Bismillahirrohmaanirrohiim

Tampilkan postingan dengan label KUFUR AKIBAT MENCELA NASAB KETURUNAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KUFUR AKIBAT MENCELA NASAB KETURUNAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Juni 2024

𝐌𝐄𝐌𝐀𝐒𝐔𝐊𝐊𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐂𝐀𝐂𝐀𝐓𝐀𝐍 𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐍𝐀𝐒𝐀𝐁 𝐒𝐄𝐒𝐄𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐓𝐄𝐑𝐌𝐀𝐒𝐔𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐁𝐔𝐀𝐓𝐀𝐍 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐊𝐀𝐅𝐈𝐑 𝐃𝐀𝐍 𝐀𝐊𝐇𝐋𝐀𝐐 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐉𝐀𝐇𝐈𝐋𝐈𝐘𝐘𝐀𝐇

 ═हই• ⃟  ⃟ •❂͜͡✯ ٤ ذو الحجة ١٤٤٥ هـ✯͜͡⊱• ⃟  ⃟ •ইह═


 ❁˚ৡ✿⊱•••*•⊰❂͜͡✯━━━━━━━━━━━━━┓

•⊰❂͜͡✯﷽✯͜͡❂⊱• | 𝐌𝐄𝐌𝐀𝐒𝐔𝐊𝐊𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐂𝐀𝐂𝐀𝐓𝐀𝐍 𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐍𝐀𝐒𝐀𝐁 𝐒𝐄𝐒𝐄𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆  𝐓𝐄𝐑𝐌𝐀𝐒𝐔𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐁𝐔𝐀𝐓𝐀𝐍  𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐊𝐀𝐅𝐈𝐑 𝐃𝐀𝐍 𝐀𝐊𝐇𝐋𝐀𝐐  𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐉𝐀𝐇𝐈𝐋𝐈𝐘𝐘𝐀𝐇

┗━━━━━━━━━━━━━✯͜͡❂⊱•*•••⊰✿ৡৢ˚❁




✯͜͡❂⊱•⊰✯͜͡❂卂ㄥ Ɋㄩ尺'卂几


Allah Subhanahu waTa`ala berfirman : 


وَلاَتَقْفُ مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً 

﴿سورة الإسراء : ٠١٧/  ۳۶﴾


“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (QS. Al-Isra: 017/ 36). 


✯͜͡❂⊱•⊰✯͜͡❂卂ㄥ 卄卂ᗪ丨ㄒ丂


وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ح وَحَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي وَمُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ كُلُّهُمْ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -ﷺ- : 


«اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ». 

[رواه مسلم  ١ - كتاب الإيمان / ٣٠ - باب إطلاق اسم الكفر على الطعن في النسب والنياحة / رقم الحديث : ٦٧].


Dan telah menceritakan kepada kami : Abu Bakar bin Abu Syaibah. Telah menceritakan kepada kami : Abu Mu'awiyah -(dalam jalur riwayat lain disebutkan)- Dan telah menceritakan kepada kami : Ibnu Numair dan lafazh tersebut miliknya. Dan telah menceritakan kepada kami Bapakku dan Muhammad bin Ubaid, semuanya dari Al-A'masy. Dari Abu Shalih. Dari Abu Hurairah radhiyyAllahu 'anhu, beliau berkata :  "Rasulullah -ﷺ- bersabda: "Pada manusia ada dua hal yang menjadikan mereka kafir; 𝐌𝐄𝐌𝐀𝐒𝐔𝐊𝐊𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐂𝐀𝐂𝐀𝐓𝐀𝐍 𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐍𝐀𝐒𝐀𝐁 𝐒𝐄𝐒𝐄𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 dan meratapi mayyit."

[HR. Muslim No. 67]


❁˚ৡ✿⊱•Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al-Hajjaj (Juz. 2 Hal. 57):


وَفِيهِ أَقْوَالٌ أَصَحُّهَا أَنَّ مَعْنَاهُ هُمَا مِنْ أَعْمَالِ الْكُفَّارِ وَأَخْلَاقِ الْجَاهِلِيَّةِ . 


وَالثَّانِي : أَنَّهُ يُؤَدِّي إِلَى الْكُفْرِ . 


وَالثَّالِثُ : أَنَّهُ كُفْرُ النِّعْمَةِ وَالْإِحْسَانِ . 


وَالرَّابِعُ : أَنَّ ذَلِكَ فِي الْمُسْتَحِلِّ . 


وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ تَغْلِيظُ تَحْرِيمِ الطَّعْنِ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةِ . وَقَدْ جَاءَ فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا نُصُوصٌ مَعْرُوفَةٌ . وَاللَّهُ أَعْلَمُ .

[انظر كتاب المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج : (ج ٢ ص ٥٧) /  كتاب الايمان / باب إطلاق اسم الكفر على الطعن في النسب والنياحة / المؤلف: أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت، الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ هـ]


Ada pendapat mengenai hal itu, yang paling benar maknanya, keduanya (mencela nasab dan membayar orang untuk menangis nangis meratapi mayyit) adalah perbuatan orang-orang kafir dan akhlak zaman pra Islam (jahiliyyah). 


Yang kedua: Ini mengarah pada ketidakpercayaan (kufur). 


Yang ketiga: Tidak mensyukuri rahmat dan kebajikan. 


Keempat: Semua itu dalam hak orang yang menghalalkan  (menyakiti saudaranya).


Dan dialam hadits ini dikuatkan KEHARAMAN  𝐌𝐄𝐌𝐀𝐒𝐔𝐊𝐊𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐂𝐀𝐂𝐀𝐓𝐀𝐍 𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐍𝐀𝐒𝐀𝐁 𝐒𝐄𝐒𝐄𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 dan meratapi mayyit. Dan telah  ada teks-teks yang diketahui dari  masing-masingnya. Wallahu a'lam. Selesai


*•••⊰✿ৡৢ Riwayat Hadits Yang Senada: 


حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا أَبَانُ بْنُ يَزِيدَ ح وَحَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ وَاللَّفْظُ لَهُ أَخْبَرَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ حَدَّثَنَا أَبَانُ حَدَّثَنَا يَحْيَى أَنَّ زَيْدًا حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا سَلَّامٍ حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا مَالِكٍ الْأَشْعَرِيَّ حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ -ﷺ- قَالَ : 


«أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ» 


وَقَالَ :  «النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ». 

[رواه مسلم /  ١١ - كتاب الجنائز / ١٠ - باب التشديد في النياحة / رقم الحديث: ٩٣٤].


Telah menceritakan kepada kami : Abu Bakar bin Abu Syaibah. Telah menceritakan kepada kami : 'Affan. Telah menceritakan kepada kami : Aban bin Yazid -(dalam jalur riwayat lain disebutkan)- Dan telah menceritakan kepadaku : Ishaq bin Manshur -(dan lafazh juga miliknya)- Telah mengabarkan kepada kami : Habban bin Hilal.  Telah menceritakan kepada kami : Aban. Telah menceritakan kepada kami : Yahya, bahwa Zaid  telah menceritakan kepadanya bawah Abu Sallam, telah menceritakan kepadanya bahwa Abu Malik Al Asy'ari, telah menceritakan kepadanya bahwa Nabi -ﷺ- bersabda: 


"Ada 4 perkara jahiliyah yang masih melekat pada umatku dan mereka belum meninggalkannya: Membanggakan kedudukan, 𝐌𝐄𝐌𝐀𝐒𝐔𝐊𝐊𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐂𝐀𝐂𝐀𝐓𝐀𝐍 𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐍𝐀𝐒𝐀𝐁 𝐒𝐄𝐒𝐄𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 (GARIS KETURUNAN), meminta hujan dengan bintang-bintang, dan niyahah (meratapi mayit)." 


Dan beliau bersabda: 


"Orang yang meratapi mayit, jika ia belum bertaubat sebelum ajalnya tiba maka pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dengan memakai baju panjang yang berwarna hitam dan memakai tameng dari pedang yang sudah karatan."

[HR. Muslim No. 934] 


*•••⊰✿ৡৢ Riwayat Hadits Yang Senada Dan Menjelaskan Tentang Memanggil Sesama Muslim Wahai Musuh Allah Wahai Orang Kafir:


و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْمُعَلِّمُ عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ أَنَّ أَبَا الْأَسْوَدِ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :


«لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُهُ إِلَّا كَفَرَ وَمَنْ ادَّعَى مَا لَيْسَ لَهُ فَلَيْسَ مِنَّا وَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ وَمَنْ دَعَا رَجُلًا بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلَّا حَارَ عَلَيْهِ».

[رواه البخاري. ومسلم واللفظ له / ١ - كتاب الإيمان / ٢٧ - باب بيان حال إيمان من رغب عن أبيه وهو يعلم / رقم الحديث : ٦١].


Dari Abu Dzar radliyyAllahu 'anhu, bahwa beliau mendengar Rasulullah -ﷺ- bersabda: 


"Tidaklah seorang laki-laki yang mengklaim orang lain sebagai bapaknya, padahal ia telah mengetahuinya (bahwa dia bukan bapaknya), MAKA IA TELAH KAFIR. Barangsiapa mengaku sesuatu yang bukan miliknya maka ia bukan dari golongan kami, dan hendaklah dia menempati tempat duduknya dari neraka. Dan barangsiapa memanggil seseorang dengan kekufuan, atau berkata, 'Wahai musuh Allah' padahal tidak demikian, kecuali perkataan tersebut akan kembali kepadanya."

[HR. Bukhariy. Dan Muslim Teks Miliknya No. 61] 


*•⊰✿ৡৢImam Taqiyyuddin Daqiq Al Ied Al Malikiy Asy Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Ihkaamu Al Ihkam Syarhu 'Umdatu Al Ahkam (Juz. 2 Hal. 208):


[حَدِيث لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُهُ إلَّا كَفَرَ] كَذَا عِنْدَ مُسْلِمٍ وَلِلْبُخَارِيِّ نَحْوُهُ.


يَدُلُّ عَلَى تَحْرِيمِ الِانْتِفَاءِ مِنْ النَّسَبِ الْمَعْرُوفِ، وَالِاعْتِزَاءِ إلَى نَسَبٍ غَيْرِهِ، وَلَا شَكَّ أَنَّ ذَلِكَ كَبِيرَةٌ، لِمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ مِنْ الْمَفَاسِدِ الْعَظِيمَةِ، 

[انظر كتاب إحكام الإحكام شرح عمدة الأحكام : (ج ٢ ص ٢٠٨) / كتاب اللعان / حديث ليس من رجل ادعى لغير أبيه وهو يعلمه إلا كفر / المؤلف: تقي الدين ابن دقيق العيد (٦٢٥ - ٧٠٢ هـ) / الناشر: دار عالم الكتب بيروت - بالاتفاق مع دار الكتب السلفية بالقاهرة، عام النشر: ١٤٠٧ هـ - ١٩٨٧ مـ].


[Hadits: Tidaklah seorang laki-laki yang mengklaim orang lain sebagai bapaknya, padahal ia telah mengetahuinya (bahwa dia bukan bapaknya), MAKA IA TELAH KAFIR] Hal ini menurut Muslim, dan menurut Al-Bukhari semisalnya.


Hal ini menandakan KEHARAMAN  MENJAUHKAN DIRI DARI SUATU NASAB YANG DIKETAHUI, dan menyombongkan diri terhadap nasab orang lain, dan tidak ada keraguan bahwa ini adalah dosa besar, karena perkara yang terkait dengannya, dari kerusakkan yang besar. Selesai.


*•⊰✿ৡৢ• Imam 'Abdurro'uf Al-Munawiy berkata dalam Kitabnya Faidlu Al Qodir Syarhu Al Jami' Ash Shaghir (Juz. 6 Hal. 46):


(مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ) أَيْ مَنْ رَغِبَ عَنْ أَبِيهِ وَالْتَحَقَ بِغَيْرِهِ تَرْكًا لِلْأَدْنَى وَرَغْبَةً فِي الْأَعْلَى، أَوْ خَوْفًا مِنَ الْإِقْرَارِ بِنَسَبِهِ، أَوْ تَقَرُّبًا لِغَيْرِهِ بِالِانْتِمَاءِ، أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ مِنَ الْأَغْرَاضِ،  انتهى.

[انظر كتاب فيض القدير شرح الجامع الصغير : (ج ٦ ص ٤٦) / حرف الميم  / المؤلف: زين الدين محمد المدعو بعبد الرؤوف بن تاج العارفين بن علي بن زين العابدين الحدادي ثم المناوي القاهري (ت ١٠٣١هـ) / الناشر: المكتبة التجارية الكبرى - مصر، الطبعة: الأولى، ١٣٥٦ ه‍ـ].


[Tidaklah seorang laki-laki yang mengklaim orang lain sebagai bapaknya, padahal ia telah mengetahuinya (bahwa dia bukan bapaknya)], artinya  orang yang menelantarkan bapaknya dan bergabung dengan orang lain, MENINGGALKAN NASAB YANG LEBIH RENDAH DAN MENGHENDAKI DERAJAT YANG LEBIH TINGGI, atau karena takut diakui nasabnya, atau menjadi dekat  karena orang lain,  melalui afiliasi (bergabung kepada orang lain), atau tujuan lain. Selesai.



*•⊰✿ৡৢ• Imam Abu Zakariyya Muhyiddin bin Syaraf Al-Nawawiy Al-Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al-Hajjaj (Juz.


وَأَمَّا قَوْلُهُ -ﷺ- فِيمَنِ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ كَفَرَ. فَقِيلَ فِيهِ تَأْوِيلَانِ : 


أَحَدُهُمَا : أَنَّهُ فِي حَقِّ الْمُسْتَحِلِّ 


وَالثَّانِي : أَنَّهُ كُفْرُ النِّعْمَةِ وَالْإِحْسَانِ وَحَقِّ اللَّهِ تَعَالَى وَحَقِّ أَبِيهِ وَلَيْسَ الْمُرَادُ الْكُفْرُ الَّذِي يُخْرِجُهُ مِنْ مِلَّةِ الْإِسْلَامِ. انتهى. 

[انظر كتاب المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج : (ج ٢ ص ٥٠) / كتاب الايمان / باب بيان حال إيمان من قال لأخيه المسلم : يا كافر / المؤلف: أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت، الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ هـ]. 


[Adapun sabda Nabi -ﷺ- pada orang yang mengklaim orang lain sebagai bapaknya, padahal ia telah mengetahuinya (bahwa dia bukan bapaknya), maka ia telah kafir]. Dikatakan didalamnya ada dua interpretasi diberikan tentang hal itu: 


(Salah satunya): Hal tersebut dalam hak orang yang menghalalkan  (untuk menyakiti saudaranya). 


(Yang kedua): adalah kekafiran terhadap karunia, kemurahan, dan hak Allah Ta'ala serta hak-hak Bapaknya, DAN YANG DIMAKSUD BUKANLAH KEKAFIRAN YANG MENGELUARKANNYA DARI AGAMA ISLAM. Selesai.



*⊰✿ৡৢ• Imam Al Hafidz Ahmad Ibnu Hajar Al Asqolaniy Asy Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Fathu Al-Bariy Syarhu Shahih Al Bukhariy (Juz. 6 Hal. 541):


وَفِي الْحَدِيثِ تَحْرِيمُ الِانْتِفَاءِ مِنَ النَّسَبِ الْمَعْرُوفِ وَالِادِّعَاءِ إِلَى غَيْرِهِ، وَقَيَّدَ فِي الْحَدِيثَ بِالْعِلْمِ وَلَا بُدَّ مِنْهُ فِي الْحَالَتَيْنِ إِثْبَاتًا وَنَفْيًا لِأَنَّ الْإِثْمَ إِنَّمَا يَتَرَتَّبُ عَلَى الْعَالِمِ بِالشَّيْءِ الْمُتَعَمِّدِ لَهُ، 


وَفِيهِ جَوَازُ إِطْلَاقِ الْكُفْرِ عَلَى الْمَعَاصِي لِقَصْدِ الزَّجْرِ كَمَا قَرَّرْنَاهُ، 

[انظر كتاب فتح الباري بشرح البخاري : (ج ٦ ص ٥٤١) /  ٦١ - كتاب المناقب / ٥ - باب / المؤلف: أحمد بن علي بن حجر العسقلاني الشافعي (٧٧٣ - ٨٥٢ هـ) / الناشر: المكتبة السلفية - مصر، الطبعة: «السلفية الأولى»، ١٣٨٠ - ١٣٩٠ هـ].


Dalam hadits hadits itu dilarang mengingkari nasab yang telah diketahui dan mengaku (senasab) kepada yang lainnya, dan dalam hadis itu terbatas pada ilmu dan wajib darinya, didalam dua kondisi itu, adanya  penetapan dan pengingkaran, karena dosa hanya ditimbulkan oleh orang yang mengetahui perbuatannya dengan sengaja, 


dan didalamnya  diperbolehkannya menerapkan kekafiran pada dosa dengan maksud untuk  menimbulkan teguran keras. Seperti perkara yang telah kami tetapkan. Selesai.


*⊰✿ৡৢ• Imam Al Hafidz Ahmad Ibnu Hajar Al Asqolaniy Asy Syafi'iy juga berkata menukil perkataan Imam An Nawawiy dalam Kitabnya Fathu Al-Bariy Syarhu Shahih Al Bukhariy (Juz. 10 Hal. 444):


وَقَالَ النَّوَوِيُّ عَنْ نَفْيِ الْإِيمَانِ فِي مِثْلِ هَذَا جَوَابَانِ:


أَحَدُهُمَا: أَنَّهُ فِي حَقِّ الْمُسْتَحِلِّ.


وَالثَّانِي: أَنَّ مَعْنَاهُ لَيْسَ مُؤْمِنًا كَامِلًا اهـ. 


وَيُحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ أَنَّهُ لَا يُجَازَى مُجَازَاةَ الْمُؤْمِنِ بِدُخُولِ الْجَنَّةِ مِنْ أَوَّلِ وَهْلَةٍ مَثَلًا، أَوْ أَنَّ هَذَا خَرَجَ مَخْرَجَ الزَّجْرِ وَالتَّغْلِيظِ، وَظَاهِرُهُ غَيْرُ مُرَادٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

[انظر كتاب فتح الباري بشرح البخاري : (ج ١٠ ص ٤٤٤) /  ٧٨ - كتاب الأدب / ٣٠ - باب لا تحقرن جارة لجارتها / المؤلف: أحمد بن علي بن حجر العسقلاني الشافعي (٧٧٣ - ٨٥٢ هـ) / الناشر: المكتبة السلفية - مصر، الطبعة: «السلفية الأولى»، ١٣٨٠ - ١٣٩٠ هـ].


Al-Nawawi mengatakan tentang mengingkari keimanan dalam kasus seperti ini, ada dua jawabannya:


Salah satunya: Terhadap orang yang menghalalkannya (untuk menyakiti saudaranya).


Yang kedua: artinya belum beriman sepenuhnya. 


Boleh jadi yang dimaksud adalah orang mukmin tidak diganjar pahala masuk surga dari pertama kalinya misalnya, atau ini jalan keluar dari teguran yang keras, dan makna lahiriyyahnya bukan dimaksudkan yang  sebenarnya. Wallahu a'lam. Selesai.



*•••⊰✿ৡৢ Riwayat Hadits Yang  Lain : 


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ العَقَدِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ -ﷺ- قَالَ: 


«لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَفْتَخِرُونَ بِآبَائِهِمُ الَّذِينَ مَاتُوا إِنَّمَا هُمْ فَحْمُ جَهَنَّمَ، أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنَ الجُعَلِ الَّذِي يُدَهْدِهُ الخِرَاءَ بِأَنْفِهِ، إِنَّ اللَّهَ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالآبَاءِ، إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ، النَّاسُ كُلُّهُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ» 


وَفِي البَابِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ، وَابْنِ عَبَّاسٍ: «وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ» 

[رواه أبو داود والترمذي واللفظ له /  ٤٦ - أبواب المناقب / باب / رقم الحديث : ٣٩٥٥].


Dari Abu Hurairah radhiyyAllahu 'anhu. Dari Nabi -ﷺ- beliau bersabda: 


"Hendaklah mereka segera berhenti dari membangga-banggakan nenek moyang mereka yang telah mati, -hanya saja sesungguhnya nenek moyang mereka adalah arang neraka Jahannam- atau mereka lebih hina di sisi Allah dari hewan yang mendorong kotoran dengan hidungnya, sesungguhnya ALLAH TELAH MENGHAPUS DARI KALIAN SERUAN JAHILIYYAH DAN BERBANGGA-BANGGA DENGAN NENEK MOYANG, (YANG ADA) hanyalah mukmin yang bertakwa atau pendosa yang celaka, semua manusia adalah anak Adam, sedangkan Adam tercipta dari tanah." 


Dan dalam bab ini, ada juga riwayat dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Abu Isa (At Tirmidziy) berkata; "HADITS INI ADALAH HADITS HASAN GHARIB."

[HR. Tirmidziy No. 3955] 


*•⊰✿ৡৢ Al 'Alamah Hisamuddin Ar Rahmaniy Al Mubarokfuriy berkata dalam Kitabnya Mir'aatu Al Mafatih Syarhu Misykat Al Mashoobih (Juz. 5 Hal. 465):


والطعن في الأنساب: أي إدخال العيب في أنساب الناس، وذلك يستلزم تحقير الرجل آباء غيره، وتفضيل آبائه على آباء غيره، وهو ممنوع. انتهى.

[انظر كتاب مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح : (ج ٥ ص ٤٦٥) /  (٧) باب البكاء على الميت / {الفصل الأول} / المؤلف: أبو الحسن عبيد الله بن محمد عبد السلام بن خان محمد بن أمان الله بن حسام الدين الرحماني المباركفوري (ت ١٤١٤هـ) / الناشر: إدارة البحوث العلمية والدعوة والإفتاء - الجامعة السلفية - بنارس الهند، الطبعة: الثالثة - ١٤٠٤ هـ، ١٩٨٤ مـ].


MENCELA NASAB : yaitu 𝐌𝐄𝐌𝐀𝐒𝐔𝐊𝐊𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐂𝐀𝐂𝐀𝐓𝐀𝐍 𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐍𝐀𝐒𝐀𝐁 𝐒𝐄𝐒𝐄𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆, dan hal ini menyebabkan seseorang meremehkan bapak moyang orang lain, dan lebih mengutamakan bapak moyangnya dari pada bapak moyang orang lain, dan hal ini HARAM. Selesai.



❁˚ৡ✿⊱•Riwayat Tentang Termasuk Kekufuran Berlepas Diri Dari  Nasab Walaupun Kecil Atau Mencatut Nasab Yang Tidak Diketahui :


 ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏عَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ ‏ ‏عَنِ ‏ ‏الْمُثَنَّى بْنِ الصَّبَّاحِ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَبِيهِ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏جَدِّهِ ‏ ‏قَالَ ‏ : ‏قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏-ﷺ-:


«كُفْرٌ بِاللَّهِ ‏ ‏تَبَرُّؤٌ ‏ ‏مِنْ نَسَبٍ وَإِنْ دَقَّ أَوْ ادِّعَاءٌ إِلَى نَسَبٍ لَا يُعْرَفُ». ‏

[رواه أحمد واللفظ له / مسند المكثرين من الصحابة / مسند عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما / حديث رقم: ٧٠١٩. وابن ماجه. وإسناد ابن ماجه إسناد حسن].


Telah menceritakan kepada kami : Ali bin 'Ashim. Dari Al Mutsanna bin Ash Shabah. Dari 'Amru bin Syu'aib. Dari Bapaknya. Dari Kakeknya, beliau  berkata; Rasulullah -ﷺ- bersabda: 


" (Termasuk) kekufuran kepada Allah adalah berlepas diri dari nasab walaupun hanya kecil (mengingkari silsilah bapaknya dari kakeknya, terus keatas), atau mengaku terhubung dengan nasab yang tidak diketahui." 

[HR. Ahmad Teks Miliknya No. 7019. Dan Ibnu Majah. Dan SANAD IBNU MAJAH HASAN].


❁˚ৡ✿⊱•Imam Ibnu Abdil Barr Al Malikiy berkata dalam Kitabnya Al Anbah 'Ala Qaba'ili Ar Ruwat (Hal. 12):


ولعمري مَا أنصف الْقَائِل إِن عِلْم النّسَب عِلْم لَا يَنفع وجَهالة لَا تضر لِأَنَّهُ بيَّن نفعُه لما قدّمنا ذكره وَلما رُوي عَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم أَنه قَالَ : كُفْرٌ بِاللَّه تبرُّؤ من نسب وَإِن دق وَكفر بِاللَّه آدعاء إِلَى نَسب لَا يُعرف - (رواه أحمد وابن ماجه)

[انظر كتاب الإنباه على قبائل الرواة : (ص ١٢) / مقدمة المؤلف / المؤلف: أبو عمر يوسف بن عبد الله بن محمد بن عبد البر بن عاصم النمري القرطبي المالكي (ت ٤٦٣هـ) / الناشر: دار الكتاب العربي - بيروت - لبنان، الطبعة: الأولى، ١٤٠٥هـ - ١٩٨٥مـ].


Seumur hidup saya, saya tidak akan pernah berlaku adil terhadap seseorang yang mengatakan bahwa ilmu nasab adalah ilmu yang tidak memberi manfaat dan jahiliyah yang tidak merugikan, karena beliau menjelaskan manfaatnya seperti yang sebelumnya telah kami sebutkan, dan apa yang diriwayatkan dari Nabi -ﷺ-, bahwa beliau bersabda: " (Termasuk) kekufuran kepada Allah adalah berlepas diri dari nasab walaupun hanya kecil (mengingkari silsilah bapaknya dari kakeknya, terus keatas), atau mengaku terhubung dengan nasab yang tidak diketahui." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Selesai.


قوله: "وإن دق": قال السندي: بأن نفى نسب أبيه من جده وإن علا.


❁˚ৡ✿⊱•Sabdanya: “Sekalipun sedikit”: Al-Sindi berkata: Dengan mengingkari silsilah bapaknya dari kakeknya, terus keatas.


❁˚ৡ✿⊱•Imam Abdurro'uf Al-Munawi berkata dalam Kitabnya Faidlu Al Qodir (Juz. 5 Hal. 7):


ومناسبة إطلاق الكفر هنا أنه كذب على الله، كأن يقول: خلقني الله من ماء فلان، ولم يخلقني من ماء فلان، والواقع خلافه.

[انظر كتاب فيض القدير شرح الجامع الصغير : (ج ٥ ص ٧) / حرف الكاف / المؤلف: زين الدين محمد المدعو بعبد الرؤوف بن تاج العارفين بن علي بن زين العابدين الحدادي ثم المناوي القاهري (ت ١٠٣١هـ) / الناشر: المكتبة التجارية الكبرى - مصر، الطبعة: الأولى، ١٣٥٦ ه‍ـ].


Alasan kekafiran di sini adalah karena dia berbohong kepada Allah, seperti ketika dia berkata: Allah  menciptakanku dari air fulan, dan Dia tidak menciptakanku dari air fulan, dan kenyataannya justru sebaliknya. Selesai.



❁˚ৡ✿⊱•Riwayat Tentang Bolehnya Menasabkan Langsung Kepada Kakeknya Tanpa Menyebut Nama Bapaknya:


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ سُفْيَانَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو إِسْحَاقَ عَنْ الْبَرَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عُمَارَةَ وَلَّيْتُمْ يَوْمَ حُنَيْنٍ قَالَ لَا وَاللَّهِ مَا وَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكِنْ وَلَّى سَرَعَانُ النَّاسِ فَلَقِيَهُمْ هَوَازِنُ بِالنَّبْلِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى بَغْلَتِهِ الْبَيْضَاءِ وَأَبُو سُفْيَانَ بْنُ الْحَارِثِ آخِذٌ بِلِجَامِهَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : 


«أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبْ أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ».

[رواه البخاري /  كتاب المغازي / باب قول الله تعالى ويوم حنين إذ أعجبتكم كثرتكم / رقم الحديث: ٤٣١٦].


Dari Al Bara' radliyaAllahu 'anhu; Ada seorang laki-laki yang berkata kepadanya: "Wahai Abu 'Umarah, apakah kalian kabur pada peperangan Hunain?" Dia berkata: "Tidak, demi Allah. Tidaklah Nabi -ﷺ- kabur dari perang akan tetapi yang kabur adalah orang-orang yang tergesa-gesa, dimana suku Hawazin menghadang mereka dengan panah-panah mereka sedangkan Nabi -ﷺ- tetap diatas baghol Beliau yang berwarna putih sementara Abu Sufyan menuntun baghol tersebut dan Nabi -ﷺ- bersya'ir: 


"Aku adalah seorang Nabi yang tidak berdusta DAN AKU ADALAH ANAK DARI 'ABDUL MUTHALLIB".

[HR. Bukhariy No. 4316] 



❁˚ৡ✿⊱•Imam Ibnu Mulaqqin Asy Syafi'iy berkata dalam Kitabnya At Taudlih Lisyarhi Al Jami' Ash Shahih (Juz. 20 Hal. 90):


وَقَوْلُهُ: ("أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ")، فِيهِ النِّسْبَةُ إِلَى الْجَدِّ، وَأَنْ يَقُولَ أَنَا ابْنُ فُلَانٍ، لِلْجَدِّ وَالنِّسْبَةِ لِلْكَافِرِ، وَالنَّبِيُّ -ﷺ- لَمْ يَمَسَّهُ وِلَادَةُ حَرَامٍ فِي نَسَبِهِ، وَكَذَلِكَ الْأَنْبِيَاءُ يُدْعَوْنَ إِلَى آبَائِهِمْ عَلَى حَالِهِمْ عَلَى حُكْمِ الدُّنْيَا. أنتهى

[انظر كتاب التوضيح لشرح الجامع الصحيح : (ج ٢٠ ص ٩٠) /  ٦١ - كتاب المناقب / ١٣ - باب من انتسب إلى آبائه في الإسلام والجاهلية / المؤلف: سراج الدين أبو حفص عمر بن علي بن أحمد الأنصاري الشافعي المعروف بـ ابن الملقن (٧٢٣ - ٨٠٤ هـ) / الناشر: دار النوادر، دمشق - سوريا، الطبعة: الأولى، ١٤٢٩ هـ - ٢٠٠٨ مـ]. 


Dan sabdanya: (Saya anak Abdul Muthalib) adalah rujukan kepada kakek, dan apabila ia berucap : “Saya adalah anak si fulan,” adalah rujukan kepada kakek dan rujukan kepada orang kafir, dan Nabi -ﷺ- tidak tersentuh oleh kelahiran yang haram dalam garis keturunannya, dan demikian pula para Nabi memanggil ayah mereka dalam kondisi mereka untuk memerintah dunia. Selesai.


❁˚ৡ✿⊱•Imam Syamsul A'immah As Sarkhasiy Al Hanafiy berkata dalam Kitabnya Al Mabsuth (Juz. 27 Hal. 158): 


لِأَنَّ النَّسَبَ إلَى الْجَدِّ بِمَنْزِلَةِ النَّسَبِ إلَى الْأَبِ فِي الْحَقِيقَةِ؛ لِأَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ يُنْسَبُ إلَى الْجَدِّ لِيُعْرَفَ دُونَ الْأَبِ.(أَلَا تَرَى) أَنَّ ابْنَ أَبِي لَيْلَى يُنْسَبُ إلَى جَدِّهِ، وَكَذَلِكَ أَبُو نَصْرِ بْنُ سَلَامَةَ يُنْسَبُ إلَى جَدِّهِ؛ لِأَنَّ سَلَامَةَ جَدُّهُ لَا أَبُوهُ، وَإِذَا كَانَ يُنْسَبُ إلَى الْجَدِّ صَارَ الْحُكْمُ أَنَّ الصُّلْبَ وَالْجَدَّ سَوَاءٌ. اهـ.

[انظر كتاب المبسوط : (ج ٢٧ ص ١٥٨) / كتاب الوصايا / المؤلف: محمد بن أحمد بن أبي سهل شمس الأئمة السرخسي الحنفي (ت ٤٨٣ هـ) / الناشر: مطبعة السعادة - مصر، وصوّرَتها: دار المعرفة - بيروت، لبنان، بدون السنة].


Silsilah dari kakek sama seperti silsilah dari ayah pada kenyataannya. Karena kebanyakan orang menganggap kakek lebih dikenal daripada ayah.   (Tidakkah anda melihat) bahwa Ibnu Abi Laila dikaitkan kembali  kepada kakeknya, begitu pula Abu Nashr bin Salamah dikaitkan kembali kepada kakeknya? Karena Salamah adalah kakeknya, bukan ayahnya. Dan jika dikaitkan dengan kakeknya, maka hukum tulang rusuk (shulbi) dan kakeknya adalah sama. Selesai.



❁˚ৡ✿⊱•Riwayat Tentang Seorang Kakek Menyabut Cucunya Dengan Sebutan Anakku:


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ سَمِعْتُ الْحَسَنَ يَقُولُ اسْتَقْبَلَ وَاللَّهِ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ مُعَاوِيَةَ بِكَتَائِبَ أَمْثَالِ الْجِبَالِ فَقَالَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ إِنِّي لَأَرَى كَتَائِبَ لَا تُوَلِّي حَتَّى تَقْتُلَ أَقْرَانَهَا فَقَالَ لَهُ مُعَاوِيَةُ وَكَانَ وَاللَّهِ خَيْرَ الرَّجُلَيْنِ أَيْ عَمْرُو إِنْ قَتَلَ هَؤُلَاءِ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ هَؤُلَاءِ مَنْ لِي بِأُمُورِ النَّاسِ مَنْ لِي بِنِسَائِهِمْ مَنْ لِي بِضَيْعَتِهِمْ فَبَعَثَ إِلَيْهِ رَجُلَيْنِ مِنْ قُرَيْشٍ مِنْ بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَامِرِ بْنِ كُرَيْزٍ فَقَالَ اذْهَبَا إِلَى هَذَا الرَّجُلِ فَاعْرِضَا عَلَيْهِ وَقُولَا لَهُ وَاطْلُبَا إِلَيْهِ فَأَتَيَاهُ فَدَخَلَا عَلَيْهِ فَتَكَلَّمَا وَقَالَا لَهُ فَطَلَبَا إِلَيْهِ فَقَالَ لَهُمَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ إِنَّا بَنُو عَبْدِ الْمُطَّلِبِ قَدْ أَصَبْنَا مِنْ هَذَا الْمَالِ وَإِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ قَدْ عَاثَتْ فِي دِمَائِهَا قَالَا فَإِنَّهُ يَعْرِضُ عَلَيْكَ كَذَا وَكَذَا وَيَطْلُبُ إِلَيْكَ وَيَسْأَلُكَ قَالَ فَمَنْ لِي بِهَذَا قَالَا نَحْنُ لَكَ بِهِ فَمَا سَأَلَهُمَا شَيْئًا إِلَّا قَالَا نَحْنُ لَكَ بِهِ فَصَالَحَهُ فَقَالَ الْحَسَنُ وَلَقَدْ سَمِعْتُ أَبَا بَكْرَةَ يَقُولُ : 


رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -ﷺ-  عَلَى الْمِنْبَرِ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يُقْبِلُ عَلَى النَّاسِ مَرَّةً وَعَلَيْهِ أُخْرَى وَيَقُولُ : 


«إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ».


قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ إِنَّمَا ثَبَتَ لَنَا سَمَاعُ الْحَسَنِ مِنْ أَبِي بَكْرَةَ بِهَذَا الْحَدِيثِ.

[رواه البخاري / كتاب الصلح باب قول النبي ﷺ للحسن بن علي رضي الله عنه ابني هذا سيد / رقم الحديث:  ٢٧٠٤].


Telah bercerita kepada kami : 'Abdullah bin Muhammad. Telah bercerita kepada kami : Sufyan. Dari Abu Musa berkata :  aku mendengar Al Hasan berkata; "Demi Allah, Al Hasan bin 'Ali menghadap Mu'awiyah dengan membawa pasukan yang jumlahnya hampir sebanyak gunung lalu 'Amru bin Al 'Ash berkata; "Sungguh aku melihat pasukan yang tidak akan berpaling melainkan akan memerangi lawannya". Maka Mu'awiyah berkata kepadanya, demi Allah dia adalah orang terbaik dari dua orang yang ada, maksudnya 'Amru: "Seandainya mereka berperang satu sama lain yang ini menghadapi mereka dan mereka menghadapi yang ini lalu siapa orang yang akan mengurus mereka dan siapa yang akan menanggung istri-istri mereka dan siapa pula yang akan mengurus sawah ladang mereka". Maka Mu'awiyah mengutus dua orang laki-laki dari Quraisy dari suku Bani 'Abdi Syams 'Abdur Rahman bin Samrah dan 'Abdullah bin 'Amir bin Kuraiz seraya berkata; "Pergilah kalian berdua menemui orang ini dan tawarkan kepadanya dan katakan dan mintalah kepadanya. Maka dua orang itu menemuinya dan masuk lalu berbicara dan berkata serta meminta. Maka Al Hasan bin 'Ali berkata kepada keduanya; 


"Kami ini Banu 'Abdul Muthallib dimana kami telah mendapatkan harta benda dan sesungguhnya ummat ini sudah saling berperang dengan menunmpahkan darah-darah merka". 


Kedua utusan berkata; "Sesungguhnya dia menawarkan kepada anda begini begini dan mencari penyelesaian serta meminta kepada anda". Dia berkata; "Siapa yang bisa membantuku dalam perkara ini?" Kedua utusan berkata; "Kami yang dapat membantu anda untuk menyampaikan kepadanya". Maka Al Hasan tidak meminta kepada keduanya melainkan keduanya berkata; "Kamilah yang akan membantu anda dan dia mau berdamai". 


Maka Al Hasan berkata; "Sungguh aku telah mendengar Abu Bakrah berkata; 


"Aku melihat Rasulullah -ﷺ- di atas mimbar sedangkan Al Hasan bin 'Ali ada di samping beliau sementara beliau sesekali memandang ke hadapan orang banyak dan sesekali memandang kepadanya lalu bersabda: 


"SESUNGGUHNYA ANAKKU INI (AL HASAN) adalah sayyid (pemimpin) dan semoga Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum Muslimin lewat tangannya". 


Berkata Abu 'Abdullah Al Bukhariy; berkata kepadaku ['Ali bin 'Abdullah]; "Sesungguhnya riwayat ini kami tetapkan berdasarkan apa yang didengar Al Hasan dari Abu Bakrah dengan lafazh hadits ini".

[HR. Bukhariy No.  2704] 


Berikut ini beberapa contoh sahabat dan ulama salaf yang mengaitkan nasabnya langsung kepada kakeknya sebagaimana disebutkan oleh para ulama dalam kitab kitabnya


❁˚ৡ✿⊱•Imam Al Hafidz Ahmad Ibnu Hajar Al Asqolaniy Asy Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Al Ishobah Fi Tamzizi Ash Shahabah (Juz. 4 Hal. 544):


(وهذا أبو شجرة عَمْرُو بْن عَبْدِ العُزَّى السّلميّ  الصحابي رضي الله عنه)، 


كان يقال له أبو شجرة بن شريد ، فنُسب إلى جده لأمه .

[انظر الإصابة في تمييز الصحابة : (ج ٤ ص ٥٤٤) / ذكر من اسمه عمرو، بفتح العين وسكون الميم /  ٥٩١٤ ز- عمرو بن عبد العزى / المؤلف: أبو الفضل أحمد بن علي بن محمد بن أحمد بن حجر العسقلاني (ت ٨٥٢هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية - بيروت، الطبعة: الأولى - ١٤١٥ هـ]


Ini adalah Abu Syajaroh :Amr bin Abdul-'Uzza Al-Sulamiy, seorang sahabat, radliyyAllahu 'anhu. 


Beliau dipanggil Abu Syajaroh bin Syariid, beliau  dikaitkan dengan kakeknya dari fihak ibu.  Selesai.


ৡ✿⊱•Imam Al Hafidz Ahmad Ibnu Hajar Al Asqolaniy Asy Syafi'iy berkata dalam Kitabnya Tahdzibu At Tahdzib (Juz. 9 Hal. 298): 


 (وهذا محمد بن عبد الرحمن بن سعد بن زرارة الأنصاري ، كان ربما نُسب إلى جده لأمه) 


فيقال محمد بن عبد الرحمن بن أسعد بن زرارة .

[انظر تهذيب التهذيب : (ج ٩ ص ٢٩٨) /  (محمد مع العين في الآباء) / (٤٩٤) (ع-محمد) / المؤلف: شهاب الدين أبو الفضل أحمد بن علي بن حجر العسقلاني الشافعي (ت ٨٥٢ هـ) / الناشر: مطبعة دائرة المعارف النظامية، حيدرآباد الدكن - الهند، الطبعة: الأولى، ١٣٢٥ - ١٣٢٧ هـ].


ৡ✿⊱•Imam Adz Dzahabi Berkata Dalam Kitabnya Siyaru A'lam An Nubula' (Juz. 14 Hal. 441):


(والإمام البغوي عَبْدُ اللهِ بنُ مُحَمَّدِ بنِ عَبْدِ العَزِيْزِ  ) 


وَهُوَ أَبُو الْقَاسِمِ بْنُ مَنِيعٍ نِسْبَةً إِلَى جَدِّهِ لِأُمِّهِ الْحَافِظِ أَبِي جَعْفَرٍ أَحْمَدَ بْنِ مَنِيعٍ الْبَغَوِيِّ الْأَصَمِّ ، صَاحِبِ " الْمُسْنَدِ " انتهى 

[انظر سير أعلام النبلاء (ج ١٤ ص ٤٤١) /  الطبقة السابعة عشر / ٢٤٧ - البغوي عبد الله بن محمد بن عبد العزيز / المؤلف: شمس الدين محمد بن أحمد بن عثمان الذهبي (ت ٧٤٨ هـ) / الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الثالثة، ١٤٠٥ هـ - ١٩٨٥ مـ].


ৡ✿⊱•Imam As Sam'aniy dalam Kitabnya Al Ansaab (Juz. 8 Hal. 47):


(والحافظ المتقن المعروف بابن شَاهِين) ، 


هو أبو حفص عمر بن أحمد بن عثمان الشاهيني ، وكان أصله من مرو الروز، ونسب إلى جده لأمه أحمد بن محمد بن يوسف بن شاهين الشيباني من أهل بغداد .

[انظر الأنساب : (ج ٨ ص ٤٧) / باب الشين والألف / ٢٢٨٩ - الشاهيني / المؤلف: أبو سعد، عبد الكريم بن محمد بن منصور التميمي السمعاني (ت ٥٦٢ هـ) / الناشر: مجلس دائرة المعارف العثمانية، حيدر آباد الدكن - الهند

عدد الأجزاء: ١٣ (نُشرت تِباعًا)، الطبعة: الأولى، (١٣٨٢ هـ = ١٩٦٢ م) - (١٤٠٢ = ١٩٨٢ م)].



ৡ✿⊱•Imam Adz Dzahabi Berkata Dalam Kitabnya Siyaru A'lam An Nubula' (Juz. 17 Hal. 200 - 201):


السُّلَيْمَانِيُّ أَبُو الفَضْلِ أَحْمَدُ بنُ عَلِيِّ بنِ عَمْرٍو 


*الإِمَامُ، الحَافِظُ، المُعَمَّرُ، مُحَدِثُ مَا وَرَاء النَّهر، أَبُو الفَضْلِ أَحْمَدُ بنُ عَلِيِّ بنِ عَمْرِو بنِ حَمْدِ بنِ إِبْرَاهِيْمَ بنِ يُوْسُفَ بنِ عَنْبَرٍ، سِبْطُ أَحْمَدَ بنِ سُلَيْمَانَ، السُّلَيْمَانِيُّ البِيْكَنْدِيُّ البُخَارِيُّ....


قَالَ أَبُو سَعْدٍ السَّمْعَانِيُّ فِي (الأَنسَاب) :السُّلَيْمَانِيّ مَنْسُوبٌ إِلَى جدِّه لأُمِّهِ: أَحْمَدَ بنِ سُلَيْمَانَ البِيْكَنْدِيّ، .انتهى 

[انظر [انظر سير أعلام النبلاء (ج ١٧ ص ٢٠٠ - ٢٠١) /  الطبقة السابعة عشر / الطبقة الثانية والعشرون / ١١٥ - السليماني أبو الفضل أحمد بن علي بن عمرو / المؤلف: شمس الدين محمد بن أحمد بن عثمان الذهبي (ت ٧٤٨ هـ) / الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الثالثة، ١٤٠٥ هـ - ١٩٨٥ مـ].



ৡ✿⊱•Imam Ibnu Khulkan Al Irbiliy berkata dalam Kitabnya Wafiyatu Al A'yaan (Juz. 7 Hal. 84):


(والقاضي الإمام الفقيه القارئ)


أبو المحاسن يوسف بن رافع الأسدي ، قاضي حلب ، المعروف بابن شداد الملقب بهاء الدين، الفقيه الشافعي، توفي أبوه وهو صغير السن ، فنشأ عند أخواله بني شداد فنسب إليهم، وكان شداد جده لأمه " انتهى 

[انظر وفيات الأعيان وأنباء أبناء الزمان : (ج ٧ ص ٨٤) /  حرف الياء / بهاء الدين عرف بابن شداد / المؤلف: أبو العباس شمس الدين أحمد بن محمد بن إبراهيم بن أبي بكر ابن خلكان البرمكي الإربلي (ت ٦٨١هـ) / الناشر: دار صادر - بيروت، بدون السنة].


❁˚ৡ✿⊱•Riwayat Bahwasannya Nasab Seseorang Tidak Bisa Mengatrol Atau Membantu  Amaliyyahnya : 


حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا وَقَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :


«مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ»....الحديث.

[رَوَاهُ مُسْلِمٌ /  ٤٨ - كتاب الذكر والدعاء والتوبة والاستغفار / ١١ - باب فضل الاجتماع على تلاوة القرآن، وعلى الذكر / رقم الحديث : ٢٦٩٩].


Dari Abu Hurairah radhiyyAllahu ‘anhu beliau  berkata: Rasulullah -ﷺ- bersabda: 


“Barangsiapa yang menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin yang lain dari  kesulitannya di dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan pada hari kdiamat. Barangsiapa yang meringankan orang yang kesusahan (dalam hutangnya), niscaya Allah akan meringankan baginya (urusannya) di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah  akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut mau menolong saudaranya. Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah–rumah Allah (masjid), membaca kitabullah, saling mengajarkan di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat dan dinaungi oleh para malaikat serta Allah akan menyebut–nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisiNya. BARANGSIAPA YANG LAMBAT DALAM BERAMAL, SUNGGUH GARIS NASABNYA TIDAK AKAN BISA MEMBANTUNYA.” 

[HR. Muslim No. 2699].


❁˚ৡ✿⊱•Komentar Sayyid Usman bin Yahya Mufti Betawi  ditunjukkan salah satunya melalui kitab berjudul Bunnah al-Jalis wa Qahwah al-Anis. Pada karyanya itu, Sayyid Usman mengutip beberapa ayat Al-Qur’an, hadis, dan pendapat para ulama terkait LARANGAN SESEORANG YANG SOMBONG DALAM NASAB. Di antaranya QS Al-Mukminun ayat 101 dan QS Asy-Syu’ara ayat 214. Pada ayat pertama, menurut Imam Jalaluddin al-Mahalli dalam kitab Tafsir al-Jalalain, ketika tiupan malaikat Israfil (sangkakala) yang pertama atau kedua, tiada lagi pertalian nasab yang dapat mereka bangga-banggakan. Tidak pula mereka saling bertanya tentang pernasaban tersebut, disebabkan kengerian yang menyibukkan diri mereka pada hari kiamat itu.


Sedangkan pada ayat kedua, Sayyid Usman menjelaskan bahwa tatkala ayat ini turun, Rasulullah -ﷺ- memanggil para suku Quraisy dan meminta mereka untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing dari api neraka. Kemudian Rasulullah -ﷺ- bersabda:  


 يَا فَاطِمَةُ أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنْ النَّارِ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبِلَالِهَا. (رواه النسائي وغيره واللفظ له).


“Wahai Fatimah binti Muhammad, wahai Safiyah binti Abdul Muthalib, wahai Bani Abdul Muthalib, aku tidak bisa melindungi kalian sedikitpun dari siksa Allah, hanya saja kalian memiliki rahim (kerabat) yang aku akan terus jalin silaturahminya (di dunia).” 

[Lihat Sayyid Usman bin Yahya, Bunnah al-Jalis wa Qahwah al-Anis, [Batavia, Syawal 1314 H], halaman 42].



❁˚ৡ✿⊱•Riwayat Tentang Melaknat Atau Menuduh Kafir Sesama Orang Islam Dosanya Seperti Membunuhnya:


حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ ثَابِتِ بْنِ الضَّحَّاكِ عَنْ النَّبِيِّ -ﷺ- قَالَ : 


«مَنْ حَلَفَ بِمِلَّةٍ غَيْرِ الْإِسْلَامِ كَاذِبًا فَهُوَ كَمَا قَالَ وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ».

[رواه البخاري /  كتاب الأدب / باب من كفر أخاه بغير تأويل فهو كما قال / رقم الحديث: ٦١٠٥].


Dari Tsabit bin Adl Dlahak. Dari Nabi -ﷺ- beliau bersabda: 


"Barangsiapa bersumpah dengan selain agama Islam secara dusta, maka dia seperti apa yang dia katakan, barangsiapa bunuh diri dengan sesuatu di dunia, maka dia akan disiksa di neraka Jahannam dengan sesuatu yang ia pergunakan untuk bunuh diri, BARANGSIAPA MELAKNAT SEORANG MUSLIM MAKA IA SEPERTI MEMBUNUHNYA DAN BARANGSIAPA MENUDUH SEORANG MUSLIM DENGAN KEKAFIRAN MAKA IA SEPERTI MEMBUNUHNYA."

[HR. Al-Bukhâriy  No. 6105, 6652]


❁˚ৡ✿⊱•Riwayat Yang Senada:


حَدَّثَنِي سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنِي حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ : أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ مَرْوَانَ بَعَثَ إِلَى أُمِّ الدَّرْدَاءِ بِأَنْجَادٍ مِنْ عِنْدِهِ فَلَمَّا أَنْ كَانَ ذَاتَ لَيْلَةٍ قَامَ عَبْدُ الْمَلِكِ مِنْ اللَّيْلِ فَدَعَا خَادِمَهُ فَكَأَنَّهُ أَبْطَأَ عَلَيْهِ فَلَعَنَهُ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَتْ لَهُ أُمُّ الدَّرْدَاءِ : سَمِعْتُكَ اللَّيْلَةَ لَعَنْتَ خَادِمَكَ حِينَ دَعَوْتَهُ فَقَالَتْ سَمِعْتُ أَبَا الدَّرْدَاءِ يَقُولُا : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -ﷺ- : 


لَا يَكُونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ...الحديث.

[رواه مسلم /  ٤٥ - كتاب البر والصلة والآداب / ٢٤ - باب النهي عن لعن الدواب وغيرها / رقم الحديث : ٢٥٩٨].


Dari Zaid bin Aslam : bahwa suatu ketika 'Abdul Malik bin Marwan mengirim perabot rumah miliknya kepada Ummu Ad Darda. Pada suatu malam, Abdul Malik bangun dan memanggil pembantunya. Namun seakan-akan pembantu itu lambat dalam memenuhi panggilannya. Hingga Abdul Malik melaknatnya. Pada pagi harinya, [Ummu Darda] berkata kepadanya; 'Tadi malam aku mendengar kamu melaknat pembantumu ketika kamu memanggilnya.' Aku mendengar [Abu Darda`] berkata; Rasulullah -ﷺ- bersabda: 


"Sesungguhnya para pelaknat itu tidak akan dapat menjadi syuhada' (orang-orang yang menjadi saksi) dan tidak pula dapat memberi syafa'at pada hari kiamat kelak.... Al Hadits.

[HR. Muslim, no. 2598]



✯͜͡❂⊱•أَلحَمْدُ لِلّـهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتُمُّ الصّالِحَاتُ✯͜͡❂⊱• 


•._.••´¯``•.¸¸.•`   🎀  кяα∂єηαη ѕєℓαтαη 

ѕяυмвυηg

мαgєℓαηg

 🎀   `•.¸¸.•``¯´••._.•


٤ ذو الحجة ١٤٤٥ ه‍ـ

11 ꀭꀎꈤꀤ 2024 м

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BAHASA ALAM AKHIRAT (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DSB) (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAHARU (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TABKHIR EMBAKAR DUPA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KUFUR AKIBAT MENCELA NASAB KETURUNAN (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAHALLUL CUKUR GUNDUL ATAU POTONG RAMBUT SELESAI HAJI DAN UMROH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TIDAK PERLU TEST DNA SEBAGAI BUKTI DZURRIYYAH NABI -ﷺ- (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top