Bismillahirrohmaanirrohiim

Selasa, 29 Agustus 2023

عادة الجاوية التي الموافقة بالشريعة | ADAT JAWA YANG MENCOCOKKI SYARI'AH

 *━•⊰❁🌦️༄ ﷽ ༄🌤️❁⊱•━*





(edisi setiap kali bertamu disediakan makan dan minum simbah atau bapak atau kakak pasti bilang jangan dihabiskan sisakanlah sedikit waktu itu alasannya cuma agar ndak diklaim rakus atau mengambil makanan yang jatuh walaupun sebutir nasi pamali railok takut dimakan setan namun setelah ta'lim dengar taushiyyah baca kitab dsb lebih jelas lagi alasannya rahasia apa dibalik sisa makanan dan minuman orang beriman dan faidah mengambil cuilan makanan yang terjatuh)



A].*─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫DASAR AL QUR'AN


Al Quran membenarkan tabaruk dengan peninggalan para Nabi selain Nabi Muhammad ﷺ, seperti dalam ayat.


وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَ آلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلاَئِكَةُ… (البقرة : 248)


“Dan Nabi mereka berkata kepada mereka: “Sungguh tanda Thalut akan menjadi raja ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdepat keterangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabur itu dibawa Malaikat…” 

(QS. Al-Baqarah: 248)



B].*─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫DASAR HADITS



💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  Imam Al-Muttaqi al-Hindi menyebutkan dalam karyanya Kanz al-‘Ummal seperti berikut:


من التواضع أن يشرب الرجل من سؤر أخيه، ومن شرب من سؤر أخيه رفعت له سبعون درجة، ومحيت عنه سبعون خطيئة وكتبت له سبعون حسنة 

[اخرجه المتقي الهندي في كتابه كنز العمال في سنن الأقوال والأفعال : ج ٣ ص ١١٥ /  الباب الأول: في الأخلاق والأفعال المحمودة / الفصل الثاني: في تعديد الأخلاق المحمودة على ترتيب الحروف المعجمة / للامام  علاء الدين علي بن حسام الدين ابن قاضي خان القادري الشاذلي الهندي البرهانفوري ثم المدني فالمكي الشهير بالمتقي الهندي (ت ٩٧٥هـ) /  الناشر: مؤسسة الرسالة, الطبعة: الطبعة الخامسة، ١٤٠١هـ/١٩٨١مـ].


Diantara sikap rendah diri bagi seseorang lelaki ialah dia mau  meminum sisa  minuman saudaranya,  dan barang siapa yang meminum sisa air minuman saudaranya diangkat darjatnya sebanyak 70 derajat, dihapuskan daripadanya 70 keburukan dan ditulis baginya 70 kebaikan.

[Dikeluarkan Oleh Imam ‘Ala’ al-Din ‘Ali al-Muttaqi al-Hindi. (W: 975 H) Dalam Kitabnya Kanzu  Al-‘Ummal Fi Sunan Al-Aqwal Wa Al-Afʻal : Juz 3 Hal 115. No. Hadits : 5748].


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟   RIWAYAT HADITS YANG LAIN


حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ وَاللَّفْظُ لِابْنِ أَبِي عُمَرَ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ رَبِّهِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ:  


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -ﷺ- كَانَ إِذَا اشْتَكَى الْإِنْسَانُ الشَّيْءَ مِنْهُ أَوْ كَانَتْ بِهِ قَرْحَةٌ أَوْ جُرْحٌ قَالَ النَّبِيُّ -ﷺ- بِإِصْبَعِهِ هَكَذَا وَوَضَعَ سُفْيَانُ سَبَّابَتَهُ بِالْأَرْضِ ثُمَّ رَفَعَهَا بِاسْمِ اللَّهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا لِيُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا 


قَالَ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ يُشْفَى و قَالَ زُهَيْرٌ لِيُشْفَى سَقِيمُنَا

[رواه مسلم / (٣٩) - كتاب السلام / (٢١) - باب استحباب الرقية من العين والنملة والحمة والنظرة / حديث رقم : ٢١٩٤].


Telah menceritakan kepada kami : Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb  serta Ibnu Abu 'Umar  dan lafazh ini miliknya Ibnu Abu 'Umar radliyyAllahu 'anhuma, beliau berkata; Telah menceritakan kepada kami : Sufyan. Dari 'Abdu Rabbih bin Sa'id. Dari 'Amrah. Dari 'Aisyah radliyaAllahu 'anha : 


Bahwa apabila seseorang mengadukan suatu penyakit yang dideritanya kepada Rasulullah -ﷺ-, seperti sakit kudis, atau luka, maka Nabi -ﷺ- berucap sambil menggerakkan anak jarinya seperti ini -Sufyan meletakkan telunjuknya ke tanah, kemudian mengangkatnya- Bismillahi turbatu ardhina biriiqati ba'dhina liyusyfaa bihi saqiimuna bi idzni rabbina." (Dengan nama Allah, dengan debu di bumi kami, DAN DENGAN LUDAH SEBAGIAN KAMI, semoga sembuhlah penyakit kami dengan izin Rabb kami). Ibnu Abu Syaibah berkata; ruqyah tersebut berbunyi; Yusyfaa saqiimunaa'. Dan Zuhair berkata; Doa ruqyah tersebut berbunyi; Liyusyfaa saqiimunaa.'

[HR. Muslim No. Hadits : 2194] 


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟   RIWAYAT HADITS YANG LAIN


Menjelaskan tentang tayamun (mendahulukan yang kanan) yakni memberikan minuman  pada anak kecil yang duduk disebelah kanan walaupun disebelah kiri duduk orang lebih tua atau terhormat 


Menunjukkan ketawadlu'an (rendah hati) Rasulullah ﷺ walaupun terhadap anak kecil


Menunjukkan kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada ummatnya

 

Rasulullah ﷺ mengajarkan agar tidak tathafful (trombol : jawa) ikut  makan minum tanpa izin terlebih dahulu


Dan yang paling penting adalah Rasulullah ﷺ mengajarkan tidak merasa jijik dengan memakan atau meminum sisa saudaranya sesama muslim karena  didalamnya terdapat berkah dan obat apalagi jika sisa dari para ulama shalihin


 ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ ‏ ‏أَخْبَرَنَا ‏ ‏مَالِكٌ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَبِي حَازِمِ بْنِ دِينَارٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ ‏ ‏رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ‏ ‏:


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ‏-ﷺ- ‏أُتِيَ بِشَرَابٍ فَشَرِبَ مِنْهُ وَعَنْ يَمِينِهِ ‏ ‏غُلَامٌ ‏ ‏وَعَنْ يَسَارِهِ الْأَشْيَاخُ فَقَالَ لِلْغُلَامِ ‏ ‏أَتَأْذَنُ لِي أَنْ أُعْطِيَ هَؤُلَاءِ فَقَالَ الْغُلَامُ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا أُوثِرُ بِنَصِيبِي مِنْكَ أَحَدًا قَالَ فَتَلَّهُ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏-ﷺ- ‏فِي يَدِهِ ‏ 

[رواه البخاري / كتاب المظالم والغصب / باب إذا أذن له أو أحله، ولم يبين كم هو / حديث رقم: ٢٤٥١].


Telah menceritakan kepada kami : 'Abdullah bin Yusuf. Telah mengabarkan kepada kami : Malik. Dari Abu Hazim bin Dinar. Dari Sahal bin Sa'ad As-Sa'idiy radliyaAllahu 'anhu :  


Bahwa kepada Rasulullah -ﷺ- disuguhkan minuman, lalu Beliau meminumnya sementara disamping kanan Beliau ada seorang ANAK KECIL sedangkan di sebelah kiri Beliau ada PARA ORANG-ORANG TUA. Maka Beliau berkata, kepada anak kecil itu: 


"Apakah kamu mengizinkan aku untuk memberi minuman ini kepada mereka?" 


Anak kecil itu berkata: 


"Demi Allah, tidak wahai Rasulullah, aku tidak akan mendahulukan seorangpun daripadaku selain anda". Maka Beliau memberikan kepadanya.

[HR. Bukhariy No. Hadits : 2451] 


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟   RIWAYAT HADITS YANG LAIN


وروي : سُؤْرُ الْمُؤْمِنِ شِفَاءٌ


Diriwayatkan: "Sisa orang mu'min itu menjadi obat".


🌤️❁⊱•━*Disebutkan oleh Imam Jamaluddin Abdurrahman  Muhammad Al Jauziyyah Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya Al Maudlu'at :


بَاب الشّرْب من سُؤْر الْمُسلم أَنْبَأَنَا الْجُرَيْرِيُّ أَنْبَأَنَا الْعُشَارِيُّ حَدَّثَنَا الدَّارقطني أَنْبَأَنَا أَبُو سَعِيدِ بْنُ مَشْكَانَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ رَوْحٍ أَنْبَأَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ حَدَّثَنَا نَوْحُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " من التَّوَاضُعِ أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ مِنْ سُؤْرِ أَخِيهِ، وَمَنْ شَرِبَ مِنْ سُؤْرِ أَخِيهِ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ رُفِعَتْ لَهُ سَبْعُونَ دَرَجَةً، وَمُحِيَتْ عَنْهُ سَبْعُونَ خَطِيَّةً، وَكُتِبَ لَهُ سَبْعُونَ حَسَنَةً ".


تفرد بِهِ نوح. قَالَ يحيى: لَيْسَ بشئ، وَقَالَ مُسلم بن الْحجَّاج وَالدَّارقطني: مَتْرُوك.

[أورده ابن الجوزي الموضوعات : ج ٣ ص ٤٠ / كتاب الاشربة / للإمام جمال الدين عبد الرحمن بن علي بن محمد الجوزي الحنبلي (ت ٥٩٧هـ) الناشر: محمد عبد المحسن صاحب المكتبة السلفية بالمدينة المنورة - الطبعة: الأولى - جـ ١، ٢: ١٣٨٦ هـ - ١٩٦٦ مً & جـ ٣: ١٣٨٨ هـ - ١٩٦٨ مـ.]


Bab: Minum dari sisa  seorang Muslim Al-Jariri memberi tahu kami. Al-Ashari memberi tahu kami.  Al-Daraqutni memberi tahu kami Abu Saeed bin Meshkan memberi tahu kami. Ahmed bin Rouh memberi tahu kami Suwayd bin Nasr memberi tahu kami.  Nuh bin Abi Maryam memberi tahu kami. Dari Ibnu Jurayj. Dari  Ibnu Abbas radhiyyAllahu 'anhuma, beliau berkata : Rasulullah -ﷺ- pernah  bersabda: 


“Adalah TERMASUK DARI SIKAP KERENDAHAN HATI jika seseorang mau minum dari sisa minuman saudaranya, dan barangsiapa pun yang minum dari sisa saudaranya karena hanya mencari ridlo  Allah, maka akan ditinggikan baginya 70  derajat, dihapuskan 70  dosanya, dan dicatat baginya 70 amal shaleh.”


Hanya Nuh sendiri yang meriwayatkannya, Yahya berkata: Tidak ada apa-apanya,  Muslim bin Al-Hajjaj dan Al-Daraqutni berkata: Itu matruk  (ditinggalkan).

[Lihat Kitab Al Maudlu'at : Juz 3 Hal 40. Karya Imam Jamaluddin Abdurrahman Muhammad Al Jauziy].


💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟   RIWAYAT HADITS YANG LAIN


Memakan makanan yang terjatuh karena keberkahan didalam makanan tidak diketahui dari mana asalnya bisa jadi berada dimakanan yang terjatuh tersebut walaupun hanya sebutir nasi (upo : jawa) atau serpihan roti maupun suiran daging, dan jangan dibiarkan keberkahan itu dimakan oleh syaitan.


و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ الْعَبْدِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ: 


«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -ﷺ-  كَانَ إِذَا أَكَلَ طَعَامًا لَعِقَ أَصَابِعَهُ الثَّلَاثَ قَالَ وَقَالَ إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمِطْ عَنْهَا الْأَذَى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الْقَصْعَةَ قَالَ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمْ الْبَرَكَةُ»

[رواه مسلم /  ٣٦ - كتاب الأشربة / ١٨ - باب: استحباب لعق الأصابع والقصعة، وأكل اللقمة الساقطة بعد مسح ما يصيبها من أذى، وكراهة مسح اليد قبل لعقها / رقم الحديث : ٢٠٢٤]


Telah menceritakan kepada kami : Muhammad bin Hatim dan Abu Bakr bin Nafi' Al 'Abdi mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami : Bahz; Telah menceritakan kepada kami : Hammad bin Salamah; Telah menceritakan kepada kami : Tsabit. Dari Anas radliyyAllahu : Bahwa Nabi -ﷺ-apabila selesai makan, dia menjilati ke tiga jari tangannya. Anas radliyyAllahu 'anhu berkata; Beliau bersabda: 


'Apabila suapan makanan salah seorang diantara kalian jatuh, ambillah kembali lalu buang bagian yang kotor dan makanlah bagian yang bersih. Jangan dibiarkannya dimakan setan." 


Dan beliau menyuruh kami untuk menjilati piring. Beliau bersabda: 


'Karena kalian tidak tahu bagian makanan mana yang membawa berkah."

[HR. Ahmad Teks Milik Muslim Dan Abu Dawud] 


🌤️❁⊱•━*Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj :


مَعْنَاهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ الطعام الذى يحضره الانسان فيه بركة ولايدرى أَنَّ تِلْكَ الْبَرَكَةَ فِيمَا أَكَلَهُ أَوْ فِيمَا بَقِيَ عَلَى أَصَابِعِهِ أَوْ فِي مَا بَقِيَ فِي أَسْفَلِ الْقَصْعَةِ أَوْ فِي اللُّقْمَةِ السَّاقِطَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ يُحَافِظَ عَلَى هَذَا كُلِّهِ لِتَحْصُلَ الْبَرَكَةُ وَأَصْلُ الْبَرَكَةِ الزِّيَادَةُ وَثُبُوتُ الْخَيْرِ وَالْإِمْتَاعِ به والمراد هنا والله أعلم

[انظر كتاب المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج : ج ١٣ ص ٢٠٣ / كتاب الأشربة / باب استحباب لعق الأصابع والقصعة وأكل اللقمة / للامام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت، الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ ه‍ـ].


Maknanya, dan Allah Maha Mengetahui, adalah bahwa makanan yang diolah seseorang mengandung keberkahan, dan dia tidak mengetahui letak keberkahan tersebut apakah ada pada apa yang dia makan, atau pada apa yang tersisa di jarinya, atau pada apa yang tersisa di dasar mangkuk, atau di potongan makanan  yang terjatuh.


Semua itu harus dijaga agar keberkahan itu terjadi, dan asal muasal keberkahan itu adalah bertambahnya dan tetapnya kebaikan serta kenikmatannya, yang dimaksud disini, dan Allah Yang Maha Mengetahui.

[Lihat Kitab Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj : Juz 13 Hal 203. Karya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy].



🌤️❁⊱•━*Al 'Alamah Abu Ath Thayyib Syamsuddin Al Haq Al'Adzim Abadiy menjelaskan dalam kitabnya 'Aunu Al Ma'bud Syarhu Sunan Abi Dawud : 


فِيهِ اِسْتِحْبَاب أَكْل اللُّقْمَة السَّاقِطَة بَعْد مَسْح أَذًى يُصِيبهَا , هَذَا إِذَا لَمْ تَقَع عَلَى مَوْضِع نَجَاسَة , فَإِنْ وَقَعَتْ عَلَى مَوْضِع نَجِسٍ تَنَجَّسَتْ وَلَا بُدّ مِنْ غَسْلهَا إِنْ أَمْكَنَ فَإِنْ تَعَذَّرَ أَطْعَمَهَا حَيَوَانًا وَلَا يَتْرُكهَا لِشَيْطَانٍ ‏ ‏( وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُت الصَّحْفَة ) ‏ ‏: أَيْ نَمْسَحهَا وَنَتَتَبَّع مَا بَقِيَ فِيهَا مِنْ الطَّعَام يُقَال سَلَتَ الصَّحْفَة يَسْلُتهَا مِنْ بَاب نَصَرَ يَنْصُر إِذَا تَتَبَّعَ مَا بَقِيَ فِيهِمَا مِنْ الطَّعَام وَمَسَحَهَا بِالْأُصْبُعِ وَنَحْوهَا ‏ ‏( إِنَّ أَحَدكُمْ لَا يَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامَهُ يُبَارَك لَهُ ) ‏ ‏: أَيْ أَنَّ الطَّعَام الَّذِي يُحْضِرهُ الْإِنْسَان فِيهِ بَرَكَة وَلَا يَدْرِي أَنَّ تِلْكَ الْبَرَكَة فِيمَا أَكَلَ أَوْ فِيمَا بَقِيَ عَلَى أَصَابِعه أَوْ فِيمَا بَقِيَ فِي أَسْفَل الْقَصْعَة أَوْ فِي اللُّقْمَة السَّاقِطَة فَيَنْبَغِي أَنْ يُحَافِظ عَلَى هَذَا كُلّه لِتَحْصُل الْبَرَكَة وَأَصْل الْبَرَكَة الزِّيَادَة وَثُبُوت الْخَيْر وَالِامْتِنَاع بِهِ.

[انظر كتاب عون المعبود على شرح سنن أبي داود: : 


للعلامة أبي الطيب محمد شمس الحق العظيم آبادي 


Di dalamnya disunnahkan memakan sisa makanan yang terjatuh setelah dibersihkan dari segala kotoran  yang menimpanya, jika tidak jatuh di tempat yang najis Kalau jatuh di tempat yang najis maka menjadi najis, sedapat mungkin harus dicuci, jika tidak memungkinkan BERIKAN KEPADA BINATANG DAN JANGAN DIBIARKAN SETAN MEMAKANNYA, 


(Dan kami diperintahkan untuk menumpahkan piring tersebut) maksudnya: kami mengelapnya dan meniriskan sisa makanan yang ada di dalamnya, 


Dikatakan: menumpahkan isi piring, ketika meniriskan sisa makanan yang ada di dalamnya dan mengelapnya dengan jari dan sejenisnya.


(Karena kalian tidak tahu bagian makanan mana yang membawa berkah) artinya : makanan yang diolah seseorang mengandung keberkahan, dan dia tidak mengetahui letak keberkahan tersebut apakah ada pada apa yang dia makan, atau pada apa yang tersisa di jarinya, atau pada apa yang tersisa di dasar mangkuk, atau di potongan makanan  yang terjatuh.


Semua itu seyogyanya  dijaga agar keberkahan itu terjadi menjadi nyata, dan asal muasal keberkahan itu adalah bertambahnya dan tetapnya kebaikan serta kenikmatannya, yang dimaksud disini, dan Allah Yang Maha Mengetahui.

[Lihat Kitab 'Aunu Al Ma'bud Syarhu Sunan Abi Dawud : Juz 



C].*─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫 PENDAPAT ULAMA' MADZHAB



1)• 💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟    Menurut Pengikut Madzhab Imam Imam Asy Syafi'iy (عند الشافعية)


🌤️❁⊱•━*Teks riwayat ini disebutkan oleh Imam As Sakhawiy Asy Syafi'iy dalam kitabnya Al Maqashidu Al Hasanah Fi Bayani Katsirin Min Al Ahaditsi Al Masyhurah 'Ala Al Alsinah : 


حَدِيث: رِيقُ الْمُؤْمِنِ شِفَاءٌ، معناه صحيح، 


ففي الصحيحين أنه -ﷺ-  كان إذا اشتكى الإنسان الشيء، أو كانت به قرحة أو جرح قال بأصبعه يعني سبابته الأرض ثم رفعها وقال: بسم اللَّه تربة أرضنا، بريقة بعضنا، أي ببصاق بني آدم، يشفي سقيمنا بإذن ربنا، إلى غير ذلك مما يقرب منه، 


وأما ما على الألسنة من أن: سؤر المؤمن شفاء، ففي الأفراد للدارقطني من حديث نوح ابن بي مريم عن ابن جريج عن عطاء عن ابن عباس رفعه : من التواضع أن يشرب الرجل من سؤر أخيه

 [انظر كتاب المقاصد الحسنة في بيان كثير من الأحاديث المشتهرة على الألسنة : ص ٧٣ /  الباب الأول: الأحاديث بحسب ترتيب الأحرف / حرف الراء المهملة / للإمام شمس الدين أبو الخير محمد بن عبد الرحمن بن محمد السخاوي (ت ٩٠٢هـ) / الناشر: دار الكتاب العربي - بيروت، الطبعة: الأولى، ١٤٠٥ هـ - ١٩٨٥مـ].


Hadits: AIR LIUR ORANG MUKMIN ITU MENYEMBUHKAN, MAKSUDNYA BENAR. 


Dalam kitab Shahihain (Bukhariy Muslim)  diriwayatkan bahwa jika seseorang mengeluhkan sesuatu, atau menderita borok kudis bernanah atau luka, beliau meletakkan telunjuknya ke tanah, kemudian beliau  mengangkatnya dan beliau berucap - Bismillahi turbatu ardhina biriiqati ba'dhina liyusyfaa bihi saqiimuna bi idzni rabbina." (Dengan nama Allah, dengan debu di bumi kami, DAN DENGAN LUDAH YAKNI AIR LIUR SEBAGIAN KAMI,  semoga sembuhlah penyakit kami dengan izin Rabb kami), hingga dengan selain semua itu yang mendekatkannya, 


dan adapun yang ada di lisan banyak orang  bahwa : SISA ORANG MUKMIN ITU OBAT, maka dalam Al-Farad karya Al-Daraqutni dari hadits Nuh Ibnu Maryam dari Ibnu Juraij dari Ibnu Abbas radhiyyAllahu 'anhuma, beliau merafa'kannya : TERMASUK DARI SIKAP TAWADLU'  KERENDAHAN HATI apabila seseorang sudi meminum dari minuman sisa saudaranya.

[Lihat Kitab Al Maqashidu Al Hasanah Fi Bayani Katsirin Min Al Ahaditsi Al Masyhurah 'Ala Al Alsinah : Hal 73. Karya Imam Syamsuddin Abul Khair Muhammad As Sakhawiy Asy Syafi'iy].



🌤️❁⊱•━*Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj :


مَعْنَاهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ الطعام الذى يحضره الانسان فيه بركة ولايدرى أَنَّ تِلْكَ الْبَرَكَةَ فِيمَا أَكَلَهُ أَوْ فِيمَا بَقِيَ عَلَى أَصَابِعِهِ أَوْ فِي مَا بَقِيَ فِي أَسْفَلِ الْقَصْعَةِ أَوْ فِي اللُّقْمَةِ السَّاقِطَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ يُحَافِظَ عَلَى هَذَا كُلِّهِ لِتَحْصُلَ الْبَرَكَةُ وَأَصْلُ الْبَرَكَةِ الزِّيَادَةُ وَثُبُوتُ الْخَيْرِ وَالْإِمْتَاعِ به والمراد هنا والله أعلم

[انظر كتاب المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج : ج ١٣ ص ٢٠٣ / كتاب الأشربة / باب استحباب لعق الأصابع والقصعة وأكل اللقمة / للامام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت، الطبعة: الثانية، ١٣٩٢ ه‍ـ].


Maknanya, dan Allah Maha Mengetahui, adalah bahwa makanan yang diolah seseorang mengandung keberkahan, dan dia tidak mengetahui letak keberkahan tersebut apakah ada pada apa yang dia makan, atau pada apa yang tersisa di jarinya, atau pada apa yang tersisa di dasar mangkuk, atau di potongan makanan  yang terjatuh.


Semua itu harus dijaga agar keberkahan itu terjadi, dan asal muasal keberkahan itu adalah bertambahnya dan tetapnya kebaikan serta kenikmatannya, yang dimaksud disini, dan Allah Yang Maha Mengetahui.

[Lihat Kitab Al Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj : Juz 13 Hal 203. Karya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy].



🌤️❁⊱•━*Imam Asy Syafi'iy Meminum Air Cucian Jubah Imam Ahmad


قال الربيع: إن الشافعي خرج إلى مصر وأنا معه فقال لي: يا ربيع، خذ كتابي هذا وامض به، وسلمه إلى أبي عبد الله أحمد بن حنبل، وائتني بالجواب. قال الربيع: فدخلت بغداد، ومعي الكتاب، فلقيت أحمد بن حنبل صلاة الصبح، فصليت معه الفجر. فلما انفتل من المحراب سلمت إليه الكتاب وقلت له: هذا كتاب أخيك الشافعي من مصر، فقال أحمد: نظرت فيه؟ قلت: لا، فكسر أبو عبد الله الختم، وقرأ الكتاب، فتغرغرت عيناه بالدموع فقلت: إيش فيه يا أبا عبد الله؟! قال: يذكر أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم في النوم فقال له: اكتب إلى أبي عبد الله أحمد بن حنبل واقرأ عليه مني السلام وقل: إنك ستمتحن وتدعى إلى خلق القرآن فلا تجبهم، فسيرفع الله لك علماً إلى يوم القيامة. قال الربيع: فقلت: البشارة، فخلع أحد قميصيه الذي يلي جلده ودفعه إلي فأخذته، وخرجت إلى مصر، وأخذت جواب الكتاب، فسلمته إلى الشافعي، فقال لي الشافعي: يا ربيع، إيش الذي دفع إليك؟ قلت: القميص الذي يلي جلده. قال الشافعي: ليس نفجعك به ولكن بله وادفع إلي الماء لأتبرك به. وفي رواية: حتى أشركك فيه.

[انظر كتاب مناقب الإمام أحمد : ص ٦٠٩ /  الباب الثالث والتسعون في ذكر المنامات التي رئيت له / للامام جمال الدين أبو الفرج عبد الرحمن بن علي بن محمد الجوزي (ت ٥٩٧هـ)

المحقق: د. عبد الله بن عبد المحسن التركي

الناشر: دار هجر

الطبعة: الثانية، ١٤٠٩ هـ وانظر مرآة الجنان وعبرة اليقظان في معرفة حوادث الزمان لليافعي - (ج ١  ص ٢٦٥].


Ibnu Jawzi menuturkan sebuah kisah: 


“bahwa pada suatau malam, Imam Syafi’I bermimpi bertemu Rasulullah -ﷺ-. dan memerintahnya agar menyampaikan salam beliau kepada Imam Ahmad ibn Hanbal. 


Kesokan harinya, Imam Syafi’I memerintahkan Rabî’- murid beliau- agar membawakan surat menemui Imam Ahmad ibn Hanbal. 


Rabî’ bergegas pergi menuju kota Baghdad dan menyerahkan surat tersebut, setelah membacanya, Ahmad meneteskan air mata. Rabi’ bertanya kepadanya, ‘Ada apa di dalamnya wahai Abu Abdillah?’ Ahmad menjawab ‘Beliau menyebut bahwa beliau melihat nabi dalam mimpi dan berkata kepadanya, ’Tulislah surat kepada Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal dan sampaikan salamku kepadanya! Dan katakan, ‘Engkau akan diuji dan dipaksa mengatakan bahwa Alquran itu makhluq, maka jangan engka turuti permintaan mereka, Allah akan meninggikan derajatmu sebagai panutan di setiap masa hingga hari kiamat. Rabi berkata, “Aku berkata, ‘Ini kabar gembira.’ Lalu Ahmad melepas baju dalamnya yang menyentuh badannya dan menyerahkannya kepadaku, aku mengambilnya dan akupun pulang menuju negeri Mesir bersama surat jawaban Ahmad. Setelah aku serahkan kepadanya, ia bertanya, ‘Apa yang ia berikan kepadamu?’ Aku menjawab, ‘baju gamis yang langsung menyentuh badannya’ Syafi’I berkata kepadaku, ‘Aku tidak ingin merampasnya darimu, tapi basahi dia dan serahkan kepadaku sisa air cuciannya agar aku juga dapat mendapat berkah sepertimu. Maka, kata rabi’, ‘Aku mencucuinya, dan aku bawakan sisa air cuciannya kepadanya aku telakkan di botol, aku menyaksikan beliau setiap hari mengambil sedikit air darinya dan mengusapkannya ke wajah beliau, untuk mengambil keberkahan dari Ahmad ibn Hanbal. 

[Lihat Kitab “ Manaqib Ahmad ibn Hanbal”: Hal 609. Karya Ibnu Jauziy Al Hanbaliy. Dan “Al Bidayah wa an Nihayah”; Ibnu Katsir,10/331 dari al Baihaqi].



2)• 💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟    Menurut Pengikut Madzhab Imam Abu Hanifah (عند الحنفية)


Diriwayatkan :


سُؤْرُ الْمُؤْمِنِ شِفَاءٌ


"Sisa orang mu'min adalah obat"


Dikatakan Kalam ini bukanlah hadits namun Shahih (benar dari segi maknanya) karena mengenai memakan sisa saudaranya bertujuan untuk tabarukan (mengambil berkah), taadduban (bersikap sopan) tawadlu'an (bersikap rendah diri) ataupun tafa'ulan (berharap mendapatkan kebaikkan) termaktub dalam hadits Shahih riwayat Bukhariy dan Muslim yang telah disebutkan diatas.


🌤️❁⊱•━*Al 'Alamah Mula 'Aliy Al Qariy Al Hanafiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Asraru Al Marfu'ah Fi Akhbari Al Maudlu'ah = Al Maudlu'aat Al Kubra : 


سُؤْرُ الْمُؤْمِنِ شِفَاءٌ فَصَحِيحٌ مِنْ جِهَةِ الْمَعْنَى لِرِوَايَةِ الدَّارَقُطْنِيِّ فِي الْأَفْرَادِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ مَرْفُوعًا : 


مِنَ التَّوَاضِعِ أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ مِنْ سُؤْرِ أَخِيهِ أَيِ الْمُؤْمِنِ

[انظر كتاب الأسرار المرفوعة في الأخبار الموضوعة =  الموضوعات الكبرى: ص ٢٠٩ / فصل / للعلامة علي بن (سلطان) محمد، أبو الحسن نور الدين الملا الهروي القاري الحنفي (ت ١٠١٤هـ) / الناشر: دار الأمانة / مؤسسة الرسالة - بيروت، بدون السنة].


Sisa orang mukmin itu ada obat, SHAHIH (BENAR) DARI SEGI MAKNANYA, karena berdasarkan riwayat Imam Ad Daaraqutni dalam Al-Afrad dari hadits Ibnu Abbas radhiyyAllahu 'anhuma secara marfu' (yang ditelusuri hingga Nabi Muhammad ﷺ) :  


Termasuk dari ketawadlu'an (rendah diri) apabila seseorang sudi meminum dari minuman sisa saudaranya yaitu saudaranya orang mukmin.

[Lihat Kitab Al Asraru Al Marfu'ah Fi Akhbari Al Maudlu'ah = Al Maudlu'aat Al Kubra : Hal 209. Karya Al 'Alamah Mula 'Aliy Al Qariy Al Hanafiy].



3)• 💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟    Menurut Pengikut Madzhab Imam Malik (عند المالكية)


-


4)• 💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟    Menurut Pengikut Madzhab Imam Ahmad Bin Hanbal (عند الحنابلة)


🌤️❁⊱•━*Imam 'Alauddin Al Mardawiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Inshof Fi Ma'rifati Ar Rajih Min Al Khilafi :


وَيُسْتَحَبُّ لِلضَّيْفِ أَنْ يُفَضِّلَ شَيْئًا، لَا سِيَّمَا إنْ كَانَ مِمَّنْ يُتَبَرَّكُ بِفَضْلَتِهِ، أَوْ كَانَ ثَمَّ حَاجَةٌ.

[انظر كتاب الإنصاف في معرفة الراجح من الخلاف : ج ٨ ص ٣٣٣ /  باب الوليمة / فوائد جمة في آداب الأكل والشرب / للامام علاء الدين أبو الحسن علي بن سليمان المرداوي الحنبلي (٧١٧ - ٨٨٥ هـ) / الناشر: مطبعة السنة المحمدية - الطبعة: الأولى، ١٣٧٤ هـ - ١٩٥٥ مـ]. 


DIANJURKAN BAGI TAMU UNTUK MENYISAKAN MAKANAN, AGAR ORANG LAIN BISA NGALAP BERKAH DARI SISA MAKANANNYA TERSEBUT, terutama tamu yang layak diambil berkahnya.

[Lihat Kitab Al Inshaf Fi Ma'rifati Ar Rajih Min Al Khilafi : Juz 8 Hal 333. Karya Imam 'Alauddin Al Mardawiy Al Hanbaliy].


🌤️❁⊱•━*Imam 'Abdullah Yahya Al Maqdisiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Syarhu Dalilu Ath Thalib : 


(فَصلٌ): (وسُنَّ أن يَحمَدَ اللهَ إذا فَرَغَ) مِن طعامِه أو شرابِه؛ لحَديثِ: "إنَّ اللهَ ليَرضَى مِن العَبدِ أن يأكُلَ الأَكلَةَ، أو يشربَ الشَّربَةَ، فيَحمدَه عليها" [[رواه مسلم][. 


(ويَقول: الحمدُ للهِ الذي أطعَمَني هذا الطَّعامَ، ورَزَقَنيه (٢) مِن غَيرِ حَولٍ مِنِّي ولا قُوَّةٍ) وعن مُعاذِ بن أنسٍ الجُهنيِّ مرفوعًا: "مَن أكلَ طَعَامًا، فقالَ: الحمدُ لله الذي أطعَمَني هذا ورَزَقَنِيهِ مِن غَيرِ حَولٍ مِنِّي ولا قُوَّةٍ، غُفِرَ له ما تقدَّمَ مِن ذَنبه". [[رواهُ ابنُ ماجه]].


(و) يُسنُّ أن (يَدعُوَ لصاحِبِ الطَّعامِ) بما أحَبَّ (ويُفضِلَ مِنهُ) أي: مِن الطَّعامِ (شيئًا) ولو قَليلًا، (لا سِيَّمَا إن كانَ ممَّن يُتبَرَّكُ بِفَضلَتِه

[انظر كتاب شرح دليل الطالب : ج ٣ ص ٣٢٠ / باب الوليمة وآداب الأكل / فصل وسن أن يحمد الله إذا فرغ / 

للامام عبد الله بن أحمد بن يحيى المقدسي الحنبلي (ت ١٠٩١ هـ) / الناشر: دار أطلس الخضراء للنشر والتوزيع، السعودية - الرياض - الطبعة: الأولى، ١٤٣٦ هـ - ٢٠١٥ مـ].


(Bab) (dan Sunah bersyukur kepada Allah setelah selesai) makanan atau minumannya; Sebagaimana sebuah hadits: 


"إنَّ اللهَ ليَرضَى مِن العَبدِ أن يأكُلَ الأَكلَةَ، أو يشربَ الشَّربَةَ، فيَحمدَه عليها"


“Allah ridha terhadap hamba yang memakan makanan atau meminum minuman, kemudian memuji-Nya karenanya.” (HR Muslim).


Dan dia berkata:


الحمدُ للهِ الذي أطعَمَني هذا الطَّعامَ، ورَزَقَنيه مِن غَيرِ حَولٍ مِنِّي ولا قُوَّةٍ


"Segala puji bagi Allah  yang memberiku makanan ini dan merizkikannya kepadaku, tanpa kekuatan atau tenaga apa pun dariku" 


Dan dari Muadz bin Anas al-Juhani radliyyAllahu 'anhu  secara marfu' (dengan rantai sanad yang dikaitkan dengan kepadanya): 


“Barangsiapa yang memakan makanan tersebut dan berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan memberikannya kepadaku tanpa ada usaha dan tenaga dariku, maka dia akan diampuni dosanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah).


(Dan) disunnahkan (mendoakan pemilik makanan) atas apa yang disukainya (DAN MENYISAKAN SESUATU DARINYA) yaitu: DARI MAKANAN TERSEBUT (WALAUPUN HANYA SEDIKIT), apalagi jika termasuk orang-orang yang dicari keberkahannya dari sisa makanannya.

[Lihat Kitab Syarhu Dalilu Ath Thalib : Juz 2 Hal 320. Karya Imam Abdullah Yahya Al Maqdisiy Al Hanbaliy].



🌤️❁⊱•━*Imam Manshur bin Yunus Al Buhutiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Kasyafu Al Qina' 'An Matni Al Iqna' :


(وَيُسْتَحَبُّ لِلضَّيْفِ أَنْ يُفْضِلَ شَيْئًا) مِنْ الطَّعَامِ (لَا سِيَّمَا إنْ كَانَ مِمَّنْ يُتَبَرَّكُ بِفَضْلَتِهِ أَوْ كَانَ ثَمَّ حَاجَةٍ) إلَى إبْقَاءِ شَيْءٍ مِنْهُ (وَفِي شَرْحِ مُسْلِمٍ يُسْتَحَبُّ لِصَاحِبِ الطَّعَامِ وَأَهْلِ الطَّعَامِ الْأَكْلُ بَعْدَ فَرَاغِ الضَّيْفَانِ لِحَدِيثِ أَبِي طَلْحَةَ الْأَنْصَارِيِّ فِي الصَّحِيحِ) «وَفِيهِ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ فَذَهَبَ بِالضَّيْفِ وَقَالَ لِامْرَأَتِهِ هَذَا ضَيْفُ رَسُولِ اللَّهِ -ﷺ-  قَالَتْ: وَاَللَّهِ مَا عِنْدَنَا إلَّا قُوتُ الصِّبْيَةِ فَقَالَ: نَوِّمِي صِبْيَانَكِ وَأَطْفِئِي السِّرَاجَ وَقَدِّمِي مَا عِنْدَكِ لِلضَّيْفِ وَنُوهِمُهُ أَنَّنَا نَأْكُلُ فَفَعَلَا ذَلِكَ» وَنَزَلَ فِي ذَلِكَ قَوْله تَعَالَى {وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ} [الحشر: ٩].

[انظر كتاب كشاف القناع عن متن الإقناع : ج ٥ ص ١٨١ /  فصل آداب الأكل والشرب وما يتعلق بهما / فصل يستحب أن يباسط الإخوان بالحديث الطيب / للامام منصور بن يونس بن إدريس البهوتي الحنبلي / الناشر: مكتبة النصر الحديثة بالرياض، لصاحبَيها : عبدالله ومحمد الصالح الراشد - بدون السنة].


DISUNNAHKAN BAGI TAMU UNTUK  MENYISAKAN SESUATU (DARI MAKANAN TERSEBUT) apalagi jika ia termasuk orang yang dicari berkahnya  dengan sisa makanannya, atau ada kebutuhan) pada  tetapnya sesuatu darinya.


(Dalam Kitab Syarhu Muslim : DISUNNAHKAN BAGI PEMILIK MAKANAN dan ORANG YANG MENYANTAP MAKANAN TERSEBUT menyantap makanan setelah kedua tamu tersebut selesai, sesuai dengan hadits Abu Thalhah  al-Anshariy radliyyAllahu 'anhu  dalam Kitab Ash-Sahih).


Dan di dalamnya bahwa beliau (Abu Thalhah) tidak punya harta, kemudian beliau  pergi bersama tamu itu dan berkata kepada istrinya : Ini adalah tamu Rasulullah -ﷺ- dan istrinya berkata: Demi Allah, kami tidak punya apa-apa selain makanan untuk anak laki-laki, maka beliau berkata : 


Tidurkanlah  anak-anakmu, matikanlah lampu, suguhkan apa yang kamu punya kepada tamu, dan membuat dia berpikir bahwa kita sedang makan, dan istrinyapun melakukan semua itu. Dan dalam peristiwa tersebut turunlah firman Allah Ta'ala : ..{dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan} [QS. Al -Hasyr: 059/ 9]

[Lihat Kitab Kasyafu Al Qina' 'An Matni Al Iqna' : Juz 5 Hal 181. Karya Imam Manshur Bin Yunus Al Buhutiy Al Hanbaliy].



5)• 💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟    Menurut Pengikut Madzhab Imam Dawud Adz Dzahiriy (عند الظاهرية)


-


6)• 💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟    Menurut Ahli Hadits (عند أهل الحديث)


Diperbolehkan tabarruk (mencari berkah) dari Atsar (bekas, petilasan) orang-orang Shalih. Dan hal ini sudah ada  dari zaman Nabi -ﷺ- dan para sahabatnya radliyyAllahu 'anhum. TIDAK ADA ISTILAH ATAU KLAIM BID'AH  DALAM MASALAH TABARRUK, DAN INI JUGA ADAT JAWA YANG TIDAK PERLU DIRAGUKAN LAGI. 


Secara khusus Imam al-Bukhari dalam kitab shahih­nya mencantumkan bab tentang mencari berkah dengan peninggalan-peninggalan Rasululullah ﷺ :


بَابُ مَا ذُكِرَ مِنْ دِرْعِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَعَصَاهُ وَسَيْفِهِ وَقَدَحِهِ وَخَاتَمِهِ وَمَا اسْتَعْمَلَ الخُلَفَاءُ بَعْدَهُ مِنْ ذُلِكَ مِمَّا لَمْ يُذْكَرْ قِسْمَتُهُ وَمِنْ شَعْرِهِ وَنَعْلِهِ وَآنِيَتِهِ مِمَّا يَتَبَرَّكُ أَصْحَابُهُ وَغَيْرُهُمْ بَعْدَ وَفَاتِهِ


“Bab yang menyebutkan baju perang, tongkat, pedang, bejana, dan cincin Nabi ﷺ dan barang-barang yang digunakan para Khalifah setelah wafatnya Nabi dari peninggalannya yang tidak dibagikan, rambut, sandal, dan wadah miliknya, dari barang-barang yang dicari berkahnya oleh para sahabat dan selainnya setelah beliau wafat.”


حَدَّثَنِي ‌الْحَكَمُ بْنُ مُوسَى أَبُو صَالِحٍ ، حَدَّثَنَا ‌شُعَيْبُ بْنُ إِسْحَاقَ ، أَخْبَرَنَا ‌عُبَيْدُ اللهِ ، عَنْ ‌نَافِعٍ : أَنَّ ‌عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ أَخْبَرَهُ: 


« أَنَّ النَّاسَ نَزَلُوا مَعَ رَسُولِ اللهِ -ﷺ- عَلَى الْحِجْرِ أَرْضِ ثَمُودَ فَاسْتَقَوْا مِنْ آبَارِهَا وَعَجَنُوا بِهِ الْعَجِينَ، فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللهِ -ﷺ- أَنْ يُهَرِيقُوا مَا اسْتَقَوْا، وَيَعْلِفُوا الْإِبِلَ الْعَجِينَ، وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَسْتَقُوا مِنَ الْبِئْرِ الَّتِي كَانَتْ تَرِدُهَا النَّاقَةُ».

[رواه مسلم /  كتاب الزهد والرقائق / باب لا تدخلوا مساكن الذين ظلموا أنفسهم إلا أن تكونوا باكين / رقم الحديث : ٢٩٨١].


Telah menceritakan kepadaku : Al Hakam bin Musa Abu Shalih. Telah menceritakan kepada kami : Syu'aib bin Ishaq. Telah mengkhabarkan kepada kami : 'Ubaidullah. Dari Nafi' :  bahwa 'Abdullah bin Umar telah mengkhabarkan kepadanya: 


Bahwa orang-orang singgah di hijr -kawasan Tsamud- bersama Rasulullah -ﷺ-, mereka minum dari sumur-sumurnya dan membuat adonan (dengan airnya) lalu Rasulullah -ﷺ- memerintahkan mereka agar menumpahkan yang mereka minum dan adonan yang mereka buat (dengan air itu) serta memerintahkan mereka agar minum dari sumur yang didatangi unta. 


Telah menceritakan kepada kami : Ishaq bin Musa Al Anshari. Telah menceritakan kepada kami : Anas bin Iyadh. Telah menceritakan kepadaku : Ubaidullah  dengan sanad ini dengan matan serupa hanya saja ia berkata dalam haditsnya: 


"Minumlah dari sumurnya dan buatlah adonan dengan (air) nya."

[HR. Muslim No. Hadits : 2981] 


حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى الْحُلْوَانِيُّ قَالَ: نا مُحْرِزُ بْنُ عَوْنٍ قَالَ: نا حَسَّانُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْكِرْمَانِيُّ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِي رَوَّادٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، الْوُضُوءُ مِنْ جَرٍّ جَدِيدٍ مُخَمَّرٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ أَمْ مِنَ الْمَطَاهِرِ؟ فَقَالَ: 


«لَا، بَلْ مِنَ الْمَطَاهِرِ، إِنَّ دِينَ اللَّهِ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ» . 


قَالَ: وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -ﷺ- يَبْعَثُ إِلَى الْمَطَاهِرِ، فَيُؤْتَى بِالْمَاءِ، فَيَشْرَبُهُ، يَرْجُو بَرَكَةَ أَيْدِي الْمُسْلِمِينَ (وهو دالٌّ على جواز تبرك الفاضل بالمفضول، وبالأَولى جواز تبرك المفضول بالفاضل)


لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِي رَوَّادٍ إِلَّا حَسَّانُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ.

[رواه الطبراني في الأوسط /  باب الألف من اسمه أحمد / رقم الحديث : ٧٩٤ واللفظ له. والبيهقي في الشعب. والحديث صَحَّحه العلامة المُناوي في "التيسير بشرح الجامع الصغير" : ج ٢ ص ٢٦٩].


Dari Ibnu Umar radliyyAllahu 'anhuma, bahwa ia bertanya kepada Nabi: 


Ya Rasulallah, apakah berwudlu dari wadah baru yang tertutup ataukah dari tempat-tempat berwudlu’ yang lebih engkau senangi? Rasulullah menjawab: Tidak. Tapi dari dari tempat-tempat berwudlu’. Agama Allah adalah yang condong dan mudah. Ibnu Umar berkata: Kemudian Rasulullah menyuruh seseorang ke dari tempat-tempat berwudlu’ dan beliau diberi air, kemudian meminumnya. BELIAU MENGHARAP BERKAH DARI TANGAN-TANGAN UMAT ISLAM” 

[HR Thabaraniy dalam al-Kabir No 235, al-Ausath No 806, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 2669 dan Abu Nuaim 8/203)


قال الإمام النووي في "شرح مسلم" (18/ 112، ط. دار إحياء التراث العربي): 


[وفي هذا الحديث فوائد: منها: مجانبة آبار الظالمين والتبرك بآبار الصالحين] اهـ.


🌤️❁⊱•━*Imam Al-Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala  berkata dalam Syarhu  Muslim (18/112, edisi Dar Ihya al-Turats  Al-Arabi):


[Dalam hadits ini terdapat manfaatnya: antara lain: menghindari sumur orang-orang zalim DAN MENCARI BERKAH DARI SUMUR ORANG-ORANG SHALIH] 


وقال الإمام القرطبي في "تفسيره" (10/ 47، ط. دار الكتب المصرية) بعد أن ذكر ذلك الحديث: 


[أَمْرُهُ صلى الله عليه وآله وسلم أن يستقوا من بئر الناقة دليلٌ على التبرك بآثار الأنبياء والصالحين، وإن تقادمت أعصارهم وخفيت آثارهم، كما أنَّ في الأول دليلًا على بغض أهل الفساد وذم ديارهم وآثارهم. 


🌤️❁⊱•━*Dan Imam Al-Qurtubiy Al Malikiy rahimahullahu ta'ala berkata dalam “Tafsirnya” (10/47, ed. Dar Al-Kutub Al-Masriyyah) setelah menyebutkan hadits itu:


[Perintah Rasulullah ﷺ, agar menimba air dari sumur unta betina, MERUPAKAN BUKTI MENCARI KEBERKAHAN DARI PENINGGALAN PARA NABI DAN ORANG-ORANG SHALEH, meskipun zamannya kuno dan  disembunyikan jejaknya, seperti yang pertama adalah bukti kebencian orang-orang dan penghinaan terhadap rumah-rumah mereka dan monumen-monumen mereka.


🌤️❁⊱•━*Makna Berkah dan Mencari Berkah


Al-Barakat dan derivasinya memiliki makna ‘BERTAMBAH’ dan ‘BERKEMBANG’. Sedangkan ‘Tabarruk’ adalah : 


والتبرّك: هو طلب البركة، وهي النماء أو السعادة. 


والتبرّك بالشيء: طلب البركة عن طريقه. 


قال ابن منظور: تبرّكت به: أي تيمّنت به.

[انظر كتاب لسان العرب: ج ١٣ ص ٤٠٨].


DAN TABARRUK adalah: Mencari  keberkahan, yaitu pertumbuhan atau kebahagiaan. 


Dan mencari berkah dari sesuatu: mencari berkah melaluinya. 


Ibnu Mandzoor berkata: Aku telah diberkati olehnya: yaitu, aku telah diberi perkembangan/peningkatan olehnya.

[Lihat Lisan Al-‘Arab : Juz 13 Hal 408. Karya Imam Ibnu Mandzur].



💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ULAMA' KONTEMPORER


🌤️❁⊱•━*Dar Al 'Ifta` Al Mishriyyah menjelaskan:


السؤال : 


سائل يسأل عن حكم التبرك بآثار الصالحين، وهل هذا يجوز شرعًا؟


الجواب : 


 ذهب العلماء سلفًا وخلفًا إلى مشروعية التبرك بآثار الصالحين، ومستندهم في ذلك أمور؛ منها:


ما رواه مسلم عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما: "أنَّ الناس نزلوا مع رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم على الحِجْر -أرض ثمود- فاستقوا من آبارها، وعجنوا به العجين، فأمرهم رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم أن يهريقوا ما استقوا، ويعلفوا الإبل العجين، وأمرهم أن يستقوا من البئر التي كانت تردها الناقة".


قال الإمام النووي في "شرح مسلم" (18/ 112، ط. دار إحياء التراث العربي): [وفي هذا الحديث فوائد: منها: مجانبة آبار الظالمين والتبرك بآبار الصالحين] اهـ.


وقال الإمام القرطبي في "تفسيره" (10/ 47، ط. دار الكتب المصرية) بعد أن ذكر ذلك الحديث: [أَمْرُهُ صلى الله عليه وآله وسلم أن يستقوا من بئر الناقة دليلٌ على التبرك بآثار الأنبياء والصالحين، وإن تقادمت أعصارهم وخفيت آثارهم، كما أنَّ في الأول دليلًا على بغض أهل الفساد وذم ديارهم وآثارهم. هذا، وإن كان التحقيق أن الجمادات غير مؤاخذات، لكن المَقْرُون بالمحبوب محبوب، والمقرون بالمكروه المبغوض مبغوض] اهـ.


وكذلك ما رواه العلامة الطبراني في "الأوسط" والبيهقي في "الشعب" عن ابن عمر رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كان يبعث إلى المَطَاهر، فيؤتى بالماء فيشربه، يرجو بركة أيدي المسلمين؛ وهو دالٌّ على جواز تبرك الفاضل بالمفضول، وبالأَولى جواز تبرك المفضول بالفاضل.


والحديث صَحَّحه العلامة المُناوي في "التيسير بشرح الجامع الصغير" (2/ 269، ط. مكتبة الإمام الشافعي بالرياض)، وقال فيه شارحًا له: [(كان يبعث إلى المَطَاهر) جمع مَطهرة -بفتح الميم- كل إناء يتطهر منه، والمراد هنا: نحو الحياض والفساقي المُعَدَّة للوضوء، (فيُؤتَى) إليه (بالماء) منها (فيشربه)؛ يفعل ذلك (يرجو به بركة أيدي المسلمين)، أي: يؤمل حصول بركة أيدي المؤمنين الذين تطهروا من ذلك الماء، وهذا شرف عظيم للمتطهرين] اهـ.


وبناءً على ما سبق: فإنَّه يجوز التبرك بآثار الصالحين كما دلت عليه الأدلة من الأحاديث الشريفة وعمل المسلمين سلفًا وخلفًا عبر العصور.


والله سبحانه وتعالى أعلم.


Selesai dinukil Rabu pon malam Kamis Wage


Dikradenan selatan oo3 oo1 Keadaan Srumbung Magelang Jateng 56483

 

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات


١٣ صفــــــًــر ١٤٤٥ ه‍ـ

٣٠ أغسطس ٢٠٢٣ مـ

Sabtu, 26 Agustus 2023

لا يفصل بين الكلمتين بوقف طويل أو قصير | TIDAK BOLEH MEMISAH DENGAN DIAM LAMA ATAU SEBENTAR DIANTARA DUA KALIMAH "ALLAH" DAN "AKBAR" (edisi menurut pendapat yang mu'tamad tidak sah shalatnya ketika takbiratul ihram berhenti lama atau pendek diantara kalimat allah dan akbar)

 .*╾╌╌─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫﷽💫᪇𖧷۪۪‌ᰰ⃟ꦽ⃟  ─╌╌╸*



(edisi menurut pendapat yang mu'tamad tidak sah shalatnya ketika takbiratul ihram berhenti lama atau pendek diantara kalimat allah dan akbar)


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫DASAR HADITS


‏حَدَّثَنَا ‏ ‏قُتَيْبَةُ ‏ ‏وَهَنَّادٌ ‏ ‏وَمَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ ‏ ‏قَالُوا حَدَّثَنَا ‏ ‏وَكِيعٌ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏سُفْيَانَ ‏ ‏ح ‏ ‏و حَدَّثَنَا ‏ ‏مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ ‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ ‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏سُفْيَانُ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏مُحَمَّدِ بْنِ الْحَنَفِيَّةِ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏عَلِيٍّ ‏ ‏عَنْ النَّبِيِّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏أَبُو عِيسَى ‏ ‏هَذَا الْحَدِيثُ ‏ ‏أَصَحُّ شَيْءٍ فِي هَذَا الْبَابِ وَأَحْسَنُ ‏ ‏وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ ‏ ‏هُوَ صَدُوقٌ وَقَدْ تَكَلَّمَ فِيهِ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏أَبُو عِيسَى ‏ ‏و سَمِعْت ‏ ‏مُحَمَّدَ بْنَ إِسْمَعِيلَ ‏ ‏يَقُولُ ‏ ‏كَانَ ‏ ‏أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ ‏ ‏وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ‏ ‏وَالْحُمَيْدِيُّ ‏ ‏يَحْتَجُّونَ بِحَدِيثِ ‏ ‏عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏مُحَمَّدٌ ‏ ‏وَهُوَ مُقَارِبُ الْحَدِيثِ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏أَبُو عِيسَى ‏ ‏وَفِي ‏ ‏الْبَاب ‏ ‏عَنْ ‏ ‏جَابِرٍ ‏ ‏وَأَبِي سَعِيدٍ

[رواه الترمذي / أبواب الطهارة / باب ما جاء أن مفتاح الصلاة الطهور  / حديث رقم: ٣]


Telah menceritakan kepada kami : Qutaibah] dan Hannad dan Mahmud bin Ghailan mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Waki'. Dari Sufyan]. -(dalam jalur lain disebutkan)- Telah menceritakan kepada kami : Muhammad bin Basyar, ia berkata :  Telah menceritakan kepada kami : 'Abdurrahman bin Mahdi, ia berkata :  Telah menceritakan kepada kami : Sufyan. Dari 'Abdullah bin Muhammad bin Aqil. Dari Muhammad Ibnul Hanafiah. Dari Aliy radliyyAllahu 'anhu. Dari Nabi -ﷺ- beliau bersabda: 


" Kunci shalat adalah bersuci, keharamannya (dilarang makan minum) adalah takbir dan penghalalannya adalah salam." 


Abu Isa (At Tirmidzi) berkata; "Hadits ini adalah yang paling shahih dan paling baik dalam bab ini. Abdullah bin Muhammad bin Aqil adalah seorang yang jujur, namun ada beberapa ahli ilmu yang memperbincangkan tentang hafalannya. Abu Isa berkata; "Aku telah mendengar Muhammad bin Isma'il berkata; "Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Ibrahim dan Al Humaidi, mereka berdalil dengan hadits Abdullah bin Muhammad bin Aqil. Muhammad (bin Ismail Al Bukhariy)  berkata; "Masanya berdekatan." Abu Isa berkata; "Dalam bab ini juga ada riwayat dari Jabir dan Abu Sa'id."

[HR. Tirmidzi No. Hadits : 3].


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫RIWAYAT HADITS YANG LAIN 


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الْقُرَشِيُّ، قَالَ: نا يُوسُفُ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ الْمَاجِشُونَ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: 


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -ﷺ-كَانَ إِذَا قَامَ لِلصَّلَاةِ، قَالَ: " اللَّهُ أَكْبَرُ ... الحديث

[رواه مسلم (771) بلفظ: ((إذا استفتح الصلاة كبَّر))، وأبو داود (761)، والترمذي (3421)، والنسائي (2/129)، والبزار (2/169) (536) واللفظ له /  مسند علي بن أبي طالب / ومما روى عبيد الله بن أبي رافع، عن علي رضي الله عنه].


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫RIWAYAT HADITS YANG LAIN 


 ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ الطَّنَافِسِيُّ ‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏أَبُو أُسَامَةَ ‏ ‏حَدَّثَنِي ‏ ‏عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ ‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ ‏ ‏قَالَ سَمِعْتُ ‏ ‏أَبَا حُمَيْدٍ السَّاعِدِيَّ ‏ ‏يَقُولُ ‏: ‏


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ‏-ﷺ- ‏ ‏إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ: 


اللَّهُ أَكْبَرُ ‏ 

[رواه ابن ماجه / كتاب إقامة الصلاة والسنة فيها /  باب افتتاح الصلاة  / حديث رقم: ٨٠٣].


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫RIWAYAT HADITS YANG LAIN


عن رِفاعةَ بنِ رافعٍ رضيَ اللهُ عنه، أنَّ النبيَّ -ﷺ- قال: 


((لا تتِمُّ صلاةٌ لأحَدٍ مِن النَّاسِ حتَّى يتوضَّأَ فيضَعَ الوُضوءَ مواضِعَه ثم يقولَ: اللهُ أكبَرُ....

[رواه أبو داود (857) واللفظ له، والنسائي (1053) والدارمي (1368)، والطبراني (5/38) (4526)].


Dari Rifa'ah bin Rafi' radliyyAllahu 'anhu : Sesungguhnya Nabi -ﷺ-bersabda :


“Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang sehingga dia berwudhu lantas meletakkan wudhunya sesuai dengan tempatnya (maksudnya berwudhu secara sempurna), kemudian dia mengucapkan: Allahu Akbar”

[HR. Abu Dawud Nasa'i Darimiy Thabaraniy].


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫PENDAPAT ULAMA MADZHAB


Ulama' Pengikut Imam Syafi'iy mengatakan : .... (Kesembilan): TIDAK BOLEH MEMISAHKAN KEDUA KATA ITU DENGAN BERHENTI PANJANG ATAU PENDEK, menurut pendapat yang mu'tamad, maka jika ia berkata: Allah, lalu ia terdiam beberapa saat, lalu ia berkata: Akbar. MAKA TIDAK SAH SHALATNYA


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫MADZHAB SYAFIIYYAH


i)• TIDAK BOLEH NERHENTI ATAU JEDA SEBENTAR ATAU LAMA MENURUT QAUL YANG MU'TAMAD Diantara Kalimah Allah dan Akbar


TAKBIRATUL IHRAM SHALAT YANG TIDAK SAH adalah sebagai berikut : 


 1)•  Āllāhu akbar (آللهُ أَكْبَرُ) yakni dengan memanjangkan hamzah pada lafal Allah


2)•   Āllāhu ākbar (آللهُ آكْبَرُ),yakni dengan memanjangkan hamzah pada lafal Allah dan lafal akbar


3)•   Allāhu Akbār (اللهُ أَكْبَارُ), yakni dengan memanjangkan bār pada kata akbar

 

4)•   Allāhū akbar (اللّهُوْ أَكْبَرُ), yakni dengan menambah wawu yang disukun setelah kata Allah

 

5)•   Allāhuwa/huwi/huwu Akbar (اللّهُوَ أَكْبَرُ), yakni dengan menambah wawu yang diharakati setelah kata Allah


6)•    Berhenti/waqaf antara Allahu dengan akbar


•⊰❁🌦️Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab :


وَيَجِبُ الِاحْتِرَازُ فِي التَّكْبِيرِ عَنْ الْوَقْفَةِ بَيْنَ كَلِمَتَيْهِ وَعَنْ زِيَادَةٍ تُغَيِّرُ الْمَعْنَى فَإِنْ وَقَفَ أَوْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ بِمَدِّ هَمْزَةِ اللَّهِ أَوْ بِهَمْزَتَيْنِ أَوْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَارُ أَوْ زَادَ وَاوًا سَاكِنَةً أَوْ مُتَحَرِّكَةً بَيْنَ الْكَلِمَتَيْنِ لَمْ يَصِحَّ تَكْبِيرُهُ». 

[انظر كتاب المجموع شرح المهذب : ج ٣ ص ٢٩٢ /  كتاب الصلاة / مسائل تتعلق بالنية / للامام أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦ هـ) / الناشر: (إدارة الطباعة المنيرية، مطبعة التضامن الأخوي) - القاهرة، عام النشر:١٣٤٤ - ١٣٤٧ هـ]. 


“Wajib berhati-hati saat bertakbir. JANGAN BERHENTI DI ANTARA DUA KATA (ALLAH DAN AKBAR). Jangan pula menambah lafal yang mengubah makna. Jika sampai berhenti atau (menambah lafal semisal) Allāhu akbar dengan memanjangkan hamzah Allah atau memanjangkan 2  hamzah (pada kata Allah dan Akbar), atau mengucapkan Allāhu Akbār (dengan memanjangkan bār) atau menambah wawu (و) yang dksukun atau menambah wawu (و)  yang berharakat di antara dua kata (yakni kata Allah dan Akbar), MAKA TIDAK SAH TAKBIRNYA.” 

[Lihat Kitab Al-Majmū‘ Syarhu Al Muhadzab : Juz 3 Hlm 292. Karya Imam Abu Zakariyya An Nawawiy Asy Syafi'iy].


•⊰❁🌦️Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan  dalam kitab Al Adzkar : 


ﻭﻟﻴﺤﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﺗﺼﺤﻴﺢ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ، ﻓﻼ ﻳﻤﺪّ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻣﻮﺿﻌﻪ، ﻓﺈﻥ ﻣﺪّ ﺍﻟﻬﻤﺰﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻠّﻪ، ﺃﻭ ﺃﺷﺒﻊ ﻓﺘﺤﺔ ﺍﻟﺒﺎﺀ ﻣﻦ ﺃﻛﺒﺮ ﺑﺤﻴﺚ ﺻﺎﺭﺕ ﻋﻠﻰ ﻟﻔﻆ ﺃﻛﺒﺎﺭ ﻟﻢ ﺗﺼﺢّ ﺻﻼﺗﻪ

[انظر كتاب الاذكار : ص ٤٢ /  أبواب / باب تكبيرة الإحرام / للإمام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي (ت ٦٧٦هـ) / الناشر: دار الفكر للطباعة والنشر والتوزيع، بيروت - لبنان، طبعة جديدة منقحة، ١٤١٤ هـ - ١٩٩٤ مـ].


"Dan hendaklah bersungguh-sungguh dalam mengucapkan takbir secara benar, dengan tidak memanjangkan (bacaan) pada selain tempatnya. Karena sesungguhnya memanjangkan hamzah pada lafadz (jalalah) الله (hingga terbaca آلله, atau memanjangkan fathah pada huruf ba' dari أَكْبَر sehingga menjadi lafad أَكْبَار tidaklah sah sholatnya."

[Lihat Kitab Al Adzkar : Hal 42. Karya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy].


•⊰❁🌦️ Tersebut dalam kitab Al Muqaddah Al Hadlromiyyah = Busyra Al Karim : 


ويشترط أيضاً لتكبيرة التحرم: إيقاعها في القيام في الفرض وإلى القبلة، وتقديم الجلالة، وعدم مد همزة الجلالة ويجوز إسقاطها إن وصلها بـ (إماماً) أو (مأموماً)، لكنه خلاف الأولى، بخلاف همزة أكبر؛ لأنها همزة قطع وعدم مد ألف لجلالة زيادة على سبع ألفات، وعدم مد باء أكبر؛ إذ مده يصيره جمع كبر، وهو طبل له وجه واحد، وعدم تشديد بائها، لكن قال الكردي: (لا يمكن تشديد الباء إلا بتحريك الكاف) وعدم زيادة واو ساكنة أو متحركة بين الكلمتين، وعدم واوٍ قبل الجلالة وإنما صح في السلام زيادتها؛ لتقدم ما يمكن العطف عليه ثم لا هنا، وتأخيرها عن جمع تكبيرة إمامه، وفقد الصارف فيضر هنا التشريك على المعتمد

[انظر كتاب شَرح المُقَدّمَة الحضرمية = بُشرى الكريم بشَرح مَسَائل التَّعليم : ٩٩ / باب صفة الصلاة / للشيخ  سَعيد بن محمد بَاعَليّ بَاعِشن الدَّوْعَنِيُّ الرباطي الحضرمي الشافعي (ت ١٢٧٠هـ) / الناشر: دار المنهاج للنشر والتوزيع، جدة، الطبعة: الأولى، ١٤٢٥ هـ - ٢٠٠٤ مـ].


Disyaratkan lagi untuk  Takbiratul Ihram : dibacakan ketika berdiri dalam shalat wajib, menghadap kiblat, dan mendahulukan lafadz jalalah (الله), dan tidak memanjangkan hamzah lafadz jalalah, dan boleh dihilangkan jika disambung dengan lafadz imaman atau ma'muman akan tetapi menyelisihi keutamaan,


Selain hamzah yang lafadz Akbar (أكبر); Karena itu adalah hamzah yang terpotong, tidak memanjagkan alif lafadz jalalah lebih dari 7 huruf alif (اللـ ـ ـ...ـه) dan tidak memanjangkan huruf Ba' (ب) lafadz Akbar  (أكبار); Ketika dia memanjangkannya, itu menjadi bentuk jamak dari lafadz kabir (كبر), dan itu adalah genderang dengan satu wajah.


Dan tidak mentasydid  baa-nya, namun Al-Kurdi berkata: (Tidak mungkin mentasydid baa kecuali dengan mengharakati huruf  kaf = أكَِـبّر) dan tidak menambahkan wawu sukun (ؤ) atau wawu vokal (وَ) di antara kedua kata tersebut (اللهــؤ أكبر dan اللهوَ اكبر), dan tidak boleh menambah wawu di hadapan lafadz jalalah (الله وَاَكبر), melainkan itu benar untuk menambahkannya pada lafadz as Salamu (السلام) maka tidak diperbolehkan di sini, menundanya dari mengumpulkan takbir imamnya, dan kehilangan pencairannya, maka penghimpunan ini dapat membahayakan, menurut pendapat yang mu'tamad.

[Lihat Kitab Syarhu Al Muqaddimah Al Hadlromiyyah = Busyro Al Karim Bisyarhi Masa'il At Ta'lim : Hal 99. Karya Syaikh Sa'id Ba'isyin Asy Syafi'iy].



•⊰❁🌦️ Tersebut dalam kitab Kasyifatu As Saja Syarhu Safinati An Naja : 


وإن لا يقف بين الكلمتي التكبير وقفة طويلة ولاقصيرة

[انظر كتاب  كاشفة السجا في شرح سفينة النجا في أصول الدين والفقه : ص ١٧٢ / فصل في شروط التحريم / للشيخ محمد نووي بن عمر البنتني الجاوي الاندونيسي الشافعي (المتوفي : ١٢٧٢ هـ) / الناشر : الدار العلمية للنشر والتجليد، الطبعة الأولى - ١٤٣٩ ه‍ـ / ٢٠١٨ مـ].


Tidak waqof diantara dua kalimah takbir baik waqof lama atau sebentar

[Lihat Kitab Kasyifatu As Saja Syarhu Safinati An Naja : Hal 172. Karya Syaikh Muhammad Nawawiy Al Bantaniy Al Jawiy Al Indonisisiy Asy Syafi'iy].


•⊰❁🌦️ Tersebut Dalam Kitab Al Iqna' Fi Hilli Alfadzi Abi Syuja' : 


وَعدم وَقْفَة طَوِيلَة بَين كلمتيه كَمَا قَيده الزَّرْكَشِيّ فِي شرح التَّنْبِيه وَمُقْتَضَاهُ أَن الْيَسِيرَة لَا تضر وَبِه صرح فِي الْحَاوِي الصَّغِير وَأقرهُ عَلَيْهِ ابْن الملقن فِي شَرحه

[انظر كتاب الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع : ج ١ ص ١٣١ /  كتاب الصلاة / فصل في أركان الصلاة وسننها وهيئاتها / للامام شمس الدين، محمد بن أحمد الخطيب الشربيني الشافعي (ت ٩٧٧هـ) / الناشر: دار الفكر - بيروت, بدون السنة].


Dan Tidak Adanya Jeda YANG PANJANG DI ANTARA KEDUA KATA (ALLAH DAN AKBAR), sebagaimana  Imam Al-Zarkashiy  membatasinya dalam Kitab Syarhu  Al-Tanbih, dan implikasinya adalah AL-YASIRA (BERHENTI SEJENAK) TIDAK MEMBATALKAN,  dan hal itu dengan jelas tertuang dalam Kitab  Al-Hawi Al-Saghir, dan Ibnu Al-Mulqqen mendukung hal ini dalam penjelasannya.

[Lihat Kitab Al Iqna' Fi Hilli Alfadzi Abi Syuja' : Hal 131. Karya Syaikh Al Khathib Asy Syirbiniy Asy Syafi'iy].


•⊰❁🌦️Syaikh Sayyid Hasan Al Kaff Al Husainiy Asy Syafi'iy menjelaskan dalam kitabnya At Taqrirat As Sadidah : 


شروط تكبيرة الإحرام......  (الى أن قال)... 


١٠ - الموالة بينهما 

[انظر كتاب التقريرات السديدة  ص  ٢١٢. الحبيب حسن الكاف الحسيني الشافعي].


Syarat pembukaan takbir... (sampai ia berkata)...


10- Muwalat (berkesinambungan)  di antara keduanya (kalimah Allah dan Akbar).

[Lihat Kitab At Taqrirat As Sadidah : 212. Karya Habib Hasan Al Kaff Al Husainiy Asy Syafi'iy].



•⊰❁🌦️Syaikh Ibrahim Al Bajuriy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan kitab Hasyiyyah Al Baijuriy 'Ala Syarhi 'Alamah Ibnu Qasim Al Ghoziy :


وعدم فاصل بين الكلمتين فتضر الوقفة الطويلة بينهما وكذا القصيرة على المعتمد 

[انظر كتاب حاشية البيجوري على شرح العلامة ابن قاسم الغزي : ح ١ ص ٣٣٦ / كتاب أحكام الصلاة / فصل في أركان الصلاة / للشيخ ابراهيم البيجوري الشافعي (ت : ٥٢٣ - ٥٩٣ ه‍ـ) / الناشر دار الحديث - القاهرة, بدون السنة].


Dan tidak ada pemisahan antara kedua kata tersebut (Allah dan Akbar), maka berbahaya jeda yang panjang di antara keduanya, maupun jeda yang pendek, menurut Qaul yang Mu'tamad.

[Lihat Kitab Hasyiyyah Al Baijuriy 'Ala Syarhi 'Alamah Ibnu Qasim Al  Ghoziy : Juz 1 Hal 336. Karya Syaikh Ibrahim Al Bajuriy Asy Syafi'iy].


•⊰❁🌦️Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab : 


«وَيَجِبُ الِاحْتِرَازُ فِي التَّكْبِيرِ عَنْ الْوَقْفَةِ بَيْنَ كَلِمَتَيْهِ وَعَنْ زِيَادَةٍ تُغَيِّرُ الْمَعْنَى فَإِنْ وَقَفَ أَوْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ بِمَدِّ هَمْزَةِ اللَّهِ أَوْ بِهَمْزَتَيْنِ أَوْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَارُ أَوْ زَادَ وَاوًا سَاكِنَةً أَوْ مُتَحَرِّكَةً بَيْنَ الْكَلِمَتَيْنِ لَمْ يَصِحَّ تَكْبِيرُهُ». 

[انظر كتاب المجموع شرح المهذب : ج ٣ ص ٢٩٢ /  كتاب الصلاة / مسائل تتعلق بالنية / للامام أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي الشافعي (ت ٦٧٦ هـ) / الناشر: (إدارة الطباعة المنيرية، مطبعة التضامن الأخوي) - القاهرة، عام النشر:١٣٤٤ - ١٣٤٧ هـ].


“Wajib berhati-hati saat bertakbir. Jangan berhenti di antara dua kata (Allah dan Akbar). Jangan pula menambah lafal yang mengubah makna. Jika sampai berhenti atau (menambah lafal semisal) Allāhu akbar dengan memanjangkan hamzah Allah atau memanjangkan dua hamzah (pada kata Allah dan Akbar), atau mengucapkan Allāhu Akbār (dengan memanjangkan bār) atau menambah wawu yang dksukun atau menambah wawu yang berharakat di antara dua kata (yakni kata Allah dan Akbar), maka tidak sah takbirnya.” 

[Lihat Kitab Al Majmu' Syarhu Al Muhadzab : Juz 3 Hal 292. Karya Imam Abu Zakariyya Muhyiddin An Nawawiy Asy Syafi'iy].



ii)• BOLEH BERHENTI ATAU JEDA  SEBENTAR Diantara Kalimah Allah Dan Akbar


•⊰❁🌦️Syaikh Zainuddin Al Malibariy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Fathu Al Mu'in Bisyarhi Qurratu All 'Ain Bimihimmati Ad Din : 


(وَ يَتَعَيَّنُ) فِيْهِ عَلَى الْقَادِرِ لَفْظُ: (اللهُ أَكْبَرُ) لِلْاِتِّبَاعِ، أَوِ اللهُ الْأَكْبَرْ. وَ لَا يَكْفِيْ أُكَبِّرُ اللّهَ، وَ لَا اللّهُ كَبِيْرٌ، أَوْ أُعَظِّمُ، وَ لَا الرَّحْمنُ أَكْبَرُ. وَ يَضُرُّ إخْلَالٌ بِحَرْفٍ مِنَ اللّهُ أَكْبَرُ. وَ زِيَادَةُ حَرْفٍ يُغَيِّرِ الْمَعْنَى، كَمَدِّ هَمْزَةِ اللهِ، وَ كَأَلِفٍ بَعْدَ الْبَاءِ، وَ زِيَادَةُ وَاوٍ قَبْلَ الْجَلَالَةِ، وَ تَخْلِلُ وَاوٍ سَاكِنَةٍ وَ مُتَحَرِّكَةٍ بَيْنَ الْكَلِمَتَيْنِ، وَ كَذَا زِيَادَةُ مَدِّ الْأَلِفِ الَّتِيْ بَيْنَ اللَّامِ وَ الْهَاءِ إِلَى حَدٍّ لَا يَرَاهُ أَحَدٌ مِنَ الْقُرَّاءِ.


لَا يَضُرُّ وَقْفَةٌ يَسِيْرَةٌ بَيْنَ كَلِمَتَيْهِ، وَ هِيَ سَكْتَةُ التَّنَفُّسِ، وَ لَا ضَمُّ الرَّاءِ.

[انظر كتاب : فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين (هو شرح للمؤلف على كتابه هو المسمى قرة العين بمهمات الدين) : ص ٩٤ / باب الصلاة / فصل في صفة الصلاة / للامام زين الدين أحمد بن عبد العزيز بن زين الدين بن علي بن أحمد المعبري المليباري الهندي الشافعي (ت ٩٨٧هـ) / الناشر: دار بن حزم، الطبعة: الأولى - بدون السنة].


Bacaan takbiratul ihram bagi orang yang mampu, adalah ditentukan dengan kalimat: “Allaahu Akbar“, sebagai ittiba’ kepada Nabi -ﷺ-., atau boleh juga “Allahul Akbar“ Ketika takbir, tidak boleh membaca: “Akbarullaah, Allaahu Kabiir (A’zham), atau Arrahmaanu Akbar. Merusak satu huruf pada lafal “Allaahu Akbar“, menjadi masalah. Demikian pula menambah satu huruf yang dapat mengubah makna kalimat tersebut.


(Menambah huruf) misalnya: Memanjangkan hamzah pada lafal. اللهُ (sebab, kalimat tersebut akan berbentuk istifham (pertanyaan): Apakah Allah Maha Besar? -pen), menambah huruf alif setelah ba’ (maknanya: Beberapa genderang – pen): menambah huruf wawu sebelum lafal اللهُ (kahryat tersebut akan berbunyi وَاللهُ اكْبَرْ Hal ini menjadi masalah, sebab faedah huruf wawu adalah ‘athaf, di mana kalimat tersebut belum didahului oleh kaiimat lain -pen), meletakkan wawu, baik mati atgu hidup di antara. اللهُ dan, اَكْبَرُ demikian Pula memperpanjang bacaan ai di antara lam dan ha’ di mana perpanjangan tersebut tidak ada ahli qiraah yang memperbolehkannya.


TIDAK MENJADI MASALAH, BERHENTI SEBENTAR BERNAFAS di antara ALLAH dan AKBAR, dan tidak masalah membaca dhammah huruf (ra’) nya Kalimah AKBAR...(u). 

[Lihat Kitab Fathu Al Mu'in Bisyarhi Qurratu All 'Ain Bimihimmati Ad Din : Hal 94. Karya Imam Zainuddin Al Malibariy Al Hindiy Asy Syafi'iy].


•⊰❁🌦️Syaikh Sayyid Abu Bakr bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya I'anatu Ath Thalibin Syarhu Fathu Al Mu'in : 


(قوله: بين كلمتيه) أي التكبير.(قوله: وهي) أي الوقفة اليسيرة. وقوله: سكتة التنفس قال في التحفة: وبحث الأذرعي أنه لا يضر ما زاد عليها لنحو عي.اه. (قوله: ولا ضم الراء) أي ولا يضر ضم الراء من أكبر.

[انظر كتاب إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين (هو حاشية على فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين) : ج ١ ص ٥٦ / باب الصلاة / للإمام السيد أبو بكر (المشهور بالبكري) عثمان بن محمد شطا الدمياطي الشافعي (ت ١٣١٠هـ) / الناشر: دار الفكر للطباعة والنشر والتوريع، الطبعة: الأولى، ١٤١٨ هـ - ١٩٩٧ مـ]. 


(Ungkapannya : Diantara 2 kalimat ): Yakni takbir, (ungkapannya : Itu adalah): Yakni wakaf sebentar,  dan ungkapannya : diam bernafas, berkata dalam At Tuhfah : Al Adzra'iy membahas sesungguhnya itu  TIDAK MENJADI MASALAH BERHENTI SEBENTAR BERNAFAS di antara ALLAH dan AKBAR, dan lebih dari itu semisal terbata bata (عَيٍّ)،  selesai.


(Ungkapannya : Dan tidak menjadi masalah membaca dhammah huruf ra’) : artinya tidak menjadi masalah membaca dhammah huruf (ra’) nya Kalimah Akbar...(u).

[Lihat Kitab I'anatu Ath Thalibin Syarhu Fathu Al Mu'in : Juz 1 Hal 56. Karya Syaikh Sayyid Abu Bakr Bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy]



•⊰❁🌦️Tersebut dalam kitab Tuhfatu Al Muhtaj Ila Syarhi Al Minhaj : 


وَلَا تَضُرُّ وَقْفَةٌ يَسِيرَةٌ بَيْنَ كَلِمَتَيْهِ وَهِيَ سَكْتَةُ التَّنَفُّسِ وَبَحَثَ الْأَذْرَعِيُّ أَنَّهُ لَا يَضُرُّ مَا زَادَ عَلَيْهَا لِنَحْوِ عَيٍّ

[انظر كتاب تحفة المحتاج في شرح المنهاج : ج ٢ ص ١٤ / كتاب الصلاة / باب صفة الصلاة / للامام أحمد بن محمد بن علي بن حجر الهيتمي الشافعي / الناشر: المكتبة التجارية الكبرى بمصر لصاحبها مصطفى محمد - عام النشر: ١٣٥٧ هـ - ١٩٨٣ مـ].


DAN TIDAK MENJADI MASALAH, di antara ALLAH dan AKBAR, yaitu BERHENTI  BERNAFAS, dan Imam Al Adzro'iy membahas bahwasannya tidak  membahayakan perkara yang bertambah darinya karena terbata bata ( عَيٍّ).

[Lihat Kitab Tuhfatu Al Muhtaj Ila Syarhi Al Minhaj :  Juz 2 Hal 14. Karya Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Asy Syafi'iy].


•⊰❁🌦️Syaikh Muhammad bin Umar Nawawiy Al Bantaniy Al Jawiy Al Indonisisiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Nihayatu Az Zein Fi Irsyadi Al Mubtadi'in : 


 وَعدم سكتة طَوِيلَة بَين الْكَلِمَتَيْنِ بِخِلَاف السكتة الْيَسِيرَة فَإِنَّهَا لَا تضر وَضَابِط الطول أَن تزيد على سكتة التنفس والعي

[انظر كتاب نهاية الزين في إرشاد المبتدئين : ص ٥٦ /  فصل في كيفية الصلاة المتعلقة بواجب / للشيخ  محمد بن عمر نووي الجاوي البنتني إقليما، التناري بلدا الاندونيسي الشافعي (ت ١٣١٦هـ) / الناشر: دار الفكر - بيروت، الطبعة: الأولى - بدون السنة]. 


Tidak ada jeda panjang di antara kedua kata tersebut, berbeda dengan jeda mudah yang tidak memerlukan perpanjangan hingga melebihi jeda pernapasan dan terbata bata.

[Lihat Kitab Nihayatu Az Zein Fi Irsyadi Al Mubtadi'in : Hal 56. Karya Syaikh Muhammad Nawawiy Bin 'Umar Al Bantaniy Al Jawiy Al Indonisisiy Asy Syafi'iy].



•⊰❁🌦️Bagi orang yang kuasa mengucapkan lafadz takbir wajib mengucapkan dalam bahasa Arab “اللَّهُ أَكْبَرُ”, karena yang demikian merupakan perbuatan Nabi -ﷺ-, beliau  bersabda:


صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي


“shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” 

(H.R. Bukhari).


Tapi bagi yang tidak mampu mengucapkan dalam bahasa Arab maka wajib memakai terjemah dalam bahasa yang dia bisa dengan syarat harus tetap belajar mengucapkan dalam bahasa Arab. 


•⊰❁🌦️Syaikh Sayyid Abu Bakr bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya I'anatu Ath Thalibin Syarhu Fathu Al Mu'in : 


Ada 20 Syarat Takbiratul Ihram yang harus dipenuhi. Apabila ada satu syarat saja yang ditinggalkan, maka shalatnya tidak sah. Berikut rincian syarat 20 tersebut :


١- ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻤﺼﻠﻲ ﺻﻮﺗﻪ ﺑﻬﺎ ﺑﺤﻴﺚ ﻳﺴﻤﻊ ﻧﻔﺴﻪ ﺟﻤﻴﻊ ﺣﺮﻭﻓﻬﺎ ، ﺣﻴﺚ ﻻ ﻣﺎﻧﻊ ﻣﻦ ﻟﻐﻂ ﻭﻧﺤﻮﻩ


1. Membaca keras takbiratul ihram sampai didengar oleh diri sendiri, sekira tidak ada keramean atau semisalnya.


٢ ﺃﻥ ﺗﻘﻊ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺽ .


2. Dibaca ketika sudah berada dalam posisi berdiri pada shalat fardlu.


٣ ﻭﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺑﺎﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﺼﻠﻲ ﻗﺎﺩﺭﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﻄﻖ ﺑﻬﺎ ﻭﺇﻻ ﺗﺮﺟﻢ


3. Membaca takbiratul ihram dengan bahasa Arab jika mampu, jika tidak mampu boleh diterjemah dengan bahasa ajam. Contoh : Allâh Maha Besar.


٤ ﻭ ٥ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺑﻠﻔﻆ ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ ، ﻭﺑﻠﻔﻆ ﺃﻛﺒﺮ .


4 & 5 Dengan Lafdhul Jalalah dan lafadz Akbar (Allâh dan Akbar)


٦ ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻠﻔﻈﻴﻦ . ﺃﻱ ﺗﻘﺪﻳﻢ ﻟﻔﻆ ‏( ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ ‏) ﻋﻠﻰ ‏( ﺃﻛﺒﺮ ) .


6. Tartib diantara dua lafadz. Mendahulukan lafadz "Allâh" atas lafadz "Akbar".


٧ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻤﺪ ﻫﻤﺰﺓ ﻟﻔﻆ ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ ؛ ﻓﺈﻥ ﻗﺎﻝ : ﺁﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ . . ﻟﻢ ﺗﺼﺢ ﺗﻜﺒﻴﺮﺗﻪ؛ ﻷﻧﻬﺎ ﺗﺼﻴﺮ ﺍﺳﺘﻔﻬﺎﻣﺎ


7. Tidak membaca panjang Hamzah nya lafadz "Allâh". Apabila membaca ﺁﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ (membaca panjang Hamzah nya lafadz "Allâh"), tidak sah takbiratul ihram nya. Karena susunannya menjadi istifham/pertanyaan (apakah Allah Maha Besar ?).


٨ ﻋﺪﻡ ﻣﺪ ﺑﺎﺀ ﺃﻛﺒﺮ ؛ ﻓﻠﻮ ﻣﺪﻫﺎ؛ ﺑﺄﻥ ﻗﺎﻝ : ﺃﻛﺒﺎﺭ . . ﻟﻢ ﺗﺼﺢ ﺗﻜﺒﻴﺮﺗﻪ ، ﺳﻮﺍﺀ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻬﻤﺰﺓ ﺃﻡ ﻛﺴﺮﻫﺎ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﻳﺘﻐﻴﺮ


8. Tidak membaca panjang " ba' " nya lafadz "Akbar". Kalau dibaca panjang ( ﺃﻛﺒﺎﺭ ) , tidak sah, baik hamzahnya dibaca fathah maupun dibaca kasroh. Karena maknanya menjadi berubah.


٩ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺸﺪﺩ ﺍﻟﺒﺎﺀ ﻣﻦ ﺃﻛﺒﺮ .


9. Tidak men-siddah/men-tasydid " ba' " nya lafadz "Akbar".


١٠ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻘﻒ ﺑﻴﻦ ﻛﻠﻤﺘﻲ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﻭﻗﻔﺔ ﻃﻮﻳﻠﺔ ﻭﻻ ﻗﺼﻴﺮﺓ . ﻓﻠﻮ ﺳﻜﺖ ﻟﺘﻨﻔﺲ ﻟﻢ ﻳﻀﺮ ، ﻭﻻ ﻳﻀﺮ ﺍﻟﻔﺼﻞ ﺑﺄﺩﺍﺓ ﺍﻟﺘﻌﺮﻳﻒ ﻭﻻ ﺑﻮﺻﻒ ﻟﻢ ﻳﻄﻞ ﻛــ : ‏( ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻷﻛﺒﺮ ‏) ، ﻭ ‏( ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺃﻛﺒﺮ ) .


10. Tidak ada waqof/berhenti diantara bacaan lafadz "Allah" dan lafadz "Akbar", berhenti panjang maupun pendek. Berhenti karena untuk mengambil nafas tidak apa²/boleh. Juga tidak apa², memisahkan kedua lafadz dengan adat ta'rif dan atau dengan washof. Contoh :

- Allahu-l Akbar

- Allahu-l Adhimu Akbar


١١ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻤﺪ ﺃﻟﻒ ﻟﻔﻆ ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻊ ﺃﻟﻔﺎﺕ ﺃﻭ ﺃﺭﺑﻊ ﻋﺸﺮﺓ ﺣﺮﻛﺔ


11. Tidak membaca madd/panjang alif nya lafdzu jalâlah melebihi 7 alif = 14 harokat.


١٢ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺰﻳﺪ ﻭﺍﻭﺍ ﺳﺎﻛﻨﺔ ، ﺃﻭ ﻣﺘﺤﺮﻛﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻜﻠﻤﺘﻴﻦ ، ﺃﻱ ﺑﻴﻦ ﻟﻔﻆ ‏( ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ ‏) ﻭﻟﻔﻆ ‏( ﺃﻛﺒﺮ ) .


12. Tidak menambahkan "wawu mati/sakinah" atau "wawu berharokat" diantara kedua lafadz (Allah & Akbar). 


١٣ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺰﻳﺪ ﻭﺍﻭﺍً ﻗﺒﻞ ﻟﻔﻆ ﺍﻟﺠﻼﻟﺔ .


13. Tidak menambahkan "wawu" sebelum lafdzul jalalah.


١٤ ﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺿﻴﺔ ، ﻭﺍﻟﻨﻔﻞ ﺍﻟﻤﺆﻗﺖ ، ﻭﺫﻱ ﺍﻟﺴﺒﺐ .


14. Takbiratul ihram dilakukan ketika sudah masuk waktu, pada shalat fardlu, dan shalat sunnah muaqqat (contoh : qabliyah) & dzis sabab (contoh : shalat gerhana).


١٥ ﻛﻮﻥ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻣﻘﺎﺭﻧﺔ ﻟﺘﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ ﻓﻼ ﺗﺘﻘﺪﻡ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﻻ ﺗﺘﺄﺧﺮ ﻋﻨﻬﺎ ﻭﺃﻣﺎ ﻧﻴﺔ ﺍﻟﻠﺴﺎﻥ ﻓﺘﺴﺒﻘﻬﺎ ﻳﺴﻴﺮﺍ


15. Niat (dalam hati) wajib bareng dengan takbiratul ihram. Niat tidak boleh mendahului maupun terlambat dari takbiratul ihram. Adapun mengucapkan niat dgn lisan (boleh) mendahului/

dilakukan menjelang takbiratul ihram.


١٦ ﺗﺄﺧﻴﺮ ﺟﻤﻴﻊ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﻋﻦ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﻣﺎﻡ . ﻓﻠﻮ ﻗﺎﺭﻧﻪ ﻓﻲ ﺟﺰﺀ ﻣﻨﻬﺎ . . ﻟﻢ ﺗﺼﺢ ﺗﻜﺒﻴﺮﺗﻪ .


16. Bagi makmum, wajib mengakhirkan takbiratul ihramnya dari takbiratul ihramnya imam. Apabila berbarengan dengan takbiratul ihramnya imam, maka takbiratul ihramnya makmum tidak sah.


١٧ ﺇﻳﻘﺎﻋﻬﺎ ﺣﺎﻝ ﺍﻻﺳﺘﻘﺒﺎﻝ .


17. Takbiratul ihram dilakukan ketika posisi (sudah) menghadap kiblat.


١٨ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺨﻞ ﺑﺤﺮﻑ ﻣﻦ ﺣﺮﻭﻓﻬﺎ .


18. Tidak boleh mencacatkan satu hurup pun dari semua hurupnya takbiratul ihram.


١٩ ﺃﻥ ﻳﻘﺼﺪ ﺑﺎﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﺍﻟﺪﺧﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﻻ ﻳﺼﺮﻓﻪ ﻷﻣﺮ ﺁﺧﺮ ؛ ﻓﻠﻮ ﻛﺒﺮ ﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻕ ﺍﻟﻤﺪﺭﻙ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻭﻧﻮﻯ ﺑﻬﺎ ﺍﻻﻧﺘﻘﺎﻝ ﺃﻭ ﻫﻮ ﻣﻊ ﺍﻟﺘﺤﺮﻡ ﻟﻢ ﺗﻨﻌﻘﺪ ﺻﻼﺗﻪ .


19. Dengan takbiratul ihram wajib menyengaja masuk shalat, bukan mengarahkan pada perkara lain. (Sehingga) kalau ada makmum masbuq (yang menemui imam dalam keadaan ruku') bertakbir diniati sebagai takbir intiqol (saja) atau diniati takbir intiqol dan takbiratul ihram, maka shalatnya makmum tidak sah.


٢٠ ﺃﻥ ﻳﻘﻄﻊ ﻫﻤﺰ ﺃﻛﺒﺮ ﻓﻠﻮ ﺟﻌﻠﻬﺎ ﻫﻤﺰ ﻭﺻﻞ ﻻ ﺗﻨﻌﻘﺪ ، ﻭﻛﺬﺍ ﻟﻮ ﺟﻌﻠﻬﺎ ﻭﺍﻭﺍ ﺇﻻ ﺍﻟﺠﺎﻫﻞ ﻓﻴﻌﺬﺭ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ .


20. Membaca Qotho' hamzahnya lafadz "Akbar". Bila hamzahnya lafadz "Akbar" dibaca washol, maka tidak sah shalatnya. Juga tidak sah shalatnya, apabila menjadikan hamzahnya lafadz "Akbar" sebagai wawu (Allahu wakbar). Kecuali bagi jahil atau orang yang tidak tahu larangan mengganti hamzahnya lafadz Akbar menjadi wawu, maka ia di-udzuri (tidak batal shalatnya).

[Lihat Kitab I'anatu Ath Thalibin Syarhu Fathu Al Mu'in : Juz 1 Hal 56. Karya Syaikh Sayyid Abu Bakr Bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫MADZHAB HANAFIYYAH


Takbir Pembukaan Shalatnya  Harus Memunculkan kalimat dzikir, menyelisihi jumhur (Malikiyyah Syafi'iyyah Hanabilah) seperti boleh membuka takbir pembukaan dengan  mengucapkan: ALLAHU AKBAR (Allah Maha Besar), atau SUBHANALLAH (Maha Suci Allah), atau ALHAMDULILLAH (Segala Puji bagi Allah), dan jika dia datang hanya dengan satu kata, MAKA TIDAK SAH TAKBIROTUL IHRAMNYA


Dzikirnya harus murni karena Allah bukan dzikir yang mencakup hajat musholli seperti istigfar dll


Dan menurut mereka dzikir yang dilanjutkan mengiringi  shalat dengan tanpa ada jeda pemisah adalah takbir pembuka shalat


•⊰❁🌦️Imam 'Alauddin Al Kasaniy Al Hanafiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Badai'u Ash Shanai' Fi Tartibi Asy Syarai' :


وَالْمُرَادُ مِنْهُ ذِكْرُ اسْمِ الرَّبِّ لِافْتِتَاحِ الصَّلَاةِ لِأَنَّهُ عَقَّبَ الصَّلَاةَ الذِّكْرَ بِحَرْفٍ يُوجِبُ التَّعْقِيبَ بِلَا فَصْلٍ، وَالذِّكْرُ الَّذِي تَتَعَقَّبُهُ الصَّلَاةُ بِلَا فَصْلٍ هُوَ تَكْبِيرَةُ الِافْتِتَاحِ،

[انظر كتاب بدائع الصنائع في ترتيب الشرائع : ج ١ ص ١٣٠ /  كتاب الصلاة / فصل شرائط أركان الصلاة / للامام علاء الدين، أبو بكر بن مسعود الكاساني الحنفي الملقب بـ «بملك العلماء» (ت ٥٨٧ هـ) / الطبعة: الأولى ١٣٢٧ - ١٣٢٨ هـ].


Yang dimaksud dengan menyebut nama Tuhan sebagai pembuka shalat, karena ia mengiringi  shalat, dzikirnya dengan huruf yang mengharuskan mengiringi shalat  tanpa jeda pemisah, dan dzikir yang dilanjutkan dengan shalat tanpa jeda pemisah ia adalah takbir pembuka.

[Lihat Kitab Badai'u Ash Shanai' Fi Tartibi Asy Syarai' : Juz 1 Hal 130. Karya Imam 'Alauddin Al Kasaniy Al Hanafiy].


•⊰❁🌦️ Tersebut Dalam Kitab Al Fiqhu 'Ala Madzahibi Al Arba'ah : 


الحنفية قالوا: شروط تكبيرة الإحرام عشرون، وإليك بيانها:..(إلى أن قال)... 


أن يأتي بجملة ذكر، كأن يقول: الله أكبر، أو سبحان الله، أو الحمد لله، فلو أتى بلفظ واحد، فإنه لا يصح، وقد تقدم بيان ذلك مفصلاً في صفة التحريمة قريباً.


أن يكون الذكر خالصاً لله، فلا تصح تكبيرة الإحرام إذا كان الذكر مشتملاً على حاجة للمصلي؛ كاستغفار، ونحوه كما تقدم تقريباً

[انظر كتاب الفقه على المذاهب الأربعة : ج ١ ص ٢٠٢ - ٢٠٣ /  الفرض الثاني من فرائض الصلاة: تكبيرة الإحرام شروط تكبيرة الإحرام / عبد الرحمن بن محمد عوض الجزيري (ت ١٣٦٠هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية، بيروت - لبنان، الطبعة: الثانية، ١٤٢٤ هـ - ٢٠٠٣ مـ].


Hanafiyyah berkata: Syarat pembukaan takbir ada dua puluh, berikut penjelasannya:..(sampai katanya)...


Harus memunculkan kalimat dzikir, seperti mengucapkan: ALLAHU AKBAR atau SUBHANALLAH atau ALHAMDULILLAH dan jika dia hanya memunculkan dengan satu kata, maka tidak sah, dan telah dijelaskan secara rinci. disajikan dalam uraian tahrimah (memuliakan, ta'dzim) segera.


Adanya dzikir (pembukaan) itu murni untuk Allah, MAKA TAKBIR PEMBUKANYA TIDAK SAH BILA DZIKIR ITU MEMUAT KEPERLUAN BAGI ORANG YANG SHOLAT, seperti istighfar minta taubat  dll, seperti yang segera akan  disajikan

[Lihat Kitab Al Fiqhu 'Ala Madzahibi Al Arba'ah : Juz 1 Hal 202 - 203. Karya Syaikh Abdurrahman Al Jazairiy].


•⊰❁🌦️ Tersebut Dalam Kitab Al Iqna' Fi Hilli Alfadzi Abi Syuja' ; 


وَبُسَنُّ أََن لَا يقصر التَّكْبِير بِحَيْثُ لَا يفهم وَأَن لَا يمططه بِأَن يُبَالغ فِي مده بل يَأْتِي بِهِ مُبينًا والإسراع بِهِ أولى من مده لِئَلَّا تَزُول النِّيَّة 

[انظر كتاب الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع : ج ١ ص ١٣١ - ١٣٢ /  كتاب الصلاة / فصل في أركان الصلاة وسننها وهيئاتها / للشيخ  شمس الدين، محمد بن أحمد الخطيب الشربيني الشافعي (ت ٩٧٧هـ) / الناشر: دار الفكر - بيروت، بدون السنة].


“DISUNAHKAN TIDAK TERLALU MEMBACA QOSHOR (PENDEK) TAKBIRATUL IHRAM sekiranya sampai tidak bisa dipahami, dan tidak terlalu membaca mad (panjang melainkan sebaiknya dibaca sedang), sebaliknya, Dia mendatangkannya secara terang-terangan, dan mempercepatnya lebih baik daripada memperpanjangnya, supaya jangan sampai niatnya hilang.

[Lihat Kitab Al Iqna' Fi Hilli Alfadzi Abi Syuja' ; Juz 1 Hal 131 - 132. Karya Imam Al Khatib Asy Syirbiniy Asy Syafi'iy].


╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫MADZHAB MALIKIYYAH


i)• TAKBIRATUL IHRAM TIDAK SAH dengan jeda yang lama antara kalimat الله dan اكبر


•⊰❁🌦️Imam Ahmad bin Ghanim An Nafrawiy Al Malikiy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Fawakih Ad Dawaniy 'Ala Risalati Ibni Zaid Al Qairawaniy : 


( وَالْإِحْرَامُ فِي الصَّلَاةِ ) وَلَوْ نَافِلَةً رُكْنٌ وَصِفَتُهُ ( أَنْ تَقُولَ اللَّهُ أَكْبَرُ ) بِالْمَدِّ الطَّبِيعِيِّ لِلَفْظِ الْجَلَالَةِ قَدْرَ أَلِفٍ فَإِنْ تَرَكَهُ لَمْ يَصِحَّ إحْرَامُهُ ، كَمَا أَنَّ الذَّاكِرَ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ ذَلِكَ ، 


وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا بُدَّ مِنْ الْإِتْيَانِ بِهَذَا اللَّفْظِ عَلَى هَذَا التَّرْتِيبِ ، وَيُحْذَرُ مِنْ مَدِّ هَمْزَةِ اللَّهِ حَتَّى يَصِيرَ مُسْتَفْهِمًا ، وَمِنْ مَدِّ بَاءِ أَكْبَرُ ، وَمِنْ تَشْدِيدِ رَائِهِ ، وَمِنْ الْفَصْلِ الطَّوِيلِ بَيْنَ اللَّهُ وَأَكْبَرُ ، وَمِنْ الْجَمْعِ بَيْنَ إشْبَاعِ الْهَاءِ مِنْ اللَّهِ ، وَزِيَادَةِ وَاوٍ مَعَ هَمْزَةِ أَكْبَرُ ، فَإِنَّ جَمِيعَ ذَلِكَ مُبْطِلٌ لِلتَّكْبِيرِ 

[انظر كتاب الفواكه الدواني على رسالة ابن أبي زيد القيرواني : ج ١ ص ١٧٦ / باب صفة العمل في الصلوات المفروضة / للإمام أحمد بن غانم (أو غنيم) بن سالم ابن مهنا، شهاب الدين النفراوي الأزهري المالكي (ت ١١٢٦هـ) / الناشر: دار الفكر، تاريخ النشر: ١٤١٥هـ - ١٩٩٥مـ].


(Dan ihram dalam shalat) walaupun dalam shalat sunnah  adalah rukun, dan sifatnya (apabila mengucapkan الله أكبر) dengan kepanjangan Mad Thabi'i untuk  kalimat jalalah (الله) sepanjang 1 Alif, jika meninggalkannya maka tidak sah Takbiratul Ihramnya, seperti bahwasannya  orang yang menyebutkan dari semua itu wajib baginya, 


Dan ketahuilah bahwa perlunya mengucapkan kata ini dengan urutan yang demikian, dan berhati hatilah dengan memanjangkan hamzah lafadz Allah  hingga menjadi istifham (pertanyaan), dan memanjangkan huruf baa lafadz Akbar  (menjadi Akb-aar = أكبــار), dan mentasydid huruf ra' nya (menjadi Akba-rr = أكبرّ),  yang lebih besar, dan dari membuat jarak atau jeda yang lama antara kalimah Allah dan Akbar (اللَّهُ .... أَكْبَرُ), dan dari penggabungan pemenuhan lafadz: اللَّهُ, dan penambahan waw (و)  bersama hamzahnya lafadz: أَكْبَرُ, dan SESUNGGUHNYA SEMUA ITU MEMBATALKAN TAKBIR

[Lihat Kitab Al Fawakih Ad Dawaniy 'Ala Risalati Ibni Zaid Al Qairawaniy : Juz 1 Hal 176. Karya Imam Ahmad Bin Ghanim An Nafrawiy Al Malikiy].


ii)• BOLEH BERHENTI SEBENTAR Dintara Kalimat Allah Dan Akbar


•⊰❁🌦️Tersebut dalam Hasyiyyah Al 'Adawiy Atas Syarhu Al Kharsyi Al Malikiy = Syarhu 'Ala Mukhtashar Khalil : 


الْعَاشِرُ عَدَمُ وَقْفَةٍ طَوِيلَةٍ بَيْنَ كَلِمَتَيْهِ فَلَا تَضُرُّ يَسِيرَةٌ.

[انظر كتاب شرح الخرشي على مختصر خليل : ج ١ ص ٢٦٥ /  باب الوقت المختار / فصل في فرائض الصلاة / للامام  أبو عبد الله محمد الخرشي المالكي / 

الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية ببولاق - مصر، الطبعة: الثانية، ١٣١٧ هـ].


(Kesepuluh): Tidak ada jeda yang lama di antara kalimah: اللَّهُ dan أَكْبَرُ, dan TIDAK MERUSAK DARI JEDA SEBENTAR NYA.

[Lihat Kitab Hasyiyyah Al 'Adawiy Atas Syarhu Al Kharsyi = Syarhu 'Ala Mukhtashar Khalil : Juz 1 Hal 265. Karya Imam Al Kharsyi Al Malikiy].



╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫MADZHAB HANABILLAH


TIDAK SAH TAKBIR yang dibaca secara tidak berurutan karena tidak bisa dinamakan takbir


•⊰❁🌦️Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Mughniy : 


فَصْلٌ: وَلَا يَصِحُّ التَّكْبِيرُ إلَّا مُرَتَّبًا، فَإِنْ نَكَسَهُ لَمْ يَصِحَّ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ تَكْبِيرًا. 

[انظر كتاب المغني : ج ١ ص ٣٣٤ /  مسألة الصلاة لا تنعقد إلا بقول الله أكبر / فصل التكبير ركن في الصلاة / للإمام أبو محمد عبد الله بن أحمد بن محمد بن قدامة الحنبلي (٥٤١ - ٦٢٠ ه) على مختصر: أبي القاسم عمر بن حسين بن عبد الله بن أحمد الخرقي (المتوفى ٣٣٤ ه) / الناشر: مكتبة القاهرة، الطبعة: الأولى، (١٣٨٨ هـ = ١٩٦٨ مـ) - (١٣٨٩ هـ = ١٩٦٩ مـ)]


Bab: TAKBIR TIDAK SAH  kecuali DIUCAPKAN DENGAN BERURUTAN, dan jika dibaca dengan dibolak balikkan maka tidak sah, karena itu  bukan takbir.

[Lihat Kitab Al Mughniy : Juz 1 Hal 334. Karya Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy].


•⊰❁🌦️Imam Ibnu Muflih Al Hanbaliy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Furu' Wa Tashihu Al Furu' : 


وَلَا تَنْعَقِدُ إنْ مَدَّ هَمْزَةَ اللَّهِ، أَوْ أَكْبَرَ، أَوْ قَالَ "أَكِبَارُ" "و" وَلَا يَضُرُّ لَوْ خَلَّلَ الْأَلِفَ بَيْنَ اللَّامِ وَالْهَاءِ، لِأَنَّهُ إشْبَاعٌ، وحذفها أولى، لأنه يكره تمطيطه. انتهى.

[انظر كتاب الفروع و تصحيح الفروع : ج ٢ ص ١٦٣ /  باب صفة الصلاة / مدخل / للامام  شمس الدين محمد بن مفلح المقدسي الحنبلي (ت ٧٦٣ هـ) / الناشر: (مؤسسة الرسالة - بيروت)، (دار المؤيد - الرياض)، الطبعة: الأولى، ١٤٢٤ هـ - ٢٠٠٣ مـ]


Dan tidak sah  jika memnjangkan hamzah lafadz Aa-llah, atau Aa-kbar, atau katanya “Akb-aar”, dan tidak ada salahnya jika alif diselingi antara lam dan ha', karena itu adalah pemenuhan, dan menghapusnya lebih tepat, karena  merenggangkannya dimakruhkan.

[Lihat Kitab Al Furu' Wa Tashihu Al Furu' : Juz 2 Hal 163. Karya Imam Ibnu Muflih Al Hanbaliy].



╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫MADZHAB DZOHIRIYYAH


TAKBIROTUL IHROM SAH dengan setiap nama Allah


•⊰❁🌦️Imam Ibnu Hazm Al Andalusiy Adz Dzahiriy rahimahullahu ta'ala menjelaskan dalam kitabnya Al Muhalla Bi Al Atsar :


وَيُجْزِئُ فِي التَّكْبِيرِ: اللَّهُ أَكْبَرُ، وَاَللَّهُ الْأَكْبَرُ، وَالْأَكْبَرُ اللَّهُ، وَالْكَبِيرُ اللَّهُ، وَاَللَّهُ الْكَبِيرُ، وَالرَّحْمَنُ أَكْبَرُ - وَأَيُّ اسْمٍ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى ذَكَرْنَا بِالتَّكْبِيرِ. وَلَا يُجْزِئُ غَيْرُ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ -ﷺ- قَالَ: " فَكَبِّرْ ". وَكُلُّ هَذَا تَكْبِيرٌ، وَلَا يَقَعُ عَلَى غَيْرِ هَذَا لَفْظُ: " 

[انظر كتاب المحلى بالآثار : ج ٢ ص ٢٦٣ /  أوقات الصلاة / مسألة التكبير في الصلاة / للامام أبو محمد علي بن أحمد بن سعيد بن حزم الأندلسي [الظاهري] / الناشر: دار الفكر - بيروت، بدون السنة].


Dan cukuplah mengucapkan takbir: 


اللَّهُ أَكْبَرُ، 


وَاَللَّهُ الْأَكْبَرُ، 


وَالْأَكْبَرُ اللَّهُ، 


وَالْكَبِيرُ اللَّهُ، 


وَاَللَّهُ الْكَبِيرُ، 


وَالرَّحْمَنُ أَكْبَرُ


 – dan dari setiap nama dari  nama-nama Allah Ta'ala, seperti yang telah kami sebutkan, DAN TIDAK SAH DENGAN SELAIN LAFADZ LAFADZ  TERSEBUT. Hal ini  Karena Nabi -ﷺ- pernah bersabda: 


“Maka besarkanlah.” Semua ini adalah takbir, dan tidak ada kalimat lain yang muncul, selain lafadz ini.

[Lihat Kitab Al Muhalla Bi Al Atsar : Juz 2 Hal 263. Karya Imam Ibnu Hazm Al Andalusiy Adz Dzahiriy].



╾─⃟ꦽ⃟𖧷۪۪‌ᰰ᪇ 💫KESEPAKATAN MADZHAB MALIKIY DANADZHAB SYAFI'IY


ULAMA' MALIKIYYAH DAN SYAFI'IYYAH sepakat bahwa tidak sah takbirotul ihrom karena dipisah dengan jeda yang lama dan sebentar, dan sebagian yang lain dari mereka berpendapat sah jika jedanya hanya sebentar


•⊰❁🌦️Tersebut dalam kitab Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah keluaran Kementerian Urusan Wakaf Dan Urusan Islam Kuwait :


وَيَرَى الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ أَنَّ الْوَقْفَةَ الطَّوِيلَةَ بَيْنَ (اللَّهُ) (وَأَكْبَرُ) مُبْطِلَةٌ لِلإِْحْرَامِ بِالصَّلاَةِ، 


أَمَّا الْوَقْفَةُ الْيَسِيرَةُ بَيْنَهُمَا فَلاَ يَبْطُل بِهَا الإِْحْرَامُ

[انظر كتاب الموسوعة الفقهية الكويتية ؛ ج ١٣ ص ٢٢٣ / شروط صحة تكبيرة الإحرام / الشروط المتعلقة بلفظ تكبيرة الإحرام / صادر عن: وزارة الأوقاف والشئون الإسلامية - الكويت / عدد الأجزاء: ٤٥، الطبعة: (من ١٤٠٤ - ١٤٢٧ هـ) • الأجزاء ١ - ٢٣: الطبعة الثانية، دارالسلاسل - الكويت، بدون السنة].


Ulama' Malikiyyah dan Syafi'iyyah berpendapat bahwa jeda panjang antara kalimat (Allah) (dan Akbar) membatalkan ihram pada shalat, 


namun jeda singkat di antara keduanya tidak membatalkan ihram.

[Lihat Kitab Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah: Juz 13 Hal 223. Keluaran Kementerian Urusan Wakaf Dan Urusan Islam Negara Kuwait]


Selesai Sabtu Wage malam Ahad Kliwon 


Dikradenan selatan oo3 oo1 Keadaan Srumbung Magelang Jateng 56483


الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات


٩ صفــــــــــر ١٤٤٥ ه‍ـ

٢٦ اغسطس ٢٠٢٣ مـ

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top