Bismillahirrohmaanirrohiim

Minggu, 24 Januari 2021

★᭄ꦿ᭄ꦿ*💾✍️• ℍ𝕦𝕜𝕦𝕞 𝔻𝕒𝕟 ℍ𝕚𝕜𝕞𝕒𝕙 𝕄𝕖𝕝𝕖𝕡𝕒𝕤 𝕋𝕒𝕝𝕚 𝕂𝕒𝕗𝕒𝕟 𝕋𝕖𝕣𝕦𝕥𝕒𝕞𝕒 𝕋𝕒𝕝𝕚 ℙ𝕠𝕔𝕠𝕟𝕘 𝕄𝕒𝕪𝕪𝕚𝕥 𝔻𝕒𝕟 𝕄𝕖𝕞𝕓𝕦𝕜𝕒 𝕂𝕒𝕚𝕟 𝕂𝕒𝕗𝕒𝕟 𝕐𝕒𝕟𝕘 𝕄𝕖𝕟𝕦𝕥𝕦𝕡𝕚 ℙ𝕚𝕡𝕚 𝕊𝕖𝕓𝕖𝕝𝕒𝕙 𝕂𝕒𝕟𝕒𝕟𝕟𝕪𝕒 𝔹𝕖𝕤𝕖𝕣𝕥𝕒 ℍ𝕚𝕜𝕞𝕒𝕙 𝕄𝕖𝕟𝕖𝕞𝕡𝕖𝕝𝕜𝕒𝕟 ℙ𝕚𝕡𝕚 𝕊𝕖𝕓𝕖𝕝𝕒𝕙 𝕂𝕒𝕟𝕒𝕟 𝕄𝕒𝕪𝕪𝕚𝕥 𝕂𝕖𝕥𝕒𝕟𝕒𝕙 𝕋𝕒𝕟𝕡𝕒 ℙ𝕖𝕟𝕘𝕙𝕒𝕝𝕒𝕟𝕘 𝔻𝕒𝕟 ℍ𝕦𝕜𝕦𝕞 𝕄𝕖𝕟𝕘𝕦𝕓𝕦𝕣 𝕄𝕒𝕪𝕪𝕚𝕥 𝔻𝕖𝕟𝕘𝕒𝕟 ℙ𝕖𝕥𝕚 𝔻𝕒𝕟 ℍ𝕦𝕜𝕦𝕞 𝕄𝕖𝕟𝕦𝕝𝕚𝕤𝕚 𝕂𝕦𝕓𝕦𝕣𝕒𝕟 𝕊𝕖𝕤𝕖𝕠𝕣𝕒𝕟𝕘 𝔻𝕒𝕟 ℍ𝕦𝕜𝕦𝕞 𝕄𝕖𝕟𝕘𝕦𝕓𝕦𝕣 𝕄𝕒𝕪𝕪𝕚𝕥 𝔻𝕚𝕕𝕒𝕝𝕒𝕞 𝔹𝕒𝕟𝕘𝕦𝕟𝕒𝕟 𝔻𝕚𝕒𝕥𝕒𝕤 𝕋𝕒𝕟𝕒𝕙.*༻꧂★





(edisi pandemi belum berlari januari 2021 banyak ulama habaib pergi membawa ilmunya pergi)


*★᭄ꦿ᭄ꦿ🅢🅤🅝🅝🅐🅗 🅜🅔🅛🅔🅟🅐🅢 🅣🅐🅛🅘 🅟🅞🅒🅞🅝🅖 🅢🅔🅣🅔🅛🅐🅗 🅜🅐🅨🅨🅘🅣 🅓🅘🅜🅐🅢🅤🅚🅚🅐🅝 🅓🅐🅛🅐🅜 🅚🅤🅑🅤🅡 🅜🅔🅜🅑🅤🅚🅐 🅚🅐🅕🅐🅝 🅑🅐🅖🅘🅐🅝 🅟🅔🅛🅘🅟🅘🅢 🅚🅐🅝🅐🅝 🅜🅐🅨🅨🅘🅣 🅓🅐🅝 🅜🅔🅝🅔🅜🅟🅔🅛🅚🅐🅝 🅛🅐🅝🅖🅢🅤🅝🅖 🅓🅔🅝🅖🅐🅝 🅣🅐🅝🅐🅗.*

Melepas ikatan kain kafan, terutama di bagian kepala, hukumnya adalah sunnah. Kesunnahan melepas ikatan kain kafan ini berlaku bagi semua jenis jenazah, baik laki-laki maupun perempuan, kecil maupun mukalaf.

Disebutkan bahwa semua ulama, mulai dari ulama salaf hingga khalaf, semuanya menganjurkan untuk melepaskan ikatan kain kafan jenazah. Di antara dalil yang dijadikan dasar kesunnahan melepas ikatan kain kafan ini adalah hadis riwayat Imam Al-Baihaqi dari Ma’qal bin Yasar, dia berkisah;

وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْقَاسِمِ طَلْحَةُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الصَّقْرِ بِبَغْدَادَ، أنبأ أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ يَحْيَى الْآدَمِيُّ، ثنا عَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ، ثنا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ، ثنا خَلَفٌ يَعْنِي ابْنَ خَلِيفَةَ قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ: أَظُنُّهُ سَمِعَهُ مِنْ مَوْلَاهُ، وَمَوْلَاهُ مَعْقِلُ بْنُ يَسَارٍ:

*" لَمَّا وَضَعَ رَسُولُ اللهِ –ﷺ💞– نُعَيْمَ بْنَ مَسْعُودٍ فِي الْقَبْرِ نَزَعَ الْأَخِلَّةَ بِفِيهِ "*
[رواه البيهقي في السنن الكبرى : ج ٣ ص ٥٧١ / (٩) - كتاب الجنائز / جماع أبواب عدد الكفن، وكيف الحنوط / باب الدخول على الميت وتقبيله / رقم الحديث : ٦٧١٤ / للإمام أحمد بن الحسين بن علي بن موسى الخُسْرَوْجِردي الخراساني، أبو بكر البيهقي (المتوفى: ٤٥٨ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية، بيروت - لبنات الطبعة: الثالثة، ١٤٢٤ هـ = ٢٠٠٣ مـ].

Telah mengabarkan kepada kami : Abul Qasim Tholhah bin 'Aliy bin Ash Shaqri dibaghdad. Telah menceritakan kepada kami : Ahmad bin 'Utsman bin Yahya Al Adamiy. Telah menceritakan kepada kami : 'Abbas bin Muhammad Ad Duriy. Telah menceritakan kepada kami : Suraij bin An Nu'man. Telah menceritakan kepada kami : Kholaf -(yakni Ibnu Kholifah)-, ia berkata: Aku mendengar Ayahku berkata : dan aku mengira ia mendengar dari maulanya (bekas budaknya), dan maulanya adalah Ma'qil bin Yasar :

*"Ketika Rasulullah –ﷺ💞– meletakkan jenazah Nu’aim bin Mas’ud di dalam kubur, beliau melepas ikatannya dengan mulutnya."*
[HR. Baihaqiy Dalam Kitabnya As Sunan Al Kubro : juz 3 hal 571 / (9) - Kitabu Al Jana'izi / Juma'u Abwabi 'Adadi Al Kafani Wa Kaifa Al Hanuthu / Babu Ad Dukhuli 'Ala Al Mayyiti Wa Taqbilihi / No. Hadits : 6714 / Karya Imam Baihaqiy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah - Beirut Libanon, Cet. Ketiga, Th. 1424 H = 2003 M].


🌴✍️• Namun hadits ini lemah sebagaimana dijelaskan oleh Al Albani yang dianggap ahli hadits dan tokoh Wahhabiy dalam Bukunya " Silsilah Adh Dha’ifah ":

العقد التي يربط بها الكفن تحل كلها هذا الأفضل، السنة تحل كلها في القبر، إن وضع في قبره حلت العقد كلها أولها وآخرها هذا السنة

“Ikatan yang mengikat kafan itu dibuka semuanya (ketika di liang kubur). Ini lebih utama. Yang sunnah, semuanya dilepaskan di dalam kubur. Ketika ia diletakkan di dalam kuburnya, maka semua ikatannya dilepaskan dari awal sampai akhir, ini sunnah”.
[Lihat Silsilah Dho'ifah Karangan Al Albaniy Tokoh Wahhabiy].


*1️⃣• 💾👌Hukum Dan Hikmah Membuka Tali Pocong Dan Menempelkan Pipi Mayyit Ketanah Dan Makruh Mengubur Mayyit Menggunakan Peti MENURUT MADZHAB IMAM MUHAMMAD BIN IDRIS ASY SYAFI'IY.*

*🌴✍️• Dalam kitab " Nihayatu Al Muhtaj Ila Syarhi Al Minhaj "  Imam Al-Ramli Asy Syafi'iy berpendapat bahwa ketika jenazah sudah berada dalam kubur, maka makruh ada suatu ikatan yang menempel di dalam tubuh jenazah, termasuk ikatan kain kafan. Beliau berkata sebagai berikut;*

(فَإِذَا وُضِعَ) الْمَيِّتُ (فِي قَبْرِهِ نُزِعَ الشِّدَادُ) عَنْهُ تَفَاؤُلًا بِحَلِّ الشَّدَائِدِ عَنْهُ؛ وَلِأَنَّهُ يُكْرَهُ أَنْ يَكُونَ مَعَهُ فِي الْقَبْرِ شَيْءٌ مَعْقُودٌ وَسَوَاءٌ فِي جَمِيعِ ذَلِكَ الصَّغِيرُ وَالْكَبِيرُ
[انظر كتاب نهاية المحتاج الى شرح المنهاج : ج ٢ ص ٤٦٤ / كتاب الجنائز / فصل في تكفين الميت وحمله وتوابعهما / للإمام شمس الدين محمد بن أبي العباس أحمد بن حمزة شهاب الدين الرملي الشافعي (المتوفى: ١٠٠٤ هـ) / الناشر: دار الفكر، بيروت الطبعة: ط أخيرة - ١٤٠٤ هـ = ١٩٨٤ مـ].
 
Jika mayit sudah diletakkan di dalam kubur, maka dilepaslah segenap ikatan dari tubuhnya dengan harapan agar semua bentuk kesulitan terbebas dari dirinya. Juga karena makruh hukumnya bila mana ada sesuatu yang mengikat bagian tubuh jenazah, baik jenazah anak-anak maupun jenazah dewasa.
[Lihat Kitab Nihayatu Al Muhtaj Ila Syarhi Al Minhaj : juz 3 hal 464 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun : Fi Takfini Al Mayyiti Wa Hamlihi Wa Tawabi'ihi / Karya Imam Ar Ramliy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri - Beirut, Cet. Terakhir, Th. 1404 H = 1984 M].


*📓🌴• Adapun bagian kepala jenazah  ikatannya (tali pocong) dilepas, kemudian kain kafan pada bagian pipinya dibuka lalu  ditempelkan pada tanah tanpa penghalang. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab " Mughni Al Muhtaj Ila Ma'rifati Ma'aniy Alfadzi Al Minhaj " berikut;*

قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ : بِأَنْ يُنَحَّى الْكَفَنُ عَنْ خَدِّهِ وَيُوضَعُ عَلَى التُّرَابِ
[انظر كتاب مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج : ج ٢ ص ٣٩ / كتاب الجنائز / فصل في دفن الميت وما يتعلق به / للإمام شمس الدين، محمد بن أحمد الخطيب الشربيني الشافعي (المتوفى: ٩٧٧ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية الطبعة: الأولى، ١٤١٥ هـ = ١٩٩٤ مـ].

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berkata; Kain kafan dibuka dari pipi mayit dan ditempelkan pada tanah.
[Lihat Kitab Mughni Al Muhtaj Ila Ma'rifati Ma'aniy Alfadzi Al Minhaj : juz 2 hal 39 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun : Fi Dafni Al Mayyiti Wa Ma Yata'allaqu Bihi / Karya Imam Al Khothib Asy Syarbiniy Asy Syafi'iy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah, Cet. Pertama, Th. 1415 H = 1994 M].


*💾🎙️• Tersebut dalam kitab " Ghooyatu Al-Bayan Syarhu Zaid Ibnu Ruslan " karya Imam Syamsuddin Al-Ramliy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala :*

ويشد بشداد خوف الانتشار عند الحمل فإذا وضع في قبره نزع الشداد
[انظر كتابة غاية البيان شرح زبد ابن رسلان : ص ١٣٤ / المقدمة / للإمام شمس الدين محمد بن أبي العباس أحمد بن حمزة شهاب الدين الرملي (المتوفى: ١٠٠٤ هـ) / الناشر: دار المعرفة - بيروت، بدون السنة]

Dan kain kafannya diikat dengan ikatan agar tidak berserakan saat janazah diusung, saat diletakkan dalam kubur ikatannya dilepas.
[Lihat Kitab Ghooyatu Al Bayaan Syarhu Zaid Ibnu Ruslan : hal 134 / Al Muqaddimah / Karya Imam Syamsuddin Al-Ramliy Asy Syafi'iy / Dar Al Ma'rifah - Beirut, Tnp. Tahun].


*🌴✍️• Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya " Tuhfatu Al Muhtaj Fi Syarhi Al Minhaj " mengatakan :*

( وَيُشَدُّ ) فِي غَيْرِ الْمُحْرِمِ بِشَدَّادٍ وَيُعَرَّضُ بِعَرْضِ ثَدْيَيْ الْمَرْأَةِ وَصَدْرِهَا لِئَلَّا يَنْتَشِرَ عِنْدَ الْحَرَكَةِ وَالْحَمْلِ ( فَإِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ نُزِعَ الشَّدَّادُ ) لِزَوَالِ مُقْتَضِيهِ وَلِكَرَاهَةِ بَقَاءِ شَيْءٍ مَعْقُودٍ مَعَهُ فِيهِ .
[انظر كتاب تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي : ج ٣ ص ١٢٧ / كتاب الجنائز / فصل في تكفين الميت / للإمام أحمد بن محمد بن علي بن حجر الهيتمي المكي الشافعي (المتوفى : ٩٧٤ هـ) / الناشر: المكتبة التجارية الكبرى /  عام النشر: ١٣٥٧ هـ = ١٩٨٣ مـ].

Dan kain kafannya diikat dengan ikatan (kecuali bagi mayyit yang sedang ihram, dan dibentangkan melintang pada dua payudara dan dada janazah wanita) agar tidak berserakan saat janazah dibawa bergerak dan diusung, saat diletakkan dalam kubur ikatannya dilepas (karena sudah hilang fungsinya dan karena makruhnya membiarkan sesuatu yang masih terikat ada pada janazah dalam kuburnya.
[Lihat Kitab Tuhfatu  Al-Muhtaaj Fi Syarhi Al Minhaj Wa Hawasyai Asy Syarwaniy Wa Al 'Ibadiy : juz 3 hal 127 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun : Fi Takfini Al Mayyiti / Karya Imam Ahmad Ibnu Hajar Al Haitamiy Asy Syafi'iy / Al Maktabah At Tijariyyah Al Kubro, Th. 1357 H = 1983 M].


*📒🎙️• Imam Qulyubiy rahimahullAhu ta'ala dalam kitab hasyiyyahnya mengatakan :*

( نزع الشداد ) أي شداد اللفائف فقط تفاؤلا بانحلال الشدة عنه , وقيل : جميع ما فيه تعقد بدليل قولهم لأنه يكره أن يكون معه في القبر شيء معقود
[انظر كتاب حاشيتا قليوبي وعميرة : ج ١ ص ٣٨٤ / كتاب الجنائز / فصل يكفن بما له لبسه حيا / للإمام أحمد سلامة القليوبي وأحمد البرلسي عميرة / الناشر: دار الفكر - بيروت، ١٤١٥ هـ = ١٩٩٥ مـ].

(Saat diletakkan dalam kubur ikatannya dilepas) artinya tali-tali pengikatnya saja/bukan kain kafannya karena unsur tafaa-ul (mengharapkan kebaikkan) dengan dilepasnya ikatan kafan, bencana yang ada pada mayyit juga terlepas. Dikatakan “Dimakruhkan membiarkan sesuatu yang masih terikat ada pada janazah dalam kuburnya”.
[Lihat Kitab Hasyiyyata Al-Qalyubi Wa Al 'Amirah : juz 1 hal 384 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun : Yukfanu Bima Lahu Lubsuhu Hayyan / Karya Imam Ahmad Salamah Al Qulyubiy Dan Ahmad Al Burlisiy 'Amirah / Dar Al Fikri - Beirut, Cet. 1415 H = 1995 M].


*🌴✍️• Syaikh Muhammad bin Umar Nawawiy Al Bantani Al Jawiy Al Indonisiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya " Nihayatu Az Zein Fi Irsyaadi Al Mubtadi'ien " mengatakan :*

يندب شد سادس على صدر المرأة فوق الأكفان ليجمعها عن انتشارها باضطراب ثديها عند الحمل ويحل عنها في القبر كبقية الشدادات
[انظر كتاب نهاية الزين في إرشاد المبتدئين : ص ١٥٢ / فصل في الجنائز / للشيخ محمد بن عمر نووي الجاوي البنتني إقليما، التناري بلدا الشافعي (المتوفى: ١٣١٦ هـ) / الناشر: دار الفكر - بيروت، بدون السنة].

Disunahkan ikatan ke enam dibentangkan didada wanita diatas kain kafan agar tetap wutuh dan tidak berserakan dengan goncangan dua payudaranya saat diusung, dan dilepas saat di kubur sebagaimana ikatan-ikatan lainnya.
[Lihat Kitab Nihayatu  Az-Zain Fi Irsyaadi Al Mubtadi'ien : hal 152 / Fashlun : Fi Al Jana'izi / Karya Syaikh Muhammad Bin Umar Nawawiy Al-Bantani Al Jawiy Asy Syafi'iy Al Indonisiy / Dar Al Fikri - Beirut, Tnp. Tahun].


*💾🌴• Hikmahnya  dari ke sunnahan menempelkan pipi sebelah kanan ke tanah (tanpa hail/penghalang antara pipi kanan dengan tanah atau setelah di buka kain kafan yg  menutupi pipi kanan mayyit) adalah menunjukan rasa sanggat  rendah/hina/lemah dan Butuh terhadap belas kasih Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


*🌴🎙️• Tersebut dalam kitab " Hasyiyyah Al-Bajuriy Syarhu Fathu Al Qarib Al Mujib " karya Syaikh Ibrahim Al Baijuriy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala:*

ويندب ان يفضى بخده الى الارض كما مر اشارة الى شدة الذل والافتقار لله تعالى
[انظر كتاب حاشية الباجوري شرح فتح القريب المجيب : ج ٢ ص ٢٥٦ / للشيخ ابراهيم الباجوري الشافعي / طه فوترا سمارانج, بدون السنة].
 
Dan disunnahkan menempelkan pipi  mayyit (sebelah kanan tanpa penghalang)  ketanah seperti vang telah berlaku sebagai isyarat menunjukkan rasa sangat hina dan sangat butuh kepada belas kasih Allah Ta'ala.
[Lihat Kitab Hasyiyyah Al-Bajuriy Syarhu Fathu Al Qarib Al Mujib : juz 2 hal 256 / Karya Syaikh Ibrahim Al Baijuriy Asy Syafi'iy / Toha Putra - Semarang, Tnp. Tahun].


*💾✍️• Asy Syaikh Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya  " I'aanatu At-Thoolibiin Syarhu Fathu Al Mu'in " mengatakan:*

ويندب الافضاء بخده الأيمان بعد تنحية الكفن عنه الى نحو تراب مبالغة فى الاستكانة والذل ورفع رأسه بنحو لبنة
[انظر كتاب اعانة الطالبين شرح فتح المعين : ج ٢ ص ١٣٣ / باب الصلاة / للشيخ السيد أبو بكر (المشهور بالبكري) عثمان بن محمد شطا الدمياطي الشافعي (المتوفى: ١٣١٠ هـ) / الناشر: دار الفكر, الطبعة: الأولى، ١٤١٨ هـ = ١٩٩٧ مـ].

Dan termasuk perkara sunnah yaitu meletakkan pelipis kanan mayat ke tanah setelah di bukanya kain kafan penutup pelipis tersebut.
[Lihat I'aanatu At-Thoolibiin Syarhu Fathu Al Mu'in : juz  2 hal 133 / Babu Ash Shalati / Karya Syaikh Sayyid Abu Bakar Bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri / Cet. Pertama, Th. 1418 H = 1997 M].


*📓🌴• Syaikh Abi Yahya Zakariyya Al Anshariy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya " Fathu Al Wahhab Syarhu Minhaju Ath Thulab " mengatakan :*

وَ " أَنْ " يُسْنَدَ وَجْهُهُ " وَرَجُلَاهُ " إلَى جِدَارِهِ " أَيْ الْقَبْرِ " وَظُهْرُهُ بِنَحْوِ لَبِنَةٍ " كَحَجَرٍ حَتَّى لَا يَنْكَبَّ وَلَا يَسْتَلْقِيَ وَيُرْفَعُ رَأْسُهُ بِنَحْوِ لَبِنَةٍ وَيُفْضَى بِخَدِّهِ الْأَيْمَنِ إلَيْهِ أو إلى التراب "
(كتاب فتح الوهاب شرح منهج الطـلاب : ج ١ ص ١١٧ /  كتاب الجنائز / فصل في دفن الميت وما يتعلق به / للشيخ زكريا بن محمد بن أحمد بن زكريا الأنصاري، زين الدين أبو يحيى السنيكي الشافعي  (المتوفى: ٩٢٦ هـ) / الناشر: دار الفكر , ١٤١٤ هـ = ١٩٩٤ مـ].

Dan hendaknya menyandarkan wajah mayat dan kakinya dan punggungnya pada dinding lahat. Dan meletakkan bantalan seperti bata atau batu agar posisi mayat tidak berubah menjadi terlentang. Dan juga mengangkat kepala mayat dengan bantalan dari tanah sehingga pelipis mayat menempel pada bantalan tanah tadi, dan kain penutup pelipis dianjurkan untuk di buka.
[Kitab Fathul Wahab syarh Minhajut Thullab juz-1 hal 117 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun : Fi Dafni Al Mayyiti Wa Ma Yata'allaqu Bihi / Dar Al Fikri, Th. 1414 H = 1994 M].


*📒🌴• Didalam Ad Durar As Saniyyah Fi Al Ajwibah An Najdiyyah tulisan Ulama' Nejed :*

سئل الشيخ حمد بن عبد العزيز: عن كشف الكفن عن وجه الميت؟

فأجاب: لم يبلغني فيه شيء، ولكن الظاهر أن الأمر فيه واسع، إن كشف عنه فلا بأس وإن ترك فكذلك.
[انظر الدرر السنية في الأجوبة النجدية : ج ٥ ص ٨٥ / القسم الثاني من كتاب العبادات / كتاب الجنائز / المؤلف : علماء نجد الأعلام المحقق: عبد الرحمن بن محمد بن قاسم الطبعة: السادسة، ١٤١٧ هـ = ١٩٩٦ مـ].

Syaikh Hamd bin Abdul Aziz pernah mendapat pertanyaan mengenai hukum menyingkap kain kafan yg menutupi wajah mayit saat pemakaman?

Jawaban beliau, “Tidak ada satu pun yg kuketahui tentang masalah ini. Kesimpulan yg tepat dalam masalah ini adalah adanya kelonggaran dalam masalah ini. Jika tali pocong dilepas sehingga wajah mayit tersingkap hukumnya tidak mengapa. Sebaliknya jika dibiarkan begitu saja hukumnya juga tidak mengapa”
[Lihat Dalam Ad Durar As Saniyyah Fi Al Ajwibah An Najdiyyah :  juz 5 hal 85 / Al Qasmu Ats Tsaniy Min Kitabi Al 'Ibadati / Kitabu Al Jana'izi / Tulisan Ulama' Nejed / Cet. Keenam, Th. 1417 H = 1996 M].


💾✍️• Adapun mengubur mayit muslim dengan memasukkannya terlebih dahulu ke dalam peti, hukumnya adalah MAKRUH sesuai pendapat mayorits ulama. Kecuali ada beberapa keperluan yang memang mengharuskan penggunaan peti, seperti:

1) tanah kuburan yang basah dan mudah gugur. Sehingga tidak mungkin digali terus menerus.

2) kondisi mayat yang  rapuh karena terbakar atau musibah lain.

3) banyak binatang buas yang dapat menggali tanah dan mayit bisa aman hanya apabila dimasukkan ke dalam peti. Ketiga alasan itu masih bisa ditambah lagi jika memang keberadaannya sangat penting dan menghawatirkan si mayit.

Hal ini sebagaimana dalam Nihayatu Al Muhtaj Ila Syarhi Al Minhaj :

(وَيُكْرَهُ دَفْنُهُ فِي تَابُوتٍ) بِالْإِجْمَاعِ؛ لِأَنَّهُ بِدْعَةٌ (إلَّا فِي أَرْضٍ نَدِيَّةٍ أَوْ رِخْوَةٍ) بِكَسْرِ الرَّاءِ أَفْصَحُ مِنْ فَتْحِهَا ضِدَّ الشَّدِيدَةِ، وَحُكِيَ فِيهَا أَيْضًا الضَّمُّ،

فَلَا يُكْرَهُ لِلْمَصْلَحَةِ، وَلَا تُنَفَّذُ وَصِيَّتُهُ بِهِ إلَّا فِي هَذِهِ الْحَالَةِ، وَشَمِلَ ذَلِكَ مَا لَوْ تَهَرَّى الْمَيِّتُ لِلَدْغٍ أَوْ حَرِيقٍ بِحَيْثُ لَا يَضْبِطُهُ إلَّا التَّابُوتُ كَمَا ذَكَرَهُ فِي التَّجْرِيدِ، وَنَقَلَهُ عَنْ الشَّافِعِيِّ وَالْأَصْحَابِ،

وَمَا إذَا كَانَتْ امْرَأَةً وَلَا مَحْرَمَ لَهَا بِدَفْنِهَا لِئَلَّا يَمَسَّهَا الْأَجَانِبُ عِنْدَ الدَّفْنِ كَمَا قَالَهُ الْمُتَوَلِّي.

قَالَ فِي الْمُتَوَسِّطِ: وَيَظْهَرُ أَنْ يُلْتَحَقَ بِذَلِكَ دَفْنُهُ بِأَرْضِ الرَّمْلِ الدَّمِثَةِ وَالْبَوَادِي الْكَثِيرَةِ الضِّبَاعِ وَغَيْرِهَا مِنْ السِّبَاعِ النَّبَّاشَةِ، وَكَانَ لَا يَعْصِمُهُ مِنْهَا إلَّا التَّابُوتُ
[انظر كتاب نهاية المحتاج الى شرح المنهاج : ج ٣ ص ٣٠ / كتاب الجنائز / التعزية لأهل الميت سنة / المبيت بالمقبرة / للشيخ شمس الدين محمد بن أبي العباس أحمد بن حمزة شهاب الدين الرملي (المتوفى: ١٠٠٤ هـ) / الناشر: دار الفكر، بيروت الطبعة: ط أخيرة - ١٤٠٤ هـ = ١٩٨٤ مـ].

Dan dimakruhkan mengubur mayyit di dalam peti, dengan ijma’ (kesepakatan)  ulama karena hal itu dinilai bid’ah. Kecuali pada bumi yang basah atau sangat lembek ...

Maka tidaklah makruh mengubur mayyit dengan peti pada tanah yang tersebut karena maslahah, walaupun mayit sendiri berwashiat dikubur menggunakan peti, namun washiyatnya tidak boleh diluluskan kecuali tanahnya keadaannya juga  demikian.

Begitu juga apabila keadaan mayit sangat rapuhnya, karena tersengat atau terbakar yang tidak mungkin mayit bisa utuh kecuali dengan cara dipeti. Seperti telah menuturkannya dalam kitab At Tajrid, dan menukilnya dari  Imam Asy Syafi'iy dan sahabat - sahabatnya.

Atau terkecuali mayat adalah perempuan dan tidak ada muhrim yang dapat menguburkannya sehingga yang tersisa adalah orang lain (yang tidak boleh menyentuhnya) maka mayit boleh dipeti. Seperti Imam Al Mutawwaliy telah menuturkannya.

Dan berkata dalam kitab Al Mutawasith :  Dan jelas (dan boleh menggunakan peti)  apabila penguburannya masuk ke dalam jenis tanah berpasir yang halus (moprol : jawa) dan dipelosok yang masih banyak anjing hutan dan yang lainnya dari jenis binatang buas yang bisa menggali kuburannya, dan tidak bisa menjaganya kecuali (dikubur) menggunakan peti.
[Lihat Kitab Nihayatu Al Muhtaj Ila Syarhi Al Minhaj : juz 3 hal 30 / Kitabu Al Jana'izi / At Ta'ziyyah Li Ahli Al Mayyiti Sunnatun / Al Mabitu Bi Al Maqbaroti / Karya Imam Ar Ramliy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri - Beirut, Cetakan Terakhir, Th. 1404 H = 1984 M].


*🌴🎙️• Syaikh Al Khathib Asy Syarbiniy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya " Mughniy Al Muhtaj " mengatakan :*

( وَيُكْرَهُ دَفْنُهُ فِي تَابُوتٍ ) بِالإِجْمَاعِ ; لأَنَّهُ بِدْعَةٌ ( إلا فِي أَرْضٍ نَدْيَةٍ أَوْ رِخْوَةٍ ) فَلا يُكْرَهُ لِلْمَصْلَحَةِ وَلا تُنَفَّذُ وَصِيَّتُهُ بِهِ إلا فِي هَذِهِ الْحَالَةِ , وَمِثْلُ ذَلِكَ مَا إذَا كَانَ فِي الْمَيِّتِ تَهْرِيَةٌ بِحَرِيقٍ بِحَيْثُ لا يَضْبُطُهُ إلا التَّابُوتُ اهـ .
[انظر كتاب مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج : ج ٢ ص ٥٣ - ٥٤ / كتاب الجنائز / فصل في دفن الميت وما يتعلق به / للإمام شمس الدين، محمد بن أحمد الخطيب الشربيني الشافعي (المتوفى: ٩٧٧ هـ) الناشر: دار الكتب العلمية الطبعة: الأولى، ١٤١٥ هـ = ١٩٩٤ مـ].

“Dilarang (makruh)  mengubur mayit dengan peti dengan kesepakatan ulama. Karena ini adalah perbuatan bid’ah, kecuali di tanah lembek atau berlumpur. Dalam kondisi ini tidak dilarang karena ada maslahat. Wasiat untuk mengubur dengan peti tidak boleh ditunaikan, kecuali untuk keadaan tanah tersebut. Keadaan yang sama adalah ketika jasad mayit rusak karena terbakar, sehingga jasadnya tidak bisa dibungkus kecuali dengan peti.”
[Lihat Kitab Mughni Al-Muhtaj Ila Ma'rifati Ma'aniy Alfadzi Al Minhaj : juz 2 hal 53 - 54 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun : Fi Dafni Al Mayyiti Wa Ma Yata'allaqu Bihi / Karya Syaikh Al Khathib Asy Syarbiniy Asy Syafi'iy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah, Cet. Pertama, Th. 1415 H = 1994 M].


*🌴✍️• Tersebut dalam kitab Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah keluaran Kementrian Urusan Wakaf Dan Islam Negara Kuwait :*

الدَّفْنُ فِي التَّابُوتِ:

١٤ - يُكْرَهُ دَفْنُ الْمَيِّتِ فِي تَابُوتٍ بِالإِْجْمَاعِ؛ لأَِنَّهُ بِدْعَةٌ، وَلاَ تُنَفَّذُ وَصِيَّتُهُ بِذَلِكَ، وَلاَ يُكْرَهُ لِلْمَصْلَحَةِ، وَمِنْهَا الْمَيِّتُ الْمُحْتَرِقُ إِذَا دَعَتِ الْحَاجَةُ إِلَى ذَلِكَ.اهـ .
[انظر كتاب الموسوعة الفقهية الكويتية : ج ٢ ص ١١٩ / حرف الألف / إحراق / الدفن في التابوت / صادر عن: وزارة الأوقاف والشئون الإسلامية - الكويت عدد الأجزاء: ٤٥ جزءا الطبعة: (من ١٤٠٤ - ١٤٢٧ هـ) ..الأجزاء ١ - ٢٣ : الطبعة الثانية، دارالسلاسل - الكويت، بدون السنة].

Mengubur Dalam Peti

14- MAKRUH (dilarang) mengubur mayyit didalam peti karena hal itu bid'ah, dan washiyat mayyit (untuk dikubur dalam  peti) tidak boleh ditunaikan, dan tidak makruh ketika untuk kemaslahatan, dan termasuk darinya (boleh dikubur menggunakan peti)  mayyit yang mati karena terbakar ketika  menuntut kebutuhan pada hal tersebut.
[Lihat Kitab Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah : juz 2 hal 119 / Harfu Al Alifi / Ihraqun / Ad Dafnu Fi At Tabuti / Keluaran Kementerian Urusan Wakaf Dan Islam Negara Kuwait. Jumlah : 45 Juz. Dicetak Mulai Tahun : 1404 - 1427 H. Juz 1 - 23, Cet. Kedua, Oleh Dar As Salasil - Kuwait , Tnp. Tahun].


*🌴💾• Tersebut dalam Kitab " Tuhfatu Al Muhtaj Fi Syarhi Al Minhaj karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy Al Makkiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala :*

(يُكْرَهُ دَفْنُهُ فِي التَّابُوْتِ) إِجْمَاعًا لِأَنَّهُ بِدْعَةٌ (إِلاَّ لِعُذْرٍ) كَكَوْنِ الدَّفْنِ فِيْ أَرْضٍ نَدِيَةٍ بِتَخْفِيْفِ التَّحْتِيَّةِ أَوْ رَخْوَةٍ بِكَسْرِ أَوَّلِهِ أَوْ فَتْحِهِ أَوْ بِهَا سَبُعٌ تَحْفُرُ أَرْضَهَا وَاِنْ أُحْكِمَتْ أَوْ تَهَرَّى بِحَيْثُ لاَ يَضْبِطُهُ إِلاَّ التَّابُوْتُ أَوْ كَانَ اِمْرَأَةً لاَ مَحْرَمَ لَهَا فَلاَ يُكْرَهُ لِلْمَصْلَحَةِ بَلْ لاَ يَبْعُدُ وُجُوْبُهُ فِيْ مَسْأَلَةِ السِّبَاعِ اِنْ غَلَبَ وُجُوْدُهَا وَمَسْأَلَةِ التَّهَرِّيْ.
[انظر كتاب تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي : ج ٣ ص ١٩٤ / كتاب الجنائز / فصل في الدفن وما يتبعه / للإمام أحمد بن محمد بن علي بن حجر الهيتمي الشافعي (ولد وتوفى : ٩٠٩ - ٩٧٤ هـ) / الناشر: المكتبة التجارية الكبرى بمصر ، عام النشر: ١٣٥٧ هـ = ١٩٨٣ مـ].

“Sesuai kesepakatan ulama, dimakruhkan mengubur jenazah dalam peti, karena termasuk bid’ah, kecuali kalau ada uzur, seperti di tanah yang lembab atau gembur berair atau adanya binatang buas yang akan menggalinya walaupun sudah padat yang sekiranya tidak akan bisa terlindungi kecuali dengan dimasukkan dalam peti, atau jenazah wanita yang tidak punya mahram. Dalam hal ini maka tidak dimakruhkan menggunakan peti mati untuk kemaslahatan, bahkan bila diperkirakan adanya binatang buas, maka hukumnya menjadi wajib.”
[Lihat Kitab Tuhfatu Al Muhtaj Fi Syarhi Al Minhaj Wa Hawasyai Asy Syarwaniy Wa Al 'Ibadiy : juz 3 hal 194 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun : Fi Ad Dafni Wa Ma Yatba'uhu / Karya Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Asy Syafi'iy / Al Maktabah At Tijariyyah Al Kubro - Mesir, Cet. 1357 H = 1987 M].


*🌴💾• Tersebut dalam kitab " I‘anatut Thalibin Syarhu Fathu Al Mu'in " karya Syaikh Sayyid Al-Bakri Muhammad Syatha al-Dimyathiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala :*

وَكُرِهَ صُنْدُوْقٌ إِلاَّ لِنَحْوِ نَدَاوَةٍ فَيَجِبُهُ
[انظر كتاب إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين : ج ٢ ص ١٣٣ / باب الصلاة / للشيخ السيد أبو بكر (المشهور بالبكري) عثمان بن محمد شطا الدمياطي الشافعي (المتوفى: ١٣١٠ هـ) / الناشر: دار الفكر، الطبعة: الأولى، ١٤١٨ هـ = ١٩٩٧ مـ].

“Dimakruhkan mempergunakan peti mati kecuali semisal berada di tanah yang lembab berair, maka hukumnya wajib.”
[Lihat Kitab I‘anatut Thalibin Syarhu Fathu Al Mu'in : juz 2 hal 133 / Babu Ash Shalati / Karya Syaikh Sayyid Al-Bakri Muhammad Syatha al-Dimyathiy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri, Cet. Pertama, Th. 1418 H = 1997 M].


*2️⃣• 💾👌Hukum Dan Hikmah Membuka Tali Pocong Dan Menempelkan Pipi Mayyit Ketanah MENURUT MADZHAB IMAM ABU HANIFAH.*

*🌴🎙️• Imam Fakhruddin Az Zaila'iy Al Hanafiy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Tabyiinu Al Haqaiqi Syarhu Kanzu Ad Daqaiqi Wa Hasyiyyah Asy Syilbiy " mengatakan :*

 (وَتُحَلُّ الْعُقْدَةُ) «لِقَوْلِهِ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - لِسَمُرَةَ، وَقَدْ مَاتَ لَهُ ابْنٌ أَطْلِقْ عُقَدَ رَأْسِهِ، وَعُقَدَ رِجْلَيْهِ»؛ وَلِأَنَّهُ وَقَعَ الْأَمْنُ مِنْ الِانْتِشَارِ
[انظر كتاب تبيين الحقائق شرح كنز الدقائق وحاشية الشِّلْبِيِّ : ج ١ ص ٢٤٥ / كتاب الصلاة / باب الجنائز / كيفية صلاة الجنازة / للإمام عثمان بن علي بن محجن البارعي، فخر الدين الزيلعي الحنفي (المتوفى: ٧٤٣ هـ) الحاشية: شهاب الدين أحمد بن محمد بن أحمد بن يونس بن إسماعيل بن يونس الشِّلْبِيُّ (المتوفى: ١٠٢١ هـ) / الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية -  الطبعة: الأولى، ١٣١٣ هـ || وانظر كتاب مراقي الفلاح شرح متن نور الإيضاح : ص ٢٢٥ / كتاب الصلاة / باب أحكام الجنائز / فصل في حملها ودفنها / للإمام حسن بن عمار بن علي الشرنبلالي المصري الحنفي (المتوفى: ١٠٦٩ هـ) / الناشر: المكتبة العصرية الطبعة: الأولى، ١٤٢٥ هـ = ٢٠٠٥ مـ].

Dan dilepas ikatannya - karena berdasarkan sabda Nabi 'Alaihi Ash Shalatu Wa As Salamu- pada sahabat Samurah, bahwasannya anaknya telah meninggal : "  lepaskanlah ikatan kepalanya, dan ikatan kakinya."

Dan hal tersebut  sudah dijamin aman (mayyitnya didalam kubur) dari menyebar/meregang keluar (belum aman ketika masih dibawa dengan keranda).
[Lihat Kitab Tabyiinu Al Haqaiqi Syarhu Kanzu Ad Daqaiqi Wa Hasyiyyah Asy Syilbiy Dan Hasyiyyah Asy Syilbiy : juz 1 hal 245 / Kitabu Ash Shalati / Babu Al Jana'izi / Kaifiyyatu Shalati Al Janazati / Karya Imam Fakhruddin Az Zaila'iy Al Hanafiy / Al Mathba'ah Al Kubro Al Amiriyyah - Bulaq Kairo, Cet. Pertama, Th. 1313 H || Dan Lihat Kitab Maraqi Al Falah Syarhu Matni Nuuri Al Idhooh : hal 225 / Kitabu Ash Shalati / Babu Ahkami Al Jana'izi / Fashlun : Fi Hamliha Wa Dafniha / Karya Imam Hasan ibn `Ammar Abu-l-Ijlas Al- Surunbulaliy Al Hanafiy / Al Maktabah Al 'Ashriyyah, Cet. Pertama, Th. 1425 H = 2005 M].


 *🌴👌• Imam Ibnu 'Abidin Al Hanafiy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya Ad Durru Al Mukhtar Dan Hasyiyyah Ibnu 'Abidin (Raddu Al Muhtar) mengatakan :*

وَيَكُونُ التَّابُوتُ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ إذَا كَانَتْ الْأَرْضُ رَخْوَةً أَوْ نَدِيَّةً مَعَ كَوْنِ التَّابُوتِ فِي غَيْرِهَا مَكْرُوهًا فِي قَوْلِ الْعُلَمَاءِ قَاطِبَةً ...

وَيُكْرَهُ أَنْ يُوضَعَ تَحْتَ الْمَيِّتِ فِي الْقَبْرِ مِضْرَبَةٌ أَوْ مِخَدَّةٌ أَوْ حَصِيرٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ اهـ
[انظر كتاب الدر المختار وحاشية ابن عابدين (رد المحتار) : ج ٢ ص ٢٣٤ / كتاب الصلاة / باب صلاة الجنازة / مطلب في دفن الميت / للإمام ابن عابدين، محمد أمين بن عمر بن عبد العزيز عابدين الدمشقي الحنفي (المتوفى: ١٢٥٢ هـ) / الناشر: دار الفكر-بيروت الطبعة: الثانية، ١٤١٢ هـ = ١٩٩٢ مـ].

Dan adanya peti berasal dari uang pokok, ketika tanah  lembab atau gembur  berair, bersamaan dengan adanya peti  pada selain keadaan itu, maka makruh hukumnya, menurut pendapat Ulama' tanpa terkecuali ...

Dan makruh meletakkan dibawah mayyit didalam kubur semacam selimut, bantal, tikar, atau semacamnya.
[Lihat Kitab Ad Durru Al Mukhtar Dan Hasyiyyah Ibnu 'Abidin (Raddu Al Muhtar) : juz 2 hal 234 / Kitabu Ash Shalati / Babu Shalati Al Janazati / Mathlubun : Fi Dafni Al Mayyiti / Karya Imam Ibnu 'Abidin Al Hanafiy / Dar Al Fikri - Beirut, Cet. Kedua, Th. 1412 H = 1992 M].


*3️⃣• 💾👌Hukum Dan Hikmah Membuka Tali Pocong Dan Menempelkan Pipi Mayyit Ketanah MENURUT MADZHAB IMAM MALIK BIN ANAS AL ASHBAHIY AL MADANIY.

*🌴🎙️• Syaikh Muhammad Ali bin Husain Al-makki Al-malikiy dalam kitabnya " Inarotu Ad Duja Syarhu Nadzom Safinatu An Najah " mengatakan :*

أي الايمان بعد ازالة الكفن عنه ( على التراب ندب ) اي يسن ان يفضى بخده الى الارض او الى نحو اللبنة .
[انظر كتاب انارة الدجى شرح تنوير الحجا نظم سفينة النجا : ص ١٥٨ / للشيخ محمد على بن حسين المكى المالكى / الطبعة الهداية سورابايا].

Dan merupakan perkara sunnah yaitu meletakkan pelipis kanan mayyit (setelah di bukanya kain kafan penutupnya) di atas tanah atau diatas semacam gumpalan tanah.
[Lihat Kitab Inarotu Ad Duja Syarhu Nadzom Safinatu An Najah : hal 158. Karya  Syaikh Muhammad Ali bin Husain Al-makki Al-maliki, Cet. Al Hidayah Surabaya].


*🌴✍️• Imam Al Kharasyiy Al Malikiy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Syarhu Mukhtasar Khalil " mengatakan :*

وَتُحَلُّ عُقَدُ كَفَنِهِ، وَتُمَدُّ يَدُهُ الْيُمْنَى عَلَى جَسَدِهِ، وَيُعْدَلُ رَأْسُهُ بِالتُّرَابِ وَرِجْلَاهُ بِرِفْقٍ، وَيُجْعَلُ التُّرَابُ خَلْفَهُ وَأَمَامَهُ؛ لِئَلَّا يَنْقَلِبَ، فَإِنْ لَمْ يُتَمَكَّنْ مِنْ جَعْلِهِ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ، فَعَلَى ظَهْرِهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ بِوَجْهِهِ، فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَعَلَى حَسَبِ الْإِمْكَانِ.
[انظر كتاب شرح مختصر خليل : ج ٢ ص ١٣٠ / باب الوقت المختار / فصل صلاة الجنازة / للإمام محمد بن عبد الله الخرشي المالكي أبو عبد الله (المتوفى: ١١٠١ هـ) ) الناشر: دار الفكر للطباعة - بيروت، بدون السنة].

Simpul kain kafannya dilonggarkan, tangan sebelah kanannya diulur di tubuhnya, kepalanya diluruskan dengan debu, dan juga kedua kakinya dengan lembut, dan menjadikan tanah dibelakangnya dan didepannya agar
jangan sampai ia terbalik, jika tidak dimungkinkan untuk meletakkannya di sisi kanan, maka ia direbahkan pada  punggungnya dengan wajah menghadap arah kiblat, lalu jika hal itu tidak mungkin dilakukan, maka menurut yang mungkin bisa dilakukan (seperti bisanya diletakkan disisi kiri, dll).
[Lihat Kitab Syarhu Mukhtasar Khalil : juz 2 hal 130 / Babu Waqti Al Mukhtari / Fashlun : Shalatu Al Janazati / Karya Imam Muhammad Al Kharasyiy Al Malikiy / Dar Al Fikri - Beirut, Tnp. Tahun].


*📓✍️• Tersebut dalam kitab Mawahibu Al Jalil Syarhu Mukhtasar Khalil karya Imam Al Hathab Ar Ru'ainiy Al Malikiy rahimahullAhu ta'ala :*

 فَلَا يُجْعَلُ عَلَى ظَاهِرِ كَفَنِهِ حَنُوطًا ثُمَّ يُشَدُّ الثَّوْبُ عِنْدَ رَأْسِهِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ فَإِذَا أَلْحَدْته فِي الْقَبْرِ حَلَلْته،
[انظر كتاب مواهب الجليل في شرح مختصر خليل : ج ٢ ص ٢٢٥ / كتاب الجنائز / مسائل متعلقة بالغسل والدفن والصلاة / فرع أوصى بأن لا يزاد على ثوب فزاد بعض الورثة آخر / للإمام شمس الدين أبو عبد الله محمد بن محمد بن عبد الرحمن الطرابلسي المغربي، المعروف بالحطاب الرُّعيني المالكي (المتوفى: ٩٥٤ هـ) / الناشر: دار الفكر الطبعة: الثالثة، ١٤١٢ هـ = ١٩٩٢ مـ].

Dan tidak membubuhi minyak pada kafan bagian luar mayyit, lalu mengikat kafan diatas kepala (pocong) mayyit, dan pada kedua kaki mayyit, kemudian ketika anda  meletakkan mayyit di liang lahadnya dalam kubur, maka anda  lepaskanlah (ikatan pocong dan ikatan kakinya).
[Lihat Kitab Mawahibu Al Jalil Syarhu Mukhtasar Khalil : juz 2 hal 225 / Kitabu Al Jana'izi / Masa'ilun Muta'aliqatun Bilghusli Waddafni Washshalati / Far'un : Ausho Bi An La Yuzadu 'Ala Tsaubin Fazaada Ba'dhu Al Waratsati Aakhoro / Karya Imam Al Hathab Ar Ru'ainiy Al Malikiy / Dar Al Fikri, Cet. Ketiga, Th. 1412 H = 1992 M].
 

*🌴🎙️• Imam Ibnu 'Irfah Ad Dasuqiy Al Malikiy rahimahullAhu ta'ala dalam kitab hasyiyyahnya mengatakan :*

وَسُنَّ التُّرَابُ) بِبَابِ اللَّحْدِ عِنْدَ عَدَمِ مَا تَقَدَّمَ (أَوْلَى مِنْ) دَفْنِهِ فِي (التَّابُوتِ) لِأَنَّهُ مِنْ زِيِّ النَّصَارَى وَكُرِهَ فُرُشٌ مُضْرَبَةٌ مَثَلًا تَحْتَهُ وَمِخَدَّةٌ تَحْتَ رَأْسِهِ ...

قَوْلُهُ (كَحَجَرٍ أَوْ خَشَبَةٍ) يُوضَعُ عَلَى الْقَبْرِ (بِلَا نَقْشٍ) لِاسْمِهِ أَوْ تَارِيخِ مَوْتِهِ وَإِلَّا كُرِهَ وَإِنْ بُوهِيَ بِهِ حُرِّمَ، ...
[انظر كتاب الشرح الكبير للشيخ الدردير وحاشية الدسوقي : ج ١ ص ٤١٩ و ٤٢٥ / باب في بيان أوقات الصلاة وما يتعلق بذلك من الأحكام / فصل أحكام الموتى / مندوبات تتعلق بالدفن | من لا يجب تغسيلهم / للإمام محمد بن أحمد بن عرفة الدسوقي المالكي (المتوفى: ١٢٣٠ هـ) / الناشر: دار الفكر - بدون السنة].

Disunnahkan menutup pintu liang lahad dengan tanah, ketika perkara yang telah disebutkan diatas tidak diketemukan, itu lebih utama dibandingkan menguburnya dengan tabut (peti) karena hal itu termasuk kostum (model) orang nashrani, dan dimakruhkan menghamparkan permadani dibawah mayyit umpamanya, atau memasang bantal dibawah kepala mayyit ...

Ungkapannya : seperti memasang batu atau kayu yang ditaruh diatas kuburan dengan tanpa mengukir nama mayyit atau tanggal meninggalnya mayyit, dan jika tidak demikian maka dimakruhkan, dan apabila untuk berbangga - bangga dengan itu, maka diharamkan.
[Lihat Kitab Asy Syarhu Al Kabir Lisysyaikh Ad Dardir Wa Hasyiyyah Ad Dasuqiy : juz 1 hal 419 & 425 / Babu Fi Bayani Auqati Wa Ma Yata'allaqu Bidzalika Min Al Ahkami / Fashlun : Ahkamu Mauta / Mandubatu Tata'alaqu Biddafni (hal 419) | Man La Yajibu Taghsiluhum (hal 425) / Karya Imam Ibnu 'Irfah Ad Dasuqiy Al Malikiy / Dar Al Fikri - Tnp. Tahun].


*📒🎙️• Imam Ash Showiy Al Malikiy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Hasyiyyah Ash Shawiy 'Ala Asy-Syarhi Ash Shaghir = Bulghatu As Salik LIaqrabi Al Masaliki " mengatakan :*

(فَسُنَّ التُّرَابُ) بِبَابِ اللَّحْدِ، وَيَنْبَغِي أَنْ يُلَتَّ بِالْمَاءِ لِيَتَمَاسَكَ (أَوْلَى) عِنْدَ الْعُلَمَاءِ (مِنْ) دَفْنِهِ فِي (التَّابُوتِ) أَيْ السِّحْلِيَّةِ تُجْعَلُ كَالصُّنْدُوقِ يَدْفِنُ فِيهَا النَّصَّارِي أَمْوَاتَهُمْ وَهُوَ مِنْ سُنَّتِهِمْ.
[انظر كتاب حاشية الصاوي على الشرح الصغير = بلغة السالك لأقرب المسالك : ج ١ ص ٥٥٩ / باب الصلاة / فصل في الجنائز / الدفن باللحد والشق / للإمام أبو العباس أحمد بن محمد الخلوتي، الشهير بالصاوي المالكي (المتوفى: ١٢٤١ هـ) / الناشر: دار المعارف - بدون السنة].

Disunnahkan menutup pintu liang lahad dengan tanah, dan seyogyanya jika dicampur dengan sedikit air kemudian diaduk supaya saling merekat itu LEBIH UTAMA menurut para ulama' dibandingkan menguburkannya dengan menggunakan tabut (peti) yakni batang pohon yang dihaluskan yang dibuat semacam kotak yang mana orang nashrani menguburkan orang - orang yang mati dari kaum mereka didalamnya, dan itu menjadi tuntunan mereka.
[Lihat Kitab Hasyiyyah Ash Shawiy 'Ala Asy-Syarhi Ash Shaghir = Bulghatu As Salik LIaqrabi Al Masaliki : juz 1 hal 559 / Babu Ash Shalati / Fashlun : Fi Al Jana'izi / Ad Dafnu Billahdi Wasyiqqi / Karya Imam Ash Showiy Al Malikiy / Dar Al Ma'arif - Tnp. Tahun].
 

*4️⃣• 💾👌Hukum Dan Hikmah Disunnahkan ya Membuka Tali Pocong Dan Menempelkan Pipi Mayyit Ketanah Dan Makruh Mutlak Mengubur Dengan Peti Dan Makruh Menaruh Bantal Selimut Atau Semacamnya Didalam Kubur Bersama Mayyit   MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL.*

*🌴🎙️• Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy rahimahullAhu ta'ala  dalam kitabnya " Al Mughniy " mengatakan:*

وَأَمَّا حَلُّ الْعُقَدِ مِنْ عِنْدِ رَأْسِهِ وَرِجْلَيْهِ، فَمُسْتَحَبٌّ؛ لِأَنَّ عَقْدَهَا كَانَ لِلْخَوْفِ مِنْ انْتِشَارِهَا، وَقَدْ أُمِنَ ذَلِكَ بِدَفْنِهِ، وَقَدْ رُوِيَ «أَنَّ النَّبِيَّ –ﷺ💞– لَمَّا أَدْخَلَ نُعَيْمَ بْنَ مَسْعُودٍ الْأَشْجَعِيَّ الْقَبْرَ نَزَعَ الْأَخِلَّةَ بِفِيهِ.
[انظر كتاب المغني : ج ٢ ص ٣٧٥ /  كتاب الجنائز / مسألة أولى الناس بإدخال المرأة قبرها / فصل أولى الناس بدفن الرجل أولاهم بالصلاة عليه / للإمام أبو محمد موفق الدين عبد الله بن أحمد بن محمد بن قدامة الجماعيلي المقدسي ثم الدمشقي الحنبلي، الشهير بابن قدامة المقدسي (المتوفى: ٦٢٠ هـ) / الناشر: مكتبة القاهرة - بدون السنة].

“Adapun melepas tali pocong di kepala dan kaki, hukumnya mustahab (dianjurkan). Karena tujuan mengikat kain kafan adalah agar tidak tercecer, dan hal ini sudah tidak dikhawatirkan lagi ketika mayit sudah dimasukan ke liang kubur.
[Lihat Kitab Al Mughniy : juz 2 hal 375 / Kitabu Al Jana'izi / Mas'alatun: Aula An Naasi Biidkholi Al Mar'ati Qabroha / Fashlun : Aula An Naasi Biddafni Ar Rojuli Aulahum Bishshalati 'Alaihi / Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy / Maktabah Al Qohiroh - Tnp. Tahun].


*✍️🎙️• وقد استدل البهوتي في كشاف القناع والرحيباني في مطالب أولي النهى لحل العقد بما روى الأثرم عن ابن مسعود قال:

*"إذا أدخلتم الميت اللحد فحلو العقد."*

*📓✍️• Para ulama Hanabilah (pengikut Imam Ahmad) seperti Imam Manshur Al Buhutiy Al Hanbaliy dan Imam Ar Rahaibaniy Al Hanbaliy  mengambil dalil tentang dianjurkannya melepas ikatan (pocong dan kaki mayyit setelah dimasukkan kedalam liang kubur) dengan riwayat Atsar dari Al Atsram dari perkataan Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyyAllahu ’anhu, beliau mengatakan :*

إذا أدخلتم الميت اللحد فحلو العقد

*“Jika kalian telah  memasukan mayyit keliang lahad (kubur),  maka lepaskanlah ikatannya.”*
[Atsar Riwayat Abu Bakar Al Atsram Dari Sahabat Ibnu Mas'ud RadhiyyAllahu 'Anhu, Dinukil Dari Kitab Kasyfu Al Qana Karya Imam Manshur Al Buhutiy Al Hanbaliy & Kitab Mathlabu Uli An Nuha Karya Imam Ar Rahaibaniy Al Hanbaliy].


*✍️🎙️• Syaikh Sayyid Sabiq hafidzhullahu ta'ala dalam kitabnya " Fiqhu As Sunnah " mengatakan :*

واستحب العلماء ان يوسد راس الميت بلبنة او حجر او تراب , ويفضى بخده الايمن الى اللبنة ونحوها , بعد ان ينحى الكفن عن خده . قال عمر: اذا انزلتموني الى اللحد فافضوا بخدي الى التراب. واوصى الضحاك أن تحل عنه العقد ويبرز خده من الكفن. واستحبوا ان يوضع شيئ خلفه من لبن او تراب يسنده . ( كتاب فقه السنة : ج ١ ص ٥٤٦ / الجنائز / الدفن / للشيخ سيد سابق (المتوفى: ١٤٢٠ هـ) / الناشر: دار الكتاب العربي، بيروت - لبنان الطبعة: الثالثة، ١٣٩٧ هـ = ١٩٧٧ مـ]

Membuka kain kafan kepala, kemudian meletakkan pelipis kanan menempel pada bantalan atau langsung menyentuh tanah, kemudian memberikan bantalan di kepala merupakan perkara yg dianggap sunnah / mustahab oleh mayoritas Ulama’.
Telah berkata Saiyyida Umar Bin Khottob : “ apa bila kalian menguburkanku, ketika telah menurunkan aku di liang lahat, maka tempelkan pelipisku ke tanah”.
Imam Ad-dhohak juga telah berwasiat agar ketika dirinya di kubur, tali tali kafannya di lepaskan dan pipi kanannya di buka dengan membuka kain kafan yg menutupi pelipisnya.
[Lihat Kitab Fiqhu As Sunnah : Juz 1 hal 546 / Al Jana'izu / Ad Dafnu / Karya Syaikh  Sayyid Sabiq / Dar Al Kitab Al 'Arabiy - Beirut Libanon, Cet. Ketiga, Th. 1397 H = 1977 M].


*💾✍️• Adapun mengubur mayyit dengan peti ulama' madzhab berbeda pendapat seperti dituturkan oleh Imam 'Abdurrahman Al Jaziriy dalam kitabnya " Al Fiqhu 'Ala Madzahibi Al Arba'ah " sebagai berikut:*

الحنابلة قالوا: إن وضع الميت في صندوق ونحوه مكروه مطلقاً.

المالكية قالوا: إن دفن الميت في التابوت - الصندوق ونحوه خلاف الأولى
[انظر كتاب الفقه على مذاهب الاربعة : ج ١ ص ٤٨٦ / كتاب الصلاة / مباحث الجنائز / مباحث مختلفة / حكم دفن الميت، وما يتعلق به / للإمام عبد الرحمن بن محمد عوض الجزيري (المتوفى: ١٣٦٠ هـ) الناشر: / دار الكتب العلمية، بيروت - لبنان الطبعة: الثانية، ١٤٢٤ هـ = ٢٠٠٣ مـ].

Al Hanabillah (pengikut Imam Ahmad bin Hanbal), mereka mengatakan : jikalau mayyit diletakkan didalam peti atau semacamnya hukumnya makruh secara mutlak (tanpa terkecuali).

Al Malikiyyah (pengikut Imam Malik), mereka mengatakan : ketika mayyit dikubur didalam peti - kotak/kopor dan semacamnya hukumnya menyelisihi keutamaan.
[Lihat Kitab Al Fiqhu 'Ala Madzahibi Al Arba'ah : juz 1 hal 486 / Kitabu Ash Shalati / Mubahatsu Al Jana'izi / Mubahatsu Mukhtalifatun / Hukmu Dafni Al Mayyiti Wa Ma Yata'allaqu Bihi / Karya Imam 'Abdurrahman Al Jaziriy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah - Beirut Libanon, Cet. Kedua, Th. 1424 H = 2003 M].


*🌴✍️• Imam Ibnu 'Abidin Al Hanafiy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Raddu Al Muhtar " mengatakan :*

( وَلَا بَأْسَ بِاِتِّخَاذِ تَابُوتٍ ) وَلَوْ مِنْ حَجَرٍ أَوْ حَدِيدٍ ( لَهُ عِنْدَ الْحَاجَةِ ) كَرَخَاوَةِ الْأَرْضِ
[انظر كتاب الدر المختار وحاشية ابن عابدين (رد المحتار) : ج ٢ ص ٢٣٤ / كتاب الصلاة / باب صلاة الجنازة / مطلب في دفن الميت / للإمام ابن عابدين، محمد أمين بن عمر بن عبد العزيز عابدين الدمشقي الحنفي (المتوفى: ١٢٥٢ هـ) / الناشر: دار الفكر - بيروت الطبعة: الثانية، ١٤١٢ هـ = ١٩٩٢ مـ].

Tidak mengapa menggunakan tabut (kotak, kopor, peti) untuk mengubur mayyit walaupun dibuat dari besi atau batu, ketika ada hajat kebutuhan karena kondisi tanahnya yang lembek.
[Lihat Kitab Ad Durru Al Mukhtar Wa Hasyiyyah Ibnu 'Abidin (Raddu Al Muhtar) : juz 2 hal 234 / Kitabu Ash Shalati / Babu Shalati Al Janazati / Mathlabun : Fi Dafni Al Mayyiti / Karya Imam Ibnu 'Abidin Ad Dimsyaqiy Al Hanafiy / Dar Al Fikri - Beirut Libanon, Cet. Kedua, Th. 1412 H = 1992 M].
 

*📓👌• Tersebut dalam kitab " Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah "  keluaran Kementrian Urusan Wakaf Dan Islam Negara Kuwait :*

وَفَرَّقَ الْحَنَفِيَّةُ بَيْنَ الرَّجُل وَالْمَرْأَةِ، فَقَالُوا: لاَ بَأْسَ بِاتِّخَاذِ التَّابُوتِ لَهَا مُطْلَقًا؛ لأَِنَّهُ أَقْرَبُ إِلَى السِّتْرِ، وَالتَّحَرُّزِ عَنْ مَسِّهَا عِنْدَ الْوَضْعِ فِي الْقَبْرِ
[انظر كتاب الموسوعة الفقهية الكويتية : ج ٢١ ص ١٦ / حرف الدال / دفن / اتخاذ التابوت / صادر عن: وزارة الأوقاف والشئون الإسلامية - الكويت عدد الأجزاء: ٤٥ جزءا، الطبعة: : (من ١٤٠٤ - ١٤٢٧ هـ)، الأجزاء : ١ - ٢٣ : الطبعة الثانية، دارالسلاسل - الكويت، بدون السنة].

Dan Al Hanafiyyah membedakan antara mayyit laki-laki dan mayyit perempuan, mereka mengatakan : tidak mengapa menggunakan peti bagi mayyit perempuan secara mutlak, karena hal tersebut membawa lebih dekat pada hal menutup (aurat) dan menjaga dari menjamahnya ketika meletakkan didalam kubur.
[Lihat Kitab Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah : juz 21 hal 16 / Harfu Ad Dali / Dafnun / Ittikhodzu At Tabuti / Keluaran Kementerian Urusan Wakaf Dan Islam Negara Kuwait. Jumlah 45 Juz. Mulai Dicetak : 1404 - 1427 H. Juz : 1 - 23, Dicetak Oleh Dar As Salasil - Kuwait, Tnp. Tahun].


*🌴🎙️• Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Al Mughniy " mengatakan :*

وَلا يُسْتَحَبُّ الدَّفْنُ فِي تَابُوتٍ ; لأَنَّهُ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ النَّبِيِّ –ﷺ💞– وَلا أَصْحَابِهِ , وَفِيهِ تَشَبُّهٌ بِأَهْلِ الدُّنْيَا , وَالأَرْضُ أَنْشَفُ لِفَضَلاتِهِ اهـ .
[انظر كتاب المغني : ج ٢ ص ٣٧٦ / كتاب الجنائز / مسألة لا يدخل القبر آجرا ولا خشبا ولا شيئا مسته النار / فصل إذا فرغ من اللحد أهال عليه التراب ويرفع القبر عن الأرض قدر شبر / للإمام أبو محمد موفق الدين عبد الله بن أحمد بن محمد بن قدامة الجماعيلي المقدسي ثم الدمشقي الحنبلي، الشهير بابن قدامة المقدسي (المتوفى: ٦٢٠ هـ) / الناشر: مكتبة القاهرة، تاريخ النشر: ١٣٨٨ هـ = ١٩٦٨ مـ].

“Tidak ada anjuran memakamkan mayyit dengan peti. Karena tidak ada riwayat dari Nabi –ﷺ💞–, tidak pula dari para sahabat. Disamping itu, perbuatan ini termasuk meniru kebiasaan ahluddunya  (orang sombong). Sementara tanah ini cukup kering untuk menampung jenazahnya.
[Lihat Kitab Al-Mughniy : juz 2 hal 376 / Kitabu Al Jana'izi / Mas'alatun : La Yudkholu Al Qabro Aajiran Wa La Khosyaban Wa La Syaian Masathu An Naaru / Fashlun : Idza Farogho Min Al Lahdi Ahaala 'Alaihi At Turobu Wa Yurfa'u Al Qobru 'An Al Ardhi Qodro Syibrin / Karya Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy / Maktabah Al Qahirah, Th. 1388 H = 1968 M].


*📒🎙️• Imam Al Murdawiy Al Hanbaliy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Al Inshaf Fi Ma'rifati Ar Rajih Min Al Khilafi " mengatakan :*

يُكْرَهُ الدَّفْنُ فِي تَابُوتٍ , وَلَوْ كَانَ الْمَيِّتُ امْرَأَةً نَصَّ عَلَيْهِ (الإمام أحمد).

زَادَ بَعْضُهُمْ: وَيُكْرَهُ فِي حَجَرٍ مَنْقُوشٍ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: أَوْ يُجْعَلُ فِيهِ حَدِيدٌ، وَلَوْ كَانَتْ الْأَرْضُ رِخْوَةً أَوْ نَدِيَّةً. اهـ .
[انظر كتاب الإنصاف في معرفة الراجح من الخلاف : ج ٢ ص ٥٤٦ / كتاب الصلاة / كتاب الجنائز / للإمام علاء الدين أبو الحسن علي بن سليمان المرداوي الدمشقي الصالحي الحنبلي (المتوفى: ٨٨٥ هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي الطبعة: الثانية - بدون تاريخ].

" Dilarang mengubur dengan peti. Meskipun mayyitnya seorang wanita." (Nash Imam Ahmad atas pendapat ini).

Sebagian mereka menambahkan : Dan makruh (dilarang) mengubur mayyit dengan batu yang dipahat, atau peti besi yang diletakkan didalam kubur, sekalipun tanah kuburannya lembek atau berlumpur.
[Lihat Kitab Al-Inshaf Fi Ma'rifati Ar Rajih Min Al Khilafi : juz 2 hal 546 / Kitabu Ash Shalati / Kitabu Al Jana'izi / Karya Imam 'Alauddin Al Murdawiy Al Hanbaliy / Dar At Turats Al 'Arabiy, Cet. Kedua, Tnp. Tahun].


*💾✍️• Imam 'Abdurrahman Al Jaziriy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Al Fiqhu 'Ala Madzahibi Al Arba'ah " menjelaskan :*

ويستحب ان يسند رأس الميت ورجلاه بسيئ من التراب او اللبن في قبره.

ويكره أن يوضع الميت في صندوق إلا لحاجة، كنداوة الأرض ورخاوتها، كما يكره وضع وسادة أو فراش أو نحو ذلك معه في قبر - باتفاق الحنفية؛ والشافعية؛ أما المالكية؛ والحنابلة،

الحنابلة قالوا: إن وضع الميت في صندوق ونحوه مكروه مطلقاً.
المالكية قالوا: إن دفن الميت في التابوت - الصندوق ونحوه خلاف الأولى
[انظر كتاب الفقه على مذاهب الاربعة : ج ١ ص ٤٨٦ / كتاب الصلاة مباحث الجنائز / مباحث مختلفة / حكم دفن الميت، وما يتعلق به / للإمام عبد الرحمن بن محمد عوض الجزيري (المتوفى: ١٣٦٠ هـ) الناشر: / دار الكتب العلمية، بيروت - لبنان الطبعة: الثانية، ١٤٢٤ هـ = ٢٠٠٣ مـ].

Dan dianjurkan meletakkan bantalan di bawah kepala atau menyandarkan kepala pada sesuatu dari pada bata atau tanah.

Dan makruh (dilarang) meletakkan mayyit didalam peti kecuali karena ada hajat kebutuhan, seperti karena kondisi tanahnya berlumpur dan lembek. Seperti dilarangnya menaruh bantal, selimut, atau semacamnya bersama mayyit didalam kubur -- dengan kesepakatan Al Hanafiyyah (pengikut Imam Abu Hanifah), Asy Syafi'iyyah (pengikut Imam Syafi'iy).

Adapun Al Hanabillah (pengikut Imam Ahmad bin Hanbal), mereka mengatakan : jikalau mayyit diletakkan didalam peti atau semacamnya hukumnya makruh secara mutlak (tanpa terkecuali).

Al Malikiyyah (pengikut Imam Malik), mereka mengatakan : ketika mayyit dikubur didalam peti - kotak/kopor dan semacamnya hukumnya menyelisihi keutamaan.
[Lihat Kitab Al Fiqhu 'Ala Madzahibi Al Arba'ah : juz 1 hal 486 / Kitabu Ash Shalati / Mubahatsu Al Jana'izi / Mubahatsu Mukhtalifatun / Hukmu Dafni Al Mayyiti Wa Ma Yata'allaqu Bihi / Karya Imam 'Abdurrahman Al Jaziriy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah - Beirut Libanon, Cet. Kedua, Th. 1424 H = 2003 M].


*💾🌴• Syaikh DR. Wahbah bin Musthafa Az Zuhailiy dalam kitabnya " Al Fiqhu Al Islamiy Wa Adillatuhu " mengatakan :*

ويجعل ما عند رأس الميت من فاضل الكفن أكثر مما عند رجليه لشرفه، ولأنه أحق بالستر. ويجعل الفاضل عن وجهه ورجليه عليهما، ليصير الكفن كالكيس فلا ينتشر، ثم تعقد اللفائف إن خف انتشارها، ثم تحل العُقَد في القبر؛ لقول ابن مسعود: «إذا أدخلتم الميت اللحد، فحلوا العُقَد
[انظر كتاب الفقه الإسلامي و أدلته : ج ٢ ص ٥٠٥ / القسم الأول: العبادات / الباب الثاني: الصلاة / الفصل العاشر: أنواع الصلاة / المبحث الثامن ـ صلاة الجنازة، وأحكام الجنائز والشهداء والقبور / المطلب الثاني ـ حقوق الميت /  الفرض الثاني ـ تكفين الميت ثالثا - ما يندب في الأكفان / للشيخ الدكتور وَهْبَة بن مصطفى الزُّحَيْلِيّ، أستاذ ورئيس قسم الفقه الإسلامي بجامعة دمشق - كلّيَّة الشَّريعة / الناشر: دار الفكر - سوريَّة - دمشق الطبعة: الرَّابعة - بدون السنة].

Dan dibuat diatas kepala mayyit lebih panjang dari sisa kain kafannya dibandingkan yang berada pada kedua kaki mayyit karena kemuliaan kepalanya, dan lebih berhak untuk ditutup. Dan sisa kafan dibuat dari  wajahnya dan pada  kedua kakinya, supaya kafan menjadi layak gelas, maka isinya tidak akan tercecer (mbrojol : Jawa), kemudian diikat lapisan-lapisan kafannya jikalau ditakutkan tercecernya mayyit (ketika dibawa), lalu DILEPAS IKATANNYA KETIKAH SUDAH DILETAKKAN DALAM LIANG KUBURNYA, berdasarkan perkataan Sahabat Ibnu Mas'ud RadhiyyAllahu 'Anhu :

*"Ketika kalian telah memasukkan mayyit kedalam liang lahad (kubur), maka kalian lepaskanlah ikatannya."*
[Lihat Kitab Al Fiqhu Al Islamiy Wa Adillatuhu : juz 2 hal 505 / Al Qasmu Al Awwalu : Al 'Ibadatu / Al Babu Ats Tsaniy : Ash Shalatu / Al Fashlu Al 'Asyiru : Anwaa'u Ash Shalati / Al Mabhatsu Ats Tsaminu : ShaMathlabu Janazati, Ahkamu Al Jana'izi, Wa Asy Syuhada', Wa Al Quburu / Al Mathlabu Ats Tsaniy : Huququ Al Mayyiti / Al Fardhu Ats Tsaniy : Takfinu Al Mayyiti - Tsalitsan : Ma Yundabu Fi Al Akfaani / Karya Syaikh DR. Wahbah Bin Musthafa Az Zuhailiy / Dar Al Fikri - Suriah Damasykus, Tnp. Tahun].


*5️⃣• 🌴 MENURUT RIWAYAT MADZHAB ROFIDHI (SYI'AH) Sunnah Melepas Ikatan Tali Pocong  Dan Menempelkan Pipi Mayyit Ketanah.*

Dalam kitab mereka " Wasa'ilu Asy Syi'ah " disebutkan beberapa riwayat menurut versi mereka yang diantara redaksinya adalah :

📓🌴«1147» 19- بَابُ اسْتِحْبَابِ حَلِّ عُقَدِ الْكَفَنِ وَ أَنْ يُجْعَلَ لَهُ وِسَادَةٌ مِنْ تُرَابٍ وَ يُجْعَلَ خَلْفَ ظَهْرِهِ مَدَرَةٌ وَ كَشْفِ وَجْهِهِ وَ إِلْصَاقِ خَدِّهِ بِالْأَرْضِ‌

✍️3322- 1- مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بِإِسْنَادِهِ عَنِ الْحَسَنِ بْنِ مَحْبُوبٍ عَنْ أَبِي حَمْزَةَ قَالَ: قُلْتُ لِأَحَدِهِمَا ع يُحَلُّ كَفَنُ‌ الْمَيِّتِ ؟ قَالَ : نَعَمْ وَ يُبْرَزُ وَجْهُهُ.

"Aku bertanya kepada salahsatu dari mereka : Apakah kafan mayyit dilepas ? Salahsatunya menjawab : Ya. Dan ditampakkan wajahnya.

✍️3323- 2- وَ بِإِسْنَادِهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَنْ حَفْصِ بْنِ الْبَخْتَرِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ:

يُشَقُّ الْكَفَنُ إِذَا أُدْخِلَ الْمَيِّتُ فِي قَبْرِهِ مِنْ عِنْدِ رَأْسِهِ.

"Kafan dilepaskan ketika mayyit sudah dimasukan kedalam kuburnya pada ikatan bagian kepalanya."

✍️3324- 3- وَ بِإِسْنَادِهِ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ رَجُلٍ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع عَنْ عُقَدِ كَفَنِ الْمَيِّتِ فَقَالَ :

إِذَا أَدْخَلْتَهُ الْقَبْرَ فَحُلَّهَا.

"Ketika kamu telah memasukkannya kedalam kubur, maka lepaskanlah ikatannya."

✍️3325- 4- وَ عَنْهُ عَنِ الْحَسَنِ بْنِ مَحْبُوبٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِنَانٍ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَمَّارٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ:

إِذَا وَضَعْتَهُ فِي لَحْدِهِ‌ فَحُلَّ عُقَدَهُ‌ ... الْحَدِيثَ.

"Ketika kamu meletakkannya di liang  lahadnya maka lepaslah ikatannya .... Al Hadits."


*࿇༲࿆༫࿆࿂࿆༗ 🅑🅞🅛🅔🅗 🅜🅔🅝🅐🅝🅓🅐🅘 🅚🅤🅑🅤🅡🅐🅝 🅓🅔🅝🅖🅐🅝 🅑🅐🅣🅤 🅝🅘🅢🅐🅝 🅓🅐🅝 🅢🅔🅜🅐🅒🅐🅜🅝🅨🅐 🅣🅔🅟🅐🅣 🅓🅘🅐🅣🅐🅢 🅚🅔🅟🅐🅛🅐 🅚🅤🅑🅤🅡🅐🅝 🅜🅐🅨🅨🅘🅣 🅓🅐🅝 🅜🅐🅚🅡🅤🅗 🅜🅔🅝🅤🅛🅘🅢🅘 🅝🅐🅜🅐 🅐🅣🅐🅤 🅣🅐🅝🅖🅖🅐🅛 🅜🅔🅝🅘🅝🅖🅖🅐🅛🅝🅨🅐 🅜🅐🅨🅨🅘🅣.*

Telah umum dalam masyarakat kita terutama orang Jawa, meletakkan batu nisan atau tanda apa saja diatas kubur seseorang yang disitu dibubuhi tulisan nama dan tanggal berapa mayyit didalam kubur tersebut meninggal. Dalam hal ini Ulama' Madzhab berbeda pendapat.


*📓🌴• Imam 'Abdurrahman Al Jaziriy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Al Fiqhu 'Ala Madzahibi Al Arba'ah " menjelaskan :*

المالكية قالوا: الكتابة على القبر إن كانت قرآنا حرمت، وإن كانت لبيان اسمه، أو تاريخ موته، فهي مكروهة.

الحنفية قالوا: الكتابة على القبر مكروهة تحريماً مطلقاً، إلا إذا خيف ذهاب أثره فلا يكره.

الشافعية قَالُوا : الكتابة على القبر مكروهة، سواء كانت قرآنا أو غيره، إلا إذا كان قبر عالم أو صالح، فيندب كتابة اسمه، وما يميزه ليعرف.

الحنابلة قالوا: تكره الكتابة على القبور من غير تفصيل بين عالم وغيره.
[انظر كتاب الفقه على مذاهب الاربعة : ج ١ ص ٤٨٦ / كتاب الصلاة مباحث الجنائز / مباحث مختلفة / حكم دفن الميت، وما يتعلق به / للإمام عبد الرحمن بن محمد عوض الجزيري (المتوفى: ١٣٦٠ هـ) الناشر: / دار الكتب العلمية، بيروت - لبنان الطبعة: الثانية، ١٤٢٤ هـ = ٢٠٠٣ مـ].

Al Malikiyyah mengatakan : Menulis diatas pusara/kuburan apabila berbentuk tulisa ayat dari Al Qur'an hukumnya haram, dan apabila sekedar menjelaskan nama mayyit yang dikubur atau tanggal kapan ia meninggal, maka itu hukumnya makruh.

Al Hanafiyyah mengatakan : Menulis diatas kuburan seseorang hukumnya makruh TAHRIM (mendekati haram) secara mutlak, kecuali apabila ditakutkan hilang bekasnya, maka tidak makruh.

Asy Syafi'iyyah mengatakan : menulis diatas kuburan seseorang hukumnya makruh baik berupa tulisan ayat Al Qur'an ataupun yang lainnya, kecuali pusara orang 'Alim dan Shalih, maka disunnahkan menuliskan namanya, dan apa yang menjadi keistimewaannya, agar bisa dikenal.

Al Hanabillah menggatakan : dimakruhkan menulis kuburan seseorang tanpa dipisahkan antara orang yang 'Alim atau selainnya.
[Lihat Kitab Al Fiqhu 'Ala Madzahibi Al Arba'ah : juz 1 hal 486 / Kitabu Ash Shalati / Mubahatsu Al Jana'izi / Mubahatsu Mukhtalifatun / Hukmu Dafni Al Mayyiti Wa Ma Yata'allaqu Bihi / Karya Imam 'Abdurrahman Al Jaziriy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah - Beirut Libanon, Cet. Kedua, Th. 1424 H = 2003 M].


*📓🌴• Syaikh Sulaiman Al Bujairamiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya Tuhfatu Al Habib 'Ala Syarhi Al Khatib = Hasyiyyah Al Bujairamiy 'Ala Al Khathib mengatakan :*

وَتُكْرَهُ الْكِتَابَةُ عَلَيْهِ) أَيْ عَلَى الْقَبْرِ وَلَوْ لِقُرْآنٍ بِخِلَافِ كِتَابَةِ الْقُرْآنِ عَلَى الْكَفَنِ فَحَرَامٌ؛ لِأَنَّهُ يُعَرِّضُهُ لِلصَّدِيدِ
[انظر كتاب تحفة الحبيب على شرح الخطيب = حاشية البجيرمي على الخطيب : ج ٢ ص ٢٩٧ / كتاب الصلاة / فصل في الجنازة / للشيخ  سليمان بن محمد بن عمر
 البُجَيْرَمِيّ المصري الشافعي (المتوفى: ١٢٢١ هـ) / الناشر: دار الفكر الطبعة: بدون طبعة تاريخ النشر: ١٤١٥ هـ = ١٩٩٥ مـ].

“(Makruh menulis sesuatu di atasnya), yaitu di atas kuburan sekali pun berisi ayat Al-Qur’an. Tetapi menulis ayat Al-Qur’an pada kain kafan adalah haram karena pontensi terkena dengan cairan proses penguraian ‘jenazah’,”
[Lihat Kitab Tuhfatu Al Habib 'Ala Syarhi Al Khatib = Hasyiyyah Al Bujairamiy 'Ala Al Khathib : juz 2 hal 297 / Kitabu Ash Shalati / Fashlun: Fi Al Janazati / Karya Syaikh Sulaiman Al Bujairamiy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri, Th. 1415 H = 1995 M].


*📓✍️• Syaikh Muhammad Bin 'Umar Nawawiy Al Bantani Al Jawiy Al Indonisiy Asy Syafi'iy hafidzhullahu ta'ala dalam kitabnya " Nihayatu Az Zein Fi Irsyaadi Al Mubtadi'ien " mengatakan :*

وَتُكْرَهُ الْكِتَابَةُ عَلَيْهِ سَوَاءُ كُتِبَ اسْمُ صَاحِبِهِ أَوْ غَيْرِهِ نَعَمْ إِنْ كُتِبَ اسْمُ صَاحِبِهِ وَنَسَبِهِ بِقَصْدِ أَنْ يُعْرَفُ فَيُزَارَ فَلَا كَرَاهَةَ بِشَرْطِ الْاِقْتِصَارِ عَلَى قَدْرِ الْحَاجَةِ لَا سِيَمَا قُبُوْرُ اْلأَوْلِيَاءِ وَالْعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ فَإِنَّهَا لَا تُعْرَفُ إِلَّا بِذَلِكَ عِنْدَ تَطَاوُلِ السِّنِيْنَ.
[انظر كتاب نهاية الزين في إرشاد المبتدئين : صفحة ١٥٤ - ١٥٥ / فصل في الجنائز / للشيخ محمد بن عمر نووي الجاوي البنتني إقليما، التناري بلدا الشافعي (المتوفى: ١٣١٦ هـ) / الناشر: دار الفكر - بيروت الطبعة: الأولى - بدون السنة].

Dan makruh menulis di atasnya, baik menulis nama pemiliknya atau lainnya. Jika ditulis nama pemiliknya dan menisbatkannya dengan maksud agar diketahui untuk diziarahi, maka tidak makruh dengan sebatas kebutuhan, terlebih kuburnya para wali, orang alim dan orang saleh, karena kuburan itu tidak akan diketahui kecuali dengan itu ketika masanya telah lama.
[Lihat Kitab Nihayatu Az Zein Fi Irsyaadi Al Mubtadi'ien : hal 154 - 155 / Fashlun Fi Al Jana'izi / Karya Syaikh Muhammad Bin 'Umar Nawawiy Al Bantani Al Jawiy Al Indonisiy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri - Beirut, Cet. Pertama, Tnp. Tahun].


*📒🌴• Dan Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya " Al Majmu' Syarhu Al Muhadzdzab " mengatakan :*

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُجْعَلَ عِنْدَ رَأْسِهِ عَلَامَةٌ مِنْ حَجَرٍ أَوْ غَيْرِهِ لِأَنَّ النَّبِيَّ –ﷺ💞– دَفَنَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ وَوَضَعَ عِنْدَ رَأْسِهِ حَجَرًا وَلِأَنَّهُ يُعْرَفُ بِهِ فَيُزَارُ...

(الرَّابِعَةُ) يُسْتَحَبُّ أَنْ يُوضَعَ عَلَى الْقَبْرِ حَصْبَاءُ وَهُوَ الْحَصَا الصِّغَارُ لِمَا سَبَقَ وَأَنْ يُرَشَّ عَلَيْهِ الْمَاءُ لِمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ قَالَ الْمُتَوَلِّي وَآخَرُونَ يُكْرَهُ أَنْ يُرَشَّ عَلَيْهِ مَاءُ الْوَرْدِ وَأَنْ يُطْلَى بِالْخُلُوفِ لِأَنَّهُ إضَاعَةُ مَالٍ

(الْخَامِسَةُ) السُّنَّةُ أَنْ يُجْعَلَ عِنْدَ رَأْسِهِ عَلَامَةٌ شَاخِصَةٌ مِنْ حَجَرٍ أَوْ خَشَبَةٍ أَوْ غَيْرِهِمَا هَكَذَا قاله الشافعي والمصنف وسائر الاصحاب الاصاحب الْحَاوِي فَقَالَ يُسْتَحَبُّ عَلَامَتَانِ (إحْدَاهُمَا) عِنْدَ رَأْسِهِ (وَالْأُخْرَى) عِنْدَ رِجْلَيْهِ قَالَ لِأَنَّ النَّبِيَّ –ﷺ💞– جَعَلَ حَجَرَيْنِ كَذَلِكَ عَلَى قبر عثمان ابن مَظْعُونٍ كَذَا قَالَ وَالْمَعْرُوفُ فِي رِوَايَاتِ حَدِيثِ عُثْمَانَ حَجَرٌ وَاحِدٌ. وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

(السَّادِسَةُ) قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ يُكْرَهُ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ اسْمُ صَاحِبِهِ أَوْ غَيْرُ ذَلِكَ
[انظر كتاب مجموع شرح مهذب : ج ٥ ص ٢٩٦ و ٢٩٨ /  كتاب الجنائز / كيفية إدخال الميت القبر / للإمام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي (المتوفى: ٦٧٦ هـ) / الناشر: دار الفكر - بدون السنة].

Dianjurkan untuk menjadikan TANDA (nisan) DI POSISI KEPALA MAYIT, baik dari batu atau yg selainnya... Karena Nabi –ﷺ💞– dahulu menguburkan Sahabatnya (saudara sesusunya) Utsman bin Mazh'un, dan meletakkan batu (nisan) DI POSISI KEPALANYA... Dan karena hal itu menjadikan kuburannya dikenal, sehingga bisa diziarahi ...

(Keempat) disunnahkan agar menaruh batu-batu  kecil yakni kerikil diatas kuburan seseorang seperti penjelasan yang telah lewat, dan Sunnah menyirami kuburan seseorang dengan air seperti mushonnif (pengarang) telah menyebutkannya, dan Imam Al Mutawwaliy berkata : dan yang lainnya memakruhkan ya apabila menyirami kuburan seseorang dengan air bunga dan memoles dengan  bebauan karena hal tersebut termasuk menyia-nyiakan harta.

(Kelima) Sunnahnya adalah menjadikan TANDA (nisan) yg jelas DI POSISI KEPALA MAYIT, baik terbuat dari batu, atau kayu, atau benda lainnya. Itulah yg dikatakan oleh IMAM SYAFI'IY dan para sahabatnya, dan mushonnif (pengarang), kecuali pengara kitab " Al Hawi " beliau berkata : Disunnahkan memasang dua tanda salahsatunya tepat diatas kepala mayyit dan yang kedua dipasang disebelah kaki mayyit, karena Nabi –ﷺ💞– menjadikan 2 buah batu diatas kuburan (saudara sesusunya) 'Utsman bin Madz'un. Yang ma'ruf dalam beberapa riwayat hadits (yang menerangkan tentang kuburan) Sahabat 'Utsman bin Mazh'un adalah (kuburannya diberi tanda) dengan SATU BATU NISAN. wallohu a'lam.

(Keenam) Asy Syafi'iy dan para sahabatnya berkata : Dimakruhkan  apabila kuburan seseorang dibangun dan makruh apabila nama mayyit yang didalamnya atau selain  itu semua dituliskan diatasnya ...
[Lihat Kitab Al Majmu' Syarhu Al Muhadzdzab : juz 5 hal 296 / Kitabu Al Jana'izi / Kaifiyyatu Idkhooli Al Mayyiti Al Qabro / Dar Al Fikri - Tnp. Tahun].


*🌴👌• Imam Abdul Karim Ar Rofi'iy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya " Al 'Azizi Syarhu Al Wajiz = Asy Syarhu Al Kabir " mengatakan :*

ويُسْتَحَبُ أَنْ يُوْضَعَ عِنْدَ رَأسِهِ صَخْرَةً أو خَشَبَةً ونَحْوَهَا. "وَضَعَ النَّبِيُّ –ﷺ💞– صَخْرَةَ عَلَى رَأْسِ قَبْرِ عُثْمَانُ بْنِ مَظْعُونٍ، وَقَالَ: أُعَلِّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي، وأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي"
[انظر كتاب العزيز شرح الوجيز = الشرح الكبير : ج ٢ ص ٤٥٦ / كتاب صلاة الجنائز / القول في الدفن / للإمام عبد الكريم بن محمد بن عبد الكريم، أبو القاسم الرافعي القزويني الشافعي (المتوفى: ٦٢٣ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية، بيروت - لبنان الطبعة: الأولى، ١٤١٧ هـ = ١٩٩٧ مـ].

Disunnahkan agar menaruh (diatas kuburan) tepat diatas kepala mayyit batu atau kayu atau yang semacamnya. Karena Nabi –ﷺ💞– pernah menaruh batu diatas kepala kuburan (saudara sesusu beliau) Sahabat 'Utsman bin Madz'un. Dan beliau bersabda :

*_"Aku memberikan tanda dengan batu  kuburan saudaraku, dan (supaya diketahui) bahwa telah dikuburkan didalamnya keluargaku yang meninggal."_*
[Lihat Kitab Al 'Aziz  Syarhu Al Wajiz = Asy Syarhu Al Kabir : juz 2 hal 456 / Kitabu Shalati Al Janazati / Al Qaulu Fi Ad Dafni / Karya Imam Abdul Karim Ar Rofi'iy Asy Syafi'iy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah - Beirut Libanon, Cet. Pertama, Th. 1417 H = 1997 M].


*💾🌴• Syaikh Sayyid Abu Bakar Bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya " I'aanatu At-Thoolibiin Syarhu Fathu Al Mu'in " mengatakan :*

(مُهِمَّةٌ ) يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاَء عَلىَ الْقَبْرِ لِلْاِتِّبَاعِ وَلِأّنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا  وَقِيْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطْبِ.

(قَوْلُهُ : مُهِمَّةٌ يُسَنُّّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ إلخ ) وَيُسَنُّ أَيْضًا وَضْعُ حَجَرٍ أَوْ خَشَبَةٍ عِنْدَ رَأْسِ الْمَيِِّتِ لِأَنَّهُ –ﷺ💞– وَضَعَ عِنْدَ رَأْسِ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُوْنٍ صَخْرَةً وَقَالَ :

*_" أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِيْ لِأَدْفَنَ فِيْهَ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِيْ"_*
[انظر كتاب إعانة الطالبين شرح فتح المعين : الجز ٢ صفحة ١٣٥ - ١٣٦ / باب الصلاة / للشيخ السيد أبو بكر (المشهور بالبكري) عثمان بن محمد شطا الدمياطي الشافعي (المتوفى: ١٣١٠ هـ) / الناشر: دار الفكر للطباعة والنشر والتوريع الطبعة: الأولى، ١٤١٨ هـ = ١٩٩٧ مـ].

Ungkapan pengarang : (Penting) disunnahkan  untuk meletakkan ranting (dahan) yang masih hijau diatas kuburan karena ittiba' (mengikuti perilaku Nabi) karena hal tersebut bisa meringankan siksa mayyit disebabkan berkah bacaan tasbih ranting tersebut. Dikiaskan dengan hal tersebut sesuatu yang disiapkan dari menebarkan semacam  bunga-bungaan yang masih basah.

Ungkapan pengarang : (Penting) disunnahkan menaruh ranting yang masih hijau ... Dst) Adalah sunnah juga meletakkan batu atau pohon dikuburan tepat pada kepala orang yang dikubur didalamnya karena sesungguhnya Baginda Nabi –ﷺ💞–  pernah meletakkan batu di atas kepala kuburan Sahabat 'Utsman bin Madz'un (saudara sesusunya) dan beliau bersabda :  

*_"Aku memberikan tanda dengan batu  kuburan saudaraku, dan (supaya diketahui) bahwa telah dikuburkan didalamnya keluargaku yang meninggal."_
[Lihat Kitab I'aanatu At-Thoolibiin Syarhu Fathu Al Mu'in : juz 2 hal 135 - 136 / Babu Ash Shalati / Karya Syaikh Sayyid Abu Bakar Bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri, Cet. Pertama, Th. 1418 H = 1997 M].

*💾🌴• Tersebut dalam kitab Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah keluaran Kementrian Urusan Wakaf Dan Islam Negara Kuwait :*

وَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ أَيْضًا فِي الْكِتَابَةِ عَلَى الْقَبْرِ، فَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إلَى كَرَاهَةِ الْكِتَابَةِ عَلَى الْقَبْرِ مُطْلَقًا لِحَدِيثِ جَابِرٍ قَال: نَهَى النَّبِيُّ –ﷺ💞– أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ .

قَال الْمَالِكِيَّةُ: وَإِنْ بُوهِيَ بِهَا حَرُمَ.

وَقَال الدَّرْدِيرُ: النَّقْشُ مَكْرُوهٌ وَلَوْ قُرْآنًا، وَيَنْبَغِي الْحُرْمَةُ لأَِنَّهُ يُؤَدِّي إلَى امْتِهَانِهِ.

وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالسُّبْكِيُّ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ إلَى أَنَّهُ لاَ بَأْسَ بِالْكِتَابَةِ إنِ احْتِيجَ إلَيْهَا حَتَّى لاَ يَذْهَبَ الأَْثَرُ وَلاَ يُمْتَهَنَ.
[انظر كتاب الموسوعة الفقهية الكويتية : ج ٣٢ ص ٢٥١ - ٢٥٢ / حرف القاف / قبر / ما يتعلق بالقبر من أحكام: تعليم القبر والكتابة عليه / صادر عن: وزارة الأوقاف والشئون الإسلامية - الكويت عدد الأجزاء: ٤٥ جزءا الطبعة: (من ١٤٠٤ - ١٤٢٧ هـ). الأجزاء : ٢٤ - ٣٨ , الطبعة الأولى، مطابع دار الصفوة - مصر - بدون السنة].

Ulama' berbeda pendapat terkait dengan tulisan (di nisan) kuburan. Malikiyah, Syafiiyyah dan Hanabilah berpendapat memakruhkan tulisan di (nisan) kuburan secara  mutlak. Berdasarkan hadits Jabir, berkata:

نَهَى النَّبِيُّ –ﷺ💞– أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ .

“Nabi –ﷺ💞–   melarang mengapur kuburan, mendudukinya, membangun dan menulis di atasnya.”

Al Malikiyyah (pengikut Imam Malik) berkata : Dan jikalau (menulisi tanda kuburan) untuk dijadikan kesombongan maka diharamkan.

Dan Imam Ad Dardir (Al Malikiy) berkata : Memahat (tanda kuburan) adalah makruh walaupun berupa tulisan Al Qur'an, dan seyogyanya mengambil keharamannya karena dapat mendatangkan kehinaan.

Sementara Hanafiyah, Subki dari Syafiiyyah berpendapat tidak mengapa menulis jika hal itu diperlukan agar tidak hilang bekasnya dan tidak dilecehkan.”
[Lihat Kitab Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah Keluaran Kementrian Urusan Wakaf Dan Islam Negara Kuwait : juz 32 hal 251 - 252 / Harfu Al Qofi / Qabrun / Ma Yata'allaqu Bilqabri Min Ahkamin : Ta'limu Al Qabri Wa Al Kitabatu 'Alaihi / Keluaran Kementrian Urusan Wakaf Dan Islam Negara Kuwait Jumlah 45 Juz, Juz 24 - 38, Cet. Pertama Oleh Dar Ash Shafwah - Mesir, Tnp. Tahun].

 *꧁༺🅑🅞🅛🅔🅗 🅜🅔🅝🅐🅡🅤🅗 🅡🅐🅝🅣🅘🅝🅖 🅑🅐🅢🅐🅗  🅚🅔🅡🅘🅚🅘🅛 🅜🅔🅝🅨🅘🅡🅐🅜🅘  🅐🅣🅐🅤 🅣🅐🅑🅤🅡 🅑🅤🅝🅖🅐 🅓🅘🅐🅣🅐🅢 🅚🅤🅑🅤🅡🅐🅝*

*📓✍️• Syaikh Al-Khathib Asy-Syarbiniy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj mengatakan :*

 وَيُسَنُّ أَيْضًا وَضْعُ الْجَرِيدِ الْأَخْضَرِ عَلَى الْقَبْرِ وَكَذَا الرَّيْحَانُ وَنَحْوُهُ مِنْ الشَّيْءِ الرَّطْبِ، وَلَا يَجُوزُ لِلْغَيْرِ أَخْذُهُ مِنْ عَلَى الْقَبْرِ قَبْلَ يُبْسِهِ؛ لِأَنَّ صَاحِبَهُ لَمْ يُعْرِضْ عَنْهُ إلَّا عِنْدَ يُبْسِهِ لِزَوَالِ نَفْعِهِ الَّذِي كَانَ فِيهِ وَقْتَ رُطُوبَتِهِ وَهُوَ الِاسْتِغْفَارُ (وَ) أَنْ يُوضَعَ (عِنْدَ رَأْسِهِ حَجَرٌ أَوْ خَشَبَةٌ) أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ «؛ لِأَنَّهُ –ﷺ💞– وَضَعَ عِنْدَ رَأْسِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ صَخْرَةً وَقَالَ: أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي لِأَدْفِنَ إلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَعَنْ الْمَاوَرْدِيُّ اسْتِحْبَابُ ذَلِكَ عِنْدَ رِجْلَيْهِ أَيْضًا.
[انظر كتاب مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج : ج ٢ ص ٥٦ / كتاب الجنائز / فصل في دفن الميت وما يتعلق به / للإمام شمس الدين، محمد بن أحمد الخطيب الشربيني الشافعي (المتوفى: ٩٧٧ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية الطبعة: الأولى، ١٤١٥ هـ = ١٩٩٤ مـ].

“Disunnahkan menaruh pelepah kurma hijau (basah) di atas kuburan, begitu juga tumbuh-tumbuhan yang berbau harum dan semacamnya yang masih basah dan tidak boleh bagi orang lain mengambilnya dari atas kuburan sebelum masa keringnya karena pemiliknya tidak akan berpaling darinya kecuali setelah kering sebab telah hilangnya fungsi penaruhan benda-benda tersebut dimana selagi benda tersebut masih basah maka akan terus memohonkan ampunan padanya. Dan hendaknya ditaruh batu, atau sepotong kayu atau yang semacamnya dekat kepala kuburan mayat karena Nabi Muhammad –ﷺ💞– meletakkan sebuah batu besar didekat kepala ‘Utsman Bin madz’un seraya berkata :

*_“Aku tandai dengan batu kuburan saudaraku agar aku kuburkan siapa saja yang meninggal dari keluargaku.”_* (HR. Abu Daud) , menurut Imam mawardy kesunahan meletakkan tanda tersebut juga berlaku di dekat kedua kaki mayat."
[Lihat Kitab Mughni Al Muhtaaj Ila Ma'rifati Ma'aniy Alfadzi Al Minhaj : juz 2 hal 56 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun : Fi Dafni Al Mayyiti Wa Ma Yata'allaqu Bihi / Karya Imam Al Khatib Asy Syarbiniy Asy Syafi'iy /  Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah, Cet. Pertama, Th. 1415 H = 1994 M].


*📓✍️• Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi`iy rahimahullAhu ta'ala  meriwayatkan dalam kitabnya "Musnad al-Imam al-Mu`adzhdzham wal Mujtahid al-Muqaddam Abi 'Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi`iy mengenai sunnahnya bmenyirami kuburan dengan air dan memberi kerikil-kerikil kecil diatas kuburan seseorang, yang redaksinya berbunyi  sebagai berikut :*

أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ –ﷺ💞– :

*_"رَشَّ عَلَى قَبْرِ إِبْرَاهِيمَ ابْنِهِ وَوَضَعَ عَلَيْهِ حَصْبَاءَ وَالْحَصْبَاءُ لَا تَثْبُتُ إِلَّا عَلَى قَبْرٍ مُسَطَّحٍ"_*
[رواه الشافعي في مسنده : ص ٣٦٠ / ومن كتاب الجنائز والحدود / للإمام الشافعي أبو عبد الله محمد بن إدريس بن العباس بن عثمان بن شافع بن عبد المطلب بن عبد مناف المطلبي القرشي المكي (المتوفى: ٢٠٤ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية، بيروت - لبنان، ١٤٠٠ هـ].

Telah mengabarkan kepada kami : Ibraahiim bin Muhammad. Dari Ja'far bin Muhammad. Dari Ayahandanya :  

*"Bahawasanya Junjungan Nabi –ﷺ💞– telah menyiram (air) atas kubur Sayyid  Ibrahim dan meletakkan diatasnya batu-batu kerikil."*
[HR. Asy Syafi'iy Dalam Kitab Musnadnya : hal 360 / Wa Min Kitabi Al Jana'izi Wa Al Hududi / Karya Imam Muhammad Bin Idris Asy Syafi'iy Al Qarasyiy Al Makkiy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah Beirut - Libanon, Th. 1400 H].


*💾🌴• Syaikh Sayyid Abu Bakar Bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya " I'aanatu At-Thoolibiin Syarhu Fathu Al Mu'in " mengatakan :*

(مُهِمَّةٌ ) يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاَء عَلىَ الْقَبْرِ لِلْاِتِّبَاعِ وَلِأّنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا  وَقِيْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطْبِ.
[انظر كتاب إعانة الطالبين شرح فتح المعين : الجز ٢ صفحة ١٣٥ - ١٣٦ / باب الصلاة / للشيخ السيد أبو بكر (المشهور بالبكري) عثمان بن محمد شطا الدمياطي الشافعي (المتوفى: ١٣١٠ هـ) / الناشر: دار الفكر للطباعة والنشر والتوريع الطبعة: الأولى، ١٤١٨ هـ = ١٩٩٧ مـ].

Ungkapan pengarang : (Penting) disunnahkan  untuk meletakkan ranting (dahan) yang masih hijau diatas kuburan karena ittiba' (mengikuti perilaku Nabi) karena hal tersebut bisa meringankan siksa mayyit disebabkan berkah bacaan tasbih ranting tersebut. Dikiaskan dengan hal tersebut sesuatu yang disiapkan dari menebarkan semacam   ranting pohon wewangian yang masih basah.
[Lihat Kitab I'aanatu At-Thoolibiin Syarhu Fathu Al Mu'in : juz 2 hal 135 - 136 / Babu Ash Shalati / Karya Syaikh Sayyid Abu Bakar Bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri, Cet. Pertama, Th. 1418 H = 1997 M].


༻꧂ 🅗🅐🅡🅐🅜 🅜🅔🅝🅐🅝🅐🅜🅘 🅟🅞🅗🅞🅝 🅓🅘🅐🅣🅐🅢 🅚🅤🅑🅤🅡🅐🅝 🅨🅐🅝🅖 🅐🅚🅐🅡🅝🅨🅐 🅑🅘🅢🅐 🅜🅔🅝🅒🅐🅟🅐🅘 🅜🅐🅨🅨🅘🅣 🅓🅘🅓🅐🅛🅐🅜🅝🅨🅐 🅓🅐🅝 🅓🅘🅛🅐🅡🅐🅝🅖 🅜🅔🅜🅑🅐🅝🅖🅤🅝 🅚🅤🅑🅤🅡🅐🅝 🅤🅜🅤🅜 🅨🅐🅝🅖 🅢🅔🅚🅘🅡🅐🅝🅨🅐 🅓🅐🅟🅐🅣 🅜🅔🅝🅖🅖🅐🅝🅖🅖🅤 🅞🅡🅐🅝🅖 🅜🅔🅛🅔🅦🅐🅣🅘🅝🅨🅐.*

*📓✍️• Syaikh Sayyid 'Abdurrahman Al Masyhur Ba'alawiy Al Hadromiy  hafidzohullAhu ta'ala dalam kitabnya " Bughyatu Al Mustarsyidin " mengatakan :*

فائدة : طرح الشجر الأخضر على القبر استحسنه بعض العلماء وأنكره الخطابي ، وأما غرس الشجر على القبر وسقيها فإن أدى وصول النداوة أو عروق الشجر إلى الميت حرم ، وإلا كره كراهة شديدة ، وقد يقال يحرم,

وإلا كره كراهة شديدة ، وقد يقال يحرم ،
[انظر كتاب بغية المسترشدين في تلخيص فتاوى بعض الأئمة من العلماء المتأخرين : ص ٢٠٢ / المؤلف : الإمام المفتي الشريف الحبيب عبد الرحمن بن محمد بن حسين المشهور باعلوي الشافعي (ولد وتوفى : ١٢٥٠ - ١٣٢٠ هـ)].  

Faidah: meletakan tanaman yang masih hijau daiatas kuburan dianggap baik menurut sebagian ulama, namun Al Khatabi mengingkarinya. Adapun menanam pohon diatas kuburan dan menyiraminya; jika sampai menyebabkan ambruknya kuburan atau akar-akarnya dapat mencapai mayit maka haram hukumnya, namun jika tidak maka makruh sekali. Bahkan pendapat yang lain menyatakan tetap haram,

Jikalau tidak demikian, maka hukumnya sangat makruh, bahkan dikatakan hukumnya haram,
[Lihat Kitab Bughyatu Al Mustarsyidin : hal 202. Karya Syaikh Al Habib 'Abdurrahman Bin Muhammad Ba'alawiy Asy Syafi'iy].


*📓🌴• Syaikh Izzuddin Al Khatib Al Palesthiniy Al Hanafiy hafidzhullAhu ta'ala dalam kitab " Al Fatawa Al Islamiyyah " mengatakan :*

وينبغي ان لا تزرع الاشجار على القبور مباشرة وانما تزرع في الممرات والاماكن التي لايوجد فيها قبور وذلك خشية ان تنسب جذورها في ايذاء الميت اذ اذاء الميت حرام
[انظر الفتاوي الاسلامية : الجزء ٢ صـ: ٢٣. للقاضي القضاة عز الدين الخطيب التميمي البالسطيني الحنفي (ولد وتوفى : ١٩٢٨ - ٢٠٠٨ مـ)].

Dan seyogyanya jangan menanam  pepohonan diatas kuburan secara langsung, dan yang  semestinya adalah menanam pepohonan yang tumbuh dijalan - jalan dan tempat - tempat yang tidak ditemukan kuburan didalamnya, dan alasan semua itu adalah karena takut akar-akarnya (yang sampai kepada mayyit yang dikubur dibawahnya) akan menyakitinya, karena menyakiti mayyit (sekalipun sudah dikubur) hukumnya  haram.
[Lihat Al Fatawa Al Islamiyyah : juz 2 hal 23. Karya Syaikh Qadhiy 'Izzuddin Al Khatib At Tamimiy Al Hanafiy Al Palesthiniy].


*💾✍️• Syaikh Jamaluddin Muhammad Al Ahdal Asy Syafi'iy hafidzohullahu ta'ala dalam kitabnya " 'Umdatu Al Muftiy Wa Al Mustaftiy " mengatakan :*

قال شيخنا وكما يحرم أخذ الكل يحرم أخذ بعضها وإذا كانت الشجرة على القبر يتأذى بها المار جاز قطعها تقديما لمصلحة الطريق على مصلحة الميت أقول وللمصلحة العامة على المصلحة الخاصة
[انظر كتاب عمدة المفتي والمستفتي : ج ١ صـ ٢٥٨. صنفه الشيخ جمال الدين محمد بن عبد الرحمن بن حسن بن عبد الباري الأهدل الشافعي (المتوفى : ١٣٥٢ هـ)].

Guru kami berkata : seperti haramnya mengambil semuanya juga haram mengambil sebagiannya, ketika pohon itu ada diatas kuburan dan bisa menyusahkan orang yang lewat, maka boleh menebangnya dengan alasan mendahulukan kemaslahatan/kebaikkan jalan diatas melebihi  kemaslahatan mayyit, aku berpendapat: lebih  didahulukan kemaslahatan umum dibandingkan dengan kemaslahatan khusus.
[Lihat Kitab 'Umdatu Al Muftiy Wa Al Mustaftiy : juz 1 hal 258. Karya Syaikh Jamaluddin Muhammad Al Ahdal Asy Syafi'iy].


*📓✍️• Syaikh Zainuddin Al Malibariy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya " Fathu Al Mu'in " mengatakan :*

( وسئل ) العلامة الطنبداوي في شجرة نبتت بمقبرة مسبلة ولم يكن لها ثمر ينتفع به إلا أن بها أخشابا كثيرة تصلح للبناء ولم يكن لها ناظر خاص فهل للناظر العام أي القاضي بيعها وقطعها وصرف قيمتها إلى مصالح المسلمين؟

 (فأجاب) نعم: للقاضي في المقبرة العامة المسبلة بيعها وصرف ثمنها في مصالح المسلمين، كثمر الشجرة التي لها ثمر، فإن صرفها في مصالح المقبرة أولى. هذا عند سقوطها بنحو ريح. وأما قطعها مع سلامتها فيظهر إبقاوها للرفق بالزائر والمشيع.(قوله: ولم يكن لها ثمر ينتفع به) خرج به ما إذا كان لها ذلك فإنه لا يجوز قطعها وبيعها
[انظر كتاب فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين (هو شرح للمؤلف على كتابه هو المسمى قرة العين بمهمات الدين) : ص  ٤١٥ / باب البيع / باب في الوقف / للإمام زين الدين أحمد بن عبد العزيز بن زين الدين بن علي بن أحمد المعبري المليباري الهندي الشافعي  (المتوفى: ٩٨٧ هـ) / الناشر: دار بن حزم الطبعة: الأولى - بدون السنة].

Al-‘Allamah at-Thonbadaawiy ditanyai mengenai pepohonan dimakam umum yang tidak dapat diambil manfaat buahnya selain memiliki dahan-dahan kayu yang dapat membuat kesejuakan, ia tidak dimiliki oleh pengelola wakaf khusus, maka bolehkah bagi pihak pengelola umum (penguasa) menjual, memotong dan mentasarufkan uang hasil penjualannya kemashlahat-maslahat umat islam ?

Beliau menjawab “Ya, bagi penguasa boleh menjual dan menggunakan uangnya demi kemashlahatan umat islam sebagaimana buahnya namun bila dipergunakan demi kepentingan tanah makam lebih utama, yang demikian saat pohon tersebut tumbang sendiri oleh semacam angin sedang memotongnya sementara ia masih kuat dan selamat maka yang dhahir ia dipertahankan demi memberi kesejukan peziarah.
[Lihat Kitab Fathu  Al-Mu’iin Bisyarhi Qurratu Al 'Aini Bimuhimmati Ad dini : hal 415 / Babu Al Bai'i / Babu Fi Al Waqfi / Karya Imam Zainuddin Al Malibariy Al Hindiy Asy Syafi'iy /  Dar Ibnu Hazm - Tnp. Tahun].


*💾👌• Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Al Makkiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya " Al Fatawa Al Kubro " mengatakan :*

قال بَعْضُهُمْ وَأَمَّا قَطْعُهَا مع قُوَّتهَا وَسَلَامَتِهَا فَيَظْهَرُ إبْقَاؤُهَا لِلرِّفْقِ بِالزَّائِرِ وَالْمُشَيِّع ا هـ

وَاَلَّذِي يَظْهَرُ أَنَّهُ يُرْجَعُ فيها لِنَظَرِ الْقَاضِي الْمَذْكُورِ فَإِنْ اُضْطُرَّ لِقَطْعِهَا لِاحْتِيَاجِ مَصَالِحِ الْمَقْبَرَةِ إلَى مَصْرِفٍ وَتَعَيَّنَ فيها قَطْعُهَا وَإِلَّا فَلَا وَاَللَّهُ أَعْلَمُ.
[انظر كتاب الفتاوى الفقهية الكبرى : ج ٣ ص ٢٥٦ / باب الوقف / سوابغ المدد في العمل بمفهوم قول الواقف من مات من غير ولد / للإمام أحمد بن محمد بن علي بن حجر الهيتمي السعدي الأنصاري، شهاب الدين شيخ الإسلام، أبو العباس (المتوفى: ٩٧٤ هـ) جمعها: تلميذ ابن حجر الهيتمي، الشيخ عبد القادر بن أحمد بن علي الفاكهي المكي (التوفى ٩٨٢ هـ) / الناشر: المكتبة الإسلامية - بدون السنة].

Sebagian Ulama berkata “sedang memotongnya sementara ia masih kuat dan selamat maka yang dhahir ia dipertahankan demi memberi kesejukan peziarah”
Yang jelas dalam hal ini permasalahannya dikembalikan pada penguasa, bila situasi mendorong untuk memotongnya demi kemashlahatan makam dan hanya ini solusinya maka potonglah, bila tidak maka jangan dipotong.
[Lihat Kitab  Al-Fataawa Al Fiqhiyyah Al-Kubra : juz III hal 256 / Babu Al Waqfi / Sawabighu Al Madadi Fi Al 'Amali Bimafhumi Qauli Al Waaqifi Man Mata Min Ghairi Waladin / Karya Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Asy Syafi'iy Dikumpulkan Oleh Muridnya Syaikh Abdul Qadir Al Fakuhiy Al Makkiy / Al Maktabah Al Islamiyyah - Tnp. Tahun].


*🌴✍️• Tersebut dalam kitab Hasyiyyata Al Qalyubiy Wa 'Amiirah "  penjelasannya sebagai berikut :*

وَلَا يَجُوزُ لِغَيْرِ مَالِكِهِ أَخْذُهُ مَا دَامَ رَطْبًا لِتَعَلُّقِ حَقِّ الْمَيِّتِ بِهِ، وَإِذَا جَفَّ جَازَ لِكُلِّ أَحَدٍ أَخْذُهُ، وَلَوْ كَانَ مَنْ وَقَفَ عَلَيْهِ لِجَرَيَانِ الْعَادَةِ بِهِ
[انظر كتاب حاشيتا قليوبي وعميرة : ج ١ ص ٤١٢ / كتاب الجنائز / فصل أقل القبر / تجصيص القبر والبناء عليه والكتابة عليه / للإمامان أحمد سلامة القليوبي وأحمد البرلسي عميرة / الناشر: دار الفكر - بيروت,  ١٤١٥ هـ = ١٩٩٥ مـ].

Tidak boleh atas selain  pemilik dahan kurma itu mengambilnya selama ia masih basah karena masih tersangkut hak mayat padanya dan apabila sudah kering, maka dibolehkan mengambilnya bagi siapa saja, meskipun diwaqafkan kayu tersebut atas mayat tersebut, karena berlaku adat dengan demikian.
[Lihat Kitab Hasyiyyata Al Qulyubiy Wa 'Amirah : juz 1 hal 412 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun : Aqollu Al Qabri / Tajshishu Al Qabri Wa Al Bina'i 'Alaihi Wa Al Kitabatu 'Alaihi / Karya Imamani : Imam Ahmad Salamah Al Qulyubiy Dan Imam Ahmad Al Burlisiy  'Amirah / Dar Al Fikri - Beirut, Th. 1415 H = 1995 M].


*📓👌• Dalam kitab " Fathu Al Mu’in " karya Imam Zainuddin Al Malibariy Al Hindiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala disebutkan :‎*

ويحرم أخذ شئ منهما ما لم يبيسا لما في أخذ الأولى من تفويت حق الميت …..
[انظر فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين (هو شرح للمؤلف على كتابه هو المسمى قرة العين بمهمات الدين) : ص ٢١٨ / باب الصلاة / فصل في الصلاة على الميت / للإمام زين الدين أحمد بن عبد العزيز بن زين الدين بن علي بن أحمد المعبري المليباري الهندي الشافعي (المتوفى: ٩٨٧ هـ) الناشر: دار بن حزم - بدون السنة].

‎Haram mengambil sesuatu dari keduanya selama keduanya itu kering, karena dalam hal mengambil yang pertama (mengambil dahan kurma) ada menghilangkan hak mayat.
[Lihat Kitab Fathu Al Mu’in : hal 218 / Babu Ash Shalati / Fashlun : Fi Ash Shalati 'Ala Al Mayyiti / Karya Imam Zainuddin Al Malibariy Al Hindiy Asy Syafi'iy / Dar Ibnu Hazm - Tnp. Tahun].


*🌴👌• Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy Al Makkiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya  mengatakan :

وَيَحْرُمُ أَخْذُ ذَلِكَ كَمَا بَحَثَ لِمَا فِيهِ مِنْ تَفْوِيتِ حَقِّ الْمَيِّتِ وَظَاهِرُهُ أَنَّهُ لَا حُرْمَةَ فِي أَخْذِ يَابِسٍ أَعْرَضَ عَنْهُ لِفَوَاتِ حَقِّ الْمَيِّتِ بِيُبْسِهِ ...

وَ (قَوْلُهُ وَيَحْرُمُ أَخْذُ ذَلِكَ) أَيْ عَلَى غَيْرِ مَالِكِهِ نِهَايَةٌ وَمُغْنِي قَالَ ع ش قَوْلُهُ م ر مِنْ الْأَشْيَاءِ الرَّطْبَةُ يَدْخُلُ فِي ذَلِكَ الْبِرْسِيمِ وَنَحْوِهِ مِنْ جَمِيعِ النَّبَاتَاتِ الرَّطْبَةِ وَقَوْلُهُ م ر عَلَى غَيْرِ مَالِكِهِ أَيْ أَمَّا مَالِكُهُ فَإِنْ كَانَ الْمَوْضُوعُ مِمَّا يُعْرَضُ عَنْهُ عَادَةً حَرُمَ عَلَيْهِ أَخْذُهُ لِأَنَّهُ صَارَ حَقًّا لِلْمَيِّتِ وَإِنْ كَانَ كَثِيرًا لَا يُعْرَضُ عَنْ مِثْلِهِ عَادَةً لَمْ يَحْرُمْ سم عَلَى الْمَنْهَجِ
[انظر كتاب تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي : ج ٣ ص ١٩٧ / كتاب الجنائز / فصل في الدفن وما يتبعه / للإمام أحمد بن محمد بن علي بن حجر الهيتمي الشافعي / الناشر: المكتبة التجارية الكبرى بمصر، عام النشر: ١٣٥٧ هـ = ١٩٨٣ مـ].

Haram mengambil itu (dahan kurma) sebagaimana pembahasannya , karena menghilangkan hak mayat . Dhahirnya tidak diharamkan mengambil yang sudah kering yang sudah dibiarkannya karena telah hilang hak mayat dengan sebab keringnya ...

(Imam Syarwaniy berkata) : [Dan perkataan pengarang : Haram mengambil itu]  yakni atas bukan pemiliknya, demikian kitab Nihayah dan Mughni. Ali Syibran al-Malusi mengatakan, perkataan al-Ramli : “dari sesuatu yang basah” termasuk rumput-rumput dan yang seumpama dengannya berupa semua tumbuh-tumbuhan yang basah dan perkataan al-Ramli : “atas bukan pemiliknya” yakni adapun pemiliknya jika yang diletak itu sesuatu yang dibiarkan (tidak dipeduli orang) pada kebiasaan, maka haram atasnya mengambilnya, karena itu menjadi hak mayat dan jika banyak yang tidak dibiarkan yang sebanding dengannya pada kebiasaan, maka tidak haram mengambilnya, demikian Ibnu Qasim ‘ala Minhaj.
[Lihat Kitab Tuhfatu Al Muhtaj Fi Syarhi Al Minhaj Wa Hawasyai Asy Syarwaniy Wa Al 'Ibadiy : juz 3 hal 197 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun : Fi Ad Dafni Wa Ma Yatba'uhu / Karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy Al Makkiy Asy Syafi'iy / Al Maktabah At Tijariyyah Al Kubro - Mesir, Th. 1357 H = 1983 M].


*💾✍️• Imam Al Khatib Asy Syarbainiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala mengatakan :‎

وَلَا يَجُوزُ لِلْغَيْرِ أَخْذُهُ مِنْ عَلَى الْقَبْرِ قَبْلَ يُبْسِهِ لِأَنَّ صَاحِبَهُ لَمْ يُعْرِضْ عَنْهُ إلَّا عِنْدَ يُبْسِهِ لِزَوَالِ نَفْعِهِ الَّذِي كَانَ فِيهِ وَقْتَ رُطُوبَتِهِ وَهُوَ الِاسْتِغْفَارُ
[انظر كتاب مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج : ج ٢ ص ٥٦ / كتاب الجنائز / فصل في دفن الميت وما يتعلق به / للإمام شمس الدين، محمد بن أحمد الخطيب الشربيني الشافعي (المتوفى: ٩٧٧ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية الطبعة: الأولى، ١٤١٥ هـ = ١٩٩٤ مـ].

Tidak boleh atas selain pemilik dahan kurma itu mengambilnya dari atas kubur sebelum keringnya, karena pemiliknya belum membiarkannya kecuali sesudah kering dengan sebab hilang manfaatnya yang ada sewaktu basah, yakni istighfar.
[Lihat Kitab Mughniy Al Muhtaj Ila Ma'rifati Ma'aniy Alfadzi Al Minhaj : juz 2 hal 56 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun : Fi Dafni Al Mayyiti Wa Ma Yata'allaqu Bihi / Karya Imam Al Khatib Asy Syarbiniy Asy Syafi'iy /  Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah, Cet. Pertama, Th. 1415 H = 1994 M].


*💾🌴• Imam Sulaiman Al-Bujairomiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitab hasyiyyahnya mengatakan :*

وَحَاصِلُهُ أَنَّهُ إنْ كَانَ الشَّيْءُ الْأَخْضَرُ قَلِيلًا كَخُوصَةٍ أَوْ خُوصَتَيْنِ مَثَلًا لَا يَجُوزُ لَهُ أَخْذُهُ وَهُوَ أَخْضَرُ لِأَنَّهُ صَارَ حَقًّا لِلْمَيِّتِ فَحُرِّمَ أَخْذُهُ، أَمَّا إذَا كَانَ كَثِيرًا فَإِنَّهُ يَجُوزُ الْأَخْذُ مِنْهُ؛ فَيَجُوزُ لِمَنْ وَضَعَ خُوصًا كَثِيرًا مَثَلًا عَلَى قَبْرٍ الْأَخْذُ مِنْهُ لِيَضَعَهُ عَلَى قَبْرٍ آخَرَ وَهَكَذَا، وَهَذَا كُلُّهُ فِيمَا إذَا كَانَ الْخُوصُ مَثَلًا أَخْضَرَ لَمْ يَيْبَسْ وَكَانَ الْآخِذُ لَهُ مَالِكَهُ.
[انظر كتاب حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب : ج ٢ ص ٣٠٠ / كتاب الصلاة / فصل في الجنازة / للإمام سليمان بن محمد بن عمر البُجَيْرَمِيّ المصري الشافعي (المتوفى: ١٢٢١ هـ) / الناشر: دار الفكر الطبعة: بدون طبعة تاريخ النشر: ١٤١٥ هـ = ١٩٩٥ مـ].

Kesimpulannya, apabila sesuatu yang basah itu sedikit seperti sehelai daun atau dua helai, maka tidak boleh atas pemiliknya mengambilnya, sedangkan sesuatu itu masih basah, karena masih menjadi hak mayat, karena itu haram mengambilnya. Adapun apabila banyak, maka dibolehkan. Karena itu, dibolehkan bagi orang-orang yang meletakkan semisal helai yang banyak atas kubur mengambilnya untuk meletaknya atas kuburan yang lain dan seterusnya. Ini semua dalam hal semisal helai daun itu masih basah dan tidak kering serta yang mengambilnya adalah pemiliknya.
[Lihat Kitab Hasyiyyah Al Bujairamiy 'Ala Al Khathib = Tuhfatu Al Habib 'Ala Syarhi Al Khatib : juz 2 hal 300 / Kitabu Ash Shalati / Fashlun : Fi Al Janazati / Karya Imam Sulaiman Al Bujairamiy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri, Th. 1415 H = 1994 M].


📒🌴• Hukum membangun kuburan adalah haram dan wajib untuk membongkar bangunan tersebut, sebab akan berdampak pada memonopoli tanah yang sebenarnya digunakan secara umum.

*🌴✍️• Dalam kitab " Fathu  al-Mu’in karya Syaikh Zainuddin Al Malibariy Al Hindiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dijelaskan:*

وكره بناء له أي للقبر أو عليه لصحة النهي عنه بلا حاجة كخوف نبش أو حفر سبع أو هدم سيل.

ومحل كراهة البناء إذا كان بملكه فإن كان بناء نفس القبر بغير حاجة مما مر أو نحو قبة عليه بمسبلة وهي ما اعتاد أهل البلد الدفن فيها عرف أصلها ومسبلها أم لا أو موقوفة حرم وهدم وجوبا لأنه يتأبد بعد انمحاق الميت ففيه تضييق على المسلمين بما لا غرض فيه.
[انظر كتاب فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين : ٢١٩ /  باب الصلاة / فصل في الصلاة على الميت / للإمام زين الدين أحمد بن عبد العزيز بن زين الدين بن علي بن أحمد المعبري المليباري الهندي (المتوفى: ٩٨٧ هـ) / الناشر: دار بن حزم الطبعة: الأولى - بدون السنة].

“Makruh membangun kuburan, sebab adanya larangan syara’. Kemakruhan ini ketika tanpa adanya hajat, seperti khawatir dibongkar, dirusak hewan atau diterjang banjir. Hukum makruh membangun kuburan ini ketika mayit di kubur di tanah miliknya sendiri, jika membangun kuburan dengan tanpa adanya hajat atau memberi kubah pada kuburan ini di pemakaman umum, yakni tempat yang biasa digunakan masyarakat setempat untuk mengubur jenazah, baik diketahui asalnya dan keumumannya atau tidak, atau di kuburkan di tanah wakaf, maka membangun kuburan tersebut hukumnya haram dan wajib dibongkar, sebab kuburan tersebut akan menetap selamanya meski setelah hancurnya mayit, dan akan menyebabkan mempersempit umat muslim tanpa adanya tujuan."
[Lihat Kitab Fathu  al-Mu’in Bisyarhi Qurrati Al 'Aini Bimuhimmati Ad Dini : hal. 219 / Babu Ash Shalati / Fashlun: Fi Shalati 'Ala Al Mayyiti / Karya Syaikh Zainuddin Al Malibariy Al Hindiy Asy Syafi'iy / Dar Ibnu Hazm, Cet. Pertama, Tnp. Tahun].


📓✍️• Jika tujuan dari membangun adalah menghias dan memegahkan kuburan, maka hukum membangun ini meningkat menjadi haram.


*💾👌• Dalam kitab All-Fiqh 'Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah karya Imam 'Abdurrahman Al Jaziriy rahimahullAhu ta'ala dijelaskan :*

يكره أن يبنى على القبر بيت أو قبة أو مدرسة أو مسجد أو حيطان - إذا لم يقصد بها الزينة والتفاخر وإلا كان ذلك حراما
[انظر  الفقه على المذاهب الأربعة : ج ١ ص ٤٨٧ / كتاب الصلاة مباحث الجنائز / مباحث مختلفة / اتخاذ البناء على القبور / للإمام عبد الرحمن بن محمد عوض الجزيري (المتوفى: ١٣٦٠ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية، بيروت - لبنان الطبعة: الثانية، ١٤٢٤ هـ = ٢٠٠٣ مـ]

Makruh membangun pada kuburan sebuah ruang, kubah, sekolah, masjid, atau tembok, ketika tidak bertujuan untuk menghias dan memegahkan, jika karena tujuan tersebut, maka membangun pada makam dihukumi haram”
[Lihat Kitab Al-Fiqhu  'Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah : juz 1, hal. 487 / Kitabu Ash Shalati / Mubahatsu Al Jana'izi / Mubahatsun  Mukhtalifatun / Ittikhodzu Al Bina'i 'Ala Al Qubri / Karya Imam 'Abdurrahman Al Jaziriy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah - Beirut Lebanon, Cet. Kedua, Th. 1424 H = 2003 M].


*📓✍️• Dalam Kitab  I'anatu Ath-Thalibin Syarhu Fathu Al Mu'in karya Syaikh Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala mengecualikan membangun kuburan ulama' shalihin walaupun berada di musabbalah (kuburan umum):*

وقال البجيرمي: واستثنى بعضهم قبور الأنبياء والشهداء والصالحين ونحوهم. برماوي. وعبارة الرحماني. نعم، قبور الصالحين يجوز بناؤها ولو بقية لإحياء الزيارة والتبرك. قال الحلبي: ولو في مسبلة، وأفتى به،
[انظر  إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين : ج ٢ ص ١٣٧ / باب الصلاة / للشيخ السيد أبو بكر (المشهور بالبكري) عثمان بن محمد شطا الدمياطي الشافعي (المتوفى: ١٣١٠ هـ) / الناشر: دار الفكر، الطبعة: الأولى، ١٤١٨ هـ = ١٩٩٧ مـ].

Imam Al Bujairamiy berkata : Dan sebagian mengecualikan pusara para Nabi, para Syuhada', para Shalihin, dan semisal mereka. Barmawiy dan Ibarat Ar Rahmaniy : Beenar.

“Makam para ulama boleh dibangun meskipun dengan kubah, untuk menghidupkan ziarah dan mencari berkah.

Al-Halabi berkata: ‘Meskipun di lahan umum”, dan ia memfatwakan hal itu.
[Lihat Kitab I'anatu  Ath-Thalibin Syarhu Fathu Al Mu'in : juz 2, hal. 137 / Babu Ash Shalati / Karya Syaikh Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri, Cet. Pertama, Th. 1418 H = 1997 M].


Alasan di balik pelarangan membangun kuburan ini adalah karena dalam membangun kuburan terdapat unsur menghias kuburan atau mempermewah kuburan. Selain itu, menurut Imam al-Qulyubi, membangun kuburan merupakan bentuk menghambur-hamburkan harta tanpa adanya tujuan yang dibenarkan oleh Syara’.

*🌴👌• Alasan ini seperti telah disampaikan dalam kitab Hasyiyata Al Qolyubiy Wa  'Amirah :*

قَالَ الْأَئِمَّةُ: وَحِكْمَةُ النَّهْيِ التَّزْيِينُ أَقُولُ: وَإِضَاعَةُ الْمَالِ لِغَيْرِ غَرَضٍ شَرْعِيٍّ
[انظر كتاب حاشيتا قليوبي وعميرة : ج ١ ص ٤١١ / كتاب الجنائز / فصل أقل القبر / تجصيص القبر والبناء عليه والكتابة عليه / للإمامان أحمد سلامة القليوبي وأحمد البرلسي عميرة الناشر: دار الفكر - بيروت، ١٤١٥ هـ = ١٩٩٥ مـ].

“Para ulama berkata, ‘Hikmah (alasan) larangan membangun kuburan adalah menghias.’ Saya (Umairah) katakana, ‘Juga karena menghamburkan harta tanpa tujuan yang dibenarkan syari’at’,”
[Lihat Kitab Hasyiyyata Al Qulyubiy Wa 'Amirah : juz 1 hal. 411 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun : Aqallu Al Qabri / Tajshishu Al Qabri Wa Al Bina'i 'Alaihi Wa Al Kitabatu 'Alaihi / Karya  Dua Imam : Imam Ahmad Salamah Al Qulyubiy Dan Imam
Ahmad Al Burlisiy 'Amirah / Dar Al Fikri - Beirut, Th. 1415 H = 1995 M].
 

*💾🌴• Dapat disimpulkan bahwa membangun kuburan (mengijing) hukum asalnya adalah makruh ketika dibangun di tanah pribadi, selama tidak bertujuan untuk menghias dan memegahkan kuburan. Sedangkan jika kuburan berada di tanah milik umum, maka hukum membangunnya adalah haram dan wajib untuk dibongkar.

Perincian hukum ini, dikecualikan ketika makam tersebut adalah makam ulama atau orang yang shaleh, maka boleh dan tidak makruh membangun makam tersebut agar dapat diziarahi oleh khalayak umum sekalipun kuburan mereka berada dimusabbalah (pemakaman umum).


*★᭄ꦿ᭄ꦿ༻ 🅑🅞🅛🅔🅗 🅜🅔🅜🅑🅐🅝🅖🅤🅝 🅚🅤🅑🅤🅡🅐🅝 🅟🅐🅡🅐 🅝🅐🅑🅘 🅟🅐🅡🅐 🅢🅨🅤🅗🅐🅓🅐' 🅟🅐🅡🅐 '🅐🅛🅘🅜 🅢🅗🅐🅛🅘🅗 🅓🅐🅝 🅓🅘🅛🅐🅡🅐🅝🅖 🅜🅔🅜🅑🅐🅝🅖🅤🅝 🅜🅐🅢🅙🅘🅓 🅜🅐🅓🅡🅐🅢🅐🅗 🅓🅐🅝 🅢🅔🅜🅐🅒🅐🅜🅝🅨🅐 🅓🅘🅐🅣🅐🅢  🅚🅤🅑🅤🅡🅐🅝.*


Diperbolehkan membangun pusara/kuburan para Nabi, para Syuhada', para 'alim shalih, walaupun dibentuk tinggi  berqubbah, tujuannya untuk menghidupkan ziarah dan tabarruk (mengambil berkah),  meskipun pusara mereka berada di lahan umum. Dan dilarang membangun masjid madrasah dan semacamnya diatas kuburan.


*📓🌴• Syaikh Sulaiman Al Bujairamiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitab hasyiyyahnya mengatakan :*

نَعَمْ اسْتَثْنَى بَعْضُهُمْ قُبُورَ الْأَنْبِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَنَحْوَهُمْ، بِرْمَاوِيٌّ وَعِبَارَةُ الرَّحْمَانِيِّ: نَعَمْ قُبُورُ الصَّالِحِينَ يَجُوزُ بِنَاؤُهَا وَلَوْ بِقُبَّةٍ الْأَحْيَاءِ لِلزِّيَارَةِ وَالتَّبَرُّكِ، قَالَ الْحَلَبِيُّ: وَلَوْ فِي مُسْبَلَةٍ، وَأَفْتَى بِهِ،
[انظر كتاب حاشية البجيرمي على الخطيب = تحفة الحبيب على شرح الخطيب : ج ٢ ص ٢٩٧ و ٢٩٨ / كتاب الصلاة / فصل في الجنازة / للشيخ سليمان بن محمد بن عمر البُجَيْرَمِيّ المصري الشافعي (المتوفى: ١٢٢١ هـ) / الناشر: دار الفكر الطبعة: بدون طبعة تاريخ النشر: ١٤١٥ هـ = ١٩٩٥ مـ].

Sebagian ulama’ mengecualikan quburan para nabi, para wali, orang yang mati syahid, orang-orang shalih dan Semitsal mereka (maksudnya kalau quburan mereka, maka tidak makruh di bangun), Birmawi, dan Ibarat dari ar-Rahmani adalah : Ya (memang benar quburan makruh di bangun), tapi quburan orang-orang shalih boleh dibangun, walaupun berqubbah, tujuannya untuk menghidupkan ziarah dan tabarruk (ambil berkah), Al-Halabi berkata : Meskipun di lahan umum, dan ia memfatwakan hal itu”.
[Lihat Kitab Hasyiyyah Al Bujairamiy 'Ala Al Khathib = Tuhfatu Al Habib 'Ala Syarhi Al Khatib : juz 2 hal 297 & 298 / Kitabu Ash Shalati / Fashlun : Fi Al Janazati / Karya Syaikh Sulaiman Al Bujairamiy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri, Th. 1415 H = 1995 M].


*📓✍️• Dalam Kitab  I'anatu Ath-Thalibin Syarhu Fathu Al Mu'in karya Syaikh Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala mengecualikan membangun kuburan ulama' shalihin walaupun berada di musbalah (kuburan umum):*

وقال البجيرمي: واستثنى بعضهم قبور الأنبياء والشهداء والصالحين ونحوهم. برماوي. وعبارة الرحماني. نعم، قبور الصالحين يجوز بناؤها ولو بقية لإحياء الزيارة والتبرك. قال الحلبي: ولو في مسبلة، وأفتى به،
[انظر  إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين : ج ٢ ص ١٣٧ / باب الصلاة / للشيخ السيد أبو بكر (المشهور بالبكري) عثمان بن محمد شطا الدمياطي الشافعي (المتوفى: ١٣١٠ هـ) / الناشر: دار الفكر، الطبعة: الأولى، ١٤١٨ هـ = ١٩٩٧ مـ].

Imam Al Bujairamiy berkata : Dan sebagian mengecualikan pusara para Nabi, para Syuhada', para Shalihin, dan semisal mereka. Birmawiy dan Ibarat Ar Rahmaniy : Benar.

“Makam para ulama boleh dibangun meskipun dengan kubah, untuk menghidupkan ziarah dan mencari berkah.

Al-Halabi berkata: ‘Meskipun di lahan umum”, dan ia memfatwakan hal itu.
[Lihat Kitab I'anatu  Ath-Thalibin Syarhu Fathu Al Mu'in : juz 2, hal. 137 / Babu Ash Shalati / Karya Syaikh Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatho Ad Dimyathiy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri, Cet. Pertama, Th. 1418 H = 1997 M].


*📓🌴• Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya " Al Majmu' Syarhu Al Muhadzdzab " mengatakan :*

 وَاتَّفَقَتْ نُصُوصُ الشَّافِعِيِّ وَالْأَصْحَابِ عَلَى كَرَاهَةِ بِنَاءِ مَسْجِدٍ عَلَى الْقَبْرِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَيِّتُ مَشْهُورًا بِالصَّلَاحِ أَوْ غَيْرِهِ لِعُمُومِ الْأَحَادِيثِ.
[انظر كتاب المجموع شرح المهذب : ج ٥ ص ٣١٦ / كتاب الجنائز / باب التعزية والبكاء على الميت / للإمام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي (المتوفى: ٦٧٦ هـ) / الناشر: دار الفكر - بدون السنة].

“Nash-nash dari Asy-Syaafi’iy dan para shahabatnya telah sepakat tentang dibencinya membangun masjid di atas kubur. Sama saja, apakah si mayit masyhur dengan keshalihannya ataupun tidak berdasarkan keumuman hadits-haditsnya.”
[Lihat Kitab Al-Majmuu’ Syarhu Al Muhadzdzab : juz  5 hal 316 / Kitabu Al Jana'izi / Babu At Ta'ziyyah Wa Al Buka'i 'Ala Al Mayyiti / Karya Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri - Tnp. Tahun].


*1️⃣• 🌴MADZHAB SYAAFI’IYYAH, maka Imam Muhammad bin Idriis Asy-Syaafi’iy rahimahullAhu ta'ala  berkata :*

وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُبْنَى، وَلَا يُجَصَّصَ فَإِنَّ ذَلِكَ يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلَاءَ، وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا، وَلَمْ أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً.

(قَالَ الرَّاوِي) : عَنْ طَاوُسٍ: «إنَّ رَسُولَ اللَّهِ –ﷺ💞– نَهَى أَنْ تُبْنَى الْقُبُورُ أَوْ تُجَصَّصَ»

(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَقَدْ رَأَيْت مِنْ الْوُلَاةِ مَنْ يَهْدِمَ بِمَكَّةَ مَا يُبْنَى فِيهَا فَلَمْ أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذَلِكَ .
[انظر كتاب الأم : ج ١ ص ٣١٦ / كتاب الجنائز / باب الدفن باب ما يكون بعد الدفن / للإمام  الشافعي أبو عبد الله محمد بن إدريس بن العباس بن عثمان بن شافع بن عبد المطلب بن عبد مناف المطلبي القرشي المكي (المتوفى: ٢٠٤ هـ) / الناشر: دار المعرفة - بيروت, ١٤١٠ هـ = ١٩٩٠ مـ].

“Dan aku senang jika kubur tidak dibangun dan tidak dikapur/disemen, karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan. Orang yang mati bukanlah tempat untuk salah satu di antara keduanya. Dan aku pun tidak pernah melihat kubur orang-orang Muhaajiriin dan Anshaar dikapur.

(Rawiy berkata): Dari Thawwus, sesungguhnya Rasulullah –ﷺ💞– melarang membuat bangunan di atas kubur dan melarang mengapur kubur.

(Imam Asy Syafi'iy berkata): Dan aku telah melihat sebagian penguasa meruntuhkan bangunan yang dibangunan di atas kubur di Makkah, dan aku tidak melihat para fuqahaa’ mencela perbuatan tersebut.”
[Lihat Kitab Al-Umm : juz 1 hal 316 / Kitabu Al Jana'izi / Babu Ad Dafni / Babu Ma Yakunu Ba'da Ad Dafni / Karya Imam Muhammad Bin Idris Asy Syafi'iy / Dar Al Ma'rifah - Beirut, Th. 1410 H = 1990 M].


*2️⃣• 🌴 MADZHAB HANAFIYYAH, berikut perkataan Muha bin Al-Hasan rahimahullAhu ta'ala (sahabat Imam Abu Hanifah) dalam kitabnya " Al Aatsaar " :*

مُحَمَّدٌ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو حَنِيفَةَ، قَالَ حَدَّثَنَا شَيْخٌ لَنَا يَرْفَعُ إِلَى النَّبِيِّ –ﷺ💞– أَنَّهُ :

«نَهَى عَنْ تَرْبِيعِ الْقُبُورِ وَتَجْصِيصِهَا» ،

قَالَ مُحَمَّدٌ: وَبِهِ نَأْخُذُ، وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
[انظر كتاب الأٓثار : ج ٢ ص ٢٠١ /  باب تسنيم القبور وتجصيصها / للإمام الحافظ ابي عبد الله محمد بن الحسن الشيباني الحنفي / الناشر: دار الكتب العلمية، بيروت - لبنان، بدون السنة].

Imam Muhammad berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Haniifah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami seorang syaikh kami yang memarfu’kan riwayat sampai pada Nabi –ﷺ💞– :

*_"Bahwasannya beliau melarang untuk membangun dan mengapur/menyemen kubur."_*

Imam Muhammad (bin Al-Hasan) berkata : Dengannya kami berpendapat, dan ia juga merupakan pendapat Abu Haniifah.”
[Lihat Kitab Al-Aatsaar : juz 1 hal 201 / Babu Tasnimi Al Quburi Wa Tahshiishiha / No. 257 / Karya Imam Al Hafidz Muhammad Al Hasan Al Hanafiy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah - Beirut Libanon, Tnp. Tahun].


*📓✍️• Imam Ibnu ‘Aabidiin Al-Hanafiy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Raddu Al Muhtar 'Ala Ad Durru Al Mukhtar " berkata :*

وَأَمَّا الْبِنَاءُ عَلَيْهِ فَلَمْ أَرَ مَنْ اخْتَارَ جَوَازَهُ.

وَفِي شَرْحِ الْمُنْيَةِ عَنْ مُنْيَةِ الْمُفْتِي: الْمُخْتَارُ أَنَّهُ لَا يُكْرَهُ التَّطْيِينُ.

وَعَنْ أَبِي حَنِيفَةَ: يُكْرَهُ أَنْ يَبْنِيَ عَلَيْهِ بِنَاءً مِنْ بَيْتٍ أَوْ قُبَّةٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ،

[انظر كتاب الدر المختار وحاشية ابن عابدين (رد المحتار) : ج ٢ ص ٢٣٧ / كتاب الصلاة / باب صلاة الجنازة / مطلب في دفن الميت / للإمام ابن عابدين، محمد أمين بن عمر بن عبد العزيز عابدين الدمشقي الحنفي (المتوفى: ١٢٥٢ هـ) / الناشر: دار الفكر-بيروت الطبعة: الثانية، ١٤١٢ هـ = ١٩٩٢ مـ].

“Adapun membangun di atas kubur, maka aku tidak melihat ada ulama yang memilih pendapat membolehkannya..... Dan dari Abu Haniifah : Dibenci membangun bangunan di atas kubur, baik berupa rumah, kubah, atau yang lainnya."
[Lihat Kutab Raddu Al-Muhtaar 'Ala Ad Durru Al Mukhtar : juz 2 hal 237 / Kitabu Ash Shalati / Babu Shalati Al Janazati / Mathlabun : Fi Dafni Al Mayyiti / Karya Imam Ibnu 'Abidin Al Hanafiy / Dar Al Fikri - Beirut Libanon, Cet. Kedua, Th. 1412 H = 1992 M].


*3️⃣• 🌴MADZHAB MAALIKIYYAH, maka Maalik bin Anas rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Al Madunah " berkata :*

وَقَالَ مَالِكٌ: أَكْرَهُ تَجْصِيصَ الْقُبُورِ وَالْبِنَاءَ عَلَيْهَا وَهَذِهِ الْحِجَارَةَ الَّتِي يُبْنَى عَلَيْهَا.
[انظر كتاب المدونة : ج ١ ص ٢٦٣ / كتاب الجنائز / السلام على الجنازة / للإمام مالك بن أنس بن مالك بن عامر الأصبحي المدني (المتوفى: ١٧٩ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية الطبعة: الأولى، ١٤١٥ هـ = ١٩٩٤ مـ].

“Aku membenci mengapur/menyemen kubur dan bangunan yang ada di atasnya, dan batu-batu ini yang dibangun di atasnya."
[Lihat Kitab  Al-Madunah : juz 1 hal. 263 / Kitabu Al Jana'izi / As Salamu 'Ala Al Janazati / Karya Imam Malik Bin Anas Al Ashbahiy Al Madaniy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah - Cet. Pertama, Th. 1415 H = 1994 M].


*🌴📓• Imam Al-Qurthubiy Al Malikiy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Al Jami' Li Ahkami Al Qur'an = Tafsir Al Qurthubiy " berkata :*

فَاتِّخَاذُ الْمَسَاجِدِ عَلَى الْقُبُورِ وَالصَّلَاةُ فِيهَا وَالْبِنَاءُ عَلَيْهَا، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا تَضَمَّنَتْهُ السُّنَّةُ مِنَ النَّهْيِ عَنْهُ مَمْنُوعٌ لَا يَجُوزُ، لِمَا رَوَى أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💞– زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ وَالْمُتَّخِذِينَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ وَالسُّرُجَ.
[انظر كتاب الجامع لأحكام القرآن = تفسير القرطبي : ج ١٠ ص ٣٧٩ / تفسير سورة الكهف [سورة الكهف (١٨): آية ٢١] / للإمام أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي المالكي (المتوفى: ٦٧١ هـ) / الناشر: دار الكتب المصرية - القاهرة الطبعة: الثانية، ١٣٨٤ هـ = ١٩٦٤ مـ].

“Membangun masjid-masjid di atas kubur, shalat di atasnya, membangun bangunan di atasnya, dan yang lainnya termasuk larangan dari sunnah, tidak diperbolehkan. Berdasarkan riwayat hadits Abu Dawud dan Tirmidzi dari Ibnu 'Abbas radliyyAllahu 'anhuma, beliau berkata :

*_“Rasulullah –ﷺ💞– melakanat para wanita yang sering menziarahi kubur dan orang yang menjadikan kubur sebagai masjid serta memasang lentera - lentera di atasnya.”_*
[Lihat Kitab Al Jami' Li Ahkami Al Qur'an = Tafsiir Al-Qurthubiy : juz 10 hal 379 / Tafsir Surah Al Kahfi : 018  Ayat : 21 / Karya Imam Al Qurthubiy Al Malikiy / Dar Al Kutub Al Mishriyyah - Kairo, Cet. Kedua, Th. 1384 H = 1964 M].


*4️⃣• 🌴 MADZHAB HANAABILAH, maka Imam Ibnu Qudaamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy rahimahullAhu ta'ala  berkata :*

 فَصْلٌ: وَيُكْرَهُ الْبِنَاءُ عَلَى الْقَبْرِ، وَتَجْصِيصُهُ، وَالْكِتَابَةُ عَلَيْهِ لِمَا رَوَى مُسْلِمٌ فِي " صَحِيحِهِ " قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ –ﷺ💞– أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ.» زَادَ التِّرْمِذِيُّ وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ. وَقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. وَلِأَنَّ ذَلِكَ مِنْ زِينَةِ الدُّنْيَا، فَلَا حَاجَةَ بِالْمَيِّتِ إلَيْهِ.
[انظر كتاب المغني : ج ٢ ص ٣٧٨ / كتاب الجنائز / مسألة لا يدخل القبر آجرا ولا خشبا ولا شيئا مسته النار / فصل تطيين القبور / للإمام أبو محمد موفق الدين عبد الله بن أحمد بن محمد بن قدامة الجماعيلي المقدسي ثم الدمشقي الحنبلي، الشهير بابن قدامة المقدسي (المتوفى: ٦٢٠ هـ) / الناشر: مكتبة القاهرة, تاريخ النشر: ١٣٨٨ هـ = ١٩٦٨ مـ].

“Dan dibenci bangunan yang ada di atas kubur, mengkapurnya, dan menulis tulisan di atasnya, berdasarkan riwayat Muslim dalam Shahiih-nya : ‘Rasulullah –ﷺ💞–  telah melarang kubur untuk dikapur, diduduki, dan dibangun sesuatu di atasnya’. At-Tirmidziy menambahkan : ‘Dan menulis di atasnya’, dan ia berkata : ‘Hadits Hasan Shahih’. Karena itu semua merupakan perhiasan dunia yang tidak diperlukan oleh si mayyit.”
[Lihat Kitab Al-Mughniy : juz  2 hal. 378 / Kitabu Al Jana'izi / Mas'alatun : La Yadkhulu Al Qabro Aajiran Wa La Khosyaban Wa La Syai'an Massathu An Naaru / Fashlun : Tathyiinu Al Qabri / Karya Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbaliy / Maktabah Al Qahirah, Th. 1388 H = 1968 M].


*🌴✍️• Imam Manshur Al-Bahuutiy Al-Hanbaliy rahimahullAhu dalam kitabnya " Kasyafu Al Qina' 'An Matni Al Iqna' " berkata :*

(وَ) يَحْرُمُ (اتِّخَاذُ الْمَسْجِدِ عَلَيْهَا) أَيْ: الْقُبُورِ (وَبَيْنَهَا لِحَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ –ﷺ💞– قَالَ:

*_«لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ»_*
(مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).
[انظر كتاب كشاف القناع عن متن الإقناع : ج ١ ص ١٤١ / كتاب الجنائز / فصل رفع القبر عن الأرض / للإمام منصور بن يونس بن صلاح الدين ابن حسن بن إدريس البهوتى الحنبلى (المتوفى: ١٠٥١ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية - بدون السنة].

“Dan diharamkan menjadikan masjid di atas kubur, dan membangunnya berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwasannya Nabi –ﷺ💞– bersabda :

*_‘Allah melaknat orang Yahudi yang telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid-masjid’."_* (Muttafaqun ‘alaih)."
[Lihat Kitab Kasyafu Al Qina' 'An Matni Al Iqna' : juz 1 hal 141 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun : Raf'u Al Qabri 'An Al Ardhi / Karya Imam Manshur Al Buhutiy Al Hanbaliy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah - Tnp. Tahun].


*💾✍️• Imam Al-Murdawiy Al Hanbaliy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Al Inshaf Fi Ma'rifati Ar Rajih Min Al Khilafi "  berkata :*

وَأَمَّا الْبِنَاءُ عَلَيْهِ : فَمَكْرُوهٌ ، عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ ، سَوَاءٌ لَاصَقَ الْبِنَاءُ الْأَرْضَ أَمْ لَا ، وَعَلَيْهِ أَكْثَرُ الْأَصْحَابِ قَالَ فِي الْفُرُوعِ : أَطْلَقَهُ أَحْمَدُ ، وَالْأَصْحَابُ
[انظر كتاب الإنصاف في معرفة الراجح من الخلاف : ج ٢ ص ٥٤٩ / كتاب الصلاة / كتاب الجنائز / للإمام علاء الدين أبو الحسن علي بن سليمان المرداوي الدمشقي الصالحي الحنبلي (المتوفى: ٨٨٥ هـ) / الناشر: دار إحياء التراث العربي الطبعة: الثانية - بدون السنة].

“Adapun bangunan di atas kubur, hukumnya makruh berdasarkan pendapat yang shahih dari madzhab (Hanaabilah), sama saja, apakah bangunan itu menempel tanah ataukah tidak. Pendapat itulah yang dipegang kebanyakan shahabat Ahmad. Dalam kitab Al-Furuu’ dinyatakan : Ahmad dan shahabat-shahabatnya memutlakkan (kemakruhan)-nya.”
[Lihat Kitab Al Inshaf Fi Ma'rifati Ar Rajih Min Al Khilafi : juz 2 hal 549 / Kitabu Ash Shalati / Kitabu Al Jana'izi / Karya Imam 'Alauddin Al Murdawiy Al Hanbaliy / Dar Ihya'i At Turats Al 'Arabiy, Cet. Kedua - Tnp. Tahun].


*5️⃣• MADZHAB DZOHIRIYYAH, maka Imam Ibnu Hazm Adz Dzohiriy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Al Muhalla " berkata :‎*

مَسْأَلَةٌ: وَلاَ يَحِلُّ أَنْ يُبْنَى الْقَبْرُ, وَلاَ أَنْ يُجَصَّصَ, وَلاَ أَنْ يُزَادَ عَلَى تُرَابِهِ شَيْءٌ, وَيُهْدَمُ كُلُّ ذَلِكَ، فَإِنْ بُنِيَ عَلَيْهِ بَيْتٌ أَوْ قَائِمٌ: لَمْ يَكْرَهْ ذَلِكَ.
[انظر كتاب المحلّى بالأٓثار : ج ٣ ص ٣٥٦ / كتاب الجنائز / صلاة الجنائز وحكم الموتى / مسألة بناء القبر وتجصيصه / للإمام أبو محمد علي بن أحمد بن سعيد بن حزم الأندلسي القرطبي الظاهري (المتوفى: ٤٥٦ هـ) / الناشر: دار الفكر - بيروت، بدون السنة].

“Permasalahan : Dan tidak dihalalkan kubur untuk dibangun, dikapur/disemen, dan ditambahi sesuatu pada tanahnya. Dan semuanya itu (bangunan, semenan, dan tanah tambahan) mesti dirobohkan, dan jikalau dibangun rumah atau sebuah bangunan, maka semua itu tidak dimakruhkan.”
[Lihat Kitab Al-Muhallaa Bi Al Aatsaar : juz 3 hal 356 / Kitabu Al Jana'izi / Shalatu Al Jana'izi Wa Hukmu Al Mauta / Mas'alatun : Binau Al Qabri Wa Tajshishuhu / Karya Imam Ibnu Hazm Adz Dzohiriy / Dar Al Fikri - Beirut, Tnp. Tahun].


༻꧂🅣🅘🅓🅐🅚  🅗🅐🅡🅐🅜 🅜🅔🅝🅖🅖🅐🅛🅘 🅜🅐🅨🅨🅘🅣 🅨🅐🅝🅖 🅢🅤🅓🅐🅗 🅗🅐🅝🅒🅤🅡 🅓🅐🅝 🅗🅐🅡🅐🅜 🅜🅔🅡🅐🅣🅐🅚🅐🅝 🅐🅣🅐🅤 🅜🅔🅝🅖🅔🅒🅞🅡 🅣🅐🅝🅐🅗 🅓🅘🅐🅣🅐🅢🅝🅨🅐.*

Jenazah yang telah hancur tidak haram digali, yang diharamkan adalah membangun, meratakan (mengecor) tanah di atasnya agar tidak menghalangi orang lain menguburkan (jenazah lain) karena menyangka (jenazah yang semula) belum hancur.


*📓✍️• Imam Ar Ramliy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya Nihayatu Al Muhtaj Ila Syarhi Al Minhaj mengatakan :*

 أَمَّا بَعْدَ الْبَلاَءِ عِنْدَ مَنْ مَرَّأَي مِنْ أَهْلِ الْخِبْرَةِ فَلاَ يَحْرُمُ النَّبْشُ بَلْ تَحْرُمُ أَمَارَتُهُ وَ تَسْوِيَةُ تُرَابٍ عَلَيْهِ إِذَا كَانَ فِي مَقْبَرَةٍ مُسَبَّلَةٍ لإِمْتِنَاعِ النَّاسِ مِنَ الدَّفْنِ فِيْهِ لِظَنِّهِم بِهِ عَدَمَ الْبَلِى.
[انظر كتاب نهاية المحتاج الى شرح المنهاج : ج ٣ ص ٤١ / كتاب الجنائز / التعزية لأهل الميت سنة / نقل الميت قبل دفنه من بلد إلى بلد آخر / للإمام شمس الدين محمد بن أبي العباس أحمد بن حمزة شهاب الدين الرملي (المتوفى: ١٠٠٤ هـ) / الناشر: دار الفكر، بيروت الطبعة: ط أخيرة - ١٤٠٤ هـ - ١٩٨٤ مـ].

“Adapun jenazah yang sudah hancur sesuai dengan perkiraan para ahli yang sudah berpengalaman tidak diharamkan untuk digali kembali, bahkan diharamkan membangun bangunan dan meratakan (mengecor) tanah di atasnya jika berada di kuburan yang landai, karena itu bisa menghalangi orang lain untuk menguburkan (jenazah lain), karena mereka menyangka (jenazah yang pertama) belum hancur”.
[Lihat Kitab Nihayatu Al Muhtaj Ila Syarhi Al Minhaj : juz 1 hal 41 / Kitabu Al Jana'izi / At Ta'ziyyah Li Ahli Al Mayyiti Sunnatun / Naqlu Al Mayyiti Qabla Dafnihi Min Baladin Ila Baladin Akbar / Karya Imam Ar Ramliy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri - Beirut, Cet. Terakhir, Th. 1404 H = 1984 M].   


*📒🌴• Tersebut dalam kitab " Fathu Al Wahhab " karya Imam Abu Zakariyya Al Anshariy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala sebagai berikut:*

أَمَّا بَعْدَ الْبَلِى فَلاَ يَحْرُمُ نَبْشُهُ أَي الْمَيِّتِ بَلْ تَحْرُمُ عِمَارَتُهُ وَ تَسْوِيَةُ التُّرَابِ عَلَيْهِ لِئَلاَّ يَمْتَنِعَ النَّاسُ مِنَ الدَّفْنِ فِيْهِ لِظَنِّهِمْ عَدَمَ الْبَلِيِّ. وَاسْتَثْنَى قُبُورَ الصَّحَابَةِ وَالْعُلَمَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ.
[انظر كتاب  فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب : ج ١ ص ١١٨ / كتاب الجنائز / فصل في دفن الميت وما يتعلق به / للإمام زكريا بن محمد بن أحمد بن زكريا الأنصاري، زين الدين أبو يحيى السنيكي (المتوفى: ٩٢٦ هـ) / الناشر: دار الفكر للطباعة والنشر الطبعة: ١٤١٤ هـ = ١٩٩٤ مـ].

“Sedangkan jenazah yang telah hancur maka tidak haram digali, bahkan yang diharamkan adalah membangun, meratakan (mengecor) tanah di atasnya agar tidak menghalangi orang lain menguburkan (jenazah lain) karena menyangka (jenazah yang semula) belum hancur.

Dan kecuali pada  kuburan para sahabat para ulama' dan para wali.”
[Lihat Kitab Fathu Al Wahhab : juz 1 hal 118 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun : Fi Dafni Al Mayyiti Wa Ma Yata'allaqu Bihi / Karya Syaikh Abi Zakariyya Yahya Al Anshariy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri, Th. 1414 H = 1994 M].   

 

*★᭄ꦿ᭄ꦿ✒🅗🅤🅚🅤🅜 🅜🅔🅝🅖🅤🅑🅤🅡 🅜🅐🅨🅨🅘🅣 🅓🅘🅓🅐🅛🅐🅜 🅑🅐🅝🅖🅤🅝🅐🅝 🅓🅘🅐🅣🅐🅢 🅣🅐🅝🅐🅗.*

*💾✍️• Syaikh Muhammad Thahir 'Asyur At Tunisiy hafidzohullahu ta'ala dalam kitabnya " At Tahriir Wa Tanwiir " mengatakan :*

وَكَذَلِكَ كَانَتْ أَوَّلُ مُوَارَاةٍ فِي الْبَشَرِ حِينَ قَتَلَ أَحَدُ ابْنَيْ آدَمَ أَخَاهُ ، كَمَا قَالَ تَعَالَى : ( فَبَعَثَ اللَّهُ غُراباً يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ قالَ يَا وَيْلَتى أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هذَا الْغُرابِ فَأُوارِيَ سَوْأَةَ أَخِي ) فَجَاءَتِ الشَّرَائِعُ الْإِلَهِيَّةُ بِوُجُوبِ الدَّفْنِ فِي الْأَرْضِ " .
انتهى
[انظر كتاب " التحرير والتنوير " : ج ١٦ ص ٢٤١ / (٢٠) - سورة طه [سورة طه (٢٠) : آية ٥٦] / للإمام محمد الطاهر بن محمد بن محمد الطاهر بن عاشور التونسي (المتوفى : ١٣٩٣ هـ) / الناشر : الدار التونسية للنشر - تونس سنة النشر: ١٩٨٤ هـ].


Demikian pula, itu adalah kemungkinan pertama umat manusia ketika salah satu dari dua putra Adam (Qabil & Habil) membunuh saudaranya.

Seperti firman Allah Ta'ala :

*_"Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya."_* (Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal). (QS. Al Maidah : 005/ 31).
[Lihat Kitab At Tahrir Wa At Tanwiir : juz 16 hal 241 / (20) - Surah Thoha [QS. Thoha : 020/ 56] / Karya Syaikh Muhammad At Thahhir 'Asyur At Tunisiy / Ad Daru At Tunisiyyah - Tunisia, Th. 1984 H].


*📓✍️• Syaikh Abu Thib Muhammad  Shadiq Khan dalam kitabnya " Ar Raudhoh An Nadiyyah Syarhu Ad Durar Al Bahiyyah " mengatakan :*

ويجب دفن الميت أي مواراة
 جيفته في حفرة قبر ، بحيث لا تنبشه السباع ، وتمنعه من السباع ، ولا تخرجه السيول المعتادة ، ولا خلاف في ذلك ، وهو ثابت في الشريعة ثبوتا ضروريا ، وقال النبي –ﷺ💞– : ( احْفِرُوا وَأَعْمِقُوا وَأَحْسِنُوا وَادْفِنُوا ...) أخرجه النسائي والترمذي وصححه " انتهى
[انظر كتاب الروضة الندية شرح الدرر البهية : ج ١ ص ١٧٦ / كتاب الجنائز / للإمام أبو الطيب محمد صديق خان بن حسن بن علي ابن لطف الله الحسيني البخاري القِنَّوجي (المتوفى: ١٣٠٧ هـ) / الناشر: دار المعرفة - بدون السنة].

Orang mati wajib  dikuburkan, yaitu mengubur jenazahnya di dalam “lubang” kuburan sehingga binatang buas tidak menggalinya dan mencegahnya dari gangguan binatang buas dan banjir yang merusak tidak mengeluarkannya. Dan tidak ada perbedaan pendapat dalam semua itu, hal itu sudah tetap dalam syari'at, dengan ketetapan yang bersifat dhoruriy (tidak bisa dihindari). Nabi –ﷺ💞– pernah bersabda :

*_"Buatlah kuburan, perdalam dan perbaguslah lalu kuburkan ... "_* (Dikeluarkan oleh An Nasa'i dan Tirmidzi MENSHAHIHKANNYA. Selesai.
[Lihat Kitab Ar Raudhoh An Nadiyyah Syarhu Ad Durar Al Bahiyyah : juz 1 hal 176 / Kitabu Al Jana'izi / Karya Syaikh Abu Thib Muhammad  Shadiq Khan / Dar Al Ma'rifah - Tnp. Tahun].


*💾🌴• Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya " Raudhotu At Thalibin " mengatakan :*

(فَصْلٌ) أَقَلُّ مَا يُجْزِئُ فِي الدَّفْنِ حُفْرَةٌ تَكْتُمُ رَائِحَةَ الْمَيِّتِ، وَتَحْرُسُهُ عَنِ السِّبَاعِ لِعُسْرِ نَبْشِ مِثْلِهَا غَالِبًا. أَمَّا الْأَكْمَلُ، فَيُسْتَحَبُّ تَوْسِيعُ الْقَبْرِ، وَتَعْمِيقُهُ قَدْرَ قَامَةٍ وَبَسْطَةٍ، وَالْمُرَادُ قَامَةُ رَجُلٍ مُعْتَدِلٍ يَقُومُ وَيَبْسُطُ يَدَهُ مَرْفُوعَةً.
انتهى
[انظر كتاب روضة الطالبين وعمدة المفتين : ج ٢ ص ١٣٢ /  كتاب الجنائز / باب / فصل / للإمام أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي (المتوفى: ٦٧٦ هـ) / الناشر: المكتب الإسلامي، بيروت- دمشق- عمان الطبعة: الثالثة، ١٤١٢ هـ = ١٩٩١ مـ].

(Pasal) Paling sedikit yang cukup dalam penguburan adalah lubang yang dapat  menyembunyikan bau orang mati, dan menjaganya dari binatang buas agar kesulitan menggali binatang semacamnya secara pandangan umum.

Adapun yang paling sempurna, disunnahkan untuk melebarkan kuburan, dan kedalaman kuburan adalah sejajar  orang berdiri dan melambaikan tangan (sak dedek sak pengawe : jawa). Dan yang dimadsudkan "Qaamatun" adalah (liang kuburnya sedalam) tinggi seseorang yang sedang berdiri dan mengangkat melambaikan  tangannya keatas.
[Lihat Kitab Raudhotu Ath Thalibin Wa 'Umdatu Al Muftiin : juz 2 hal 132 / Kitabu Al Jana'izi / Bab / Fashlun / Karya Imam An Nawawiy Asy Syafi'iy / Al Maktab Al Islamiy - Damasykus - 'Aman, Cet. Ketiga, Th. 1412 H = 1991 M].


*📒🌴• Imam Ar Ramliy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya " Nihayatu Al Muhtaj Ila Ma'rifati Ma'aniy Alfadzi Al Minhaj " mengatakan :*

 وَعُلِمَ مِنْ قَوْلِهِ حُفْرَةٌ عَدَمُ الِاكْتِفَاءِ بِوَضْعِهِ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ وَالْبِنَاءُ عَلَيْهِ بِمَا يَمْنَعُ ذَيْنَكَ. [ يعني : الرائحة والسباع ]

نَعَمْ لَوْ تَعَذَّرَ الْحَفْرُ لَمْ يُشْتَرَطْ كَمَا لَوْ مَاتَ بِسَفِينَةٍ، وَالسَّاحِلُ بَعِيدٌ أَوْ بِهِ مَانِعٌ فَيَجِبُ غُسْلُهُ وَتَكْفِينُهُ وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُجْعَلُ بَيْنَ لَوْحَيْنِ لِئَلَّا يَنْتَفِخَ، ثُمَّ يُلْقَى لِيَنْبِذَهُ الْبَحْرُ إلَى السَّاحِلِ وَإِنْ كَانَ أَهْلُهُ كُفَّارًا لِاحْتِمَالِ أَنْ يَجِدَهُ مُسْلِمٌ فَيَدْفِنَهُ، وَيَجُوزُ أَنْ يُثَقَّلَ لِيَنْزِلَ إلَى الْقَرَارِ وَإِنْ كَانَ أَهْلُ الْبَرِّ مُسْلِمِينَ". انتهى
[انظر كتاب نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج : ج ٣ ص ٤ / كتاب الجنائز / فصل في دفن الميت وما يتعلق به / للإمام شمس الدين محمد بن أبي العباس أحمد بن حمزة شهاب الدين الرملي الشافعي (المتوفى: ١٠٠٤ هـ) / الناشر: دار الفكر، بيروت الطبعة: ط أخيرة - ١٤٠٤ هـ = ١٩٨٤ مـ].

Dan dari perkataannya diketahui bahwa yang dimaksud itu ialah  harus berbentuk galian yang  tidak akan cukup hanya dengan menaruh mayyit diatas tanah, dan membangun di atasnya dengan apa yang bisa akan mencegah darinya. [Artinya: dari aroma busuk mayyit dan dari gangguan binatang buas].

Benar, sekiranya tidak memungkinkan mengubur mayyit dengan menggali kuburan maka hal itu tidak diharuskan. Seperti orang yang meninggal diatas kapal padahal daratan jaraknya jauh atau ada hal yang menghalangi disana, maka wajib memandikannya, mengkafaninya, dan menshalatinya, lalu mayyit tersebut ditaruh diantara dua papan lalu menceburkannya kelaut, yakni Sunnah agar mayyit tidak menggelembung (mlembung : jawa), kemudian  dihempaskan ke laut supaya air laut dapat membawa menghempaskannya naik kedarat, walaupun penduduk pantai tersebut  adalah orang kafir, dengan harapan orang muslim menemukannya kemudian menguburkannya,  tetapi juga boleh dibebani dengan benda berat seperti batu sehingga dapat tenggelam kedasar lautan, walaupun mayyit adalah ahli kebaikkan dari kaum muslimin.
[Lihat Kitab Nihayatu Al Muhtaj Ila Ma'rifati Ma'aniy Alfadzi Al Minhaj : juz 3 hal 4 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun : Fi Dafni Al Mayyiti Wa Ma Yata'allaqu Bihi / Karya Imam Ar Ramliy Asy Syafi'iy / Dar Al Fikri - Beirut, Cet. Terakhir, Th. 1404 H = 1984 M].


*📓🌴• Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala dalam kitabnya " Al Minhaju Al Qawwim " mengatakan :*

وخرج بالحفرة ما لو وضع على وجه الأرض وبني عليه ما يمنعهما فإنه لا يكفي إلا أن تعذر الحفر كما لو مات بسفينة والساحل بعيد أو به مانع فيجب غسله وتكفينه والصلاة عليه ثم يجعل بين لوحين ثم يلقى في البحر ويجوز أن يثقل لينزل إلى القرار
[انظر كتاب المنهاج القويم شرح المقدمة الحضرمية : ص ٢١٥ /  باب الجنائز / فصل: "في الدفن / للإمام أحمد بن محمد بن علي بن حجر الهيتمي السعدي الأنصاري، شهاب الدين شيخ الإسلام، أبو العباس الشافعي (المتوفى: ٩٧٤ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية الطبعة: الأولى ١٤٢٠ هـ = ٢٠٠٠ هـ].

Keluar dari pembahasan lubang galian adalah jika mayyit diletakkan dipermukaan bumi dan dibangunkan sebuah bangunan yang bisa mencegah dari serangan hewan buas atau bau busuk maka hal tersebut tetap belum mencukupi kecuali jika dalam keadaan repot untuk mengkubur, sperti mati dalam kapal sedangkan pantai / pinggirnya masih jauh atau atau sesuatu yang menghalang maka hanya wajib dimandikan, dikafani dan disholati saja, kemudian mayyit  diletakkan dalam 2 papan lalu diceburkan di laut (agar tidak menggelembung), dan juga diperbolehkan memberi pemberat agar mayat bisa turun di tempat yang tetap / dasar laut.
[Lihat Kitab Al Minhaju Al Qawwim Syarhu Al Muqaddimah Al Hadhromiyyah : 215 / Babu Al Jana'izi / Fashlun : Fi Ad Dafni / Karya Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Asy Syafi'iy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah, Cet. Pertama, Th. 1420 H = 2000 M].


*📓✍️• Tersebut dalam Kitab " Hasyiyyah Baijuriy Syarhu Fathu Al Qarib Al Mujib " karya Imam Ibrahim Al Baijuriy Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala :*

ولا يكفي وضعه في القبر كما هو المعهود الان فالناس اثمون بترك الدفن في اللحد او الشق
[انظر كتاب حاشية البيجوري على شرح الغزي على متن أبي شجاع = تحفة المريد على جوهرة التوحيد : ج ١ ص ٢٥٦. للشيخ إبراهيم بن محمد بن أحمد الشافعي الباجوري (المتوفى: ١١٩٨ - ١٢٧٦ هـ)]

Dan tidak cukup meletakkan mayyit didalam kubur seperti umumnya sekarang, maka manusia berdosa dengan meninggalkan (mengubur mayyit)  didalam liang lahad (landak) dan liang syiq (cempuri).
[Lihat Kitab Hasyiyyah Al Baijuriy 'Ala Syarhi Al 'Izzi 'Ala Matni Abi Syuja' = Tuhfatu Al Murid 'Ala Jauharati At Tauhid : juz.1 hlm. 256.  Karya Syaikh Ibrahim Al Baijuriy Asy Syafi'iy].


*📓✍️• Tersebut dalam kitab " Tuhfatu Al Muhtaj Fi Syarhi Al Minhaj Wa Hawasyai Asy Syarwaniy Wa Al Ibadiy " karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy  Asy Syafi'iy rahimahumallAhu ta'ala :*

(وَاللَّحْدُ أَفْضَلُ مِنْ الشَّقِّ) وَلَا يَكْفِي وَضْعُ الْمَيِّتِ فِي الْقَبْرِ كَمَا هُوَ الْمَعْهُودُ الْآنَ أَيْ فِي الْفَسَاقِي فَالنَّاسُ آثِمُونَ بِتَرْكِ الدَّفْنِ فِي اللَّحْدِ أَوْ الشَّقِّ
[انظر كتاب  تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي : ج ٣ ص ١٦٨ / كتاب الجنائز / فصل في الدفن وما يتبعه /
للإمام أحمد بن محمد بن علي بن حجر الهيتمي الشافعي (المتوفى : ) / الناشر: المكتبة التجارية الكبرى - بمصر,  عام النشر: ١٣٥٧ هـ - ١٩٨٣ مـ].

(Liang Lahad lebih utama dibandingkan liang syiq) dan tidak cukup meletakkan mayyit didalam kubur seperti yang dilakukan umumnya sekarang, yakni menaruh mayiit dalam fasaqiy (semacam bak yang terbuat dari marmer), manusia berdosa dengan meninggalkan (mengubur mayyit) kedalam liang lahad atau liang syiq.
[Lihat Kitab Tuhfatu Al Muhtaj Fi Syarhi Al Minhaj Wa Hawasyai Asy Syarwaniy Wa Al Ibadiy : juz 3 hal 168 / Kitabu Al Jana'izi / Fashlun: Fi Ad Dafni Wa Ma Yatba'uhu / Karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy  Asy Syafi'iy / Al Maktabah At Tijariyyah Al Kubro - Mesir, Th. 1357 H = 1983 M].


*💾🌴• Imam Asy Syairaziy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Al Muhadzdzab Fi Fiqhi Al Imam Asy Syafi'iy " mengatakan :*

ومن مات في البحر ولم يكن بقرب ساحل فالأولى أن يجعل بين لوحين ويلقى في البحر لأنه ربما وقع إلى ساحل فيدفن وإن كان أهل الساحل كفاراً ألقي في البحر.
[انظر كتاب المهذب في فيه الإمام الشافعي : ج ١ ص ٢٥٤ / كتاب الجنائز /  باب حمل الجنازة والدفن / أبو اسحاق إبراهيم بن علي بن يوسف الشيرازي (المتوفى: ٤٧٦ هـ) / الناشر: دار الكتب العلمية - بدون السنة].

Dan barangsiapa mati di lautan dan jaraknya jauh dari tepian pantai (daratan) maka yang lebih utama menjadikan/meletakkan mayyit  pada 2 papan dan dilemparkan kelautan, karena sungguh terkadang mayat ini sampai pada tepian (daratan) kemudian dikuburkan, dan jika yang menghuni tepian pantai adalah orang-orang kafir maka dilempar ke lautan.
[Lihat Al Muhadzdzab Fi Fiqhi Al Imam Asy Syafi'iy : juz 1 hal 254 / Kitabu Al Jana'izi / Babu Hamli Al Janazati Wa Ad Dafni / Karya Imam Asy Syairaziy / Dar Al Kutub Al 'Ilmiyyah - Tnp. Tahun].


*📓✍️• Imam Ibnu 'Abidin Al Hanafiy rahimahullAhu ta'ala dalam kitabnya " Raddu Al Muhtar 'Ala Ad Durru Al Mukhtar " mengatakan :*

لَا يُجْزِئُ دَفْنُهُ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ بِبِنَاءٍ عَلَيْهِ كَمَا ذَكَرَهُ الشَّافِعِيَّةُ، وَلَمْ أَرَهُ لِأَئِمَّتِنَا صَرِيحًا،  " انتهى
[انظر كتاب الدر المختار وحاشية ابن عابدين (رد المحتار) : ج ٢ ص ٢٣٣ / كتاب الصلاة / باب صلاة الجنازة / مطلب في دفن الميت / للإمام ابن عابدين، محمد أمين بن عمر بن عبد العزيز عابدين الدمشقي الحنفي (المتوفى: ١٢٥٢ هـ) / الناشر: دار الفكر - بيروت الطبعة: الثانية، ١٤١٢ هـ = ١٩٩٢ مـ].

Tidak mencukupi menguburnya dengan meletakkannya diatas permukaan tanah dengan membangun suatu bangunan di  atasnya, seperti yang telah disebutkan oleh Imam Asy Syafi'iy dan secara jelas Imam - Imam kami (Hanafiyyah), juga tidak berpendapat seperti itu.
[Lihat Kitab Ad Durru Al Mukhtar Wa Hasyiyyah Ibnu 'Abidin (Raddu Al Muhtar) : juz 2 hal 233 / Kitabu Ash Shalati / Babu Shalati Al Jama'ati / Karya Imam Ibnu 'Abidin Al Hanafiy / Dar Al Fikri - Beirut, Cet. Kedua, Th. 1412 H = 1992 M].


والحاصل : أنه لا يجوز دفن الميت في غرفة فوق سطح الأرض ، وقد نص العلماء على منع ذلك

*💾✍️• Walhasil : Hal tersebut tidak diperbolehkan mengubur mayyit didalam suatu ruangan diatas tanah, dan sesungguhnya ulama' telah menetapkan akan pelarangan tersebut.

جمعها ورتبها " طالب العلم " عبد الحكيم الجاوي

Selesai Senin legi, MTsN 1 Magelang

25 Januari 2021 M ||
١٢ جمادى الأخرة ١٤٤٢ هـ

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PALING DIMINATI

Kategori

SHALAT (8) HADITS (5) WANITA (5) ADAB DAN HADITS (3) FIQIH HADIST (3) WASHIYYAT DAN FAWAID (3) 5 PERKARA SEBELUM 5 PERKARA (2) AQIDAH DAN HADITS (2) CINTA (2) PERAWATAN JENAZAH BAG VII (2) SIRAH DAN HADITS (2) TAUSHIYYAH DAN FAIDAH (2) TAWAJUHAT NURUL HARAMAIN (2) (BERBHAKTI (1) 11 BAYI YANG BISA BICARA (1) 12 BINATANG YANG MASUK SURGA (1) 25 NAMA ARAB (1) 7 KILOGRAM UNTUK RAME RAME (1) ADAB DAN AKHLAQ BAGI GURU DAN MURID (1) ADAB DAN HADITS (SURGA DIBAWAH TELAPAK KAKI BAPAK DAN IBU) (1) ADAT JAWA SISA ORANG ISLAM ADALAH OBAT (1) AIR KENCING DAN MUNTAHAN ANAK KECIL ANTARA NAJIS DAN TIDAKNYA ANTARA CUKUP DIPERCIKKI AIR ATAU DICUCI (1) AJARAN SUFI SUNNI (1) AKIBAT SU'UDZON PADA GURU (1) AL QUR'AN (1) AMALAN KHUSUS JUMAT TERAKHIR BULAN ROJAB DAN HUKUM BERBICARA DZIKIR SAAT KHUTBAH (1) AMALAN NISFHU SYA'BAN HISTORY (1) AMALAN SUNNAH DAN FADHILAH AMAL DIBULAN MUHARRAM (1) AMALAN TANPA BIAYA DAN VISA SETARA HAJI DAN UMRAH (1) APAKAH HALAL DAN SAH HEWAN YANG DISEMBELIH ULANG? (1) AQIDAH (1) ASAL MULA KAUM KHAWARIJ (MUNAFIQ) DAN CIRI CIRINYA (1) ASAL USUL KALAM YANG DISANGKA HADITS NABI (1) AYAT PAMUNGKAS (1) BELAJAR DAKWAH YANG BIJAK MELALUI BINATANG (1) BERITA HOAX SEJARAH DAN AKIBATNYA (1) BERSENGGAMA ITU SEHAT (1) BERSIKAP LEMAH LEMBUT KEPADA SIAPA SAJA KETIKA BERDAKWAH (1) BIRRUL WALIDAIN PAHALA DAN MANFAATNYA (1) BOLEH SHALAT SUNNAH SETELAH WITIR (1) BOLEHNYA MENDEKTE IMAM DAN MEMBAWA MUSHAF DALAM SHALAT (1) BOLEHNYA MENGGABUNG DUA SURAT SEKALIGUS (1) BOLEHNYA PATUNGAN DAN MEWAKILKAN PENYEMBELIHAN KEPADA KAFIR DZIMMI ATAU KAFIR KITABI (1) BULAN ROJAB DAN KEUTAMAANNYA (1) DAGING KURBAN AQIQAH UNTUK KAFIR NON MUSLIM (1) DAN FAKHR (1) DAN YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA) (1) DARIMANA SEHARUSNYA UPAH JAGAL DAN BOLEHKAH MENJUAL DAGING KURBAN (1) DASAR PERAYAAN MAULID NABI (1) DEFINISI TINGKATAN DAN PERAWATAN SYUHADA' (1) DO'A MUSTAJAB (1) DO'A TIDAK MUSTAJAB (1) DOA ASMAUL HUSNA PAHALA DAN FAIDAHNYA (1) DOA DIDALAM SHALAT DAN SHALAT DENGAN SELAIN BAHASA ARAB (1) DOA ORANG MUSLIM DAN KAFIR YANG DIDZALIMI MUSTAJAB (1) DOA SHALAT DLUHA MA'TSUR (1) DONGO JOWO MUSTAJAB (1) DURHAKA (1) FADHILAH RAMADHAN DAN DOA LAILATUL QADAR (1) FAIDAH MINUM SUSU DIAWWAL TAHUN BARU HIJRIYYAH (1) FENOMENA QURBAN/AQIQAH SUSULAN BAGI ORANG LAIN DAN ORANG MATI (1) FIKIH SHALAT DENGAN PENGHALANG (1) FIQIH MADZAHIB (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN SERANGGA (1) FIQIH MADZAHIB HUKUM MEMAKAN TERNAK YANG DIBERI MAKAN NAJIS (1) FIQIH QURBAN SUNNI (1) FUNGSI ZAKAT FITRAH DAN CARA IJAB QABULNYA (1) GAYA BERDZIKIRNYA KAUM CERDAS KAUM SUPER ELIT PAPAN ATAS (1) HADITS DAN ATSAR BANYAK BICARA (1) HADITS DLO'IF LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN DENGAN PENDAPAT ULAMA DAN QIYAS (1) HALAL BI HALAL (1) HUKUM BERBUKA PUASA SUNNAH KETIKA MENGHADIRI UNDANGAN MAKAN (1) HUKUM BERKURBAN DENGAN HEWAN YANG CACAT (1) HUKUM BERSENGGAMA DIMALAM HARI RAYA (1) HUKUM DAN HIKMAH MENGACUNGKAN JARI TELUNJUK KETIKA TASYAHUD (1) HUKUM FAQIR MISKIN BERSEDEKAH (1) HUKUM MEMASAK DAN MENELAN IKAN HIDUP HIDUP (1) HUKUM MEMELIHARA MENJUALBELIKAN DAN MEMBUNUH ANJING (1) HUKUM MEMUKUL DAN MEMBAYAR ONGKOS UNTUK PENDIDIKAN ANAK (1) HUKUM MENCIUM MENGHIAS DAN MENGHARUMKAN MUSHAF AL QUR'AN (1) HUKUM MENGGABUNG NIAT QODLO' ROMADLAN DENGAN NIAT PUASA SUNNAH (1) HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADLAN MENURUT 4 MADZHAB (1) HUKUM MENYINGKAT SHALAWAT (1) HUKUM PUASA SYA'BAN (NISHFU SYA'BAN (1) HUKUM PUASA SYAWWAL DAN HAL HAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA (1) HUKUM PUASA TARWIYYAH DAN 'ARAFAH BESERTA KEUTAMAAN - KEUTAMAANNYA (1) HUKUM SHALAT IED DIMASJID DAN DIMUSHALLA (1) HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN SHALAT IED (1) IBADAH JIMA' (BERSETUBUH) DAN MANFAAT MANFATNYA (1) IBADAH TERTINGGI PARA PERINDU ALLAH (1) IBRANI (1) IMAM YANG CERDAS YANG FAHAM MEMAHAMI POSISINYA (1) INDONESIA (1) INGAT SETELAH SALAM MENINGGALKAN 1 ATAU 2 RAKAAT APA YANG HARUS DILAKUKAN? (1) ISLAM (1) JANGAN GAMPANG MELAKNAT (1) JUMAT DIGANDAKAN 70 KALI BERKAH (1) KAIFA TUSHLLI (XX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (III) - MENEPUK MENARIK MENGGESER DALAM SHALAT SETELAH TAKBIRATUL IHRAM (1) KAIFA TUSHOLLI (XV) - SOLUSI KETIKA LUPA DALAM SHALAT JAMAAH FARDU JUM'AH SENDIRIAN MASBUQ KETINGGALAN (1) KAIFA TUSHOLLI (I) - SAHKAH TAKBIRATUL IHROM DENGAN JEDA ANTARA KIMAH ALLAH DAN AKBAR (1) KAIFA TUSHOLLI (II) - MENEMUKAN SATU RAKAAT ATAU KURANG TERHITUNG MENEMUKAN SHALAT ADA' DAN SHALAT JUM'AT (1) KAIFA TUSHOLLI (IV) - SOLUSI KETIKA LUPA MELAKUKAN SUNNAH AB'ADH DAN SAHWI BAGI IMAM MA'MUM MUNFARID DAN MA'MUM MASBUQ (1) KAIFA TUSHOLLI (IX) - BASMALAH TERMASUK FATIHAH SHALAT TIDAK SAH TANPA MEMBACANYA (1) KAIFA TUSHOLLI (V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (VI) - TAKBIR DALAM SHALAT (1) KAIFA TUSHOLLI (VII) - MENARUH TANGAN BERSEDEKAP MELEPASKANNYA ATAU BERKACAK PINGGANG SETELAH TAKBIR (1) KAIFA TUSHOLLI (VIII) - BACAAN FATIHAH DALAM SHOLAT (1) KAIFA TUSHOLLI (XI) - LOGAT BACAAN AMIN SELESAI FATIHAH (1) KAIFA TUSHOLLI (XII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XIX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XVII) - BACAAN TASBIH BAGI IMAM MA'MUM DAN MUNFARID KETIKA RUKU' (1) KAIFA TUSHOLLI (XVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XX1V) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXIX) - BACAAN SALAM SETELAH TASYAHUD MENURUT PENDAPAT ULAMA' MADZHAB MENGUSAP DAHI ATAU WAJAH DAN BERSALAM SALAMAN SETELAH SHALAT DIANTARA PRO DAN KONTRA (1) KAIFA TUSHOLLI (XXV) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVI) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXVIII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXX) - (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXI) - DZIKIR JAHRI (KERAS) MENURUT ULAMA' MADZHAB (1) KAIFA TUSHOLLI (XXXII) - (1) KAIFA TUSHOLLI (x) - (1) KEBERSIHAN DERAJAT TINGGI DALAM SHALAT (1) KEMATIAN ULAMA' DAN AKIBATNYA (1) KEPADA ORANGTUA (1) KESUNNAHAN TAHNIK/NYETAKKI ANAK KECIL (1) KETIKA ORANG ALIM SAMA DENGAN ANJING (1) KEUTAMAAN ILMU DAN ADAB (1) KEWAJIBAN SABAR DAN SYUKUR BERSAMAAN (1) KHUTBAH JUM'AT DAN YANG BERHUBUNGAN (1) KIFARAT SUAMI YANG MENYERUBUHI ISTRI DISIANG BULAN RAMADHAN (1) KISAH INSPIRATIF AHLU BAIT (SAYYIDINA IBNU ABBAS) DAN ULAMA' BESAR (SAYYIDINA ZAID BIN TSABIT) (1) KISAH PEMABUK PINTAR YANG MEMBUAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANIY MENANGIS (1) KRETERIA UCAPAN SUNNAH MENJAWAB KIRIMAN SALAM (1) KULLUHU MIN SYA'BAN (1) KURBAN DAN AQIQAH UNTUK MAYYIT (1) LARANGAN MENYINGKAT SHALAWAT NABI (1) LEBIH UTAMA MANA GURU DAN ORANGTUA (1) MA'MUM BOLEH MEMBENARKAN BACAAN IMAM DAN WAJIB MEMBENARKAN BACAAN FATIHAHNYA (1) MA'MUM MEMBACA FATIHAH APA HUKUMNYA DAN KAPAN WAKTUNYA? (1) MACAM DIALEK AAMIIN SETELAH FATIHAH (1) MACAM MACAM NIAT ZAKAT FITRAH (1) MAKAN MINUM MEMBUNUH BINATANG BERBISA MEMAKAI PAKAIAN BERGAMBAR DAN MENJAWAB PANGGILAN ORANGTUA DALAM SHALAT (1) MALAIKAT SETAN JIN DAPAT DILIHAT SETELAH MENJELMA SELAIN ASLINYA (1) MELAFADZKAN NIAT NAWAITU ASHUMU NAWAITU USHALLI (1) MELEPAS TALI POCONG DAN MENEMPELKAN PIPI KANAN MAYYIT KETANAH (1) MEMBAYAR FIDYAH BAGI ORANG ORANG YANG TIDAK MAMPU BERPUASA (1) MEMPERBANYAK DZIKIR SAMPAI DIKATAKAN GILA/PAMER (1) MENDIRIKAN SHALAT JUM'AT DALAM SATU DESA KARENA KAWATIR TERSULUT FITNAH DAN PERMUSUHAN (1) MENGAMBIL UPAH DALAM IBADAH (1) MENGHADIAHKAN MITSIL PAHALA AMAL SHALIH KEPADA NABI ﷺ (1) MENGIRIM MITSIL PAHALA KEPADA YANG MASIH HIDUP (1) MERAWAT JENAZAH MENURUT QUR'AN HADITS MADZAHIB DAN ADAT JAWS (1) MUHASABATUN NAFSI INTEROPEKSI DIRI (1) MUTIARA HIKMAH DAN FAIDAH (1) Manfaat Ucapan Al Hamdulillah (1) NABI DAN RASUL (1) NIAT PUASA SEKALI UNTUK SEBULAN (1) NISHFU AKHIR SYA'BAN (1) ORANG GILA HUKUMNYA MASUK SURGA (1) ORANG SHALIHPUN IKUT TERKENA KESULITAN HUJAN DAN GEMPA BUMI (1) PAHALA KHOTMIL QUR'AN (1) PENIS DAN PAYUDARA BERGERAK GERAK KETIKA SHALAT (1) PENYELEWENGAN AL QUR'AN (1) PERAWATAN JENAZAH BAG I & II & III (1) PERAWATAN JENAZAH BAG IV (1) PERAWATAN JENAZAH BAG V (1) PERAWATAN JENAZAH BAG VI (1) PREDIKSI LAILATUL QADAR (1) PUASA SUNNAH 6 HARI BULAN SYAWAL DISELAIN BULAN SYAWWAL (1) PUASA SYAWWAL DAN PUASA QADLO' (1) QISHOH ISLAMI (1) RAHASIA BAPAK PARA NABI DAN PILIHAN PARA NABI DALAM TASYAHUD SHALAT (1) RAHASIA HURUF DHOD PADA LAMBANG NU (1) RESEP MENJADI WALI (1) SAHABAT QULHU RADLIYYALLAHU 'ANHUM (1) SANAD SILSILAH ASWAJA (1) SANG GURU ASLI (1) SEDEKAH SHALAT (1) SEDEKAH TAK SENGAJA (1) SEJARAH TAHNI'AH (UCAPAN SELAMAT) IED (1) SERBA SERBI PENGGUNAAN INVENTARIS MASJID (1) SETIAP ABAD PEMBAHARU ISLAM MUNCUL (1) SHADAQAH SHALAT (1) SHALAT DAN FAIDAHNYA (1) SHALAT IED DIRUMAH KARENA SAKIT ATAU WABAH (1) SHALAT JUM'AT DISELAIN MASJID (1) SILSILAH SYAIKH JUMADIL KUBRA TURGO JOGJA (1) SIRAH BABI DAN ANJING (1) SIRAH DAN FAIDAH (1) SIRAH DZIKIR BA'DA MAKTUBAH (1) SIRAH NABAWIYYAH (1) SIRAH NIKAH MUT'AH DAN NIKAH MISYWAR (1) SIRAH PERPINDAHAN QIBLAT (1) SIRAH THAHARAH (1) SIRAH TOPI TAHUN BARU MASEHI (1) SUHBAH HAQIQAH (1) SUM'AH (1) SUNNAH MENCERITAKAN NIKMAT YANG DIDAPAT KEPADA YANG DIPERCAYA TANPA UNSUR RIYA' (1) SURGA IMBALAN YANG SAMA BAGI PENGEMBAN ILMU PENOLONG ILMU DAN PENYEBAR ILMU HALAL (1) SUSUNAN MURAQIY/BILAL SHALAT TARAWIH WITIR DAN DOA KAMILIN (1) SYAIR/DO'A BAGI GURU MUROBBI (1) SYAIR/DO'A SETELAH BERKUMPUL DALAM KEBAIKKAN (1) SYARI'AT DARI BID'AH (1) TA'JIL UNIK LANGSUNG BERSETUBUH TANPA MAKAN MINUM DAHULU (1) TAAT PADA IMAM ATAU PEMERINTAH (1) TAKBIR IED MENURUT RASULULLAH DAN ULAMA' SUNNI (1) TALI ALLAH BERSATU DAN TAAT (1) TATACARA SHALAT ORANG BUTA ATAU BISU DAN HUKUM BERMAKMUM KEPADA KEDUANYA (1) TEMPAT SHALAT IED YANG PALING UTAMA AKIBAT PANDEMI (WABAH) CORONA (1) TIDAK BOLEH KURBAN DENGAN KUDA NAMUN HALAL DIMAKAN (1) TREND SHALAT MEMAKAI SARUNG TANGAN DAN KAOS KAKI DAN HUKUMNYA (1) T̳I̳P̳ ̳C̳E̳P̳E̳T̳ ̳J̳A̳D̳I̳ ̳W̳A̳L̳I̳ ̳A̳L̳L̳O̳H̳ (1) UCAPAN HARI RAYA MENURUT SUNNAH (1) UCAPAN NATAL ANTARA YANG PRO DAN KONTRA (1) ULANG TAHUN RASULILLAH (1) URUTAN SILSILAH KETURUNAN ORANG JAWA (1) Ulama' Syafi'iyyah Menurut Lintas Abadnya (1) WAJIB BERMADZHAB UNTUK MENGETAHUI MATHLA' TEMPAT MUNCULNYA HILAL (1) YAUMU SYAK) (1) ZAKAT DIBERIKAN SEBAGAI SEMACAM MODAL USAHA (1) ZAKAT FITRAH 2 (1) ZAKAT FITRAH BISA UNTUK SEMUA KEBAIKKAN DENGAN BERBAGAI ALASAN (1)
Back To Top