّ شَعْرًا وَلاَ ثَوْبًا
[أخرجه أحمد شاكر في تخريج المسند لشاكر : ج ٤ ص ٢٠٢].  

“Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh (anggota sujud) dan diperintahkan untuk tidak menahan rambut ataupun pakaian (ketika sujud)”
[HR. Ahmad Syakir Dalam Kitab Takhrij Al Musnad: Juz 4 Hal 202).

B]• PENDAPAT ULAMA' MADZHAB

7 anggota sujud terutama dahi/jidad WAJIB menempel langsung ketempat sujud tanpa penghalang walaupun sehelai rambut didahinya menyebabkan tidak sah sujudnya menurut kesepakatan para ulama, TIDAK WAJIB atau SUNNAH membuka kedua telapak tangan, dan  MAKRUH membuka kedua lutut agar menempel langsung ketempat ketika sujud,  dan TIDAK WAJIB atau SUNNAH membuka kedua telapak kaki, atau boleh ditelapak tangan menggunakan semacam sarung tangan ataupun dikaki memakai semacam  kaos kaki, namun DISUNNAHKAN UNTUK MEMBUKA KEDUANYA. Dalam hal ini Ulama' Madzhab berbeda pendapat

أ]• عند الشافعية | Menurut Pengikut Madzhab Imam Asy Syafi'iy

1)• WAJIB Menempelkan Dahi Ketempat Sujud Tanpa Penghalang Dan Yang Paling Shahih Dalam Madzhab Syafi'iy TIDAK WAJIB Membuka Dua Telapak Tangan Atau Dua Telapak Kaki Ketika Shalat Namun DISUNNAHKAN UNTUK MEMBUKA keduanya.

قال النووي الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه المجموع شرح المهذب :

وَيَدُلُّ عَلَى هَذَا أَنَّ الْعُلَمَاءَ مُجْمِعُونَ عَلَى أَنَّ الْمُخْتَارَ مُبَاشَرَةُ الْجَبْهَةِ لِلْأَرْضِ. انتهى
[انظر كتاب المجموع شرح المهذب ؛ ج ٣ ص ٤٢٦ / كتاب الصلاة / مسائل مهمة تتعلق بقراءة الفاتحة وغيرها في الصلاة / للإمام أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦ هـ) / الناشر: (إدارة الطباعة المنيرية، مطبعة التضامن الأخوي) - القاهرة، عام النشر:١٣٤٤ - ١٣٤٧ هـ].

Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab :

Dan menunjukkan akan hal ini: “Para ulama sepakat dengan suara bulat bahwa pendapat yang terpilih adalah harus mengarahkan/menempelkan langsung dahi ke tanah
[Lihat Kitab Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab : juz 3 hal 426. Karya Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy].

Madzhab Asy Syafi'iy  berpendapat bahwa wajib menyingkap sesuatu yang menempel pada dahi, dan melanjutkannya di tempat sujud, maka apabila dia sujud di inti serbannya, ujung lengan bajunya, atau ujung serbannya, dan semua itu bergerak mengikuti gerakannya dalam berdiri, duduk, atau sebaliknya, SHALATNYA TIDAK SAH. Dan apabila sujud dan ada sesuatu yang terpisah semisal sajadah surban dsb yang tidak dipakai atau tidak ikut dengan gerakan dalam shalat  SHALATNYA SAH, dan lebih hati-hati nya supaya menyingkapkan/membuka dahinya (tidak ada sesuatu pun walaupun sehelai rambut yang menempel atau menutupi) kemudian menempelkannya ketempat sujud.

وقال النووي الشافعي رحمه الله تعالى ايضا في كتابه المجموع شرح المهذب :

قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ وَإِذَا أَوْجَبْنَا وَضْعَ هَذِهِ الْأَعْضَاءِ لَمْ يَجِبْ كَشْفُ الرُّكْبَتَيْنِ وَالْقَدَمَيْنِ لَكِنْ يُسْتَحَبُّ كَشْفُ الْقَدَمَيْنِ وَيَلْزَمُهُ عَدَمُ كَشْفِ الرُّكْبَتَيْنِ وَقَدْ سَبَقَ دَلِيلُ الْجَمِيعِ وَفِي وُجُوبِ كَشْفِ الْيَدَيْنِ قَوْلَانِ (الصَّحِيحُ) أَنَّهُ لَا يَجِبُ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ فِي عَامَّةِ كُتُبِ الشَّافِعِيِّ كَمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ
[انظر كتاب المجموع شرح المهذب ؛ ج ٣ ص ٤٢٩ / كتاب الصلاة / مسائل مهمة تتعلق بقراءة الفاتحة وغيرها في الصلاة / للإمام أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦ هـ) / الناشر: (إدارة الطباعة المنيرية، مطبعة التضامن الأخوي) - القاهرة، عام النشر:١٣٤٤ - ١٣٤٧ هـ].

Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab :

Imam Asy Syafi'iy dan para sahabatnya berkata : jika kami mewajibkan penempatan organ-organ ini, maka TIDAK WAJIB untuk membuka lutut dan telapak kaki, tetapi LEBIH BAIK untuk membuka telapak kaki, dan WAJIB  baginya UNTUK TIDAK membuka lutut, dan dalil untuk semuanya telah disebutkan.

Dalam keharusan membuka tutup tangan, ada dua perkataan: Pendapat yang benar adalah bahwa itu TIDAK WAJIB, dan itu diatur dalam kitab-kitab umum Al-Syafi'i.  Seperti yang telah disebutkan oleh pengarang.
[Lihat Kitab Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab : juz 3 hal 429. Karya Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy].

و  جاء في كتاب إعانة الطالبين شرح فتح المعين للشيخ السيد أبو بكر بن محمد شطا الدمياطي الشافعي:

(قوله: ككشف غير الركبتين) أي كما أنه يسن كشف غير الركبتين، وأما الركبتان فيكره كشفهما لأنه يفضي إلى كشف العورة. انتهى.
[انظر كتاب إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (هو حاشية على فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين) ؛ ج ١ ص ١٩٢ / باب الصلاة / للشيخ السيد أبو بكر (المشهور بالبكري) عثمان بن محمد شطا الدمياطي الشافعي (ت ١٣١٠هـ) / الناشر: دار الفكر للطباعة والنشر والتوريع، الطبعة: الأولى، ١٤١٨ هـ - ١٩٩٧ مـ].

Terdapat dalam kitab I'anatu Ath Thalibin Syarhu Fathu Al Mu'in karya Sayyid Syaikh Abu Bakr Bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala :

(Perkataannya: Seperti membuka penutup selain kedua lutut) yakni sebagaimana DISUNNAHKANNYA  membuka penutup selain lutut,

Adapun dua lutut, DIMAKRUHKAN membuka keduanya karena itu mengarah pada pengungkapan bagian pribadi (aurat).
[Lihat Kitab I'anatu Ath Thalibin Syarhu Fathu Al Mu'in : juz 1 hal 192. Karya Sayyid Syaikh Abu Bakr Bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy].

2)• Shalat dengan memakai sarung tangan ataupun kaos kaki SAH SHALATNYA tetapi MAKRUH, karena yang sunnah adalah membukanya.
 

Disebutkan dalam kitab Tuhfatul Habib 'Ala Syarhil Khatib = Hasyiyyah Al Bujairamiy 'Ala Al Khatib karya Imam Sulaiman Al Bujairamiy Asy Syafi'iy :

وَيُسَنُّ كَشْفُ الْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ أَيْ فِي حَقِّ الرَّجُلِ إذْ الْمَرْأَةُ يَجِبُ عَلَيْهَا سَتْرُ قَدَمَيْهَا، وَيُكْرَهُ كَشْفُ كَفَّيْهَا كَمَا يُؤْخَذُ مِنْ عِلَّةِ كَشْفِ الرُّكْبَتَيْنِ
[انظر كتاب تحفة الحبيب على شرح الخطيب = حاشية البجيرمي على الخطيب : ج ٢ ص ٣٥ / كتاب الصلاة / فصل في أركان الصلاة / للإمام سليمان بن محمد بن عمر البُجَيْرَمِيّ المصري الشافعي (ت ١٢٢١هـ) / الناشر: دار الفكر، تاريخ النشر: ١٤١٥هـ - ١٩٩٥مـ].

“DISUNNAHKAN untuk membuka kedua tangan dan kaki bagi laki-laki karena bagi perempuan wajib untuk menutup kedua kakinya. Dan dimakruhkan bagi perempuan untuk membuka kedua tangannya karena alasan yang telah disebutkan dalam membuka kedua lutut (karena hal itu mengarah pada pengungkapan bagian pribadi (aurat).'
[Lihat Kitab Tuhfatul Habib 'Ala Syarhil Khatib = Hasyiyyah Al Bujairamiy 'Ala Al Khatib : juz 2 hal 35. Karya Imam Sulaiman Al Bujairamiy Asy Syafi'iy].

Dan tersebut dalam kitab Hasyiyyah Al Baijuriy 'Ala Syarhi Fathu Al Qarib Al Mujib Karya Syaikh Ibrahim Al Baijuriy Asy Syafi'iy :

.قوله مباشرة الخ فيجب كشف الجبهة و يسن كشف اليدين والرجلين و يكره كشف الركبتين ما عدا ما يجب ستره منهما مع العورة.
[انظر كتاب حاشية الباجوري شرح فتح القريب المجيب : ج ١ ص ١٣٥. للشيخ ابراهيم الباجوري الشافعي].
 
(Perkataannya : Mubasyarah -secara langsung ... Dst-). Maka WAJIB MEMBUKA DAHI, dan SUNNAH membuka tangan dan kaki, dan MAKRUH membuka lutut, kecuali sesuatu yang harus ditutup dari kedua lututnya bersamaan dengan aurat.
[Lihat Kitab Hasyiyyah Al Baijuriy 'Ala Syarhi Fathu Al Qarib Al Mujib Karya Syaikh Ibrahim Al Baijuriy Asy Syafi'iy].

Tersebut dalam kitab Fathu Al Mu'in Bisyarhi  Qurratu Al 'Ain Bimuhimmati Ad Din karya Imam Zainuddin Al Malibariy Asy Syafi'iy :

ويصح على يد غيره وعلى نحو منديل بيده لأنه في حكم المنفصل. انتهى
[انظر كتاب فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين (هو شرح للمؤلف على كتابه هو المسمى قرة العين بمهمات الدين) : ص ١١٥ /  باب الصلاة / فصل في صفة الصلاة / للإمام زين الدين أحمد بن عبد العزيز بن زين الدين بن علي بن أحمد المعبري المليباري الهندي الشافعي (ت ٩٨٧هـ) / الناشر: دار بن حزم، الطبعة: الأولى - بدون السنة].

DAN SAH sujudnya di atas tangan orang lain atau semacam sapu tangan yg di pegang sendiri, karena hal itu masuk dalam hukum perkara yang terpisah dengan orang yang shalat.
[Lihat kitab Fathu Al Mu'in Bisyarhi  Qurratu Al 'Ain Bimuhimmati Ad Din : hal 115. Karya Imam Zainuddin Al Malibariy Asy Syafi'iy].

Tersebut dalam kitab Tuhfatu Ath Thulab Bisyarhi Matni Tahriri Tanqihu Al Lubab = Hasyiyyah Asy Syarqawiy karya Syaikh Asy Syarqawiy Asy Syafi'iy ;

و ثامنها سجود للأمر به في الكتاب والخبر السابق بوضع الجبهة مكشوفة و وضع اليدين والركبتين و أطراف القدمين ولو مستورة لخبر الصحيحين أمرت أن أسجد على سبعة أعظم الجبهة واليدين والركبتين و أطراف القدمين و يكفي وضع جزء من كل واحد منها والإعتبار في اليد بباطن الكف سواء الأصابع والراحة و في الرجل ببطون الأصابع و يسن كشف اليدين والرجلين و يكره كشف الركبتين.
[انظر كتاب  تحفة الطلاب بشرح متن تحرير تنقيح اللباب في فقه الإمام الشافعي = حاشية الشرقاوي : ج ١ ص ١٨٩ - ١٩٠. للشيخ الشرقاوي الشافعي].

Dan yang kedelapan :  adalah sujud, yang diperintahkan dalam Kitab dan riwayat sebelumnya, meletakkan dahi yang terbuka, meletakkan tangan, lutut, dan ujung kaki, meskipun tertutup, menurut riwayat dari Sahih Bukhari dan Muslim. Saya diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang : Dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung kaki, dan cukup dengan meletakkan bagian dari masing-masing bagiannya, dan gambaran dalam tangan yaitu dengan telapak tangan, baik dengan jari-jemarinya  atau telapak tangannya, dan dalam kaki yaitu dengan bathin jari jemarinya

Dan DISUNNAHKAN untuk membuka telapak kedua tangan dan kedua kaki. (Maksudnya bagi seorang laki-laki. Karena wanita wajib baginya untuk menutup kedua telapak kakinya). Dan MAKRUH baginya  membuka kedua lutut.
[Lihat kitab Tuhfatu Ath Thulab Bisyarhi Matni Tahriri Tanqihu Al Lubab = Hasyiyyah Asy Syarqawiy : juz 1 hal 189 - 190. Karya Syaikh Asy Syarqawiy Asy Syafi'iy].

Terdapat dalam kitab Nailu Al Author Syarhu Muntaqa Al Akhbar karya Imam Asy Syaukaniy :

قال ابن دقيق العيد : ولم يختلف في أن كشف الركبتين غير واجب لما يحذر فيه من كشف العورة وأما عدم وجوب كشف القدمين فلدليل لطيف وهو أن الشارع وقت المسح على الخف بمدة يقع فيها الصلاة بالخف فلو وجب كشف القدمين لوجب نزع الخف المقتضي لنقض الطهارة فتبطل الصلاة اه

Imam Ibnu Daqiq Al-Ied (yang juga bermadzhab Syafi‘i) mengatakan, ‘Ulama sepakat bahwa keterbukaan kedua lutut (ketika sujud) tidak wajib karena dikhawatirkan tersingkap aurat. Sedangkan ketidakwajiban terbukanya kedua kaki didukung sebuah dalil halus di mana Nabi Muhammad SAW pada suatu ketika mengusap khuf (sejenis kaos kaki rapat dari kulit) tetap mengenakannya dalam shalat. Seandainya keterbukaan kedua kaki itu wajib, niscaya pencopotan khuf juga wajib yang menuntut pembatalan kesucian lalu membatalkan shalat,’”
(Lihat Muhammad bin Ali As-Syaukani, Nailul Authar Syarah Muntaqal Akhbar, Beirut, Darul Fikr, cetakan pertama, 1982 M/1402 H, juz II, halaman 289).

Ulasan Syaikh Wahbah bin Musthofa  Az-Zuhailiy berikut ini.

 ولا خلاف في عدم وجوب كشف الركبتين، لئلا يفضي إلى كشف العورة، كما لا يجب كشف القدمين واليدين، لكن يسن كشفها، خروجاً من الخلاف... والشافعية والحنابلة متفقون على وجوب السجود على جميع الأعضاء السبعة المذكورة في الحديث السابق، ويستحب وضع الأنف مع الجبهة عند الشافعية، لكن يجب عند الحنابلة وضع جزء من الأنف. واشترط الشافعية أن يكون السجود على بطون الكفين وبطون أصابع القدمين، أي أنه يكفي وضع جزء من كل واحد من هذه الأعضاء السبعة كالجبهة، والعبرة في اليدين ببطن الكف، سواء الأصابع والراحة، وفي الرجلين ببطن الأصابع، فلا يجزئ الظهر منها ولا الحرف.
[انظر كتاب الفِقْهُ الإسلاميُّ وأدلَّتُهُ (الشَّامل للأدلّة الشَّرعيَّة والآراء المذهبيَّة وأهمّ النَّظريَّات الفقهيَّة وتحقيق الأحاديث النَّبويَّة وتخريجها) : ج ٢ ص ٨٤٧ /  أركان الصلاة المتفق عليها / الركن السادس ـ السجود مرتين لكل ركعة / المؤلف: أ. د. وَهْبَة بن مصطفى الزُّحَيْلِيّ، أستاذ ورئيس قسم الفقه الإسلاميّ وأصوله بجامعة دمشق - كلّيَّة الشَّريعة / الناشر: دار الفكر - سوريَّة - دمشق بدون السنة].

“Tidak ada perbedaan pandangan di kalangan ulama perihal ketidakwajiban pembukaan dua lutut (saat sujud) agar tidak membawanya pada keterbukaan aurat. Keterbukaan kedua kaki dan kedua tangan tidak wajib, tetapi dianjurkan untuk keluar dari perbedaan pandangan di kalangan ulama… Ulama Madzhab Syafi‘i dan Madzhab Hanbali sepakat atas kewajiban sujud dengan tujuh anggota tubuh seperti disebutkan pada hadits di atas. Bagi Syafi‘iyah, peletakan hidung bersama dahi dianjurkan. Sementara bagi Hanbaliyah, peletakan sebagian sisi hidung itu wajib. Syafi‘iyah mensyaratkan sujud dengan perut telapak tangan dan perut jari kedua kaki. Artinya peletakan satu sisi dari setiap tujuh anggota tubuh seperti dahi itu sudah memadai. Hitungan (sujud) dengan kedua tangan terletak pada perut telapak tangan baik perut jari maupun telapak tangan. Sementara (sujud) dengan kedua kaki dihitung pada perut jarinya sehingga sujud dengan punggung kaki atau tepi kaki dianggap tidak memadai,”
[Lihat Kitab Al Fiqhu Al Islamiy Wa Adillatuh : juz 2 hal 847. Karya Syaikh Wahbah Az-Zuhayli, Cet. Darul Fikr - Suriah Damsyiq - Tnp. Tahun].

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa orang yang shalat dengan mengenakan sepatu, sandal, kaos kaki, atau alas kaki lainnya TETAP SAH meskipun ada ulama yang menganjurkan keterbukaan dua kaki saat sujud. Ulama tidak mensyaratkan keterbukaan kedua kaki sehingga shalat orang yang mengenakan kaos kaki atau alas kaki lainnya tetap sah dengan dalil bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengenakan khuf saat shalat.

ب]• عند الحنفية | Menurut Pengikut Madzhab Imam Abu Hanifah

Aurat wanita merdeka dalam shalat, menurut Hanafiah, adalah seluruh tubuhnya, kecuali bagian dalam tangan, tidak seperti bagian luarnya, seperti halnya bagian luar kedua telapak kaki tidak termasuk aurat, tidak seperti bagian dalamnya, hal itu adalah aurat kebalikkan dari bagian dalam telapak tangan.

Walhasil mereka  berpandangan bahwa kedua telapak kaki  bukanlah aurat. Didukung oleh  beberapa mujtahid madzhab Hanafi yang  mengunggulkannya. Jadi menurut mereka SAH SHALATNYA  wanita yang memakai kaos kaki atau yang terbuka kedua telapak kakinya.

Imam As Sarkhasiy Al Hanafiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Mabsuth :

وَرَوَى الْحَسَنُ بْنُ زِيَادٍ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ يُبَاحُ النَّظَرُ إلَى قَدَمِهَا أَيْضًا وَهَكَذَا ذَكَرَ الطَّحَاوِيُّ لِأَنَّهَا كَمَا تُبْتَلَى بِإِبْدَاءِ وَجْهِهَا فِي الْمُعَامَلَةِ مَعَ الرِّجَالِ وَبِإِبْدَاءِ كَفِّهَا فِي الْأَخْذِ وَالْإِعْطَاءِ تُبْتَلَى بِإِبْدَاءِ قَدَمَيْهَا إذَا مَشَتْ حَافِيَةً أَوْ مُتَنَعِّلَةً وَرُبَّمَا لَا تَجِدُ الْخُفَّ فِي كُلِّ وَقْتٍ
[انظر كتاب المبسوط : ج ١٥ ص ١٥٣ /  كتاب الاستحسان / النظر إلى الأجنبيات / للإمام محمد بن أحمد بن أبي سهل شمس الأئمة السرخسي الحنفي (ت ٤٨٣ هـ) / الناشر: مطبعة السعادة - مصر، وصوّرَتها: دار المعرفة - بيروت، لبنان - بدون السنة].

Al-Hassan bin Ziyad meriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa DIPERBOLEHKAN untuk melihat kakinya juga, dan ini disebutkan oleh Ath Thahawiy; Karena seperti halnya dia diuji dengan menunjukkan wajahnya ketika berhadapan dengan laki-laki, dan dengan menunjukkan telapak tangannya dalam memberi dan menerima, dia diuji dengan menunjukkan kakinya ketika dia berjalan tanpa alas kaki atau dengan sandal, dan dia mungkin tidak menemukan sandal sepanjang waktu.
[Lihat Kitab Al Mabsuth : juz 15 hal 153. Karya Imam As Sarkhasiy Al Hanafiy].

Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan tentang pendapat Imam Malik dan Imam Abu Hanifah dan beberapa Imam lainnya dalam kitabnya Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab ;

وقال مالك وأبو حنيفة والأوزاعي وإسحاق وأحمد في الرواية الأخرى : يصح ، قال صاحب التهذيب : وبه قال أكثر العلماء . واحتج لهم بحديث أنس رضي الله عنه قال : ( كنا نصلي مع رسول الله ﷺ في شدة الحر ، فإذا لم يستطع أحدنا أن يمكن جبهته من الأرض يبسط ثوبه فيسجد عليه ) رواه البخاري ومسلم ، وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال : ( لقد رأيت رسول الله ﷺ في يوم مطير وهو يتقي الطين إذا سجد بكساء عليه يجعله دون يديه ) رواه ابن حنبل في مسنده . وعن الحسن قال : " كان أصحاب رسول الله ﷺ  يسجدون وأيديهم في ثيابهم ويسجد الرجل على عمامته " رواه البيهقي " .

وقال : " العلماء مجمعون على أن المختار مباشرة الجبهة للأرض " انتهى  
[انظر كتاب "المجموع شرح المهذب" ؛ ج ٣ ص ٣٩٧ - ٤٠٠. للإمام النووي الشافعي] .

Dan Berkata Imam Malik, Abu Hanifah, Auza’I, Ishaq, Ahmad dalam riwayat lain berpendapat, “Sah. Penulis kitab Tahdzib mengatakan, “Dan ini pendapat kebanyakan para ulama”. Mereka berdalil dengan hadits Anas radliyyAllahu 'anhu dia berkata:

“Dahulu kita shalat bersama Rasulullah ﷺ  dalam kondisi sangat panas. Kalau salah satu diantara kita tidak mampu menempelkan dahinya di tanah, maka digelar bajunya dan sujud di atasnya.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Ibnu Abbas radhiyyAllahu 'anhuma berkata:

“Sungguh saya telah melihat Rasulullah ﷺ  pada hari turun hujan beliau berlindung dari tanah ketika sujud menggunakan kain yang diletakkan dibawah kedua telapak tangannya.” (HR. Ibnu Hanbal di Musnadnya).

Dari Hasan berkata, “Dahulu para shahabat Rasulullah ﷺ mereka sujud sementara tangan-tangan mereka di bajunya dan seseorang sujud di atas surbannya.” (HR. Baihaqiy).

Dan Hasan juga berkata : “Para ulama sepakat (Ijma’) bahwa pendapat YANG MENJADI PILIHAN adalah menempelnya dahi ketanah  secara langsung.”  
[Lihat Kitab Al Majmu Syarhu Al Muhadzab ; juz 3 hal 397-400. Karya Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy].

ج]• عند الحنابلة | Menurut Pengikut Madzhab Imam Ahmad Bin Hanbal

Menurut Madzhab Imam Ahmad Orang Yang Shalat TIDAK WAJIB Melibatkan Langsung (menyentuh tanah lantai dll) Dalam Salah Satu dari 7  Organ Sujud Jadi Secara Otomatis Menurut Mereka Boleh   Shalat dengan memakai sarung tangan ataupun kaos kaki

Dan boleh sujud  beralaskan serban kerudung kopiah dsb saat diperlukan karena sangat panas dsb.

Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Mughniy :

وَلَا تَجِبُ مُبَاشَرَةُ الْمُصَلِّي بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْأَعْضَاءِ قَالَ الْقَاضِي: إذَا سَجَدَ عَلَى كُورِ الْعِمَامَةِ أَوْ كُمِّهِ أَوْ ذَيْلِهِ، فَالصَّلَاةُ صَحِيحَةٌ رِوَايَةً وَاحِدَةً. وَهَذَا مَذْهَبُ مَالِكٍ، وَأَبِي حَنِيفَةَ.... انتهى.
[انظر كتاب المغني : ج ١ ص ٣٧١ - ٣٧٢ /  مسألة أول ما يقع منه على الأرض عند السجود ركبتاه / فصل إذا سجد على كور العمامة أو كمه أو ذيله / للإمام أبو محمد عبد الله بن أحمد بن محمد بن قدامة الحنبلي (٥٤١ - ٦٢٠ ه) على مختصر: أبي القاسم عمر بن حسين بن عبد الله بن أحمد الخرقي (المتوفى ٣٣٤ ه) / الناشر: مكتبة القاهرة، الطبعة: الأولى، (١٣٨٨ هـ = ١٩٦٨ مـ) - (١٣٨٩ هـ = ١٩٦٩ مـ)].

Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Mughniy :

TIDAK WAJIB bagi orang yang shalat untuk menyentuhkan  salah satu bagian organ ini

Al-Qadi berkata: Ketika dia bersujud di diatas gulungan  surban, atau lengannya, atau ujung surbannya, maka SHALATNYA SAH menurut satu riwayat, dan ini adalah hukumnya menurut Madzhab Imam Malik dan Abu Hanifah...
[Lihat Kitab Al Mughniy : juz 1 hal 371 - 372. Karya Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy].

Dalam kesempatan lain Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala juga menjelaskan dalam kitabnya Al Mughniy :

 (وَمَنْ كَانَ مِنْ الرِّجَالِ وَعَلَيْهِ مَا يَسْتُرُ مَا بَيْنَ سُرَّتِهِ وَرُكْبَتِهِ، أَجْزَأَهُ ذَلِكَ) وَجُمْلَةُ ذَلِكَ أَنَّ سَتْرَ الْعَوْرَةِ عَنْ النَّظَرِ بِمَا لَا يَصِفُ الْبَشَرَةَ وَاجِبٌ، وَشَرْطٌ لِصِحَّةِ الصَّلَاةِ. وَبِهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَأَصْحَابُ الرَّأْيِ ...(إلى أن قال)...

وَلَيْسَتْ سُرَّتُهُ وَرُكْبَتَاهُ مِنْ عَوْرَتِهِ. نَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَدُ فِي مَوَاضِعَ. وَهَذَا قَالَ بِهِ مَالِكٌ، وَالشَّافِعِيُّ، وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ الرُّكْبَةُ مِنْ الْعَوْرَةِ؛
[انظر كتاب المغني : ج ١ ص ٤١٣ - ٤١٤ / باب صفة الصلاة / مسألة ستر العورة في الصلاة / للإمام أبو محمد عبد الله بن أحمد بن محمد بن قدامة الحنبلي (٥٤١ - ٦٢٠ ه) على مختصر: أبي القاسم عمر بن حسين بن عبد الله بن أحمد الخرقي (المتوفى ٣٣٤ ه) / الناشر: مكتبة القاهرة، الطبعة: الأولى، (١٣٨٨ هـ = ١٩٦٨ مـ) - (١٣٨٩ هـ = ١٩٦٩ مـ)].

(Barangsiapa laki-laki dan dia memiliki sesuatu untuk menutupi antara pusar dan lututnya, itu sudah mencukupinya). Ringkasnya, menutupi aurat dari pandangan dengan sesuatu yang tidak memperlihatkan kulit adalah wajib dan menjadi salah satu  syarat sahnya shalat. Dan dengan ini Imam Asy Syafi'iy dan Ashaburra'yi Imam Abu Hanifah berpendapat...(sampai dia berkata)...

Pusar dan kedua lututnya bukan bagian dari auratnya. Imam Ahmad menyatakannya di beberapa tempat, dan ini dikatakan oleh Malik dan Asy Syafi'iy. Dan Imam Abu Hanifah berkata lutut adalah termasuk dari  aurat.
[Lihat Kitab Al Mughniy : juz 1 hal 413 - 414. Karya Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy].

Tersebut dalam kitab Majmu' Al Fatawa Al Kubra Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan :

فَالْأَحَادِيثُ وَالْآثَارُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُمْ فِي حَالِ الِاخْتِيَارِ كَانُوا يُبَاشِرُونَ الْأَرْضَ بِالْجِبَاهِ وَعِنْدَ الْحَاجَةِ كَالْحَرِّ وَنَحْوِهِ: يَتَّقُونَ بِمَا يَتَّصِلُ بِهِمْ مِنْ طَرَفِ ثَوْبٍ وَعِمَامَةٍ وَقَلَنْسُوَةٍ؛ وَلِهَذَا كَانَ أَعْدَلُ الْأَقْوَالِ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّهُ يُرَخَّصُ فِي ذَلِكَ عِنْدَ الْحَاجَةِ وَيُكْرَهُ السُّجُودُ عَلَى الْعِمَامَةِ وَنَحْوِهَا عِنْدَ عَدَمِ الْحَاجَةِ
[انظر كتاب مجموع الفتاوى الكبرى : ج ٢٢ ص ١٧٢ /  باب شروط / الصلاة الصلاة في النعال، وأين يضعه إذا خلعه؟ / للامام شيخ الإسلام أحمد بن تيمية الحنبلي/ الناشر: مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف - المدينة المنورة - السعودية، عام النشر: ١٤٢٥ هـ - ٢٠٠٤ مـ].

Hadits-hadits dan riwayat-riwayat tersebut menunjukkan bahwa mereka dalam posisi memilih, mereka menempelkan langsung dahi mereka ke tanah, dan ketika ada kebutuhan, seperti panas dan sejenisnya, mereka melindungi diri dari apa yang berhubungan dengan mereka, seperti sujud diatas sepotong pakaian, serban, dan kerudung atau kopiah.

Maka, perkataan yang paling adil dalam hal ini adalah bahwa dia BOLEH membuat kelonggaran saat dibutuhkan; Dan MAKRUH ketika tidak adanya hajat kebutuhan.
[Lihat kitab Majmu' Al Fatawa Al Kubra : juz 22 hal 172. Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Al Hanbaliy].
 

Terdapat dalam kitab Zadu Al Ma'ad Fi Hadyi Khairi Al 'Ibad Karya Imam Ibnu Al Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy :

وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَسْجُدُ عَلَى جَبْهَتِهِ وَأَنْفِهِ دُونَ كَوْرِ الْعِمَامَةِ، وَلَمْ يَثْبُتْ عَنْهُ السُّجُودُ عَلَى كَوْرِ الْعِمَامَةِ مِنْ حَدِيثٍ صَحِيحٍ وَلَا حَسَنٍ،
[انظر كتاب زاد المعاد في هدي خير العباد : ج ١ ص ٢٢٤ /  فصول في هديه صلى الله عليه وسلم في العبادات / فصل في كيفية سجوده صلى الله عليه وسلم والقيام منه / للإمام محمد بن أبي بكر بن أيوب بن سعد شمس الدين ابن قيم الجوزية الحنبلي (ت ٧٥١هـ) / الناشر: مؤسسة الرسالة، بيروت - مكتبة المنار الإسلامية، الكويت، الطبعة: السابعة والعشرون , ١٤١٥هـ /١٩٩٤مـ].
 
Dan Nabi ﷺ biasa sujud di dahi dan hidungnya bukan diatas gulungan  serban, dan tidak terbukti bahwa beliau  bersujud di atas gulungan serban dari hadits yang shahih atau dari hadits hasan.
[Lihat kitab Zadu Al Ma'ad Fi Hadyi Khairi Al 'Ibad : juz 1 hal 224. Karya Imam Ibnu Al Qayyim Al Jauziyyah Al Hanbaliy].

Syaikh Khalid Ibrahim Ash Shaq'abiy berkata :

أن يكون الحائل غير متصل بالمصلي, فهذا لا بأس به, لكن قال الفقهاء: يكره أن يخص جبهته بما يسجد عليه, لأنه يشبه فعل الرافضة قبحهم الله.
 [انظر كتاب مذكرة القول الراجح مع الدليل شرح منار السبيل : ج ١ ص ٦٢ / كتاب الصلاة / س٢٨: ما حكم وضع الحائل بين الإنسان وبين موضع سجوده؟ / المؤلف: خالد بن إبراهيم الصقعبي]

Agar supaya  penghalang itu tidak melekat pada orang yang shalat, maka hal itu tidak menjadi persoalan.

Akan tetapi para ahli fikih  mengatakan: DIMAKRUHKAN  menutupi dahi dengan sesuatu untuk sujud, karena menyerupai perbuatan Rafidah (kaum Syi'ah), semoga Allah melaknat mereka.
[Lihat Kitab Mudzakaratu Al Qaul Ar Rajih Ma'a Ad Dalil Syarhu Manar As Sabil : juz 1 hal 62. Karya Syaikh Khalid Ibrahim Ash Shaq'abiy].

Selesai dinukil hari Kamis pon mlm Jum'at Wage

Dikradenan selatan oo3 oo1 Kradenan Srumbung Magelang Jateng 45683

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات

٦ شوالــــ ١٤٤٤ ه‍ـ
27 April 2023 M

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top