Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Agustus 2018

*```📚♻мєηυяυт ιмαм ѕуαƒι'ιу ѕυηηαн ѕнαℓαт ιє∂ ∂ι мαѕjι∂, мєηυяυт jυмнυя (ιмαм αвυ нαηιƒαн, мαℓιк, ∂αη αнмα∂) ѕυηηαн ∂ιмυѕнαℓℓα кнυѕυѕ (ℓαραηgαη кнυѕυѕ υηтυк ѕнαℓαт) 🕋🕌*```







Edisi : Sabtu pon, 11/08/18 M | 29 Dzul Qa'dah 1439 H


Shalat Ied tidak disyaratkan harus dilaksanakan di Masjid. Bahkan menurut pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad (jumhur ulama')  shalat Id *SUNNAH*  dilaksanakan di lapangan terbuka. Karena Nabi Muhammad  ﷺ💙
juga melakukan shalat Ied di lapangan kecuali karena ada hujan atau penghalang lainnya.


Adapun perbedaan di antara tanah lapang dengan masjid bahwa tanah lapang berada di tempat terbuka, sedangkan masjid berada di dalam sebuah tempat (bangunan) yang tertutup.


حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ , قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ , قَالَ : أَخْبَرَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ. عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ. عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ، قَالَ :  


" كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ💚 يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوصِيهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ فَإِنْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ",


قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَلَمْ يَزَلْ النَّاسُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى خَرَجْتُ مَعَ مَرْوَانَ وَهُوَ أَمِيرُ الْمَدِينَةِ فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ فَلَمَّا أَتَيْنَا الْمُصَلَّى إِذَا مِنْبَرٌ بَنَاهُ كَثِيرُ بْنُ الصَّلْتِ ,


فَإِذَا مَرْوَانُ يُرِيدُ أَنْ يَرْتَقِيَهُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَجَبَذْتُ بِثَوْبِهِ فَجَبَذَنِي فَارْتَفَعَ فَخَطَبَ قَبْلَ الصَّلَاةِ ,


فَقُلْتُ لَهُ : غَيَّرْتُمْ ,


وَاللَّهِ فَقَالَ أَبَا سَعِيدٍ :  قَدْ ذَهَبَ مَا تَعْلَمُ فَقُلْتُ مَا أَعْلَمُ وَاللَّهِ خَيْرٌ مِمَّا لَا أَعْلَمُ، 


فَقَالَ : "إِنَّ النَّاسَ لَمْ يَكُونُوا يَجْلِسُونَ لَنَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَجَعَلْتُهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ".

{رواه البخاري / كتاب العيدين / باب الخروج إلى المصلى بغير منبر / رقم الحديث : ٩١٣، واللفظ له. ومسلم في صحيحه. والنساىٔي}.


Telah menceritakan kepada kami : Sa'id bin Abu Maryam berkata : Telah menceritakan kepada kami :  Muhammad bin Ja'far, berkata : Telah menceritakan kepadaku : Zaid bin Aslam. Dari 'Iyadl bin 'Abdullah bin Abu Sarah. Dari Abu Sa'id Al Khudri, beliau berkata :  


"Pada hari raya Idul Firi dan Adlha Rasulullah ﷺ💙 keluar menuju *TEMPAT SHALAT (LAPANGAN),* dan pertama kali yang beliau kerjakan adalah shalat hingga selesai. Kemudian beliau berdiri menghadap orang banyak sedangkan mereka dalam keadaan duduk di barisan mereka. Beliau memberi pengajaran, wasiat dan memerintahkan mereka. Dan apabila beliau ingin mengutus pasukan, maka beliau sampaikan atau beliau perintahkan (untuk mempersiapkannya), setelah itu beliau berlalu pergi." 


Abu Sa'id Al Khudri berkata :  "Manusia senantiasa melaksanakan (tata cara shalat hari raya) seperti apa yang beliau laksanakan, hingga pada suatu hari aku keluar bersama Marwan -yang saat itu sebagai Amir di Madinah- pada hari raya Adlha atau Fithri. Ketika kami sampai di tempat shalat, ternyata di sana sudah ada mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Ash Shalt. 


Ketika Marwan hendak menaiki mimbar sebelum pelaksanaan shalat, aku tarik pakaiannya dan dia balik menariknya, kemudian ia naik dan khuthbah sebelum shalat. 


Maka aku katakan kepadanya : 


"Demi Allah, kamu telah merubah (sunnah)!" 


Lalu dia menjawab :  


"Wahai Abu Sa'id. Apa yang engkau ketahui itu telah berlalu." 


Aku katakan :  "Demi Allah, apa yang aku ketahui lebih baik dari apa yang tidak aku ketahui." 


Lalu dia berkata :  "Sesungguhnya orang-orang tidak akan duduk (mendengarkan khutbah kami) setelah shalat. Maka aku buat (khutbah) sebelum shalat."

{HR. Bukhari / Kitabu Al Ìedain / Bab Al Khuruuji Ìla Al Mushalla Bighairi Al Minbari / No. 913,  teks miliknya. Dan Muslim :  3/20. Dan Nasa`i : 1/234} 


*APA YANG DIMAKSUD DARI MUSHALLA PADA redaksi di atas?* Dalam Fathul Bari dijelaskan bahwa *MUSHALLA* adalah sebuah tempat yang terletak di Madinah seluas 1000 dziro atau sekitar 480 meter menurut pendapat mayoritas ulama, sedangkan menurut Imam Nawawi adalah 447.2 meter dan menurut Imam Rofii seluas 448.2 meter. Dapat disimpulkan bahwa mushalla disini adalah tanah lapang dan luas dan bukanlah surau sebagaimana yang orang Indonesia kenal.


Mengerjakan shalat Ied di *MUSHALLA (TANAH LAPANG) ADALAH SUNNAH,* kerana dahulu Nabi ﷺ💜 keluar ke tanah lapang dan meninggalkan masjidnya, yaitu Masjid Nabawi yang lebih utama dari masjid lainnya. Waktu itu masjid Nabi belum mengalami perluasan seperti sekarang ini.


Namun demikian, menunaikan shalat Id di masjid lebih utama. Imam As-Syafi'i bahkan menyatakan sekiranya masjid tersebut mampu menampung seluruh penduduk di daerah tersebut, maka mereka tidak perlu lagi pergi ke tanah lapang (untuk mengerjakan shalat Ied) karena shalat Ied di masjid lebih utama. 


Akan tetapi jika tidak dapat menampung seluruh penduduk, maka tidak dianjurkan melakukan shalat Ied di dalam masjid.


أَنَّهُ إِذَا كاَنَ مَسْجِدُ البَلَدِ وَاسِعاً صَلُّوْا فِيْهِ وَلاَ يَخْرُجُوْنَ ... فَإِذَا حَصَلَ ذَالِكَ فَالمَسْجِدُ أَفْضَلُ


”Jika Masjid di suatu daerah luas (dapat menampung jama’ah) maka sebaiknya shalat di Masjid dan tidak perlu keluar.... karena shalat di masjid lebih utama”


Dari fatwa Imam As-Syafi'i ini, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani telah membuat kesimpulan seperti berikut: 


"Dari sini dapat disimpulkan, bahwa permasalahan ini sangat bergantung kepada luas atau sempitnya sesuatu tempat, kerana diharapkan pada Hari Raya itu seluruh masyarakat dapat berkumpul di suatu tempat. Oleh kerana itu, jika faktor hukumnya (’illatul hukm) adalah agar masyarakat berkumpul (ijtima’), maka shalat Id dapat dilakukan di dalam masjid, maka melakukan shalat Id di dalam masjid lebih utama daripada di tanah lapang". (Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Baari, jilid 5, h. 283)



*📚✍• Hadits Yang Menjelaskan Kreteria Mushalla  (Lapangan) Yang Digunakan Untuk Shalat Ìed.


Perlu diketahui bahwa pelaksanaan Shalat ‘Ied itu, tidak disyaratkan harus di masjid. Ini *_artinya umat Islam boleh melaksanakannya di masjid dan boleh juga di tempat yang bukan masjid._* 


Perhatikan perilaku Rasulullah ﷺ💖  tindakan shahabat dan beberapa pendapat ulama mujtahid beserta para ulama'  pengikutnya di bawah ini:


a.    Hadist riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى ، قَالَ : حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ ، عَنْ ابْنِ عَوْنٍ ، عَنْ مُحَمَّدٍ ، قَالَ : قَالَتْ أُمُّ عَطِيَّةَ : 


" أُمِرْنَا أَنْ نَخْرُجَ فَنُخْرِجَ الْحُيَّضَ وَالْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ ", 


قَالَ ابْنُ عَوْنٍ : أَوِ الْعَوَاتِقَ ذَوَاتِ الْخُدُورِ ، فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ وَيَعْتَزِلْنَ مُصَلَّاهُمْ " .

{رواه البخاري / كِتَاب الْجُمُعَةِ / أَبْوَابُ الْعِيدَيْنِ /  بَاب اعْتِزَالِ الْحُيَّضِ الْمُصَلَّى / رقم الحديث : ٩٣٣}.


Telah menceritakan kepada kami : Muhammad bin Al Mutsanna, ia  berkata : Telah menceritakan kepada kami : Ibnu Abu 'Adi. Dari Ibnu 'Aun. Dari Muhammad, ia berkata :  


" [Ummu 'Athiyyah] berkata :  "Kami diperintahkan untuk keluar, maka kami keluarkan pula para wanita yang sedang haid, gadis remaja dan wanita-wanita yang dipingit dalam rumah." 


Ibnu Aun menyebutkan :  "Atau gadis-gadis remaja yang dipingit. Adapun wanita haid, maka mereka dapat menyaksikan (menghadiri) jama'ah kaum Muslimin dan mendo'akan mereka, dan hendaklah mereka menjauhi tempat shalat mereka (kaum laki-laki)."

{HR. Bukhariy / Kitabu Al Jum"ati / Abwaabu Al Ìedaini / Babu Ì'tizaali Al Huyadli Al Mushalla / No. 913}.



*📚✍• Hadits Yang Senada :*


و حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ :  


" أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ💞 أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ",


قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ،


قَالَ : " لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا".

{رواه مسلم /  كِتَاب صَلَاةِ الْعِيدَيْنِ / بَاب ذِكْرِ إِبَاحَةِ خُرُوجِ النِّسَاءِ فِي الْعِيدَيْنِ  / رقم الحديث: ١٤٨١}.


Dan telah menceritakan kepada kami : 'Amru An Naqid. Telah menceritakan kepada kami : Ìsa bin Yunus. Telah menceritakan kepada kami : Hisyam. Dari Hafshah binti Sirin. Dari Ummu 'Athiyyah, beliau  berkata; 


" Rasulullah ﷺ💓 memerintahkan kepada kami agar mengajak serta keluar melakukan shalat idul fithri dan idul Adlha para gadis, wanita haid dan wanita yang sedang dipingit. Adapun mereka yang sedang haidl tidak ikut shalat, namun turut menyaksikan kebaikan dan menyambut seruan kaum muslimin. Saya bertanya kepada Rasulullah ﷺ💜 :  


"Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memiliki baju." 


Beliau menjawab: "Hendaknya saudaranya yang memiliki jilbab memakaikannya."

{HR. Muslim / Kitabu Shalati Al Ìedaini / Babu Dzikri Ibahaati Khuruuji An Nisaa'i Fi Al Ìedaini / No. 1481}.



b.    Hadits riwayat Imam Muslim


حَدَّثَنِي أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنْ مُحَمَّدٍ، عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ، قَالَتْ: 


«أَمَرَنَا - تَعْنِي النَّبِيَّ ﷺ💘 - أَنْ نُخْرِجَ فِي الْعِيدَيْنِ، الْعَوَاتِقَ، وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ» 

{رواه مسلم / ٨ - كتاب صلاة العيدين / ١ - باب ذكر إباحة خروج النساء في العيدين إلى المصلى وشهود الخطبة، مفارقات للرجال / رقم الحديث : ٨٩٠}.


Telah menceritakan kepada kami : Abu Ar Rabi' Az Zahraaniy. Telah menceritakan kepada kami : Hammad. Telah menceritakan kepada kami : Ayyub. Dari Muhammad. Dari Ummi ‘Athiyah, beliau berkata: 


"Nabi memerintahkan agar kita mengajak keluar pada hari raya para gadis dan wanita yang dipingit. Dan beliau memerintahkan agar wanita yang sedang haidl menjauh dari lokasi mushalla kaum muslimin”.

{HR. Muslim / 8 - Kitabu Shalati Al Ìedaini / 1 - Babu Dzikri Ibaahati Khuruuji An Nisaa'i Fi Al Ìedaini Ìla Al Mushalla Wa Syuhuudi Al Khuthbati Mufarraqaatu Lirrijaali / No. 890}.


Hadits - hadits  ini, *PENGERTIANNYA TIDAK MENUNJUKKAN BAHWA💜NABI MELAKUKAN SHALAT IED DI SEMBARANG LAPANGAN,* sebagaimana yang difahami oleh sebagian komunitas muslim Indonesia. Akan tetapi hadits tersebut memberi pengertian bahwa Nabi melaksanakan shalat hari raya di mushalla/tempat shalat yang memang dikhususkan untuk shalat id. Ingat kata المصلى dalam hadits yang pertama diberi al mu’arrifah yang mempunyai arti mushalla tertentu, dan dalam hadits kedua dimudlofkan pada kata المسملين. (mushallanya orang-orang Islam).


Hal ini sesuai dengan keterangan dalam kitab Subulus Salam syarah Bulughul Maram juz II hal. 69


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا كَانَ يَوْمُ الْعِيدِ خَالَفَ الطَّرِيقَ .أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ، يَعْنِي أَنَّهُ يَرْجِعُ مِنْ مُصَلَّاهُ مِنْ جِهَةٍ غَيْرِ الْجِهَةِ الَّتِي خَرَجَ مِنْهَا إلَيْهِ.


“Bahwasanya ketika hari raya, Rasulullah menempuh jalan yang bebeda, yakni kembali dari mushallanya melewati arah yang tidak beliau lewati sewaktu berangkat menuju mushalla”.


Dan sesuai dengan kitab Subulus Salam Syarhu Bulughu Al Maram juz II hal. 67 :


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إلَى الْمُصَلَّى وَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيَأْمُرُهُمْ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ) إلى أن قال: فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى شَرْعِيَّةِ الْخُرُوجِ إلَى الْمُصَلَّى ، وَالْمُتَبَادَرُ مِنْهُ الْخُرُوجُ إلَى مَوْضِعٍ غَيْرِ مَسْجِدِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَهُوَ كَذَلِكَ فَإِنَّ مُصَلاَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَحَلٌّ مَعْرُوفٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ بَابِ مَسْجِدِهِ أَلْفُ ذِرَاعٍ.


“Bahwasanya Rasulullah ﷺ💚 pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adlha keluar ke mushalla (Al-Hadits). Hadits ini sebagai dalil disyari’atkannya keluar menuju/ke mushalla. Dari hadits ini pula dengan mudah difahami bahwa keluarnya Nabi itu ke sebuah tempat yang bukan masjid dan memang benar demikian, karena sesungguhnya mushallanya Nabi itu berupa suatu tempat yang telah diketahui oleh banyak orang yang mana jarak antara mushalla dan pintu masjidnya Nabi ada seribu dzira’ (± 500 m.)


Kemudian masalah wacana masjid harus dikosongkan dan orang-orang harus berbondong-bondong pergi ke lapangan, jelas ini tidak sesuai dengan tindakan sababat Nabi dan ijtihad para ulama.


Berikut  keterangan-keterangan kitabnya :


*1⃣• Hukum  Shalat Ied DIMASJID dan DIMUSHALLA  (Tanah Lapang Khusus) Menurut Madzhab Imam Abu Hanifah.*

*📗✍• قال الشيخ أحمد شاكر رحمه الله تعالى : ( وقد تضافرت أقوال العلماء على ذلك :*

فقال العلامة العيني الحنفي في شرح البخاري، وهو يستنبط من حديث أبي سعيد [ الخدري : 

" كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ💙 يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ ، فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِم ،ْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوصِيهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ ، فَإِنْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِه ،ِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ . قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَلَمْ يَزَلْ النَّاسُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى خَرَجْتُ مَعَ مَرْوَانَ وَهُوَ أَمِيرُ الْمَدِينَةِ فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ فَلَمَّا أَتَيْنَا الْمُصَلَّى إِذَا مِنْبَرٌ بَنَاهُ كَثِيرُ بْنُ الصَّلْتِ فَإِذَا مَرْوَانُ يُرِيدُ أَنْ يَرْتَقِيَهُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَجَبَذْتُ بِثَوْبِهِ فَجَبَذَنِي فَارْتَفَعَ فَخَطَبَ قَبْلَ الصَّلاةِ فَقُلْتُ لَهُ غَيَّرْتُمْ وَاللَّهِ فَقَالَ أَبَا سَعِيدٍ قَدْ ذَهَبَ مَا تَعْلَمُ فَقُلْتُ مَا أَعْلَمُ وَاللَّهِ خَيْرٌ مِمَّا لا أَعْلَمُ فَقَالَ إِنَّ النَّاسَ لَمْ يَكُونُوا يَجْلِسُونَ لَنَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَجَعَلْتُهَا قَبْلَ الصَّلاةِ " – رواه البخاري ٩٥٦ ومسلم ٨٨٩ - ] ( ج ٦ ص ٢٨٠ - ٢٨١) ,

قال : " وفيه البروز إلى المصلى والخروج إليه ، ولا يصلى في المسجد إلا عن ضرورة . وروى ابن زياد عن مالك قال: السنة الخروج إلى الجبانة [ يعني المصلى ] إلا لأهل مكة ففي المسجد " 
{انظر هذه النقالة في كتاب عمدة القاري شرح صحيح البخاري /  كتاب العيدين / باب الخروج إلى المصلى بغير منبر / رقم الحديث ٩١٣. للإمام بدر الدين العيني الحنفي (وهو أبو محمد محمود بن أحمد بن موسى بن أحمد بن حسين الغيتابى الحنفى بدر الدين العينى)}.


*♻🎙• Syeikh Ahmad Syakir –rahimahullah ta'ala - berkata: Banyak perkataan para ulama yang menyatakan akan hal itu.*

Al ‘Allamah al ‘Aini al Hanafi dalam Syarah Bukhori, beliau menyimpulkan dari hadits Abu Sa’idal Khudri,

" كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ💚 يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ ، فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِم ،ْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوصِيهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ ، فَإِنْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِه ،ِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ . قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَلَمْ يَزَلْ النَّاسُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى خَرَجْتُ مَعَ مَرْوَانَ وَهُوَ أَمِيرُ الْمَدِينَةِ فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ فَلَمَّا أَتَيْنَا الْمُصَلَّى إِذَا مِنْبَرٌ بَنَاهُ كَثِيرُ بْنُ الصَّلْتِ فَإِذَا مَرْوَانُ يُرِيدُ أَنْ يَرْتَقِيَهُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَجَبَذْتُ بِثَوْبِهِ فَجَبَذَنِي فَارْتَفَعَ فَخَطَبَ قَبْلَ الصَّلاةِ فَقُلْتُ لَهُ غَيَّرْتُمْ وَاللَّهِ فَقَالَ أَبَا سَعِيدٍ قَدْ ذَهَبَ مَا تَعْلَمُ فَقُلْتُ مَا أَعْلَمُ وَاللَّهِ خَيْرٌ مِمَّا لا أَعْلَمُ فَقَالَ إِنَّ النَّاسَ لَمْ يَكُونُوا يَجْلِسُونَ لَنَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَجَعَلْتُهَا قَبْلَ الصَّلاةِ " – رواه البخاري ٩٥٦ ومسلم ٨٨٩ - ] ( ج ٦ ص ٢٨٠ - ٢٨١).

Bahwa Rasulullah – ﷺ💜- keluar ke mushalla (tanah lapang khusus untuk shalat ied -+ 500 dziro' dari masjid Nabawi)  ketika shalat Idul fitri dan idul adha. Dan yang pertama beliau lakukan adalah shalat lalu berpaling. Seraya berdiri menghadap ke jama’ah -sedang mereka duduk dalam shafnya- memberikan nasehat, wasiat, dan memberikan perintah kepada mereka. Jika beliau ingin mengirim utusan maka beliau utaraka, dan jika beliau ingin memerintah sesuatu juga beliau utarakan lalu beranjak pulang. Abu Sa’id mengatakan, demikianlah masyarakat melakukan shalat id, sampai saya keluar dengan Marwan yang posisinya sebagai wali (gubernur) Madinah untuk mendirikan shalat idul adha dan idul fitri, sesampainya kami di Mushalla kami mendapati mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Shalt. Dan Marwan ingin menaikinya sebelum shalat id, maka aku tarik bajunya, dia tetap naik mimbar dan berkhutbah sebelum shalat, lalu saya katakan: “Demi Allah, kalian telah merubahnya”. Lalu dia berkata: “Wahai Abu Sa’id, telah berlalu apa yang anda tahu”. Saya berkata: “Apa yang saya ketahui lebih baik dari apa yang tidak saya ketahui”. Dia berkata: “Bahwa masyarakat tidak sabar untuk mendengarkan khutbah setelah shalat, maka saya menjadikan khutbah sebelum shalat”. (HR. Bukhori 956, dan Muslim 889, Jilid: 6/280-281). Beliau berkata: “Dan di dalam Mushalla ada al Barruz, dan tidak shalat id di masjid kecuali dalam keadaan darurat”. Ibnu ziyad meriwayatkan dari Malik bahwa beliau berkata: “Yang sesuai sunnah adalah keluar menuju Mushalla id, kecuali bagi penduduk Makkah, bahwa mereka mendirikan shalat id di masjid”.
{Lihat Cuplikan Syaikh Ahmad Syakir Ini Pada  Kitab 'Umdatu Al Qaariy Syarhu Shahih Al Bukhariy / Kitab Al Ìedaini / Babu Al Khuruuji Ìla Al Mushalla Bighairi Minbarin / No. 913. Karya Allah​ 'Alamah Badruddin Al 'Ainiy Al Hanafiy}.

*📘☘• قال الإمام زين الدين بن إبراهيم (ابن نجيم) الحنفي رحمه الله تعالى في كتابه " البحر الرائق شرح كنز الدقائق ":*

وَالْخُرُوجُ إلَى الْجَبَّانَةِ سُنَّةٌ لِصَلَاةِ الْعِيدِ ، وَإِنْ كَانَ يَسَعُهُمْ الْمَسْجِدُ الْجَامِعُ عِنْدَ عَامَّةِ الْمَشَايِخِ هُوَ الصَّحِيحُ ا هـ .

وَفِي الْمُغْرِبِ الْجَبَّانَةُ الْمُصَلَّى الْعَامُّ فِي الصَّحْرَاءِ ،
{انظر كتاب البحر الرائق شرح كنز الدقائق / كتاب الصلاة  /  باب العيدين / الخروج إلى الجبانة يوم العيد. للإمام زين الدين بن إبراهيم (ابن نجيم) الحنفي}.

*📚🌴• Imam Ibnu Nujaim Al Hanafiy rahimahullahu ta'ala berkata dalam Kitabnya " Al Bahru Ar Raaiq Syarhu Kanzu Ad Daqaaiq ":*

"Dan keluar menuju mushlalla ied adalah *SUNNAH*, meskipun masjidnya mampu menampung semua jama’ah, pendapat inilah yang pilih oleh kebanyakan para masyayikh, dan inilah yang benar”. 

Dan dalam Al Mughrib Al Jabanah adalah Mushalla (tempat shalat) Umum ditanah lapang.
{Lihat Kitab Al Bahru Ar Raaiq Syarhu Kanzu Ad Daqaaiq / Kitabu Ash Shalaati / Babu Al Ìedaini / Al Khuruuju Ìlaa Al Jabanati Yauma Al Ìedi. Karya Imam Ibnu Nujaim Al Hanafiy}.


*🌴✍• قال الإمام محمد أمين بن عمر (ابن عابدين) الحنفي رحمه الله تعالى في كتابه " رد المحتار على الدر المختار ":*

وَفِي الْخُلَاصَةِ وَالْخَانِيَّةِ : السُّنَّةُ أَنْ يَخْرُجَ الْإِمَامُ إلَى الْجَبَّانَةِ ، وَيَسْتَخْلِفَ غَيْرَهُ لِيُصَلِّيَ فِي الْمِصْرِ بِالضُّعَفَاءِ بِنَاءً عَلَى أَنَّ صَلَاةَ الْعِيدَيْنِ فِي مَوْضِعَيْنِ جَائِزَةٌ بِالِاتِّفَاقِ ، وَإِنْ لَمْ يَسْتَخْلِفْ فَلَهُ ذَلِكَ . انتهـى 
{انظر كتاب رد المحتار على الدر المختار /  كتاب الصلاة / مَطْلَبٌ يُطْلَقُ الْمُسْتَحَبُّ عَلَى السُّنَّةِ وَبِالْعَكْسِ. للإمام محمد أمين بن عمر (ابن عابدين) الحنفي}.

*📗🎙• Imam Ibnu 'Abidiin Al Hanafiy rahimahullahu ta'ala dalam Kitabnya " Raddu Al Muhtar 'Ala Ad Durri Al Mukhtasar " berkata :*

Dan didalam kitab Al Khulashah (Ath Thibiy w. 743 H) dan kitab Al Khaaniyyah (Fakhruddin Qadli Khan Al Hanafiy w. 592 H) : *SUNNAH* apabila Imam keluar menuju jabanah (Mushalla atau tanah lapang), dan agar supaya Imam istikhlaf/menunjuk orang lain (agar melaksanakan shalat ied di masjid bersama kaum yang tidak mampu), guna menetapkan bahwasannya shalat Ied didua tempat *ADALAH DIPERBOLEHKAN* berdasarkan kesepakatan ulama', dan jika imam tidak melakukan  istikhlaf/menunjuk orang lain (agar melaksanakan shalat ied di masjid bersama kaum yang tidak mampu), maka hal tersebut tetap/wajib baginya.
{Lihat Kitab Raddu Al Muhtar 'Ala Ad Durri Al Mukhtasar / Kitabu Ash Shalaati / Mathlabun Yuthlaqu Al Mustahabbu Fi As Sunnah Wa Bil'aksi. Karya Imam Ibnu 'Abidiin Al Hanafiy}.

*📘👌• وجاء في كتاب  الفتاوى الهندية أو الفتاوى العالمكيرية كتاب في الفقه الحنفي على مذهب الإمام أبي حنيفة النعمان تأليف جماعة من علماء الهند برئاسة الشيخ نظام الدين البرنهابوري البلخي رحمهم الله تعالى :*

َالْخُرُوجُ إلَى الْجَبَّانَةِ سُنَّةٌ لِصَلَاةِ الْعِيدِ ، وَإِنْ كَانَ يَسَعُهُمْ الْمَسْجِدُ الْجَامِعُ عٙلٙى هٙذٙا عَامَّةُ الْمَشَايِخِ وٙهُوَ الصَّحِيحُ ا هـ .
{انظر كتاب الفتاوى الهندية في فقه الحنفي : ج ١ ص ١١٨. لجماعة من علماء الهند برئاسة الشيخ نظام الدين البرنهابوري}.

*📓🌴• Dan dalam Kitab Allah​ Fatawa Hindiyah Fi Fiqhi Al Imam Al Hanafiy karya Jama'ah Ulama' India Pimpinan Syaikh Nidzomuddin Al Balkhiy Al Hanafiy :*

"Keluar menuju mushlalla ied adalah *SUNNAH*, meskipun masjidnya mampu menampung semua jama’ah, pendapat inilah yang pilih oleh kebanyakan para masyayikh, dan inilah yang benar”. 
{Lihat Kitab  Fatawa Hindiyah Fi Fiqhi Al Imam Al Hanafiy karya Jama'ah Ulama' India Pimpinan Syaikh Nidzomuddin Al Balkhiy Al Hanafiy}.


*2⃣• Hukum  Shalat Ied DIMASJID dan DIMUSHALLA  (Tanah Lapang Khusus) Menurut Madzhab Imam Malik.*

*📓☘• وقال الإمام مالك بن أنس بن مالك بن عامر الأصبحي المدني، المتوفى: ١٧٩ هـ) رحمه الله تعالى في كتابه " المدونة المروية عن مالك ":*

قَالَ: وَقَالَ مَالِكٌ: لَا يُصَلَّى فِي الْعِيدَيْنِ فِي مَوْضِعَيْنِ وَلَا يُصَلُّونَ فِي مَسْجِدِهِمْ، وَلَكِنْ يَخْرُجُونَ كَمَا خَرَجَ النَّبِيُّ - ﷺ💘 -

قَالَ ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: 

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ💚 - يَخْرُجُ إلَى الْمُصَلَّى، ثُمَّ اسْتَنَّ بِذَلِكَ أَهْلُ الْأَمْصَارِ» 
{انظر كتاب المدونة : ج ١ ص ١٧١. للإمام مالك بن أنس بن مالك بن عامر الأصبحي المدني}.

*♻🌴• Dan Imam Malik Al Madaniy rahimahullahu ta'ala didalam al Mudawwanah yang diriwayatkan oleh Malik,  berkata:*

“Shalat idul fitri dan idul adha *TIDAK BOLEH DILAKSANAKAN DI DUA TEMPAT*, dan juga tidak di masjid, akan tetapi para jama’ah keluar menuju mushalla ied, sebagaimana keluarnya Rasulullah – ﷺ💜 -

Ibnu Wahhab meriwayatkan dari Yunus, dari Ibnu Syihab berkata: Bahwa Rasulullah – ﷺ💖 -- keluar menuju mushallah ied, lalu menjadikan hal itu sunnah bagi semua penduduk kota”. 
{Lihat Kitab Al Mudawwanah yang diriwayatkan oleh Malik : juz 1 hal 171. Karya Imam Malik bin Anas Al Madaniy Al Ashbahiy}.


*📒🎙• جاء في دار الإفتاء المصرية  المفتي: فضيلة الشيخ حسن مأمون حفظه الله تعالى :*

أما المالكية فيقولون: يندب فعلها بالصحراء ولا يسن، ويكره فعلها في المسجد من غير عذر إلا بمكة، فالأفضل فعلها بالمسجد الحرام لشرف البقعة ومشاهدة البيت.
{انظر دار الإفتاء المصرية. تم إنشاؤها عام ١٨٩٥ مـ/ ١٣١٣ هـ.  المفتي: فضيلة الشيخ حسن مأمون}.

*📘🔴• Didalam " Daar Al Iftaa' Al Mishriyyah " Mufti : Fadlilah Syaikh Hasan Ma'mun hafidzohullaahu ta'ala :*

Adapun Malikiyyah (Pengikut Madzhab Imam Malik) mengatakan : 

*DITUNTUT*  menjalankannya ditanah lapang, bukan *DISUNNAHKAN* dan *MAKRUH* menjalankannya dimasjid tanpa adanya 'udzur kecuali (melaksanakannya) dikota makkah, maka *YANG LEBIH UTAMA* melaksanakannya adalah dimasjidil haram karena kemuliaan posisi tempatnya dan bisa langsung menghadap menyaksikan  baitullah (Ka'bah).
{Lihat Fatwa " Daar Al Iftaa' Al Mishriyyah " Mufti : Fadlilah Syaikh Hasan Ma'mun. Sempurna pengadaannya th. 1313 H / 1895  M}.

*📓👌• وقال العلامة ابن الحاج المالكي (وهو  أبو عبد الله محمد بن محمد بن محمد العبدري الفاسي المالكي الشهير بابن الحاج, سنة الوفاة ٧٣٧ هـ) رحمه الله تعالى في كتابه " المدخل ":*

"وَالسُّنَّةُ الْمَاضِيَةُ فِي صَلاَةِ الْعِيدَيْنِ أَنْ تَكُونَ فِي الْمُصَلَّى لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ💚 قَالَ: 

" صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ " (البخاري ومسلم), ثُمَّ مَعَ هَذِهِ الْفَضِيلَةِ الْعَظِيمَةِ خَرَجَ صلى الله عليه وسلم إلَى الْمُصَلَّى وَتَرَكَهُ, 

فَهَذَا دَلِيلٌ وَاضِحٌ عَلَى تَأَكُّدِ أَمْرِ الْخُرُوجِ إلَى الْمُصَلَّى لِصَلَاةِ الْعِيدَيْنِ فَهِيَ السُّنَّةُ, وَصَلَاتُهُمَا فِي الْمَسْجِدِ عَلَى مَذْهَبِ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِدْعَةٌ إلَّا أَنْ تَكُونَ ثَمَّ ضَرُورَةٌ دَاعِيَةٌ إلَى ذَلِكَ فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَفْعَلْهَا وَلَا أَحَدٌ مِنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ بَعْدَهُ ، وَلِأَنَّهُ { عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَمَرَ النِّسَاءَ أَنْ يَخْرُجْنَ إلَى صَلَاةِ الْعِيدَيْنِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ وَرَبَّاتِ الْخُدُورِ بِالْخُرُوجِ إلَيْهِمَا فَقَالَتْ إحْدَاهُنَّ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ تُعِيرُهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا لِتَشْهَدَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ } ، 

فَلَمَّا أَنْ شَرَعَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَهُنَّ الْخُرُوجَ شَرَعَ الصَّلَاةَ فِي الْبَرَاحِ لِإِظْهَارِ شَعِيرَةِ الْإِسْلَامِ".

فالسنة النبوية التي وردت في الأحاديث الصحيحة دلت على أن النبي ﷺ💘 كان يصلي العيدين في الصحراء في خارج البلد . وقد استمر العمل على ذلك في الصدر الأول ، ولم يكونوا يصلون العيد في المساجد ، إلا إذا كانت ضرورة من مطر ونحوه .

وهذا مذهب الأئمة الأربعة وغيرهم من أهل العلم من الأئمة رضوان الله عليهم ، لا أعلم أن أحداً خالف في ذلك ، إلا قول الشافعي رضي الله عنه في اختياره الصلاة في المسجد إذا كان يسع أهل البلد ، ومع هذا فإنه لم ير بأساً بالصلاة في الصحراء وإن وسعهم المسجد ، وقد صرح رضي الله عن بأنه يكره صلاة العيدين في المسجد إذا كان لا يسع أهل البلد .

فهذه الأحاديث الصحيحة وغيرها ، ثم استمرار العمل في الصدر الأول ، ثم أقوال العلماء : كل أولئك يدل على أن صلاة العيدين الآن في المساجد بدعة ، حتى على قول الشافعي ؛ لأنه لا يوجد مسجد واحد في بلادنا يسع أهل البلد الذي هو فيه .

ثم إن هذه السنة ، يجتمع فيها أهل كل بلدة رجالاً ونساءً وصبياناً ، يتوجهون إلى الله بقلوبهم ، تجمعهم كلمة واحدة ، ويصلون خلف إمام واحد ، يكبرون ويهللون ، ويدعون الله مخلصين ، كأنهم على قلب رجل واحد ، فرحين مستبشرين بنعمة الله عليهم ، فيكون العيد عندهم عيداً .

وقد أمر رسول الله ﷺ💖 بخروج النساء لصلاة العيد مع الناس ولم يستثن منهن أحداً ، حتى إنه لم يرخص لمن لم يكن عندها ما تلبس في خروجها ، بل أمر أن تستعير من غيرها ، وحتى إنه أمر من كان عندهن عذر يمنعهن الصلاة بالخروج إلى المصلى : " ليشهدن الخير ودعوة المسلمين "
وقد كان النبي ﷺ💜  ثم خلفاؤه من بعده ، والأمراء النائبون عنهم في البلاد يصلون بالناس العيد ، ثم يخطبونهم بما يعظونهم به ، ويعلمونهم مما ينفعهم في دينهم ودنياهم ، ويأمرونهم بالصدقة في ذلك الجمع المبارك ، الذي تتنزل عليه الرحمة والرضوان .

فعسى أن يستجيب المسلمون لاتباع سنة نبيهم ولإحياء شعائر دينهم ، الذي هو معقد عزهم وفلاحهم ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ) الأنفال/٢٤.
{انتهى كلامه رحمه الله من تعليقه على سنن الترمذي : ج ٢ ص ٤٢١ - ٤٢٤. في كتابه المدخل : ج ٢ ص ٢٨٣. للإمام  أبو عبد الله محمد بن محمد بن محمد العبدري الفاسي المالكي الشهير بابن الحاج, سنة الوفاة 737هـ, تحقيق: الناشر دار الفكر: سنة النشر ١٤٠١ هـ - ١٩٨١ مـ}.

*♻🎙• Al ‘Allamah Ibnul Haaj Al Malikiy rahimahullahu ta'ala (w. 737 H)  dalam kitabnya “al Madhkhol " :*

*“MENJADI SUNNAH sebelumnya* bahwa shalat idul fitri dan idul adha itu dilaksanakan di mushalla; karena Rasulullah – ﷺ💜 - bersabda:

" صلاة في مسجدي هذا أفضل من ألف صلاة فيما سواه إلا المسجد الحرام " (رواه البخاري : ١١٩٠  ومسلم : ١٣٩٤}.

“Shalat di masjidku ini lebih baik dari 1000 kali shalat dari pada masjid yang lain, kecuali Masjidil Haram”. (HR. Bulhori: 1190, dan Muslim: 1394)

Kemudian Rasulullah meskipun masjidnya memiliki keutamaan yang besar, beliau keluar ke mushalla dan meninggalkan masjidnya. Ini merupakan bukti yang jelas akan kuatnya perintah keluar ke mushalla ied untuk shalat idul fitri dan idul adha, ini pulalah yang sesuai sunnah. Sedangkan shalat ied di masjid menurut madzhab Maliki –rahimahullah- adalah bid’ah, kecuali karena darurat dan terpaksa, maka bukan termasuk bid’ah; karena Rasulullah– ﷺ💞 - dan para khulafaur Rasyidin setelah beliau tidak melaksanakan shalat id di masjid, beliau juga menyuruh semua wanita keluar ke mushalla, termasuk wanita yang sedang haid, dan yang sedang dipingit juga keluar ke mushalla id. Salah satu dari mereka berkata: “Wahai Rasulullah, salah satu dari kami tidak memiliki baju kurung (semacam mukena), beliau menjawab: “Hendaknya saudara muslimah yang lain meminjaminya, hingga ikut menyaksikan kebaikan hari raya, dan do’a-do’a kaum muslimin”. (HR. Bukhori 324, dan Muslim 890)

Ketika para wanita diperintah untuk keluar menuju mushalla, maka Rasulullah membolehkan pelaksanaan shalat id di tanah lapang yang luas, untuk menunjukkan syi’ar Islam.

Sunnah Nabawiyah yang tertera di dalam beberapa hadits Shahih​ di atas, menunjukkan bahwa Rasulullah – ﷺ💘- sendiri melaksanakan shalat id di padang pasir di luar kota Madinah. Hal ini berlangsung selama satu generasi, mereka tidak melaksanakan shalat id di masjid, kecuali karena darurat seperti hujan atau yang lainnya.

Ini merupakan pendapat para Imam Madzhab yang empat, dan para Imam yang lain –radliyyAllahu ‘anhum-, saya belum mengetahui seseorang yang menyelisihinya, kecuali perkataan Imam Syafi’i beliau memilih shalat di masjid tapi dengan syarat bahwa masjid tersebut mampu menampung semua penduduk kota.

Beberapa hadits di atas dan yang lainnya, termasuk para generasi awal umat ini, juga pendapat para ulama, semua itu menunjukkan bahwa pelaksanaan shalat id di masjid adalah bid’ah. Termasuk menurut pendapat Imam Syafi’i, karena faktanya bahwa tidak ada satu masjid yang mampu menampung semua jama’ah dalam satu kota atau negara.

Termasuk sunnah juga, semua penduduk berkumpul jadi satu, baik laki-laki, wanita, anak-anak. Hati mereka semua tunduk bersimpuh di hadapan Allah, atas dasar satu kalimat tauhid, mereka shalat di belakang satu imam, bertakbir, bertahlil, bermunajat kepada Allah dengan penuh keikhlasan, seakan mereka semua menjadi satu hati, semuanya merasakan kebahagiaan, dan saling member berita gembira akan nikmat Allah kepada mereka, maka inilah sesungguhnya yang dinamakan hari raya.

Rasulullah - ﷺ💓 -, para kholifah setelah beliau, para wali atau gubernur di beberapa wilayah, melaksanakan shalat id bersama seluruh masyarakat, kemudian memberikan ceramah kepada mereka, menasehati mereka, mengajari mereka sesuatu yang bermanfaat bagi dunia dan akherat mereka, dan menyuruh mereka untuk bersedekah pada kesempatan yang penuh dengan barakah ini; karena rahmat dan ridha Allah sedang menaungi mereka.

Semoga semua umat Islam diberikan kekuatan untuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad – ﷺ💚 - untuk mneghidupkan syiar-syiar Islam, yang merupakan tumpuan kemuliaan dan keberuntungan mereka.

( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ) الأنفال/24

“ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu”. (QS. Al Anfal: 24)
{{Demikian penjelasan beliau tentang sebuah hadits dalan Sunan Tirmidzi, jilid 2/421-424. Lihat Kitab Al Madkhal : juz 2 hal 283. Karya Ibnu Al Hajj Al Malikiy}.


*3⃣• Hukum  Shalat Ied DIMASJID dan DIMUSHALLA  (Tanah Lapang Khusus) Menurut Madzhab Imam Syafi'iy.*

*♻✍• وقال الإمام محمد بن إدريس الشافعي رحمه الله تعالى في كتابه ( الأم ) :*

( قَالَ الشَّافِعِيُّ ) رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بَلَغَنَا { أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ💚 كَانَ يَخْرُجُ فِي الْعِيدَيْنِ إلَى الْمُصَلَّى بِالْمَدِينَةِ } وَكَذَلِكَ مَنْ كَانَ بَعْدَهُ ، وَعَامَّةُ أَهْلِ الْبُلْدَانِ إلَّا أَهْلَ مَكَّةَ فَإِنَّهُ لَمْ يَبْلُغْنَا أَنَّ أَحَدًا مِنْ السَّلَفِ صَلَّى بِهِمْ عِيدًا إلَّا فِي مَسْجِدِهِمْ. 

( قَالَ الشَّافِعِيُّ ) : وَأَحْسَبُ ذَلِكَ ، وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ، 

لِأَنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ خَيْرُ بِقَاعِ الدُّنْيَا فَلَمْ يُحِبُّوا أَنْ يَكُونَ لَهُمْ صَلَاةٌ إلَّا فِيهِ مَا أَمْكَنَهُمْ،

( قَالَ ) : وَإِنَّمَا قُلْتُ هَذَا لِأَنَّهُ قَدْ كَانَ ، وَلَيْسَتْ لَهُمْ هَذِهِ السَّعَةُ فِي أَطْرَافِ الْبُيُوتِ بِمَكَّةَ سَعَةً كَبِيرَةً ، وَلَمْ أَعْلَمْهُمْ صَلَّوْا عِيدًا قَطُّ ، وَلَا اسْتِسْقَاءً إلَّا  فِيهِ . 

(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَإِنْ عَمَرَ بَلَدٌ فَكَانَ مَسْجِدُ أَهْلِهِ يَسَعُهُمْ فِي الْأَعْيَادِ لَمْ أَرَ أَنَّهُمْ يَخْرُجُونَ مِنْهُ، وَإِنْ خَرَجُوا فَلَا بَأْسَ، وَلَوْ أَنَّهُ كَانَ لَا يَسَعُهُمْ فَصَلَّى بِهِمْ إمَامٌ فِيهِ كَرِهْتُ لَهُ ذَلِكَ، وَلَا إعَادَةَ عَلَيْهِمْ.

(قَالَ) : وَإِذَا كَانَ الْعُذْرُ مِنْ الْمَطَرِ أَوْ غَيْرِهِ أَمَرْتُهُ بِأَنْ يُصَلِّيَ فِي الْمَسَاجِدِ وَلَا يَخْرُجَ إلَى صَحْرَاءَ 
{انظر كتاب الام : ج ١ ص ٢٠٧ / كتاب صلاة العيدين / الخروج إلى الأعياد. للإمام محمد بن إدريس الشافعي}.

*📓🌴• Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam Kitabnya " Al Umm " berkata :*

“Kami mendengar bahwa Rasulullah – ﷺ💚 - keluar menuju mushalla untuk melaksanakan shalat idul fitri dan idul adha di Madinah, demikian juga para generasi setelah beliau, dan mayoritas penduduk kota-kota, kecuali kota Makkah. Dan kami belum pernah mendengar bahwa generasi salaf melaksanakan shalat id bersama-bersama *KECUALI DI MASJID MEREKA.*

Saya mengira –wallahu a’alam- 

karena Masjidil Haram adalah sebaik-baik tempat di muka bumi, sedang mereka tidak menyukai shalat kecuali dilaksanakan di dalamnya, jika hal itu memungkinkan.

Apabila sebuah negara makmur, dan masjidnya mampu menampung semua jama’ah, saya tidak berpendapat agar semuanya keluar menuju mushalla. Namun jika mereka keluar ke mushalla juga tidak apa-apa. Dan kalau pun masjid mereka luas, dan yang menjadi imam adalah yang tidak disetujui makmumnya maka tidak diharuskan mengulanginya. 

*_Dan jika ada udzur karena hujan atau yang lainnya saya menyuruhnya agar melaksanakan shalat di masjid dan keluar menuju mushalla”._*
{Lihat Kitab Al Umm : juz 1 hal 207 / Kitabu Shalaati Al Ìedaini / Al Khuruuju Ìlaa Al A'yaad. Karya Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi'iy}.


🌴📓• Keterangan dalam kitab Subulus  Salam Syarhu Bulughu Al Maram juz II hal. 71 :

*📘🎙• قال الإمام الصنعاني الزيدي رحمه الله تعالى في كتابه " سبل السلام شرح بلوغ المرام ":*

وَقَدْ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ عَلَى قَوْلَيْنِ هَلْ الْأَفْضَلُ فِي صَلَاةِ الْعِيدِ الْخُرُوجُ إلَى الْجَبَّانَةِ أَوْ الصَّلَاةُ فِي مَسْجِدِ الْبَلَدِ إذَا كَانَ وَاسِعًا ؟ الثَّانِي: قَوْلُ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ إذَا كَانَ مَسْجِدُ الْبَلَدِ وَاسِعًا صَلَّوْا فِيهِ وَلَا يَخْرُجُونَ، وَالْقَوْلُ الْأَوَّلُ لِلْهَادَوِيَّةِ وَمَالِكٍ أَنَّ الْخُرُوجَ إلَى الْجَبَّانَةِ أَفْضَلُ، وَلَوْ اتَّسَعَ الْمَسْجِدُ لِلنَّاسِ وَحُجَّتُهُمْ مُحَافَظَتُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ذَلِكَ ؛ وَلِقَوْلِ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَإِنَّهُ رُوِيَ أَنَّهُ خَرَجَ إلَى الْجَبَّانَةِ لِصَلَاةِ الْعِيدِ، وَقَالَ : لَوْلَا أَنَّهُ السُّنَّةُ لَصَلَّيْت فِي الْمَسْجِدِ، وَاسْتَخْلَفَ مَنْ يُصَلِّي بِضَعَفَةِ النَّاسِ فِي الْمَسْجِدِ. إهـ باختصار
{انظر كتاب  سبل السلام شرح بلوغ المرام : ج ١ ص ٧١. للإمام الصنعاني الشيعي الزيدي}.

*☘🎙• Imam Shan'aniy Asy Syi'iy Az Zaidiy rahimahullahu ta'ala dalam Kitabnya " Subulu As Salaam Syarhu Bulughu Al Maram " menjelaskan :*

“Pendapat para ulama berbeda menjadi dua dalam hal shalat ied, manakah yang *AFDLOL/PALING UTAMA*  apakah dilaksanakan di tanah lapang ataukah di masjid yang luas? 

*Imam Syafi’iy*  berpendapat apabila masjid di sebuah negeri itu luas, maka kaum muslimin melaksanakan shalat ied di masjid tidak usah keluar ke tanah lapang. 

*Golongan Hadawiyah dan Imam Malik berpendapat :* keluar ke tanah lapang itu *AFDLOL*  walaupun masjidnya luas, alasan mereka karena selalu melaksanakannya di tanah lapang. Dan perkataan Sayyidna Ali ketika beliau keluar ke tanah lapang untuk melaksanakan shalat ied : andaikata hal itu bukan sunnah niscaya aku shalat di masjid, dan beliau istikhlaf/menunjuk orang lain agar melaksanakan shalat ied di masjid bersama kaum yang tidak mampu.
{Lihat Kitab Subulus  Salam Syarhu Bulughu Al Maram : juz II hal 71. Karya  Imam Shan'aniy Asy Syi'iy Az Zaidiy}.


*📓✍• Keterangan Dalam Kitab Al Fiqhu 'Ala Al-Madzahibi Al  Arba’ah juz II hal. 71 :

*🌴🔴• قال الإمام عبد الرحمن الجزيري رحمه الله تعالى في كتابه " الفقه على مذاهب الأربعة ":*

وَمَتَى خَرَجَ اْلإِمَامُ لِلصَّلاَةِ فِيْ الصَّحْرَاءِ نُدِبَ لَهُ أَنْ يَسْتَخْلِفَ غَيْرَهُ لِيُصَلِّيَ بِالضُّعَفَاءِ الَّذِيْنَ يَتَضَرَّرُوْنَ بِالْخُرُوْجِ إِلَى الصَّحْرَاءِ لِصَلاَةِ الْعِيْدِ بِأَحْكَامِهَا الْمُتَقَدِّمَةِ، لأَنَّ صَلاَةَ الْعِيْدِ يَجُوْزُ أَدَاؤُهَا فِيْ مَوْضِعَيْنِ.
{انظر كتاب الفقه على مذاهب الأربعة : ج ٢ ص ٧١. للإمام عبد الرحمن الجزيري}.

*♻✍• Imam 'Abdurrahman Al Jaziriy rahimahullahu ta'ala dalam  Kitabnya " Al Fiqhu 'Ala Al-Madzahibi Al  Arba’ah " berkata :*

“Bila pemimpin negara melaksanakan shalat ied di shahra’ (lapangan) dia *DIANJURKAN*  agar istikhlaf/menunjuk orang lain untuk melakukan shalat ied bersama orang yang tidak mampu yang merasa berat untuk keluar ke shahra’ dengan beberapa keterangan hukum yang terdahulu, karena shalat id itu boleh dilaksanakan di dua tempat. 
{Lihat Kitab Al Fiqhu 'Ala Al-Madzahibi Al  Arba’ah : juz II hal 71. Karya Imam 'Abdurrahman Al Jaziriy}.


*📒🌴• Keterangan Dalam Kitab Asy-Syarwani Alat Tuhfah :

وَيَسْتَخْلِفُ نَدْبًا إِذَا ذَهَبَ إِلَى الصَّحْرَاءِ مَنْ يُصَلِّى فِيْ الْمَسْجِدِ بِالضَّعَفَةِ وَمَنْ لَمْ يَخْرُجْ.

“Hukumnya Sunnat ketika pemimpin negara pergi ke shahra’ menunjuk seseorang untuk melaksanakan shalat id di masjid bersama orang-orang yang tidak mampu dan orang-orang yang tidak ikut keluar ke shahra’”.
{Lihat Hasyiyyah Asy Syarwaaniy : juz 3}.


*♻📚• Keterangan Dalam Kitab Fathul Wahhab Syarhu Manhaju Ath Thulaab :*

*📘🎙• قال الإمام  زكريا بن محمد بن أحمد بن زكريا الأنصاري، زين الدين أبو يحيى السنيكي الشافعي، المتوفى: ٩٢٦ هـ) رحمه الله تعالى في كتابه " فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب ":*

(وَفِعْلُهَا بِمَسْجِدٍ أَفْضَلُ) لِشَرَفِهِ (لاَ لِعُذْرٍ) كَضِيْقِهِ فَيُكْرَهُ فِيْهِ لِلتَّشْوِيْشِ بِالزِّحَامِ وَإِذَا وُجِدَ مَطَرٌ أَوْ نَحْوُهُ وَضَاقَ الْمَسْجِدُ صَلَّى اْلاِمَامُ فِيْهِ وَاسْتَخْلَفَ مَنْ يُصَلِّي بِبَاقِي النَّاسِ بِمَوْضِعٍ آخَرَ. (وَإِذَا خَرَجَ) لِغَيْرِ الْمَسْجِدِ (اسْتَخْلَفَ) نَدْبًا مَنْ يُصَلِّي وَيَخْطُبُ (فِيْهِ) بِمَنْ يَتَأَخَّرُ مِنْ ضَعَفَةٍ وَغَيْرِهِمْ.
{انظر كتاب فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب : ج ١ ص ٨٣. للشيخ زكريا الانصاري الشافعي}.

*🌐🎤• Imam Zakariyya Al Anshariy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam Kitabnya " Fathu Al Wahhab Syarhu Manhaji Ath Thulaab ":*

*_“Melaksanakan shalat id di masjid itu lebih afdlol,_* karena masjid adalah tempat yang mulia, jika tidak ada udzur seperti sempitnya masjid. Kalau keadaan masjid itu sempit maka makruh hukumnya shalat ‘id di masjid karena orang-orang merasa tertanggu disebabkan berdesakan. Bila terjadi hujan atau semisalnya sedangkan mesjidnya sempit maka pemimpin negara melaksanakan shalat di masjid dan dia istikhlaf/menunjuk orang lain agar melaksanakan shalat di tempat lain. Dan apabila pemimpin negara keluar untuk melaksanakan shalat di tempat selain masjid dia disunnatkan istkhlaf/menunjuk orang lain melaksanakan shalat id sekalian berkhotbah di masjid bersama orang yang tertinggal, baik orang yang tidak mampu atau yang lain.
{Lihat Kitab  Fathu Al Wahhab Syarhu Manhaji Ath Thulaab : juz 1 hal 83. Karya Imam Zakariyya Al Anshariy Asy Syafi'iy}.


*🌴🌐• Keterangan Dalam Kitab Al Fiqhu 'Ala Madzahibul Arba’ah " :*

*♻🎙• قال الإمام عبد الرحمن الجزيري رحمه الله تعالى في كتابه " الفقه على مذاهب الأربعة ":*

الشَّافِعِيَّةُ قَالُوْا : فِعْلُهَا فِي الْمَسْجِدِ أَفْضَل لِشَرَفِهِ إِلاَّ لِعُذْرٍ كَضِيْقِهِ فَيُكْرَهُ فِيْهِ لِلزِّحَامِ وَحِيْنَئِذٍ يُسَنُّ الْخُرُوْجُ لِلصَّحْرَاءِ.
{انظر كتاب الفقه على مذاهب الأربعة : ج ١ ص ٣٥١. للإمام عبد الرحمن الجزيري}.

*📘✒• Imam Abdurrahman Al Jaziriy rahimahullahu ta'ala dalam Kitabnya " Al Fiqhu 'Ala Madzahibi Al Arba'ah " berkata :*

“Syafi'iyyah  (pengikut madzhab Syafi’iy)  berpendapat : melaksanakan *shalat Ied di masjid itu lebih utama* karena masjid itu tempat yang mulia, kecuali karena udzur seperti sempitnya masjid, maka hukumnya makruh melaksanakannya di masjid karena berdesakan. Jika demikian halnya, maka disunnatkan keluar ke shahra (tanah lapang)”.
{Lihat Kitab Al Fiqhu 'Ala Madzahibul Arba’ah : juz I hal. 351. Karya Imam Abdurrahman Al Jaziriy}.


*📓👌• قال الإمام النووي الشافعي (وهو ابي زكريا محيى الدين بن شرف النووي المتوفى سنة ٦٧٦ هـ)  رحمه الله تعالى في كتابه " المجموع شرح المهذب ":*

أَمَّا الْأَحْكَامُ فَقَالَ أَصْحَابُنَا : تَجُوزُ صَلَاةُ الْعِيدِ فِي الصَّحْرَاءِ وَتَجُوزُ فِي الْمَسْجِدِ فَإِنْ كَانَ بِمَكَّةَ فَالْمَسْجِدُ الْحَرَامُ أَفْضَلُ بِلَا خِلَافٍ وَقَدْ ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ بِدَلِيلِهِ ,

وَإِنْ كَانَ بِغَيْرِ مَكَّةَ نُظِرَ إنْ كَانَ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ الْبَنْدَنِيجِيُّ وَالصَّيْدَلَانِيّ الصَّلَاةُ فِي مَسْجِدِهِ الْأَقْصَى أَفْضَلُ وَلَمْ يَتَعَرَّضْ الْجُمْهُورُ لِلْأَقْصَى وَظَاهِرُ إطْلَاقِهِمْ أَنَّ بَيْتَ الْمَقْدِسِ كَغَيْرِهِ وَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْبِلَادِ فَإِنْ كَانَ لَهُمْ عُذْرٌ فِي تَرْكِ الْخُرُوجِ إلَى الصَّحْرَاءِ وَالْمُصَلَّى لِلْعِيدِ فَلَا خِلَافَ أَنَّهُمْ مَأْمُورُونَ بِالصَّلَاةِ فِي الْمَسْجِدِ وَمِنْ الْأَعْذَارِ الْمَطَرُ وَالْوَحْلُ وَالْخَوْفُ وَالْبَرْدُ وَنَحْوُهَا 

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عُذْرٌ وَضَاقَ الْمَسْجِدُ فَلَا خِلَافَ أَنَّ الْخُرُوجَ إلَى الصَّحْرَاءِ أَفْضَلُ وَإِنْ اتَّسَعَ الْمَسْجِدُ وَلَمْ يَكُنْ عُذْرٌ فَوَجْهَانِ :  

(أَصَحُّهُمَا) وَهُوَ الْمَنْصُوصُ فِي الْأُمِّ وَبِهِ قَطَعَ الْمُصَنِّفُ وَجُمْهُورُ الْعِرَاقِيِّينَ وَالْبَغَوِيُّ وَغَيْرُهُمْ أَنَّ صَلَاتَهَا فِي الْمَسْجِدِ أَفْضَلُ 

(وَالثَّانِي) وَهُوَ الْأَصَحُّ عِنْدَ جَمَاعَةٍ مِنْ الْخُرَاسَانِيِّينَ؟ وَقَطَعَ بِهِ جَمَاعَةٌ مِنْهُمْ أَنَّ صَلَاتَهَا فِي الصحراء افضل " لان النبي ﷺ💞  وَاظَبَ عَلَيْهَا فِي الصَّحْرَاءِ " وَأَجَابَ الْأَوَّلُونَ عَنْ هَذَا بِأَنَّ الْمَسْجِدَ كَانَ يَضِيقُ عَنْهُمْ لِكَثْرَةِ الْخَارِجِينَ إلَيْهَا فَالْأَصَحُّ تَرْجِيحُهَا فِي الْمَسْجِدِ لِمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ فَعَلَى هَذَا إنْ تَرَكَ الْمَسْجِدَ الْوَاسِعَ وَصَلَّى بِهِمْ فِي الصَّحْرَاءِ فَهُوَ خِلَافُ الْأَوْلَى وَلَكِنْ لَا كَرَاهَةَ فِيهِ وَإِنْ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ الضَّيِّقِ بِلَا عُذْرٍ كُرِهَ هَكَذَا نَصَّ

الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ عَلَى الْمَسْأَلَتَيْنِ.
{انظر كتاب المجموع شرح المهذب :  ج ٥   الصفحة ٥ / كتاب الصلاة  / باب صفة الأئمة. للإمام النووي الشافعي}.

*🌐🎙• Imam Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu  ta'ala dalam Kitabnya " Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab " berkata :*

Adapun hukum-hukumnya sahabat-sahabat kami (Syafi'iyyah) berkata : 

“Shalat Ied sah dilaksanakn di tanah lapang (khusus) dan sah di Masjid, jika berada di Makkah maka Masjidil Haram lebih Afdlal (hukum ini) dengan tanpa perbedaan dan penulis kitab (Al-Muhadzzab) telah menyebutkannya berserta dengan dalilnya. 

Dan jika bukan di Makkah, dilihat,: Jika diadakan di Baitul-Maqdis, Al-Bandaniji dan Al-Shaidalani menyatakan Shalat di masjid Al-Aqsha lebih Afdlal, dan mayoritas ulama tidak membahas hukum untuk Al-Aqsha, namun yang nampak dari perkataan mereka secara umum sesungguhnya Baitul-Maqdis sama seperti masjid lainnya.

Dan jika berada di tempat selain itu (Makkah dan Al-Aqsha) seperti di negari negeri yang ada, maka jika mereka ada halangan (‘Udzur) dalam meninggalkan shalat Ied ke tanah lapang dan Mushalla maka tidak ada perselisihan akan diperintahkannya mereka shalat di Masjid, dan ‘Udzur-‘udzur itu adalah hujan, Al-Wahl (tanah becek), dan ketakutan, kedinginan, dan semisalnya.

Dan jika tidak ada ‘Udzur sedangkan masjid sempit (tidak mencukupi untuk menampung jama'ah) maka tidak ada perselisihan pendapat kalau shalat ke tanah lapang lebih Afdlal, 

dan namun jika masjid luas, dan tidak ada ‘Udzur, maka ada dua bentuk pendapat :  *(Yang paling benar)* dan itulah yang dinyatakan dalam kitab Al-Umm, dan penulis kitab (Al-Muhaddzzab) memutuskan hukum dengannya, dan mayoritas ulama dari Irak, dan Al-Baghawi, dan yang lainnya, ialah sesungguhnya menshalatkannya *di masjid lebih Afdlal.*

*(Yang kedua)* dan inilah yang paling benar menurut sekelompok ulama dari negeri Khurasan, dan sekelompok ulama dari mereka bahkan memutuskan dengan pasti bahwa melaksanakan shalat *di tanah lapang lebih Afdlal,* karena Nabi ﷺ💜  merutinkan shalat di tanah lapang”.

Dan kelompok dengan pendapat pertama menjawab pendapat (kedua) ini, dengan: “Bahwa masjid ketika itu (di zaman Nabi) sempit buat mereka karena banyaknya yang keluar shalat Ied, maka yang lebih benar merajihkan shalat di masjid karena alasan yang telah disebutkan penulis kitab rahimahullah, maka atas ini, jika masjid yang luas menampung tidak digunakan dan mereka shalat di tanah lapang, *maka hukumnya Khilaful Aula (menyelisihi keutamaan)* akan tetapi *tidak sampai Makruh*, dan jika Shalat di masjid yang sempit dengan tanpa ‘udzur, *hukumnya Makruh*, demikian inilah pernyataan Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah atas kedua masalah ini.”
{Lihat Kitab Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab : juz 5 hal 5 / Kitabu Ash Shalati / Babu Shifati Al Aimmati. Karya Imam Nawawiy Asy Syafi'iy}.


*4⃣• Hukum  Shalat Ied DIMASJID dan DIMUSHALLA  (Tanah Lapang Khusus) Menurut Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal.*

*📗✍• جاء في كتاب فتاوى دار الإفتاء المصرية المفتي حسن مأمون حفظه الله تعالى :*

أما الحنابلة فيقولون: يسن صلاة العيد بالصحراء بشرط أن تكون قريبة من البنيان عرفاً، فإن بعدت عن البنيان عرفاً فلا تصح صلاة العيد فيها رأساً.

ويكره صلاتها في المسجد بدون عذر إلا لمن بمكة فإنهم يصلونها في المسجد الحرام.
{انظر كتاب فتاوى دار الإفتاء المصرية / رقم الفتوى: ١٢ س: ٧٤ / تاريخ النشر في الموقع : ١٢ دسيمبير ٢٠١٧ مـ. المفتي: حسن مأمون}.

*♻✒• Didalam Kitab Fatwa Daar Al Ìftaa' Al Mishriyyah Mufti Syaikh Hasan Ma'mun hafidzohullaahu ta'ala :*

Adapun Golongan Hanabillah (Pengikut Imam Ahmad) berkata : 

*DISUNNAHKAN* shalat Ied dilapangan dengan syarat apabila lapangan tersebut dekat dengan bangunan pada umumnya, apabila jauh dari bangunan pada umumnya maka *SHALAT IED  TIDAK SAH* disana semenjak pada awalnya.

Dan *DIMAKRUHKAN* shalat Ied didalam masjid dengan tanpa adanya 'udzur (halangan) kecuali bagi orang yang berada di kota Makkah, sesungguhnya mereka disunnahkan shalat Ied dimasjidil haram (Ka'bah).
{Lihat Kitab Fatawa Daaru Al Ìftaa' Al Mishriyyah / Fatwa No. 12 soal No. 78 / 12 Des 2017 / Mufti Syaikh Hasan Ma'mun}.


*♻🔵• وقال الامام ابن قدامة الحنبلي رحمه الله تعالى في كتابه " المغني ":*

" السُّنَّةُ أَنْ يُصَلَّى الْعِيدُ فِي الْمُصَلَّى , أَمَرَ بِذَلِكَ عَلِيٌّ رضي الله عنه . وَاسْتَحْسَنَهُ الأَوْزَاعِيُّ , وَأَصْحَابُ الرَّأْيِ . وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ الْمُنْذِرِ .

وَحُكِيَ عَنْ الشَّافِعِيِّ : إنْ كَانَ مَسْجِدُ الْبَلَدِ وَاسِعًا , فَالصَّلاةُ فِيهِ أَوْلَى ; لأَنَّهُ خَيْرُ الْبِقَاعِ وَأَطْهَرُهَا , وَلِذَلِكَ يُصَلِّي أَهْلُ مَكَّةَ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ .

ثم استدَّل ابن قدامة على قوله فقال ( وَلَنَا : أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ💓 كَانَ يَخْرُجُ إلَى الْمُصَلَّى وَيَدَعُ مَسْجِدَهُ , وَكَذَلِكَ الْخُلَفَاءُ بَعْدَهُ , وَلا يَتْرُكُ النَّبِيُّ ﷺ💞  الأَفْضَلَ مَعَ قُرْبِهِ , وَيَتَكَلَّفُ فِعْلَ النَّاقِصِ مَعَ بُعْدِهِ , وَلا يَشْرَعُ لأُمَّتِهِ تَرْكَ الْفَضَائِلِ , وَلأَنَّنَا قَدْ أُمِرْنَا بِاتِّبَاعِ النَّبِيِّ ﷺ💙 وَالاقْتِدَاءِ بِهِ , وَلا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْمَأْمُورُ بِهِ هُوَ النَّاقِصَ , وَالْمَنْهِيُّ عَنْهُ هُوَ الْكَامِلَ , وَلَمْ يُنْقَلُ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ صَلَّى الْعِيدَ بِمَسْجِدِهِ إلا مِنْ عُذْرٍ , وَلأَنَّ هَذَا إجْمَاعُ الْمُسْلِمِينَ . فَإِنَّ النَّاسَ فِي كُلِّ عَصْرٍ وَمِصْرٍ يَخْرُجُونَ إلَى الْمُصَلَّى , فَيُصَلُّونَ الْعِيدَ فِي الْمُصَلَّى , مَعَ سَعَةِ الْمَسْجِدِ وَضِيقِهِ , وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ💚 يُصَلِّي فِي الْمُصَلَّى مَعَ شَرَفِ مَسْجِدِهِ "

وأقول ـ القائل أحمد شاكر ـ: إن قول ابن قدامة : " ولم ينقل عن النبي ﷺ💘 أنه صلى العيد بمسجده إلا من عذر " ، يشير به إلى حديث أبي هريرة في المستدرك للحاكم (ج1 ص 295) : " أنهم أصابهم مطر في يوم عيد فصلى بهم النبي ﷺ💜 في المسجد " وصححه هو والذهبي . [ وقال عنه ابن القيم : إن ثبت الحديث ، وهو في سنن أبي داود وابن ماجة . انتهى 
{انظر كتاب زاد المعاد : ج ١ ص ٤٤١. ، وضعفه الألباني في رسالة صلاة العيدين في المصلى هي السنة ، ورد قول الحاكم والذهبي . ] 

*🌴✒• Imam Ibnu Qudamah al Hanbali dalam Kitabnya " al Mughniy​ " berkata :*

*“Yang sesuai dengan sunnah adalah shalat id itu dilaksanakan di mushalla,* sebagaimana yang diperintahkan oleh sahabat Ali –radhiyallahu ‘anhu-. Pendapat inilah yang dipilih oleh al Auza’I dan ashabul Ra’yi. Demikianlah pernyataan Ibnul Mundzir.

Dikisahkan tentang Imam Syafi’iy, beliau berkata: “Apabila masjid jami’ mampu menampung semua jama’ah, maka *shalat ied di masjid lebih utama*; karena masjid adalah sebaik-baik dan tempat paling suci di muka bumi, oleh karena itulah penduduk Makkah melaksanakan shalat Ied di Masjidil Haram (Ka'bah)”.

Kemudian Ibnu Qudamah berdalil atas pendapatnya dan berkata: “Yang menjadi dasar bagi kami adalah bahwa Rasulullah - ﷺ💙 - dan para Kholifah setelahnya keluar menuju mushalla dan meninggalkan Masjid Nabawi, dan Rasulullah tentu tidak akan meninggalkan yang lebih baik dengan jarak lebih dekat disisinya, sementara mengamalkan yang kurang afdhal dengan jarak yang lebih jauh. Juga tidak mensyari’atkan bagi ummatnya untuk meninggalkan yang lebih utama. Karena kita semua diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah -ﷺ💚 - dan berqudwah (mengikuti)  kepadanya, dan tidak boleh sesuatu yang diperintah itu bersifat kurang baik, sedang yang dilarang itu lebih utama. Tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah melaksanakan shalat ied di masjidnya kecuali karena udzur (halangan). Dan hal ini merupakan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Bahwa semua umat Islam pada setiap generasi dan setiap kota mereka keluar menuju mushalla, dan melaksanakan shalat ied di sana, baik masjid mampu menampung jama’ah atau tidak. Dan Rasulullah ﷺ💞 beliau melaksanakan shalat Ied di mushalla padahal masjidnya mulia”.

Saya mengatakan: Pendapat Ahmad bahwa Ibnu Qudamah mengatakan: “Tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ💙  melaksanakan shalat ied di masjidnya kecuali ada udzur”. Mengisyaratkan kepada hadits Abu Hurairah dalam Mustadrak Hakim, jilid 1/295: “Bahwa mereka kehujanan pada hari raya, maka Rasulullah ﷺ💘melaksanakan shalat Ied di masjidnya bersama  mereka”. Dishahihkan oleh Hakim dan adz Dzahabi. Ibnul Qayyim mengomentari hadits di atas: “Jika hadits tersebut shahih”, hadist tersebut juga ada di Sunan Abu Daud dan Ibnu Majah. (Zaadul Ma’ad: 1/441). Didha’ifkan oleh al Bani (tokoh Wahhabiy) dalam Risalah Shalat Kedua Hari Raya di Mushalla adalah Sunnah, dan menolak perkataan Hakim dan Dzahabi.

Sunnah amaliyah Rasulullah ﷺ💖  membuktikan bahwa beliau meninggalkan masjidnya dalam shalat idul fitri dan idul adha. Dan beliau mendirikan kedua shalat Ied itu di mushalla (lapangan) yang terletak pada sisi luar pintu kota Madinah. 
{Lihat Kitab Zaadu Al Ma’ad : juz 1 hal 441. Karya Ibnul Qayyim Al Jauziy Al Hanbaliy}.


*5⃣• Hukum  Shalat Ied DIMASJID dan DIMUSHALLA  (Tanah Lapang Khusus) Menurut Madzhab Imam Dawud Dzahiriy.*

*📓✍• قال الإمام ابن حزم الظاهري رحمه الله تعالى في كتابه " المحلّى ":*

وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ يَبْرُزُ إلَى الْمُصَلَّى لِصَلاَةِ الْعِيدَيْنِ , فَهَذَا أَفْضَلُ , وَغَيْرُهُ يُجْزِئُ , لاِنَّهُ فِعْلٌ لاَ أَمْرٌ وَبِاَللَّهِ تَعَالَى التَّوْفِيقُ
{انظر كتاب المحلّى : ج ٥ - الصفحة ٨٧. للإمام ابن حزم الظاهري}.


*📘🔴• Imam Ibnu Hazm Azh-Zhohiriy-rahimahullah ta'ala dalam Kitabnya " Al Muhalla " berkata :*

“Rasulullah ﷺ💙 pergi keluar ke tanah lapang untuk shalat dua hari raya, *inilah yang lebih utama,* tapi yang lainnya (tidak di lapangan) juga boleh, karena hal itu adalah perbuatan, bukan perintah. Wabillahittaufiq.
{Lihat Kitab Al-Muhalla : juz  13 hal 241. Karya Imam Ibnu Hazm Adz Dzahiriy}.


*📒🔵• Penjelasan Kitab  Fatawa Daaru Al Ifta Al-Mishriyah :*

وبهذا يُعلم الجواب عن السؤال وأن صلاة العيد في المسجد أفضل عند الشافعية، وفى الخلاء أفضل في المذاهب الثلاثة على التفصيل السابق، والله أعلم
{انظر فتاوى دار الإفتاء المصرية / صلاة العيد فى غير المسجد / المفتي الشيخ حسن مأمون. ذو القعدة ١٣٧٤ هجرية - ٢٣ يونيه ١٩٥٥ م / المؤلف : دار الإفتاء / المصرية. المصدر : موقع وزارة الأوقاف المصرية}.

Dengan ini dapat diketahui jawaban dari pertanyaannya : 

Bahwa shalat Ied di masjid lebih utama menurut ulama syafi’iyah, dan (shalat Ied) di lapangan lebih utama menurut tiga ulama madzhab lainnya. Wallahu a’lam.
{Lihat Kitab Fatawa Al Ìftaa' Al Mishriyyah / Shalatu Al 'Ied Fi Ghairi Al Masjidi / Wazarah Daar Daar Al Ìftaa' Al Mishriyyah. Al  Mufti Syaikh Hasan Ma'mun}.


*📚✍• KESIMPULANNYA :*

-Para ulama bersepakat (ijma’) bahwa shalat Ied boleh dikerjakan di masjid atau di tanah lapang. Dan lebih utama dimasjid jika tidak ada udzurnya menurut kalangan Syafi'iyyah.

-Mayoritas ulama berpendapat, shalat Ied di tanah lapang lebih utama daripada shalat Ied di masjid.

نقلها ورتبها " طالب العلم " محمد عبد الحكيم الجاوي الماجلانجي

Magelang sabtu pon, 

11 Agustus 2018 M | ٢٩ ذو القعدة ١٤٣٩ هـ

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top